Tangisan Bu Irma menjadi lebih keras dan Rendra pun menjadi kesal. "Kenapa kamu menangis! Nggak ada yang memukulmu. Cepat pergi dan tunggu aku di mobil.""Kalau begitu lampiaskan kemarahanku pada mereka.""Melampiaskan kemarahanmu? Akulah yang dibuat marah setengah mati karena sikapmu! Keluar!"Briella menyaksikan pertengkaran keduanya seperti sedang menonton drama. Dia rasanya ingin tertawa geli.Valerio berbisik di telinganya dan bertanya, "Bagaimana? Apa kamu puas?""Sudah kubilang, kalau ada dia, Zayden nggak akan sekolah di sini."Valerio terlihat senang. "Orang cantik yang nggak banyak omong memang cukup kejam."Briella menatap Valerio dan berpikir dalam hati. Dia hanya mengutarakan pemikiran Valerio. Jadi, orang yang kejam itu Valerio. Setelah bergelut dengan dunia bisnis selama beberapa tahun ini, pria ini benar-benar sangat kejam.Valerio dan Briella saling menatap. Saat keduanya bersitatap, mereka memahami pemikiran masing-masing bahkan tanpa mengucapkannya.Sikap Briella yan
"Apa kamu nggak takut?"Setelah menyelesaikan masalah di sekolah Zayden, Briella masuk ke dalam mobil Valerio. Dia kembali teringat kejadian di mana pria itu membela Zayden. Jadi, Briella bertanya dengan bingung."Takut kenapa?" Valerio menoleh ke samping dan melihat Briella yang duduk sangat dekat dengan pintu, sengaja menjauhkan diri dari Valerio.Telapak tangan pria itu bertumpu pada pinggang Briella dan menariknya untuk mendekat.Briella menatap Marco yang menyetir di depan, lalu kembali menjauh. "Apa kamu nggak takut kalau apa yang kita lakukan ini akan ketahuan dan muncul di media? Dampaknya pasti nggak baik buat perusahaan.""Di mana nggak baiknya?" Valerio memasang raut wajah tidak peduli. "Atau menurutmu caraku melindungi kalian membuatmu malu? Baiklah, kalau Nathan yang membantu, apa yang akan dia lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?"Briella menimpali tidak berdaya, "Apa hubungannya sama Nathan?"Ekspresi Valerio tiba-tiba menjadi serius. "Ini jelas-jelas antara kita ber
Tiara dengan antusias mengajak Briella untuk bergabung dengan tim kecil mereka dan Briella pun menimpali sambil tersenyum tipis, "Ya."Sebenarnya Briella adalah seorang yang dingin dan tidak suka bergaul. Sangat menyenangkan kalau bisa punya teman di perusahaan.Namun, dibandingkan dengan kehangatan rekan-rekan kerjanya, dia lebih menyukai cara dia berteman dengan Gita. Persahabatan mereka sangat ringan seperti air, tetapi sangat dalam.Namun, Tiara dan Kinan mengartikannya dengan cara berbeda.Mereka merasa kalau Briella hanya berpura-pura dengan bersikap sok akrab dan tidak menganggap serius ajakan mereka.Keduanya saling bertukar pandang dengan tatapan tidak senang. Kinan menggandeng tangan Tiara. "Tiara, sudah terlambat, ayo kita ke departemen kita dulu."Briella berjalan pelan dan mengikuti keduanya menuju departemen desain dan perencanaan.Ada seorang karyawan lama yang berdiri di pintu masuk departemen desain dan perencanaan. Melihat ketiganya berjalan mendekat, dia langsung men
Tiara dan Kinan juga melihat layar monitor itu dan raut wajah mereka menjadi panik.Barusan mereka membicarakan tentang gosip direktur departemen dan presdir perusahaan. Dua orang yang mereka bicarakan itu sedang duduk di dalam ruang kantor ini.Ternyata mereka berdua adalah dua orang laki-laki.Direktur menunjuk ke arah Tiara dan menanyakan, "Siapa namamu?""Tiara Anjani.""Perusahaan membatalkan kontrak kerja denganmu. Jadi, kamu bisa pergi."Tiara terdiam di tempat dan merasa canggung. Dia tahu kalau dia salah karena sudah bicara sembarangan. Namun, Kinan juga melakukan kesalahan, jadi kenapa hanya dia yang kontraknya dibatalkan?"Kenapa mereka bisa tetap bekerja di sini sedangkan saya harus pergi?"Kinan melirik sekilas ke arah Tiara, tatapannya menunjukkan kesan meremehkan."Aku sangat kesal saat kamu bicara denganku barusan. Kamu terus bicara dan aku juga mengingatkanmu buat nggak berantem sama Briella. Aku dan Briella nggak salah, jadi kenapa kita berdua harus pergi?"Tiara terk
Kalau begitu, sangat masuk akal kalau dia berani menantang gertakan orang kaya kelas dunia seperti Valerio ....Hari yang sibuk berlalu. Saat waktu pulang kerja, Briella keluar dari perusahaan dan tiba-tiba Valerio menghubunginya."Sudah pulang kerja?""Ya.""Cari waktu buat pergi ke rumah Kakek. Dia kangen katanya."Kakek Valerio adalah satu-satunya anggota Keluarga Regulus yang pernah dikenalkan Valerio kepada Briella."Bagaimana dengan Zayden?""Pak Rinto akan menjemputnya.""Lalu kamu? Kamu nggak ikut ke sana denganku?""Malam ini aku ada lelang. Nanti Marco yang akan antar kamu ke sana.""Ya."Briella menutup panggilan dan mobil yang dikendarai Marco pun datang, yaitu mobil Maybach milik Valerio. Mobil ini sangat menarik perhatian dan berhenti di depan perusahaan. Sontak, banyak pasang mata melihat ke arah sini.Saat ini adalah jam paling ramai, karena para pegawai baru pulang kerja. Mereka memperhatikan Briella dan masuk ke dalam mobil mewah dengan mata kepala sendiri.Tak heran
"Kenapa Kakek sukanya bikin khawatir! Lagi hujan, kenapa nggak tunggu di dalam saja, nanti Kakek sakit lagi."Briella berlari menghampiri Abimana Regulus dengan langkah cepat. Abimana menatap Briella yang sangat berhati-hati dalam memegang kue di tangannya, hatinya langsung gembira. Melihat Briella saja sudah membuatnya merasa sangat senang.Abimana tersenyum cerah, lalu mengatakan, "Lagi hujan, kakek takut kamu nggak datang.""Kakek ingin bertemu denganku, mana mungkin aku nggak datang." Briella mendekati Abimana dan berkata sambil tersenyum, "Aku beli kue dari Toko Kenji, lho. Kakek tunggu di ruang tamu dulu, aku akan menyajikannya untuk mengisi perut Kakek."Briella dan Abimana masuk ke dalam rumah, menuju ke dapur sambil berbincang.Para pelayan di dapur sedang menyiapkan makan malam dan Briella menata kue di atas piring. Melihat kedatangannya, pelayan yang sebelumnya sedang bercanda dan tertawa tiba-tiba langsung terdiam.Sejak Valerio dan Davira mengumumkan pertunangan mereka kep
Beberapa saat kemudian, pelayan menyajikan makan malam di atas meja makan. Makanan ini dibuat sesuai perintah Abimana, yang mana semuanya sesuai dengan selera Briella.Briella tahu kalau ini adalah cara Abimana memanjakannya. Semua makanan ini terlihat menggugah selera, jadi Briella mengeluarkan ponselnya untuk memfotonya, berniat mengunggahnya di Twitter.Abimana menatap gadis yang sedang serius mengambil foto itu dan berkata sambil tersenyum tipis, "Barusan Valerio telepon kalau dia ada urusan, jadi kita bisa makan dulu. Kebetulan sekali, saat dia datang nanti, aku nggak perlu makan dengan melihat wajah juteknya itu.""Oh, ya, Kek. Dia bilang mau ke pelelangan dulu." Briella berkata sambil membuka Twitter miliknya dan akan mengunggah fotonya. "Oh ya, Kakek. Aku sudah nggak bekerja di Perusahaan Regulus lagi. Apa yang dilakukan Pak Valerio bukanlah hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabku."Briella mengatakan itu sambil memusatkan perhatiannya pada topik Twitter yang sedang ramai
Briella makan malam bersama Abimana dan mengeluarkan kartu untuk bermain poker dengannya.Ponsel di tangannya terus berdering, pesan pribadi di Twitter menunjukkan angka 99+ dan langsung meledak.Briella sedikit bingung. Karena penasaran, dia membuka pesan pribadi itu.'Apa hubunganmu dengan Valerio?''Kamu dan Davira memang mirip, tapi jangan pernah berpikir untuk merusak hubungan mereka.''Aku benci wanita simpanan! Tahu malu sedikit!'...Briella sedikit bingung dengan pesan-pesan pribadi ini, jadi langsung menutupnya dan kembali ke beranda untuk melihat apa yang terjadi.Ternyata Valerio me-retweet unggahan makanan yang baru saja Briella unggah.Dia menuliskan: 'Supnya enak, sisakan semangkuk untukku.'Briella yang dalam posisi terpojok pun bergerak cepat dan me-retweet unggahan Valerio dengan menambahkan tanggapan lain.'Aku meminta seseorang menyiapkan untukmu secara khusus. Kalau kamu mau, itu tergantung sikapmu. Aku sangat suka kalung Star of The Sea yang dilelang malam ini. Ka
Kecurigaan tiba-tiba terlintas di benak Briella. Dia merasa bahwa kemunculan Elena yang tiba-tiba di depan rumahnya hari ini terlalu mendadak.Ketika Briella tengah memikirkan kemungkinan ini, Valerio tiba-tiba menelepon.Pria itu pasti baru bangun tidur. Suaranya sengau, terdengar rendah dan magnetis."Apa anak-anak sudah bangun?""Pak Valerio, bisakah Pak Valerio nggak memberi tahu siapa pun alamat tempat tinggalku seenaknya?""Apa maksudmu? Aneh sekali."Mendengar sikap Valerio, Briella memiliki tebakan sendiri di dalam benaknya.Seperti yang dia duga. Elena datang bukan untuk menjemput anak-anak, tetapi untuk menyatakan kedaulatannya.Terlalu samar untuk menganggapnya sebagai ancaman."Barusan Elena datang dan bilang kalau dia ingin menjeput anak-anak.""Anak-anak ikut dengannya?""Aku nggak kasih izin."Pria itu terdiam, tidak mengatakan apa-apa lagi.Kemudian, dia berkata, "Marco sudah dapat kamar terbaru terkait anak itu. Rumah sakit memang membawa anakmu pergi dan berbohong kep
Briella kembali ke kursi kemudi dan menyesuaikan sudut kursi, baru menyalakan mobil untuk pulang.Setelah melakukan banyak hal semalaman, Zayden mengikuti Briella pulang dan masuk ke kamar tamu untuk tidur. Briella memandangi kedua kakak beradik yang tertidur lelap di atas tempat tidur. Kedua anak kecil ini benar-benar seperti malaikat, sangat pintar dan pandai bagaimana cara bersikap. Papa mereka memang suka main perempuan, tetapi sungguh sebuah keberuntungan yang luar biasa karena bisa menemukan wanita-wanita yang bisa melahirkan anak sesempurna mereka.Briella membantu mereka memakaikan selimut, lalu kembali ke tempat tidurnya.Dia tidur hingga pukul sepuluh keesokan harinya dan dibangunkan oleh suara bel pintu.Setelah mengan mengenakan sandal rumahan dan melewati kamar tamu, Briella tidak lupa membuka pintu kamar tamu untuk melihat Zayden dan Queena yang masih tertidur.Menutup pintu kamar tamu, Briella berjalan ke pintu depan dan melihat melalui mata kucing.Wanita yang berdiri d
Briella berjalan keluar bersama Zayden dan masuk ke dalam mobil Nathan. Saat itu sudah pukul dua pagi.Nathan mengetuk pintu mobil Briella, memberi isyarat agar Briella keluar dan berbicara.Briella menatap Zayden. "Jangan keluar dari mobil. Tidur saja kalau kamu ngantuk."Zayden memelototi Nathan dan mendengus dingin, "Banyak sekali masalah pria itu."Briella membelai kepala Zayden. "Dia memang banyak masalah. Meskipun begitu, dia bukan orang jahat. Dia akan berguna dalam keadaan darurat."Zayden menunjukkan sikap posesifnya. "Kalau begitu Mama nggak boleh suka sama dia. Mama cuma boleh suka sama Papa saja."Briella tersenyum tidak berdaya. "Apa Papa nggak pernah bilang siapa Mama kamu?""Tentu saja Papa pernah bilang. Kamu."Briella hanya menganggapnya sebagai lelucon. "Nak, tidurlah di mobil. Setelah itu, kita akan pulang."Nathan merokok tidak jauh dari situ, mengembuskan kepulan asap putih di tengah dinginnya cuaca malam. Melihat Briella turun dari mobil dan berjalan mendekat, dia
Nathan dan Zayden berhenti berdebat dan menatap Briella bersamaan. Keduanya sedikit takut saat melihat Briella marah.Erna memperhatikan Nathan. Siapa pun pasti bisa melihat kalau Nathan sangat menyukai Briella.Dia langsung bertanya pada Nathan, "Apa hubunganmu dengan Briella?""Aku mantan pacarnya."Erna kembali melanjutkan, "Lala sudah punya tunangan. Dia akan menikah dengan Klinton, tuan muda dari Keluarga Atmaja. Lebih baik kamu nggak berhubungan lagi dengannya setelah ini.""Kamu dan Klinton bertunangan?" Nathan berkata sambil menatap Briella, bertanya dengan nada serius."Dia itu rubah tua, apalagi adiknya, Davira. Apa kamu bisa hidup damai kalau menikah dengannya? Jangan menikah dengannya. Lebih baik bersamaku daripada bersamanya. Kamu mengerti?"Briella menjawab tanpa mengangkat matanya, "Kenapa aku harus menikah? Setelah menemukan anakku, aku akan baik-baik saja bahkan tanpa menikah.""Omong kosong apa yang kamu bicarakan!" Erna melanjutkan dengan kesal, "Apa maksudnya menemu
Cahaya di mata Zayden sudah meredup. Neneknya tidak sadarkan diri sejak dia lahir, jadi neneknya belum pernah bertemu dengan Zayden. Wajar saja kalau dia tidak mengenali Zayden."Dia Zayden Dominic. Biarkan saja dia memanggilmu begitu." Briella tidak tega melihat kelopak mata Zayden yang terkulai dan kehilangan. "Bukannya kamu ingin aku punya anak? Kebetulan sekali ada yang memanggilmu nenek."Erna melihat Zayden, lalu bertanya pada Briella dengan ragu, "Katakan, apa dia benar-benar anakmu?""Bukan." Briella menunjukkan ekspresi bingung. "Ini anak atasanku. Aku diminta menjaganya.""Kalau itu bukan anakmu, kenapa nama belakangnya Dominic?" Nathan berjalan mendekat dan menunjuk ke arah kepala Briella. "Apa kepalamu ini benar-benar terbentur. Kenapa kamu masih nggak percaya?"Briella tiba-tiba memikirkan hal ini dan ternyata benar. Zayden punya nama belakang yang sama dengannya.Namun, tidak peduli seberapa banyak Briella memikirkannya, dia tidak ingat kalau dia punya seorang putra seusi
Briella bisa merasakan ketidakbahagiaan Nathan. Kebencian Nathan kepada Rieta sama besarnya dengan rasa sayangnya kepada Rieta. Dia tidak bisa bertemu dengan ibu kandungnya lagi, mana mungkin dia tidak sedih?"Aku memang sakit. Hatiku yang sakit."Briella menutup mulutnya dan menatap punggung Nathan tanpa berkata apa-apa."Jadi aku teringat denganmu. Melihatmu bisa membuatku merasa lebih baik.""Aku bukan obat penghilang rasa sakit. Pergilah ke rumah sakit kalau kamu nggak sehat.""Kamu jauh lebih manjur dibandingkan dokter dan perawat rumah sakit. Apa kaki dan pinggang mereka sekecil milikmu? Daripada mencari mereka, lebih baik aku menemuimu."Sebelum Briella sempat mengatakan sesuatu, Zayden berteriak marah, "Dasar memalukan!"Briella menutup telinga Zayden. "Nathan, kamu boleh sedih, tapi tolong tunjukkan rasa hormat padaku. Ada anak kecil di dalam mobil. Apa kamu nggak bisa bersikap normal?""Normal, aku sangat normal. Aku nggak nangis dan membuat masalah, kenapa kamu bilang aku ng
Nathan melihat bahwa Briella tidak terlihat berpura-pura. "Ayo. Aku akan mengantarmu menemui ibu asuhmu. Kalian bisa bernostalgia di jalan.""Tunggu dulu. Aku mau ganti baju.""Pergilah. Pakai jaket dan sekalian bawakan jaket untuk putramu."Kata Nathan sambil menarik Zayden ke dalam rangkulannya.Briella menatap Zayden dan hatinya gelisah. Lalu, dia memerintahkan, "Aku ambil baju dulu. Nggak akan lama."Melihat Briella berbalik dan masuk ke dalam kamar, pria itu mencubit wajah Zayden dan menggodanya."Kasihan sekali, ibumu sendiri nggak mengakuimu sebagai anaknya."Zayden menoleh dengan angkuh, lalu berkata sambil mengerutkan kening, "Jangan menyentuhku!"Nathan menimpali, "Sifatmu ini sama persis seperti Valerio.""Aku anak kandungnya, tentu saja sama sepertinya.""Sepertinya kamu sangat menyukainya. Nggak boleh begitu. Apa kamu sudah lupa bagaimana dia memperlakukan Mama mu? Kamu harusnya membencinya.""Jangan mengatakan sesuatu yang nggak kamu mengerti." Zayden mencibir, "Aku punya
Briella menutup pintu untuk menghalangi pandangan kedua anak itu. Lalu, dia mengerutkan keningnya dengan tidak senang. "Nathan, apa yang kamu lakukan di sini?"Nathan bersandar di ambang pintu, wajahnya terlihat sedikit muram. Bahkan tercium bau alkohol dari napasnya. Entah karena kematian Rieta atau karena apa, tetapi pria itu tidak terlihat baik-baik saja."Sudah malam. Kamu pergi saja."Lelaki itu mengaitkan bibirnya, berkata sambil tersenyum sangat tipis, "Kenapa? Sekarang kamu akhirnya berani mengakui kalau kamu itu Briella?"Briella mengabaikannya dan menutup pintu untuk mengusir Nathan pergi.Tangan Nathan menghalangi pintu dan melambai ke arah Zayden yang berada di dalam, "Nak, kamu masih nggak kenal sama Om?"Briella menoleh ke belakang. "Zayden, bawa adikmu ke kamar.""Zayden, kamu sama saja dengan Mama mu, tidak mau mengakuiku. Bagaimanapun, dulu aku pernah menolong kalian berdua, tapi sekarang kalian jadi orang yang nggak tahu terima kasih."Briella menyadari sesuatu, lalu
"Queena khawatir nggak akan bisa bertemu Tante lagi, hiks."Briella menepuk-nepuk punggung Queena, mencoba menenangkannya, "Jangan menangis. Itu tempat orang jahat ditempatkan. Tante nggak melakukan kesalahan, mana mungkin dikurung di sana?"Kepala Queena terbenam dalam pelukan Briella, terus menempel kepadanya. "Lalu siapa orang jahatnya?"Briella menjilat bibirnya dan berkata dengan ragu-ragu, "Tante nggak tahu siapa orang jahatnya. Yang Tante tahu, orang jahat pasti akan dihukum."Queena mengedipkan matanya yang berkaca-kaca dengan polos. "Tapi kata para pelayan, Nenek meninggal dan Mama yang membunuhnya."Zayden berkata dengan jengkel, "Dia bukan Mama mu. Dia memperlakukanmu dengan nggak baik dan mengajarimu hal buruk. Dia nggak pantas untuk menjadi seorang ibu."Queena mengerutkan kening dan berkata dengan cemas, "Mama Queena orang yang jahat. Apa orang lain juga akan menganggap Queena jahat?""Nggak akan." Zayden bersumpah, "Selama ada Kakak, nggak akan ada yang berani menyebutmu