Suasana ruang kerja Heri sungguh mencekam. Gavin dan Andini bahkan tidak berani mengangkat kepala mereka sama sekali. Keduanya membiarkan Heri memaki mereka sepuasnya. “Apa saja yang kalian lakukan?” Teriakan menggema sampai terdengar di seluruh penjuru ruangan. Semuanya terkejut, namun tidak ada yang berani melayangkan protes. “Kenapa kalian bahkan tidak bisa menjaga anak kalian sendiri? Bagaimana bisa membuat Raga dalam bahaya?” Andini tidak berani menjawab. Dia malah melirik ke arah suaminya takut. Tatapannya memohon bantuan, meminta agar suaminya itu saja yang menjawab. “Apa kalian lupa seberapa pentingnya Raga untuk perusahaan ini!” Sebuah gebrakan di meja sukses membuat Gavin berjengit kaget. Andini bahkan sudah bersembunyi di balik suaminya, takut. “Kenapa kalian malah menyusul ke perusahaan? Bukannya menjaga Raga di rumah?” Gavin tak bisa menjawab. Memang seharusnya hal itu yang terjadi. Mereka tetap berada di dalam kediaman keluarga Wijaya seperti yang Heri perint
Keadaan di dalam mobil hening sesaat. Heri terdiam, mencoba mencerna informasi yang masuk ke dalam kepalanya. “Aku harus menghubungi mereka,” ucap Heri cepat. Dipikir bagaimana pun rasanya tidak masuk akal. Apalagi Heri tidak pernah merasa menyetujui syarat itu. Dia tidak bisa mengingat momen ketika dirinya mengiyakan isi perjanjian. Jika bukan dirinya, maka itu adalah anak atau menantunya. “Cepatlah angkat!” Seru Heri pada handphone yang ada di tangannya. Sejak tadi Heri sudah menghubungi Gavin. Namun, sampai nada hubung ketiga, masih belum diangkat juga. “Lama sekali!” Heri menyumpah saat panggilannya diangkat. Di seberang sana, terdengar suara panik dari Gavin. Gelagapan, anaknya itu menjawab panggilan sang ayah. “Apa kamu yang mengurus kontrak kerja sama dengan Wilsent Company?” Terdengar gagap dari suara Gavin, sesuatu yang membuat Heri bertambah kesal. “Katakan padaku, apa kau mengecek isi kontraknya?” Sebuah suara ‘ya’ yang sangat halus membuat Heri s
Ruangan rumah kaca yang sebelumnya sempat tenang sesaat, seketika berubah tegang. Sekarang kedua penjahat itu menatap mereka lurus. Sepertinya, waktu untuk bermain-main sudah habis. “Kita harus membawa mereka ke gedung olahraga. Perintah dari Rick. Cepat! Dia kayaknya marah karena anak itu enggak ketemu juga!” Amira menggigit bibirnya keras. Dia sekilas melirik ke arah Raga. Anak yang dimaksud, tentunya dia tahu itu siapa. “Emang yang mana sih anaknya? Coba liat fotonya!” Ucapan salah satu penjahat itu membuat Amira berjengit. Dia seketika tahu jika waktu mereka tak akan tersisa lebih banyak lagi. Amira menoleh ke arah Raga sekilas. “Gue bakal ngalihin perhatian mereka. Lo lari, ya.” Raga langsung mendengus. Seolah dia akan melakukan hal itu. “Lo malah tambah bego sekarang dibanding waktu kita pertama kali ketemu dulu.” Setidaknya waktu itu Amira masih mampu berpikir dengan akal sehat. Tidak seperti sekarang. Konyol sekali menyuruh Raga pergi sendirian. Bukannya Amira tida
“Yang bener aja!” Raga berteriak kesal. Sama sekali Raga tidak peduli dengan keadaan rumah kaca yang sedang tegang dengan ancaman. Dia cuma tak habis pikir dengan tingkah Evan. Evan lari seenaknya, menyelamatkan diri sendiri, meninggalkan mereka dengan para penjahat di sini. “Tu orang enggak punya otak, apa gimana?” Geram Raga, menahan kesal.Semua manusia pasti memiliki sisi egois. Namun, bagi Raga, Evan sudah benar-benar keterlaluan. Evan yang kabur sendirian menunjukkan dengan jelas nilai dirinya. Tak berharga. Andai Evan kabur tanpa membawa senjata, maka Raga hanya akan memanggilnya sebagai seorang pengecut. “Tenang aja, gue bakal tangkep temen lo nanti. Enggak usah marah-marah gitu. Nanti juga kalian bakal mati sama-sama.”Seringai yang membuat Amira berjengit mundur. Amira tidak suka mata tajam penjahat itu. Sorot menakutkan penjahat berdarah dingin yang haus darah. “Gue bisa bikin kalian mati sekaligus. Enggak ada perintah juga buat bawa hidup-hidup.”Bulu kuduk Amira berd
“Gila!” Evan berlari dengan senjata di tangannya. Kedua kaki Evan melangkah cepat di atas rumput hijau taman Laveire. Dia sudah meninggalkan taman-temannya di dalam rumah kaca, di belakang sana. “Gue belum mau mati! Yang bener aja! Gue masih muda!” Terus saja Evan menggumamkan kata-kata itu dari mulutnya. Dia mengayuh kakinya secepat yang dia bisa. Tak mau. Dia tak berniat untuk berhenti. Evan tak mau berakhir mati konyol. Nyawanya jauh lebih berharga dari apapun. Dor! Suara letusan nyaring yang terdengar, membuat Evan tiba-tiba saja merasa lemas. Kedua kakinya tak bertenaga, membuatnya jatuh tanpa aba-aba. “Sial!” Lagi-lagi Evan merutuk. Dengan satu tangan, Evan berusaha membuat dirinya kembali bangkit. Namun, hal itu terasa sulit karena kedua tangannya bergetar hebat sekarang. “Ck!” Evan menggeleng menunduk. Wajahnya dipenuhi dengan perasaan bersalah. “Mereka enggak mati, kan?” Evan ingin pura-pura tidak tahu. Dia berniat untuk berdiri dan terus berlari setelah in
Febby menarik paksa Michelle. Dia tidak berniat menunggu. Febby mengajak temannya itu untuk segera berlari menuju ke pintu keluar rumah kaca. Sebelum rumah kaca ini benar-benar hancur. Mereka harus keluar secepatnya. “Amira!” Michelle baru tersadar saat mereka sudah ada di depan pintu keluar. Kepalanya menoleh ke belakang mencari keberadaan sang teman. “God!” Febby memaki kesal. Masih ada temannya yang lain! Bisa-bisanya Febby melupakan keberadaan Amira dan Raga. Dia hampir saja meninggalkan keduanya. “Di mana dia?” Febby menoleh ke segala arah. Dia mencari Amira, dan mendapati gadis itu sedang sibuk mengambil garpu taman di tangannya. “Ck!” Febby menggeram kesal. Di saat orang lain sibuk melarikan diri, Amira malah mencoba untuk menyerang. Dia berusaha memukul pria yang bersenjata. Sepertinya Amira tak ingin melihat Evan terus tersudut. “Amira, jangan!” Raga berteriak mencegah. Dia memang terpisah dari Amira. Dengan begitu cepatnya Amira berkelit, membuat Raga kehila
Amira tidak mau membuka mata. Dia memang sudah pasrah. Tidak mengapa jika sampai dirinya tidak selamat, asalkan tidak ada yang sampai kehilangan nyawa, di depannya. “Sial!” Nyatanya, Amira tidak merasakan rasa sakit apapun. Dia merasa baik-baik saja. Bahkan dia bisa mendengar suara makian juga berisik yang semakin keras. “Amira!” Teriakan Raga membuat Amira tersentak. Saat itu juga, Amira membuka kedua matanya. Dia bisa melihat si penjahat terhuyung. Ternyata tembakan sebelumnya meleset. “Kenapa lo nekat gitu?” Raga menarik Amira ke tepi. Dia memaksa Amira untuk menyadari keadaan sekitar. Sekarang bukan saat yang tepat bagi Amira untuk melamun. “Lempar lagi!” Febby berseru keras. Pandangan Amira tertuju pada Febby dan Michelle yang tengah sibuk melemparkan benda apa saja yang terlihat. Rupanya, Michelle dan Febby yang membantu Amira. Duk! “Argh!” Penjahat itu mengaduh kencang. Pelipisnya mengeluarkan darah yang mengalir hingga ke pipi. Michelle tersenyum puas. Tak si
Teriakan Raga menggema di taman belakang Laveire. Raga berlutut di samping Amira. Tangannya meraih tubuh gadis itu, membawanya ke dalam pelukan. "Kenapa, Amira? Kenapa ngorbanin diri lo sendiri?" Lirih Raga dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk. Amira malah tersenyum tipis. Tangannya bergerak lemah, menyentuh wajah Raga lembut. Sentuhannya membuat air mata Raga yang sebelumnya tertahan, jadi mengalir tanpa jeda. "Gue cuma ngelakuin tugas gue," jawab Amira lirih. "Lo kan bayar gue jadi bodyguard. Masa gue makan gaji buta?" Kekehan Amira sama sekali tidak terdengar lucu untuk Raga. Hatinya terluka, bukan bahagia. "Nanti habis ini lo lari. Lari sejauh-jauhnya. Gue–" Amira tidak bisa menahan rasa sakit yang kian menusuk. Kalimat Amira terputus dengan suara ringisan. Napasnya berubah sesak, dan kedua matanya terasa berat sekarang. "Enggak, gue enggak akan tinggalin elo!” Suara Raga berubah serak. “Lo harus bertahan, Amira! Lo enggak boleh tinggalin gue! Kita keluar d
“Jangan ingkar janji.” Senyum Raga melebar sempurna. Dia mengangguk bersemangat sebelum membiarkan Amira pergi menjauh darinya. “Ayo kita berikan tepuk tangan yang meriah!” Sorak-sorai bersahutan saat Amira naik ke panggung. “Amira!” Hal itu membuat Amira cukup tertekan. Apalagi saat Amira mengingat kenyataan tentang skill menyanyi pas-pasan miliknya. “Gue harus coba.” Amira meyakinkan dirinya sendiri. “Karena kesempatan ini mungkin cuma datang sekali, yang pertama juga yang terakhir.” Amira tersenyum lebar. Dia mengangkat kedua tangannya tinggi. “Come on! Sing with me!” Ketukan ceria terdengar. Amira pun mulai menyanyikan baris pertama dari “Price Tag” dengan penuh percaya diri. Saat itu juga, Raga tersenyum. Dia memandang Amira lekat. Harusnya Raga tahu kalau lagu yang dipilih Amira pasti yang seperti ini. “Lagu yang elo banget,” gumamnya pelan. Amira turun dari panggung setelah mendapatkan banyak tepuk tangan. Dia berjalan mendekat pada Raga. Mereka punya waktu k
“Bisa,” balas Amira menantang. “Apa sih yang enggak buat lo?” Karena sudah terlanjur basah, sekalian saja berendam.“Nanti, siap-siap aja.” Raga mengedipkan sebelah mata.Amira hanya bisa tertawa melihat pacarnya itu menjadi genit sekarang. Tiba-tiba saja ponsel Amira bergetar. Ada panggilan masuk dari Evan.Amira mendengarkan suara dari seberang sebelum akhirnya mengangguk. “Gue ke sana sekarang.”Raga tahu arti ucapan Amira. Dia ikut bersiap bersama sang pacar. “Evan mau tampil,” ucap Amira menjelaskan. “Gue juga diminta siap-siap, soalnya gue tampil habis dia.”Raga mengangguk mengerti. Dia menyempatkan diri untuk menghapus sisa air mata di pipi Amira sebelum menggandeng Amira kembali. Saat itu, Amira bukan hanya merasa senang, tapi lega. Setidaknya, Raga ada di sisinya. Keduanya berjalan menyusuri lorong sambil bergandengan, mengabaikan tatapan orang yang memicing pada mereka.“Kalian sudah baikan?” Tanya Evan setibanya Amira dan Raga di belakang panggung. Cowok itu menunjuk
“Bagus!” Amira bisa merasakan pelukan erat Raga. Cowok itu membuatnya hampir tidak bisa bernapas. “Berhenti! Gue bisa mati!” Keluh Amira.“Sorry!” Raga mengurai pelukannya. “Gue cuma seneng banget. Akhirnya lo mau terima gue dengan jawaban yang jelas. Jadi sekarang gue bisa susun rencana selanjutnya.”Amira tersentak sesaat. “Rencana … apa?”Raga tidak menjawab. Dia malah menarik Amira kembali ke pelukan. “Nikahin lo. Secepatnya.” Raga dengan sengaja membungkam mulut Amira dengan memberikan sebuah kecupan. “Nanti gue jelasin,” sambungnya. Raga menarik tangan Amira, hendak membawa gadis itu keluar dari lorong. Namun, Amira menggeleng. “Bilang sekarang, atau enggak usah sama sekali.”Amira tak bersedia menunggu. Dia sudah mengorbankan masa depannya, hanya demi seorang Raga. Mungkin Amira memang sudah gila. Tapi setelah semua yang dia pertaruhkan, setidaknya Amira ingin tahu apa yang terjadi. “Apalagi yang perlu gue kasih biar lo ngomong sekarang?” Desak Amira. Rasanya Amira sud
“Kamu enggak apa-apa?” Tanya Dina. Dia mengajak Amira untuk duduk dan bicara, tapi Amira terlalu malu untuk melakukannya.“Enggak apa-apa,” jawab Amira cepat. “Gue … lagi malas ngomong aja.”Dina cuma angkat bahu. “Oh ….” Dia menarik Amira mendekat. “Ya udah duduk aja, enggak usah ngomong.”Amira jadi tak memiliki alasan untuk menolak. Dia mengambil tempat di sebelah Dina, menghela keras di sana. “Udah lama ya, kita enggak duduk bareng kayak gini,” ucap Dina sambil memasang senyum.“Aku senang kedatangan aku enggak sia-sia.”Dina memandang jauh ke depan, seolah sedang mengingat masa lalu di antara mereka sebelum ini. “Padahal awalnya aku mau nyerah,” sambung Dina. “Apalagi saat tahu kamu punya teman-teman yang ternyata sangat baik, lebih daripada aku.”Kali ini Dina menoleh, menatap Amira. “Mereka–”“Amira!” Raga menangkap tangan Amira, tidak membiarkan gadis itu hilang dari pandangannya lagi. “Kenapa kabur dari gue?!” serunya, dengan tatapan tajam. Amira beringsut sedikit. Baru
“Ini penampilan apa?” Perhatian para tamu undangan langsung tertuju ke arah panggung. Musik tradisional yang mengalun, membuat mereka tertarik. “Apa ini … tarian?”Suasana berubah hening saat Dika dan Dina masuk ke tengah panggung. Kostum mereka, riasan mereka, begitu memukau sampai-sampai tak ada satu pun penonton yang membuka mulutnya. “Ini bagus sekali ….” “Aku baru melihat penampilan seperti ini.”“Ternyata Laveire adalah sekolah yang sangat menarik.”Amira tersenyum puas. Nyatanya, keputusan yang dia ambil sangat tepat. Memilih penampilan Dina dan Dika sebagai yang pertama adalah yang terbaik. Sorakan meriah bergema di aula saat Dika dan Dina mulai menari. Gerakan mereka lincah dan penuh energi, selaras dengan irama musik jaipong yang menggelegar memenuhi ruangan. ‘Udah lama, gue enggak ngeliat yang seperti ini,’ ucap Amira dalam hati. Penampilan Dina dan Dika menarik Amira ke masa lalu. Kehidupan yang damai di desa di saat kedua orang tua Amira masih lengkap. ‘Masa lalu
“Amira?” Raga memicing. “Lo kenapa?”Amira tidak peduli dengan tatapan bingung Raga. Dia sibuk menarik pacarnya itu ke sisinya. “Jangan deket-deket pacar gue!” Bentak Amira kasar. Kedua matanya melotot, dan kakinya menghentak kesal.Luntur semua image yang Amira jaga sampai saat ini. Biasanya, dia selalu bersikap tenang dan tidak peduli di depan Raga, tapi sekarang Amira tidak bisa. “Lo siapa?” Rasanya emosi Amira sudah naik sampai ke ubun-ubun. Tangannya mendorong perempuan itu menjauh. Amira sungguh tidak menyukainya.Perempuan yang datang bersama Raga, sekali lihat saja Amira langsung tahu, jika perempuan itu setara dengan Raga. Keduanya serasi, meski Amira tak ingin mengakui. Amira tidak bisa mengelak dari rasa rendah diri saat ini. Meski begitu, dia tak mau mengalah. Raga adalah pacarnya. “Aku?” Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Celine. Aku pacar Raga.”Tangan Amira terulur sempurna. Dia meraih kerah seragam yang dipakai perempuan itu. Celine memekik, membua
“Enggak,” ucap Amira pelan. Ini bukannya Amira yang terlalu banyak berpikir. Raga memang menjauh darinya. Di kantin, Amira duduk bersebelahan dengan Raga, tapi cowok itu tidak perhatian seperti sebelumnya.“Mau makan apa?” Biasanya Raga bertanya seperti itu, tapi kali ini Evan yang bersuara. “Gue pesen sendiri aja,” jawab Amira. Amira memilih untuk beranjak dari kursi. Rasanya sudah lama dia tidak memesan sendiri seperti sekarang. “Enggak apa-apa, kan gue yang minta,” ucap Amira pada dirinya sendiri. “Lebih baik begini, kan. Sewajarnya.” Amira mencoba menghibur diri.Di meja mereka, Amira menatap piringnya, menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Dia sungguh tidak bersemangat. Amira teringat akan sikap Raga sebelum dia memintanya menjauh. Kalau itu dulu, Raga pasti akan menatapnya lekat-lekat, bertanya kenapa Amira tidak nafsu makan, juga menanyakan apa yang Amira mau.
“Enggak,” jawab Raga. Tentu saja Amira bisa menebak jika itu adalah jawaban yang akan Raga berikan. “Kalau begitu … kasih tau gue batasnya.” Raga mencoba mengalah. Di saat kesabaran Amira hampir habis, akhirnya cowok itu sadar dan peka. Amira menjawab dengan sebuah tatapan lekat. “Sewajarnya, Raga. Mungkin kayak dulu ke mantan-mantan lo sebelumnya?”Pastinya Raga lebih tahu, karena cowok itu pernah punya pacar. Tidak seperti Amira. “Jangan terlalu deket pokoknya. Gue risih!” Tukas Amira. Amira memilih untuk menyudahi pembicaraan dan mulai menyiapkan makanan dari Raga. “Ayo makan dulu.” Dia mengucapkan terima kasih, lalu mulai melahap. Keduanya tidak bicara lagi setelahnya.Raga hanya menunggu Amira bersiap. Mereka kemudian berjalan ke kelas bersama-sama, sementara Alex menunggu di luar gedung utama.Peraturan Laveire tetap sama. Supir dan pengantar menunggu di tempat yang dite
“Bantu apa?” Tanya Dina penasaran. Dika pun ikut menyimak. “Isi acara. Gue yakin kalian pasti bisa ngelakuin itu.”Amira duduk mendekat. Dia membisikkan permintaannya pada kakak beradik itu. “Mulai besok bisa, kan?” Tanya Amira dengan kedua mata penuh pengharapan. Dika dan Dina saling pandang. Mereka tampak ragu. “Memangnya enggak apa-apa? Orang-orang kan enggak suka sama kita.” Dina tidak mau mempermalukan Amira, juga dirinya sendiri.“Ngomong apa sih? Gue minta karena gue suka,” sahut Amira. “Lagian juga beda bukan berarti benci, kan?”Amira mencoba meyakinkan keduanya, sampai mereka mengucapkan kata iya. Dika yang mengangguk pertama. “Kalau Kak Amira yang nyuruh, aku mau.”Amira tersenyum senang. “Bagus! Besok kalian ikut sama gue.”Ketiganya berbincang tentang kegiatan esok sampai akhirnya Amira berpamitan. Camilan mereka sudah habis, dan hari sudah malam.