Pagi ini The Premiére kedatangan tim evaluasi yang akan memeriksa beberapa brand yang berada dalam naungan The Premiére. Hal ini membuat seisi perusahaan menjadi riuh dengan banyaknya spekulasi yang mereka ciptakan sendiri.“Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba terjadi seperti ini.”“Pak Arya dari departemen operasi bilang evaluasi tuntas datang.”“Hah? Kenapa?”“Apa perusahaan ini akan dibeli?”Brand yang menjadi pusat perhatian tim evaluasi adalah bran Lauré dan Viance.“Di sini?” Ucap Luna.“Begitu rupanya.”“Bagaimana dengan grafiknya?”“Ini akan aku tunjukkan.” Balas Vareena.“Seberapa besar persiapan untuk bazar di La Fayare?”“Kami sedang dalam proses mengkonfirmasi desainnya. Semua akan diselesaikan dalam beberapa hari ke depan.” Balas Felice.“Banyak toko perusahaan yang kamu kelola mengalami kerugian. Boleh minta daftar brand dan daftar toko yang kamu kelola dan pedagang pengecer yang berwenang?”Tim operasional menganggukkan kepala tanda menyetujui permintaan tim evaluasi. Felice h
“Aku berselingkuh?! Hah? Kapan?” Ucap Ezra.“Heah [menghela nafas]. Aku bahkan tidak punya tenaga untuk menjambak selingkuhanmu. Sejujurnya, aku tidak peduli. Aku menceraikanmu dengan mudah. Jadi, hiduplah dengan wanita itu.” Balas Yuri.“Wanita itu? Siapa yang kamu bicarakan?” Sahut Ezra.“Nona Xavina!” Ucap Yuri. “Nona Xavina?” Gumam Ezra.Flashback On“Ini nomorku. Silahkan hubungi aku jika kamu butuh bantuanku.” Ucap Xavier.Malam setelah kejadian itu Ezra mengganti nama “saksi” yang ditulis Xavier di kontak ponselnya menjadi nama Nona Xaviera agar Yuri tidak menyadari kesalahannya karena sudah tertipu oleh travel agent.Flashback Off“Oh rupanya itu..” Sahut Ezra.Yuri pergi tanpa permisi meninggalkan Ezra yang belum menjelaskan kejadian sebenarnya.“Tunggu! Astaga! Dengarkan dulu.” Ucap Ezra.Bugh [Pintu tertutup]“Hei! Tungg! Yang benar saja. Dengarkan aku dulu.” Panggil Ezra.Yuri tidak sedikitpun menoleh ke arah Ezra. Yuri langsung pergi tanpa ingin mendengarkan penjelasan d
Xavier datang ke ruangan Irene untuk menemui Camilla yang syok karena hinaan dari rekan-rekan komunitasnya. Xavier datang dengan wajah yang sangat kesal dan kecewa dengan ibu yang selalu dia hormati itu.Saat melihat Xavier sampai di depan pintu, Irene mencegahnya untuk tidak mengatakan hal-hal yang akan lebih menyakitkan pada Camilla. “Dia sangat syok. Bersikaplah dengan baik.”Xavier mengabaikannya dan memilih untuk menghampiri Camilla yang sedang memegang kepalanya yang terasa sangat pening itu.“Kenapa Ibu harus melakukan hal seperti itu?” Tanya Xavier.“Bukan aku yang memulainya. Dia yang memulainya lebih dahulu.” Balas Camilla.“Dia bersikap semaunya sendiri. Aku hanya berusaha membela harga diri keluarga kita.” Lanjut Camilla.“Mereka bukan orang yang akan bertindak semaunya.” Ucap Xavier.“Maksud kamu ini semua salah ibu?” Ucap Camilla.“Ibu adalah wanita bermartabat, tapi aku tidak seperti itu. Aku tidak elegan. Aku tidak berkelas seperti Ibu dan Calvin.” Ucap Irene.Irene ber
Siang ini Arka sangat bahagia karena kencannya bersama Direktur Arina kemarin malam dan pagi ini berjalan dengan lancar. Arka juga sangat bahagia karena hubungannya dengan Direktur Arina semakin berjalan dengan baik seiring berjalannya waktu.Arka berjalan ke ruangannya dengan sedikit berjingkrak sambil menyeruput Americano di tangannya. Saat Arka membuka pintu hendak memasuki ruangannya, Arka terkejut dengan keberadaan Presdir Edward yang sudah berdiri di dalam ruangan kerjanya.“Ha.. Halo, Pak!” Sapa Arka. “Ada tamu. Jangan diam saja.” Ucap Presdir Edward.“Apa? Oh ya! Benar juga. Bodohnya aku. Silahkan duduk, Pak.” Ucap Arka. Lalu menutup pintu dan menghampiri Presdir Edward.“Mau kopi atau teh?” Tanya Arka.“Tidak perlu. Duduklah.” Ucap Presdir Edward.“Baiklah.” Balas Arka. Lalu Arka duduk dan menyimpan kopinya di atas meja.“Bagaimana keadaan Arina? Lancar?” Tanya Presdir Edward.“Kami baru saja berpisah setelah sarapan bersama di dekat sini.” Balas Arka.“Baguslah! Sejauh ini a
Ting nong!“Ya, siapa?” Ucap Keena saat berjalan ke arah pintu sambil menggendong Sera.“Aku Arina.”Cklek!“Kalian? Ada apa? Masuklah!” Ucap Keena.Felice dan Arina masuk ke rumah Keena. Mulut Arina sudah tidak tahan ingin mengatakannya. Namun, pada akhirnya Ia tetap tidak tega mengatakannya.Melihat teman-temannya yang tiba-tiba datang di jam kerja membuat Keena bingung. Keena terus melihat ke arah Arina yang berdiri dengan bertolak pinggang dan Felice yang duduk disampingnya.“Ada apa?” Tanya Arina saat melihat Keena celingak celinguk.“Katakan saja! Ada apa kalian kemari?” Ucap Keena.“Hehe, aku kangen kamu jadi aku ajak Felice kemari, itu saja. Hehe!” Balas Arina lalu duduk dan meminum air yang disediakan oleh Keena.“Yakin hanya itu? Itu hal teraneh yang pernah kudengar darimu.” Ucap Keena.“Kenapa kamu menggendong Sera yang tertidur?” Tanya Felice.“Sera terlalu banyak menonton kartun kemarin malam. Dia ingin aku memeluknya lalu tertidur di pelukanku.”“Dia pasti berat. Aku akan
Drrtt drtt [Ibu Camilla]“Kenapa tidak diangkat?” Tanya Felice.“Aku perlu keluar sebentar.” Ucap Xavier.Xavier keluar dari mobil Felice untuk mengangkat telepon dari ibunya.“Halo, bu?” Ucap Xavier.Felice terus memperhatikan Xavier yang sedang menelepon dari dalam mobil. Pembicaraan mereka sepertinya cukup serius sampai-sampai Xavier terus melihat ke arah Felice beberapa kali. Xavier terlihat gelisah saat menerima telepon dari Ibunya itu.“Ya. Aku sudah makan malam.”“Ya.”“Tidak usah khawatir.”Felice merasa bersalah dengan ini semua. Felice memutuskan untuk keluar dari mobil dan menghampiri Xavier di luar.“Baiklah.” Ucap Xavier lalu menutup teleponnya.“Inilah yang akan terus terjadi jika kita tetap bersama. Kamu bahkan tidak bisa menjawab telepon ibumu dengan nyaman.” Ucap Felice.Felice berjalan semakin dekat ke arah Xavier lalu menggenggam tangannya.“Itu bukan alasan yang cukup baik untuk merelakan hubungan kita.” Ucap Xavier.“Pada akhirnya, mereka menikah dan hidup bahagia
Hari-hari menuju pembukaan bazar La Fayare semakin dekat. Namun, revisi masih tidak kunjung menemukan solusi juga. Tim Lauré masih terus berusaha semaksimal yang mereka bisa agar acaranya berjalan sesuai dengan harapan mereka“Sepertinya, warnanya tidak trendi. Mereka ingin warna Navy atau pink fuschia. Itu tidak cocok dengan desain kita.” Ucap Luna.“Kita tidak bisa mengubah pakaian utamanya. Jadi, beri tahu mereka kita akan memilih dua gaun berwarna neon.” Balas Luna.“Baiklah, Nona Felice!” Balas Luna.Bahkan bukan hanya Tim Lauré saja yang kerepotan dengan acara ini. Tim yang mengurus brand Viance seperti Vareena dan Rosé juga turut membantu dalam mengurus acara La Fayare.“Periksa semua sampelnya setelah selesai. beri tahu Nona Felice begitu kamu melihat ada masalah.” Ucap Vareena sambil berjalan membawa berkas-berkas.“Baik, kak!” Balas Rosé.“Ini agak terlalu panjang. Jadi, kita harus memendekkannya sedikit.” Ucap Felice pada tim produksi.Tok tokSabrina masuk ke ruangan tim pr
Di saat semua orang sudah pulang dan kembali ke rumahnya, Felice masih harus berkutat dengan pekerjaannya sedikit lebih lama dari anggota timnya yang lain. Sebelum pulang Felice mematikan lampu di ruangannya tanpa minta bantuan petugas kebersihan.“Xavier!” Ucap Felice saat melihat Xavier berlari ke arah ruangannya.Tanpa menjawab panggilan Felice, Xavier langsung memeluk Felice tanpa melihat keadaan di sekitarnya.“Maafkan aku.” Ucap Xavier.“Maafkan aku.” Ucap Xavier sambil mengeratkan pelukannya.“Biar aku tambahkan satu hal lagi ke daftar hal yang ingin kulakukan.” Ucap Felice.“Aku ingin memelukmu di tempat kerja tanpa memperdulikan pendapat orang lain.” Lanjut Felice.“Dia menjawabku dengan sedih tapi aku membalas dengan bahagia.” Gumam Felice dengan senyuman namun matanya memerah dan perlahan meneteskan air mata.“Seperti hitam yang bisa dibuat dengan berbagai warna. Semoga perpisahan kami akan agak berbeda dengan perpisahan lainnya.” Lanjut Gumam Felice dalam pikirnya.***Demi
Janji yang kita buat dan cintamu menunjukkan jalannya. Serta berjalan di jalur itu adalah caraku membalas kepadamu. Felice Chiara FarfallaXavier menikmati tempat rekreasi itu sambil naik gondola untuk melihat pemandangan di sekitarnya. Saat sedang melihat ke sekitar, Xavier tidak sengaja berpapasan dengan wanita yang mirip Felice sedang naik gondola yang berbeda arah dengannya. Matanya langsung tertuju pada wanita cantik itu.Xavier ingin memastikan itu benar atau tidak. Namun, gondolanya terlalu cepat bergerak dan mereka saling menjauhi satu sama lain. Xavier terus memperhatikan sampai benar-benar tidak terlihat.Nalurinya berkata bahwa itu adalah Felice. Tapi bagaimana mungkin Felice masih tidak berubah sejak terakhir bertemu. Dia masih selalu cantik, anggun dan elegant. Xavier berharap ingin bertemu orang itu lagi untuk memastikan dia Felice atau bukan.Setelah turun dari gondol
Berjalan di jalanan yang sama seperti dua tahun lalu, di malam yang berbeda dan tidak ada yang seseorang yang menemani setiap langkah kaki ini terasa sangat asing bagi Xavier. Udara di sekitar, pepohonan yang rindang jalanan yang basah setelah diguyur hujan, semuanya tidak banyak yang berubah.Xavier memandangi pemandangan di jalanan yang terguyur hujan itu sambil memikirkan kenangan dua tahun lalu bersama Felice. Matanya terus memperhatikan setiap sudut di kanan dan kiri jalanan itu.“Satu atau dua tahun dari hari ini. Jika aku bisa berjalan di jalur seperti ini di hari ini, aku akan memikirkanmu dan kita hari ini.” Suara hati Xavier.Drttt drttt [+62813003680996]Xavier menghentikan langkahnya untuk membuka pesan di ponselnya.“Aku mengirimimu pesan dari Jakarta. Apa kamu tiba dengan selamat? Sampai jumpa besok di Jakarta.”Setelah membaca pesan itu, enta
“Kamu sudah menikah?” Tanya Xavier.“Astaga! Kamu bahkan tidak mengirimi aku undangan pernikahan. Kamu pikir seperti itulah teman yang setia? Wahh! Aku kecewa padamu.” Keluh Xavier.“Haha. Tenang dulu! Kita tidak menikah. Kita hanya tinggal bersama.” Jawab Arka.“Benarkah? Kamu tidak takut dengan omongan orang? Ini Indonesia bukan Eropa atau America.” Ujar Xavier.Drttt drtt [Nona Luna]“Halo, ini Arka Nolan Jude, CEO Galaxy PR.”“Halo, Pak Arka. Aku menelepon dari tim Lauré.” Ujar Luna.“Ya, Nona Luna.” Balas Arka sambil melihat ke arah posisi Xavier duduk beberapa saat.“Bagaimana perkembangan iklan produk kami?” Tanya Luna.“Oh itu Pak Liam yang akan bertanggung jawab atas iklan produk tahun ini. Anda tidak usah khawatir. Tenag saja. Tunggu saja
Xavier hanya sempat memasak mie instan hari ini. Saat mie sudah dimasukan, Xavier hendak memasukan telur. Namun, Xavier teringat sesuatu saat memegang telur itu.Flashback On“Kamu selalu mengaduk telur setelah menambahkannya ke mie instan, bukan?” Ujar Felice.“Tidak.” Balas Xavier.“Wah! Astaga, kita sungguh berbeda. Kita benar-benar tidak cocok. Sepertinya kita akan sering bertengkar.” Balas Felice.Flashback OffXavier membatalkan niatnya yang akan langsung memecahkan telur di atas mienya. Dia memutuskan untuk mencoba selera makan Felice.Xavier pecahkan telur itu di atas mangkuk kecil lalu diaduk hingga terampur rata. Setelah itu baru dimasukan ke dalam mie.Setelah mienya matang, Xavier segera memakannya sebelum mie itu menjadi dingin. Xavier makan mie sambil sesekali melihat ke arah foto Felice yang ada di hadapannya.Flashback On
“Itu sesuatu yang harus kamu ulur dan kamu bumbui sedikit. Hehehe…” Ujar Alano yang agak malu malu tapi akhirnya mengaku juga.“Hahaha!”“Hehe! Ya, memang aku yang mengatur semua ini.” Ujar Alano sambil mengajak yang lain untuk cheers.“Terima kasih, Pak Al dan semua yang hadir di sini. Aku akan menerima semua bantuan kalian.” Ujar Felice.“Heah! [Menghela nafas] Aku sangat putus asa hingga tidak peduli untuk menyelamatkan wajahku. Kini aku punya dua pegawai yang harus kuberi makan. Aku terima tawaran kalian dengan senang hari dan terima kasih untuk semuanya. Terima kasih banyak.” Ucap Felice dengan berlinang air mata penuh haru“Kamu pasti bisa, Nona Felice!” Ujar Diana.“Aku akan memasok kain terbaik. Tenang saja! kamu tinggal buat desain yang bagus untuk karya baru di brand pribadimu.” Ujar Budi.“Hubungi aku meski hanya untuk satu atau dua hal. Aku akan menjahitnya meskipun harus mengurangi waktu tidurku.” Ujar Selena.“Wahh!”“Astaga! Benarkah?” Ujar Felice.“Ya!” Balas Selena.“W
Pagi ini, Felice memulai harinya dengan mengecek semua hasil desainnya kemarin. Felice melihatnya satu persatu. Desainnya cukup unik tapi Felice merasa bingung bagaimana cara merealisasikan gambar ini di saat tidak ada orang yang mempercayainya.“Kamu membuat semua desain ini? Dalam sebulan?” Ujar Xavier.“Ya.” Balas Felice sembari tersenyum.Felice melirik ke sebelah kanannya sambil tersenyum senang. Felice merasakan Xavier membuka sketsa desainnya lembar demi lembar.“Wah!” Puji Xavier.“Bagaimana bisa kamu menyimpan semua ini?” Tanya Xavier sembari terus membuka lembaran pada buku itu.“Aku tidak tahu apakah aku sangat berbakat atau sedang penuh inspirasi. Aku merasa seperti Mozart.” Ujar Felice.“Apa kamu juga genius? Hehe!” Puji Xavier.“Hehe..” Felice tersenyum bahagia sambil merasakan Xavier membuka buk
“Tidak apa-apa. Ya, sampai jumpa.” Ujar Felice yang masih berusaha menghubungi rekan kerja lamanya.“Huftt!” Gumam Felice setelah mematikan teleponnya.“Tidak apa-apa. Aku bisa mencoba lagi.” Ucap Felice.Felice melakukan peregangan agar leher, bahu, punggung dan tangannya tidak kaku. Lalu Felice melihat dirinya di dalam cermin.“Apa aku tidak cukup merawat diriku?” Ujar Felice saat merasa wajahnya terlihat kusam dan ada beberapa kerutan di wajah yang cukup menganggu penampilannya.Felice mengambil minuman collagen dan vitamin booster. Lalu menyeduhnya dalam gelas. Kemudian dia minum sampai habis. Lalu kembali pada pekerjaannya.Ting nong [Suara bel]“Siapa itu?” Ujar Felice.Felice membukakan pintu untuk tamunya. Lalu kembali ke meja makan yang sedang Felice gunakan untuk bekerja.Berkas-berkas yang ada di atas meja itu mereka rapikan dan disis
Kegiatan Felice saat ini adalah disibukkan dengan kartu-kartu nama dan daftar list yang harus Felice hubungi untuk keperluan labelnya sendiri.“Halo, Pak Akbar, apa kabar? Aku akan meluncurkan labelku sendiri.”“Hai, ini Felice Chiara Farfalla. Ini tentang lini mini yang ku sebutkan sebelumnya.”“Kamu tidak sanggup lagi? Oh baiklah.”“Ah sayang sekali.” Ucap Felice saat mencoret beberapa daftar nama dalam listnya.***Drtt drttt [Suara telepon Manajer Umum Alano]Manajer Alano mengangkat telepon itu, “Halo.”“Halo, Pak Al. Ini Pak Belva.”“Ya, ada apa?” Ujar Manajer Alano.“Saya ingin tanya. Apa benar Nona Felice meluncurkan brandnya sendiri?” Ujar Budi.“Apa kamu memutuskan untuk bekerj
“Apa katamu?” Ujar Mama Yuri.“Aku berhenti bekerja.” Ujar Felice.“Kapan?” Tanya Mama Yuri.“Ini hari terakhirku.” Ujar Felice.“Kenapa kamu berhenti?” Tanya Mama Yuri.“Alasan yang sama dengan Mama.” Balas Felice.“Apa?”“Jika aku melihat kembali hidupku, itu tidak terlalu buruk. Ada saat-saat bahagia dan berharga, tapi aku ingin mulai melakukan apa yang selalu ingin kulakukan, tapi terlalu takut untuk mencobanya.” Ujar Felice“Maaf, aku tidak punya lagi posisi penting di perusahaan besar.” Ujar Felice sembari tersenyum.“Jangan konyol. Mama tidak pernah meminta hal seperti itu.” Ucap Mama Yuri.Mama Yuri mendekat pada Felice, memegang tangannya, “Kamu sudah bekerja dengan baik. Bekerja sangat keras selagi melakukan tugasmu sebagai anak kami. Kamu putri terbaik yang bisa diharapkan siapa pun.”“Mah! Masalahnya, aku tidak punya apa-apa sekarang. Belum ada yang diputuskan.” Ujar Felice.“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Kenapa kamu jadi ceroboh begini?” Ujar Mama Yuri.“Benar, bukan Ma