"Bu, mendingan suruh anak ini tinggal di kamar aja deh. Nggak baik juga dia dengerin hal kayak gini," ucap Syena pada Joanna.Riki menatap wanita cantik tapi kejam di depannya ini dengan mata dingin, "Keluar!"Ketika Syena diteriaki seperti ini, entah mengapa punggung Syena terasa dingin.Syena mengepalkan tangan, ingin sekali dia membunuh anak ini untuk menghindari masalah yang mungkin terjadi ke depannya."Riki, nggak boleh kasar gitu.""Cih!" Riki sama sekali tidak menghargai Syena, "Bu Guru bilang, kita harus sopan sama sesama manusia."Wajah cantik Syena seketika jadi tidak enak dilihat. Kalau bukan karena ada Joanna di sini, dia pasti sudah merobek mulut si Riki.Reina tidak ingin pribadi Riki yang polos ternodai oleh kedua wanita di hadapannya ini, jadi dia membungkuk dan berkata, "Riki tunggu di kamar ya, ada hal penting yang mau Mama bicarakan sama mereka.""Jangan khawatir, Nenek nggak akan menindas Mama."Setelah itu, Reina menoleh menatap Joanna, "Benar, 'kan? Bu?"Sudah la
Joanna memasang tampang tegas, "Reina, kamu nggak bisa main-main sama Keluarga Sunandar. Berlutut!"Tenggorokan Reina tercekat, tapi punggungnya tetap tegak."Aku nggak salah, kenapa harus berlutut?""Kamu sudah ninggalin anakmu sendirian buat ketemu pria lain. Masih nggak ngerasa salah?" Syena menambahkan.Reina terdiam. Dia menatap Syena dengan dingin dan menjawab, "Jadi maksudmu, kita sebagai wanita nggak boleh punya teman pria?""Di dunia ini mana ada wanita dan pria yang murni sahabatan tanpa maksud lain?" Syena berkata dengan sinis.Reina pun tidak lagi lembut hati."Sejauh yang aku tahu, Nona Syena. Kamu juga sering gonta-ganti pasangan pria, kamu bahkan berdansa dengan para pria dan melakukan kontak fisik. Kamu nggak merasa lebih kotor dari aku?""Itu 'kan urusan kerja? Nggak sama lah kayak kamu.""Katanya persahabatan lawan jenis aja nggak ada yang murni, siapa yang bisa jamin kalian cuma sebatas teman kerja?" balas Reina.Syena tidak menyangka Reina punya lidah yang tajam dan
Semua orang menoleh ke arah sumber suara dan melihat Maxime dan Ekki berdiri di depan pintu.Wajah Maxime tidak enak dilihat.Reina agak terkejut, dia tidak menyangka Maxime akan pulang."Ada apa?"Tanpa perlu pikir panjang, Maxime pasti akan membantu Joanna.Tidak disangka, kalimat yang keluar dari mulutnya adalah, "Kucing dan anjing liar mana yang sembarangan masuk rumahku?"Kucing? Anjing?Wajah Syena pucat pasi.Ekspresi Joanna malah makin jelek, "Apa katamu Max? Aku ini ibumu!"Maxime tetap terlihat tenang."Bu, masalahku dan Reina adalah masalah pribadi kami berdua. Sebaiknya mulai sekarang Ibu nggak ikut campur."Mendengar perkataan Maxime, Reina pikir ingatan Maxime sudah pulih.Tenggorokan Joanna tercekat oleh omelan putranya, "Oke, mulai sekarang aku nggak bakal ikut campur urusan kalian. Terserah kalian mau jadi apa."Joanna menatap Maxime dengan saksama dan mendapati sepertinya dia tidak terluka. Joanna pun berujar pada Syena, "Ayo pergi."Syena juga melirik Maxime beberapa
Tiba-tiba Maxime meraih tangan Reina dan berkata, "Kasih tahu aku, kenapa kamu pulang?"Maxime sekarang tidak ingat kenapa Reina pulang. Dia bahkan tidak ingat kalau dua hari yang lalu dia lupa ingatan.Reina tidak punya pilihan selain memberi tahu Maxime lagi alasan kepulangannya."Jadi kamu bawa anakku pergi dan menghilang selama lima tahun?"Lagi-lagi kalimat ini, Reina sungguh tidak ingin melanjutkan penjelasannya."Kita sudah bahas hal ini, aku nggak mau ngulang pembahasan itu."Maxime masih tidak melepaskan Reina dan malah memeluknya erat-erat. "Reina."Reina ingin melepaskan diri, tapi tidak bisa."Lepasin."Maxime bukan melepaskannya dan malah memeluknya.Tubuh Reina melayang di udara."Kamu ngapain? Turunin aku."Maxime mencengkeram lembut lengan Maxime dengan rasa takut, "Jalannya hati-hati, di depanmu ada meja, jangan sampai nabrak."Maxime pun berjalan ke sisi lain."Kalau mau ke kamar, jalannya ke kiri atau ke kanan?"Ke kamar? Reina langsung teringat dengan perbuatan Maxi
Maxime 'kan nggak bisa melihat, dia bisa kabur ke mana?Reina meminta para pelayan dan pengasuh di vila berkeliling mencari Maxime.Sepuluh menit kemudian, seorang pelayan akhirnya menemukan Maxime dan langsung memanggil Reina, "Nyonya, Tuan Maxime ada di dekat kolam teratai.""Oke."Reina menutup telepon dan langsung berlari tergesa-gesa ke taman. Benar saja, dia melihat Maxime berdiri di bawah pohon besar di samping kolam teratai.Reina menghela napas lega dan berjalan dengan hati-hati menghampirinya sambil berteriak, "Maxime!"Karena tidak yakin bagaimana kondisi ingatan Maxime sekarang, Reina tidak berani terlalu mendekat.Tatapan Maxime terlihat agak tidak fokus, "Ada apa?""Kamu ... kamu masih ingat siapa aku, 'kan?""Jangan khawatir, aku masih sama kayak kemarin." Maxime menghilangkan kekhawatiran Reina.Reina menghela napas lega, "Bagus.""Terus kamu ngapain berdiri di sini?""Nggak apa-apa, cuma mau sendirian aja."Setelah itu, Maxime berjalan menghampiri Reina, "Ekki mana?"R
Maxime terkejut, "Aku belum pernah ketemu gurumu?"Riki memasang tampang sedih. "Ya, abis Papa sama Mama selalu sibuk. Om Deron yang selalu antar jemput aku ke sekolah."Om Deron ....Karena Maxime kehilangan sebagian besar ingatannya, meski Ekki sudah menjelaskan cukup detail, tetap saja ada yang luput.Dan kali ini, Ekki lupa menjelaskan tentang Deron."Kenapa Om Deron yang nganterin kamu ke sekolah?" tanya Maxime.Riki tidak takut membesarkan masalah kecil, dia menjawab, "Soalnya Om Deron itu hebat! Mama bilang cuma Om Deron yang bisa melindungiku.""Lagian, Om Deron itu populer banget di kalangan teman-teman dan guruku. Jadi kalau nanti mereka kecewa lihat Papa, Papa jangan sedih ya."Riki sengaja membuat Maxime kesal. Benar saja, Maxime mengernyit dan menelepon Ekki.Ekki ada di mobil satunya, di belakang Maxime. Dia langsung mengangkat telepon itu karena tidak tahu perintah apa yang akan diberikan bosnya, "Bos.""Siapa Deron?" Maxime merendahkan suaranya."Pengawal. Pengawal prib
"Nana, pengadilan sudah membekukan semua aset Treya, tapi kabar yang kuterima katanya saldo di rekeningnya kurang dari 20 miliar."Setelah sarapan, Reina menerima telepon dari Mandy, pengacaranya.Sebenarnya mereka sudah tahu kabar ini.Karena Reina sudah mengutus orang untuk memantau Treya secara diam-diam, jadi dia tahu kalau Treya diam-diam memberikan semua hartanya pada Syena."Anehnya, sisa uang di Keluarga Yunandar juga nggak banyak. Cuma sekitar 400 miliar." Hal ini agak di luar perkiraan Mandy.Masa iya perusahaan sebesar Grup Yunandar hanya punya likuiditas sebanyak ini?"Apa sudah mereka transfer lagi ke akun lain?" Reina bertanya."Sepertinya nggak. Kita 'kan selalu mengawasi mereka, kita juga punya mata-mata orang dalam," jawab Mandy."Berarti memang bisnis mereka lagi bermasalah."Reina melihat ke luar jendela dan berkata, "Nggak masalah. Ambil uang sebanyak yang bisa kita, daripada nggak sama sekali.""Baik."Mandy menutup telepon.Sudah hampir seminggu Reina tidak bertem
Begitu dia sendiri yang dihina Treya, akhirnya dia paham kenapa suster tadi bicara seperti itu."Nyonya, tolong jaga ucapanmu."Treya tidak mengindahkan perkataan wanita itu. Treya mendengus dingin dan mengabaikannya.Menurut Treya, orang berlevel rendah seperti wanita ini sama sekali tidak layak bicara dengannya.Melihat Treya tidak menyahut, wanita itu pun tidak berkata apa-apa lagi.Saat makan siang, suster datang kembali untuk mengantarkan makanan untuk Treya.Kalau bukan karena keluarganya butuh uang, suster ini juga tidak sudi melayani Treya yang tidak bermoral ini."Ayo, makan."Suster sudah menyiapkan makanan Treya.Treya melihat makanannya dan mendapati makanan itu tidak ada bedanya dengan apa yang dia makan sebelumnya, barulah Treya mau mengangkat sendoknya.Wanita di sebelahnya belum dianterin makanan. Treya pun mengejek, "Suster aja nggak punya."Wanita itu tidak marah dan hanya memainkan ponselnya.Tidak lama kemudian, pintu kamar mereka dibuka."Bu, maaf ya hari ini aku t
Reina menutup telepon dan akhirnya merasa lega.Selama Syena tidak melakukan sesuatu yang buruk, semuanya tidak apa-apa.Dia sudah makin berumur dan hanya ingin menjalani hidupnya dengan baik.Jika Syena melakukan sesuatu yang salah lagi, dia akan menghabisinya....Musim semi berganti menjadi musim gugur.Waktu berlalu dalam sekejap.Dalam sekejap mata, rambut Reina pun dipenuhi dengan uban. Saat ini, Reina hampir berusia tujuh puluh tahun.Beberapa anak laki-lakinya akhirnya menikah. Anak-anak Riko dan Riki sudah duduk di bangku sekolah dasar.Reina mengambil ponselnya. Pada hari itu, dia mendengar anak buahnya berkata, "Bos, Marshanda meninggal."Meninggal adalah sebuah kata yang sering didengar Reina di masa tuanya.Selama bertahun-tahun, mertuanya juga sudah meninggal dunia.Mantan saudara perempuannya, Brigitta, juga meninggal tahun lalu.Ethan menyusul pada paruh pertama tahun ini.Hanya Erina dan suaminya yang tersisa untuk menjaga bisnis Keluarga Yusdwindra.Suami yang Erina d
Sisca pergi ke sekolah dan hendak meminta guru untuk memanggil Talitha. Namun, dia melihat Talitha berdiri di depan gedung sekolah dari kejauhan.Di seberang Talitha ada Syena!Ekspresi Sisca langsung berubah.Dia berjalan cepat menghampiri keduanya. "Talitha."Talitha menoleh ke arahnya. "Ibu."Syena langsung marah mendengar putrinya memanggil wanita lain dengan sebutan ibu."Talitha, aku ini ibumu, dia nggak ada hubungan darah denganmu."Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, wajah Syena sangat pucat dan kuyu. Tatapan matanya menatap Sisca lekat-lekat.Sisca juga tidak merasa terintimidasi olehnya, menarik putrinya untuk berdiri di sisinya."Syena, saat itu kamulah yang nggak menginginkan Talitha. Sekarang, kamu ingin mendapatkan anakmu lagi?"Talitha menimpali, "Aku cuma punya satu ibu, namanya Sisca. Nama keluargaku juga Santiago. Jadi, kamu pergi saja dan berhenti mencariku."Mendengar apa yang dikatakan putrinya, gelenyar kelegaan menyelimuti benak Sisca.Syena terlihat makin mura
Reina beranjak dan melangkah pergi.Marshanda menatap punggungnya dan tiba-tiba berdiri. "Reina."Langkah kaki Reina terhenti dan dia berbalik untuk menatapnya.Tiba-tiba, mata Marshanda menjadi sedikit memerah."Reina! Aku merasa sepertinya aku melakukan kesalahan."Selama sepuluh tahun terakhir, Marshanda telah bermimpi tentang masa lalu hingga berulang kali.Mimpi itu terjadi di masa lalu, ketika dia baru dijemput oleh Anthony.Saat itu, dia tidak memiliki niat licik. Saat pertama kali bertemu Reina, dia merasa bahwa Reina sangat baik.Reina akan memberinya pakaian yang bagus untuk dipakai!Memberikan makanan yang enak untuknya!Reina juga akan berbagi uang saku dengannya!Mungkin karena dia makin tua, ingatannya tentang ketika dia masih muda menjadi begitu jelas, dia pun bernostalgia.Mendengar Marshanda mengakui kesalahannya, Reina menunjukkan kerumitan di antara kedua alisnya."Itu semua sudah berlalu."Dia hanya mengatakan beberapa kata tanpa menyebutkan maaf.Marshanda memperha
Riki benar-benar tidak berubah, ucapannya sangat manis dan masih terus menempel kepadanya.Maxime hendak mengatakan sesuatu tentangnya.Riki melepaskan pelukannya pada Reina dan memujinya."Papa, hari ini Papa bersinar banget dan makin jantan saja. Aku mau belajar dari Papa."Maxime tidak terbujuk oleh perkataannya. "Kalau mau belajar dariku, ikuti kakakmu dan uruslah perusahaan keluarga."Riki menggaruk-garuk kepalanya ketika diminta mengurus perusahaan.Sayangnya, dia benar-benar tidak suka menjadi bos.Dia hanya ingin menjadi seorang penyanyi.Dia mewarisi bakat musik yang kuat dari Reina dan merupakan penyanyi generasi baru.Reina juga memahami kebenaran bahwa setiap anak memiliki potensinya sendiri dan keempat anaknya pun berbeda."Sudah, biarkan Riki melakukan apa pun yang dia inginkan, toh ada Riko yang ngurus perusahaan.""Atau nanti kalau Leo dan Liam sudah besar, mereka juga bisa bantu ngurus perusahaan."Maxime langsung diam begitu Reina berbicara.Riki berterima kasih kepad
Revin memang cukup terlambat saat menikah. Belakangan, dia menelepon Reina dan mengatakan bahwa dia punya anak.Maxime sedikit tercengang. "Dia punya anak dari mana? Bukannya dia nggak nikah?"Sejujurnya, Maxime juga mengagumi Revin.Sebagai seorang pria, dia sangat menyukai Reina dengan sepenuh hati dan perasannya tidak pernah berubah.Maxime menduga bahwa Revin tidak pernah menikah karena Reina.Setiap kali mendengar tentang Revin, Maxime langsung ketakutan, takut pria ini akan datang dan merebut istrinya."Katanya sih bayi tabung," kata Reina.Maxime mendengarkan dengan serius. "Siapa ibu dari anak itu?"Reina menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu, katanya sih rahasia dan nggak ada yang tahu siapa ibu dari anak itu. Tapi, Revin sangat luar biasa. Gen yang dia pilih pasti sangat bagus juga."Mendengar ini, Maxime mengangguk setuju.Hatinya sangat lega.Dia sudah sangat tua, sekarang Revin akhirnya memiliki seorang anak sendiri. Dia seharusnya tidak lagi akan memiliki ketertarikan
Jess tidak tahu apa yang ada di pikiran Erik. Dia mengangkat tangannya dan menepuk pundaknya. "Bodoh, mana mungkin aku nikah sama orang lain, aku saja sudah punya kamu sama anak kita."Erik menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Aku tahu kalau istriku ini memang sangat mencintaiku. Cuma aku, 'kan?"Jess ragu-ragu sejenak, tetapi dengan cepat mengangguk."Ya, tentu saja."Keraguannya yang sangat tipis ini masih bisa ditangkap oleh Erik.Itu juga pertama kalinya Erik menyadari bahwa dia bisa menjadi begitu peka dan perasa, seperti seorang wanita.Dulu, hanya wanita yang selalu khawatir dia macam-macam. Sekarang, keadaan berbalik dan dia selalu mengkhawatirkan Jess.Ada pepatah yang ternyata memang benar.Jika dunia bertanya apa itu cinta, cinta adalah sesuatu yang bisa menaklukkan segalanya.Jess adalah orang yang bisa menaklukkannya....Lima belas tahun telah berlalu.Tanpa disadari, keempat putra Reina dan Maxime telah tumbuh dewasa dan semuanya sangat tampan.Riko adalah yang paling
Entah kebetulan atau tidak, Jess yang saat itu berada jauh di Kota Simaliki juga bermimpi.Dalam mimpi itu, dia benar-benar menikah dengan Morgan dan memiliki seorang anak.Ketika terbangun dari mimpi itu, entah kenapa hati Jess terasa kosong. Dia tidak tahu kenapa ada emosi rumit di dalam hatinya.Dia menoleh ke samping, melihat seorang anak kecil yang sedang tidur di sampingnya.Di sisi anak itu ada suaminya, Erik.Wajah pria itu terlihat tampan saat tidur. Saat sinar matahari menyinarinya, dia terlihat makin memukau.Sudut mulut Jess tanpa sadar terangkat. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh putranya yang menggemaskan, sebelum meletakkan tangannya di sisi wajah Erik dan menyentuhnya.Erik merasakan sentuhan di wajahnya. Dengan mata terpejam, dia mengangkat tangannya dan meraih tangan Jess, menariknya ke pelukannya."Tanganmu dingin? Sini aku hangatkan." Dia bahkan tidak membuka matanya dan apa yang dia lakukan tampak natural.Jess memperhatikan tindakannya dan hatinya menjadi hanga
Mata sipit Maxime sedikit menyipit. "Apa itu?"Sulit untuk menyembunyikan ketegangan di wajah Morgan."Itu cuma koran. Aku bosan dan mau mengisi waktu luang. Jangan diambil, ya?"Melihat raut wajahnya, Maxime tahu bahwa itu jelas bukan koran biasa.Maxime kembali menepis Morgan, berjalan dengan cepat untuk mengambil koran itu.Maxime membukanya dan isinya penuh dengan informasi tentang Jess.Morgan menerjang ke arah Maxime, seolah-olah rahasianya telah terbongkar.Namun, dengan kondisi fisiknya saat ini, Maxime bisa menghindar dengan mudah.Suara Morgan terdengar serak, "Kembalikan, ini milikku!"Maxime menatapnya dengan acuh."Sepertinya kamu lebih peduli sama asistenmu itu daripada Nana."Morgan tersipu malu."Apa kamu bercanda? Siapa juga yang suka sama dia. Aku nggak tertarik sedikit pun sama dia."Dia masih bersikap keras kepala.Maxime bisa melihatnya. Aktingnya benar-benar sangat kentara."Kalau begitu akan aku bawakan koran lain biar kamu bisa baca."Setelah mengatakan itu, Max
"Sekarang, semuanya sudah jelas, jadi mulai sekarang kamu nggak perlu menjagaku lagi. Aku baik-baik saja," kata Reina.Namun, Maxime menggelengkan kepalanya. "Nggak, sekarang aku nggak terbiasa."Dia mengikuti Reina setiap hari, jadi tidak terbiasa jika harus terpisah darinya.Reina tidak berdaya ketika melihat ini."Baiklah, tapi kamu harus berubah secara perlahan."Terus menempel pada orang lain juga cukup merepotkan.Dia juga menginginkan waktu untuk dirinya sendiri.Maxime mengiakan, "Ya, terserah kamu saja."Keesokan harinya.Maxime benar-benar tidak mengikuti Reina ke tempat kerja. Dia mengutus seseorang untuk menjaganya, sementara dia sendiri kembali ke IM Group untuk bekerja.Ketika Gaby dan Sisil mengetahui bahwa Maxime telah kembali ke IM Group, mereka semua terlihat terkejut."Kenapa Pak Maxime tiba-tiba berubah pikiran?" Gaby terkejut.Sisil berbisik, "Bos, apa kalian bertengkar?"Reina menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, hubungan kami baik-baik saja. Aku mencoba bicara ba