"Kau mau ambil barang-barangmu dulu ke rumah keluarga Reynolds?" tanya Steven saat mereka sudah berada di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan.Celine mengangguk pelan. Ia akan mengambil barang-barangnya sekaligus mengembalikan kunci rumah kepada keluarga Reynolds. Sekarang Nana sudah tidak ada. Praktis hubungannya dengan keluarga Reynolds juga sudah berakhir. Ia sudah memiliki Steven sekarang. Jadi ia akan tinggal di rumah Steven.****Tiga bulan kemudian : "Nyonya Gagnon!" sapa Qiana penuh sikap hormat.Hari ini Qiana dipanggil ke Gagnon Manor oleh Nyonya besar Gagnon. Jadi disinilah ia sekarang, berdiri dengan sikap sopan dan hormat di depan Nyonya besar Gagnon."Aku menyuruhmu membantu penyelidikan Noah soal penggelapan uang itu tapi kau malah tidak melaporkannya padaku!" Ucap Nyonya besar Gagnon dengan suara tegas dan galak."Maafkan saya, Nyonya. Tapi saya dan keluarga sedang mengalami kedukaan beberapa bulan terakhir ini. Nenek saya meninggal dunia. Itulah sebabnya saya be
"Steven! Bisakah kau jelaskan padaku mengapa kau melakukan hal gila ini? Apa kau mau membuatku mati lebih cepat?" Nyonya besar Gagnon terlihat sangat terpukul sekali ketika ia melihat Steven."Setelah semua yang telah kulakukan selama ini … tapi kau malah menghancurkannya!" Nyonya besar Gagnon meratap sambil menunjuk Steven dengan tongkatnya. Steven menghela nafas dalam dan ia memejamkan kedua matanya. Kemudian pria bermata unik itu mencubit pangkal hidungnya seakan ia merasa lelah luar biasa. Kemudian tanpa menengok ke arah Celine ia berkata,"Celine bisakah kau tolong tinggalkan kami berdua?" Pinta Steven kepada Celine. "Steven, apakah ….""Kumohon, Celine! Tinggalkan kami!" Steven tiba-tiba meninggikan nada suaranya. Mendengar suara Steven yang baru pertama kali ini bersikap tidak ramah padanya membuat Celine jadi kesal. Ia memutuskan untuk naik ke atas meninggalkan mereka berdua.Tapi baru setengah jalan, ia memutuskan untuk tidak jadi naik. Ia penasaran dengan apa yang akan di
Celine naik ke atas dan mulai membereskan barang-barangnya. Ia tidak akan bisa bersama dengan Steven lagi setelah ia tahu bahwa Steven adalah orang yang berada dibalik kecelakaan ayah dan ibunya.Celine tidak akan bisa hidup tenang bersama dengan seorang yang telah membunuh ayah dan ibunya.Tepat ketika ia selesai membereskan barang-barang miliknya dan hendak beranjak keluar, Steven masuk ke dalam kamar mereka."Celine, mau ke mana kau?" tanya Steven begitu melihat Celine sudah siap dengan koper miliknya di sampingnya.Celine tidak menjawab. Ia hanya menatap Steven dengan penuh kebencian. Sisa-sisa air mata di wajahnya telah cukup menjelaskan kepada Steven mengenai apa yang telah terjadi.Wajah Steven berubah pucat. Celine pasti telah mendengar percakapan antara dirinya dengan sang nenek."Celine … aku bisa menjelaskan …." ucap Steven tapi nada suaranya sendiri masih terdengar ragu."Tak perlu! Aku sudah mendengar semuanya!" potong Celine dengan suara gemetar menahan tangis sekaligus
Celine menatap tajam dan tak percaya ketika melihat Steven tahu-tahu sudah ada di dalam pesawat yang sama dengannya. Sementara Steven semakin mendekat, kemudian ia berjongkok di samping seorang wanita yang duduk di samping Celine."Maaf, Nyonya. Bolehkah saya meminta tolong kepada Anda untuk bertukar tempat sebentar? Wanita yang duduk di sebelah Anda adalah istri saya. Kami sedang bertengkar hebat dan ia langsung pergi naik pesawat begitu saja tanpa memberikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskannya," Steven mengeluarkan pesonanya untuk membujuk wanita yang berusia kira-kira pertengahan 50an itu."Kalian berdua suami istri?" tanya wanita setengah baya itu kepada Celine."Bukan!" jawab Celine singkat dan kemudian ia membuang muka."Ayolah, Celine! Kita bisa membicarakan ini baik-baik. Kita masih terikat dengan pernikahan," sahut Steven berusaha membujuk Celine.Namun Celine sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Ia terus saja memandang keluar jendela. Seolah awan terlihat jauh
"Pencuri! Berhenti! Itu milikku!" Celine berteriak panik.Celine berusaha mengejar penjahat yang telah merampas tas dan barang-barangnya. Namun sia-sia saja, orang itu terlalu cepat, dan lagi Celine tidak berani berlari terlalu cepat. Ia sedang mengandung. Ia takut terjadi sesuatu kepada janinnya.Ia masih baru tiba di kota ini dan ia belum mengenal jalanan dan area disana dengan baik. Dan orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak ada yang membantunya. Mereka hanya melihat kejadian itu dengan pandangan bertanya-tanya tapi tidak membantu mengejar penjahat tersebut.Dengan segera kedua penjahat tadi menghilang dengan barang-barang bawaan dan tas tangan Celine. Dengan putus asa, Celine mulai merasa panik. Semua barang-barang berharganya ada di dalam tas itu. Termasuk uang, kartu kredit, kartu ATM, dan surat-surat dokumen penting lainnya.Kini Celine sama sekali tidak memiliki apapun lagi selain pakaian yang melekat pada tubuhnya. Dalam keputusasaan itu, Celine pun menangis. Bagaimana i
Celine berusaha memberontak dengan sia-sia. Pakaiannya sudah koyak sehingga pakaian dalamnya sampai terlihat."Jangan! Tolong jangan! Aku sedang hamil!" Celine memohon sambil menangis."Hei, wanita ini sedang hamil!" teriak si pemuda berbadan besar itu kepada teman-temannya."Hamil?"ulang temannya yang lain dengan nada bodoh.Celine mulai berharap bahwa mereka akan meninggalkannya dan tidak melaksanakan apapun niat mereka terhadapnya setelah tahu bahwa ia sedang hamil. Tapi sedetik kemudian harapannya langsung runtuh."Bagus! Kebetulan aku juga selalu ingin mencoba seperti apa rasanya bermain dengan wanita yang sedang hamil. Katanya mereka lebih bergairah!" teriak si pemuda berbadan besar itu sambil tertawa diikuti oleh temannya.'BUUGGHHH!!!'Pemuda bertubuh besar itu tiba-tiba terdiam dengan tampang bengong. Matanya terbelalak lebar. Kemudian ia tiba-tiba roboh jatuh tepat di depan Celine.Kedua temannya dan Celine sama-sama terkejut. Belum sempat mereka bereaksi, sebuah balok kayu
"Nona … Nona ….""Aduh, sepertinya dia tidak sadarkan diri!" pria itu berbicara sendiri."Tenanglah Nona. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit!" Seru pria itu sambil mempercepat laju mobilnya.****"Kita telah kehilangan jejak, Mr. Gagnon!" ujar Noah kelelahan setelah ia berlari kesana kemari mencari Celine.Mereka bahkan menaiki kereta menuju Winnipeg dan tidak menemukan Celine di dalam. Akhirnya mereka terpaksa turun di stasiun terdekat dan kembali ke Calgary. Saat itu mereka telah sangat kehilangan jejak Celine."Dia sengaja mengelabui kita supaya kita tidak bisa mengejarnya, Noah!" ucap Steven yang merasa putus asa."Sial! Kenapa jadi begini?" ujar Steven marah. Noah tak berani mengatakan bahwa ia sudah pernah menasehati Steven. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah mencoba mencari jejak Celine melalui jejak digitalnya. Tapi ia tidak bisa menemukannya kali ini. Celine benar-benar menghilang seperti ditelan bumi.Steven dan Noah terpaksa pulang kembali ke Toronto dan Steven
"Hah?" Celine terbengong seakan ia tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh Lucas."Maaf, kau bilang apa?" tanya Celine bingung takut ia salah dengar."Kau bisa tinggal bersamaku," Lucas mengulangi lagi tawarannya."Ehhh!!! Entahlah, kurasa itu bukan ide yang bagus, Lucas." Celine tiba-tiba merasa jengah dan menolak untuk menatap mata biru teduh milik Lucas."Dan bisakah kau menemukan ide yang lebih baik daripada yang kuutarakan padamu barusan?" Lucas duduk di tepi tempat tidur Celine kemudian melipat tangannya di depan dada menunggu jawaban dari Celine."Terus terang belum. Tapi kita baru saja bertemu. Apa nanti kata keluargamu jika tahu aku tinggal di rumahmu?" Celine menuturkan keraguannya."Keluargaku tinggal di belahan dunia lain. Australia," jawab Lucas dengan lancar."Dan aku juga tidak enak dengan kekasih ataupun istrimu!" sambung Celine cepat."Aku masih single, tinggal sendirian di rumah, tidak punya istri ataupun kekasih," jawab Lucas dengan cepat membuat Celine terpana.
Wanita dan pria tersebut masih menundukkan kepalanya, tidak berani menjawab pertanyaan Ethan.Mereka semakin merasa tersudutkan, akibat dari tatapan tajam Ethan yang seperti menusuk mereka secara perlahan.Sinta yang sejak tadi menyimak mereka langsung berdehem untuk memperbaiki suasana yang tiba-tiba menegang ini.“Ehm … maaf mengganggu, biar saya yang menjelaskan apa yang terjadi di sini."Sinta menolehkan kepalanya, menatap Ethan yang tanpa sengaja sebelumnya ia bersandar di dada bidang milik Ethan.“Ah, sebelumnya terima kasih karena sudah menolong saya tadi,” ucap Sinta sedikit membungkukkan badannya sebagai ucapan terimakasih kepada Ethan.Ethan melirik ke arah Sinta yang sejak tadi diabaikannya, karena terlalu fokus kepada dua orang yang membuat keributan di perusahaannya itu.Sinta menatap sejenak ke arah Ethan yang hanya diam tanpa menjawabnya itu.“Saya di sini hanya orang luar yang kebetulan ada keperluan di perusahaan ini. Saat sedang menunggu lift, tidak sengaja saya mend
Saat mengintip dari balik dinding, Sinta pun langsung disuguhkan sebuah pemandangan di mana ada seorang wanita dan seorang pria yang sepertinya sedang terlibat cekcok tepat di depan pintu toilet.‘Apa mereka sepasang kekasih?’ gumam Sinta dalam batinnya.Sinta awalnya berniat untuk tidak peduli dan pergi meninggalkan dua orang yang ia pikir adalah sepasang kekasih itu, seketika mengurungkan niatnya tersebut saat mendengar suara teriakan sang wanita yang melengking nyaring.“Lepaskan tanganmu dariku! Ini termasuk pelecehan seksual!” seru wanita itu sambil melepaskan genggaman pria yang menahannya.‘Huh? Pelecehan seksual?!’Sinta lantas kembali mengintip dari balik dinding tersebut, sembari menajamkan indera pendengarannya. Dia harus mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi.Kalau memang benar ini pelecehan seksual, Sinta harus segera meminta bantuan!Pria itu menahan wanita tersebut untuk pergi, karena wanita itu berniat melaporkannya.“Jika aku melepaskan tanganmu, maka kamu aka
Ethan masih diam, memikirkan penjelasan Devan padanya. Ia termenung cukup lama hingga membuat Devan sedikit bingung menunggu Ethan membalas perkataannya.“Pak Ethan?” panggil Devan kepada Ethan yang berdiri membelakanginya.Ethan diam, tidak menjawab panggilan Devan. Ia masih tidak sadar dari lamunannya mengenai gadis yang pernah menghabiskan malam dengannya itu.“Pak Ethan? Anda tidak apa-apa?” panggil Devan sekali lagi dengan nada suara yang dinaikkan sedikit, untuk menyadarkan Ethan yang terdiam sejak ia selesai menjelaskan hasil penemuan informasinya itu.Ethan tersentak setelah mendengar panggilan Devan. Ia memijat pangkal hidungnya sejenak lalu membalikkan badannya menghadap Devan yang berdiri tegak sejak masuk ke ruangannya.“Maaf, Pak. Hanya itu informasi yang bisa saya temukan mengenai gadis tersebut. Saya akan lebih berusaha lagi mencari informasi lainnya mengenai gadis yang Anda cari.”Devan menunduk takut karena merasa tidak berguna dalam pencariannya yang tidak mendapatka
Devan yang baru saja sampai di lobby utama kantornya itu, langsung menelisik di mana keberadaan Sinta.Terlihat Sinta yang sedang duduk dengan membawa file yang ia minta, dan juga sekotak pizza yang berada di atas meja.Devan langsung melangkahkan kedua kakinya, untuk menghampiri Sinta."Sinta! Kamu ngapain di sini?!" tanya Devan dengan tegas.Sinta terhenyak dengan kedatangan Devan yang tiba-tiba. Sinta berdiri dari duduknya, wajahnya yang tadi berseri-seri, kini langsung masam seketika."Kamu gitu banget sih, Devan. Aku niatnya baik kok, gak ada niat jahat sekalipun."Devan membuang nafas kasar, "Kamu ini harusnya sedang beristirahat di apartemen, Sinta. Bukan malah datang ke sini."Devan menatap ke arah kotak pizza yang dibawa Sinta, "Apa kamu ingin menyogokku dengan sekotak pizza?"Devan mengangkat sebelah alisnya seraya melipat kedua tangannya di atas dada."Ck!" Sinta berdecak, "Dari pertama kamu di depan aku, perasaan kamu ngatain semua hal tentang negatif. Apa kamu gak suka, k
"Jadi, kenapa kamu duduk sendirian di sana? Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, Sinta?" tanya Devan kemudian.Saat ini, Devan yang tidak sengaja bertemu dengan Sinta di halte bus, memutuskan untuk membawa gadis itu ke apartementnya.Sedikitnya, Devan telah mendengar kabar simpang-siur terkait Sinta Premesti yang sebelumnya sempat disebut-sebut akan menjadi penerus utama dan menggantikan posisi ayahnya sebagai CEO Syailendra Grup."Aku ... nggak tahu, berita apa saja yang sudah kamu dengar tentangku, tapi ... kalau kamu ingin memastikan tentang rumor yang beredar, jawabannya 'ya', saat ini aku sedang hamil Devan. Dan Papa, satu-satunya orang yang aku pikir akan melindungiku dan menerimaku, justru memilih untuk mengusirku dari rumah yang sudah dua puluh tahun lebih kutempati! Beliau juga bilang, jika aku bukan anaknya lagi." Sinta mengatakan semua itu dengan seulas senyuman di wajahnya yang tampak kontras dengan sorot matanya yang sendu.Devan yang sedari dulu diam-diam memiliki peras
Seperti yang sudah mereka bicarakan lewat telepon sebelumnya, Sinta menunggu Nadia di kafe yang biasa mereka datangi bersama.Namun, setelah cukup lama menunggu dari waktu yang sudah dijanjikan, Nadia tak juga menampakkan batang hidungnya.Rasa gelisah dan khawatir pun mulai terasa bercampur di hati Sinta. Gadis ini pun mulai mengirimkan puluhan chat pada Nadia, bertanya di mana keberadaan gadis itu sekarang? Dia juga berusaha meneleponnya, tapi baik chat maupun telepon darinya, Nadia tidak menjawab keduanya.Hari pun sudah semakin bertambah sore, Sinta pun terlihat terus mengecek ponselnya, berharap Nadia akan segera menghubunginya atau meninggalkan satu dua patah kata untuk sekedar mengabarinya. Entah itu memberitahunya dia tidak bisa bertemu hari ini, atau memberitahu Sinta apa yang terjadi kepadanya.Namun, Nadia masih juga tidak memberi kabar apapun darinya. Puluhan chat yang sudah dikirim Shinta pun tak kunjung dibuka, seolah-olah, Nadia ‘menghilang’ tertelan bumiIni jelas buka
"Katakan pada ayah, siapa yang menghamilimu!" bentak sang ayah ketika mereka semua, sudah berada di rumah.Rania menggenggam erat tangan nya sendiri. Selama ia hidup, ini adalah kali pertama sang ayah membentaknya.Ingin sekali rasanya menangis, namun hal itu sama sekali tak bisa ia lakukan dalam keadaan ini."Jawab Rania! Siapa yang telah menghamilimu? Apakah kamu berbohong pada kami hari itu? Laki-laki mana yang kamu tiduri huh?" lanjut Syailendra lagi. Ia tak lagi bisa mengendalikan emosinya.Mendengar anaknya hamil, ayah mana yang tidak sakit hati. Tak pernah ia sangka sebelumnya, kasih sayang yang ia berikan dengan tulus, malah dibalas dengan hal seperti ini dengan Rania. Padahal Syailendra banyak berharap kepada putrinya itu.Karla dan Ibunya duduk di sofa yang sama, karena mereka cukup sadar diri jadi mereka hanya diam saja. Tapi, di perjalanan pulang tadi, Sonya telah memberikan bumbu provokasi pada Syailendra. Ini adalah kesempatan dirinya untuk mengusir Rania, dan ia tak aka
Tak terasa, satu bulan telah berlalu dari kejadian besar yang menimpa dirinya. Hubungan bersama kekasihnya hancur, keperawanannya hilang. Semuanya terjadi hanya dalam waktu satu malam saja.Dan hal itu, membuat Rania terus saja menyibukkan dirinya sendiri dengan pekerjaan agar tidak mengingat kejadian malam itu.Sampai saat ini, ia juga belum tahu siapa orang yang telah bercumbu mesra dengannya malam itu. Keadaan benar-benar Tidak mendukungnya untuk mengingat laki-laki itu, karena ia berada dalam pengaruh obat.Bahkan ketika pagi, karena terkejut dengan keadaan yang ada, ia sampai lupa untuk melihat wajah laki-laki itu. Sungguh bodoh sekali bukan? Tapi, itulah dirinya.Saat ini, ia sedang melakukan presentasi untuk pekerjaannya pada klien. Tapi, ketika sedang mencoba menjelaskan tentang ide dari persentase itu sendiri, tiba-tiba saja ia jatuh pingsan.Sontak saja, hal itu langsung membuat semua orang yang ada disana pun kaget. Memang tadi, salah satu rekan nya sudah bertanya padanya,
Di tempat lain—tepatnya di sebuah hotel, sosok Ethan terlihat melangkah keluar dari kamarnya dengan raut wajahnya yang tampak kusut.“Damn! This is getting annoying!” gerutu pria itu sambil terus berjalan cepat.Bagaimana tidak?Semenjak kejadian satu minggu yang lalu—saat di mana ia bercinta dengan seorang gadis yang dia pikir merupakan salah satu gadis sewaan, Ethan tidak bisa lagi memuaskan hasratnya!Setiap kali dia bercinta dengan wanita lain yang ditemuinya, Ethan akan selalu tiba-tiba mengingat suara serta bayangan gadis ‘perawan’ itu, tapi tidak dengan wajahnya!Hal itulah yang semakin membuat Ethan kesal.Dia mengingat semua hal yang ada pada gadis itu, entah suaranya, hangat tubuhnya dan bagaimana tubuhnya bergetar di bawah pelukannya, tapi tidak dengan wajahnya!Bukankah itu sangat menyebalkan?“Pak Ethan.”Sosok pria lainnya yang bertubuh tinggi tegap serta memiliki paras yang rupawan pun, tampak berdiri menyapa Ethan yang melangkah keluar dari lobi utama.Dia adalah Devan