"Arjuna!" Shaka tiba-tiba menyela Arjuna."Ya, aku di sini." Arjuna menatap Shaka sembari mengulas senyum.Apakah Shaka mengira Arjuna bodoh?Shaka bisa menjebak dan mengancam Arjuna, apakah Arjuna tidak bisa?"Paman Shaka, apakah kamu setuju untuk mengajariku cara tarik ulur?"Percakapan antara Arjuna dan Shaka menarik perhatian para pelajar.Apa yang sedang Shaka dan Arjuna bicarakan?Apa maksudnya tarik ulur? Menyerahkan uang? Bodoh? Siapa yang tarik ulur?"Arjuna, meskipun kamu sudah mempelajari beberapa kata, kamu tidak menggunakannya sembarangan."Shaka bicara dengan nada khas orang tua yang menasihati anak muda. Ada sedikit kepanikan dalam nadanya.Jika Arjuna bicara lebih lanjut, para pelajar ini mungkin akan menyadari sesuatu.Para pelajar yang awalnya skeptis langsung tenang ketika mendengar ucapan Shaka."Sebenarnya Arjuna cukup hebat bisa mengerti arti dari kata tarik ulur. Shaka, jangan menyalahkannya.""Terima kasih, Kak Damar." Arjuna segera berterima kasih. "Pak Guru ba
Daisha ingin menghentikan mereka karena takut mengganggu istirahat Arjuna, tetapi Arjuna mencegahnya.Semenjak mereka menemani Arjuna ke sekolah, Disa dan Dinda telah menjadi sasaran ejekan dan makian para wanita itu. Mereka telah lama memendam kemarahan mereka.Hari ini mereka akhirnya bisa melampiaskannya, jadi biarkan mereka gembira lebih lama."Tuan." Suara lembut Daisha terdengar.Walaupun sekarang Arjuna dan Alsava bersaudari tidur di sisi yang berbeda, jarak di antara mereka tidak lagi selebar sebelumnya.Jarak antara ketiga saudari itu dan Arjuna hanya sekitar satu meter."Hm?"Arjuna menjawab, tetapi Daisha tidak melanjutkan bicaranya. Tepat saat dia hendak bertanya, dia mendengar suara gemerisik dari sampingnya.Dia menoleh, kemudian mendapati Daisha mencondongkan tubuh ke arahnya.Disa pernah terkunci di dasar sumur kering tanpa cahaya, jadi sekarang dia menderita fobia gelap.Begitu lampu minyak dimatikan, dia akan mengalami mimpi buruk di tengah malam. Karena itu, sejak Di
Gadis ini ....Arjuna merasa kesal sekaligus terharu dengan Daisha."Peringkatku pasti rendah? Apakah kamu memandang remeh tuanmu?""Tuan, kamu tahu bukan itu maksudku. Aku hanya khawatir kalau nilaimu jelek, aish .... Bukan, maksudku, kalau nilainya kurang bagus, bukan, bukan ...."Daisha panik. Makin dia menjelaskan, makin dia bingung. Dia hampir menangis."Tenang saja." Arjuna tersenyum sambil menghibur, "Aku tidak seburuk itu. Aku tidak menjamin pasti lulus, tapi aku tidak akan menduduki peringkat terbawah.""Tuan, Dik Daisha, apa yang sedang kalian lakukan?"Suara Daisha menarik perhatian Disa dan Dinda.Dinda memiliki penglihatan yang tajam. Meskipun cahayanya redup, dia bisa melihat air mata di mata Daisha. "Kenapa Kak Daisha menangis? Aku sepertinya mendengar peringkat tadi.""Tidak apa-apa." Daisha buru-buru menyeka air matanya."Sungguh tidak apa-apa. Daisha salah menghitung uang hari ini, jadi dia cemas."Arjuna turut menjelaskan sehingga Disa dan Dinda baru tenang."Kak Dai
Daisha sendiri pun tidak tahu berapa lama dia mempertahankan posisi ini.Meski lehernya terasa sakit dan mati rasa, dia enggan menjauh.Bila dia diberi sepuluh nyali pada siang hari, dia tidak akan berani memandang Arjuna dari jarak sedekat ini. Hanya pada saat ini, dia baru berani menatap Arjuna sepuasnya."Aish!"Daisha akhirnya tidak dapat menahan diri. Dia menghela napas pelan lalu berbisik, "Tuan benar-benar tampan.""Hm, kamu sudah menatap begitu lama, bukankah kamu harus membayar?"Daisha awalnya mengira dirinya berhalusinasi. Melihat mata Arjuna yang terbuka, dia malah memuji."Lihatlah matanya, begitu dalam dan jernih, benar-benar membuat hatiku ...."Bulu mata Arjuna yang bergerak membuat Daisha menyadari ada yang salah.Bukankah seharusnya Arjuna sedang tidur? Kenapa bulu matanya bergerak?Lalu kenapa mata Arjuna ....Tubuh Daisha tiba-tiba membeku."Hatimu kenapa?"Terdengar suara bariton di telinga Daisha.Daisha sangat akrab dengan suara ini."Tu ... Tuan! Ah!"Daisha yan
Dia kembali membawa sebuah baskom untuk cuci muka."Jarang sekali Tuan bisa tidur nyenyak seperti ini. Dik Daisha, kamu benar-benar. Begitu bangun langsung membangunkan Tuan."Disa membawa baskom menuju Arjuna sambil memarahi Daisha."Bukan, Kak Disa, Tuan akan terlambat ke sekolah.""Kak Daisha, kamu benar-benar pelupa."Terdengar suara Dinda, lalu tirai pintu terangkat, wajah Dinda mengintip dari luar.Wajah kecilnya berkeringat, mungkin dia baru saja kembali dari bermain di luar."Bukankah Pak Cakra menghentikan kelas hari ini karena marah akibat istri para pelajar bertengkar kemarin?""Oh ...."Daisha menepuk dahinya. "Kenapa aku melupakan hal ini?""Kamu terlihat kurang bersemangat seperti kurang tidur.""Mana ada!" Daisha memelototi Dinda. "Aku tidur nyenyak tadi malam!"Arjuna menggoda. "Benar, Daisha tidur sangat nyenyak tadi malam sampai air liurnya hampir mengalir ke wajahku."Arjuna tidak melebih-lebihkan. Daisha menatapnya hingga hampir meneteskan air liur."Tuan, kamu ....
"Huh, dasar orang jahat yang mengambil keuntungan dari orang lain."Dinda cemberut sambil memelototi Shaka yang sedang berbicara tentang kebajikan, kebenaran dan moralitas."Aku benar-benar ingin memanahinya untuk memberinya pelajaran." Disa juga menggertakkan giginya.Arjuna menatap kedua gadis di sampingnya yang marah, kemudian dia menggelengkan kepalanya tanpa daya. "Kita baru keluar rumah, kalian sudah melupakan pesan Daisha? Nanti aku akan memberitahunya ....""Jangan, Tuan!"Disa dan Dinda buru-buru memohon, mereka memiliki keinginan masing-masing.Disa masih ingin membeli anak panah baru, sementara Dinda masih memikirkan uang sakunya....Waktu berlalu dengan cepat.Ujian musim semi tahunan akan segera dimulai di Dinasti Bratajaya.Ujian musim semi dibagi menjadi ujian daerah, ujian nasional dan ujian perguruan tinggi.Baik ujian daerah maupun ujian nasional diselenggarakan di masing-masing kabupaten, dengan kepala daerah sebagai penguji. Orang yang lulus ujian daerah dapat meng
Tidak lama setelah Arjuna bangun, keluarga Arkana tiba. Begitu pula Magano, Ravin serta penduduk desa yang menangkap ikan untuk Arjuna.Mereka datang untuk mengucapkan selamat dan pamit kepada Arjuna.Halaman rumah Arjuna cukup ramai, tetapi rumah Shaka yang ada di sebelah jauh lebih ramai dari rumah Arjuna.Banyak warga Desa Embun dan warga desa lain datang untuk mengantar Shaka. Halaman rumah Shaka sampai tidak muat, sebagian orang harus berdiri di luar gerbang.Orang-orang ini ingin dikenal oleh Shaka, berharap Shaka mengingat mereka kelak. Sekalipun mereka tidak mendapat keuntungan apa pun, mereka bisa membicarakan pengalaman ini di kemudian hari.Coba bayangkan, jika kelak Shaka menjadi pejabat tinggi, mereka bisa memberi tahu orang lain bahwa ketika Pejabat Shaka pergi mengikuti ujian musim semi, mereka pergi mengantarnya, lho.Betapa terhormatnya hal itu.Bahkan Pahan pun datang. Shaka tidak punya kereta, jadi dia membawa dua kereta. Satu untuk diri sendiri, satu lagi untuk Shak
"Jangan begitu, siapa tahu dia benar-benar lulus.""Dia lulus? Apakah kamu tahu siapa dia?""Siapa dia?""Arjuna!""Arjuna yang menghabiskan waktu setengah tahun untuk mempelajari Kitab Tiga Aksara dan tulisannya seperti tulisan anak kecil?"Perihal Arjuna baru selesai mempelajari Kitab Tiga Aksara dan tulisannya jelek sudah tersebar ke seluruh desa.Kabar itu menyebar dari satu orang ke sepuluh orang, dari sepuluh orang ke ratusan orang. Arjuna jelas-jelas baru belajar selama sebulan lebih, rumornya menjadi setengah tahun."Ya, dia!""Ckck, dia benar-benar tak tahu diri, terlalu sombong.""Kalau tahu diri, bagaimana mungkin dia berani bersekolah.""Lihatlah betapa tak tahu dirinya dia. Seandainya juara terakhir, dia pasti tidak akan merasa malu.""Mungkin, pedagang memang paling tak tahu malu."Setelah semua orang mencemooh Arjuna, mereka berhenti memandang Arjuna, lalu memuji Shaka lagi.Orang-orang itu tentu tidak akan menyangka bahwa sekalipun Arjuna menyerahkan kertas kosong, dia
"Mengubah metode kompetisi?"Eshan dan Sugi, yang biasanya tak cocok satu sama lain, berbicara serempak untuk pertama kalinya."Benar, mari kita adakan lomba kereta di ronde ketiga. Ini adil untuk kalian berdua."Balapan kereta merupakan acara yang populer di kalangan masyarakat Dinasti Bratajaya.Dari ibu kota hingga kabupaten dan kota, setiap tempat menyelenggarakan balap kereta setiap tahun."Oke, balap kereta. Sepakat."Sugi berbicara lebih dulu. Begitu dia selesai berbicara, Hendra segera lanjut berkata, "Aku akan bermain di babak ketiga!"Selain berbisnis, Hendra adalah penggemar balap kereta dan sering berpartisipasi dalam perlombaan tersebut."Yang Mulia, aku akan ikut serta!"Irwan, yang berada di belakang Eshan, melangkah maju. Seperti Hendra, dia menyukai balap kereta dan sering berpartisipasi dalam kompetisi. Levelnya sebanding dengan Hendra.Arjuna mencuri perhatian di dua ronde pertama, dia tidak bisa membiarkan Arjuna mencuri perhatian di ronde ini."Kamu?"Hendra menyer
Tamu bernama Hendra memberi tip lima ratus tael perak.""Bagaimana boleh begini? Ini benar-benar tidak tahu malu.""Demi tidak kalah, mereka menggunakan cara tercela seperti itu.""Tunggu, apakah tip termasuk? Apalagi orang yang memberinya adalah Hendra."Semua pejabat dan pedagang dari Kabupaten Damai melontarkan protes dengan marah."Sugi, bukankah kalian terlalu hina?" Eshan berkata kepada Sugi dengan raut muram."Hina?" Ekspresi Sugi masih setenang sebelumnya, tanpa rasa malu, bahkan sedikit puas diri. "Kak Eshan, apa yang kamu bicarakan? Pelanggan merasa senang memakan masakan Lujain sehingga memberi tip. Apa yang aneh dari itu?""Kak Eshan juga, 'kan? Kalau kamu makan makanan enak, kamu pasti juga akan memberi tip kepada tukang masaknya, 'kan?"Sugi menatap Eshan sembari bertanya balik.Eshan terdiam sesaat.Dia memang punya kebiasaan itu. Setiap kali dia pergi makan dan menyukai makanannya, dia akan memberikan tip kepada si juru masak.Banyak orang tahu tentang kebiasaannya itu.
Hendra dan Bani menatap Sugi secara bersamaan.Mereka gagal mendapatkan Rumah Bordil Prianka, bahkan harus menyerahkan Restoran Kebon Sirih dan toko daging. Hal ini sama saja dengan memotong daging mereka. Bagaimana mungkin mereka rela melakukan itu?Melihat hal ini, pupil mata Eshan mengecil. "Kenapa, Yang Mulia Sugi, apakah kalian ingin bersikap curang?""Tidak, tidak." Sugi melambaikan tangannya berulang kali. "Bagaimana mungkin seorang pejabat mengingkari janjinya? Kalau kalian menang, akta Restoran Kebon Sirih dan toko daging pasti akan segera diserahkan."Eshan mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Sugi? Semua orang melihat bahwa sore ini, Restoran Kebon Sirih tidak menerima sepeser pun. Sedangkan cake Arjuna menghasilkan total 539 tael perak hari ini. Pendapatan Restoran Kebon Sirih selama tiga hari kurang dari 300 tael. Pendapatan kami sehari jauh lebih banyak daripada total pendapatan Restoran Kebon Sirih selama tiga hari. Bukankah kami menang?""Menurut perhitunganmu, kalian mem
"Tuhan, kamu sudah menciptakan aku, kenapa menciptakan Arjuna juga?""Lujain, apa maksudmu?""Hahaha! Hahaha!" Lujain tidak menanggapi kata-kata Sugi, tetapi hanya tertawa.Setelah tertawa terbahak-bahak, dia mulai mengulang-ulang kata-katanya. "Tuhan, kamu sudah menciptakan aku, kenapa menciptakan Arjuna juga?"Lujain terus mengulanginya sampai matahari terbenam. Tidak peduli bagaimana Sugi dan yang lainnya memanggil Lujain, dia tidak menjawab.Akhirnya Sugi mencarikan seorang tabib.Dokter mengatakan bahwa Lujain tidak bisa menerima pukulan sehingga menjadi gila.Dengan kata lain, Lujain sudah gila!"Gila? Bagaimana mungkin? Dasar tabib bodong!"Sugi menendang tabib itu keluar dari ruangan dengan kasar."Apa yang kamu lakukan di sana? Cepat panggil tabib!" Sugi berteriak dengan marah kepada bawahannya."Baik, Yang Mulia!" Bawahan itu berlari keluar dengan panik."Tunggu, jangan undang tabib dari Kabupaten Damai, undang tabib dari Kabupaten Sentosa saja."Bawahan Sugi bergegas menjemp
"Yang sudah beli, tolong berikan ke yang belum. Tuan." Eshan tersenyum kepada pemuda yang berada paling dekat dengannya. "Kamu sudah pernah beli sebelumnya. Aku lihat kamu bahkan beli dua.""Dua saja tidak cukup. Total putriku ada dua belas. Dua cake sebelumnya sudah dihabiskan oleh ibu dan putraku, Aku, istri dan putriku belum makan.""Kalau begitu kamu harus beli setidaknya delapan sampai sepuluh cake. Tidak bisa, tidak bisa."Orang-orang di belakang bergegas maju, mendorong pemuda itu ke samping.Setelah beberapa waktu berlalu, Eshan didemo menggunakan uang, orang-orang rebutan kue."Jangan rebutan, jangan rebutan. Semuanya kebagian. Kalau masih kurang, aku akan minta Arjuna menyisakannya untuk dibawa ke sini." Eshan merasa tak berdaya."Sepakat ya. Kalau tidak disisakan, awas saja."Adegan macam apa ini? Orang-orang mengancam kepala daerah, kepala daerah malah tertawa.Raut wajah Sugi begitu muram. Dia melirik Lujain yang berekspresi sama muramnya."Semuanya! Semuanya!" Sugi berdir
Parahnya lagi, ada yang rela melakukan reservasi dan mengantre selama setengah tahun untuk menyantap hidangan yang Lujain masak.Sekarang orang-orang ini mengatakan bahwa mereka ingin makan kuenya Arjuna, tidak ingin makan masakannya!Apakah kue murahan itu benar-benar seenak itu?Para tamu di aula terus berceloteh."Benar sekali. Benar-benar menyebalkan. Menurutku Lujain hanya terkenal. Aku mencoba masakannya kemarin, rasanya begitu saja.""Aku datang ke sini dua hari lalu. Sejujurnya, rasanya cukup enak. Wajar saja kalau koki istana berminat padanya. Tapi, dibandingkan dengan cake buatan Arjuna, aku lebih menyukai cake Arjuna.""Apakah kalian semua sudah makan cake-nya? Aku sudah pergi ke banyak tempat hari ini dan mengantre lama, tapi tetap saja aku tidak dapat satu pun.""Aku juga tidak sempat makan. Anakku sangat tidak sabar. Katanya kalau aku tidak bisa membelinya hari ini, mereka tidak akan lagi mengakuiku sebagai ayah mereka.""Anakmu mengeluh padamu, kamu bisa saja memarahinya
Ketika Eshan melihat papan di Restoran Kebon Sirih yang bertuliskan "Koki Utama Lujain, diskon 50%," Eshan masih khawatir.Alhasil, tak lama kemudian, orang-orang Sugi pun datang menemuinya dan mengatakan bahwa dia telah bertindak curang dengan melarang pelanggan masuk ke Restoran Kebon Sirih. Dia diminta untuk menjelaskannya kepada Sugi.Eshan yang semula marah karena seorang penasihat hukum tanpa jabatan resmi berani berbicara kepadanya seperti itu. Namun, dia tiba-tiba merasa lebih baik ketika mendengar bahwa Restoran Kebon Sirih tidak ada tamu.Eshan segera membalas penasihat hukum Sugi bahwa dia akan segera menjelaskannya kepada Sugi.Sugi menatap Eshan dengan marah. "Kenapa tidak ada orang di Restoran Kebon Sirih? Sebagai kepala daerah Kabupaten Damai, bukankah kamu mengetahuinya dengan jelas?"Eshan menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Benar. Bisa-bisanya Restoran Kebon Sirih tidak ada orang ketika Yang Mulia Sugi dan Koki Utama Lujain yang mengelola. Sebagai kepala daerah, ak
"Beri tahu mereka bahwa orang yang mendesak tidak akan dilayani."Lujain mengucapkan kalimat itu, kemudian membuka pintu menuju halaman belakang dari dapur. Dia lelah setelah membuat begitu banyak saus, jadi dia ingin naik ke lantai atas untuk beristirahat sejenak."Tuan, bukan banyak orang, tapi ... tidak ada orang."Ketika pelayan itu mengucapkan kata "tidak ada orang", suaranya sangat kecil, bahkan bergetar.Nanti dia pasti akan dipukuli."Apa?"Lujain melepaskan gagang pintu, berbalik, lalu menampar wajah pelayan tersebut."Sungguh sia-sia keluargaku menafkahimu selama bertahun-tahun. Apakah kamu bahkan tidak bisa berbicara dengan jelas?"Tidak ada orang?Omongan apa itu? Bagaimana mungkin tidak ada seorang pun yang datang untuk mencicipi masakan seorang Lujain?Pelayan itu memegang sebelah wajahnya yang ditampar sambil berkata dengan takut-takut. "Tuan, benar-benar tidak ada seorang pun di luar.""Sepertinya ibuku sudah terlalu baik padamu. Kamu diberi makan terlalu banyak sehingg
"Yang Mulia Mois." Arjuna tersenyum, dia tampak bodoh lagi. "Masih terlalu awal untuk mengatakan mengalahkan Lujain, hasilnya masih belum diputuskan.""Ayolah, Nak, kamu ini memang sudah menipu orang dengan penampilan bodohmu ini."Suara Eshan terdengar, tubuh besarnya menyelip di antara Arjuna dan Mois."Yang Mulia, bagaimana boleh Anda berkata seperti itu? Hasilnya memang belum diputuskan." Arjuna mengungkapkan keluhannya."Sudah, sudah."Eshan sedikit bersemangat, tetapi karena dia tinggi, gerakannya terlihat sedikit lucu.Dia lanjut berkata, "Setelah selesai mengambil lapisan bawah cake, aku keluar untuk melihat. Ternyata kereta kuda yang datang untuk membeli cake bertambah banyak."Eshan sudah meminta semua istri dan putri petugas pemerintah, termasuk istri dan putrinya sendiri, untuk datang membantu. Namun, sekarang sudah mau kewalahan juga."Ngomong-ngomong ...." Eshan melirik antrean tak berujung di luar toko. "Arjuna, bagaimana pedagang dari daerah lain tahu kamu membuat cake?