Reina menengadah dan kebetulan bertatapan dengan Melisha."Kenapa kamu sendirian di sini? Mau ngobrol nggak sama yang lain?" tanya Melisha."Nggak perlu, terima kasih. Aku lebih suka sendirian," jawab Reina.Melisha tersenyum tipis, "Oke deh."Reina pikir Melisha akan langsung pergi, tidak disangka Melisha malah duduk di samping Reina.Melihat Reina menatap dirinya, Melisha pun berkata, "Sebenarnya aku juga nggak suka keramaian. Kebetulan kamu sendiri, aku juga sendiri. Ya sudah kita berdua aja."Reina jadi tidak enak hati menolaknya.Ditambah, sekarang dia berada di kediaman Keluarga Sunandar, tidak mungkin 'kan dia mengusir orang?Reina menatap ke kejauhan, di mana para senior Keluarga Sunandar saling bercengkrama.Melisha menyesap anggurnya sambil menatap gelas yang ada di depan Reina.Tatapan Melisha terlihat licik, dia berpura-pura mengangkat teleponnya seolah baru melihat berita terkini."Nana, lihat deh ...."Dia menyerahkan ponselnya pada Reina.Reina mengernyit bingung, dia me
Saat ini Reina yang duduk sendirian di pojokan pun mulai merasa tidak nyaman.Reina familiar dengan perasaan seperti ini, dia pun langsung berdiri dan ingin pergi.Melisha buru-buru menghampirinya, "Nana, kamu sudah mau balik?""Yah, aku nggak enak badan, aku duluan ya.""Kalau gitu ayo aku antar. Lagian aku lagi nggak ada urusan," ucap Melisha sambil melihat sekeliling, "Ngomong-ngomong, mana Max?""Dia pergi, ada perlu," jawab Reina.Melisha akhirnya merasa lega, "Oh, kalau gitu aku antar aja biar kamu nggak nyasar."Reina ingin menolak, tapi Melisha tidak mau pergi dan mengikutinya."Nggak perlu, aku ingat jalannya kok." Lagipula kalau lupa, dia bisa bertanya pada pelayan.Reina mempercepat langkah, tetapi langkahnya terasa ringan dan kepalanya terasa pusing.Melisha bisa melihat ketidaknyamanan Reina, jadi mana mungkin dia membiarkan Reina pergi sendirian."Nggak apa-apa, nggak usah sungkan, kita 'kan keluarga," kata Melisha sambil tersenyum.Reina benar-benar tidak punya pilihan s
Di dalam rumah, Rendy sudah melepas pakaiannya dan hendak mendekati Reina.Tapi Melisha tiba-tiba menghentikannya, "Sayang.""Kenapa?" Rendy kesal melihat Melisha tiba-tiba datang dan mengganggu keasikannya."Maxime sudah pulang, cepat pakai lagi bajumu."Rendy pun menelan kembali nafsunya dan buru-buru mengenakan baju."Aku harus gimana? Kalau Maxime tahu tentangku dan Reina, dia pasti bakal membunuhku!""Sekarang bukan waktunya ngomongin ini. Cepat pakai baju dan sembunyi, biar aku urus tempat ini."Rendy buru-buru menjawab sambil pakai baju, "Kamu harus jelasin lho ya, aku nggak ngapa-ngapain loh.""Aku tahu." Melisha melihat Rendy yang pengecut dengan jijik.Setelah Rendy pergi, Melisha melangkah maju untuk memeriksa Reina."Nana." Melisha menyentuhnya dengan pelan.Reina tidak sadar, jadi dia tidak bisa menjawab.Melisha khawatir dan berharap Maxime tidak segera datang.Setelah menutupi Reina dengan selimut, dia duduk di sofa di dekatnya dan menunggu dengan gugup.Mungkin karena e
Maxime memutar bola matanya, "Aku nggak punya waktu buat jaga kalian"Maxime pun menggendong Reina keluar.Si kembar mau ikut, tapi langsung ditahan oleh para pengasuh."Tuan Muda tolong tetap di rumah saja, jangan mempersulit Tuan Maxime."Riki menolak, "Nggak, aku mau sama mama, kalau nggak aku pasti khawatir."Sebaliknya, Riko yang tenang pun meraih tangan Riki."Lupakan saja, ini sudah malam. Kita tunggu saja kabarnya di rumah. Jangan jadi beban."Melihat perkataan kakaknya, Riki pun menyerah....Sementara itu, Maxime membawa Reina ke dalam mobil dan meminta sopir mengantar ke rumah sakit.Dalam perjalanan, Reina meletakkan tangannya di dada Maxime, "Wah, kekarnya."Reina menepuk dada Maxime dan menelan air liurnya.Maxime mematung, gerakan kecil Reina berhasil membuat darah di tubuhnya seperti mendidih.Dia meraih tangan Reina yang mulai menggerayanginya."Sst, diam."Tapi Reina tidak bisa mengendalikan diri, dia malah ingin makin dekat dengan Maxime.Karena tangannya ditahan Max
Maxime punya banyak urusan kerjaan, karena takut tidak bisa dihubungi untuk hal penting, dia tidak pernah mematikan ponselnya."Nenek, tolong kirim seseorang untuk mencari mama secepatnya." Riki panik setengah mati dan hampir menangis."Oke, oke."Joanna langsung menyuruh pengawal mencari Maxime dan Reina.Morgan pun ikut andil, "Aku juga bantu cari.""Oke."Riko dan Riki akhirnya sedikit merasa lega....Di sisi lain, di dalam hotel.Reina berbaring di kasur sambil mendengar suara air di kamar mandi. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit, seakan habis ditabrak mobil.Begitu teringat akan apa yang terjadi sekitar satu jam yang lalu, Reina sangat malu dan ingin sekali mengubur dirinya di dalam goa.Suara air di kamar mandi tiba-tiba berhenti dan langkah kaki Maxime terdengar mendekat.Reina langsung menutup matanya dan pura-pura tidur.Maxime mendatangi Reina dan tersenyum saat melihat istrinya belum bangun.Maxime tidak tahu, sekarang semua orang sedang mencarinya ke mana-mana.Orang-or
Situasi di sini tentu sampai ke telinga Melisha dan Rendy.Rendy mondar-mandir, "Melisha, menurutmu Maxime bakal tahu sesuatu nggak? Kalau nggak, kenapa dia tiba-tiba menghilang sama Reina?"Melisha juga jadi takut saat melihat Rendy ketakutan."Sayang, menurutku cepat atau lambat sih si Maxime bakal tahu soal kamu sama Nana ya. Mau hari ini kek atau besok, hasilnya sama aja.""Terus kita harus gimana?" Detak jantung Rendy makin cepat.Melisha mengetukkan jarinya ke meja, "Menurutku cuma ada satu cara.""Apa tuh?""Ya kita bikin Maxime terpuruk.""Mana mungkin?" Rendy merasa ucapan Melisha adalah mimpi.Saat Maxime buta saja, dia bukan tandingannya.Sekarang Maxime sudah kuat dan dalam keadaan sehat, Rendy tentu makin tidak berani main-main.Melisha benci Rendy yang tidak bisa diharapkan, "Sayang, kok kamu nggak percaya diri? Kukasih tahu ya, di keluarga kayak kita gini, kalau bukan kita nyerang dia duluan, malah dia yang bakal nyerang kamu!""Nanti malah Tommy yang harus kerja bagai k
Maxime menunduk dan hendak mencium Reina.Reina yang terkejut dia langsung menutup mulutnya sehingga ciuman Maxime jatuh di punggung tangannya.Kedua orang itu saling bertatapan, udara di sekitar mereka menjadi panas.Maxime mengangkat tangannya, hendak menyingkirkan tangan Reina."Jangan!" Reina langsung menolak, "A ... aku sepertinya sudah ingat."Maxime meraih pergelangan tangan Reina sambil berkata, "Beneran sudah ingat?""I ... iya. Kayaknya karena kemarin aku minum yang ada alkoholnya, jadi ... ma, maaf." Wajah Reina memerah seperti terbakar."Nggak apa-apa, normal kok. Aku tahu kamu pasti sudah dari dulu nggak sanggup menahan diri." Maxime kembali tersenyum dan senyumannya sangat cerah.Reina benar-benar ingin memukul Maxime, apa maksudnya tidak sanggup menahan diri?Sembarangan aja!"Ayo bangun. Riki dan Riko pasti nungguin kita pulang."Reina ingat semalam kedua anak kecil itu mencarinya, mereka pasti kaget.Maxime melepaskannya, "Oke, kita pulang setelah sarapan."Hari ini, M
"Aku sudah lihat saat Max nggak menginginkan Reina dulu. Dalam tiga tahun itu, Reina benar-benar sengsara. Nggak ada yang menganggapnya sebagai Nyonya Sunandar." Melisha menghela napas, "Siapa sangka segalanya berubah cepat banget? Kupikir Reina nggak akan pernah cocok dengan Maxime, nggak nyangka ternyata Reina besar hati banget sampai mau menerima Maxime lagi."Tatapan Morgan makin terlihat dingin.Melisha masih melanjutkan, "Sebenarnya sebelum kamu pulang, aku pernah kasih tahu Reina kalau dia itu sudah salah orang, tapi sayang ... menurutku waktu itu dia sudah jatuh cinta sama Max."Morgan tidak sanggup lagi mendengar cerita Melisha, dia pun menyelanya."Masa lalu sudah berlalu, nggak perlu dibahas lagi."Melisha berhenti bicara.Morgan pun balik badan dan pergi.Melisha menatap punggung Morgan yang beranjak pergi dan tersenyum.Morgan itu punya masalah mental yang parah dan tidak pernah menyukai Maxime.Sekarang, Melisha hanya perlu menunggu kedua bersaudara itu saling bertarung.
Reina menutup telepon dan akhirnya merasa lega.Selama Syena tidak melakukan sesuatu yang buruk, semuanya tidak apa-apa.Dia sudah makin berumur dan hanya ingin menjalani hidupnya dengan baik.Jika Syena melakukan sesuatu yang salah lagi, dia akan menghabisinya....Musim semi berganti menjadi musim gugur.Waktu berlalu dalam sekejap.Dalam sekejap mata, rambut Reina pun dipenuhi dengan uban. Saat ini, Reina hampir berusia tujuh puluh tahun.Beberapa anak laki-lakinya akhirnya menikah. Anak-anak Riko dan Riki sudah duduk di bangku sekolah dasar.Reina mengambil ponselnya. Pada hari itu, dia mendengar anak buahnya berkata, "Bos, Marshanda meninggal."Meninggal adalah sebuah kata yang sering didengar Reina di masa tuanya.Selama bertahun-tahun, mertuanya juga sudah meninggal dunia.Mantan saudara perempuannya, Brigitta, juga meninggal tahun lalu.Ethan menyusul pada paruh pertama tahun ini.Hanya Erina dan suaminya yang tersisa untuk menjaga bisnis Keluarga Yusdwindra.Suami yang Erina d
Sisca pergi ke sekolah dan hendak meminta guru untuk memanggil Talitha. Namun, dia melihat Talitha berdiri di depan gedung sekolah dari kejauhan.Di seberang Talitha ada Syena!Ekspresi Sisca langsung berubah.Dia berjalan cepat menghampiri keduanya. "Talitha."Talitha menoleh ke arahnya. "Ibu."Syena langsung marah mendengar putrinya memanggil wanita lain dengan sebutan ibu."Talitha, aku ini ibumu, dia nggak ada hubungan darah denganmu."Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, wajah Syena sangat pucat dan kuyu. Tatapan matanya menatap Sisca lekat-lekat.Sisca juga tidak merasa terintimidasi olehnya, menarik putrinya untuk berdiri di sisinya."Syena, saat itu kamulah yang nggak menginginkan Talitha. Sekarang, kamu ingin mendapatkan anakmu lagi?"Talitha menimpali, "Aku cuma punya satu ibu, namanya Sisca. Nama keluargaku juga Santiago. Jadi, kamu pergi saja dan berhenti mencariku."Mendengar apa yang dikatakan putrinya, gelenyar kelegaan menyelimuti benak Sisca.Syena terlihat makin mura
Reina beranjak dan melangkah pergi.Marshanda menatap punggungnya dan tiba-tiba berdiri. "Reina."Langkah kaki Reina terhenti dan dia berbalik untuk menatapnya.Tiba-tiba, mata Marshanda menjadi sedikit memerah."Reina! Aku merasa sepertinya aku melakukan kesalahan."Selama sepuluh tahun terakhir, Marshanda telah bermimpi tentang masa lalu hingga berulang kali.Mimpi itu terjadi di masa lalu, ketika dia baru dijemput oleh Anthony.Saat itu, dia tidak memiliki niat licik. Saat pertama kali bertemu Reina, dia merasa bahwa Reina sangat baik.Reina akan memberinya pakaian yang bagus untuk dipakai!Memberikan makanan yang enak untuknya!Reina juga akan berbagi uang saku dengannya!Mungkin karena dia makin tua, ingatannya tentang ketika dia masih muda menjadi begitu jelas, dia pun bernostalgia.Mendengar Marshanda mengakui kesalahannya, Reina menunjukkan kerumitan di antara kedua alisnya."Itu semua sudah berlalu."Dia hanya mengatakan beberapa kata tanpa menyebutkan maaf.Marshanda memperha
Riki benar-benar tidak berubah, ucapannya sangat manis dan masih terus menempel kepadanya.Maxime hendak mengatakan sesuatu tentangnya.Riki melepaskan pelukannya pada Reina dan memujinya."Papa, hari ini Papa bersinar banget dan makin jantan saja. Aku mau belajar dari Papa."Maxime tidak terbujuk oleh perkataannya. "Kalau mau belajar dariku, ikuti kakakmu dan uruslah perusahaan keluarga."Riki menggaruk-garuk kepalanya ketika diminta mengurus perusahaan.Sayangnya, dia benar-benar tidak suka menjadi bos.Dia hanya ingin menjadi seorang penyanyi.Dia mewarisi bakat musik yang kuat dari Reina dan merupakan penyanyi generasi baru.Reina juga memahami kebenaran bahwa setiap anak memiliki potensinya sendiri dan keempat anaknya pun berbeda."Sudah, biarkan Riki melakukan apa pun yang dia inginkan, toh ada Riko yang ngurus perusahaan.""Atau nanti kalau Leo dan Liam sudah besar, mereka juga bisa bantu ngurus perusahaan."Maxime langsung diam begitu Reina berbicara.Riki berterima kasih kepad
Revin memang cukup terlambat saat menikah. Belakangan, dia menelepon Reina dan mengatakan bahwa dia punya anak.Maxime sedikit tercengang. "Dia punya anak dari mana? Bukannya dia nggak nikah?"Sejujurnya, Maxime juga mengagumi Revin.Sebagai seorang pria, dia sangat menyukai Reina dengan sepenuh hati dan perasannya tidak pernah berubah.Maxime menduga bahwa Revin tidak pernah menikah karena Reina.Setiap kali mendengar tentang Revin, Maxime langsung ketakutan, takut pria ini akan datang dan merebut istrinya."Katanya sih bayi tabung," kata Reina.Maxime mendengarkan dengan serius. "Siapa ibu dari anak itu?"Reina menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu, katanya sih rahasia dan nggak ada yang tahu siapa ibu dari anak itu. Tapi, Revin sangat luar biasa. Gen yang dia pilih pasti sangat bagus juga."Mendengar ini, Maxime mengangguk setuju.Hatinya sangat lega.Dia sudah sangat tua, sekarang Revin akhirnya memiliki seorang anak sendiri. Dia seharusnya tidak lagi akan memiliki ketertarikan
Jess tidak tahu apa yang ada di pikiran Erik. Dia mengangkat tangannya dan menepuk pundaknya. "Bodoh, mana mungkin aku nikah sama orang lain, aku saja sudah punya kamu sama anak kita."Erik menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Aku tahu kalau istriku ini memang sangat mencintaiku. Cuma aku, 'kan?"Jess ragu-ragu sejenak, tetapi dengan cepat mengangguk."Ya, tentu saja."Keraguannya yang sangat tipis ini masih bisa ditangkap oleh Erik.Itu juga pertama kalinya Erik menyadari bahwa dia bisa menjadi begitu peka dan perasa, seperti seorang wanita.Dulu, hanya wanita yang selalu khawatir dia macam-macam. Sekarang, keadaan berbalik dan dia selalu mengkhawatirkan Jess.Ada pepatah yang ternyata memang benar.Jika dunia bertanya apa itu cinta, cinta adalah sesuatu yang bisa menaklukkan segalanya.Jess adalah orang yang bisa menaklukkannya....Lima belas tahun telah berlalu.Tanpa disadari, keempat putra Reina dan Maxime telah tumbuh dewasa dan semuanya sangat tampan.Riko adalah yang paling
Entah kebetulan atau tidak, Jess yang saat itu berada jauh di Kota Simaliki juga bermimpi.Dalam mimpi itu, dia benar-benar menikah dengan Morgan dan memiliki seorang anak.Ketika terbangun dari mimpi itu, entah kenapa hati Jess terasa kosong. Dia tidak tahu kenapa ada emosi rumit di dalam hatinya.Dia menoleh ke samping, melihat seorang anak kecil yang sedang tidur di sampingnya.Di sisi anak itu ada suaminya, Erik.Wajah pria itu terlihat tampan saat tidur. Saat sinar matahari menyinarinya, dia terlihat makin memukau.Sudut mulut Jess tanpa sadar terangkat. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh putranya yang menggemaskan, sebelum meletakkan tangannya di sisi wajah Erik dan menyentuhnya.Erik merasakan sentuhan di wajahnya. Dengan mata terpejam, dia mengangkat tangannya dan meraih tangan Jess, menariknya ke pelukannya."Tanganmu dingin? Sini aku hangatkan." Dia bahkan tidak membuka matanya dan apa yang dia lakukan tampak natural.Jess memperhatikan tindakannya dan hatinya menjadi hanga
Mata sipit Maxime sedikit menyipit. "Apa itu?"Sulit untuk menyembunyikan ketegangan di wajah Morgan."Itu cuma koran. Aku bosan dan mau mengisi waktu luang. Jangan diambil, ya?"Melihat raut wajahnya, Maxime tahu bahwa itu jelas bukan koran biasa.Maxime kembali menepis Morgan, berjalan dengan cepat untuk mengambil koran itu.Maxime membukanya dan isinya penuh dengan informasi tentang Jess.Morgan menerjang ke arah Maxime, seolah-olah rahasianya telah terbongkar.Namun, dengan kondisi fisiknya saat ini, Maxime bisa menghindar dengan mudah.Suara Morgan terdengar serak, "Kembalikan, ini milikku!"Maxime menatapnya dengan acuh."Sepertinya kamu lebih peduli sama asistenmu itu daripada Nana."Morgan tersipu malu."Apa kamu bercanda? Siapa juga yang suka sama dia. Aku nggak tertarik sedikit pun sama dia."Dia masih bersikap keras kepala.Maxime bisa melihatnya. Aktingnya benar-benar sangat kentara."Kalau begitu akan aku bawakan koran lain biar kamu bisa baca."Setelah mengatakan itu, Max
"Sekarang, semuanya sudah jelas, jadi mulai sekarang kamu nggak perlu menjagaku lagi. Aku baik-baik saja," kata Reina.Namun, Maxime menggelengkan kepalanya. "Nggak, sekarang aku nggak terbiasa."Dia mengikuti Reina setiap hari, jadi tidak terbiasa jika harus terpisah darinya.Reina tidak berdaya ketika melihat ini."Baiklah, tapi kamu harus berubah secara perlahan."Terus menempel pada orang lain juga cukup merepotkan.Dia juga menginginkan waktu untuk dirinya sendiri.Maxime mengiakan, "Ya, terserah kamu saja."Keesokan harinya.Maxime benar-benar tidak mengikuti Reina ke tempat kerja. Dia mengutus seseorang untuk menjaganya, sementara dia sendiri kembali ke IM Group untuk bekerja.Ketika Gaby dan Sisil mengetahui bahwa Maxime telah kembali ke IM Group, mereka semua terlihat terkejut."Kenapa Pak Maxime tiba-tiba berubah pikiran?" Gaby terkejut.Sisil berbisik, "Bos, apa kalian bertengkar?"Reina menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, hubungan kami baik-baik saja. Aku mencoba bicara ba