Tangan Amira terkepal erat. Ucapan dari Evan membuatnya tersinggung, sekaligus tersadar. Seketika Amira ragu. Haruskah dia memberitahukan apa yang dia lihat kepada semua orang? Apakah mereka akan percaya? Ruang guru sudah di depan mata, Amira tinggal berlari dan dia akan sampai dalam hitungan detik. Namun, kedua kakinya seketika terasa berat. “Evan bener.” Amira menepis rasa kesalnya. Dia memilih untuk menggunakan akal sehat. “Apa yang gue bilang emang enggak masuk akal. Emang apa yang bakal berubah dengan usaha seorang Amira?” Ayolah, Amira bukan orang hebat yang bisa mengubah takdir seluruh dunia dengan kedua tangannya. Dia cuma remaja 18 tahun, anak sekolahan. “Gue.” Raga meraih tangan Amira. “Gue mungkin enggak bisa ada di sini kalau bukan karena lo.” “Enggak usah peduliin orang yang enggak percaya. Itu kerugian mereka, bukan lo.” Ucapan sinis Raga membuat Evan menatapnya tajam. Sekarang kedua cowok itu saling memandang penuh permusuhan. Kring! Bel sekolah ya
“Pegang tangan gue! Jangan dilepas!” Raga membuat tautan tangannya dengan Amira lebih erat. Dia benar-benar tak ingin Amira tertinggal. Mereka berenam berlari melawan arah. Bukannya menuruti perintah untuk kembali ke dalam kelas, Reynald membawa mereka menyusuri lorong sekolah, menuju taman belakang Laveire. “Periksa semua kelas!” Teriakan nyaring membuat Reynald seketika berhenti. Kelima murid di belakangnya, ikut berhenti secara otomatis. Tak jauh dari mereka, Reynald bisa melihat dua orang yang membawa senjata. Mereka memakai pakaian serba hitam, dengan masker yang menutupi separuh wajah. “Sembunyi!” Reynald memekik tanpa suara. Dia menarik Febby ke lorong di belakang.Dengan sebuah isyarat singkat, Reynald meminta keempat muridnya yang lain untuk ikut merapat ke dinding, bersembunyi di sudut. Dia memberikan kode agar mereka menutup mulut dan tidak membuat suara sama sekali. “Sst ….” Reynald meletakkan
Lorong yang sebelumnya sepi, menjadi penuh dengan decak kesal. Evan memicing, mengajukan protes. Dia yang bicara pertama, meski yang lain juga sama tidak setujunya. “Kenapa jadi misah gini? Emang ada apa?” Evan menatapnya menuduh. “Lo mau selamat sendiri apa gimana?”Amira balas menatap Evan tidak percaya. Tuduhan Evan sungguh membuat Amira sakit hati. Tega sekali Evan menuduhnya sebagai orang yang picik seperti itu. “Jaga mulut lo!” Raga menarik kerah seragam Evan penuh emosi. Amira memang marah, tapi dia tetap diam. Raga yang malah menunjukkan amukannya. Dengan tatapan tajam menusuk, Raga berucap sinis. “Kalau bukan karena Amira, lo udah ketangkep dari tadi, bego!” Reynald terpaksa turun tangan melerai kedua muridnya itu. Dia berbisik dengan suara yang sangat pelan. “Jangan membuat keributan!” Seru Reynald, setengah memohon. “Kita bisa ketahuan!”Amira menarik tangan Raga, meminta cowok itu melepas cengk
Dengan hati-hati, Reynald memimpin jalan. Kali ini, mereka hanya berempat. Reynald, Febby, Michelle dan Evan. Keempatnya mengendap-endap perlahan, melewati taman, terus ke rumah kaca, sampai akhirnya tiba di sebuah kebun mini. Taman belakang Laveire memang bukan tempat yang kecil. Mereka harus berjalan cukup jauh untuk bisa sampai ke sisi pagar. “Cepat, Michelle!” Febby terpaksa melepaskan tangannya dari Reynald untuk sesaat. Dia perlu membantu Michelle yang sudah terengah. “Di depan!” Seru Reynald seraya menunjuk. Sudah terlihat sebuah pagar yang berkarat. Pagar itu tampak tak terawat dengan tanaman rambat yang memenuhi setiap sisinya. Tak masalah bagaimana kondisinya, yang terpenting adalah pagar itu bisa terbuka. “Akhirnya ….” Evan menghela lega. Sedikit lagi mereka akan sampai. Tidak sabar, Evan berlari mendahului. Dia menjadi yang pertama sampai di sana. Setelah ini mereka bisa keluar. Mereka akan bebas. Mereka aman. Mereka semua selamat. Dor! Suara letusan menggema
Amira menghela napas panjang. Apa yang Raga katakan benar. Di saat seperti ini, harusnya Amira tidak ragu sama sekali. “Oke, gue ngerti,” ucap Amira lirih. Amira paham, jika rumah kaca ini hanyalah persembunyian sementara. Mereka memang harus keluar dan menghadapi orang-orang itu. Amira juga tak ingin membiarkan teman-temannya disekap. “Bagus,” ucap Raga saat Amira mengangguk. Sekarang, mereka harus memantau situasi terlebih dahulu. “Ikutin gue,” bisik Raga. “Pelan-pelan ….”Raga mengajak Amira untuk mengintip keluar sesaat. Saat itu, mereka melihat ada dua orang penjahat yang sedang menggiring teman-teman mereka. Kedua orang itu, bersenjata lengkap. “Biar gue urus yang kiri. Lo yang kanan.” Raga sengaja memilih pria yang berbadan lebih besar. Setidaknya, walaupun mereka mendapat serangan, resiko yang Amira dapatkan mungkin lebih ringan. Meski Raga sungguh tidak berharap hal itu terjadi. Raga tak mau, sampai terjadi apa-apa pada Amira. Karena itu, dia harus menyusun rencana in
Di dalam rumah kaca, Amira dan teman-temannya, sekali lagi harus menghadapi situasi yang sulit. Mereka terjebak di dalam sana, dengan para penjahat itu bersama mereka. “Hahaha!”Suara tawa sumbang terdengar. Dua penjahat itu kini mengepung pintu masuk. Keduanya menghampiri dengan senjata di tangan. “Berani sekali kalian melawan kami.”Semakin kedua penjahat itu melangkah maju, semakin mereka mundur. Sekarang, mereka lebih terdesak lagi. Kali ini bahkan lebih buruk. Mereka tersudut di dalam ruang tertutup. Satu-satunya jalan keluar, ada di belakang para penjahat itu. “Tidak! Jangan sakiti murid-muridku!” Reynald maju ke depan para penjahat itu tanpa takut. Dia melebarkan tangan, berusaha melindungi kelima siswanya. Tanpa berpikir sama sekali. Naluri yang membuatnya bertindak. “Tolong, jangan lukai anak-anak! Tidakkah kalian memiliki hati nurani?” Pembicaraan tentang hati nurani membuat salah satu penjahat itu mendengus. Apa guru di depannya ini sedang bercanda? Maksudnya apa memb
Rumah kaca yang harusnya tenang, sekarang penuh dengan suara pukulan. Bunyi nyaring otot yang berbenturan, membuat suara gemeretak dan dentuman yang menyakitkan. Seisi rumah kaca meringis. Tidak ada yang cukup tega untuk terus menatap.“Duh, enggak seru!” Penjahat itu akhirnya bosan sendiri. Dia menendang Reynald keras, sampai tubuh guru malang itu terpental jauh. Babak belur Reynald dipukuli. Sudut bibirnya sobek dengan pipi lebam. Dahinya terluka karena sebelumnya sempat membentur sudut besi rak tanaman. Keadaan Reynald sungguh menyedihkan. “Bosen gue!” Seru penjahat itu seraya memberikan satu tendangan terakhir. Tendangan itu lebih keras dari sebelumnya. Reynald bukan hanya terpental, tapi juga terguling sampai menabrak sisi rumah kaca. “Pak!” Pekik Amira diiringi suara berdebum nyaring. Amira tak bisa menahan diri lagi. Dia bergerak membantu Reynald, mengabaikan senjata yang tertuju ke arahnya. Beruntung penjahat itu tidak peduli. Dia lebih memilih menyambut temannya. Satu t
Suasana ruang kerja Heri sungguh mencekam. Gavin dan Andini bahkan tidak berani mengangkat kepala mereka sama sekali. Keduanya membiarkan Heri memaki mereka sepuasnya. “Apa saja yang kalian lakukan?” Teriakan menggema sampai terdengar di seluruh penjuru ruangan. Semuanya terkejut, namun tidak ada yang berani melayangkan protes. “Kenapa kalian bahkan tidak bisa menjaga anak kalian sendiri? Bagaimana bisa membuat Raga dalam bahaya?” Andini tidak berani menjawab. Dia malah melirik ke arah suaminya takut. Tatapannya memohon bantuan, meminta agar suaminya itu saja yang menjawab. “Apa kalian lupa seberapa pentingnya Raga untuk perusahaan ini!” Sebuah gebrakan di meja sukses membuat Gavin berjengit kaget. Andini bahkan sudah bersembunyi di balik suaminya, takut. “Kenapa kalian malah menyusul ke perusahaan? Bukannya menjaga Raga di rumah?” Gavin tak bisa menjawab. Memang seharusnya hal itu yang terjadi. Mereka tetap berada di dalam kediaman keluarga Wijaya seperti yang Heri perint
“Jangan ingkar janji.” Senyum Raga melebar sempurna. Dia mengangguk bersemangat sebelum membiarkan Amira pergi menjauh darinya. “Ayo kita berikan tepuk tangan yang meriah!” Sorak-sorai bersahutan saat Amira naik ke panggung. “Amira!” Hal itu membuat Amira cukup tertekan. Apalagi saat Amira mengingat kenyataan tentang skill menyanyi pas-pasan miliknya. “Gue harus coba.” Amira meyakinkan dirinya sendiri. “Karena kesempatan ini mungkin cuma datang sekali, yang pertama juga yang terakhir.” Amira tersenyum lebar. Dia mengangkat kedua tangannya tinggi. “Come on! Sing with me!” Ketukan ceria terdengar. Amira pun mulai menyanyikan baris pertama dari “Price Tag” dengan penuh percaya diri. Saat itu juga, Raga tersenyum. Dia memandang Amira lekat. Harusnya Raga tahu kalau lagu yang dipilih Amira pasti yang seperti ini. “Lagu yang elo banget,” gumamnya pelan. Amira turun dari panggung setelah mendapatkan banyak tepuk tangan. Dia berjalan mendekat pada Raga. Mereka punya waktu k
“Bisa,” balas Amira menantang. “Apa sih yang enggak buat lo?” Karena sudah terlanjur basah, sekalian saja berendam.“Nanti, siap-siap aja.” Raga mengedipkan sebelah mata.Amira hanya bisa tertawa melihat pacarnya itu menjadi genit sekarang. Tiba-tiba saja ponsel Amira bergetar. Ada panggilan masuk dari Evan.Amira mendengarkan suara dari seberang sebelum akhirnya mengangguk. “Gue ke sana sekarang.”Raga tahu arti ucapan Amira. Dia ikut bersiap bersama sang pacar. “Evan mau tampil,” ucap Amira menjelaskan. “Gue juga diminta siap-siap, soalnya gue tampil habis dia.”Raga mengangguk mengerti. Dia menyempatkan diri untuk menghapus sisa air mata di pipi Amira sebelum menggandeng Amira kembali. Saat itu, Amira bukan hanya merasa senang, tapi lega. Setidaknya, Raga ada di sisinya. Keduanya berjalan menyusuri lorong sambil bergandengan, mengabaikan tatapan orang yang memicing pada mereka.“Kalian sudah baikan?” Tanya Evan setibanya Amira dan Raga di belakang panggung. Cowok itu menunjuk
“Bagus!” Amira bisa merasakan pelukan erat Raga. Cowok itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas. “Berhenti! Gue bisa mati!” Keluh Amira.“Sorry!” Raga mengurai pelukannya. “Gue cuma seneng banget. Akhirnya lo mau terima gue dengan jawaban yang jelas. Jadi sekarang gue bisa susun rencana selanjutnya.”Amira tersentak sesaat. “Rencana … apa?”Raga tidak menjawab. Dia malah menarik Amira kembali ke pelukan. “Nikahin lo. Secepatnya.” Raga dengan sengaja membungkam mulut Amira dengan memberikan sebuah kecupan. “Nanti gue jelasin,” sambungnya. Raga menarik tangan Amira, hendak membawa gadis itu keluar dari lorong. Namun, Amira menggeleng. “Bilang sekarang, atau enggak usah sama sekali.”Amira tak bersedia menunggu. Dia sudah mengorbankan masa depannya, hanya demi seorang Raga. Mungkin Amira memang sudah gila. Tapi setelah semua yang dia pertaruhkan, setidaknya Amira ingin tahu apa yang terjadi. “Apalagi yang perlu gue kasih biar lo ngomong sekarang?” Desak Amira. Rasanya Amira sud
“Kamu enggak apa-apa?” Tanya Dina. Dia mengajak Amira untuk duduk dan bicara, tapi Amira terlalu malu untuk melakukannya.“Enggak apa-apa,” jawab Amira cepat. “Gue … lagi malas ngomong aja.”Dina cuma angkat bahu. “Oh ….” Dia menarik Amira mendekat. “Ya udah duduk aja, enggak usah ngomong.”Amira jadi tak memiliki alasan untuk menolak. Dia mengambil tempat di sebelah Dina, menghela keras di sana. “Udah lama ya, kita enggak duduk bareng kayak gini,” ucap Dina sambil memasang senyum.“Aku senang kedatangan aku enggak sia-sia.”Dina memandang jauh ke depan, seolah sedang mengingat masa lalu di antara mereka sebelum ini. “Padahal awalnya aku mau nyerah,” sambung Dina. “Apalagi saat tahu kamu punya teman-teman yang ternyata sangat baik, lebih daripada aku.”Kali ini Dina menoleh, menatap Amira. “Mereka–”“Amira!” Raga menangkap tangan Amira, tidak membiarkan gadis itu hilang dari pandangannya lagi. “Kenapa kabur dari gue?!” serunya, dengan tatapan tajam. Amira beringsut sedikit. Baru
“Ini penampilan apa?” Perhatian para tamu undangan langsung tertuju ke arah panggung. Musik tradisional yang mengalun, membuat mereka tertarik. “Apa ini … tarian?”Suasana berubah hening saat Dika dan Dina masuk ke tengah panggung. Kostum mereka, riasan mereka, begitu memukau sampai-sampai tak ada satu pun penonton yang membuka mulutnya. “Ini bagus sekali ….” “Aku baru melihat penampilan seperti ini.”“Ternyata Laveire adalah sekolah yang sangat menarik.”Amira tersenyum puas. Nyatanya, keputusan yang dia ambil sangat tepat. Memilih penampilan Dina dan Dika sebagai yang pertama adalah yang terbaik. Sorakan meriah bergema di aula saat Dika dan Dina mulai menari. Gerakan mereka lincah dan penuh energi, selaras dengan irama musik jaipong yang menggelegar memenuhi ruangan. ‘Udah lama, gue enggak ngeliat yang seperti ini,’ ucap Amira dalam hati. Penampilan Dina dan Dika menarik Amira ke masa lalu. Kehidupan yang damai di desa di saat kedua orang tua Amira masih lengkap. ‘Masa lalu
“Amira?” Raga memicing. “Lo kenapa?”Amira tidak peduli dengan tatapan bingung Raga. Dia sibuk menarik pacarnya itu ke sisinya. “Jangan deket-deket pacar gue!” Bentak Amira kasar. Kedua matanya melotot, dan kakinya menghentak kesal.Luntur semua image yang Amira jaga sampai saat ini. Biasanya, dia selalu bersikap tenang dan tidak peduli di depan Raga, tapi sekarang Amira tidak bisa. “Lo siapa?” Rasanya emosi Amira sudah naik sampai ke ubun-ubun. Tangannya mendorong perempuan itu menjauh. Amira sungguh tidak menyukainya.Perempuan yang datang bersama Raga, sekali lihat saja Amira langsung tahu, jika perempuan itu setara dengan Raga. Keduanya serasi, meski Amira tak ingin mengakui. Amira tidak bisa mengelak dari rasa rendah diri saat ini. Meski begitu, dia tak mau mengalah. Raga adalah pacarnya. “Aku?” Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Celine. Aku pacar Raga.”Tangan Amira terulur sempurna. Dia meraih kerah seragam yang dipakai perempuan itu. Celine memekik, membua
“Enggak,” ucap Amira pelan. Ini bukannya Amira yang terlalu banyak berpikir. Raga memang menjauh darinya. Di kantin, Amira duduk bersebelahan dengan Raga, tapi cowok itu tidak perhatian seperti sebelumnya.“Mau makan apa?” Biasanya Raga bertanya seperti itu, tapi kali ini Evan yang bersuara. “Gue pesen sendiri aja,” jawab Amira. Amira memilih untuk beranjak dari kursi. Rasanya sudah lama dia tidak memesan sendiri seperti sekarang. “Enggak apa-apa, kan gue yang minta,” ucap Amira pada dirinya sendiri. “Lebih baik begini, kan. Sewajarnya.” Amira mencoba menghibur diri.Di meja mereka, Amira menatap piringnya, menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Dia sungguh tidak bersemangat. Amira teringat akan sikap Raga sebelum dia memintanya menjauh. Kalau itu dulu, Raga pasti akan menatapnya lekat-lekat, bertanya kenapa Amira tidak nafsu makan, juga menanyakan apa yang Amira mau.
“Enggak,” jawab Raga. Tentu saja Amira bisa menebak jika itu adalah jawaban yang akan Raga berikan. “Kalau begitu … kasih tau gue batasnya.” Raga mencoba mengalah. Di saat kesabaran Amira hampir habis, akhirnya cowok itu sadar dan peka. Amira menjawab dengan sebuah tatapan lekat. “Sewajarnya, Raga. Mungkin kayak dulu ke mantan-mantan lo sebelumnya?”Pastinya Raga lebih tahu, karena cowok itu pernah punya pacar. Tidak seperti Amira. “Jangan terlalu deket pokoknya. Gue risih!” Tukas Amira. Amira memilih untuk menyudahi pembicaraan dan mulai menyiapkan makanan dari Raga. “Ayo makan dulu.” Dia mengucapkan terima kasih, lalu mulai melahap. Keduanya tidak bicara lagi setelahnya.Raga hanya menunggu Amira bersiap. Mereka kemudian berjalan ke kelas bersama-sama, sementara Alex menunggu di luar gedung utama.Peraturan Laveire tetap sama. Supir dan pengantar menunggu di tempat yang dite
“Bantu apa?” Tanya Dina penasaran. Dika pun ikut menyimak. “Isi acara. Gue yakin kalian pasti bisa ngelakuin itu.”Amira duduk mendekat. Dia membisikkan permintaannya pada kakak beradik itu. “Mulai besok bisa, kan?” Tanya Amira dengan kedua mata penuh pengharapan. Dika dan Dina saling pandang. Mereka tampak ragu. “Memangnya enggak apa-apa? Orang-orang kan enggak suka sama kita.” Dina tidak mau mempermalukan Amira, juga dirinya sendiri.“Ngomong apa sih? Gue minta karena gue suka,” sahut Amira. “Lagian juga beda bukan berarti benci, kan?”Amira mencoba meyakinkan keduanya, sampai mereka mengucapkan kata iya. Dika yang mengangguk pertama. “Kalau Kak Amira yang nyuruh, aku mau.”Amira tersenyum senang. “Bagus! Besok kalian ikut sama gue.”Ketiganya berbincang tentang kegiatan esok sampai akhirnya Amira berpamitan. Camilan mereka sudah habis, dan hari sudah malam.