Home / Young Adult / Ratu Indigo VS Bad Boy / Bab 22. Tidak sabar

Share

Bab 22. Tidak sabar

Author: Dewiluna
last update Last Updated: 2024-11-22 20:22:49

Raga menatap guru di depannya tidak sabar. Lambat sekali guru itu menjelaskan.

“Lama,” gerutu Raga sambil memandang jam di dinding kelas.

Raga pun mengangkat tangan untuk minta perhatian.

“Pak!” Serunya keras.

Guru yang sedang menulis di papan tulis pun menoleh. Dia berbalik menatap Raga.

“Ada apa?” Tanyanya heran. Jarang sekali ada yang bertanya di saat dia bahkan belum mulai menjelaskan.

“Itu, Pak.” Tangan Raga menunjuk ke arah jam yang baru saja dia lihat di dinding kelas. “Sebentar lagi pulang.”

Dedi, guru yang terkenal killer itu menatap Raga tajam. Dahinya berkerut heran. Dia melihat angka di jam dinding yang sebelumnya ditunjuk Raga.

“Apa maksudmu? Waktu pulang sekolah masih lima belas menit lagi!”

Dedi menunjuk Raga kesal. Dia bahkan berjalan menghampiri meja Raga, penasaran dengan siswa yang berani menyela.

“Kamu tidak menulis? Bukumu kosong!”

Dedi mengangkat buku catatan Raga yang masih sangat suci. Sudah sejam dia menjelaskan, tapi tak ada satupun tulisan d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Wi2t(MACAN)
wkwkwk gk sabar bget sampe dimarahi guru kiler. bagaikan ombak besar kn dihadapi, banjir bandang disebrangi, gunung kan di daki, lautan kan raga renangi.... kwkeke
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 23. Antara Buku dan Hati

    Raga berpikir keras. Dia memutar otaknya sambil menatap lorong sekolah yang hampir sepi sempurna. Tampaknya sudah tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka. “Tidak apa, Bu! Saya bisa menjenguk Amira sendiri!” Raga terus memaksa, membuat Sonya menatapnya curiga. “Kenapa?” Sonya bertanya penasaran. “Besok juga bisa. Kita pergi bersama yang lain.” Bagi Sonya, niat Raga itu baik. Tapi terasa ada yang aneh dengan permintaan Raga, kenapa siswanya ini begitu terburu-buru? “Besok saja, Raga.” Tegas Sonya sekali lagi. Raga kehabisan akal. Kalau begini terus, dia bisa gagal mendapatkan alamat rumah Amira. Amira tidak membalas pesannya sedari tadi. Panggilan Raga juga tak satupun terjawab. Saat ini, Raga tidak mempunyai petunjuk lain kecuali Sonya. Raga tidak tahu dimana rumah Amira. Dia juga tidak bisa bertanya pada teman sekelasnya yang lain, karena ternyata Amira tak pernah menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Raga baru menyadari, jika Amira begitu misterius. “Harus sekaran

    Last Updated : 2024-11-22
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 24. Perbedaan Amira

    Raga menatap kumpulan pria paruh baya yang sedang menggodanya itu. Dia merasa warung kecil ini sangat sesuai sebagai tempat tongkrongan mereka. Jokes receh ala bapak-bapak ini garing sekali. Raga cuma bisa memicing menanggapinya. Berbeda dengan Alex yang menahan geli. Alex sampai menutup mulutnya untuk menahan tawa. “Jadi di mana rumah Amira?” Ketus Raga keki. Raga sedang tidak ingin bercanda di sini. Dia mau tahu Rumah Amira. Secepatnya! Melihat wajah Raga yang menekuk, bapak berbaju hitam itu mengakhiri tawanya. Dia dan teman-temannya tidak lanjut bercanda lagi. “Kontrakan Amira masih jauh. Dari sini masih lurus, nanti belok kiri. Habis itu belok kanan. Terus lurus lagi. Tempatnya yang paling ujung.” Akhirnya, Raga mendapatkan informasi yang dia cari. Tanpa berkata apa-apa, Raga langsung berbalik dan melangkah pergi. Dia membiarkan Alex yang menutup obrolan dan mengucapkan terima kasih. Alex mempercepat langkah untuk menyusul Raga. Setelah mendapatkan petunjuk, Raga meles

    Last Updated : 2024-11-23
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 25. Amira Sakit

    Raga berdiri di depan pintu rumah Amira sambil berdecak tak percaya. Sudah sejauh ini Raga berjuang untuk Amira. Raga sampai adu otot dengan Dedi di jam pelajaran. Raga juga berbohong pada Sonya untuk mendapatkan alamat Amira. Bahkan setelah mendapatkan alamat, Raga harus berjalan kaki karena jalan ke rumah Amira tidak bisa dilewati mobil. Raga rela melewati gang kecil dan bertanya ke sana-sini untuk mencari rumah Amira yang letaknya sangat terpencil. Raga melewati semua kesulitan itu untuk sampai di rumah Amira. Namun, jangankan disambut, Amira bahkan tidak mengenali suaranya! “Gue Raga! Buka pintunya!” Raga berteriak kesal. Dia menendang pintu di depannya keras. “Cepet! Raga menggedor pintu rumah Amira tidak sabaran. Padahal Amira sudah tahu bahwa Raga yang menunggu di luar, tapi gadis itu belum juga membukakan pintu. “Raga? Ngapain lo ke sini? Jangan ganggu gue!” Amira malah menyahuti dari dalam, berteriak membalas Raga. Dia tidak membuka pintu sama sekali, membiarkan Raga

    Last Updated : 2024-11-23
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 26. Senyum Amira

    “Duh ….” Amira mengeluh pelan, menekan kepalanya yang terasa berat. Dengan pandangan yang masih kabur, Amira berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang menusuk. “Gue di mana?” Amira menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih cerah. Dari satu petunjuk itu saja, Amira yakin kalau dia tidak ada di kamarnya. Kamar Amira itu memiliki lampu redup. Dia sengaja membeli yang paling murah dengan watt paling kecil. Bahkan cahaya terang menjadi barang mahal untuknya. “Rumah sakit?” Amira memandang sekeliling. Ranjang putih, gorden yang berkibar, dan selang infus yang melilit di tangan kanan Amira, semua petunjuk itu jelas menunjukkan kalau dugaannya benar. “Kok bisa? Siapa yang bawa gue ke sini?” Otak Amira bekerja. Dia memaksa untuk mengingat meski kepalanya masih berdenyut nyeri. Perlahan, memori tentang pintu yang dibuka, juga bayangan Raga, masuk dalam benaknya. “Pasti dia.” Pasti Raga yang membawa Amira ke rumah sakit. Raga adalah orang

    Last Updated : 2024-11-24
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 27. Butuh Uang

    Amira menatap wanita berseragam putih yang ada di depannya. Pagi ini, dia memberanikan diri untuk bertanya di bagian administrasi rumah sakit yang terletak di lantai satu. “Kira-kira, berapa biaya yang harus saya bayarkan?” Jantung Amira berdegup kencang. Tak hanya cemas, dia juga penasaran. Sebelumnya, Amira sudah menyebutkan nomor kamar yang dia tempati. Sekarang, Amira sedang menunggu wanita tersebut menjawab. “Kamar ruangan VIP, ya ….” Seketika, hati Amira mencelos. Dugaan Amira benar. Kamar yang dia tempati memang istimewa. Ruang rawat Amira lebih mirip seperti kamar hotel daripada rumah sakit. Ada ranjang yang nyaman, juga televisi besar. Amira menyalakan televisi itu semalaman agar kamarnya tidak terasa sepi. Biasanya Amira tidak takut sendirian, tapi suasana rumah sakit membuat dia tidak nyaman. “Duh, gue nonton acara premium langganan lagi semalem,” gerutu Amira pelan. “Itu bayar enggak ya?” Sekarang, Amira mulai menyesali keputusannya. Harusnya semalam dia matikan

    Last Updated : 2024-11-24
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 28. Beban Amira

    Raga terduduk di samping kasur Amira. Dia tertegun. Tangannya masih memegang buku catatan Amira bingung. Penasaran, Raga membalik halaman lain. Dia membaca isi catatan itu dengan seksama. “Ini catatan keuangan?” Dengan melihat tabel berisi jumlah uang yang dikeluarkan, beserta tanggal dan jenis keperluan, Raga bisa menebaknya dengan benar. “Bayar kontrakan, beli token listrik, makan di kantin.” Raga menoleh ke arah Alex, penasaran dengan apa yang baru saja dibacanya. “Memangnya sebuah rumah bisa disewa dengan biaya semurah ini? Lima ratus ribu? Untuk sebulan? Bukannya untuk sehari?” Alex menghela napas. Menjelaskan nilai uang kepada seseorang yang tidak pernah mengalami kesulitan finansial seperti Raga adalah tantangan besar. “Tuan Raga, sebenarnya harga itu cukup masuk akal. Meski di kota, rumah ini sangat terpencil. Tempatnya jauh dari jalan utama dan fasilitasnya hampir tidak ada.” Alex menunjuk ke arah pintu kecil yang ada di sudut ruangan. “Saya rasa satu-satunya fasil

    Last Updated : 2024-11-25
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 29. Menemani Amira

    Amira terdiam di atas ranjang di kamar inapnya. Matanya tertuju pada jarum jam dinding yang bergerak perlahan. “Ini udah jam pulang sekolah!” Amira mengomel kesal. “Kenapa itu orang enggak dateng-dateng juga?” Amira sedang membicarakan Raga. Harusnya, Raga sudah datang sejak tadi. Jangan bilang kalau Raga melupakan dia! “Awas aja kalo Raga enggak dateng! Gue penyet dia nanti di sekolah!” Amira melanjutkan omelannya. “Mana dia masukin gue ke rumah sakit yang mahal begini! Gue bayarnya pake apa coba?” Amira memekik frustasi. Kepalanya jadi sakit kalau memikirkan masalah uang. “Ya kali gue berobat bayarnya pake ginjal? Sama aja bego, dong!” Saat Amira sibuk memaki, pintu kamarnya terbuka. Raga berdiri di sana, bersama dengan Alex di belakangnya. “Lama banget!” Gerutu Amira sambil berteriak. Amira merengut menatap Raga. Namun, saat Raga mengangkat handphone milik Amira tinggi-tinggi, gadis itu berhenti mengomel. “Gue ngambil handphone lo! Biar lo enggak bosen!” Amira langsun

    Last Updated : 2024-11-25
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 30. Tawaran yang Menggoda

    Di atas ranjang rumah sakit, di dalam kamar inap Amira yang nyaman, Raga menawarkan pekerjaan. “Maksud lo apa? Gue enggak ngerti,” tanya Amira, kebingungan. Dahi Amira berkerut, kedua alisnya menyatu, menunjukkan kecurigaan yang jelas. “Lo lagi butuh duit, kan?” Amira mendelik tajam, kesal. Raga benar-benar pintar membuatnya merasa insecure. “Kerja sama gue. Gue punya banyak duit.” Raga melanjutkan. Tatapannya tertuju lurus, menunjukkan bahwa dia serius. Amira menghela kasar. Tentu dia tahu kalau Raga itu kaya. Raga hidup dalam kemewahan. Namun, tawaran ini terasa tidak benar. “Kenapa gue?” Tanya Amira langsung. “Kenapa sekarang?” Amira yakin jika Raga memiliki tujuan. Meski dia belum tahu ke mana arahnya. “Karena elo punya ‘itu’.” Raga sengaja mendekat. Dia berbisik tepat di telinga Amira. “Elo bisa tau apa yang akan terjadi. Itu bisa ngebantu gue menjauh dari bahaya.” Raga melirik ke samping. Sudut matanya menangkap Alex yang mendekat ke arah mereka. Tak mau samp

    Last Updated : 2024-11-26

Latest chapter

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 236. Nada untuk Satu Nama

    “Bisa,” balas Amira menantang. “Apa sih yang enggak buat lo?” Karena sudah terlanjur basah, sekalian saja berendam.“Nanti, siap-siap aja.” Raga mengedipkan sebelah mata.Amira hanya bisa tertawa melihat pacarnya itu menjadi genit sekarang. Tiba-tiba saja ponsel Amira bergetar. Ada panggilan masuk dari Evan.Amira mendengarkan suara dari seberang sebelum akhirnya mengangguk. “Gue ke sana sekarang.”Raga tahu arti ucapan Amira. Dia ikut bersiap bersama sang pacar. “Evan mau tampil,” ucap Amira menjelaskan. “Gue juga diminta siap-siap, soalnya gue tampil habis dia.”Raga mengangguk mengerti. Dia menyempatkan diri untuk menghapus sisa air mata di pipi Amira sebelum menggandeng Amira kembali. Saat itu, Amira bukan hanya merasa senang, tapi lega. Setidaknya, Raga ada di sisinya. Keduanya berjalan menyusuri lorong sambil bergandengan, mengabaikan tatapan orang yang memicing pada mereka.“Kalian sudah baikan?” Tanya Evan setibanya Amira dan Raga di belakang panggung. Cowok itu menunjuk

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 235. Pertaruhan

    “Bagus!” Amira bisa merasakan pelukan erat Raga. Cowok itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas. “Berhenti! Gue bisa mati!” Keluh Amira.“Sorry!” Raga mengurai pelukannya. “Gue cuma seneng banget. Akhirnya lo mau terima gue dengan jawaban yang jelas. Jadi sekarang gue bisa susun rencana selanjutnya.”Amira tersentak sesaat. “Rencana … apa?”Raga tidak menjawab. Dia malah menarik Amira kembali ke pelukan. “Nikahin lo. Secepatnya.” Raga dengan sengaja membungkam mulut Amira dengan memberikan sebuah kecupan. “Nanti gue jelasin,” sambungnya. Raga menarik tangan Amira, hendak membawa gadis itu keluar dari lorong. Namun, Amira menggeleng. “Bilang sekarang, atau enggak usah sama sekali.”Amira tak bersedia menunggu. Dia sudah mengorbankan masa depannya, hanya demi seorang Raga. Mungkin Amira memang sudah gila. Tapi setelah semua yang dia pertaruhkan, setidaknya Amira ingin tahu apa yang terjadi. “Apalagi yang perlu gue kasih biar lo ngomong sekarang?” Desak Amira. Rasanya Amira sud

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 234. Mau Jawaban Apa?

    “Kamu enggak apa-apa?” Tanya Dina. Dia mengajak Amira untuk duduk dan bicara, tapi Amira terlalu malu untuk melakukannya.“Enggak apa-apa,” jawab Amira cepat. “Gue … lagi malas ngomong aja.”Dina cuma angkat bahu. “Oh ….” Dia menarik Amira mendekat. “Ya udah duduk aja, enggak usah ngomong.”Amira jadi tak memiliki alasan untuk menolak. Dia mengambil tempat di sebelah Dina, menghela keras di sana. “Udah lama ya, kita enggak duduk bareng kayak gini,” ucap Dina sambil memasang senyum.“Aku senang kedatangan aku enggak sia-sia.”Dina memandang jauh ke depan, seolah sedang mengingat masa lalu di antara mereka sebelum ini. “Padahal awalnya aku mau nyerah,” sambung Dina. “Apalagi saat tahu kamu punya teman-teman yang ternyata sangat baik, lebih daripada aku.”Kali ini Dina menoleh, menatap Amira. “Mereka–”“Amira!” Raga menangkap tangan Amira, tidak membiarkan gadis itu hilang dari pandangannya lagi. “Kenapa kabur dari gue?!” serunya, dengan tatapan tajam. Amira beringsut sedikit. Baru

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 233. Suara yang Sengau

    “Ini penampilan apa?” Perhatian para tamu undangan langsung tertuju ke arah panggung. Musik tradisional yang mengalun, membuat mereka tertarik. “Apa ini … tarian?”Suasana berubah hening saat Dika dan Dina masuk ke tengah panggung. Kostum mereka, riasan mereka, begitu memukau sampai-sampai tak ada satu pun penonton yang membuka mulutnya. “Ini bagus sekali ….” “Aku baru melihat penampilan seperti ini.”“Ternyata Laveire adalah sekolah yang sangat menarik.”Amira tersenyum puas. Nyatanya, keputusan yang dia ambil sangat tepat. Memilih penampilan Dina dan Dika sebagai yang pertama adalah yang terbaik. Sorakan meriah bergema di aula saat Dika dan Dina mulai menari. Gerakan mereka lincah dan penuh energi, selaras dengan irama musik jaipong yang menggelegar memenuhi ruangan. ‘Udah lama, gue enggak ngeliat yang seperti ini,’ ucap Amira dalam hati. Penampilan Dina dan Dika menarik Amira ke masa lalu. Kehidupan yang damai di desa di saat kedua orang tua Amira masih lengkap. ‘Masa lalu

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 232. Retak

    “Amira?” Raga memicing. “Lo kenapa?”Amira tidak peduli dengan tatapan bingung Raga. Dia sibuk menarik pacarnya itu ke sisinya. “Jangan deket-deket pacar gue!” Bentak Amira kasar. Kedua matanya melotot, dan kakinya menghentak kesal.Luntur semua image yang Amira jaga sampai saat ini. Biasanya, dia selalu bersikap tenang dan tidak peduli di depan Raga, tapi sekarang Amira tidak bisa. “Lo siapa?” Rasanya emosi Amira sudah naik sampai ke ubun-ubun. Tangannya mendorong perempuan itu menjauh. Amira sungguh tidak menyukainya.Perempuan yang datang bersama Raga, sekali lihat saja Amira langsung tahu, jika perempuan itu setara dengan Raga. Keduanya serasi, meski Amira tak ingin mengakui. Amira tidak bisa mengelak dari rasa rendah diri saat ini. Meski begitu, dia tak mau mengalah. Raga adalah pacarnya. “Aku?” Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Celine. Aku pacar Raga.”Tangan Amira terulur sempurna. Dia meraih kerah seragam yang dipakai perempuan itu. Celine memekik, membua

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 231. Rasa yang Berubah?

    “Enggak,” ucap Amira pelan. Ini bukannya Amira yang terlalu banyak berpikir. Raga memang menjauh darinya. Di kantin, Amira duduk bersebelahan dengan Raga, tapi cowok itu tidak perhatian seperti sebelumnya.“Mau makan apa?” Biasanya Raga bertanya seperti itu, tapi kali ini Evan yang bersuara. “Gue pesen sendiri aja,” jawab Amira. Amira memilih untuk beranjak dari kursi. Rasanya sudah lama dia tidak memesan sendiri seperti sekarang. “Enggak apa-apa, kan gue yang minta,” ucap Amira pada dirinya sendiri. “Lebih baik begini, kan. Sewajarnya.” Amira mencoba menghibur diri.Di meja mereka, Amira menatap piringnya, menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Dia sungguh tidak bersemangat. Amira teringat akan sikap Raga sebelum dia memintanya menjauh. Kalau itu dulu, Raga pasti akan menatapnya lekat-lekat, bertanya kenapa Amira tidak nafsu makan, juga menanyakan apa yang Amira mau.

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 230. Jarak yang Terasa

    “Enggak,” jawab Raga. Tentu saja Amira bisa menebak jika itu adalah jawaban yang akan Raga berikan. “Kalau begitu … kasih tau gue batasnya.” Raga mencoba mengalah. Di saat kesabaran Amira hampir habis, akhirnya cowok itu sadar dan peka. Amira menjawab dengan sebuah tatapan lekat. “Sewajarnya, Raga. Mungkin kayak dulu ke mantan-mantan lo sebelumnya?”Pastinya Raga lebih tahu, karena cowok itu pernah punya pacar. Tidak seperti Amira. “Jangan terlalu deket pokoknya. Gue risih!” Tukas Amira. Amira memilih untuk menyudahi pembicaraan dan mulai menyiapkan makanan dari Raga. “Ayo makan dulu.” Dia mengucapkan terima kasih, lalu mulai melahap. Keduanya tidak bicara lagi setelahnya.Raga hanya menunggu Amira bersiap. Mereka kemudian berjalan ke kelas bersama-sama, sementara Alex menunggu di luar gedung utama.Peraturan Laveire tetap sama. Supir dan pengantar menunggu di tempat yang dite

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 229. Temenan Aja

    “Bantu apa?” Tanya Dina penasaran. Dika pun ikut menyimak. “Isi acara. Gue yakin kalian pasti bisa ngelakuin itu.”Amira duduk mendekat. Dia membisikkan permintaannya pada kakak beradik itu. “Mulai besok bisa, kan?” Tanya Amira dengan kedua mata penuh pengharapan. Dika dan Dina saling pandang. Mereka tampak ragu. “Memangnya enggak apa-apa? Orang-orang kan enggak suka sama kita.” Dina tidak mau mempermalukan Amira, juga dirinya sendiri.“Ngomong apa sih? Gue minta karena gue suka,” sahut Amira. “Lagian juga beda bukan berarti benci, kan?”Amira mencoba meyakinkan keduanya, sampai mereka mengucapkan kata iya. Dika yang mengangguk pertama. “Kalau Kak Amira yang nyuruh, aku mau.”Amira tersenyum senang. “Bagus! Besok kalian ikut sama gue.”Ketiganya berbincang tentang kegiatan esok sampai akhirnya Amira berpamitan. Camilan mereka sudah habis, dan hari sudah malam.

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 228. Rekonsiliasi Malam Ini

    “Mau apa?” Amira bertanya bingung. Dilihatnya Raga mengambil handphone dan malah sibuk sendiri. Tak lama, Amira merasakan getaran dari ponselnya. Dia mengeluarkan handphone dari saku dan melihat kontak yang menghubungi. “Ngapain lo nelpon gue?!” Amira menunjukkan layar handphone miliknya yang menyala. Tertulis kontak Raga di sana.Amira tak mengerti. Untuk apa Raga menghubungi dia? Mereka kan saling berhadapan begini. “Jangan tutup telepon dari gue,” ancam Raga saat cowok itu berpamitan. “Pokoknya jangan matiin sampai lo tidur.”“Hah?” Amira mengernyit bingung. Dia tidak mengerti. “Hari pertama lo di tempat baru. Gue enggak mau sampai terjadi apa-apa sama pacar gue.”Amira menilik wajah Raga. Dia menarik tangan cowok itu penasaran. Seketika, sekelebat bayangan masa depan terlihat dalam benaknya. “Lo cemburu?” Amira menghela. “Mau tau gue ngapain aja?” Raga cuma menunjukkan satu jari. “Ha

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status