Part 12a
"Aksara, jangan berani mengangkat suara padaku!”Aksara membungkukkan tubuhnya tanda memberi hormat. “Aku minta maaf, Pa. Aku pamit pulang dulu,” ujarnya dengan nada suara lebih rendah, ia tak ingin ayahnya lebih murka. Lelaki muda itu langsung beranjak hendak meninggalkan ruang kerja sang ayah.“Aksara, tunggu! Papa belum selesai bicara!”Aksara berhenti sejenak, “Aku akan bicara lagi dengan Papa setelah Papa merestui pernikahan kami. Aku tahu, Papa pasti butuh waktu untuk mencerna semua ini. Jangan terlalu menaruh harapan lebih pada anakmu yang tak berguna ini, Pa. Aku dan Dewi pamit dulu.”Tak ingin berlama-lama, pria itu lekas keluar ruangan meninggalkan ayahnya yang termangu akan ucapannya.Sementara itu ..."Oh, gadis pinggiran rupanya lagi bersantai di sini? Senang ya, gak ada beban," celetuk Bella dengan kata-kata pedasnya. Mendadak gadis itu datang mengejutkannya.Dewi menoleh melihat kePart 12bSang ibunda menggeleng pelan.“Aksa menyayangi Dewi, Aksa juga menyayangi Mama, Aksa datang kesini karena ingin meminta restu pada Mama dan Papa, maaf ya, Ma kalau terlambat. Bukan karena kami tak menghormati kalian tapi ada suatu hal kenapa bisa begini. Tolong jangan salah memahami.”Kali ini sang ibunda mengangguk, ia menatap Dewi dengan mata berkaca-kaca seolah ingin mengucapkan sesuatu.Aksara meraih tangan ibundanya lalu diciuminya dengan lembut. “Maaf belum bisa membahagiakan Mama. Insyaallah, nanti Aksa dan Dewi akan sering datang menjenguk Mama. Tolong tetap bertahan ya, Ma. Semoga Mama bisa sembuh.”Wanita paruh baya itu Kembali mengangguk. Kali ini bibirnya terukir sebuah senyuman tipis.“Aksa dan Dewi pamit pulang dulu ya, Ma. Mama jangan lupa minum obatnya yang teratur,” ucap Aksara Kembali yang dijawab anggukkan kepala ibunya. Sebagai anak lelaki, Aksara termasuk anak yang lembut pada sang ibunda.
Part 13Aksara tersenyum, lalu mengangguk. “Iya benar, aku mencintai kamu, Wi, bahkan jauh sebelum kamu berhubungan dengan Gala.”Dewi tercengang mendengarnya. "Tapi Mas gak pernah bilang apa-apa sama aku."Aksara tersenyum lagi. "Itulah yang aku sesali. Aku kurang gentleman. Kupikir dengan melihatmu setiap hari saja sudah cukup membuatku bahagia. Aku takut kamu menolakku dan akhirnya hubungan kita menjadi renggang. Atau bahkan yang terburuk kamu keluar kerja dari sini."Dewi terdiam sejenak. "Aku tidak ingin hal itu terjadi. Jadi kupikir, dengan melihatmu setiap hari tersenyum saja itu sudah cukup. Hingga akhirnya kamu bilang kamu sudah punya pacar dan serius ingin menikah. Saat itu, aku sempat tak bisa tidur selama berhari-hari, perasaanku kalut. Sampai aku coba untuk nenangin diri. Berkali-kali aku yakinin diri. Mungkin kamu memang bukan jodohku, aku harus legowo melihatmu bahagia dengan pria lain yang kamu cintai.""Sampai
Part 13bAksara bangkit dari tempat tidur. Menatap jam bundar yang bertengger manis di dinding. "Ayo kita sholat dulu, biar hati dan pikiran kita tenang dan gak terpancing emosi. Masalah ini, biar aku yang urus ya," ucap Aksara.Mata Dewi memandang Aksara penuh harap. Ia pun segera menganggukkan kepalanya.Usai melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, Dewi mulai membersihkan ruangan kamar dan juga toko, yang akan dibuka pukul delapan pagi. Sementara itu, Aksara sudah bersiap-siap, memakai kemeja kotak-kotak lengan panjang. "Aku tinggal dulu ya, Wi. Titip toko sebentar ya, nanti kalau yang lain sudah pada datang langsung suruh bikin bomboloni sama kue sus ya.""Sepertinya toko bakal sibuk hari ini ya, Mas.""Iya, yang masuk udah ada pesanan 200 kotak untuk bomboloni sama cupcake. Belum pesanan yang lain.""Alhamdulillah, berkah rezeki."Aksara tersenyum. "Sama seperti biasa ya, restock
Part 14 "Pak, tolong jangan bawa putri saya, Pak. Ini pasti salah paham! Putri saya tidak mungkin melakukan hal itu!" teriak Bu Wanda dengan jantung yang berdebar kencang. "Kami akan menyelidiki lebih lanjut. Jika ada bukti yang menunjukkan bahwa dia tidak terlibat, kami akan memperlakukannya sesuai hukum." "Ini semua tidak adil!" Geni berteriak, berusaha menahan tangis. Bu Wanda menggenggam tangan putrinya lebih erat, berusaha memberi dukungan. "Geni, tenang. Kita akan mencari cara untuk membuktikan bahwa kamu tidak bersalah." Bu Wanda termangu saat melihat anaknya digiring ke mobil polisi, ia pun bingung apa yang harus dilakukan sekarang. Terlebih para tetangga mulai berkumpul dan saling berbisik. “Bu, tolongin aku, Bu. Bebasin aku, Bu. Aku gak bersalah!” teriak Geni sesaat sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Mobil polisi itupun langsung melesat pergi meninggalkan halaman rumah
Part 14b Gala mengatakannya dengan nada lembut setengah berbisik. Sorot matanya penuh harap. Ekspresi Dewi seketika berubah masam. “Dewi, aku kangen sama kamu, bisakah kita bicara sebentar? Aku ingin menyelesaikan kesalahpahaman di antara kita. Aku minta maaf, Wi.” “Maaf, aku sibuk," sahut Dewi agak ketus. “Wi, tolonglah beri aku kesempatan, aku salah menilaimu. Pisahlah dari Aksara, dan kembalilah padaku, Wi!” Mata Dewi membulat mendengar pernyataan Gala. ‘Dasar gila!’ umpatnya dalam hati. “Tolong jangan bersikap konyol, Mas. Aku gak ada waktu buat bicara sama kamu. Semuanya sudah berakhir,” tukas Dewi lirih. Mendadak Gala memegang tangan Dewi membuat perempuan itu terkesiap kaget. Dewi langsung menarik tangannya. “Tapi, Wi—” “Ini belanjaannya dan ini kembaliannya, terima kasih sudah berbelanja di toko Aksara. Silakan antrian selanjutnya
Part 15 “Hei, apa yang kamu lakukan?” “Ini semua salahmu, Dewi!” Gala berteriak. “Kau meninggalkanku untuk pria itu!” ketusnya lagi dengan napas yang memburu. Dewi menggeleng pelan dengan tatapan berkaca-kaca. Gala justru bersikap kalau seolah-olah dialah korban. "Kamu benar-benar gak waras ya, Mas?" "Iya, aku memang gila, Dewi. Gila karena kamu! Tolong kembalilah padaku, aku mencintaimu, Dewi, aku akan memperbaiki semuanya." Gala melangkah mendekati Dewi, tanpa ragu menginjak kue-kue itu. "Berhenti! Jangan berbuat konyol, Mas! Jika kau mencintaiku, seharusnya kau menghormati keputusanku!" Gala menatap Dewi dengan wajah frustasi. "Tidak akan, aku tidak akan menyerah begitu saja sampai kamu kembali lagi padaku." Dewi menggeleng pelan. "Kau sendiri yang meninggalkanku, sekarang kenapa aku harus kembali padamu? Hubungan kita sudah selesai, Mas. SE LE SAI!"
Part 15b “Bokap langsung marah besar saat kami semua digiring ke kantor polisi. Dia mengira gue terlibat dalam minuman keras dan menuduh gue menghancurkan keluarga. Bokap bilang, gue jadi anak tidak bisa diandalkan! Mencoreng nama baik keluarga. Dan akhirnya, dia mengusir gue dari rumah, dia blacklist nama gue dari KK, katanya gua bukan bagian dari keluarga Arif lagi. Jadi untuk apa gue pulang, Rudi? Percuma saja 'kan?" ungkap Arjuna yang masih mengingat kejadian itu meski sudah bertahun-tahun yang lalu. Rudi merasakan kemarahan yang perlahan muncul dalam diri sahabatnya. “Tapi itu bukan salah lu. harusnya---" “Semua orang hanya melihat sisi buruknya. Gue merasa kayak pengkhianat di mata keluarga sendiri,” kata Arjuna. Rudi menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. "Gue sebagai sahabat hanya bisa ngasih lu saran. Lu gak bisa selamanya begini terus, Jun. coba deh buka hati lu, maafkan semua yang udah terjadi. Toh, itu semua udah
Part 16Aksara menendang roda mobilnya, saat menyadari roda itu kempes di tengah jalan. "Duh, kenapa pakai kempes segala! Dewi pasti sudah menungguku dari tadi!" keluhnya sembari melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu menunjukkan pukul 17.25 WIB.Ia berdiri sejenak, mengamati sekeliling. Suasana sepi dan sunyi, kanan kiri pepohonan dan semak-semak, hanya terdengar suara angin berbisik di antara dedaunan. Dia menghela napas, merasa frustrasi dengan situasi itu. Terlebih hari sudah mulai petang. Matahari mulai beristirahat ke peraduannya. Hanya sisa sinar senja yang menghias di bagian barat.Dengan enggan, Aksara mulai mencari alat yang bisa membantunya. Ia membuka bagasi mobil dan menemukan dongkrak serta ban cadangan. Tanpa pikir panjang, ia mulai bekerja, berusaha mengganti ban yang kempes.Setelah beberapa menit, ia berhasil. Sambil mengelap keringat di dahi, Aksara kembali duduk di dalam mobil dan menyalakan mesin.
Dewi menggenggam tangannya erat, lalu mereka berdua berjalan pergi, meninggalkan Gala dan gengnya yang masih terdiam dalam kekalahan.Setelah berjalan beberapa langkah menjauhi gang itu, Dewi masih menggenggam tangan Aksara dengan erat. Ia bisa merasakan detak jantungnya masih berdegup kencang akibat kejadian barusan.Aksara menoleh ke arahnya, melihat betapa tegang wajah istrinya. "Kamu masih takut?" tanyanya dengan suara lembut.Dewi menghela napas panjang, mencoba mengendalikan dirinya. "Aku nggak nyangka bakal ketemu Gala lagi, Mas. Aku pikir dia udah pergi jauh dan nggak akan muncul lagi dalam hidupku."Aksara menggenggam tangan Dewi erat, mencoba memberikan rasa aman. "Sekarang kamu sama aku. Dia nggak akan berani macam-macam lagi."Dewi tersenyum tipis, meskipun hatinya masih sedikit bergetar. "Aku tahu, Mas. Tapi … aku nggak suka lihat kamu harus berkelahi seperti tadi."Aksara mengusap punggung tangannya, menenangkan. "A
"Jangan hina suamiku, Mas!" seru Dewi kesal.Gala tak menanggapinya, ia justru mencibir Aksara. "Lucu sekali. Seorang lelaki yang cuma jualan roti, berani-beraninya mengambil calon istriku.""Mas Gala, jangan playing victim! Kamu yang dulu meninggalkanku. Jangan cari masalah deh!"Namun, Gala justru tertawa kecil, ia senang karena bisa memancing amarah mantan kekasihnya itu. Lelaki itu lalu menoleh ke belakang.Dari gang kecil itu, empat pria lain muncul. Mereka adalah teman-teman tongkrongannya."Minggir, Mas! Jangan halangi jalan kami!" ucap Dewi tegas.Tapi Gala hanya melipat tangan dan menatap Aksara dengan licik. "Aku ingin lihat seberapa hebat suamimu ini." Gala menoleh ke belakang dan memberi kode.Tanpa aba-aba, salah satu dari mereka langsung menyerang. Sebuah pukulan mengarah ke wajah Aksara, tapi dengan refleks cepat, ia berhasil menghindar dan membalas dengan satu serangan balik yang membuat pria itu mun
Aksara menatap Arjuna dengan serius. "Dia hampir terjerumus ke dalam hubungan toksik."Arjuna terdiam, menunggu Aksara melanjutkan."Waktu itu dia dekat dengan seorang laki-laki. Awalnya kami pikir nggak ada masalah, tapi ternyata dia manipulator. Dia sengaja menjauhkan Bella dari keluarga, membuatnya percaya kalau cuma dia yang peduli. Bella jadi sering membangkang, bahkan pernah kabur dari rumah." "Saat itu Papa murka. Bela akhirnya dihukum. Papa nggak mengizinkannya keluar rumah selama berbulan-bulan, bahkan semua alat komunikasinya diambil. Awalnya dia marah, tapi lama-lama dia sadar kalau laki-laki itu cuma memanfaatkan dia."Arjuna mengepalkan tangannya. "Kenapa nggak ada yang cerita soal ini ke aku?"Aksara tersenyum miris. "Bagaimana caranya? Kamu sendiri menghilang tanpa kabar."Arjuna menunduk, merasa bersalah. Penyesalan menggulungnya dalam ombak rasa bersalah yang tak tertahankan."Aku pikir … aku melakukan
Geni menatapnya tanpa berkedip. Tangannya mengepal, menahan gemetar yang mulai menjalar di tubuhnya."Gara-gara percaya omonganmu juga, aku harus putus dengan Dewi!""Kau menyalahkanku, Mas?""Tentu saja, semua ini kan gara-gara kamu! Dewi malah nikah sama si banci itu!" "Lalu kau anggap aku ini apa, Mas? Hubungan kita selama beberapa bulan yang lalu apa gak berarti buatmu?"Gala menyeringai sinis. "Kamu itu cuma pelarian. Yang aku cinta itu Dewi!"Geni masih menatapnya dengan tajam."Dan dengar ini, Gen, kamu pernah di penjara. Apa kata keluarga dan teman-temanku nanti kalau istriku mantan napi. Hiyy hancur sudah reputasiku!""Aku mungkin mantan napi, tapi kamu? Kamu cuma pecundang yang takut menghadapi konsekuensi dari perbuatanmu sendiri."Wajah Gala langsung memerah. "Kamu—""Kenapa? Yang aku katakan benar 'kan? Mas ninggalin Dewi di hari pernikahan gara-gara video itu! Dasar laki-laki tak
Beberapa hari berlalu ...Pagi itu, mereka baru saja membuka toko ketika seorang pelanggan tetap datang, seorang ibu paruh baya yang sering membeli roti untuk keluarganya."Mas Aksara, pagi ini roti gandumnya masih ada, kan?" tanya ibu itu dengan ramah."Ada, Bu! Saya ambilkan, ya," jawab Aksara sambil tersenyum dan berjalan ke rak penyimpanan.Dewi ikut membantu membungkus pesanan sang ibu. Sambil menunggu, ibu itu berbasa-basi, "Mas Aksara, saya pernah lihat seseorang yang mirip sekali dengan Mas. Saya kira tadi Mas kerja di bengkel, ternyata ada di sini."Aksara mengernyit. "Bengkel? Bengkel mana, Bu?""Di dekat pasar, bengkel kecil di sebelah toko elektronik. Saya pikir tadi Mas sedang memperbaiki motor, tapi setelah diperhatikan, orang itu punya wajah yang sangat mirip dengan Mas," jelas ibu itu sambil tertawa kecil.Dewi yang mendengar itu langsung menoleh ke arah suaminya. Aksara terdiam sejenak, pikirannya melayang ke satu nama."Mas mungkin saja itu Mas Arjuna?" bisik Dewi se
Part 21aDewi mendongak. "Geni? Kau sudah bebas?"Geni tersenyum sinis. "Kenapa? Mbak berharap aku terus di penjara?"Dewi menatap Geni dengan sorot mata terkejut. Kalung di tangannya nyaris terjatuh, tapi ia segera menggenggamnya erat. Ia menghela napas, mencoba menguasai diri."Bukan begitu, tapi siapa---""Hahaha, Mbak gak usah kepo tentang siapa yang menjaminku keluar, yang jelas aku udah ada di sini sekarang."Geni terus mendekat. Langkahnya yang percaya diri menciptakan suara yang memecah keheningan ruangan. Ia menyapu pandangannya ke sekitar rumah, lalu tertawa kecil—tertawa yang terdengar lebih seperti ejekan.Dewi bangkit berdiri, menghadapi Geni. Matanya menyipit, menyembunyikan kebingungannya."Lalu mau apa kamu kesini, Geni?"Geni mengangkat bahu. "Sepertinya aku akan sering main ke sini. Aku suka melihat ekspresi Mbak yang seperti ini—bingung, takut, tapi berpura-pura tegar."Senyumnya melebar, dan ia melangkah lebih dekat hingga wajah mereka hanya terpisah beberapa inci.
Part 20b“Kamu baik-baik aja kan?” Arjuna bertanya dengan nada khawatir.Dewi mengangguk. “Iya, terima kasih banyak, Mas! Aku hampir—” Dewi mulai menjelaskan, tapi Aksara tiba-tiba muncul, ia berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.“Dewi! Apa yang terjadi?” Aksara melihat ke arah mereka berdua dan terkejut. “Kamu di sini, Arjuna?”“Aku cuma bantuin istrimu, dia hampir tertabrak,” jawab Arjuna, terlihat sedikit canggung.Aksara menghela napas, merasa lega melihat Dewi baik-baik saja. "Terima kasih, Arjuna."“Gak masalah. Yang penting dia selamat,” jawab Arjuna datar. Ia segera bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan mereka.Aksara menatap saudara kembarnya, yang saat ini hanya memakai kaos oblong, dan beberapa noda bekas oli di celana jeansnya."Tunggu!" Aksara mencegat langkahnya. "Kenapa kamu selalu pergi sebelum aku selesai bicara?" Arjuna menghentikan langkahnya. "Aku harus kembali kerja."
Part 20Aksara dan Dewi duduk santai di teras belakang sambil menikmati secangkir kopi. Mereka menanti kue yang dibuat Aksara untuk sampel produksi besok pagi. Suasana malam itu tenang, dengan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.“Maaf ya, Wi, aku belum bisa memberikan rumah yang nyaman untukmu. Kita masih sempit-sempitan tinggal di sini,” ucap Aksara, matanya menerawang jauh ke depan, merenungkan keadaan mereka.“Tidak apa-apa, Mas. Aku justru senang. Di sini terasa lebih hangat. Apalagi ada aroma kue yang manis,” Dewi menjawab dengan lembut, matanya berbinar saat merasakan kehangatan dalam situasi sederhana itu.Aksara tersenyum, merasa lega mendengar jawaban Dewi. “Aku sengaja tidak memperpanjang sewa di perumahan, karena tadinya ingin pulang saja dan tinggal di rumah, tapi kenyataannya berkata lain.”“Mas, kamu sudah memberikan banyak untukku. Kalau kamu rindu suasana rumah, kita bisa pulang ke rumah orang tuaku. Kita kan sudah menjadi
Part 19b.Bella terdiam, pertanyaan ayahnya mengusik pikirannya. “Aku cuma gak mau Mas Aksara seperti Mas Arjun, ia benar-benar pergi dan bahkan gak peduli lagi dengan kita!”Pak Arif menatap Bella lebih dalam setelah mendengar nama Arjuna disebut. Wajahnya mengeras sejenak, mengingat putranya yang lebih memilih pergi menjauh dari keluarga dan tidak pernah kembali. Suasana makan malam itu tiba-tiba terasa semakin tegang, seolah beban masa lalu ikut hadir di antara mereka.“Arjuna berbeda, Bella. Jangan bandingkan Aksara dengan Arjun,” ujar Pak Arif dengan nada dingin, jelas menunjukkan bahwa topik Arjuna bukanlah sesuatu yang ingin ia bahas lebih jauh.“Tapi Pa, Mas Aksa bisa aja mengikuti jejak Mas Arjun kalau Papa terus membiarkan ini terjadi. Dewi bisa mempengaruhinya, dan dia akan meninggalkan kita juga!” Bella mengucapkannya dengan nada getir dan penuh kekhawatiran.Pak Arif meletakkan kedua tangannya di meja, menatap putri