Share

195. Rencana Leiz (2)

Author: Rai Seika
last update Last Updated: 2025-01-02 22:28:58

Leiz kembali menatap para jenderal dengan tatapan tajam. “Kau!” tunjuknya pada jenderal paling kiri. “Siapkan pasukan dengan para pengendali elemen. Begitu Rafael muncul, serang dia tanpa ampun!”

Jenderal itu mengangguk cepat, wajahnya pucat pasi. Ia tahu betul reputasi Rafael Blackdragon dengan api hitamnya. Api hitam yang bisa membakar apa saja yang dilalui. Kali ini sang jenderal harus menambah pasukan pengendali yang bisa memadamkan api.

Leiz kemudian menunjuk lagi jenderal lainnya. “Kau, perkuat benteng istana! Pastikan tidak ada jalan masuk selain melewati pintu gerbang, kecuali mereka bisa terbang. Lepaskan buaya-buaya ganas di parit! Biarkan mereka memangsa siapa pun yang berani mendekat.”

Sang jenderal membungkuk hormat, menjawab dengan tegas perintah yang diberikan.

Leiz menyeringai, merasa di atas angin. Pasukannya jauh lebih banyak dan kuat. Kemenangan sudah di depan mata.

“Kita sambut kedatangan mereka dengan gempuran maut!” seru Leiz lantang, suaranya menggema di seluru
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   196. Mengamati Pasukan

    "Yuan!" seru Rafael, suaranya memecah deru angin yang mengelus sayap megah Yuan. Sang pangeran, dengan gerakan sehalus bulu yang jatuh di atas air, mendarat di belakang Rafael yang menunggangi Fury, naga hitamnya yang bagai batu bara mengilap di bawah sinar mentari."Ada yang ingin Paman tanyakan?" tanya Yuan, suaranya selembut belaian sutra."Berapa banyak pasukan kerajaan yang akan kita hadapi?" Rafael menatapnya serius. Pasukan Yuan, bagaikan segenggam pasir di padang luas, tak lebih dari sepuluh ribu, sementara pasukan kerajaan, bagaikan lautan tak bertepi, jauh lebih besar."Mungkin mencapai seratus ribu pasukan," jawab Yuan dengan tenang, wajahnya seteduh permukaan danau, tak terusik riak kepanikan."Yuan!" teriak Rafael, suaranya menggelegar bagai guntur di langit cerah. Belum sempat kata-kata meluncur dari mulutnya, Yuan melompat dari Furi dan melesat bagai kilat.Pangeran berambut hitam perak itu tertawa kecil, tawanya seperti denting lonceng kristal. "Percayalah padaku, Pama

    Last Updated : 2025-01-03
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   197. Menutup Enam Celah Dimensi

    “Manusia?” gumam Yuan, matanya yang tajam bagai elang mampu menembus kejauhan. Ia yakin pasukan zombi akan terus bertambah selama celah itu masih terbuka.“Aku harus meminta bantuan Kak Yuasa,” pikirnya. Sayap hitamnya mengepak, membawanya meluncur deras bagai meteor menuju kumpulan tenaga medis. Kereta-kereta kuda yang membawa obat-obatan berderet rapi, dikawal oleh para penyembuh dan pelindung yang bergerak perlahan. Mereka berada di barisan paling belakang, bagai jantung kehidupan di tengah pasukan perang.“Di mana Kak Yuasa?” gumam Yuan, matanya menyapu lautan tenaga medis hingga menemukan rambut keemasan Yuasa yang berkilau di atas kuda. Di sampingnya, Rosaline, dengan baju zirah hitam dan rambut merah yang berkibar tertiup angin, bagai mawar berduri yang melindungi sang raja.Yuan melesat dan mendarat tepat di depan Yuasa. Dentuman keras mengejutkan kuda Yuasa hingga berdiri tegak.Yuan tersentak kaget. “Kak Yuasa!” teriaknya, melihat Yuasa hampir terjatuh.Dengan lembut, Yuasa

    Last Updated : 2025-01-03
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   198. Perubahan Rencana

    Yuan berdiri sendirian di balik bayang-bayang istana kegelapan. Udara dingin menusuk tulang, seakan bisikan ancaman membayangi setiap langkahnya. Ia merasakan tatapan tajam, tak terlihat namun nyata, seperti mata-mata tak kasat mata yang mengintai dari balik setiap celah batu. Matanya menyapu sekeliling dengan cepat, waspada, bagai elang yang mengawasi mangsanya dari ketinggian. Dengan napas yang membeku, ia memanggil pedang es abadi. Seketika, tanah di sekitarnya memutih, diselimuti lapisan es tipis yang merambat bagai ular es yang haus akan kehidupan, menelan setiap inci tanah hitam yang menjadi saksi bisu kekejaman kerajaan ini.“Siapa? Siapa yang mengawasiku?” gumam Yuan, suaranya nyaris tak terdengar di tengah sunyi mencekam yang hanya diiringi oleh desiran angin dingin yang berbisik-bisik di antara reruntuhan. Yuan melangkah hati-hati, memeriksa setiap sudut sekali lagi hingga yakin tidak ada orang lain di sana. Yuan tidak ingin terjebak di tempat ini lebih lama lagi. Dia sudah

    Last Updated : 2025-01-04
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   199. Menyerbu

    “Jangan takut, es yang kubuat cukup kokoh!” teriak Lixue, suaranya menggema di antara gemuruh pertempuran. Suara penuh keyakinan imenumbuhkan semangat bagi pasukan yang tengah berjuang. Dengan kekuatan sihirnya yang luar biasa, ia membentuk pijakan-pijakan es bagai anak tangga raksasa yang menanjak ke atas benteng, dua jalur pijakan di sisi kiri dan kanan benteng. Balok-balok es besar itu berjajar rapi memudahkan pasukan Yuan menaiki benteng. Dua jalur serangan yang dibuat Lixue membuat pasukan pemanah kerajaan kebingungan. Mereka bimbang, haruskah mereka membidik pasukan yang menaiki tangga atau kembali fokus dengan pasukan penyerang di depan gerbang. Taktik ini membuat para pemanah kehilangan fokus, mereka lupa tugas utama mereka untuk menghalangi pasukan Yuan. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pasukan Yuan yang berada di jalan utama yang telah dibuat oleh Gnome. Mereka melesat maju dengan cepat, bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya.Rafael tersenyum, meskipun sempat meras

    Last Updated : 2025-01-04
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   200. Penghalang Nyata

    “Kalian pikir bisa menghadapiku?” Nacht menyeringai, senyum licik yang menusuk seperti pisau. Di belakangnya, gumpalan hitam bagai kabut asap muncul, perlahan mengembang, menebal, hingga wujud seekor naga hitam terbentuk sempurna. Sosok naga itu begitu nyata, sisik-sisiknya berkilauan bagai batu obsidian yang menyerap cahaya, matanya menyala bagai bara api neraka.“Grrraa!” Raungan naga itu mengguncang bumi, sebuah suara yang menggetarkan jiwa, membuat jenderal dan pasukannya terkejut, tanpa sadar mundur beberapa langkah, tubuh mereka gemetar tak terkendali.“Naga hitam? Apa dia Rafael Blackdragon?” gumam seorang prajurit, suaranya bergetar karena ketakutan.“Rafael?” Nacht mencemooh, nada suaranya meremehkan. “Jangan samakan aku dengan orang itu!”Naga hitam itu mulai memperlihatkan deretan gigi-gigi tajam yang mengerikan, bagai taring-taring kematian yang siap menerkam mangsanya. Cakarnya yang besar dan kuat mencabik-cabik prajurit terdekat, gigi-giginya yang tajam merobek daging da

    Last Updated : 2025-01-05
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   201. Nacht vs Rosaline

    “Maaf mengganggu kemesraan kalian,” ucap sinis Nacht memasuki aula kerajaan tanpa permisi. Dia melumpuhkan semua penjaga yang menghalanginya.Yuasa dan Rosaline tersentak kaget mendengar suara tiba-tiba yang berasal dari pintu masuk aula kerajaan.“Siapa kamu?” Yuasa mundur di belakang Rosaline, dia menyadari dirinya saat ini tidak memiliki kemampuan bertarung. “Rosaline, aku mengandalkanmu,” bisik Yuasa, ada sedikit rasa nyeri di hatinya karena bergantung kepada Rosaline.Rosaline mencabut dua belati di pinggangnya, tubuhnya berada pada posisi siap menyerang. “Langkahi dulu mayatku jika ingin menyentuhnya,” ucap Rosaline penuh keteguhan, dia merasakan aura aneh dari pria tua di hadapannya.“Wanita perkasa, seharusnya kau memilih pria perkasa juga. bukan pria lemah seperti dia,” ejek Nacht. Sayangnya, wanita itu bergeming dengan ejekannya. hatinya kokoh bagai batu karang, tidak terpengaruh sedikit pun.“Sial, tidak mempan. Hatinya terlalu tulus, aku tidak akan menang melawannya apalag

    Last Updated : 2025-01-05
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   202. Kabur dari Leiz

    Jendela-jendela yang tadinya terbuka lebar kini tertutup rapat oleh tanaman rambat berduri, sulur-sulurnya yang hitam melilit kuat. Tanaman itu begitu lebat hingga cahaya matahari pun tak mampu menembus masuk, aula kerajaan menjadi remang-remang. Suasana mencekam menyelimuti ruangan itu, bagai sebuah jebakan maut yang telah disiapkan.Leiz berjalan dengan kesombongan dan keangkuhannya, langkahnya angkuh dan penuh percaya diri. Ia menyeringai puas, melihat dua sejoli yang ketakutan seperti tikus di hadapan seekor kucing. “Mau lari ke mana?” ucapnya meremehkan, merendahkan musuhnya yang kini tak berdaya. Harimau hitam besar di belakangnya, Byakko, menambahkan aura ancaman yang mengerikan, matanya yang merah menyala bagai bara api neraka, bulu kuduk siapapun yang melihatnya pasti merinding.“Yang Mulia, aku akan mengalihkan perhatiannya, cepatlah kabur lewat pintu utama,” bisik Rosaline sangat pelan, hanya Yuasa yang bisa mendengarnya.“Aku tidak akan meninggalkanmu,” balas Yuasa, enggan

    Last Updated : 2025-01-06
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   203. Jiwa yang Tergadai

    Leiz tertawa puas, tawa yang menggema bagai lonceng kematian, saat serangan Yuichi berhasil dipatahkan. Serpihan tanaman rambat, yang sebelumnya begitu ganas, kini hanya menjadi onggokan sampah tak berguna, kekuatan regenerasinya telah padam.“Apa yang bisa kau lakukan, Raja Yuichi, ah tidak, kau sudah bukan lagi seorang raja,” ucap Leiz sinis, suaranya bagai pisau yang menusuk jantung.“Kau tahu kalau aku jauh lebih kuat darimu. Bukankah begitu, Nacht?” ucap Yuichi tanpa sedikit pun rasa takut, suaranya tenang dan penuh keyakinan. Ia memanggil pedangnya, sebuah pedang ramping berwarna hijau zamrud muncul di tangannya, memancarkan cahaya yang menenangkan. Lantai marmer aula kerajaan seakan telah menghilang, berganti dengan hamparan rumput hijau setinggi mata kaki, menyebar hingga tak terlihat lagi jejak marmer. Suasana berubah drastis, dari kegelapan menjadi kesegaran alam.“Bagaimana kau tahu aku bukan Leiz?” tanya Nacht, penasaran. Ia tak menyangka identitasnya terbongkar.“Auramu.

    Last Updated : 2025-01-06

Latest chapter

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   263. Suara Harpa

    Yui dan Yuan berdiri di luar dinding istana, hembusan angin lembut membelai rambut mereka. Jemari mereka dengan hati-hati menaburkan benih-benih ajaib dari dunia atas ke tanah yang dahulu gersang. Di bawah sentuhan mereka, dunia bawah yang dulunya kelam kini dipenuhi berbagai warna—hijau rumput yang merayap, kuning keemasan bunga-bunga liar, segala macam tanaman mulai mengular dari dalam tanah. Yui menoleh, alisnya berkerut melihat saudaranya. "Yuan, kau tidak apa-apa?" tanyanya, memperhatikan kembarannya yang tengah memainkan harpa keemasan—benda legendaris yang diperebutkan banyak makhluk.Yuan menggeleng pelan, jemarinya masih menari di atas senar harpa. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat, matanya tetap terfokus pada alat musik di tangannya.Kebangkitan Yuan beberapa waktu lalu sungguh menggemparkan seluruh kerajaan. Bukan hanya wujudnya yang telah berubah sempurna sebagai raja kegelapan, tetapi juga reaksi tidak biasa dari harpa ajaib tersebut. Harpa keemasan itu bersinar terang,

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   262. Benih Kebangkitan

    Cahaya keemasan menyusup di antara dedaunan saat Raja Arlen membimbing Yui menyusuri jalan setapak menuju area tidak jauh dari Pohon Kehidupan. Angin lembut menerbangkan helaian rambut Yui, sementara matanya menangkap sosok Rafael yang tengah berbincang serius dengan Moura di kejauhan, wajah keduanya tampak khidmat di bawah naungan cabang-cabang raksasa."Sebelah sini," ujar Raja Arlen sambil menunjuk dengan jemarinya yang panjang dan ramping. Jubah kerajaannya berdesir lembut menyapu rumput saat ia memimpin Yui menuju sebuah pondok mungil yang hampir tersembunyi di balik rimbunnya aneka bunga warna-warni. Aroma manis nektar merebak di udara, menggelitik indra penciuman.Pintu pondok terbuka dengan derit pelan. Seorang pria melangkah keluar, mengenakan tunik berwarna lumut khas kaum elf yang melekat sempurna di tubuhnya. Namun, tidak seperti para elf lainnya, telinga pria itu tidak meruncing dan wajahnya tidak memancarkan keanggunan abadi yang biasa dimiliki kaum elf."Yoru!" pekik Y

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   261. Undangan

    Yui mendarat dengan lincah setelah melompat dari punggung Fury, naga hitam milik Rafael. Rambut panjangnya melambai tertiup angin saat kakinya menyentuh tanah. Matanya berbinar melihat sosok yang telah menunggunya."Kakak!"Yui menghambur ke pelukan Yuasa, jemarinya mencengkeram erat jubah sang kakak sementara aroma khas dedaunan segar menguar dari tubuh Yuasa. Mata keduanya berkaca-kaca, pertemuan yang menggetarkan jiwa setelah sekian lama terpisah."Kau baik-baik saja, Yui? Bagaimana tubuhmu setelah bangkit kembali?" tanya Yuasa sambil meneliti setiap inci wajah adiknya. Jemarinya yang ramping menyentuh pipi Yui, memancarkan energi keemasan yang menelusuri setiap sel dalam tubuh sang adik. "Setelah semua ini selesai, biarkan kakak menyembuhkanmu."Dahi Yuasa berkerut dalam. Sensasi dingin menjalar dari tubuh Yui—sesuatu yang sangat janggal. Api Suzaku yang seharusnya berkobar hangat kini terasa beku seperti es abadi."Tentu, untuk saat ini kakak fokus saja dengan pernikahan. Urusan

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   260. Malam Berbintang

    Malam di Kota Naga. Bintang-bintang bertaburan seperti permata di langit malam Kota Naga. Rafael berdiri sendirian di balkon gedung tertinggi, kedua tangannya mencengkeram pagar besi yang dingin sementara matanya menelusuri konstelasi-konstelasi yang berkilauan. Hembusan angin malam meniup rambut gelapnya, mengirimkan sensasi dingin yang menusuk tulang, namun Rafael tak bergeming.Suara langkah kaki lembut terdengar di belakangnya. Rafael menoleh, alisnya terangkat saat mengenali sosok yang mendekat."Yuichi?"Sosok itu tersenyum. Wajahnya merupakan versi maskulin dari Yui, garis rahang yang sama, mata yang sama, tetapi dengan ketegasan yang hanya dimiliki seorang ayah."Sendirian?" tanya Yuichi, suaranya merdu membelah keheningan malam.Rafael mengangguk pelan, lalu menggerakkan tangannya ke arah kursi kosong di sampingnya. Yuichi melangkah maju dan duduk, jubah hitamnya melambai pelan tertiup angin."Malam ini indah meskipun tanpa bulan," ucap Rafael, matanya kembali menatap cakraw

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   259. Kebangkitan

    Bunga putih mungil bertebaran di aula, mirip kepingan dandelion yang rapuh. Setiap tamu berjalan perlahan, meletakkan bunga kecil tanda penghormatan terakhir. Bunga-bunga itu mencerminkan ketangguhan luar biasa, seperti kehidupan yang bertahan di balik kerasnya dunia bawah, membisu namun tak terkalahkan. Mereka menyebutnya bunga bintang roh. Eirlys menatap Yuan yang terpejam, sosoknya tenang seakan tertidur lelap. Alunan harpa mengalir lembut memenuhi aula, melukiskan kesedihan yang mencekam setiap sudut ruang. Matanya menyipit saat menyadari bunga putih di dekat Yuan mulai membeku, embun es merangkak perlahan mengubah kelopak menjadi kristal dingin. Hawa sejuk mulai merambat, menusuk tulang."Mungkinkah?!"Dalam sekejap, Eirlys bangkit dari tempatnya. Langkahnya cepat mendekati peti kaca tempat Yuan dibaringkan. Jemarinya mendorong penutup tebal dengan tekad membara. Jantungnya berdebar dengan kencang, sebuah api harapan muncul. "Putri Eirlys, relakan Yang Mulia!" Xavier bergerak c

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   258. Kepergian sang Raja

    Senar harpa emas kaum elf bergetar lembut, berbeda dari instrumen biasa. Energi yang digunakan untuk menggerakkan senar ini sangat banyak. Eirlys membiarkan jemarinya terkulai di atas senar, tenaga terampas habis. Napasnya terengah-engah, seakan udara di sekitarnya menghisap oksigen dari paru-parunya."Eirlys!" Lixue melompat mendekati, gemetar mengambil harpa keemasan dari tangan sang adik. Dengan lembut, dia meletakkan instrumen berkilau itu di meja terdekat. "Istirahatlah sekarang." Lengannya melingkari pinggang Eirlys, memapah tubuh lemah itu menuju kursi panjang. Dengan hati-hati, dia mengangkat kaki adiknya dan membiarkan Eirlys setengah berbaring."Kak, bagaimana Yuan?" bisik Eirlys, kekhawatiran menembus kelelahan yang menyelimutinya.Lixue menggenggam tangan adiknya, mencoba menenangkan. "Dia akan baik-baik saja. Ingat, Tuan Xavier dan Tuan Ernest sedang menyiapkan ramuan untuknya." Dalam hati, dia berdoa agar takdir berkata lain. “Semoga Yuan bertahan, setidaknya biarkan Eir

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   257. Liontin Lenora

    Jalanan di depan Yuan terlihat asing. Jalan dengan bebatuan hitam, meskipun itu batu, tetapi tidak terasa seperti batu biasa. Dia mengamati orang-orang yang berjalan menuju ke satu arah yang sama, sebuah gerbang besar di ujung jalan, gerbang yang tidak terlihat jelas tulisan namanya. Yuan masih sangat jauh dari gerbang itu. “Akhirnya perjalanan terakhir,” gumam Yuan yang tahu di mana dia sekarang. Dunia orang mati. Kaki Yuan berhenti melangkah saat seorang wanita dengan jubah putih berdiri di hadapannya, muncul begitu saja hingga dia hampir jatuh tersungkur karena kaget. “Lenora!”“Pangeran Yuan, apa yang Anda lakukan di sini!” Suara Lenora terdengar penuh kekesalan dan amarah seakan dia sedang memarahi seorang anak nakal. “Hah?” Reaksi Yuan mendengar ucapan Lenora. Dia tidak tahu harus menjawab apa, tentu saja dia di sini karena nyawanya sudah terpisah dari tubuhnya. “Kuulangi, Pangeran, ah tidak, Yang Mulia Raja Yuan, kembalilah sekarang juga!” Lenora berkata dengan nada lebih

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   256. Gunjingan

    “Apa aliran air ini sudah dimantrai?” tanya pria yang menampilkan lengan hitamnya. Dia mengambil air dan menyiramkannya ke tangan hitamnya. “Mantra Genbu dari Putri Yui. Dengan adanya mantra ini tidak akan ada pencurian air untuk kepentingan pribadi yang ingin menjual air ini.” Penjaga itu kemudian terlihat menghela napas panjang sebelum kembali berbicara. “Sayangnya, kabar buruk terdengar di istana. Kabarnya Yang mulia saat ini dalam kondisi kritis.” Mendengar penuturan penjaga tersebut, pria yang sepanjang jalan selalu memberikan argumen tidak menyukai raja yang sekarang terlihat marah. “Apa katamu! Lalu kenapa mengundang kami jika dia sendiri dalam keadaan kritis, bukankah dia tidak akan bisa menyembuhkan kami!” suara pria itu terdengar begitu keras hingga mengundang perhatian orang-orang di sekitar. “Tuan tenang saja, di istana semua sudah dipersiapkan.” Penjaga gerbang berusaha menekan amarah pria itu, tetapi tidak berhasil. “Lebih baik kita pulang saja!” Pria dengan lengan

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   255. Air di Jalanan Ibukota

    Dunia bawah lebih berwarna. Langit yang biru membawa semangat baru. Kepala desa dan para pemimpin wilayah lainnya menjalankan perintah yang diberikan Yuan, raja mereka untuk mendata dan membawa penduduk dengan tingkat kontaminasi 80 %. Mereka yang telah mengalami kontaminasi bertahun-tahun dipilah dan dibawa ke ibukota untuk bertemu langsung dengan sang raja. “Apa benar kontaminasi ini bisa hilang? Rasanya aku sudah pasrah dengan kondisi ini seumur hidupku.” Pria dengan tangan dan kaki yang sudah menghitam karena kontaminasi terlihat pesimis. Meskipun begitu, setelah menatap langit biru ada secercah harapan di hatinya. “Kalau sang raja bisa menghilangkan kontaminasi di dunia bawah, kurasa bisa juga menghilangkan kontaminasi di tubuhku.” Semua penduduk dengan tingkat kontaminasi parah sudah mulai berangkat menuju ibukota. Mereka menaruh harapan yang sangat besar kepada sang raja, harapan kesembuhan dari kontaminasi yang selama ini menyiksa diri mereka.“Kudengar sang raja masih belia

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status