Share

206. Bukan Yuichi

Penulis: Rai Seika
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-08 23:21:30

“Yui, di mana Yui?” gumam Yuan, berusaha mencari kembarannya di atas langit. Tubuh Yuan yang sudah kelelahan membuat sayapnya timbul tenggelam, hingga dia sempat tergelincir dan jatuh, lalu terbang kembali. Dalam kepanikan mencari Yui, dia justru melihat sosok lain yang keluar dari gerbang dimensi.

“Ayahanda?!” Yuan mengucek matanya, berusaha melihat lebih jelas sosok tersebut. Tubuh tinggi ramping dengan sebuah pedang hijau zamrud mengkilat di tangannya. Mata hijau yang indah dan rambut kehijauan panjangnya terlihat seperti tumbuhan hijau di tengah kegelapan tanah tandus yang gersang.

Yuan kembali terbang, mempercepat terbangnya. Senyumnya merekah saat dia tahu sosok itu memang Yuichi, ayahnya. Rindu yang terpendam dalam hatinya seolah meledak, mengalir seperti sungai yang tak terhentikan.

“Ayahanda!” teriak Yuan, memanggil sosok tersebut. Sayangnya, sosok itu seakan tidak mendengar panggilannya dan terus berjalan ke depan, menuju ke istana kegelapan. Di tengah-tengah kekacauan terse
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   207. Bertahan (1)

    Langkah kaki Yuichi terhenti, merasakan tekanan yang sangat berat, seolah dunia di sekelilingnya menekan tubuhnya ke tanah. Dia juga tidak sanggup mengayunkan lagi pedangnya ke arah Yuan. Matanya menatap ke bawah kakinya, di mana sebuah lingkaran segel telah terbentuk, berkilau dengan aura misterius.“Sejak kapan!” seru Yuichi dalam benaknya, kebingungan melanda. Dia menoleh ke belakang dan melihat putri cantiknya sedang mengendalikan segel. “Yui? Sejak kapan dia bisa membuat segel?”Di saat yang bersamaan, Yuasa yang menoleh ke belakang melihat Yuan terjatuh di tangan ayahnya sendiri. Kebingungan pun melanda dirinya, antara panik dan tidak mengerti mengapa ayahnya melukai adiknya. Dengan segenap tenaga, Yuasa berlari menuju tubuh Yuan yang tergeletak. Menggunakan kekuatannya, sehingga cahaya kemilau keemasan menyelubungi Yuan, seolah alam semesta berusaha menyelamatkannya.“Bertahanlah, Yuan!” teriak Yuasa, suaranya penuh kecemasan. Dia bisa merasakan jantung adiknya terluka oleh ped

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-09
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   208. Bertahan (2)

    Yui masih menahan Yuichi di tempatnya, memastikan agar ayahnya tidak mendekati Yuan. Rafael memperkuat segel yang dibuat Yui, sehingga Yuichi tidak bisa berpindah tempat. Keduanya seperti patung, berdiri di tempatnya masing-masing, terjebak dalam ketegangan yang mencekam, seolah waktu berhenti di antara mereka.Nacht yang menatap Yui kini beralih ke arah Rafael. Senyuman liciknya mulai terkembang, seolah merencanakan sesuatu yang jahat. “Putri Yui, bagaimana kalau aku membuat penawaran?” ucapnya, berusaha membujuk dengan nada menggoda, suaranya mengalir seperti racun yang merayap.“Tidak ada tawar-menawar,” balas Yui singkat dan cepat, suaranya tegas, penuh keberanian. Dia masih menggunakan kekuatan segelnya untuk menahan Nacht. Di saat yang sama, matanya menatap ke arah Yuan. Dia melihat kembarannya sudah mulai pulih secara perlahan, setidaknya dia harus bertahan hingga Yuan sadar.“Yui, lepaskan segelmu, biar kutahan!” teriak Rafael, yang tahu kelemahan Yui. Gadis itu tidak akan ber

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-09
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   209. Permintaan Maaf

    Yuasa kebingungan saat melihat tanduk di kepala Yuan memudar dan tiba-tiba menghilang, seolah diserap oleh kegelapan. Dia segera memeriksa pergelangan tangan Yuan, mencari denyut nadinya. Helaan napas lega terlihat jelas saat dia merasakan kondisi Yuan tidak memburuk meskipun tanduknya menghilang. Perlahan, kedua mata Yuan mulai terbuka, seperti fajar yang menyingsing di ufuk timur.“Yuan!” panggil Yuasa kepada adiknya, berharap mendapatkan respons.“Kak Yuasa?” Yuan akhirnya terbangun setelah usaha keras Yuasa menyembuhkannya. Dia melihat Eirlys menatap dirinya dengan kedua mata yang indah, seakan menyelam dalam birunya mata itu. “Eirlys,” gumam Yuan, tersenyum ke arah gadis itu, senyumnya lembut seperti sinar matahari pagi.Yuan mengangkat tangannya, membuat tanah bergetar hebat bagaikan gempa dahsyat. Dari dalam tanah, muncul satu lagi gerbang dimensi, gerbang yang tertuju pada dunia manusia.“Yuan, untuk apa gerbang itu?” tanya Yui, tidak mengerti. Mereka tidak membuat perjanjian

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-10
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   210. Melepas Kebencian (1)

    Dua bayangan Yuan meluncur keluar dari dalam gerbang dimensi, seolah-olah terlahir dari kegelapan itu sendiri. Di saat yang sama, Yuan mengangkat kedua tangannya, menciptakan dua lingkaran sihir hitam perak yang berputar di langit dunia bawah. Semua mata terangkat, menatap kedua lingkaran sihir yang bergetar dengan tekanan yang sangat kuat, seakan-akan langit pun menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Perlahan, semua orang merasakan sesuatu yang tak terelakkan ditarik paksa dari dalam hati mereka. Bagian paling kelam yang tersembunyi di dalam jiwa, kebencian, dendam, dan semua penyakit hati yang telah mengikat mereka dalam kegelapan, kini mulai terangkat. Seolah-olah ada tangan tak terlihat yang merobek luka lama, mengeluarkan semua racun yang telah mengendap di dalam jiwa mereka.Yuasa, yang berdiri di antara Yui dan Yuan, merasakan hal yang sama. Satu-satunya ganjalan dalam hatinya kini ditarik paksa, seolah-olah ada kekuatan yang menggerakkan jiwanya. Tangan Yua

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-11
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   211. Melepas Kebencian (2)

    “Aku dan Yui akan memisahkan Ayah dari Nacht. Saat itu, jubah ini harus bisa melindungi tubuh Ayahanda,” bisik Yuan, suaranya lembut seperti desiran angin, samar-samar dan hanya Yuasa yang mendengarnya.Yuasa tidak punya pilihan lain. Dia mengerti kenapa Yuan melakukan ini. Yuichi akan langsung terkontaminasi di dunia bawah. Tubuhnya sangat rentan, berbeda dengan Yuan yang telah bertransformasi menjadi raja kegelapan. Jubah Yuan didesain sedemikian rupa untuk bisa bertahan di dunia bawah. Setelah perubahan Yuan, dia tidak akan terpengaruh dengan kontaminasi dunia bawah, tetapi Yuichi berbeda, terpisah dengan Nacht dia akan kembali seperti semula.“Kau harus bertahan, rasanya akan sangat menyakitkan,” bisik Yuasa, menahan air mata yang mengancam di sudut matanya, merasakan betapa beratnya keputusan ini.Yuan mengangguk, berdiri di depan Yuasa untuk melepaskan jubahnya. Saat Yuasa menarik jubah tersebut, Yuan menahan rasa sakit luar biasa. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa saki

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-11
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   212. Melepas Kebencian (3)

    Yuasa melihat pergerakan di balik bayangan reruntuhan. Darah segar mengalir dari tangan pria itu, membentuk genangan kecil di tanah yang kering. Lukanya cukup parah, dia menggunakan tubuhnya untuk melindungi Rafael. Di balik jubah hitamnya, Rafael terkulai tak sadarkan diri. Yuasa menatap pria itu, kedua mata mereka terkunci dalam keheningan yang penuh harapan.“Tolonglah Rafael,” ucap pria itu tanpa suara, tetapi Yuasa bisa membaca gerak bibir pria itu dengan jelas.Yuasa berlari ke arah mereka. “Kau terluka,” balas Yuasa, mengangkat tangannya di atas luka Xavier, berusaha menyembuhkannya. Tangan dan kaki Xavier patah, tulang-tulangnya harus disambung kembali. Meskipun dia bisa melakukannya, dia tidak memiliki obat untuk mengurangi rasa sakit dalam proses penyambungan tulang. Mereka jauh dari tenaga medis.“Abaikan lukaku, tolonglah Rafael terlebih dahulu,” pinta Xavier, suaranya bergetar. Terlihat jelas rasa canggung dan tidak nyaman yang diperlihatkan Xavier. Dia tidak bisa bergera

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-12
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   213. Melepas Kebencian (4)

    “Katakan,” jawab Yuasa singkat, tidak ingin mengalihkan perhatian dari Rafael.“Maaf, saya hanya penasaran saja. Kenapa Anda melepaskan kekuatan naga lalu memilih kekuatan penyembuh?” Xavier menghela napas panjang sebelum kembali melanjutkan. Dia masih terlihat canggung, tetapi rasa penasarannya mengalahkan perasaannya itu. “Semua orang lebih menghargai orang yang kuat; mereka menganggap remeh penyembuh meskipun tugas mereka mulia.”Yuasa tersenyum lembut, dia mengerti maksud Xavier. “Kenapa waktu itu kau menginginkan darahku?” tanyanya, menatap Xavier dengan serius.Mata Xavier berkilat, dan dia langsung menyilangkan tangannya, menggerakkan seakan menepis apapun yang ada di benaknya. “Tidak, saya tidak akan melakukan itu lagi!” jawabnya cepat, wajahnya memerah.“Aku terlahir dengan kristal emas, kristal istimewa dengan kekuatan penyembuh terkuat. Mereka bahkan mengatakan tidak ada yang tidak bisa kusembuhkan,” Yuasa mulai mengatakan apa yang sudah lama ingin dia katakan. “Sayangnya,

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-12
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   214. Pertarungan (1)

    Tempat itu sunyi, hanya ada mereka bertiga. Langit semakin bergemuruh dengan petir dan guntur yang menggelegar, seolah-olah alam pun merasakan ketegangan yang melanda. Mereka yang menyaksikan dari kejauhan, bersembunyi di balik reruntuhan, menghindari serangan dari kedua belah pihak yang sedang bertarung.“Semoga saja Pangeran Yuan bisa mengalahkannya,” gumam seseorang yang berada di istana, suaranya penuh harapan. Para prajurit dari kedua sisi kini mendukung sang pangeran, berdoa dalam hati agar keajaiban terjadi.Langkah kaki kecil Yui mulai menari, gerakannya terlihat lincah dan gesit. Dia sedang menggambar di atas tanah, menciptakan sebuah lingkaran sihir yang mengurung musuhnya tepat di tengah-tengah. Setiap goresan yang ditorehkan di tanah seolah mengeluarkan cahaya, menandakan kekuatan yang akan segera terbangun.“Kau pikir bisa mengurungku!” seru Yuichi, marah, segera menghapus kembali coretan yang ditorehkan Yui dengan angin kencang yang berputar, seolah-olah mengabaikan usah

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-13

Bab terbaru

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   263. Suara Harpa

    Yui dan Yuan berdiri di luar dinding istana, hembusan angin lembut membelai rambut mereka. Jemari mereka dengan hati-hati menaburkan benih-benih ajaib dari dunia atas ke tanah yang dahulu gersang. Di bawah sentuhan mereka, dunia bawah yang dulunya kelam kini dipenuhi berbagai warna—hijau rumput yang merayap, kuning keemasan bunga-bunga liar, segala macam tanaman mulai mengular dari dalam tanah. Yui menoleh, alisnya berkerut melihat saudaranya. "Yuan, kau tidak apa-apa?" tanyanya, memperhatikan kembarannya yang tengah memainkan harpa keemasan—benda legendaris yang diperebutkan banyak makhluk.Yuan menggeleng pelan, jemarinya masih menari di atas senar harpa. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat, matanya tetap terfokus pada alat musik di tangannya.Kebangkitan Yuan beberapa waktu lalu sungguh menggemparkan seluruh kerajaan. Bukan hanya wujudnya yang telah berubah sempurna sebagai raja kegelapan, tetapi juga reaksi tidak biasa dari harpa ajaib tersebut. Harpa keemasan itu bersinar terang,

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   262. Benih Kebangkitan

    Cahaya keemasan menyusup di antara dedaunan saat Raja Arlen membimbing Yui menyusuri jalan setapak menuju area tidak jauh dari Pohon Kehidupan. Angin lembut menerbangkan helaian rambut Yui, sementara matanya menangkap sosok Rafael yang tengah berbincang serius dengan Moura di kejauhan, wajah keduanya tampak khidmat di bawah naungan cabang-cabang raksasa."Sebelah sini," ujar Raja Arlen sambil menunjuk dengan jemarinya yang panjang dan ramping. Jubah kerajaannya berdesir lembut menyapu rumput saat ia memimpin Yui menuju sebuah pondok mungil yang hampir tersembunyi di balik rimbunnya aneka bunga warna-warni. Aroma manis nektar merebak di udara, menggelitik indra penciuman.Pintu pondok terbuka dengan derit pelan. Seorang pria melangkah keluar, mengenakan tunik berwarna lumut khas kaum elf yang melekat sempurna di tubuhnya. Namun, tidak seperti para elf lainnya, telinga pria itu tidak meruncing dan wajahnya tidak memancarkan keanggunan abadi yang biasa dimiliki kaum elf."Yoru!" pekik Y

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   261. Undangan

    Yui mendarat dengan lincah setelah melompat dari punggung Fury, naga hitam milik Rafael. Rambut panjangnya melambai tertiup angin saat kakinya menyentuh tanah. Matanya berbinar melihat sosok yang telah menunggunya."Kakak!"Yui menghambur ke pelukan Yuasa, jemarinya mencengkeram erat jubah sang kakak sementara aroma khas dedaunan segar menguar dari tubuh Yuasa. Mata keduanya berkaca-kaca, pertemuan yang menggetarkan jiwa setelah sekian lama terpisah."Kau baik-baik saja, Yui? Bagaimana tubuhmu setelah bangkit kembali?" tanya Yuasa sambil meneliti setiap inci wajah adiknya. Jemarinya yang ramping menyentuh pipi Yui, memancarkan energi keemasan yang menelusuri setiap sel dalam tubuh sang adik. "Setelah semua ini selesai, biarkan kakak menyembuhkanmu."Dahi Yuasa berkerut dalam. Sensasi dingin menjalar dari tubuh Yui—sesuatu yang sangat janggal. Api Suzaku yang seharusnya berkobar hangat kini terasa beku seperti es abadi."Tentu, untuk saat ini kakak fokus saja dengan pernikahan. Urusan

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   260. Malam Berbintang

    Malam di Kota Naga. Bintang-bintang bertaburan seperti permata di langit malam Kota Naga. Rafael berdiri sendirian di balkon gedung tertinggi, kedua tangannya mencengkeram pagar besi yang dingin sementara matanya menelusuri konstelasi-konstelasi yang berkilauan. Hembusan angin malam meniup rambut gelapnya, mengirimkan sensasi dingin yang menusuk tulang, namun Rafael tak bergeming.Suara langkah kaki lembut terdengar di belakangnya. Rafael menoleh, alisnya terangkat saat mengenali sosok yang mendekat."Yuichi?"Sosok itu tersenyum. Wajahnya merupakan versi maskulin dari Yui, garis rahang yang sama, mata yang sama, tetapi dengan ketegasan yang hanya dimiliki seorang ayah."Sendirian?" tanya Yuichi, suaranya merdu membelah keheningan malam.Rafael mengangguk pelan, lalu menggerakkan tangannya ke arah kursi kosong di sampingnya. Yuichi melangkah maju dan duduk, jubah hitamnya melambai pelan tertiup angin."Malam ini indah meskipun tanpa bulan," ucap Rafael, matanya kembali menatap cakraw

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   259. Kebangkitan

    Bunga putih mungil bertebaran di aula, mirip kepingan dandelion yang rapuh. Setiap tamu berjalan perlahan, meletakkan bunga kecil tanda penghormatan terakhir. Bunga-bunga itu mencerminkan ketangguhan luar biasa, seperti kehidupan yang bertahan di balik kerasnya dunia bawah, membisu namun tak terkalahkan. Mereka menyebutnya bunga bintang roh. Eirlys menatap Yuan yang terpejam, sosoknya tenang seakan tertidur lelap. Alunan harpa mengalir lembut memenuhi aula, melukiskan kesedihan yang mencekam setiap sudut ruang. Matanya menyipit saat menyadari bunga putih di dekat Yuan mulai membeku, embun es merangkak perlahan mengubah kelopak menjadi kristal dingin. Hawa sejuk mulai merambat, menusuk tulang."Mungkinkah?!"Dalam sekejap, Eirlys bangkit dari tempatnya. Langkahnya cepat mendekati peti kaca tempat Yuan dibaringkan. Jemarinya mendorong penutup tebal dengan tekad membara. Jantungnya berdebar dengan kencang, sebuah api harapan muncul. "Putri Eirlys, relakan Yang Mulia!" Xavier bergerak c

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   258. Kepergian sang Raja

    Senar harpa emas kaum elf bergetar lembut, berbeda dari instrumen biasa. Energi yang digunakan untuk menggerakkan senar ini sangat banyak. Eirlys membiarkan jemarinya terkulai di atas senar, tenaga terampas habis. Napasnya terengah-engah, seakan udara di sekitarnya menghisap oksigen dari paru-parunya."Eirlys!" Lixue melompat mendekati, gemetar mengambil harpa keemasan dari tangan sang adik. Dengan lembut, dia meletakkan instrumen berkilau itu di meja terdekat. "Istirahatlah sekarang." Lengannya melingkari pinggang Eirlys, memapah tubuh lemah itu menuju kursi panjang. Dengan hati-hati, dia mengangkat kaki adiknya dan membiarkan Eirlys setengah berbaring."Kak, bagaimana Yuan?" bisik Eirlys, kekhawatiran menembus kelelahan yang menyelimutinya.Lixue menggenggam tangan adiknya, mencoba menenangkan. "Dia akan baik-baik saja. Ingat, Tuan Xavier dan Tuan Ernest sedang menyiapkan ramuan untuknya." Dalam hati, dia berdoa agar takdir berkata lain. “Semoga Yuan bertahan, setidaknya biarkan Eir

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   257. Liontin Lenora

    Jalanan di depan Yuan terlihat asing. Jalan dengan bebatuan hitam, meskipun itu batu, tetapi tidak terasa seperti batu biasa. Dia mengamati orang-orang yang berjalan menuju ke satu arah yang sama, sebuah gerbang besar di ujung jalan, gerbang yang tidak terlihat jelas tulisan namanya. Yuan masih sangat jauh dari gerbang itu. “Akhirnya perjalanan terakhir,” gumam Yuan yang tahu di mana dia sekarang. Dunia orang mati. Kaki Yuan berhenti melangkah saat seorang wanita dengan jubah putih berdiri di hadapannya, muncul begitu saja hingga dia hampir jatuh tersungkur karena kaget. “Lenora!”“Pangeran Yuan, apa yang Anda lakukan di sini!” Suara Lenora terdengar penuh kekesalan dan amarah seakan dia sedang memarahi seorang anak nakal. “Hah?” Reaksi Yuan mendengar ucapan Lenora. Dia tidak tahu harus menjawab apa, tentu saja dia di sini karena nyawanya sudah terpisah dari tubuhnya. “Kuulangi, Pangeran, ah tidak, Yang Mulia Raja Yuan, kembalilah sekarang juga!” Lenora berkata dengan nada lebih

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   256. Gunjingan

    “Apa aliran air ini sudah dimantrai?” tanya pria yang menampilkan lengan hitamnya. Dia mengambil air dan menyiramkannya ke tangan hitamnya. “Mantra Genbu dari Putri Yui. Dengan adanya mantra ini tidak akan ada pencurian air untuk kepentingan pribadi yang ingin menjual air ini.” Penjaga itu kemudian terlihat menghela napas panjang sebelum kembali berbicara. “Sayangnya, kabar buruk terdengar di istana. Kabarnya Yang mulia saat ini dalam kondisi kritis.” Mendengar penuturan penjaga tersebut, pria yang sepanjang jalan selalu memberikan argumen tidak menyukai raja yang sekarang terlihat marah. “Apa katamu! Lalu kenapa mengundang kami jika dia sendiri dalam keadaan kritis, bukankah dia tidak akan bisa menyembuhkan kami!” suara pria itu terdengar begitu keras hingga mengundang perhatian orang-orang di sekitar. “Tuan tenang saja, di istana semua sudah dipersiapkan.” Penjaga gerbang berusaha menekan amarah pria itu, tetapi tidak berhasil. “Lebih baik kita pulang saja!” Pria dengan lengan

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   255. Air di Jalanan Ibukota

    Dunia bawah lebih berwarna. Langit yang biru membawa semangat baru. Kepala desa dan para pemimpin wilayah lainnya menjalankan perintah yang diberikan Yuan, raja mereka untuk mendata dan membawa penduduk dengan tingkat kontaminasi 80 %. Mereka yang telah mengalami kontaminasi bertahun-tahun dipilah dan dibawa ke ibukota untuk bertemu langsung dengan sang raja. “Apa benar kontaminasi ini bisa hilang? Rasanya aku sudah pasrah dengan kondisi ini seumur hidupku.” Pria dengan tangan dan kaki yang sudah menghitam karena kontaminasi terlihat pesimis. Meskipun begitu, setelah menatap langit biru ada secercah harapan di hatinya. “Kalau sang raja bisa menghilangkan kontaminasi di dunia bawah, kurasa bisa juga menghilangkan kontaminasi di tubuhku.” Semua penduduk dengan tingkat kontaminasi parah sudah mulai berangkat menuju ibukota. Mereka menaruh harapan yang sangat besar kepada sang raja, harapan kesembuhan dari kontaminasi yang selama ini menyiksa diri mereka.“Kudengar sang raja masih belia

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status