Sambil berdoa dalam hati agar Celine tidak menolaknya, Steven kembali menyematkan cincin yang tadi sempat dibuang oleh Celine.Ia cukup beruntung karena Celine tidak menarik tangannya. Selesai menyematkan cincin itu, Steven langsung menatap wajah Celine. Wajah itu kini sudah beralih teduh. Tidak lagi terlihat amarah di wajah dan matanya."Aku mencintaimu, Celine. Dengan segenap hatiku. Aku tak sanggup jika harus berpisah denganmu!" Ucap Steven bersungguh-sungguh."Jangan pernah kau lepaskan lagi cincin ini, yah!" pinta Steven.Celine terdiam memandangi cincin yang kini kembali tersemat di jarinya. Kemudian ia memandangi wajah Steven."Ini kedua kalinya aku memaafkanmu, Steven Gagnon! Jangan pernah lakukan lagi hal itu kepadaku!" ucap Celine memberi peringatan kepada Steven.Steven langsung buru-buru mengangguk dan memeluk Celine dengan perasaan sangat lega karena Celine telah memaafkannya."Terima kasih, Celine! Terima kasih karena telah mempercayai aku," Steven mengucapkan kalimat it
Keesokan harinya, Steven memutuskan untuk membawa Celine pergi berlibur dadakan. Lagipula saat itu adalah akhir pekan. Biarlah mereka melakukan semacam bulan madu singkat.Steven membawa Celine pergi ke Quebec. Celine yang tidak suka naik pesawat terpaksa harus menahan rasa takutnya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ia tidak setakut seperti sebelumnya. Mungkin karena kali ini ada sang suami yang senantiasa menyertainya dan mendampinginya dalam ketakutan.Suami?Yah, Celine sendiri masih merasa asing dan belum terbiasa bahwa ia kini telah memiliki seorang suami. Dan belum terbiasa pula ketika Steven menggodanya dengan memanggilnya sebagai Mrs. Gagnon. Celine jadi tersipu sendiri. "Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri?" tanya Steven pada Celine. Wajah Steven juga terlihat tak kalah bahagianya."Aku merasa bahagia," jawab Celine sambil bersandar pada dada bidang Steven sambil menikmati sajian anak-anak muda seniman jalanan yang sedang memainkan beberapa alat musik sambil bernyanyi dengan i
"Ke mana saja kau!" sentak Mr. Reynolds."Nana meracau memanggilmu terus! Tapi kau tidak datang atau menjawab telepon. Nana sudah meninggal!" sambungnya dengan suara keras.Celine seakan terhenyak mendengar bahwa Nana telah meninggal. Ia belum sempat bertemu dengannya dan mengucapkan selamat tinggal. Mengapa Nana pergi dengan begitu cepat. Tanpa dapat ditahannya air matanya mengalir deras membasahi kedua pipinya, pandangannya jadi kabur."Jangan memarahinya lagi! Dia tidak tahu akan terjadi hal seperti ini! Aku yang menyuruhnya untuk pergi bersamaku!" Steven menatap tajam ke arah Mr. Reynolds sambil menegurnya. Ia sudah cukup melihat perlakuan keluarga Reynolds kepada Celine. Hanya dalam satu kali pertemuan saja, pria tua itu sudah memukul Celine."Siapa kau? Jangan ikut campur masalah keluarga!" sentak Mr. Reynolds kepada Steven."Aku, Steven Gagnon! Pemilik Diamond Corporation!" ucap Steven tanpa dapat menahan diri lagi. Seharusnya ia tidak membuka identitasnya di hadapan keluarga
"Kau mau ambil barang-barangmu dulu ke rumah keluarga Reynolds?" tanya Steven saat mereka sudah berada di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan.Celine mengangguk pelan. Ia akan mengambil barang-barangnya sekaligus mengembalikan kunci rumah kepada keluarga Reynolds. Sekarang Nana sudah tidak ada. Praktis hubungannya dengan keluarga Reynolds juga sudah berakhir. Ia sudah memiliki Steven sekarang. Jadi ia akan tinggal di rumah Steven.****Tiga bulan kemudian : "Nyonya Gagnon!" sapa Qiana penuh sikap hormat.Hari ini Qiana dipanggil ke Gagnon Manor oleh Nyonya besar Gagnon. Jadi disinilah ia sekarang, berdiri dengan sikap sopan dan hormat di depan Nyonya besar Gagnon."Aku menyuruhmu membantu penyelidikan Noah soal penggelapan uang itu tapi kau malah tidak melaporkannya padaku!" Ucap Nyonya besar Gagnon dengan suara tegas dan galak."Maafkan saya, Nyonya. Tapi saya dan keluarga sedang mengalami kedukaan beberapa bulan terakhir ini. Nenek saya meninggal dunia. Itulah sebabnya saya be
"Steven! Bisakah kau jelaskan padaku mengapa kau melakukan hal gila ini? Apa kau mau membuatku mati lebih cepat?" Nyonya besar Gagnon terlihat sangat terpukul sekali ketika ia melihat Steven."Setelah semua yang telah kulakukan selama ini … tapi kau malah menghancurkannya!" Nyonya besar Gagnon meratap sambil menunjuk Steven dengan tongkatnya. Steven menghela nafas dalam dan ia memejamkan kedua matanya. Kemudian pria bermata unik itu mencubit pangkal hidungnya seakan ia merasa lelah luar biasa. Kemudian tanpa menengok ke arah Celine ia berkata,"Celine bisakah kau tolong tinggalkan kami berdua?" Pinta Steven kepada Celine. "Steven, apakah ….""Kumohon, Celine! Tinggalkan kami!" Steven tiba-tiba meninggikan nada suaranya. Mendengar suara Steven yang baru pertama kali ini bersikap tidak ramah padanya membuat Celine jadi kesal. Ia memutuskan untuk naik ke atas meninggalkan mereka berdua.Tapi baru setengah jalan, ia memutuskan untuk tidak jadi naik. Ia penasaran dengan apa yang akan di
Celine naik ke atas dan mulai membereskan barang-barangnya. Ia tidak akan bisa bersama dengan Steven lagi setelah ia tahu bahwa Steven adalah orang yang berada dibalik kecelakaan ayah dan ibunya.Celine tidak akan bisa hidup tenang bersama dengan seorang yang telah membunuh ayah dan ibunya.Tepat ketika ia selesai membereskan barang-barang miliknya dan hendak beranjak keluar, Steven masuk ke dalam kamar mereka."Celine, mau ke mana kau?" tanya Steven begitu melihat Celine sudah siap dengan koper miliknya di sampingnya.Celine tidak menjawab. Ia hanya menatap Steven dengan penuh kebencian. Sisa-sisa air mata di wajahnya telah cukup menjelaskan kepada Steven mengenai apa yang telah terjadi.Wajah Steven berubah pucat. Celine pasti telah mendengar percakapan antara dirinya dengan sang nenek."Celine … aku bisa menjelaskan …." ucap Steven tapi nada suaranya sendiri masih terdengar ragu."Tak perlu! Aku sudah mendengar semuanya!" potong Celine dengan suara gemetar menahan tangis sekaligus
Celine menatap tajam dan tak percaya ketika melihat Steven tahu-tahu sudah ada di dalam pesawat yang sama dengannya. Sementara Steven semakin mendekat, kemudian ia berjongkok di samping seorang wanita yang duduk di samping Celine."Maaf, Nyonya. Bolehkah saya meminta tolong kepada Anda untuk bertukar tempat sebentar? Wanita yang duduk di sebelah Anda adalah istri saya. Kami sedang bertengkar hebat dan ia langsung pergi naik pesawat begitu saja tanpa memberikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskannya," Steven mengeluarkan pesonanya untuk membujuk wanita yang berusia kira-kira pertengahan 50an itu."Kalian berdua suami istri?" tanya wanita setengah baya itu kepada Celine."Bukan!" jawab Celine singkat dan kemudian ia membuang muka."Ayolah, Celine! Kita bisa membicarakan ini baik-baik. Kita masih terikat dengan pernikahan," sahut Steven berusaha membujuk Celine.Namun Celine sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Ia terus saja memandang keluar jendela. Seolah awan terlihat jauh
"Pencuri! Berhenti! Itu milikku!" Celine berteriak panik.Celine berusaha mengejar penjahat yang telah merampas tas dan barang-barangnya. Namun sia-sia saja, orang itu terlalu cepat, dan lagi Celine tidak berani berlari terlalu cepat. Ia sedang mengandung. Ia takut terjadi sesuatu kepada janinnya.Ia masih baru tiba di kota ini dan ia belum mengenal jalanan dan area disana dengan baik. Dan orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak ada yang membantunya. Mereka hanya melihat kejadian itu dengan pandangan bertanya-tanya tapi tidak membantu mengejar penjahat tersebut.Dengan segera kedua penjahat tadi menghilang dengan barang-barang bawaan dan tas tangan Celine. Dengan putus asa, Celine mulai merasa panik. Semua barang-barang berharganya ada di dalam tas itu. Termasuk uang, kartu kredit, kartu ATM, dan surat-surat dokumen penting lainnya.Kini Celine sama sekali tidak memiliki apapun lagi selain pakaian yang melekat pada tubuhnya. Dalam keputusasaan itu, Celine pun menangis. Bagaimana i
“Jadi, kamu benar-benar sengaja mengabaikan telepon dariku, huh?” sindir Ethan pada Sinta yang kini berdiri tegang di hadapannya.Gadis itu seakan tidak menyangka kalau dirinya akan kembali bertemu dengan Ethan secepat ini!Padahal selama beberapa hari terakhir ini, dia sudah susah payah mengabaikan telepon dan chat dari pria itu, tapi lihat sekarang yang terjadi!Pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya seperti seorang ‘Iblis’ yang siap memberikannya hukuman karena terus mengabaikan telepon dan chat darinya.‘Sialan! Kenapa dari sekian banyak tempat yang aku kunjungi, aku harus bertemu dengan pria ini lagi di sini?! Kenapa?!’ gerutu Sinta dalam batinnya.Dia tidak mengerti, kenapa seorang CEO seperti Ethan Wistara harus mengunjungi toko buku di tengah mall seperti ini?!Apa dia tidak bisa menyuruh sekretarisnya saja apa?!Menyebalkan! Sinta terus menggerutu dalam batinnya.Oh, dan tolong jangan tanyakan kenapa Sinta tahu pria di hadapannya ini adalah CEO dari Wistara Group.Dari awal
Tersadar karena sudah menatap Ethan terlalu lama, Sinta pun langsung mengalihkan pandangannya. Entah kenapa, dia menjadi merasa salah tingkah, hanya karena bertemu tatap dengan Ethan.“Pak Ethan,” ucap Erwin yang ternyata telah datang bersama tim HR, dan juga dua orang petugas keamanan sesuai dengan perintah Ethan.Ethan memutuskan tatapan matanya pada Sinta, lalu menoleh ke arah kedatangan Erwin.“Ini ponsel milik pria itu. Kamu selesaikan masalah ini,” ucap Ethan menyerahkan ponsel milik karyawan pria tersebut, kepada Erwin.“Baik, Pak.”Erwin mengambil ponsel tersebut, lalu memeriksa layar ponsel yang menampilkan foto-foto karyawan wanita yang berada di sana.Seketika Erwin memahami situasi yang telah terjadi di sana, hanya dengan melihat foto-foto tersebut.Erwin mendongak menatap ke arah karyawan wanita dan pria itu. “Kalian ikuti saya,” ucap Erwin kepada mereka.Wanita dan pria itu melangkahkan kakinya mengikuti Erwin. Pria tersebut dikawal oleh kedua orang petugas keamanan ters
Pertanyaan Ethan membuat pria itu semakin ketakutan. Jika masalahnya sampai dibawa ke polisi, maka semuanya akan berakhir untuknya. Dia tidak ingin nama baiknya hancur dan orang lain akan mengetahui semua perbuatannya itu.Namun, bukan hanya itu saja, jika perbuatannya ini sampai ke telinga istrinya maka sudah dapat dipastikan istrinya akan meninggalkannya.Memikirkan hal itu membuat pria itu semakin panik dan ketakutan.Ethan mengamati raut wajah dari karyawannya itu, membuatnya seakan bisa membaca apa yang dipikirkan oleh pria itu saat ini.“Jika kamu memilih untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan, maka akan saya pastikan jika wanita ini yang bersalah, dia akan dipecat dari perusahaan ini secara tidak hormat. Namun itu berbeda lagi jika halnya kamu yang bersalah di sini. Saya dapat pastikan, bahwa masalah ini tidak akan sampai ke telinga istrimu. Istrimu tidak akan mengetahui apapun masalah yang telah terjadi hari ini,” ucap Ethan yang sekaan menjawab semua pemikir
Wanita dan pria tersebut masih menundukkan kepalanya, tidak berani menjawab pertanyaan Ethan.Mereka semakin merasa tersudutkan, akibat dari tatapan tajam Ethan yang seperti menusuk mereka secara perlahan.Sinta yang sejak tadi menyimak mereka langsung berdehem untuk memperbaiki suasana yang tiba-tiba menegang ini.“Ehm … maaf mengganggu, biar saya yang menjelaskan apa yang terjadi di sini."Sinta menolehkan kepalanya, menatap Ethan yang tanpa sengaja sebelumnya ia bersandar di dada bidang milik Ethan.“Ah, sebelumnya terima kasih karena sudah menolong saya tadi,” ucap Sinta sedikit membungkukkan badannya sebagai ucapan terimakasih kepada Ethan.Ethan melirik ke arah Sinta yang sejak tadi diabaikannya, karena terlalu fokus kepada dua orang yang membuat keributan di perusahaannya itu.Sinta menatap sejenak ke arah Ethan yang hanya diam tanpa menjawabnya itu.“Saya di sini hanya orang luar yang kebetulan ada keperluan di perusahaan ini. Saat sedang menunggu lift, tidak sengaja saya mend
Saat mengintip dari balik dinding, Sinta pun langsung disuguhkan sebuah pemandangan di mana ada seorang wanita dan seorang pria yang sepertinya sedang terlibat cekcok tepat di depan pintu toilet.‘Apa mereka sepasang kekasih?’ gumam Sinta dalam batinnya.Sinta awalnya berniat untuk tidak peduli dan pergi meninggalkan dua orang yang ia pikir adalah sepasang kekasih itu, seketika mengurungkan niatnya tersebut saat mendengar suara teriakan sang wanita yang melengking nyaring.“Lepaskan tanganmu dariku! Ini termasuk pelecehan seksual!” seru wanita itu sambil melepaskan genggaman pria yang menahannya.‘Huh? Pelecehan seksual?!’Sinta lantas kembali mengintip dari balik dinding tersebut, sembari menajamkan indera pendengarannya. Dia harus mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi.Kalau memang benar ini pelecehan seksual, Sinta harus segera meminta bantuan!Pria itu menahan wanita tersebut untuk pergi, karena wanita itu berniat melaporkannya.“Jika aku melepaskan tanganmu, maka kamu aka
Ethan masih diam, memikirkan penjelasan Devan padanya. Ia termenung cukup lama hingga membuat Devan sedikit bingung menunggu Ethan membalas perkataannya.“Pak Ethan?” panggil Devan kepada Ethan yang berdiri membelakanginya.Ethan diam, tidak menjawab panggilan Devan. Ia masih tidak sadar dari lamunannya mengenai gadis yang pernah menghabiskan malam dengannya itu.“Pak Ethan? Anda tidak apa-apa?” panggil Devan sekali lagi dengan nada suara yang dinaikkan sedikit, untuk menyadarkan Ethan yang terdiam sejak ia selesai menjelaskan hasil penemuan informasinya itu.Ethan tersentak setelah mendengar panggilan Devan. Ia memijat pangkal hidungnya sejenak lalu membalikkan badannya menghadap Devan yang berdiri tegak sejak masuk ke ruangannya.“Maaf, Pak. Hanya itu informasi yang bisa saya temukan mengenai gadis tersebut. Saya akan lebih berusaha lagi mencari informasi lainnya mengenai gadis yang Anda cari.”Devan menunduk takut karena merasa tidak berguna dalam pencariannya yang tidak mendapatka
Devan yang baru saja sampai di lobby utama kantornya itu, langsung menelisik di mana keberadaan Sinta.Terlihat Sinta yang sedang duduk dengan membawa file yang ia minta, dan juga sekotak pizza yang berada di atas meja.Devan langsung melangkahkan kedua kakinya, untuk menghampiri Sinta."Sinta! Kamu ngapain di sini?!" tanya Devan dengan tegas.Sinta terhenyak dengan kedatangan Devan yang tiba-tiba. Sinta berdiri dari duduknya, wajahnya yang tadi berseri-seri, kini langsung masam seketika."Kamu gitu banget sih, Devan. Aku niatnya baik kok, gak ada niat jahat sekalipun."Devan membuang nafas kasar, "Kamu ini harusnya sedang beristirahat di apartemen, Sinta. Bukan malah datang ke sini."Devan menatap ke arah kotak pizza yang dibawa Sinta, "Apa kamu ingin menyogokku dengan sekotak pizza?"Devan mengangkat sebelah alisnya seraya melipat kedua tangannya di atas dada."Ck!" Sinta berdecak, "Dari pertama kamu di depan aku, perasaan kamu ngatain semua hal tentang negatif. Apa kamu gak suka, k
"Jadi, kenapa kamu duduk sendirian di sana? Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, Sinta?" tanya Devan kemudian.Saat ini, Devan yang tidak sengaja bertemu dengan Sinta di halte bus, memutuskan untuk membawa gadis itu ke apartementnya.Sedikitnya, Devan telah mendengar kabar simpang-siur terkait Sinta Premesti yang sebelumnya sempat disebut-sebut akan menjadi penerus utama dan menggantikan posisi ayahnya sebagai CEO Syailendra Grup."Aku ... nggak tahu, berita apa saja yang sudah kamu dengar tentangku, tapi ... kalau kamu ingin memastikan tentang rumor yang beredar, jawabannya 'ya', saat ini aku sedang hamil Devan. Dan Papa, satu-satunya orang yang aku pikir akan melindungiku dan menerimaku, justru memilih untuk mengusirku dari rumah yang sudah dua puluh tahun lebih kutempati! Beliau juga bilang, jika aku bukan anaknya lagi." Sinta mengatakan semua itu dengan seulas senyuman di wajahnya yang tampak kontras dengan sorot matanya yang sendu.Devan yang sedari dulu diam-diam memiliki peras
Seperti yang sudah mereka bicarakan lewat telepon sebelumnya, Sinta menunggu Nadia di kafe yang biasa mereka datangi bersama.Namun, setelah cukup lama menunggu dari waktu yang sudah dijanjikan, Nadia tak juga menampakkan batang hidungnya.Rasa gelisah dan khawatir pun mulai terasa bercampur di hati Sinta. Gadis ini pun mulai mengirimkan puluhan chat pada Nadia, bertanya di mana keberadaan gadis itu sekarang? Dia juga berusaha meneleponnya, tapi baik chat maupun telepon darinya, Nadia tidak menjawab keduanya.Hari pun sudah semakin bertambah sore, Sinta pun terlihat terus mengecek ponselnya, berharap Nadia akan segera menghubunginya atau meninggalkan satu dua patah kata untuk sekedar mengabarinya. Entah itu memberitahunya dia tidak bisa bertemu hari ini, atau memberitahu Sinta apa yang terjadi kepadanya.Namun, Nadia masih juga tidak memberi kabar apapun darinya. Puluhan chat yang sudah dikirim Shinta pun tak kunjung dibuka, seolah-olah, Nadia ‘menghilang’ tertelan bumiIni jelas buka