Reina pun tidak menolak dan memutuskan untuk tinggal di rumah Revin untuk merawatnya.Sore harinya, dokter pribadi datang memeriksa kondisi Revin sekaligus mengganti perban.Reina duduk di samping sambil menelepon Riki. Begitu panggilan video itu tersambung, muncullah wajah putih imut Riki, "Ma, kok tumben telepon? Kenapa?"Karena ada Joanna, Riki tidak bertanya apa Reina sudah ketemu Revin atau belum."Oh nggak apa-apa, Mama cuma mau cek kondisimu ... " di rumah ....Sebelum Reina selesai bicara, tiba-tiba dia mendengar suara familier dari ujung telepon, "Riki sayang, kamu lagi nelpon siapa?"Riki hendak mematikan teleponnya saat Joanna ternyata sudah datang menghampiri dan melihat Reina di layar ponselnya.Di depan cucunya, Joanna tidak berani menyalahkan Reina yang sudah meninggalkan Riki sendirian. Dia pun berkata dengan ramah."Oh Nana, kamu ke mana Na? Kok jam segini belum pulang?"Reina yang tidak mau cari masalah pun berbohong, "Ah, perusahaan pribadiku ada masalah, jadi aku ke
"Oke, aku berangkat sekarang." Revin pun menutup telepon.Maxime hampir membunuhnya. Orang sebaik apa pun tidak mungkin akan tinggal diam.Sekarang karena Maxime sendiri yang datang menyerahkan diri, Revin tentu tidak akan melepaskannya.Saat duduk di dalam mobil, Revin bahkan bertanya-tanya apa Reina akan mempertimbangkan untuk bersamanya kalau Maxime meninggal.Begitu ide itu terbersit di benaknya, Maxime langsung menggeleng kuat-kuat.Maxime adalah ayah dari anak-anak Reina. Kalau pria itu sampai meninggal di tangannya, bisa jadi Reina tidak akan memaafkan Revin selamanya.Kali ini Revin hanya ingin balas dendam, dia tidak menginginkan nyawa Maxime.Erik masih terus bicara dengannya di telepon, "Kak, pengawal Maxime itu lumayan hebat. Tapi, aku sudah punya cara menyuruhnya keluar.""Apa caranya?"Rahasia."Erik menutup telepon.Dia tidak memberi tahu Revin kalau dia sudah meretas ponsel Reina sehingga dia bisa memakai nomor Reina untuk mengirim pesan ke ponsel Maxime. Dalam pesan it
Teleponnya tidak tersambung.Revin tidak meneleponnya lagi. Tadi lukanya memang terbuka lagi dan sekarang dokter sedang menjahit lukanya.Setelah selesai, Revin pun keluar.Reina menunggunya dengan berdiri dan bersandar di dinding koridor rumah sakit.Melihat Reina seperti ini, Revin tiba-tiba menjadi sangat ketakutan. Dia takut Reina akan marah dan menyalahkannya."Nana, aku mau bilang sesuatu."Reina menatapnya dengan bingung, "Ada apa?""Tadi aku ... pergi ketemu Maxime." Jeda sejenak, lalu Revin melanjutkan, "Aku balas dendam."Tiba-tiba hati Reina bergetar.Meski dia tidak lagi mencintai Maxime seperti dulu, bagaimanapun juga Maxime adalah ayah dari anak-anaknya."Dia ada di sini?" Reina bertanya lebih dulu."Ya."Kalau Maxime tidak datang ke sini, Revin tidak mungkin sukses balas dendam."Lalu, di mana dia sekarang?"Reina tidak bisa menjelaskan perasaannya, yang satu adalah teman yang sudah menyelamatkan hidupnya dan yang seorang lain adalah ayah dari anak-anaknya. Reina harus b
Begitu ditelepon, Reina langsung mengangkatnya.Maxime tidak buka mulut duluan, Reina juga diam saja.Maxime menyuruh semua orang di kamarnya keluar, setelah itu dia berkata, "Kok nggak ngomong?"Reina benar-benar lega saat mendengar suara dingin Maxime."Sekarang kamu ada di mana?""Kamu lagi sama Revin?"Wajar kalau Maxime curiga, dia bisa terluka seperti ini karena dia terlalu ceroboh."Dia pergi keluar, sekarang aku ada di kamar sendirian." Reina paham, Maxime mengikutinya ke Astania karena pria itu tidak bisa memercayainya. Reina tidak terus menginterogasinya dan hanya bertanya, "Kamu ngapain di Astania?""Kerja."Tentu saja Maxime tidak akan mengaku dia datang ke sini karena mengkhawatirkan Reina.Meski tidak memercayai alasan ini, Reina tidak membongkar kedok Maxime."Terus kapan kerjaanmu selesai? Cepat pulang aja."Reina tahu ada banyak orang yang menginginkan nyawa Maxime, bukan cuma Revin.Dulu di awal pernikahan mereka, Maxime beberapa kali hampir meninggal di luar negeri.
Reina terdiam cukup lama, lalu menjawab, "Dalam hal ini, kamu salah. Kamu duluan menyerang dia."Amarah Maxime hampir meledak.Anjing saja tahu harus membela tuannya. Reina ini istrinya, tapi dia malah membela orang lain.Maxime pun tidak bicara lagi. Saat ini Ekki yang berada di luar agak panik. Orang Revin memaksa masuk, kalau sampai masuk, situasinya jadi agak sulit dikendalikan.Karena Maxime diam saja, Reina pikir Maxime mematikan telepon karena marah. Reina menatap ponselnya dan mendapati panggilan masih terhubung."Maxime?""Belum mati.""...""Boleh lepasin Erik nggak?" Reina bertanya dengan cemas.Maxime tidak marah dan malah balik bertanya, "Kenapa? Kamu nggak dengar tadi dia bilang apa? Kalau ada kesempatan lain, dia bakal membunuhku?""Kayaknya kamu mau banget aku mati? Kamu mau cari pria lain setelah aku mati?"Reina terlalu malas meladeni omong kosong Maxime dan menjelaskan, "Sekarang itu posisinya Erik lagi kamu tangkap, dia aja nggak yakin bisa selamat atau nggak. Udah
Para bawahan memapah Erik masuk.Erik menutupi perutnya dan berkata, "Aku nggak nyangka pria itu sekuat itu. Jumlah kita begitu banyak, dia aja buta, tapi kita tetap nggak bisa ngalahin dia.""Ekki itu ternyata juga sangat kuat. Dia benar-benar menipuku."Melihat kondisi Ekki yang seperti ini, Revin pun spontan menegurnya, "Sudah, jangan banyak bicara."Kalau bukan karena Reina, Maxime tidak mungkin mengampuni nyawa Erik.Erik tetap mengoceh dan hendak melanjutkan pembicaraan saat dia melihat Reina duduk di sofa, sepasang mata jernih tertuju padanya.Dalam perjalanan pulang, Erik mengetahui dari Revin kalau Reina meminta Maxime untuk melepaskannya.Erik tidak mengubah ekspresi wajahnya. Namun, saat menatap Reina, tatapan matanya yang awalnya begitu dingin terlihat agak lembut, namun cuma sedikit saja.Revin juga melihat Reina, dia pun bertanya, "Kok kamu nggak tidur?""Nggak bisa tidur."Reina berdiri.Para bawahan mendudukkan Erik di sofa. Tubuh Erik berlumuran darah, bahkan bernapas
Saat Reina bangun, cuaca di luar sangat cerah.Reina melirik layar ponselnya dan mendapati sekarang sudah jam 12 siang.Saat hendak bangun, Maxime mengiriminya pesan, "Kapan kamu pulang?"Reina yang belum yakin pun tidak membalasnya.Begitu Reina keluar kamar, seorang pelayan langsung menghampirinya, "Nona, perlengkapan mandimu sudah kami siapkan. Silakan, ikut saya."Karena mereka tidak yakin dengan identitas Reina, para pelayan pun hanya bisa memanggilnya Nona.Reina mengangguk, "Terima kasih."Setelah mandi, pelayan membawanya ke ruang makan.Di dalam ruang makan.Revin duduk di salah satu kursi dan Erik duduk di seberangnya.Erik sudah terlihat jauh lebih baik. Dia sudah ganti baju dan wajahnya sudah mulai merona. Saat ini dia sedang asyik makan seperti orang normal.Revin sendiri tidak makan, dia sedang duduk sambil membaca sebuah dokumen.Saat mendengar suara langkah kaki Reina mendekat, Revin langsung menyimpan dokumen itu dan menatapnya, "Ayo sini, makan.""Oke."Reina berjalan
Revin tercekat, dia paham maksud Reina.Reina berujar dengan nada bersalah, "Riko dan Riki ada di sana sendirian, aku nggak bisa di sini lama-lama."Ekspresi Revin tidak berubah, namun sinar matanya terlihat sayu."Kamu mau pulang kapan?""Lusa."Revin sebenarnya tidak perlu dirawat Reina karena kedatangan Reina setara dengan kunjungan teman biasa.Mendengar Reina akan kembali lusa, Revin pun tidak berkomentar dan hanya mengangguk pelan."Kamu sudah kenyang?""Ya.""Kalau begitu, ayo jalan-jalan?""Oke."Keduanya pergi jalan-jalan bersama.Dulu, Revin sering datang menemui Reina, berjalan-jalan dan ngobrol bersama.Sekarang mereka seperti kembali ke masa lalu. Berjalan bersama Revin di jalan Astania, mengobrol tentang masa lalu, membuat Reina tanpa sengaja lupa membalas pesan Maxime.Saat ini, di Hotel Revontal, Maxime terus memegang ponselnya dan menunggu pesan balasan Reina.Ekki mengetuk pintu dan masuk, "Bos.""Ada apa?""Nyonya dan Revin sedang jalan-jalan di pusat kota." Ekki jug
Reina menutup telepon dan akhirnya merasa lega.Selama Syena tidak melakukan sesuatu yang buruk, semuanya tidak apa-apa.Dia sudah makin berumur dan hanya ingin menjalani hidupnya dengan baik.Jika Syena melakukan sesuatu yang salah lagi, dia akan menghabisinya....Musim semi berganti menjadi musim gugur.Waktu berlalu dalam sekejap.Dalam sekejap mata, rambut Reina pun dipenuhi dengan uban. Saat ini, Reina hampir berusia tujuh puluh tahun.Beberapa anak laki-lakinya akhirnya menikah. Anak-anak Riko dan Riki sudah duduk di bangku sekolah dasar.Reina mengambil ponselnya. Pada hari itu, dia mendengar anak buahnya berkata, "Bos, Marshanda meninggal."Meninggal adalah sebuah kata yang sering didengar Reina di masa tuanya.Selama bertahun-tahun, mertuanya juga sudah meninggal dunia.Mantan saudara perempuannya, Brigitta, juga meninggal tahun lalu.Ethan menyusul pada paruh pertama tahun ini.Hanya Erina dan suaminya yang tersisa untuk menjaga bisnis Keluarga Yusdwindra.Suami yang Erina d
Sisca pergi ke sekolah dan hendak meminta guru untuk memanggil Talitha. Namun, dia melihat Talitha berdiri di depan gedung sekolah dari kejauhan.Di seberang Talitha ada Syena!Ekspresi Sisca langsung berubah.Dia berjalan cepat menghampiri keduanya. "Talitha."Talitha menoleh ke arahnya. "Ibu."Syena langsung marah mendengar putrinya memanggil wanita lain dengan sebutan ibu."Talitha, aku ini ibumu, dia nggak ada hubungan darah denganmu."Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, wajah Syena sangat pucat dan kuyu. Tatapan matanya menatap Sisca lekat-lekat.Sisca juga tidak merasa terintimidasi olehnya, menarik putrinya untuk berdiri di sisinya."Syena, saat itu kamulah yang nggak menginginkan Talitha. Sekarang, kamu ingin mendapatkan anakmu lagi?"Talitha menimpali, "Aku cuma punya satu ibu, namanya Sisca. Nama keluargaku juga Santiago. Jadi, kamu pergi saja dan berhenti mencariku."Mendengar apa yang dikatakan putrinya, gelenyar kelegaan menyelimuti benak Sisca.Syena terlihat makin mura
Reina beranjak dan melangkah pergi.Marshanda menatap punggungnya dan tiba-tiba berdiri. "Reina."Langkah kaki Reina terhenti dan dia berbalik untuk menatapnya.Tiba-tiba, mata Marshanda menjadi sedikit memerah."Reina! Aku merasa sepertinya aku melakukan kesalahan."Selama sepuluh tahun terakhir, Marshanda telah bermimpi tentang masa lalu hingga berulang kali.Mimpi itu terjadi di masa lalu, ketika dia baru dijemput oleh Anthony.Saat itu, dia tidak memiliki niat licik. Saat pertama kali bertemu Reina, dia merasa bahwa Reina sangat baik.Reina akan memberinya pakaian yang bagus untuk dipakai!Memberikan makanan yang enak untuknya!Reina juga akan berbagi uang saku dengannya!Mungkin karena dia makin tua, ingatannya tentang ketika dia masih muda menjadi begitu jelas, dia pun bernostalgia.Mendengar Marshanda mengakui kesalahannya, Reina menunjukkan kerumitan di antara kedua alisnya."Itu semua sudah berlalu."Dia hanya mengatakan beberapa kata tanpa menyebutkan maaf.Marshanda memperha
Riki benar-benar tidak berubah, ucapannya sangat manis dan masih terus menempel kepadanya.Maxime hendak mengatakan sesuatu tentangnya.Riki melepaskan pelukannya pada Reina dan memujinya."Papa, hari ini Papa bersinar banget dan makin jantan saja. Aku mau belajar dari Papa."Maxime tidak terbujuk oleh perkataannya. "Kalau mau belajar dariku, ikuti kakakmu dan uruslah perusahaan keluarga."Riki menggaruk-garuk kepalanya ketika diminta mengurus perusahaan.Sayangnya, dia benar-benar tidak suka menjadi bos.Dia hanya ingin menjadi seorang penyanyi.Dia mewarisi bakat musik yang kuat dari Reina dan merupakan penyanyi generasi baru.Reina juga memahami kebenaran bahwa setiap anak memiliki potensinya sendiri dan keempat anaknya pun berbeda."Sudah, biarkan Riki melakukan apa pun yang dia inginkan, toh ada Riko yang ngurus perusahaan.""Atau nanti kalau Leo dan Liam sudah besar, mereka juga bisa bantu ngurus perusahaan."Maxime langsung diam begitu Reina berbicara.Riki berterima kasih kepad
Revin memang cukup terlambat saat menikah. Belakangan, dia menelepon Reina dan mengatakan bahwa dia punya anak.Maxime sedikit tercengang. "Dia punya anak dari mana? Bukannya dia nggak nikah?"Sejujurnya, Maxime juga mengagumi Revin.Sebagai seorang pria, dia sangat menyukai Reina dengan sepenuh hati dan perasannya tidak pernah berubah.Maxime menduga bahwa Revin tidak pernah menikah karena Reina.Setiap kali mendengar tentang Revin, Maxime langsung ketakutan, takut pria ini akan datang dan merebut istrinya."Katanya sih bayi tabung," kata Reina.Maxime mendengarkan dengan serius. "Siapa ibu dari anak itu?"Reina menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu, katanya sih rahasia dan nggak ada yang tahu siapa ibu dari anak itu. Tapi, Revin sangat luar biasa. Gen yang dia pilih pasti sangat bagus juga."Mendengar ini, Maxime mengangguk setuju.Hatinya sangat lega.Dia sudah sangat tua, sekarang Revin akhirnya memiliki seorang anak sendiri. Dia seharusnya tidak lagi akan memiliki ketertarikan
Jess tidak tahu apa yang ada di pikiran Erik. Dia mengangkat tangannya dan menepuk pundaknya. "Bodoh, mana mungkin aku nikah sama orang lain, aku saja sudah punya kamu sama anak kita."Erik menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Aku tahu kalau istriku ini memang sangat mencintaiku. Cuma aku, 'kan?"Jess ragu-ragu sejenak, tetapi dengan cepat mengangguk."Ya, tentu saja."Keraguannya yang sangat tipis ini masih bisa ditangkap oleh Erik.Itu juga pertama kalinya Erik menyadari bahwa dia bisa menjadi begitu peka dan perasa, seperti seorang wanita.Dulu, hanya wanita yang selalu khawatir dia macam-macam. Sekarang, keadaan berbalik dan dia selalu mengkhawatirkan Jess.Ada pepatah yang ternyata memang benar.Jika dunia bertanya apa itu cinta, cinta adalah sesuatu yang bisa menaklukkan segalanya.Jess adalah orang yang bisa menaklukkannya....Lima belas tahun telah berlalu.Tanpa disadari, keempat putra Reina dan Maxime telah tumbuh dewasa dan semuanya sangat tampan.Riko adalah yang paling
Entah kebetulan atau tidak, Jess yang saat itu berada jauh di Kota Simaliki juga bermimpi.Dalam mimpi itu, dia benar-benar menikah dengan Morgan dan memiliki seorang anak.Ketika terbangun dari mimpi itu, entah kenapa hati Jess terasa kosong. Dia tidak tahu kenapa ada emosi rumit di dalam hatinya.Dia menoleh ke samping, melihat seorang anak kecil yang sedang tidur di sampingnya.Di sisi anak itu ada suaminya, Erik.Wajah pria itu terlihat tampan saat tidur. Saat sinar matahari menyinarinya, dia terlihat makin memukau.Sudut mulut Jess tanpa sadar terangkat. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh putranya yang menggemaskan, sebelum meletakkan tangannya di sisi wajah Erik dan menyentuhnya.Erik merasakan sentuhan di wajahnya. Dengan mata terpejam, dia mengangkat tangannya dan meraih tangan Jess, menariknya ke pelukannya."Tanganmu dingin? Sini aku hangatkan." Dia bahkan tidak membuka matanya dan apa yang dia lakukan tampak natural.Jess memperhatikan tindakannya dan hatinya menjadi hanga
Mata sipit Maxime sedikit menyipit. "Apa itu?"Sulit untuk menyembunyikan ketegangan di wajah Morgan."Itu cuma koran. Aku bosan dan mau mengisi waktu luang. Jangan diambil, ya?"Melihat raut wajahnya, Maxime tahu bahwa itu jelas bukan koran biasa.Maxime kembali menepis Morgan, berjalan dengan cepat untuk mengambil koran itu.Maxime membukanya dan isinya penuh dengan informasi tentang Jess.Morgan menerjang ke arah Maxime, seolah-olah rahasianya telah terbongkar.Namun, dengan kondisi fisiknya saat ini, Maxime bisa menghindar dengan mudah.Suara Morgan terdengar serak, "Kembalikan, ini milikku!"Maxime menatapnya dengan acuh."Sepertinya kamu lebih peduli sama asistenmu itu daripada Nana."Morgan tersipu malu."Apa kamu bercanda? Siapa juga yang suka sama dia. Aku nggak tertarik sedikit pun sama dia."Dia masih bersikap keras kepala.Maxime bisa melihatnya. Aktingnya benar-benar sangat kentara."Kalau begitu akan aku bawakan koran lain biar kamu bisa baca."Setelah mengatakan itu, Max
"Sekarang, semuanya sudah jelas, jadi mulai sekarang kamu nggak perlu menjagaku lagi. Aku baik-baik saja," kata Reina.Namun, Maxime menggelengkan kepalanya. "Nggak, sekarang aku nggak terbiasa."Dia mengikuti Reina setiap hari, jadi tidak terbiasa jika harus terpisah darinya.Reina tidak berdaya ketika melihat ini."Baiklah, tapi kamu harus berubah secara perlahan."Terus menempel pada orang lain juga cukup merepotkan.Dia juga menginginkan waktu untuk dirinya sendiri.Maxime mengiakan, "Ya, terserah kamu saja."Keesokan harinya.Maxime benar-benar tidak mengikuti Reina ke tempat kerja. Dia mengutus seseorang untuk menjaganya, sementara dia sendiri kembali ke IM Group untuk bekerja.Ketika Gaby dan Sisil mengetahui bahwa Maxime telah kembali ke IM Group, mereka semua terlihat terkejut."Kenapa Pak Maxime tiba-tiba berubah pikiran?" Gaby terkejut.Sisil berbisik, "Bos, apa kalian bertengkar?"Reina menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, hubungan kami baik-baik saja. Aku mencoba bicara ba