Jeff duduk sambil memijat pelipisnya. Kesibukan di kantor sudah membuatnya pusing dan kini semakin stress menghadapi tingkah istrinya yang memamerkan kemolekan tubuh di akun instagram miliknya yang belum lama dibuat. Sebelumnya, Rena tak suka dengan hal-hal berbau media sosial. Jangankan instagram, foto saja dia tak suka. Namun kini, ada saja foto yang dia post di akun instagramnya yang sudah memiliki follower satu juta lebih dalam waktu 3 hari karena foto sexy dirinya. Perlu Jeff akui, Rena memang memiliki wajah cantik dan tubuh sexy yang selalu membuat libidonya cepat naik dan tak pernah puas bermandi keringat di ranjang bersamanya. Namun, kemolekan tubuh Rena awalnya hanya dia yang menikmati, kini juga bisa dinikmati oleh mata para hidung belang yang menatapnya penuh nafsu, dan membuatnya meradang.
“Apa yang terjadi padamu Rena?” gumam Jeff sambil memukul meja berkali-kali.
Terlihat tangannya yang terluka karena terus memukul meja. Wajahnya merah dengan sorot mata tajam karena kesal melihat foto istrinya yang terpampang dengan pakaian sexy serta ribuan komentar.
“Sial … sial …,” oceh Jeff kembali memukul meja dan membanting apa pun yang ada, termasuk layar komputer yang sudah tergeletak mengenaskan di lantai.
Suara gaduh yang terdengar sampai ke luar ruangan, membuat sekretarisnya, Imel, melaporkan pada Ferry selaku wakil Jeff untuk melihat keadaannya di ruangan karena tak berani menghampiri. Ferry yang sedang mengecek laporan di ruangannya bergegas menuju ruangan Jeff dan meninggalkan Imel yang kembali duduk di kursinya sambil menunggu dengan cemas.
“Kenapa akhir-akhir ini Pak Jeff sering seperti itu?” gumam Imel yang bingung dengan mata menatap pintu yang telah tertutup kembali.
Di dalam ruangan, Ferry melotot karena sudah kacau balau. Banyak berkas berceceran. Kursi dan komputer tergeletak mengenaskan. Pecahan gelas yang ada di mini bar sudah tercecer ke mana-mana. Sedangkan Jeff tengah berdiri di sudut ruangan sambil terengah-engah.
“Jeff, ada apa? Kenapa denganmu?” ucap Ferry kaget dan melangkah hati-hati untuk menghampiri Jeff yang menatapnya dengan wajah penuh amarah.
Tak ada jawaban. Jeff memalingkan wajahnya dari Ferry dan menatap keluar jendela di mana hujan mulai turun. Setibanya Ferry di dekat dia, Jeff masih tak kunjung bicara dan membuat Ferry menghela nafas lelah.
“Bicaralah padaku. Jangan seperti ini!” kata Ferry dengan suara yang terdengar serak.
“Apa sebab perangai seseorang berubah dalam waktu semalam, Fer?” ucap Jeff dengan suara pelan tanpa menoleh pada Ferry yang berkerut kening.
“Apa maksudmu? Siapa yang berubah?” sahut Ferry meminta penjelasan yang lebih detail.
Terdengar nafas tersenggal Jeff mulai normal. Gerak punggungnya tak secepat tadi, tapi nampak kedua tangannya masih mengepal. Menunggu beberapa detik, Jeff akhirnya membalikkan tubuh dan bertemu pandang dengan Ferry yang menampilkan wajah bingungnya.
“Istriku. Dia berubah dan aku tak mengenalnya kini!” sahut Jeff dengan suara dingin dan menggeram. Rahangnya mengeras dengan gigi bergelatuk menahan emosi yang kembali memuncah.
“Berubah gimana, Jeff? Bukannya Rena baik-baik saja?” timpal Ferry yang masih tak paham apa yang sedang terjadi.
Jeff menatap tajam pada Ferry yang tentu tak takut padanya dan mengalihkan pandangan pada benda pipih miliknya yang sudah hancur berserakan di lantai karena dibanting setelah melihat foto terbaru Rena.
“Mana hanphonemu?” tanya Jeff setelah diam sejenak.
Ferry meraih handphone miliknya di balik jas hitam yang membalut tubuh besarnya dan menyerahkan cepat pada Jeff. Secepat kilat Jeff langsung membuka aplikasi instagram dan setelah mendapatkan apa yang dicari dan menyulut emosinya kembali, Jeff langsung menyerahkannya pada Ferry.
“Tuh, lihat!” ucap Jeff sambil menyodorkan handphone tersebut pada Ferry.
Diraihnya handphone itu dan menatap layar dengan raut penasaran. Perlahan tapi pasti, wajah penasaran Ferry berubah melotot ketika mengenali wajah orang yang ada di layar tersebut.
“Ini Rena?” ucap Ferry kuat.
“Menurutmu?” jawab Jeff dengan nada kesal dan geram.
“Ah, gila. Kok bisa cantik dan sexy begini? Aku baru tahu kalau dia montok banget, anjir!” oceh Ferry tersenyum dan memuji kecantikan Rena.
Mendengar pujian Ferry pada Rena seolah mendukung perbuatannya, tanpa ragu Jeff langsung memukul kepala Ferry dengan kuat. Terlebih sejak tadi dia memang butuh pelampiasan kemarahannya.
“Sialan kamu! Jangan puji Rena dengan muka sange seperti itu, kamvret!” maki Jeff yang tak suka melihat ekspresi Ferry melihat foto sexy Rena.
Ferry terbahak karena dia tahu pasti jika Jeff sangat mencintai Rena sejak usianya masih 5 tahun saat pertama kali bertemu Rena di panti asuhan untuk turut serta mengantarkan santunan yang rutin dilakukan oleh almarhum ibunya sebagai donatur tetap. Ferry juga tahu jika Jeff hanya mencintai Rena, bahkan isi semvaknya tak pernah tertarik pada wanita lain.
“Terus masalahnya apa, Jeff?” tanya Ferry yang ingin tahu sebab pastinya dan membuat dia menghancurkan seisi ruangan seperti kapal pecah.
“Rena bukan wanita seperti itu, Fer. Rena wanita baik-baik. Dia tak suka mengumbar aurat di depan orang lain kecuali di depanku, suaminya. Dia berubah 360 derajat!” terang Jeff dengan suara pelan dan sedihnya.
“Mungkin dia lagi puber, Jeff. Kitq tahu sendiri, selama ini dia kuper banget. Teman pun sedikit, terlebih kau kekang dia banget!” timpal Ferry mengutarakan pendapatnya yang dia ketahui selama ini.
“Tapi gak harus bertingkah macam jalang juga, Fer!” bantah Jeff kencang membuat mata Ferry menutup karena semburan Jeff menerpa wajah tampannya.
“Jangan nyembur juga, kambing!” oceh Ferry sambil mengusap wajahnya yang diacuhkan oleh Jeff.
Kesal bicara dengan Ferry, Jeff melangkahkan kakinya menuju sofa. Saat langkahnya terhalang oleh komputer yang tergeletak di lantai, tanpa ragu kaki kanan Jeff menendang hingga terpental ke dinding dan semakin hancur. Ferry yang menyaksikan kembali menghela nafas penjang melihat sikap Jeff sudah tak wajar dan tak biasanya.
“Baru ini gue lihat suami ngamuk besar gara-gara lihat foto sexy istrinya di medsos. Apa iya begitu kalau aku jadi suami, ya? Ah, elah. Aku jadi pengin kawin kalau begini!” cerocos Ferry seperti orang gila dan mengikuti Jeff yang sudah duduk di sofa.
Melewati mini bar, Ferry membuka kulkas dan meraih seboto air mineral dan menyerahkannya pada Jeff yang kembali bungkam dan sesekali menendang meja yang tak bersalah.
“Minum, nih!” ucap Ferry menyerahkan botol air mineral dan diterima Jeff yang langsung menenggaknya hingga tandas.
“Capek, ya, habis ngamuk-ngamuk!” cicit Ferry usil sambil tersenyum mengejek.
“Berisik!” sahut Jeff melirik kesal.
“Sebenarnya kamu ada masalah apa dengan Rena? Setiap masalah pasti ada sebabnya, Jeff. Tak mungkin Rena seperti itu tanpa sebab. Aku kenal kalian sejak kecil dan aku tahu kalau Rena wanita baik-baik. Coba kau pikir, adakah pemicu tindakan Rena sekarang!” terang Ferry menatap serius.
Jeff tertegun. Pikirannya kembali terlempar ke beberapa hari yang lalu sebelum Rena berubah. Jeff terus mengingat apa yang sudah dia lakukan dan katakan pada Rena serta kemungkinan membuatnya terluka. Namun, sekeras apa pun Jeff berpikir, dia tak mendapati kalimat atau sikap kasar yang dia tujukan pada Rena dan sangat dia cintai.
“Kami tak bertengkar, Fer!” kata Jeff setelah beberapa menit bungkam.
Ferry terdiam dan mengangguk. Bersamaan itu, Jeff kembali berpikir dan mengingat semuanya serta malam terakhir yang dilewati dengan percintaan panas keduanya sebelum keesokkan pagi Rena berubah. Mengingat sesuatu yang ganjil, mata Jeff membulat dan menatap Ferry yang menunggu apa sekiranya kalimat yang akan terucap.
“Rena pernah bilang saat malam terakhir kami bercinta, “Jangan berhenti mencintaiku, Kak!” ucapnya kala itu.
Rena baru saja kembali ke rumah sekitar jam 10 malam. Dia terlihat sumringah sambil membawa beberapa paperbag hasilnya berbelanja hari ini. Langkahnya pasti tanpa dosa memasuki rumah yang tampak sepi. Ketika melewati ruang keluarga, langkah ringannya terhenti karena mendapati sosok Jeff yang tengah duduk sambil menatapnya tajam. Mendapati sosok Jeff yang menatap tak suka, Rena berhenti dan membalas tatapan tajam Jeff tanpa rasa bersalah, apalagi rasa takut.“Sudah pulang rupanya. Kupikir lembur malam ini. Maaf aku pulang telat karena terlalu asik berbelanja dan menggosip dengan teman,” oceh Rena tenang dan melangkah sambil meletakkan barang bawaannya ke meja.Jeff tak bersuara. Dia hanya menatap nyalang pada penampilan Rena yang begitu mencolok dengan gaun
Di sebuah rumah, seorang pria paruh baya tengah duduk di ranjangnya dengan selimut menutupi sampai pinggang. Terdapat syal putih yang melilit di lehernya. Matanya terbuka lebar karena di depannya tengah duduk seorang wanita berpakaian biasa sedang menyuapinya makan. Pria itu membuka pelan mulutnya ketika makanan yang dikunyahnya habis dan begitu seterusnya hingga makanan di piring sang wanita habis tak tersisa. Diambilnya air dalam gelas yang terletak di nakas dan mendekatkannya pada mulut pria itu yang meminumnya pelan, dikuti beberapa obat yang terus dikonsumsinya hampir satu tahun.“Sudah selesai. Bapak mau nonton tv?” tanya wanita itu pelan dan dibalas kedipan mata oleh pria tersebut.
Rena sudah rapi dengan pakaiannya. Dress sebatas lutut yang membalut tubuh indahnya bak biola dipadukan dengan high heels yang senada. Rambutnya dibiarkan tergerai indah dan sedikit bergelombang. Langkahnya tergesa menuju mobil yang sudah dipanaskan Mang Imun, sopir yang biasanya selalu mengantar ke mana pun dia pergi. Namun, sejak beberapa minggu terakhir, Rena memilih untuk mengemudinya sendiri dan hal itu sudah diketahui oleh Jeff.“Neng, gak Mamang saja yang antar?” tanya Mang Imun menawarkan.“Tak usah, Mang. Saya kemudi sendiri saja. Lagi pula nanti siang Bik Narsih akan belanja bulanan. Jadi nanti tolong temani, ya,” tutur Rena tersenyum.Mang Imun hanya mengangguk
Hujan turun dengan lebat membuat jalan-jalan digenangi air cukup tinggi serta menimbulkan kemacetan di beberapa ruas jalan. Rena melajukan mobilnya perlahan dan memasuki kawasan perumahan mewah di kawasan Pluit. Mobilnya perlahan memasuki sebuah pintu gerbang yang kembali tertutup ketika mobilnya masuk seolah pintu itu tak pernah dibuka. Dia menghentikan mobilnya tepat di halaman di mana dua orang pria tengah berdiri di ambang pintu dan menatap kedatangannya. Dimatikannya mesin mobil dan terdiam untuk beberapa saat.“Aku akan menyelamatkanmu, Pa. Apa pun akan kulakukan demi membebaskanmu dari mereka,” gumam Rena menatap nanar rumah tersebut.Tangannya membuka pintu mobil dan meraih tas kecil miliknya, lalu berjalan perlahan menuju pintu di mana dua pria tin
Waktu menunjukkan jam 3 sore. Terdengar sebuah aktifitas tak wajar yang menyapa telinga bagi siapa pun yang melewati kamar tersebut di mana pintunya tak tertutup rapat. Sepasang anak manusia tengah mengais kenikmatan dunia dan sudah berlangsung sejak sejam lalu. Seorang pekerja wanita yang melewati ruangan tersebut mendadak terhenti langkahnya ketika mendengar samar-samar suara desahan yang tak sengaja didengarnya.“Suara apaan itu?” gumamnya yang berdiri seperti patung dengan indra pendengaran yang lebih dipertajam serta kening mengkerut.Tak berapa lama, terdengar erangan semakin kuat dari balik pintu yang terbuka sedikit dan membuat pekerja tersebut sadar apa yang sedang terjadi. Tanpa sadar, tangan kirinya menyentuh area antara dua pahanya, sedangkan ta
Rena terpaku mendengar ucapan Tanaya yang kembali mengingatkan jika hari ini dia akan menjalankan rencana selanjutnya demi menghancurkan rumah tangga dia dan Jeff. Terdengar helaan nafas berat yang Rena hembuskan dan tentu didengar serta dilihat oleh Evran yang menatap bingung padanya. Kepala Rena menoleh dan menatap sendu wajah Evran. Dia melihat matanya berkedip beberapa kali seolah bertanya rencana macam apa yang akan dilakukan oleh Rena atas perintah dan di bawah ancaman Tanaya. Tangan Rena yang masih menggenggam erat Evran terasa semakin kencang dan dirasakan olehnya yang tak berdaya."Pa, Rena pergi dulu, ya. Rena janji akan bawa Papa pergi dari sini secepatnya," ucap Rena pelan dan dibalas gumaman oleh Evran yang tentunya berisi larangan agar Rena tak menuruti kemauan Tanaya.
Di kantor, Jeff tengah meeting dengan para staff untuk membahas rencana pembangunan hotel yang akan didirikan di daerah Malang. Tak lupa, Ferry mendampingi Jeff dan duduk tepat di sebelah kanannya serta Imelda di sebelah kiri Jeff karena bertugas mencatat semua yang dibahas pada meeting tersebut."Apa semua surat izin sudah selesai?" tanya Jeff memastika kelengkapan dokumen sebagai syarat mendirikan hotel di daerah setempat."Sudah ok semua, Pak," jawab Pak Muldoko yang bertugas mengurus segala hal berkaitan tentang surat izin pembangunan hotel dan sebagainya hingga dinyatakan selesai dan siap dibangun."Untuk rancang bangunanya?" lanjut Jeff lagi.
Di sebuah rumah dengan tipe 21, seorang anak laki-laki terlihat sedang membaca buku di atas ranjang dengan sprei bermotif sebuah logo dari club sepak bola. Dia tengah fokus membaca buku ditemani suara musik yang diputarnya pelan dengan lagu Justin Beiber "Yummy" dan terus berulang. Jendela kamarnya terbuka hingga angin dari luar masuk dan membuat kamarnya terasa sejuk, terlebih telat di depan jendela kamar berdiri sebuah pohon jambu cangkok hasil tanaman ayahnya yang sudah meninggal dan tengah berbuah lebat. Tak berala lama, terdengar beberapa notif pesan menyambangi handphone yang dia letakkan di nakas tak jauh dari ranjang. Matanya melirik handphone itu dan dengan malas, tangannya berusaha meraih benda itu tanpa bangun dari tidurnya."Anjir, tanganku pendek banget, sih! Ambil hape saja tak sampai, gimana ambil cewek orang!" gumamnya kesal d
Hari pun terus berlalu. Tanaya dan Dilara resmi mendekam di penjara dengan semua kejahatan yang telah mereka lakukan. Sedangkan Anin telah resmi menikah dengan Kimoy tanpa restu dari Tanaya dan hidup sederhana serta membuka rumah makan yang cukup ramai berkat keahlian Kimoy meracik bumbu dan pintar masak selama ini. Anin sudah mengetahui apa yang telah menimpa Tanaya dan sudah berkunjung ke penjara menjenguknya beberapa kali. Tangis dan sesal ditunjukkan oleh Tanaya dan Dilara setelah mendekam di penjara untuk menebus semua kejahatan yang dilakukan mereka, meskipun hukuman yang diberikan kepada Dilara jauh lebih ringan, tapi tetap saja membuat dia begitu sedih dan menyesali perbuatannya selama ini. Jeff dan Rena pun beberapa kali berkunjung ke pen
Tubuh Tanaya seketika menegang melihat apa yang ada di hadapannya kini. Matanya menelisik satu-persatu tiap orang yang ada di depannya dalam keadaan duduk dan terdiam serta memandang tajam ke arahnya. Berkali-kali Tanaya menelan salivan karena tenggorokannya yang mendadak tercekat. Lututnya seolah lemah dengan kepalanya yang mendadak sakit dan berharap bahwa apa yang dialami saat ini hanyalah sebuah halusinasi saja akibat sedang kesal dengan perbuatan yang Anin lakukan. "Astaga, sepertinya aku ben
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Hakan dan terlihat begitu santai, Tanaya memincing curiga ke arahnya serta menelisik saksama. Dia pun menatap sekeliling dan terlihat suasana rumah yang begitu tenang. Hal itu membuat kening Tanaya berkerut banyak karena merasa aneh dan tak biasa."Sejak kapan kau berada di sini? Apa kau belum pulang sejak semalam?" tanya Tanaya menatap tajam pada Hakan yang duduk berseberangan dengannya.
Setelah memerintahkan Maida untuk memberikan sarapan kepada Rena, Tanaya akhirnya pamitan untuk pulang sebentar ke kediamannya sekedar melihat apakah Anin pulang ke rumah atau tidak. Namun, sesampainya di rumah dia masih tidak menemukan keberadaan Anin dan hari itu kembali membuat darah tingginya kumat. Dia duduk di ruang keluarga sambil memijit pelipisnya yang terasa sakit. Tak berapa lama, dia meraih handphone yang ada dindalam handbag berwarna hitam miliknya untuk menghubungi Dilara karena sejak semalam dia berpamitan untuk makan malam di rumah Jeff hingga kini masih belum memberi kabar, meskipun hanya berupa pesan. Berulang kali Tanaya menghubungi Dilara, tapi tak kunjung diangkat. Dia pun merasa aneh kenapa Dilara tak mengangkat panggilannya
Keesokan harinya, Rena terbangun dengan tubuh yang terasa begitu sakit karena dia dikurung di sebuah gudang tak jauh dari kebun belakang. Dia tertidur hanya beralaskan sebuah koran bekas. Ruangan tersebut tak ada penerangan sama sekali, kecuali cahaya lampu yang masuk dari jendela. Selain itu, ruangan tersebut memang cukup luas, di mana barang-barangnya tidak terlalu penuh dan kebanyakan diisi oleh buku-buku serta elektronik yang sudah tak digunakan. Rena meregangkan otot yang terasa kaku serta tubuhnya yang sedikit menggigil karena semalaman dia tidur di lantai. Dia menatap ke jendela dan berpikir untuk menebak sekiranya sudah jam berapa saat itu. Ketika dia sedang menerka, tiba-tiba terdengar perutnya yang berbunyi menandakan bahwa dia kelaparan
Di kediaman Jeff, Dilara terkejut ketika mendengar kalimat yang diucapkan oleh Jeff karena tak menyadari dan terbuai dengan khayalan kotornya sendiri. Dengan cepat, dia melepaskan tangannya dari payudara yang dia remas sendiri sejak tadi, sehingga memicu gairah. Merasa terciduk, wajah Dilara seketika merona karena malu dilihat oleh Jeff yang tak disadarinya sudah keluar dari kamar mandi. "Dasar bodoh! Kenapa aku tak dengar dia keluar kamar mandi, sih! Benar-benar memalukan!" kata Dilara dalam hati
Di Jalan Raflesia, Maida yang berada di kamar Evran saat kejadian diseretnya Rena untuk dikurung seperti mereka tentu terkejut karena tak menyangka bahwa Rena akan kembali ke rumah itu. Evran yang tentu mendengar dengan jelas teriakan Rena hanya bisa melotot tak percaya mendengar teriakan menantunya karena diseret paksa oleh penjaga rumah diiringi bentakan dari Tanaya. Hatinya tentu sangat geram karena tindakan Tanayaa yang sudah melampaui batas dan benar-benar ingin menyingkirkan orang yang dia cintai. Bahkan, Evran yakin Tanaya akan melenyapkan dia beserta Rena dan jika sudah mendapatkan hartanya, dia pun yakin Tanaya akan menyingkirkan Jeff. Maida bisa melihat betapa Evran berbaring gelisah di ranjang. Tahu apa yang telah dilakukan Fanaya kali
Sekitar jam 6 sore, akhirnya Jeff tiba di kediamannya. Pikiran dia masih tertuju pada Rena yang saat ini berada di Jalan Raflesia dan terkurung bersama Evran. Dia berjalan lunglai masuk ke dalam rumah dan terkejut ketika disambut oleh sosok wanita dengan pakaian seksi serta make up tebal yang tak lain adalah Dilara. Terhenyak sebentar, pikiran waras Jeff akhirnya kembali dan sadar bahwa siang tadi Dilara sudah memberikan pesan kepadanya bahwa malam ini dia akan datang ke rumah untuk makan malam bersama. Sadar akan hal itu, dia menarik nafas panjang. Matanya menatap malas pada Dilara yang berjalan mendekat untuk menyambut kepulangannya.
Kimin dan Codet seketika mendekati Rena yang terkejut dan mundur untuk menghindar, tapi mereka menarik tangannya demi melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Tanaya. "Tidak! Jangan sentuh aku! Lepaskan kubilang!" teriak Rena berusaha menolak kedua penjaga itu yang tentu dengan mudah meringkus Rena.