James tidak tersinggung dan malah terkekeh, “Aku hanya lelah.”“Lelah? Kau bodoh atau bagaimana?” balas Riley, semakin jengkel."Aku lelah karena hinaan itu," kata James dengan nada lirih.James meringis kala kakinya yang tulangnya patah itu membentur batu saat mereka berjalan melewati bebatuan.Riley sontak menoleh dan melirik ke arah kaki James yang tak berdarah tapi terlihat menggantung. Tanpa memeriksa kaki itu saja, Riley sudah bisa menduga bila kaki kanan James itu sudah patah.James bukan orang lemah yang akan mengeluh jika dia sakit. Pria itu akan berlagak kuat dan tak menderita apapun. Namun, melihat James tak menyembunyikan rasa sakitnya itu dari dirinya, Riley dengan cepat beranggapan bila l
“Hei, jangan diam saja! Kau membuatku bosan,” kata James sembari mendengus kesal.Riley tetap beradu pandang dengan James yang masih menaikkan alis, menunggu penjelasan.Apakah karena rasa bersalah? Tapi, mengapa?Riley juga tidak tahu bagaimana dia menjawabnya. Dia sendiri tak bisa memahami tindakannya itu. Pemuda yang kakinya sedang terluka itu memang telah tumbuh dari bayi tanpa kehadiran ayahnya. Meskipun semua itu berkaitan dengan ayahnya, tapi tetap saja semua yang menimpa James itu bukan kesalahan ayahnya.Jika sudah begitu, bukankah seharusnya dia tidak perlu memiliki rasa bersalah pada pemuda itu?Lalu, mengapa dia melakukan hal ini? Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya dia melakukan hal yang paling berbahaya di dalam hidupnya. Hal yang dia lakukan kali ini tidak seperti melanggar peraturan istana yang hanya akan berakhir dengan sebuah hukuman, tapi tentu saja tak sampai harus mengorbankan nyawanya.Akan tetapi, saat ini dia benar-benar mempertaruhkan nyawanya di wila
“Ryan, hentikan!” pekik Ben, sang ketua kelompok yang dengan cepat berlari ke arah Ryan yang telah mencengkeram leher Riley.Riley bukan tak bisa melawan prajurit senior itu, tapi dia seolah tahu bila akan jauh lebih baik jika dia diam saja. Bagaimanapun juga, dia memang telah melanggar peraturan dan sudah tentu telah membuat marah para prajurit senior itu.Ryan masih tak mau melepaskan cengkeramannya pada Riley sehingga Ben dengan terpaksa ikut bertindak dengan menarik Ben menjauh dari Riley.“Kau membelanya, Ben? Yang benar saja. Gara-gara dia, Komandan Sehel murka,” teriak Ryan dengan sambil menggeram marah.“Cukup, Ryan! Kendalikan dirimu!” kata Ben tajam.Riley masih terdiam, tak berani berkata apapun. Sementara James masih berdiam diri di tempatnya. Dia mendengar keributan kecil itu dan memilih untuk tak membuat tindakan apapun agar semuanya tak memburuk.Ryan mendesis, “Apa-apaan kau ini? Dia dan temannya itu yang harusnya mengendalikan rasa ingin tahunya yang tinggi itu. Bukan
Riley pun juga hanya bisa tersenyum pasrah. Akan tetapi, setidaknya dia tidak dihukum sendirian. Ada James yang akan menemani menjalani hukuman yang dia belum tahu berbentuk apa itu.Di saat yang bersamaan, lebih tepatnya di depan pintu gerbang utama Kerajaan Ans De Lou, William Mackenzie baru saja tiba ditemani oleh Vincent Crack, salah satu pengawalnya yang dulu juga menemani dirinya ke istana ketika dia ingin bertemu dengan sang putra.Tidak seperti dulu ketika dia masuk secara tidak resmi dan malah menjadi seorang penyelinap. Kali ini sang jenderal perang terkuat itu menggunakan proses resmi, yakni masuk melalui pintu gerbang utama. Sesuai dengan peraturan kerajaan, William segera berjalan ke bagian staf yang akan mendata siapa yang akan masuk ke dalam istana.Di bagian samping pintu gerbang, terdapat sebuah ruangan di mana para pengunjung atau tamu istana diwajibkan melapor. “Selamat sore, saya ingin bertemu dengan Raja Keannu,” ucap William sambil merogoh jasnya, berniat menga
Staf laki-laki itu terdiam sebentar, tapi kemudian dia menjentikkan jari seolah baru tersadar akan sesuatu.“Putranya ada di sini,” sahut staf laki-laki itu.Staf wanita mendecakkan lidah, “Astaga. Aku tak percaya. Itu kan baru rumor. Semua orang juga tahu jika hal itu hanyalah rumor yang dihembuskan oleh James Gardner.”Staf laki-laki itu menggeleng tidak setuju, tapi temannya itu menyahut lagi, “Kalau itu memang benar, seharusnya semua sudah terungkap. Calon prajurit saat ini hanya berjumlah sekitar 300 orang, tidak mungkin istana tidak bisa menemukan sosok yang dianggap putra Jenderal Mackenzie kan?”“Kalau begitu, kau bisa temukan alasan yang masuk akal, Julia? Mengapa jenderal perang yang memutuskan pensiun dan mundur dari istana lalu bahkan menghilang dari istana atau bisa dikatakan menyembunyikan kehidupannya, sekarang muncul di istana?” tanya staf laki-laki bernama Bernard. Julia, sang staf wanita itu mendesah kesal, “Mana aku bisa tahu? Mungkin Jenderal Mackenzie sedang memi
William Mackenzie menoleh ke arah sang raja dan mengangguk, “Iya, Yang Mulia. Saya melihat dia memiliki hubungan yang pertemanan yang kuat dengan James Gardner.”“Oh, bahkan tidak hanya itu. Putraku bahkan juga berada dalam satu asrama, satu kamar dengan dia,” tambah William.Keannu termenung selama beberapa detik dan kemudian mengangkat kepala, kembali menatap sang jenderal, “Putramu … dia ….”Belum tuntas Keannu menyelesaikan kalimatnya, dia melihat tiga anggota keluarganya memasuki area taman miliknya itu tanpa pemberitahuan.Laki-laki itu seketika berujar, “Kalian bertiga. Apa yang kalian lakukan di sini?”Monica bersama dengan putra dan putrinya hanya mencoba tersenyum kikuk. William Mackenzie segera menyapa sang ratu negeri itu, “Selamat malam, Yang Mulia.”Dia juga menyapa sang putri dengan senyuman hangat, “Putri Rowena, akhirnya kita bertemu kembali.”Rowena balas tersenyum canggung, tapi dia membalas dengan berkata, “Selamat datang di istana lagi, Jenderal Mackenzie.”Willi
Wajah gadis muda itu mendadak berubah. Dari yang tadi merona cerah kini nampak pucat. William Mackenzie dengan mudah memahami apa yang sedang terjadi pada sang putri raja yang menurut kabar telah menjalin hubungan asmara dengan putranya.Maka, mengingat hubungan kedua anak muda itu William pun berujar, “Yang Mulia, Anda membuat sang putri takut. Bagaimana kalau saya yang menjelaskan masalah ini?”“Kebetulan saya tahu hal itu cukup banyak,” tambah William. Keannu memutar arah pandangnya pada William, “Apa maksudmu kau tahu soal ini?’”“Kau tahu soal ini, Jenderal? Bagaimana mungkin?” Monica ikut bertanya dengan mimik wajah terlihat terkejut.William Mackenzie pun menceritakan semua yang dia ketahui termasuk pengakuan sang putri tentang menyembunyikan identitas putranya. Beberapa kali Monica terlihat menghela napas heran, sementara Keannu menggertakkan gigi untuk mengatasi rasa kesalnya karena telah dibohongi oleh putrinya sendiri selama itu.Sang raja menoleh kembali pada putri canti
Ekspresi William Mackenzie sangat jelas menunjukkan kekecewaan yang besar. Tapi, Keannu tidak lari dari masalah dan tetap menjawab dengan sejujur-jujurnya, “Karena aku pikir dan orang-orang pikir putramu mungkin bisa menggantikan kau.”William tercengang.Melihat ekspresi itu, Keannu segera menambahkan, “Jangan berpikir hal yang buruk dulu!”Keannu yang tidak nyaman itu meminta William untuk duduk sebelum dia melanjutkan lagi, “Maksudku begini, Bill. Andrew akan segera pensiun. Sebenarnya … kesehatannya sudah menurun dan aku … tidak menemukan satu pun pengganti yang cocok.”“Lalu … terdengar desas-desus kalau putramu ternyata ikut pemilihan prajurit ini ya jadi … kami seketika memiliki harapan yang besar. Jika kau bisa sehebat itu, putramu tentu saja kemungkinan besar juga memiliki kemampuan luar biasa seperti kau,” jelas Keannu.William terlihat frustrasi. Bahkan, dia terlihat minum air putih sebelum Keannu memberinya izin untuk minum.Keannu ikut mendesah, sadar dengan benar bila se
Dengan bahu lemas Rowena mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Xylan yang memang benar menurutnya.Xylan tercengang, tidak percaya. Memang ada orang seperti itu? Jenderal perang bukanlah jabatan yang sembarangan. Mana mungkin ada orang yang rela memberikan jabatan penting itu untuk orang lain? Itu tidak masuk akal, Xylan membatin dengan kening terlipat.Rowena memperhatikan reaksi adik laki-lakinya itu dan kemudian dia pun mendesah pelan. Wanita muda itu berkata, “Iya, aku tahu orang tak akan mudah percaya kalau ada orang seperti Riley. Namun, … setiap orang yang mengenal Riley dengan sangat baik sudah pasti berpikir bahwa hal yang dilakukan oleh Riley itu bukanlah hal besar untuknya.” “Dia bukanlah orang yang gila jabatan penting dan dia tidak akan segan-segan untuk mengorbankan dirinya, termasuk jabatan dan bahkan nyawanya sekalipun untuk orang lain,” Rowena menambahkan, memperkuat argumen yang dia yakini memang benar.Xylan masih terlihat tidak yakin dan malah sepenuhnya meragu
Diperlakukan seperti seorang anak kecil oleh Rowena, tentu saja Xylan tidak mau menerimanya. Dia itu seorang raja. Dia tidak ingin wibawanya jatuh di hadapan semua orang hanya karena masih dianggap seperti bocah oleh kakak perempuannya itu.Secara cepat dia menoleh ke arah sekelilingnya guna melihat apakah ada orang yang melihat sang kakak menyentuh rambut bagian kepala belakangnya. Akan tetapi, dia menghela napas lega ketika tidak ada yang melihatnya.Ah, aku sudah menjadi raja. Siapapun tidak akan berani melihat ke arahku jika aku tidak memberi mereka izin, Xylan berkata dalam hati. Pria muda itu menggelengkan kepala, merasa terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak terlalu penting.“Bukan. Bukan aku tidak percaya kepadamu, Rowena. Masalahnya adalah … itu ….”Oh, Xylan kehilangan kata-kata. Dia kesulitan merangkai kata-kata, takut bila perkataannya bisa menyinggung sang kakak.Tetapi, dia melihat Rowena terdiam, seolah memang menunggu lanjutan ucapannya sehingga dia pun berujar, “Beg
Lelah mendengar pertanyaan-pertanyaan Nick Collins, si pria cerewet itu, akhirnya Gary Davis menjawab, “Tidak ada. Aku hanya ingin tidur. Apakah kau keberatan jika aku memejamkan mata sekarang?”Nick Collins mengedipkan mata, terlihat tampak kecewa.Tapi, Gary tidak peduli dan menambahkan, “Aku sangat lelah. Hari ini penobatan Raja Xylan. Banyak sekali hal yang aku lakukan.”Gary menghela napas lelah dan memasang ekspresi wajah memelas sehingga Nick menjadi kasihan.Dia pun langsung menanggapi, “Oh, maafkan aku. Gara-gara aku kau jadi tidak bisa beristirahat. Baiklah, silakan ambil waktumu.”Gary Davis tersenyum penuh terima kasih dan segera memejamkan mata.“Selamat beristirahat, kawan!” kata Nick kala dia melihat kedua mata Gary telah terpejam.Tidak lupa dia menambahkan, “Kita bisa lanjut mengobrol nanti.”Tidak usah, tidak perlu, Gary membatin sambil masih memejamkan mata.Dia tentu saja tidak mau repot-repot membalas ucapan Nick dan tetap berpura-pura tidur. Padahal sesungguhnya
Pemuda berusia 23 tahun itu melonggarkan bagian kerah kemejanya dan kemudian duduk dengan nyaman. Wajahnya tampak cerah penuh senyuman. Bahkan, salah seorang penumpang lain yang duduk satu kompartemen dengannya merasa bila pemuda yang membawa tas ransel dengan lambang Kerajaan Ans De Lou itu merupakan pria muda yang sangat ceria.“Maaf, di mana Anda akan turun?” Gary bertanya untuk sekedar berbasa-basi dengan teman satu kompartemennya itu.Pria yang terlihat seusia dengannya itu pun menjawab, “Vues Hill.”Gary mengangguk, “Oh, Anda berarti turun sebelum saya.”“Anda memang turun di mana?” pria itu bertanya balik. “Ah, saya akan turun di stasiun terakhir, Wenderstein,” jawab Gary.Pria itu mengerutkan dahi, “Wenderstein? Anda berasal dari daerah … yang pernah menjadi milik Kerajaan Sealand rupanya.”Gary tersenyum ramah dan mengangguk, “Anda sepertinya mengetahui daerah saya.”Pria itu langsung manggut-manggut, “Tentu saja. Saya pernah pergi ke sana beberapa kali.”Gary sebetulnya en
“Mohon ampuni saya, Yang Mulia. Saya … akan berhenti berbicara dan mendengarkan Anda,” kata Gary Davis yang setelah mengucapkan hal itu segera menutup mulutnya rapat-rapat. Lelaki muda itu pun juga menundukkan kepala seolah takut bila dirinya akan membuat sang raja muda murka kepadanya.Xylan mendesah pelan melihat kepatuhan asisten pribadinya itu dan kemudian menanggapi, “Gary, aku … sudah mengingkari janjiku. Aku tidak bisa membuatmu menempati posisi penting di istana ini.”Dia mengamati ekspresi wajah Gary yang sialnya tidak terlihat olehnya karena kepalanya tertunduk agak dalam.Tetapi, melihat Gary yang tidak bergerak sedikitpun Xylan yakin Gary mendengarkan semua perkataannya dengan baik-baik.“Tapi … bukan berarti aku tidak bisa melakukannya selamanya,” Xylan melanjutkan.Perkataan Xylan berhasil membuat Gary sedikit menggerakkan kepalanya tapi masih tetap dalam posisi tertunduk.Xylan tersenyum samar dan menambahkan, “Iya, Gary. Kau tidak salah mendengar. Aku hanya menunda pe
“Jenderal Gardner, kau selalu bisa membaca apa yang ada di dalam otakku,” Xylan menjawab pelan.Sudut bibir James pun terangkat sedikit membentuk sebuah senyuman tipis.“Katakanlah, Yang Mulia! Saya siap membantu Anda,” James berujar santai.Xylan menganggukkan kepala, “Ini tentang kau.”“Tentang saya?” James mengulang dengan ekspresi terkejut.Pria muda itu sama sekali tidak mengira bahwa jawaban dari sang raja justru mengenai dirinya. Dia pikir yang dimaksud Xylan adalah kekhawatirannya terhadap pemerintahan. Dengan nada bingung dia bertanya, “Apakah ada sesuatu yang saya lakukan mengganggu Anda, Yang Mulia?” Xylan menggelengkan kepala dengan tegas, “Tidak. Kau justru lebih banyak membantuku dan itu sudah di luar ekspektasiku.”Hal itu tentu semakin membuat James tidak mengerti, “Lantas apa yang Anda pikirkan tentang saya?”“Ini soal perjanjian kita sebelum aku dilantik,” jawab Xylan.Dahi lebar James mengerut, tapi dia segera menyadari dengan cepat tentang apa yang dimaksud oleh
Seorang staf wanita dari kementerian lain seketika menertawakan perkataan Celine Klein. Wanita muda itu adalah Lucy Berry.Tetapi Celine, wanita muda berusia dua puluh lima tahun itu hanya menatapnya dengan alis terangkat sebelah. Dia tidak tampak terganggu sama sekali, justru penasaran.Beberapa orang juga akhirnya ikut tertawa bersama wanita yang juga terlihat seusia dengan Celine.Dikarenakan tidak mendapatkan tanggapan sesuai yang dia inginkan, Lucy berkata dengan nada sinis, “Kenapa kalau Raja Xylan memilih seorang wanita dari kalangan biasa? Apa … kau berminat menjadi istrinya?”Celine hendak menjawab, tapi Lucy menertawakan dirinya lagi dan berujar, “Jangan terlalu banyak berharap! Meskipun Raja Xylan memilih seorang wanita yang bukan berasal dari anggota keluarga kerajaan, dia tetap tidak mungkin melirik seorang staf biasa sepertimu.”Tatapan matanya pada Celine jelas sangat meremehkan, namun Celine tetap terlihat tenang dan santai.Wanita muda itu malah dengan berani berkata,
Perkataan Perdana Menteri Kerajaan Ans De Lou yang telah berjasa banyak untuk negeri itu seketika membuat sebagian besar menteri di istana itu menjadi terkesima.Banyak di antara mereka yang takut bernapas. Bahkan, ada juga yang tidak berani hanya sekedar menggerakkan bola mata mereka. Hal itu lantaran menurut mereka Philip Crawford terlalu berani sehingga mereka berpendapat bahwa kali itu raja muda yang baru saja dilantik itu pasti akan kehilangan kesabarannya dan marah besar.Reiner Anderson, salah satu komandan perang di negeri itu hampir merasa jika hal itu adalah akhir dari perdebatan yang terjadi antara dua orang yang berbeda generasi itu.“Perdana Menteri Crawford pasti tamat kali ini. Raja Xylan tidak mungkin membiarkannya,” kata Reiner dengan nada suara terdengar penuh kengerian.Josh Cleve mengedipkan mata dan berkata, “Kau benar, Rei. Tuduhan itu sedikit keterlaluan menurutku. Kalau begitu caranya, raja muda itu pasti akan mendepak si tua Crawford.”Benedict Arkitson yang
Philip Crawford pun menjawab, “Yang Mulia, Anda telah melakukan kesalahan besar.”Semua orang menahan napas mendengar jawaban yang sangat berani yang dikatakan oleh Philip.Bahkan, Ashton Rowles tampak terkejut setengah mati hingga lupa menutup mulutnya yang terbuka lebar.“Astaga! Apa Perdana Menteri sudah hilang akal?” gumam seorang menteri yang berdiri tidak jauh dari Ashton.Seorang temannya yang juga merupakan menteri pun membalas, “Dia memang sudah gila.”“Aku rasa dia berani membantah raja karena dia tidak rela kehilangan jabatannya,” sahut menteri lain.Seorang staf kementerian kehutanan mengangguk, “Anda semua benar, menteri. Sepertinya Perdana Menteri Crawford tidak bisa menerima keputusan raja.”“Itu sudah jelas. Hanya saja … kalau aku menjadi Perdana Menteri, aku akan melakukan hal yang sama,” kata seorang staf kementerian yang lain.Menteri Sosial menanggapi, “Mengapa?”Orang itu mengangkat bahu, “Masalahnya adalah … dia digantikan oleh seorang yang memiliki kriteria jauh