Air mata Tenri berlinang ketika pernikahan mereka yang sangat sederhana itu telah disahkan oleh penghulu dan buku nikah mereka sudah dalam genggaman. Walaupun hanya sekedar akad nikah saja Tenri tetap mengenakan baju bodo, baju adat pernikahan khas Sulawesi Selatan. Mereka menikah di rumah kerabat jauh mereka di Jakarta dengan Ilham kakak kandung Tenri yang menjadi wali nikah gadis manis itu.
Tenri menyalami tangan Tyo dengan perasaan takzim, tak menyangka harus nekat menempuh jalan silariang (kawin lari) agar dapat menjadi istrinya yang sah.
Lamat terdengar suara gaduh di pekarangan rumah paman Tenri, Andi Baso yang dengan lapang dada menampung mereka selama silariang di kota ini.
“Tega-tegamu Tenriiii … ko pakasiri ka’ (kau membuatku malu)!” telunjuk ibu Hasnah mengarah pada anak perempuan satu-satunya itu.
“Kau juga Ilham, bisa-bisanya ko kasih kawin ini adekmu sama orang Jawa ini baru Faisal sudah siap lamar adekmu!” dari ambang pintu ibu Hasnah masuk dengan wajah merah padam. Tangannya bergerak cepat membuka wedges yang dipakainya lalu melemparkan pada wajah Ilham anaknya dan sebelah wedgesnya mendarat di wajah Tyo, laki –laki yang baru saja menjadi menantunya itu.
“Maak … ampun ka’Maak … jangan ki begini kassian, Mak, sudah mi … sudah mii…”* Ilham segera menahan ibunya meski sudut pelipisnya bengkak dan membiru.
“Daeng (Kakak) Hasnah sudah mi Daeng, kasian anak ta, na orang baik ji ini Tyo, suaminya Tenri.”** Sepupu jauh Ibu Hasnah, pak Andi Baso berusaha menenangkan perempuan paruh baya yang masih menyemburkan amarahnya.
“Tidak bakalan ku restui kooo Tenri! Mulai hari ini tidak ada mi mamakmu naah … ko pergi sejauh-jauhnya, jangan ko datang lagi sama saya!” tunjuk ibu Hasnah yang membuat Tenri sujud bersimpuh di kaki ibunya.
“Maak … maafkan Tenri, Mak … ampuni Tenri. Tenri tidak bisa kawin sama Faisal, Saya yakin kalo mas Tyo yang lebih baik untuk Tenri. Ampuni saya Maak ….” Tenri tunduk mencium kaki ibunya sambil menangis tersedu-sedu. Tyo pun duduk berlutut di samping Tenri, wegdes ibu Hasnah meluncur dengan keras hingga membuat pipi Tyo menjadi memar.
“Maaf kami,Bu sehingga kami memilih jalan terlarang ini. Saya sangat mencintai Tenri, tapi segala cara yang saya tempuh Ibu tak pernah merestuinya. Tetapi saya berjanji,Bu, akan menjaga Tenri dengan baik dengan jiwa dan raga saya. Saya tidak akan pernah mengecewakan Tenri dan mencukupi semua kebutuhan lahir dan batinnya. Membahagiakan Tenri, mencintainya hingga ke surga.” Tyo berusaha memegang tangan ibu Hasnah tapi ditepisnya dengan kasar.
“Saya tidak akan pernah mengakuimu sebagai menantuku! Jangan harap kamu bisa masuk dalam keluarga saya naah … Tenri sudah kubuang!” seru ibu Hasnah dengan sengit. Dia merasa sangat sakit hati telah dikhianati oleh puterinya sendiri yang memilih kawin lari dengan pria lain.
“Kau Ilham, kalo ko masih liat ka’ sebagai mamakmu. Ko pulang ikut mamak sekarang ke Makassar!” ***
Mata ibu Hasna berkilat penuh amarah, dia mengancam puteranya agar tetap bersamanya. Laki-laki itu tak punya pilihan lain agar ibunya lebih tenang.
“Iye, saya pulang sama Mamak sekarang.” Ilham meraih bahu adiknya dan memeluknya dengan erat, air matanya jatuh di bahu Tenri, sementara adiknya masih menangis dengan tersedu.
“Jadilah istri yang baik untuk suamimu, Dek. Surgamu ada di suamimu sekarang. Kak Ilham pulang dulu naah.” Ilham melepas pelukannya dan beralih pada Tyo yang juga terlihat sedih.
“Jaga adik saya baik-baik, dunia dan akhiratnya jadi tanggung jawabmu sekarang. Jadi suami yang baik untuk Tenri, jangan sia-siakan pengorbanannya yang telah dibuang oleh mamak saya.” Ilham menjabat tangan Tyo dan Tyo membalasnya dengan erat.
“InsyaAllah, Kak. Terima kasih atas semua ini.”
Ibu Hasnah mendengkus kesal, sama sekali dia tidak ingin lagi melihat puterinya. Ilham memungut alas kaki ibunya lalu memakaikannya kemudian membimbing wanita itu keluar dari rumah. Tangis ibu Hasnah pecah di pekarangan rumah, sementara beberapa tetangga yang turut menghadiri pernikahan itu hanya sanggup menyaksikan adegan itu.
Tenri masih tergugu dalam tangisnya menyaksikan perempuan yang paling disayanginya telah pergi sembari menangis karenanya. Tyo meraih bahu Tenri dan membantunya berdiri dan membimbingnya masuk ke kamarnya. Sementara pak Andi Baso mempersilahkan para undangan menikmati sajian coto Makassar dengan ketupat yang dimasak sendiri oleh ibu Kirana, sang nyonya rumah.
“Tenri sudah dibuang mamak, Mas tyo. Sekarang Tenri hanya punya Mas saja, apapun yang terjadi berjanjilah pada Tenri jangan tinggalkan Tenri, Mas.” Perempuan muda itu terisak-isak dalam pelukan Tyo.
“Yang sabar yaa Dek, ini resiko kita karena sudah silariang seperti yang kau inginkan. Mas sudah janji di depan ibumu, Mas akan selalu menjagamu, membahagiakanmu dan memberi yang terbaik untukmu, Sayang.” Tyo mengusap punggung Tenri dengan lembut.
“Kita akan memulai hari baru kita sebagai suami istri dan kita akan bina rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Kau partnerku untuk proyek membangun rumah di surgaNya,Sayang. Bantu Mas wujudkan itu yaa?” bisik Tyo lirih di telinga Tenri.
Perempuan berdarah Bugis itu hanya mengangguk beberapa saat mendengar ucapan suaminya,
“InsyaAllah, Mas, Tenri akan membantu Mas dalam mewujudkan rumah kita di surgaNya nanti.”
Tyo mempererat pelukannya, janji sudah dibuat, tanggung jawab pun sudah berpindah tempat. Inilah awal baru bagi mereka berdua untuk mengarungi samudera kehidupan dengan gelombang ujian yang akan beberapa kali menerpa mereka.
* saya minta ampun Mak, mak tidak usah seperti ini
**sudahlah Kak, kasihan anakmu lagi pula laki-laki ini orang baik
***kamu ikut pulang Mamak ke Makassar
Tiga hari setelah pernikahan mereka, Tyo dan Tenri keluar dari rumah paman Tenri untuk mengontrak sebuah rumah kecil yang tak jauh dari kantor konsultan tempat Tyo bekerja. Semua dari nol, Tenri tak keberatan jika mereka memulainya hanya dengan selembar kasur tipis di lantai kamar tidur mereka. Seminggu setelah pindah Tyo pun membawa Tenri ke rumah ibunya di Solo untuk memperkenalkan istrinya pada ibu Dibyo, ibu kandung Tyo. Di sana juga ada dua kakak Tyo, Damar dan Wulan.Ketika Tyo hendak melamar Tenri hanya Damar saja yang bisa mewakili sebagai keluarga karena Wulan kakaknya yang tengah sedang hamil muda dan tidak bisa bepergian jauh. Namun, Tenri dan kedua kakak iparnya itu sudah saling mengenal dan keduanya bersikap baik dan ramah pada Tenri.Suasana rumah tampak sepi, di rumah itu memang hanya ibunya dan Damar serta istrinya yang tinggal di rumah tu
Tenri memandang kaca jendela kamar mereka yang basah karena tampias air hujan. Dia mendekap dirinya sendiri untuk menghangatkan tubuhnya hingga Tyo melihat itu hingga memeluknya dari arah belakang.“Jangan terlalu dipikirkan yaa Dek, ini sudah menjadi jalan kita berdua untuk memutuskan hidup bersama. Ini lag resiko yang harus kita hadapi. Kita hanya bisa berdoa pada Allah agar kelak kedua ibu kita mau membuka hati dan memberi kita restu. Oh ya , Mas masih menyimpan uang seratus juta itu. Apa kamu tidak ingin membeli perabot rumah atau apa gitu?” tanya Tyo dengan lembut di telinga Tenri.Tenri mengusap pipi suaminya, laki-laki yang dia percayakan seluruh diri dan kehidupannya padanya.“Mas simpan saja, untuk tabungan atau modal usaha. Tapi boleh gak kalau Tenri bekerja lagi, Mas?”
Tyo memandangi Tenri tak berkedip, wanita di hadapannya itu semakin cantik dan anggun dengan gamis dan hijab yang dikenakannya.“Bagaimana penampilan Tenri, Mas?” tanya Tenri di hari pertamanya berhijab.“MasyaAllah, cantik sekali istriku … semoga istiqomah yaaa Sayang.” Tyo mengelus pipi istrinya dengan penuh kasih sayang. Tyo pun mengantarkan istrinya berangkat kerja, perjalanan menjadi mudah karena jalan menuju kantor mereka searah.“Dek, kayaknya Mas gak bisa jemput pulang kantor nanti, gak apa yaa?” mata Tyo tertuju pada jalanan yang mulai padat.“Iya, gak apa kok, Mas. Tenri kan juga sudah biasa pulang sendiri. Mas mau ke lokasi yaa?” tanya Tenri sambil bersiap turun, kantornya sudah mulai terlihat.
“Apa?! seratus juta? pacarmu minta uang seratus juta untuk uang apa itu namanya … Naik … uang panaik? Jangan harap Ibu mau keluarkan uang sebanyak itu untuk perempuan itu!” hardik ibu Dibyo dengan keras pada putranya Dimas Prasetyo.“Masalahnya keluarga Tenri masih menjunjung adat istiadat dalam keluarganya,Bu. Jadi Dimas harus menyerahkan uang pannaik seperti yang keluarganya sepakati.” terang Dimas pada ibunya.“Jangan harap Ibu mau menuruti keinginan keluarga perempuan itu, gak bakalan Ibu merestui kamu yaa Tyo, cari saja perempuan lain yang pantas untuk kita. Lagi pula kita tidak sesuku dengan mereka, pernikahan kok kayak jual beli.” Ibu Dibyo mendengkus sebal pada putranya bungsunya itu.“Tidak, Bu. Buk
Tyo memandangi Tenri tak berkedip, wanita di hadapannya itu semakin cantik dan anggun dengan gamis dan hijab yang dikenakannya.“Bagaimana penampilan Tenri, Mas?” tanya Tenri di hari pertamanya berhijab.“MasyaAllah, cantik sekali istriku … semoga istiqomah yaaa Sayang.” Tyo mengelus pipi istrinya dengan penuh kasih sayang. Tyo pun mengantarkan istrinya berangkat kerja, perjalanan menjadi mudah karena jalan menuju kantor mereka searah.“Dek, kayaknya Mas gak bisa jemput pulang kantor nanti, gak apa yaa?” mata Tyo tertuju pada jalanan yang mulai padat.“Iya, gak apa kok, Mas. Tenri kan juga sudah biasa pulang sendiri. Mas mau ke lokasi yaa?” tanya Tenri sambil bersiap turun, kantornya sudah mulai terlihat.
Tenri memandang kaca jendela kamar mereka yang basah karena tampias air hujan. Dia mendekap dirinya sendiri untuk menghangatkan tubuhnya hingga Tyo melihat itu hingga memeluknya dari arah belakang.“Jangan terlalu dipikirkan yaa Dek, ini sudah menjadi jalan kita berdua untuk memutuskan hidup bersama. Ini lag resiko yang harus kita hadapi. Kita hanya bisa berdoa pada Allah agar kelak kedua ibu kita mau membuka hati dan memberi kita restu. Oh ya , Mas masih menyimpan uang seratus juta itu. Apa kamu tidak ingin membeli perabot rumah atau apa gitu?” tanya Tyo dengan lembut di telinga Tenri.Tenri mengusap pipi suaminya, laki-laki yang dia percayakan seluruh diri dan kehidupannya padanya.“Mas simpan saja, untuk tabungan atau modal usaha. Tapi boleh gak kalau Tenri bekerja lagi, Mas?”
Tiga hari setelah pernikahan mereka, Tyo dan Tenri keluar dari rumah paman Tenri untuk mengontrak sebuah rumah kecil yang tak jauh dari kantor konsultan tempat Tyo bekerja. Semua dari nol, Tenri tak keberatan jika mereka memulainya hanya dengan selembar kasur tipis di lantai kamar tidur mereka. Seminggu setelah pindah Tyo pun membawa Tenri ke rumah ibunya di Solo untuk memperkenalkan istrinya pada ibu Dibyo, ibu kandung Tyo. Di sana juga ada dua kakak Tyo, Damar dan Wulan.Ketika Tyo hendak melamar Tenri hanya Damar saja yang bisa mewakili sebagai keluarga karena Wulan kakaknya yang tengah sedang hamil muda dan tidak bisa bepergian jauh. Namun, Tenri dan kedua kakak iparnya itu sudah saling mengenal dan keduanya bersikap baik dan ramah pada Tenri.Suasana rumah tampak sepi, di rumah itu memang hanya ibunya dan Damar serta istrinya yang tinggal di rumah tu
Air mata Tenri berlinang ketika pernikahan mereka yang sangat sederhana itu telah disahkan oleh penghulu dan buku nikah mereka sudah dalam genggaman. Walaupun hanya sekedar akad nikah saja Tenri tetap mengenakan baju bodo, baju adat pernikahan khas Sulawesi Selatan. Mereka menikah di rumah kerabat jauh mereka di Jakarta dengan Ilham kakak kandung Tenri yang menjadi wali nikah gadis manis itu.Tenri menyalami tangan Tyo dengan perasaan takzim, tak menyangka harus nekat menempuh jalan silariang (kawin lari) agar dapat menjadi istrinya yang sah.Lamat terdengar suara gaduh di pekarangan rumah paman Tenri, Andi Baso yang dengan lapang dada menampung mereka selama silariang di kota ini.“Tega-tegamu Tenriiii … ko pakasiri ka’ (kau membuatku malu)!” telunjuk ibu Hasnah mengarah pada anak per
“Apa?! seratus juta? pacarmu minta uang seratus juta untuk uang apa itu namanya … Naik … uang panaik? Jangan harap Ibu mau keluarkan uang sebanyak itu untuk perempuan itu!” hardik ibu Dibyo dengan keras pada putranya Dimas Prasetyo.“Masalahnya keluarga Tenri masih menjunjung adat istiadat dalam keluarganya,Bu. Jadi Dimas harus menyerahkan uang pannaik seperti yang keluarganya sepakati.” terang Dimas pada ibunya.“Jangan harap Ibu mau menuruti keinginan keluarga perempuan itu, gak bakalan Ibu merestui kamu yaa Tyo, cari saja perempuan lain yang pantas untuk kita. Lagi pula kita tidak sesuku dengan mereka, pernikahan kok kayak jual beli.” Ibu Dibyo mendengkus sebal pada putranya bungsunya itu.“Tidak, Bu. Buk