Home / Young Adult / Ratu Indigo VS Bad Boy / Bab 119. Detik yang Menentukan

Share

Bab 119. Detik yang Menentukan

Author: Dewiluna
last update Last Updated: 2024-12-31 18:46:36

“Tuan Raga tidak ada di sini.”

Alex sudah berkeliling di dalam gedung olahraga. Dia bahkan sudah berputar dua kali di dalam gedung itu, untuk sekedar memastikan jika Raga memang tidak ada di sana.

“Bahkan Nona Amira juga tidak ada.”

Sekarang Alex benar-benar yakin jika Raga memang tidak ada di dalam ruangan yang penuh dengan lautan siswa itu. Raga selalu bersama dengan Amira. Jika Amira tidak ada, Alex hampir bisa memastikan jika Raga juga tak di sana.

“Lalu di mana?”

Di tengah rasa sakit, Alex membuat otaknya untuk berpikir keras. Dia mencoba menerka di mana kiranya Raga berada. Saat itu, Alex teringat dengan percakapan tentang satu kelompok yang belum bergabung.

“Apa Tuan Raga di sana? Taman belakang?” Alex tentu saja mengingat tempat yang disebutkan.

“Kalau begitu aku harus ke sana secepatnya.”

Tanpa ragu, Alex menggerakkan kaki memutar arah. Namun, tiba-tiba saja di depannya ada satu orang penjahat yang menyapa.

“Mau ke mana?” Tegur si penjahat. “Kata Rick jangan per
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 120. Garis Perang

    Hampir gila rasanya. Heri sudah menunggu lama di perjalanan, tapi dia tidak bisa langsung menemui Raga setibanya di Laveire.“Keadaan di dalam berbahaya, Tuan,” ucap Leon sambil membentangkan tangan, menghalangi.Heri pun tidak membantah. Dia hanya mampu berdecak sambil memaki. “Berapa lama lagi aku harus menunggu?” Hardik Heri, kasar. Leon tidak menjawab. Dia tak berani memberikan kepastian. Leon hanya menunjuk ke arah kelompok pria berseragam hitam yang dibawa oleh Heri. Pasukan pengawal yang bekerja untuk majikannya itu, bersiap masuk. Mereka akan ‘membersihkan’ area di dalam. “Mungkin sebentar lagi, Tuan,” jawab Leon. Suaranya pelan, mencoba untuk tidak membuat Heri lebih marah lagi. Leon tidak bisa membiarkan Heri masuk begitu saja. Setidaknya, Leon harus memastikan jika keadaan sudah benar-benar aman sebelum Heri masuk ke dalam. Leon tak berniat mengambil resiko, apalagi membahayakan keselamatan majikannya. “Aku beri kalian waktu dua menit!” Bentak Heri keras.Itulah batas

    Last Updated : 2024-12-31
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 121. Akhir Duel

    Alex ingin menyerah andai dia bisa. Di gedung olahraga ini, dia sendirian. Semua penjahat di sini adalah lawannya, dan semua siswa yang menjadi sandera adalah orang yang sepantasnya dia lindungi. “Berapa banyak lagi?”Andai saja Alex tak harus berpacu dengan rasa sakit yang mencekik, mungkin dia bisa melawan semua penjahat itu dengan lebih baik. Tidak seperti sekarang. Dor! Dor! Dor! Tiga letusan yang Alex berikan hanya dua yang langsung membuat penjahat tumbang. Satu lagi meleset. Timah panas terakhir hanya mampu membuat sedikit luka di kaki penjahat yang menjadi targetnya. “Masih ada lebih dari setengah,” keluh Alex. Padahal, Alex sudah sampai mati-matian begini, tapi masih ada puluhan psikopat gila yang terus membuat letusan. Keadaan masih kacau balau, dengan siswa dan guru yang berlarian menghindar tak tentu arah.“Liat ke mana?” Pertanyaan dari Rick membuat Alex menoleh. Alex beruntung karena dia berhasil menghindar tepat di saat letusan berbunyi. Terlambat sepersekian deti

    Last Updated : 2025-01-01
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 122. Datangnya Bantuan

    “Gue pingin istirahat!” Michelle mengeluh.Sejak tadi, Michelle hanya bisa melempar pot-pot yang diberikan Evan padanya. Mereka masih betah bersembunyi di rumah kaca ini. “Bukan cuma lo!” Evan ikut menggerutu. Evan juga lelah mondar-mandir untuk mencari barang yang bisa dilempar. Sementara ini, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Dor! Suara tembakan membuat Michelle dan Evan berjengit. Seketika keduanya menoleh ke arah teman-teman mereka yang lain. “Mereka udah deket!” Michelle berteriak memperingati. Bersama dengan Evan, Michelle memberitahu Febby dan Reynald.Tak ada jawaban dari keduanya. Tentu karena Febby dan Reynald juga sudah tahu jika hal seperti ini akan terjadi. “Kita harus gimana sekarang?” Michelle bertanya lagi, bingung. Dia tidak bisa memikirkan jalan keluar. Febby melirik sekilas ke arah Raga dan Amira yang terduduk di sudut. Mereka tak mungkin lari. Mana bisa meninggalkan Raga dan Amira yang keadaannya seperti itu?“Lempar aja kayak tadi,” sahut Febby kemudian

    Last Updated : 2025-01-01
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 123. Bertahanlah, Amira

    “Terima kasih, Tuhan!” Evan mengucapkan syukur. Di dalam ruang kaca yang sebelum ini terus saja membuatnya trauma, Evan akhirnya bisa merasakan kesenangan. “Kita selamat!” Evan meloncat senang. Sama seperti Michelle, juga Febby. Bahkan Reynald pun membuat senyum di wajahnya. Senyum penuh kelegaan. Menit-menit yang terasa bagai neraka akhirnya berlalu. Evan, Michelle, Febby, dan Reynald merasakan euforia sesaat sebelum suara Raga masuk ke dalam telinga mereka. “Tolong Amira secepatnya, Kek!” Isak tertahan yang keluar dari mulut Raga seketika membuat senyum di wajah keempat orang itu pudar. Michelle, Evan, Febby, dan Reynald mendekat pada Raga. Di tangan Raga, tubuh Amira sudah berubah dingin. Dia takut, sangat takut. Raga tak mau jika Amira sampai tidak membuka matanya lagi, selamanya.“Amira tertembak karena ngelindungin Raga ….”Mendengar cucunya yang sampai meratap seperti itu, Heri menoleh pada Amira. Dilihatnya gadis dalam pelukan sang cucu sudah terbaring tak sadarkan diri.

    Last Updated : 2025-01-02
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 124. Pelukan Terakhir

    Heri melihat keadaan di luar jendela mobil. Dengan izin darinya, Leon menyetir lebih cepat lagi. Beruntung suasana jalan lengang di jalur yang mereka lalui. Di jalur sebelah yang berlawanan, kendaraan merayap di atas padatnya jalan. Mobil-mobil berbaris panjang, bahkan ada ambulans yang ikut dalam antrian yang mengular. Sepertinya, semua mobil itu akan menuju ke Laveire. “Penjahat yang sangat kejam,” rutuk Heri, pelan. “Bisa-bisanya menggunakan anak-anak itu dalam rencananya!” Heri menggeram kesal.Sebagai seseorang yang paham dengan kerasnya persaingan dunia bisnis, Heri mengerti keinginan setiap pengusaha untuk menjadi yang nomor satu. Dia juga mengakui, jika dirinya tidak selalu menempuh jalan yang lurus. “Tapi ini sangat keterlaluan!”Heri tidak terima! Melibatkan nyawa anak-anak sangat memalukan! Dia harus memikirkan bagaimana cara membalas orang itu dengan setimpal nanti!"Sudah sampai, Tuan Raga.” Kalimat dari Leon membuat Heri tersadar dari lamunan. Leon telah menghentika

    Last Updated : 2025-01-02
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 125. Matahari yang Tak Pernah Terbenam

    Heri melihat wajah Raga yang menunduk dalam. Cucunya itu terlihat sangat sedih dan menyedihkan di saat yang sama. Di sudut rumah sakit, Raga hanya duduk terdiam. Kedua matanya terus menatap ke arah pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Benar, Amira ada di dalam sana. “Tolonglah, Amira ….” Terus, Raga mengucapkan permohonan. Raga tak berhenti bergumam. Kedua tangannya menyatu. Dia berdoa tulus dalam hati. “Apa aja. Apa pun bakal gue lakuin. Asal lo bangun sekarang, Amira!” Raga menjambak rambutnya frustasi. Baru beberapa menit Amira ada di dalam sana, tapi Raga sudah gila rasanya. Dia tidak bisa menunggu. Dia tak mau menunggu. "Tuan Raga, sebaiknya Tuan diperiksa dulu." Leon membawa seorang dokter bersamanya. Raga hanya memicing mendapati pria berseragam putih di depannya. Dia tidak tertarik sama sekali. "Gue baik," jawab Raga singkat. Raga memang merasa baik-baik saja. Hanya beberapa goresan tidak akan membuat dia mati. Tidak seperti Amira. Luka-luka Raga tidak ada

    Last Updated : 2025-01-03
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 126. Gelap yang Menunggu

    Bukan seperti ini. Amira merasa ada yang salah. Dia memang merindukan ibunya, ayahnya, juga neneknya. Amira bahkan selalu ingin untuk kembali ke rumah keluarganya. Namun, semuanya terasa begitu tidak nyata. “Kenapa cemas begitu?” Tanya sang ibu, ramah. Sebelumnya, Amira akan merasa nyaman. Namun sekarang, perhatian dari sang ibu malah membuat Amira semakin gelisah. “Mikirin apa?” Pertanyaan sederhana, tapi mampu membuat Amira bingung luar biasa. Ibunya benar. Apa yang Amira pikirkan? Kenapa dia gelisah begini? Mengapa Amira merasa tidak nyaman?“Kenapa kamu enggak senang, Amira? Semua yang kamu mau kan ada di sini?”Amira melihat ibunya menunjuk satu-satu. Ada rumah mereka, nenek, ayah, dan ibu sendiri. Semuanya lengkap. Namun, Amira terus merasa ada yang kurang.“Apa sih?” Amira menunduk, menatap tangannya sendiri. “Kenapa gue ngerasa ada yang hilang?”Tangan Amira terangkat pelan. Dia menggerakkannya, membuka lalu menutup telapak tangannya tanpa henti.Tak menemukan jawaban, Ami

    Last Updated : 2025-01-03
  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 127. Di Antara Dunia

    Raga merasa aneh. Tubuhnya seperti tidak bisa dia rasakan sepenuhnya. Dia seperti terpejam, tapi tidak tidur. Membuka mata, tapi tidak terbangun. “Apa, sih?” Raga mendesis kesal. Raga menghentak tubuhnya paksa. Raga membuat kedua kakinya menopang badannya berdiri. “Ini di mana?” Tanya Raga, bingung. Raga mencoba mengingat apa yang terjadi padanya terakhir kali. Harusnya dia sedang di rumah sakit. Rumah sakit! “Amira!” Raga memekik panik. “Kenapa gue ada di sini? Harusnya gue nungguin Amira dioperasi!” Tak mau membuang waktu, Raga segera mencari keberadaan Amira. Namun, Raga merasa tersesat. Kenapa dia berada di tengah padang rumput? Bukankah harusnya dia ada di rumah sakit? “Gue nyasar di mana coba?” Dahi Raga berkerut dalam. Dia tercenung bingung. Bagaimana bisa dirinya sampai di sini? Raga yakin jika dirinya ada di rumah sakit sebelumnya. Raga bahkan ingat saat dia diperiksa dokter. Juga saat terakhir ketika Raga sedang berbincang dengan kakeknya sendiri. “Apa

    Last Updated : 2025-01-04

Latest chapter

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 237. Melodi Persahabatan

    “Jangan ingkar janji.” Senyum Raga melebar sempurna. Dia mengangguk bersemangat sebelum membiarkan Amira pergi menjauh darinya. “Ayo kita berikan tepuk tangan yang meriah!” Sorak-sorai bersahutan saat Amira naik ke panggung. “Amira!” Hal itu membuat Amira cukup tertekan. Apalagi saat Amira mengingat kenyataan tentang skill menyanyi pas-pasan miliknya. “Gue harus coba.” Amira meyakinkan dirinya sendiri. “Karena kesempatan ini mungkin cuma datang sekali, yang pertama juga yang terakhir.” Amira tersenyum lebar. Dia mengangkat kedua tangannya tinggi. “Come on! Sing with me!” Ketukan ceria terdengar. Amira pun mulai menyanyikan baris pertama dari “Price Tag” dengan penuh percaya diri. Saat itu juga, Raga tersenyum. Dia memandang Amira lekat. Harusnya Raga tahu kalau lagu yang dipilih Amira pasti yang seperti ini. “Lagu yang elo banget,” gumamnya pelan. Amira turun dari panggung setelah mendapatkan banyak tepuk tangan. Dia berjalan mendekat pada Raga. Mereka punya waktu k

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 236. Nada untuk Satu Nama

    “Bisa,” balas Amira menantang. “Apa sih yang enggak buat lo?” Karena sudah terlanjur basah, sekalian saja berendam.“Nanti, siap-siap aja.” Raga mengedipkan sebelah mata.Amira hanya bisa tertawa melihat pacarnya itu menjadi genit sekarang. Tiba-tiba saja ponsel Amira bergetar. Ada panggilan masuk dari Evan.Amira mendengarkan suara dari seberang sebelum akhirnya mengangguk. “Gue ke sana sekarang.”Raga tahu arti ucapan Amira. Dia ikut bersiap bersama sang pacar. “Evan mau tampil,” ucap Amira menjelaskan. “Gue juga diminta siap-siap, soalnya gue tampil habis dia.”Raga mengangguk mengerti. Dia menyempatkan diri untuk menghapus sisa air mata di pipi Amira sebelum menggandeng Amira kembali. Saat itu, Amira bukan hanya merasa senang, tapi lega. Setidaknya, Raga ada di sisinya. Keduanya berjalan menyusuri lorong sambil bergandengan, mengabaikan tatapan orang yang memicing pada mereka.“Kalian sudah baikan?” Tanya Evan setibanya Amira dan Raga di belakang panggung. Cowok itu menunjuk

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 235. Pertaruhan

    “Bagus!” Amira bisa merasakan pelukan erat Raga. Cowok itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas. “Berhenti! Gue bisa mati!” Keluh Amira.“Sorry!” Raga mengurai pelukannya. “Gue cuma seneng banget. Akhirnya lo mau terima gue dengan jawaban yang jelas. Jadi sekarang gue bisa susun rencana selanjutnya.”Amira tersentak sesaat. “Rencana … apa?”Raga tidak menjawab. Dia malah menarik Amira kembali ke pelukan. “Nikahin lo. Secepatnya.” Raga dengan sengaja membungkam mulut Amira dengan memberikan sebuah kecupan. “Nanti gue jelasin,” sambungnya. Raga menarik tangan Amira, hendak membawa gadis itu keluar dari lorong. Namun, Amira menggeleng. “Bilang sekarang, atau enggak usah sama sekali.”Amira tak bersedia menunggu. Dia sudah mengorbankan masa depannya, hanya demi seorang Raga. Mungkin Amira memang sudah gila. Tapi setelah semua yang dia pertaruhkan, setidaknya Amira ingin tahu apa yang terjadi. “Apalagi yang perlu gue kasih biar lo ngomong sekarang?” Desak Amira. Rasanya Amira sud

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 234. Mau Jawaban Apa?

    “Kamu enggak apa-apa?” Tanya Dina. Dia mengajak Amira untuk duduk dan bicara, tapi Amira terlalu malu untuk melakukannya.“Enggak apa-apa,” jawab Amira cepat. “Gue … lagi malas ngomong aja.”Dina cuma angkat bahu. “Oh ….” Dia menarik Amira mendekat. “Ya udah duduk aja, enggak usah ngomong.”Amira jadi tak memiliki alasan untuk menolak. Dia mengambil tempat di sebelah Dina, menghela keras di sana. “Udah lama ya, kita enggak duduk bareng kayak gini,” ucap Dina sambil memasang senyum.“Aku senang kedatangan aku enggak sia-sia.”Dina memandang jauh ke depan, seolah sedang mengingat masa lalu di antara mereka sebelum ini. “Padahal awalnya aku mau nyerah,” sambung Dina. “Apalagi saat tahu kamu punya teman-teman yang ternyata sangat baik, lebih daripada aku.”Kali ini Dina menoleh, menatap Amira. “Mereka–”“Amira!” Raga menangkap tangan Amira, tidak membiarkan gadis itu hilang dari pandangannya lagi. “Kenapa kabur dari gue?!” serunya, dengan tatapan tajam. Amira beringsut sedikit. Baru

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 233. Suara yang Sengau

    “Ini penampilan apa?” Perhatian para tamu undangan langsung tertuju ke arah panggung. Musik tradisional yang mengalun, membuat mereka tertarik. “Apa ini … tarian?”Suasana berubah hening saat Dika dan Dina masuk ke tengah panggung. Kostum mereka, riasan mereka, begitu memukau sampai-sampai tak ada satu pun penonton yang membuka mulutnya. “Ini bagus sekali ….” “Aku baru melihat penampilan seperti ini.”“Ternyata Laveire adalah sekolah yang sangat menarik.”Amira tersenyum puas. Nyatanya, keputusan yang dia ambil sangat tepat. Memilih penampilan Dina dan Dika sebagai yang pertama adalah yang terbaik. Sorakan meriah bergema di aula saat Dika dan Dina mulai menari. Gerakan mereka lincah dan penuh energi, selaras dengan irama musik jaipong yang menggelegar memenuhi ruangan. ‘Udah lama, gue enggak ngeliat yang seperti ini,’ ucap Amira dalam hati. Penampilan Dina dan Dika menarik Amira ke masa lalu. Kehidupan yang damai di desa di saat kedua orang tua Amira masih lengkap. ‘Masa lalu

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 232. Retak

    “Amira?” Raga memicing. “Lo kenapa?”Amira tidak peduli dengan tatapan bingung Raga. Dia sibuk menarik pacarnya itu ke sisinya. “Jangan deket-deket pacar gue!” Bentak Amira kasar. Kedua matanya melotot, dan kakinya menghentak kesal.Luntur semua image yang Amira jaga sampai saat ini. Biasanya, dia selalu bersikap tenang dan tidak peduli di depan Raga, tapi sekarang Amira tidak bisa. “Lo siapa?” Rasanya emosi Amira sudah naik sampai ke ubun-ubun. Tangannya mendorong perempuan itu menjauh. Amira sungguh tidak menyukainya.Perempuan yang datang bersama Raga, sekali lihat saja Amira langsung tahu, jika perempuan itu setara dengan Raga. Keduanya serasi, meski Amira tak ingin mengakui. Amira tidak bisa mengelak dari rasa rendah diri saat ini. Meski begitu, dia tak mau mengalah. Raga adalah pacarnya. “Aku?” Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Celine. Aku pacar Raga.”Tangan Amira terulur sempurna. Dia meraih kerah seragam yang dipakai perempuan itu. Celine memekik, membua

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 231. Rasa yang Berubah?

    “Enggak,” ucap Amira pelan. Ini bukannya Amira yang terlalu banyak berpikir. Raga memang menjauh darinya. Di kantin, Amira duduk bersebelahan dengan Raga, tapi cowok itu tidak perhatian seperti sebelumnya.“Mau makan apa?” Biasanya Raga bertanya seperti itu, tapi kali ini Evan yang bersuara. “Gue pesen sendiri aja,” jawab Amira. Amira memilih untuk beranjak dari kursi. Rasanya sudah lama dia tidak memesan sendiri seperti sekarang. “Enggak apa-apa, kan gue yang minta,” ucap Amira pada dirinya sendiri. “Lebih baik begini, kan. Sewajarnya.” Amira mencoba menghibur diri.Di meja mereka, Amira menatap piringnya, menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Dia sungguh tidak bersemangat. Amira teringat akan sikap Raga sebelum dia memintanya menjauh. Kalau itu dulu, Raga pasti akan menatapnya lekat-lekat, bertanya kenapa Amira tidak nafsu makan, juga menanyakan apa yang Amira mau.

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 230. Jarak yang Terasa

    “Enggak,” jawab Raga. Tentu saja Amira bisa menebak jika itu adalah jawaban yang akan Raga berikan. “Kalau begitu … kasih tau gue batasnya.” Raga mencoba mengalah. Di saat kesabaran Amira hampir habis, akhirnya cowok itu sadar dan peka. Amira menjawab dengan sebuah tatapan lekat. “Sewajarnya, Raga. Mungkin kayak dulu ke mantan-mantan lo sebelumnya?”Pastinya Raga lebih tahu, karena cowok itu pernah punya pacar. Tidak seperti Amira. “Jangan terlalu deket pokoknya. Gue risih!” Tukas Amira. Amira memilih untuk menyudahi pembicaraan dan mulai menyiapkan makanan dari Raga. “Ayo makan dulu.” Dia mengucapkan terima kasih, lalu mulai melahap. Keduanya tidak bicara lagi setelahnya.Raga hanya menunggu Amira bersiap. Mereka kemudian berjalan ke kelas bersama-sama, sementara Alex menunggu di luar gedung utama.Peraturan Laveire tetap sama. Supir dan pengantar menunggu di tempat yang dite

  • Ratu Indigo VS Bad Boy   Bab 229. Temenan Aja

    “Bantu apa?” Tanya Dina penasaran. Dika pun ikut menyimak. “Isi acara. Gue yakin kalian pasti bisa ngelakuin itu.”Amira duduk mendekat. Dia membisikkan permintaannya pada kakak beradik itu. “Mulai besok bisa, kan?” Tanya Amira dengan kedua mata penuh pengharapan. Dika dan Dina saling pandang. Mereka tampak ragu. “Memangnya enggak apa-apa? Orang-orang kan enggak suka sama kita.” Dina tidak mau mempermalukan Amira, juga dirinya sendiri.“Ngomong apa sih? Gue minta karena gue suka,” sahut Amira. “Lagian juga beda bukan berarti benci, kan?”Amira mencoba meyakinkan keduanya, sampai mereka mengucapkan kata iya. Dika yang mengangguk pertama. “Kalau Kak Amira yang nyuruh, aku mau.”Amira tersenyum senang. “Bagus! Besok kalian ikut sama gue.”Ketiganya berbincang tentang kegiatan esok sampai akhirnya Amira berpamitan. Camilan mereka sudah habis, dan hari sudah malam.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status