Treya menunggu cukup lama di luar sampai akhirnya dia dapat taksi dan pulang ke rumah Keluarga Yunandar.Sesampainya di sana, langit masih gelap.Rumah Keluarga Yunandar sangat sunyi, hanya satpam yang sudah terjaga. Bahkan para pelayan belum bangun.Treya kembali sendirian, mengambil sidik jarinya dan tiba di rumah. Ketika dia pergi ke kamar tidur utama untuk mencari Tanu, dia mendengar suara seorang wanita di kamarnya."Ya ampun, Pak Tanu ... masih pagi ini, mau ngapain?""Ih, nakal deh."Suara manja seorang wanita terdengar seperti sambaran petir di telinga Treya."Pak Tanu, si Treya harimau betina itu beneran kena kanker dan hidupnya beneran nggak lama lagi?""Ya iyalah. Kalau nggak, mana mungkin aku bisa bawa kamu pulang ke sini?" Kali ini, terdengar suara Tanu.Treya sungguh tidak menyangka. Tanu, cinta pertamanya, pria yang sudah dia beri semua harta Keluarga Andara, ternyata akan mengkhianatinya di saat tersulit hidupnya!Treya bukan wanita yang bisa menahan diri. Dia langsung
Biasanya seorang putri akan membela ibunya bukan? Anehnya, Syena tidak terlalu terkejut saat tahu Tanu punya selingkuhan."Ibu manggil aku ke sini cuma buat ngomongin ini?"Mendengar Syena yang tidak terkejut, Treya pun spontan bertanya, "Kamu ... sudah tahu?"Syena tidak mengaku juga tidak menyangkal, dia hanya berkata, "Ya wajar 'kan kalau bos kayak ayah punya simpanan?""Ibu lupa? Waktu ayah masih sama Liane juga dia sering ketemu diam-diam sama Ibu, 'kan?"Ucapan Syena seperti petir yang menyambar kepala Treya."Apa katamu? Kamu ini putriku bukan sih!" Treya membentaknya.Syena belum mau memutuskan hubungan dengan Treya, jadi dia menjawab, "Iyalah Bu, aku putrimu. Itu sebabnya aku ngomong jujur.""Mana berani orang lain bilang hal kayak gini ke Ibu?"Kemarahan di mata Treya agak mereda, "Terus maksudmu, kamu bakal diam saja lihat ayahmu mengkhianatiku begini?""Jangan khawatir, nanti aku akan kasih tahu ayah supaya ke depannya dia lebih hati-hati." Setelah itu, Syena membantu Treya
Maxime tidak membuka matanya dan bergumam, "Masuk."Ekki masuk dan bertanya, "Aku nggak ganggu, 'kan? Sekarang sudah hampir jam lima. Tadi Bos sudah janji mau jemput Riki dari sekolah.""Riki?" Maxime mengernyit bingung, "Siapa?"Wajah Ekki tiba-tiba menegang. Apa bosnya lupa ingatan lagi?"Bos, maaf aku mau tanya. Sekarang tahun berapa?"Maxime mengernyit, "Ekki, kamu terlalu sibuk ya? Sudah siap belum penerbangan ke Debai? Kita harus pergi buat bahas cip."Maxime membuka matanya dan hendak bangun, tetapi dia tidak bisa melihat apa-apa."Kok gelap? Kok aku nggak bisa lihat apa-apa?"Cip ....Bukannya ini kejadian satu tahun setelah Maxime menikah dengan Reina?"Gawat!" batin Ekki.Itu adalah saat di mana Keluarga Sunandar sedang susah dan Maxime dihina banyak orang."Bos, ada sesuatu yang harus kukatakan.""Apa?"Ekki mengeluarkan sebuah pena perekam. Ekki tidak merekam tentang Maxime, tapi cerita setiap kali Ekki harus menjelaskan kejadian di hidup Maxime selama ini.Sekitar satu jam
Riki merasa barusan dia terlalu impulsif. Sudah jelas mamanya tidak bisa meninggalkan ayah berengseknya, dia masih saja menyarankan hal seperti itu."Maaf Ma, aku salah.""Yang penting Riki tahu salahnya di mana."Reina menepuk punggung Riki.Tatapan Riki jadi dalam. Dia tahu dari dulu Reina menjalani hidup yang keras. Jadi bagi Riki, Reina ratusan kali lebih penting dari Maxime."Ma, ayo makan.""Oke."Maxime sudah lebih dulu duduk di meja makan dan menyantap makanannya. Saat mendengar Reina dan Riki datang, dia tidak berkata apa-apa.Tidak berapa lama, dia berdiri dan berkata, "Malam ini aku nggak pulang, masih ada urusan."Reina tertegun sejenak dan hanya menjawab, "Oke."Masih saja jawaban yang sama. Maxime jadi tidak percaya kalau sekarang dia lupa ingatan.Ekki membawanya ke Klub Beautide dan mengundang Jovan dan Ethan.Maxime duduk di kursi utama.Tidak berapa lama, Jovan dan Ethan pun datang.Jovan duduk di sebelah Maxime, "Kak Max, matahari terbit di barat hari ini? Kamu benar
Melihat Jovan diam saja, Reina pun berkata, "Kalau nggak ada urusan lain, aku tutup ya teleponnya."Jovan langsung berkata, "Jangan! Kakak ipar, mendingan kamu datang aja deh. Menurutku Kak Max masih lebih nurut sama kamu."Entah mengapa Jovan punya perasaan seperti ini.Reina pun tidak bisa menolak lagi."Ya sudah. Tapi aku 'kan lagi hamil, kalau dia mabuk, aku nggak bisa bopong dia lho.""Jangan khawatir, ada Ethan dan aku yang akan bantuin. Kamu cuma perlu membujuknya supaya berhenti minum."Setelah mendengar perkataan ini, Reina mengangguk dan setuju, "Oke, aku berangkat sekarang."Sopir mengantar Reina ke Klub Beautide.Sesampainya dia di sana, Reina langsung naik lift khusus dan masuk ke ruang privat VIP.Reina membuka pintu. Maxime sedang duduk di sofa dan minum-minum, sedangkan Jovan dan Ethan duduk di kedua sisinya.Kedua pria dewasa itu tidak bisa dan tidak berani menghentikannya sama sekali. Kedatangan Reina seperti seorang penyelamat bagi mereka."Kakak ipar."Maxime belum
"Kamu minum berapa banyak?" Reina mengernyit saat mencium bau alkohol yang menyengat dari Maxime.Maxime tidak menjawab dan menarik dasinya, "Kamu nggak jadi bawa aku pulang?"Reina tercengang.Awalnya Reina pikir Maxime mau sendirian dengannya karena mau menindasnya lagi.Reina dengan enggan mengulurkan tangan dan meraih pergelangan tangan Maxime, "Ayo."Maxime berdiri dan mengikuti Reina keluar tanpa membuat masalah lebih lanjut.Sepanjang jalan keluar, sosok mereka menarik banyak perhatian para pengunjung klub."Siapa tuh? Ganteng banget?""Dia model baru di sini? Gila badannya bagus banget!"Beberapa wanita mulai memperbincangkannya."Wanita di depannya kelihatan cantik, tapi nggak kayak orang kaya."Salah satu dari mereka ternyata mengenali Reina dan Maxime.Sahabat Marshanda, Jocelyn, mengeratkan tangannya pada gelas anggur dan menatap mereka berdua.Jocelyn digoda temannya, "Jocelyn, kamu 'kan bentar lagi menikah. Nggak usah ikut-ikutan saingan sama kita buat dapetin pria ganten
Reina mengganti beberapa saluran dan tiba-tiba melihat wajah yang familiar, Ari.Sekarang kulit Ari menggelap, tapi senyumnya tetap cerah seperti biasa. Dia sedang melakukan kegiatan sosial dengan penduduk setempat.Dengan kondisi Maxime yang sekarang, Ari tidak terlalu menderita karena hidupnya tidak lagi dikekang. Setidaknya, dia bisa bersantai.Saat ini, dia sedang naik pesawat dan diam-diam pulang ke Kota Simaliki.Begitu turun pesawat, Ari langsung menghindari keramaian dan diam-diam menghubungi Reina."Kak senior, lagi ngapain?"Begitu teleponnya tersambung, Ari langsung menggoda dengan nada riang.Karena Reina adalah seorang komposer dan pembimbingnya, juga karena Reina beberapa tahun lebih tua darinya, Ari kadang-kadang memanggil Reina 'Kak senior'.Reina masih menonton berita tentang Ari di TV, jadi dia agak kaget mendengar suara Ari di telepon."Aku lagi nontonin kamu ikut kegiatan amal di TV."Ari pun menyahut, "Ih sengaja nontonin aku di TV? Kangen aku yaaa?""Ya nggak lah.
Reina tidak menyangka Maxime akan pisah rumah dengannya. Pria itu bahkan menyuruh Ekki memberikan sebuah kartu bank pada Reina."Uang buat kebutuhanmu dan anak-anak ada di kartu ini. Kalau nggak ada urusan penting, jangan cari aku!"Setelah mengucapkan sebuah kalimat pendek ini, dia langsung masuk mobil.Ekki memasang tampang bersalah dan berkata pada Reina, "Nyonya, jangan marah ya. Bos 'kan lagi sakit.""Aku aja nggak paham apa maunya."Reina tentu tidak marah. Dia bukan lagi istri polos nan baik hati yang akan tetap memikirkan Maxime meski sudah dihina dan ditindas.Mental Reina sekarang sudah sekuat baja.Reina bergegas menghampiri mobil Maxime, lalu melambaikan tangannya, "Dadah Maxime!"Ekki masih ingin mengatakan hal lain, tapi suara dingin Maxime sudah lebih dulu terdengar."Ekki! Masih nggak jalan juga?"Ekki tersenyum meminta maaf pada Reina, lalu masuk ke dalam mobil.Reina menatap mobil Maxime yang pergi menjauh, dia tidak merasa sedih. Pertama, Maxime bersikap seperti ini
Reina menutup telepon dan akhirnya merasa lega.Selama Syena tidak melakukan sesuatu yang buruk, semuanya tidak apa-apa.Dia sudah makin berumur dan hanya ingin menjalani hidupnya dengan baik.Jika Syena melakukan sesuatu yang salah lagi, dia akan menghabisinya....Musim semi berganti menjadi musim gugur.Waktu berlalu dalam sekejap.Dalam sekejap mata, rambut Reina pun dipenuhi dengan uban. Saat ini, Reina hampir berusia tujuh puluh tahun.Beberapa anak laki-lakinya akhirnya menikah. Anak-anak Riko dan Riki sudah duduk di bangku sekolah dasar.Reina mengambil ponselnya. Pada hari itu, dia mendengar anak buahnya berkata, "Bos, Marshanda meninggal."Meninggal adalah sebuah kata yang sering didengar Reina di masa tuanya.Selama bertahun-tahun, mertuanya juga sudah meninggal dunia.Mantan saudara perempuannya, Brigitta, juga meninggal tahun lalu.Ethan menyusul pada paruh pertama tahun ini.Hanya Erina dan suaminya yang tersisa untuk menjaga bisnis Keluarga Yusdwindra.Suami yang Erina d
Sisca pergi ke sekolah dan hendak meminta guru untuk memanggil Talitha. Namun, dia melihat Talitha berdiri di depan gedung sekolah dari kejauhan.Di seberang Talitha ada Syena!Ekspresi Sisca langsung berubah.Dia berjalan cepat menghampiri keduanya. "Talitha."Talitha menoleh ke arahnya. "Ibu."Syena langsung marah mendengar putrinya memanggil wanita lain dengan sebutan ibu."Talitha, aku ini ibumu, dia nggak ada hubungan darah denganmu."Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, wajah Syena sangat pucat dan kuyu. Tatapan matanya menatap Sisca lekat-lekat.Sisca juga tidak merasa terintimidasi olehnya, menarik putrinya untuk berdiri di sisinya."Syena, saat itu kamulah yang nggak menginginkan Talitha. Sekarang, kamu ingin mendapatkan anakmu lagi?"Talitha menimpali, "Aku cuma punya satu ibu, namanya Sisca. Nama keluargaku juga Santiago. Jadi, kamu pergi saja dan berhenti mencariku."Mendengar apa yang dikatakan putrinya, gelenyar kelegaan menyelimuti benak Sisca.Syena terlihat makin mura
Reina beranjak dan melangkah pergi.Marshanda menatap punggungnya dan tiba-tiba berdiri. "Reina."Langkah kaki Reina terhenti dan dia berbalik untuk menatapnya.Tiba-tiba, mata Marshanda menjadi sedikit memerah."Reina! Aku merasa sepertinya aku melakukan kesalahan."Selama sepuluh tahun terakhir, Marshanda telah bermimpi tentang masa lalu hingga berulang kali.Mimpi itu terjadi di masa lalu, ketika dia baru dijemput oleh Anthony.Saat itu, dia tidak memiliki niat licik. Saat pertama kali bertemu Reina, dia merasa bahwa Reina sangat baik.Reina akan memberinya pakaian yang bagus untuk dipakai!Memberikan makanan yang enak untuknya!Reina juga akan berbagi uang saku dengannya!Mungkin karena dia makin tua, ingatannya tentang ketika dia masih muda menjadi begitu jelas, dia pun bernostalgia.Mendengar Marshanda mengakui kesalahannya, Reina menunjukkan kerumitan di antara kedua alisnya."Itu semua sudah berlalu."Dia hanya mengatakan beberapa kata tanpa menyebutkan maaf.Marshanda memperha
Riki benar-benar tidak berubah, ucapannya sangat manis dan masih terus menempel kepadanya.Maxime hendak mengatakan sesuatu tentangnya.Riki melepaskan pelukannya pada Reina dan memujinya."Papa, hari ini Papa bersinar banget dan makin jantan saja. Aku mau belajar dari Papa."Maxime tidak terbujuk oleh perkataannya. "Kalau mau belajar dariku, ikuti kakakmu dan uruslah perusahaan keluarga."Riki menggaruk-garuk kepalanya ketika diminta mengurus perusahaan.Sayangnya, dia benar-benar tidak suka menjadi bos.Dia hanya ingin menjadi seorang penyanyi.Dia mewarisi bakat musik yang kuat dari Reina dan merupakan penyanyi generasi baru.Reina juga memahami kebenaran bahwa setiap anak memiliki potensinya sendiri dan keempat anaknya pun berbeda."Sudah, biarkan Riki melakukan apa pun yang dia inginkan, toh ada Riko yang ngurus perusahaan.""Atau nanti kalau Leo dan Liam sudah besar, mereka juga bisa bantu ngurus perusahaan."Maxime langsung diam begitu Reina berbicara.Riki berterima kasih kepad
Revin memang cukup terlambat saat menikah. Belakangan, dia menelepon Reina dan mengatakan bahwa dia punya anak.Maxime sedikit tercengang. "Dia punya anak dari mana? Bukannya dia nggak nikah?"Sejujurnya, Maxime juga mengagumi Revin.Sebagai seorang pria, dia sangat menyukai Reina dengan sepenuh hati dan perasannya tidak pernah berubah.Maxime menduga bahwa Revin tidak pernah menikah karena Reina.Setiap kali mendengar tentang Revin, Maxime langsung ketakutan, takut pria ini akan datang dan merebut istrinya."Katanya sih bayi tabung," kata Reina.Maxime mendengarkan dengan serius. "Siapa ibu dari anak itu?"Reina menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu, katanya sih rahasia dan nggak ada yang tahu siapa ibu dari anak itu. Tapi, Revin sangat luar biasa. Gen yang dia pilih pasti sangat bagus juga."Mendengar ini, Maxime mengangguk setuju.Hatinya sangat lega.Dia sudah sangat tua, sekarang Revin akhirnya memiliki seorang anak sendiri. Dia seharusnya tidak lagi akan memiliki ketertarikan
Jess tidak tahu apa yang ada di pikiran Erik. Dia mengangkat tangannya dan menepuk pundaknya. "Bodoh, mana mungkin aku nikah sama orang lain, aku saja sudah punya kamu sama anak kita."Erik menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Aku tahu kalau istriku ini memang sangat mencintaiku. Cuma aku, 'kan?"Jess ragu-ragu sejenak, tetapi dengan cepat mengangguk."Ya, tentu saja."Keraguannya yang sangat tipis ini masih bisa ditangkap oleh Erik.Itu juga pertama kalinya Erik menyadari bahwa dia bisa menjadi begitu peka dan perasa, seperti seorang wanita.Dulu, hanya wanita yang selalu khawatir dia macam-macam. Sekarang, keadaan berbalik dan dia selalu mengkhawatirkan Jess.Ada pepatah yang ternyata memang benar.Jika dunia bertanya apa itu cinta, cinta adalah sesuatu yang bisa menaklukkan segalanya.Jess adalah orang yang bisa menaklukkannya....Lima belas tahun telah berlalu.Tanpa disadari, keempat putra Reina dan Maxime telah tumbuh dewasa dan semuanya sangat tampan.Riko adalah yang paling
Entah kebetulan atau tidak, Jess yang saat itu berada jauh di Kota Simaliki juga bermimpi.Dalam mimpi itu, dia benar-benar menikah dengan Morgan dan memiliki seorang anak.Ketika terbangun dari mimpi itu, entah kenapa hati Jess terasa kosong. Dia tidak tahu kenapa ada emosi rumit di dalam hatinya.Dia menoleh ke samping, melihat seorang anak kecil yang sedang tidur di sampingnya.Di sisi anak itu ada suaminya, Erik.Wajah pria itu terlihat tampan saat tidur. Saat sinar matahari menyinarinya, dia terlihat makin memukau.Sudut mulut Jess tanpa sadar terangkat. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh putranya yang menggemaskan, sebelum meletakkan tangannya di sisi wajah Erik dan menyentuhnya.Erik merasakan sentuhan di wajahnya. Dengan mata terpejam, dia mengangkat tangannya dan meraih tangan Jess, menariknya ke pelukannya."Tanganmu dingin? Sini aku hangatkan." Dia bahkan tidak membuka matanya dan apa yang dia lakukan tampak natural.Jess memperhatikan tindakannya dan hatinya menjadi hanga
Mata sipit Maxime sedikit menyipit. "Apa itu?"Sulit untuk menyembunyikan ketegangan di wajah Morgan."Itu cuma koran. Aku bosan dan mau mengisi waktu luang. Jangan diambil, ya?"Melihat raut wajahnya, Maxime tahu bahwa itu jelas bukan koran biasa.Maxime kembali menepis Morgan, berjalan dengan cepat untuk mengambil koran itu.Maxime membukanya dan isinya penuh dengan informasi tentang Jess.Morgan menerjang ke arah Maxime, seolah-olah rahasianya telah terbongkar.Namun, dengan kondisi fisiknya saat ini, Maxime bisa menghindar dengan mudah.Suara Morgan terdengar serak, "Kembalikan, ini milikku!"Maxime menatapnya dengan acuh."Sepertinya kamu lebih peduli sama asistenmu itu daripada Nana."Morgan tersipu malu."Apa kamu bercanda? Siapa juga yang suka sama dia. Aku nggak tertarik sedikit pun sama dia."Dia masih bersikap keras kepala.Maxime bisa melihatnya. Aktingnya benar-benar sangat kentara."Kalau begitu akan aku bawakan koran lain biar kamu bisa baca."Setelah mengatakan itu, Max
"Sekarang, semuanya sudah jelas, jadi mulai sekarang kamu nggak perlu menjagaku lagi. Aku baik-baik saja," kata Reina.Namun, Maxime menggelengkan kepalanya. "Nggak, sekarang aku nggak terbiasa."Dia mengikuti Reina setiap hari, jadi tidak terbiasa jika harus terpisah darinya.Reina tidak berdaya ketika melihat ini."Baiklah, tapi kamu harus berubah secara perlahan."Terus menempel pada orang lain juga cukup merepotkan.Dia juga menginginkan waktu untuk dirinya sendiri.Maxime mengiakan, "Ya, terserah kamu saja."Keesokan harinya.Maxime benar-benar tidak mengikuti Reina ke tempat kerja. Dia mengutus seseorang untuk menjaganya, sementara dia sendiri kembali ke IM Group untuk bekerja.Ketika Gaby dan Sisil mengetahui bahwa Maxime telah kembali ke IM Group, mereka semua terlihat terkejut."Kenapa Pak Maxime tiba-tiba berubah pikiran?" Gaby terkejut.Sisil berbisik, "Bos, apa kalian bertengkar?"Reina menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, hubungan kami baik-baik saja. Aku mencoba bicara ba