LOGINKharel sudah berniat untuk berbicara, tapi sang sopir berdeham pelan seakan memang belum selesai berbicara. Kharel pun memilih diam terlebih dulu dengan sambil mengernyitkan dahi.“Tapi … sayangnya kau terlalu ceroboh, anak muda!” lanjut sopir itu yang diikuti oleh sebuah tawa pelan.Namun, tawa itu bukanlah jenis tawa mengejek. Dia hanya tertawa santai, seolah hal yang dilakukan Richard adalah sebuah hal yang lucu.Tetapi, Richard tetap saja tidak suka ditertawakan seperti itu sehingga dia malah lebih menekan pistol itu ke dahi sopir itu, “Jangan banyak bicara! Atau aku akan benar-benar membuatmu berhenti bernapas!”Namun, reaksi sopir itu di luar dugaan Richard, dia dengan santai membalas, “Anak muda, satu peluru itu sangat berharga di tempat ini. Kau tidak mungkin akan menggunakannya hanya untuk membunuh seorang yang tidak perlu kau bunuh seperti aku, bukan?”“Kau banyak bicara!” ucap Richard dengan nada agak keras.Kharel yang sudah tidak tahan lagi pun mendesah jengkel, “Paman, b
Kharel hampir saja menjawab pertanyaan Elliot, tapi sahabat baiknya itu malah lebih dulu berbicara, “Kharel, kau lupa ayahku James Gardner dan … kakekku Jody Gardner?”Alis kanan Kharel terangkat sedikit. Elliot tersenyum miring, “Aku mewarisi dua sifat yang berbeda dari mereka. Jadi, kau … tidak perlu khawatir. Tidak akan ada yang bisa membodohi cucu Jody Gardner.”Sebetulnya Kharel bukannya terkejut Kharel membanggakan asal usulnya. Dia tahu ayah Elliot memanglah jenderal perang yang luar biasa hebat. Tidak pernah ada yang berani meragukan kemampuan pria yang merupakan sahabat baik ayahnya itu.Namun, ini pertama kalinya dia menyebut perihal Jody Gardner, seorang prajurit yang dicap sebagai pengkhianat karena banyak perbuatannya yang telah merugikan Kerajaan Ans De Lou di masa lalu.“Kakekku memang memiliki banyak kesalahan besar, tapi … kurasa tidak ada yang bisa membantah bila dia juga cukup pintar … licik, kan?”Telinga Elliot memerah tapi tetap melanjutkan dengan wajah sedikit
Beberapa peserta terlihat begitu terkejut dengan nama-nama yang keluar untuk kelompok delapan. Bahkan, Elliot Gardner yang terlebih dulu bergabung bersama dengan Knox Mest yang menjadi temannya di kelompok enam pun memberinya ekspresi kaget. Akan tetapi, Kharel Mackenzie tidak merasa ada yang aneh dengan hal itu sebab pemilihan itu dilakukan secara adil sehingga dia pun bergegas menuju ke arah bagian kanan tanpa meragukan apapun. Richard De Kruk pun langsung menyusulnya dan kemudian berdiri di samping temannya itu. “Apa kau menduga kalau kita akan berada di kelompok yang sama?” Richard tiba-tiba saja bertanya pada Kharel tanpa menoleh.“Tidak pernah. Semua itu dilakukan secara acak, siapapun bisa menjadi teman satu kelompokku,” balas Kharel.Richard tertawa kecil saat mendengar ucapan Kharel.Dan tawa itu segera membuat Kharel menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh tanya. Richard pun juga langsung menoleh ke Kharel lalu berkata, “Kau berarti telah melewatkan sesuatu.”Kharel men
Joseph terbelalak kaget, menatap ke arah Kharel dengan tatapan tidak percaya. Sampai-sampai pemuda itu bertanya dengan nada suara terdengar bergetar, “Apa kau serius?”Namun, ternyata tidak hanya Joseph dari Kerajaan Blueming saja yang terkejut, empat peserta dari Kerajaan Jorar sontak melotot. Bahkan, Remus Light dengan cepat berkomentar, “Kau sudah gila ya, Mackenzie?”“Kau kehilangan kewarasanmu?” Jerry Glow ikut bertanya.Dengan begitu santainya Kharel menjawab, “Mengapa memangnya?”Remus mendengus tidak sabar, “Hei, Mackenzie. Kau lupa dia itu siapa? Dia … lawan kita. Kau tidak hilang ingatan, bukan?”Drew Mosh yang biasanya tenang pun juga ikut menanggapi, “Putra Mahkota Kerajaan Ans De Lou, aku bisa memahami kalau kau dan teman-temanmu tidak mau membunuh. Tapi … memasukkan musuh ke dalam kelompok kita, aku tidak bisa menerimanya.”“Kenapa tidak bisa?” balas Kharel, masih terlihat tenang.Calvin Reid dengan cepat merespon dengan nada tidak suka, “Kau masih bertanya kenapa? Baga
Gale More menggelengkan kepala. “Kurasa … ini mirip seperti saat kita sedang berada di kereta. Aku benar-benar seperti sedang dibutakan atau … dibuat tidak peka.” Kharel menggigit gigi lalu mengangguk, “Kalau begitu kemungkinan besar memang ini ulah staf penyelenggara.” Gale mendesah pelan, tampak pasrah. “Lagipula, siapa yang memiliki alat semacam itu? Maksudku obat itu untuk membuat orang menjadi kehilangan konsentrasi seperti itu. Hanya staf penyelenggara kompetisi ini yang memiliki itu. Iya, kan?” Kharel menambahkan. Gale mengangguk, “Ya, kau mungkin benar.” First menelan ludah dan buru-buru berkata, “Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf.” Gale melebarkan mata, “Untuk apa kau meminta maaf? Ini bukan salahmu. Kau-” “Jarum-jarum itu berasal dari Kerajaan Kiansa. Aku-” “Sudah, tidak perlu dibahas lagi. Gale sudah baik-baik saja,” Kharel memotong ucapan First dan kemudian bangkit lalu bergabung dengan teman-temannya yang lain. Kini hanya tinggal First yang masih duduk di
Leo mendengus kesal, bingung dengan keterlambatan Jimmy dalam berpikir, "Jimmy, ayolah! Masa kau tidak bisa melihat kejadian itu?”Jimmy mengerutkan kening, tampak tidak mengerti.“Jimmy, kau serius … kau ini Putra Mahkota Kerajaan Sealand? Mengapa otakmu-”“Brengsek! Katakan saja apa rencanamu!” Jimmy memotong dengan tidak sabar.Leo memutar bola mata malas, “Gale More. Kau tahu apa yang terjadi kepadanya, bukan? Kau tidak buta, kan?”Jimmy menaikkan alis, terlihat berpikir serius. Dia memutar arah pandang pada First Kiansa yang duduk di dekat Gale More. Jelas dia bisa melihat ekspres tidak nyaman pada First.Perlahan dia pun mengerti.“Aku tahu sekarang.”Leo hampir saja bertepuk tangan karena kegirangan, “Tapi … siapa yang akan mempengaruhinya? Kau … atau tahu?”Leo tersenyum miring, “Itu … harus kau.”“Kenapa?” Jimmy menyipitkan mata, terlihat curiga.“Karena kalian berdua sama-sama seorang pangeran. Jadi … kupikir kau bisa mencari cara yang aman untuk berbicara dengannya. Sedangk







