Sesudah mendengarkan kata-kata Melisha, para ibu tampak merasa percaya diri dan tidak menganggap serius kata-kata Reina.Pemungutan suara berakhir dan tentu Melisha terpilih sebagai ketua.Anehnya, seperempat suara ternyata memilih Reina.Reina yang bingung pun melihat sekeliling dan mendapati ada seorang ibu yang terlihat anggun dan berpendidikan sedang tersenyum lembut padanya.Sesudah pertemuan berakhir, para ibu yang berpihak pada Reina mendatanginya."Mama Riko, terima kasih.""Terima kasih?" Reina sedikit bingung.Kemudian wanita itu berkata, "Apa kamu ingat mama Cosco?"Reina langsung ingat kejadian perkelahian Riko beberapa hari yang lalu.Cosco adalah salah satu dari anak-anak yang dipukuli. Mama Cosco sangat cantik dan menarik, sayangnya dia hanya selingkuhan.Reina mengetahui hal ini berkat informasi yang diberikan oleh mama Diera.Dari berita Reina juga tahu kalau mama Cosco sangat arogan dan berani melabrak istri pertama selingkuhannya sampai dirawat di rumah sakit karena
Tommy tentu bisa melihat Riko sedang berpura-pura. Dia mengangkat tangannya dan hendak memukul Riko.Riko menoleh dengan dingin dan membuat Tommy langsung menurunkan tangannya dan pergi dengan enggan.Tommy frustrasi karena tidak bisa mengalahkan Riko. Berkelahi tidak bisa, adu mulut juga pasti kalah.Padahal jelas-jelas hubungan mereka awalnya baik, sekarang jadi kaku. Tommy sangat menyesal.Sepulang sekolah.Tommy terbaring dengan menyedihkan di sofa.Melihatnya seperti ini, Melisha pun khawatir, "Nak, kamu kenapa?""Ma, aku mau minta maaf sama Riko."Tommy kesal sama Riki, tapi tidak dengan Riko.Melisha langsung marah mendengarnya, "Ngapain kamu minta maaf? Kamu itu anakku, ngapain kamu harus minta maaf sama anak haram itu!"Melihat mamanya marah, Tommy pun tidak berani mengungkit lagi.Melisha kembali menasihatinya, "Tommy, kamu nggak boleh temenan sama kedua anak haram itu.""Kalian semua adalah anggota Keluarga Sunandar dari generasi yang sama. Papamu selalu ada di belakang Maxi
Waktu Reina bangun dan membaca pesan dari Melisha, ingin sekali rasanya dia marah.Melisha benar-benar seorang pembujuk yang membual. Tapi perkataannya memang benar, semua orang sudah dewasa, kenapa semudah itu dibujuk dalam investasi?Grup pun hening, tidak ada yang berani berkata macam-macam pada Melisha.Bagaimanapun, mereka tidak bisa menyinggung Melisha karena anak-anak mereka satu sekolah dengan anak Melisha dan mereka juga tinggal di Kota Simaliki.Tapi masa uang mereka terbuang percuma?Mereka tidak mau menyerah!Akhirnya mereka teringat akan Reina dan semuanya minta maaf padanya. Mereka bilang akan memilih Reina di pemilihan ketua Komite Orangtua Murid tahun depan.Reina hanya membaca pesan itu dan tidak membalas.Mama Bobby juga mengirimkan pesan, "Mama Riko, sudah baca grup? Sekarang semua orang yang mengkhianatimu sangat menyesal!"Reina tahu bahwa Mama Bobby ini tulus padanya, jadi Reina memotret layarnya dan menunjukkan berapa banyak orang yang mencarinya.Mama Bobby meng
Reina hendak menelepon Ari, tidak disangka pria itu malah meneleponnya duluan."Nana, sudah dengar lagu baruku?" kata Ari bersemangat.Reina benar-benar tidak ingin merusak kegembiraannya saat ini, jadi dia tidak bilang bahwa dia sudah melihat iklannya."Belum, lagu barumu sudah keluar?""Iya, coba dengar, bagus nggak?"Ari seperti anak kecil yang polos dan matanya berbinar penuh harap."Oke."Reina pun menutup telepon dan mendengarkan lagu Ari.Reina membuka internet dan langsung melihat lagu Ari berada di peringkat kedua, mungkin sebentar lagi akan menduduki peringkat pertama.Reina mendengarkannya. Suara Ari sangat jernih dan membawakan lagu itu dengan penuh emosi, sangat menyentuh sanubari.Reina juga melihat MV lagu dan ternyata banyak sekali foto tentang kehidupan di Afrika.Reina terhanyut dalam lagu Ari dan tidak lupa kalau dia harus bertanya tentang tujuan Ari sebenarnya ke Afrika.Saat ini pencarian tentang Ari di Internet pun membeludak. Kotak donasi dibuka di mana-mana.Ban
Ekki memberi tahu Maxime kalau sekarang Ari malah jadi lebih populer.Suasana hati Maxime jadi memburuk, "Apa selera wanita zaman sekarang sejelek itu?"Menurut Maxime, para artis itu sama seperti orang yang menjual diri.Ekki sebenarnya mau bilang kalau tunangannya juga penggemar Ari. Bagaimanapun, Ari adalah pria ras campuran yang tampan, punya suara yang bagus, punya kepribadian yang baik, baik hati dan imut.Begitulah tunangan Ekki menggambarkan sosok Ari.Ekki juga pernah bertanya pada tunangannya siapa yang akan dia selamatkan duluan kalau Ekki dan Ari tenggelam bersamaan, jawabannya tentu saja ...."Bos, artis berengsek seperti ini paling sebentar lagi juga bakal dilupakan ....""Kalau Bos beneran nggak suka dia, kita bisa bikin nama dia tercoreng di dunia selebriti."Ekki juga tidak menyukai Ari.Maxime tidak menyetujui gagasan Ekki, karena kalau sampai ketahuan Reina, dia pasti harus minta maaf. Bukannya untung, Maxime malah bisa buntung."Nggak usah buru-buru, kita lakukan pe
Reina terkejut dengan rencana ini."Kok tiba-tiba?""Cuma makan, sekalian nonton sesuatu yang bagus." Maxime tidak banyak menjelaskan.Reina pun tidak bertanya lebih lanjut. Dia mengganti baju Riki, lalu ketiganya naik mobil menuju kediaman utama Keluarga Sunandar.Di sana, Tuan Besar Latief sedang duduk di kursi singgasananya dengan ekspresi yang sangat tidak enak dilihat.Kalau bukan karena Tommy, cicitnya duduk di sebelahnya, sudah dari tadi Tuan Besar Latief membunuh Rendy.Saat ini, di ruang tamu.Mertua Rendy duduk di kedua sisi, sementara Rendy dan istrinya harus berdiri sebagai hukuman."Kakek, aku beneran nggak nyangka Grup IM bakal nyusahin aku. Kalau bukan karena mereka, aku pasti bisa mengambil alih sebagian besar pasar di Kota Simaliki." Rendy masih membual.Tuan Besar Latief yang cerdik tentu langsung meminta orang menyelidiki kasus ini setelah tahu Rendy sudah rugi triliunan rupiah dan juga terlilit utang.Pembelian saham grup apaan?Kedengarannya seperti proyek inovatif
Tuan Besar Latief tidak menyangka Maxime sekeluarga akan datang. Setelah mengangguk kecil, dia bertanya pada Maxime, "Max, kok kamu nggak ngajak Riko?"Dia juga mau melihat cicitnya yang lain.Semua orang di sekitar Tuan Besar Latief sudah menyelidiki tentang Riko dan memberitahunya betapa cerdasnya anak itu. Saat terakhir kali dalam bahaya, dia tetap bisa tenang, persis seperti Maxime."Beberapa hari ini Riko akan tinggal di kediaman Keluarga Tambolo.""Lagi-lagi di sana! Jacob itu memang nggak tahu diri. Gara-gara nggak punya cicit, dia malah menghak milik cicitku!"Saat Tuan Besar Latief mengatakan hal ini, dia terlihat sangat bangga.Tuan Besar Jacob yang berada jauh di sana pun ... bersin ....Tuan Besar Latief melanjutkan, "Kalian duduk dulu, nanti kita makan bareng.""Oke."Maxime sekeluarga pun duduk di ruang tamu.Dengan begini, orangtua Melisha sungkan untuk minta uang atau bantuan.Melisha yang cemas pun menarik tangan Rendy.Rendy tidak punya pilihan selain menebalkan muka
Joanna menghampiri ibu Melisha, "Kemarin waktu aku nggak ada di tempat, katanya kalian minta Riki berlutut dan minta maaf pada Tommy? Benar, 'kan?"Ibu Melisha terpaksa mundur selangkah karena aura Joanna.Joanna mencibir, "Selama ini aku baik sama kalian karena kita masih saudara. Sudah dikasih hati begini masih minta jantung? Beraninya minta cucuku berlutut minta maaf? Kalian pantas?""Bahkan kalau Riki yang menyakiti Tommy, memangnya kenapa?"Orangtua Melisha, Melisha dan Rendy tidak bisa berkata apa-apa.Riki awalnya membenci Joanna, dia cukup terkejut melihat kejadian ini.Sepertinya neneknya tulus membelanya.Joanna belum selesai berkata, "Kudengar bisnis kalian belakangan ini lagi nggak bagus? Hari ini kalian datang mau minjem uang sama Morgan?"Orangtua Melisha tidak berani menatap Joanna."Sekarang kuberitahu jawabannya, mimpi!""Grup Sunandar itu dijalankan oleh kedua putraku. Kenapa kami harus bantu kalian? Kalau kalian mampu, cari aja anak atau menantu kalian sendiri."Pada
Reina menutup telepon dan akhirnya merasa lega.Selama Syena tidak melakukan sesuatu yang buruk, semuanya tidak apa-apa.Dia sudah makin berumur dan hanya ingin menjalani hidupnya dengan baik.Jika Syena melakukan sesuatu yang salah lagi, dia akan menghabisinya....Musim semi berganti menjadi musim gugur.Waktu berlalu dalam sekejap.Dalam sekejap mata, rambut Reina pun dipenuhi dengan uban. Saat ini, Reina hampir berusia tujuh puluh tahun.Beberapa anak laki-lakinya akhirnya menikah. Anak-anak Riko dan Riki sudah duduk di bangku sekolah dasar.Reina mengambil ponselnya. Pada hari itu, dia mendengar anak buahnya berkata, "Bos, Marshanda meninggal."Meninggal adalah sebuah kata yang sering didengar Reina di masa tuanya.Selama bertahun-tahun, mertuanya juga sudah meninggal dunia.Mantan saudara perempuannya, Brigitta, juga meninggal tahun lalu.Ethan menyusul pada paruh pertama tahun ini.Hanya Erina dan suaminya yang tersisa untuk menjaga bisnis Keluarga Yusdwindra.Suami yang Erina d
Sisca pergi ke sekolah dan hendak meminta guru untuk memanggil Talitha. Namun, dia melihat Talitha berdiri di depan gedung sekolah dari kejauhan.Di seberang Talitha ada Syena!Ekspresi Sisca langsung berubah.Dia berjalan cepat menghampiri keduanya. "Talitha."Talitha menoleh ke arahnya. "Ibu."Syena langsung marah mendengar putrinya memanggil wanita lain dengan sebutan ibu."Talitha, aku ini ibumu, dia nggak ada hubungan darah denganmu."Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, wajah Syena sangat pucat dan kuyu. Tatapan matanya menatap Sisca lekat-lekat.Sisca juga tidak merasa terintimidasi olehnya, menarik putrinya untuk berdiri di sisinya."Syena, saat itu kamulah yang nggak menginginkan Talitha. Sekarang, kamu ingin mendapatkan anakmu lagi?"Talitha menimpali, "Aku cuma punya satu ibu, namanya Sisca. Nama keluargaku juga Santiago. Jadi, kamu pergi saja dan berhenti mencariku."Mendengar apa yang dikatakan putrinya, gelenyar kelegaan menyelimuti benak Sisca.Syena terlihat makin mura
Reina beranjak dan melangkah pergi.Marshanda menatap punggungnya dan tiba-tiba berdiri. "Reina."Langkah kaki Reina terhenti dan dia berbalik untuk menatapnya.Tiba-tiba, mata Marshanda menjadi sedikit memerah."Reina! Aku merasa sepertinya aku melakukan kesalahan."Selama sepuluh tahun terakhir, Marshanda telah bermimpi tentang masa lalu hingga berulang kali.Mimpi itu terjadi di masa lalu, ketika dia baru dijemput oleh Anthony.Saat itu, dia tidak memiliki niat licik. Saat pertama kali bertemu Reina, dia merasa bahwa Reina sangat baik.Reina akan memberinya pakaian yang bagus untuk dipakai!Memberikan makanan yang enak untuknya!Reina juga akan berbagi uang saku dengannya!Mungkin karena dia makin tua, ingatannya tentang ketika dia masih muda menjadi begitu jelas, dia pun bernostalgia.Mendengar Marshanda mengakui kesalahannya, Reina menunjukkan kerumitan di antara kedua alisnya."Itu semua sudah berlalu."Dia hanya mengatakan beberapa kata tanpa menyebutkan maaf.Marshanda memperha
Riki benar-benar tidak berubah, ucapannya sangat manis dan masih terus menempel kepadanya.Maxime hendak mengatakan sesuatu tentangnya.Riki melepaskan pelukannya pada Reina dan memujinya."Papa, hari ini Papa bersinar banget dan makin jantan saja. Aku mau belajar dari Papa."Maxime tidak terbujuk oleh perkataannya. "Kalau mau belajar dariku, ikuti kakakmu dan uruslah perusahaan keluarga."Riki menggaruk-garuk kepalanya ketika diminta mengurus perusahaan.Sayangnya, dia benar-benar tidak suka menjadi bos.Dia hanya ingin menjadi seorang penyanyi.Dia mewarisi bakat musik yang kuat dari Reina dan merupakan penyanyi generasi baru.Reina juga memahami kebenaran bahwa setiap anak memiliki potensinya sendiri dan keempat anaknya pun berbeda."Sudah, biarkan Riki melakukan apa pun yang dia inginkan, toh ada Riko yang ngurus perusahaan.""Atau nanti kalau Leo dan Liam sudah besar, mereka juga bisa bantu ngurus perusahaan."Maxime langsung diam begitu Reina berbicara.Riki berterima kasih kepad
Revin memang cukup terlambat saat menikah. Belakangan, dia menelepon Reina dan mengatakan bahwa dia punya anak.Maxime sedikit tercengang. "Dia punya anak dari mana? Bukannya dia nggak nikah?"Sejujurnya, Maxime juga mengagumi Revin.Sebagai seorang pria, dia sangat menyukai Reina dengan sepenuh hati dan perasannya tidak pernah berubah.Maxime menduga bahwa Revin tidak pernah menikah karena Reina.Setiap kali mendengar tentang Revin, Maxime langsung ketakutan, takut pria ini akan datang dan merebut istrinya."Katanya sih bayi tabung," kata Reina.Maxime mendengarkan dengan serius. "Siapa ibu dari anak itu?"Reina menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu, katanya sih rahasia dan nggak ada yang tahu siapa ibu dari anak itu. Tapi, Revin sangat luar biasa. Gen yang dia pilih pasti sangat bagus juga."Mendengar ini, Maxime mengangguk setuju.Hatinya sangat lega.Dia sudah sangat tua, sekarang Revin akhirnya memiliki seorang anak sendiri. Dia seharusnya tidak lagi akan memiliki ketertarikan
Jess tidak tahu apa yang ada di pikiran Erik. Dia mengangkat tangannya dan menepuk pundaknya. "Bodoh, mana mungkin aku nikah sama orang lain, aku saja sudah punya kamu sama anak kita."Erik menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Aku tahu kalau istriku ini memang sangat mencintaiku. Cuma aku, 'kan?"Jess ragu-ragu sejenak, tetapi dengan cepat mengangguk."Ya, tentu saja."Keraguannya yang sangat tipis ini masih bisa ditangkap oleh Erik.Itu juga pertama kalinya Erik menyadari bahwa dia bisa menjadi begitu peka dan perasa, seperti seorang wanita.Dulu, hanya wanita yang selalu khawatir dia macam-macam. Sekarang, keadaan berbalik dan dia selalu mengkhawatirkan Jess.Ada pepatah yang ternyata memang benar.Jika dunia bertanya apa itu cinta, cinta adalah sesuatu yang bisa menaklukkan segalanya.Jess adalah orang yang bisa menaklukkannya....Lima belas tahun telah berlalu.Tanpa disadari, keempat putra Reina dan Maxime telah tumbuh dewasa dan semuanya sangat tampan.Riko adalah yang paling
Entah kebetulan atau tidak, Jess yang saat itu berada jauh di Kota Simaliki juga bermimpi.Dalam mimpi itu, dia benar-benar menikah dengan Morgan dan memiliki seorang anak.Ketika terbangun dari mimpi itu, entah kenapa hati Jess terasa kosong. Dia tidak tahu kenapa ada emosi rumit di dalam hatinya.Dia menoleh ke samping, melihat seorang anak kecil yang sedang tidur di sampingnya.Di sisi anak itu ada suaminya, Erik.Wajah pria itu terlihat tampan saat tidur. Saat sinar matahari menyinarinya, dia terlihat makin memukau.Sudut mulut Jess tanpa sadar terangkat. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh putranya yang menggemaskan, sebelum meletakkan tangannya di sisi wajah Erik dan menyentuhnya.Erik merasakan sentuhan di wajahnya. Dengan mata terpejam, dia mengangkat tangannya dan meraih tangan Jess, menariknya ke pelukannya."Tanganmu dingin? Sini aku hangatkan." Dia bahkan tidak membuka matanya dan apa yang dia lakukan tampak natural.Jess memperhatikan tindakannya dan hatinya menjadi hanga
Mata sipit Maxime sedikit menyipit. "Apa itu?"Sulit untuk menyembunyikan ketegangan di wajah Morgan."Itu cuma koran. Aku bosan dan mau mengisi waktu luang. Jangan diambil, ya?"Melihat raut wajahnya, Maxime tahu bahwa itu jelas bukan koran biasa.Maxime kembali menepis Morgan, berjalan dengan cepat untuk mengambil koran itu.Maxime membukanya dan isinya penuh dengan informasi tentang Jess.Morgan menerjang ke arah Maxime, seolah-olah rahasianya telah terbongkar.Namun, dengan kondisi fisiknya saat ini, Maxime bisa menghindar dengan mudah.Suara Morgan terdengar serak, "Kembalikan, ini milikku!"Maxime menatapnya dengan acuh."Sepertinya kamu lebih peduli sama asistenmu itu daripada Nana."Morgan tersipu malu."Apa kamu bercanda? Siapa juga yang suka sama dia. Aku nggak tertarik sedikit pun sama dia."Dia masih bersikap keras kepala.Maxime bisa melihatnya. Aktingnya benar-benar sangat kentara."Kalau begitu akan aku bawakan koran lain biar kamu bisa baca."Setelah mengatakan itu, Max
"Sekarang, semuanya sudah jelas, jadi mulai sekarang kamu nggak perlu menjagaku lagi. Aku baik-baik saja," kata Reina.Namun, Maxime menggelengkan kepalanya. "Nggak, sekarang aku nggak terbiasa."Dia mengikuti Reina setiap hari, jadi tidak terbiasa jika harus terpisah darinya.Reina tidak berdaya ketika melihat ini."Baiklah, tapi kamu harus berubah secara perlahan."Terus menempel pada orang lain juga cukup merepotkan.Dia juga menginginkan waktu untuk dirinya sendiri.Maxime mengiakan, "Ya, terserah kamu saja."Keesokan harinya.Maxime benar-benar tidak mengikuti Reina ke tempat kerja. Dia mengutus seseorang untuk menjaganya, sementara dia sendiri kembali ke IM Group untuk bekerja.Ketika Gaby dan Sisil mengetahui bahwa Maxime telah kembali ke IM Group, mereka semua terlihat terkejut."Kenapa Pak Maxime tiba-tiba berubah pikiran?" Gaby terkejut.Sisil berbisik, "Bos, apa kalian bertengkar?"Reina menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, hubungan kami baik-baik saja. Aku mencoba bicara ba