Share

201. Nacht vs Rosaline

Penulis: Rai Seika
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-05 23:11:49

“Maaf mengganggu kemesraan kalian,” ucap sinis Nacht memasuki aula kerajaan tanpa permisi. Dia melumpuhkan semua penjaga yang menghalanginya.

Yuasa dan Rosaline tersentak kaget mendengar suara tiba-tiba yang berasal dari pintu masuk aula kerajaan.

“Siapa kamu?” Yuasa mundur di belakang Rosaline, dia menyadari dirinya saat ini tidak memiliki kemampuan bertarung. “Rosaline, aku mengandalkanmu,” bisik Yuasa, ada sedikit rasa nyeri di hatinya karena bergantung kepada Rosaline.

Rosaline mencabut dua belati di pinggangnya, tubuhnya berada pada posisi siap menyerang. “Langkahi dulu mayatku jika ingin menyentuhnya,” ucap Rosaline penuh keteguhan, dia merasakan aura aneh dari pria tua di hadapannya.

“Wanita perkasa, seharusnya kau memilih pria perkasa juga. bukan pria lemah seperti dia,” ejek Nacht. Sayangnya, wanita itu bergeming dengan ejekannya. hatinya kokoh bagai batu karang, tidak terpengaruh sedikit pun.

“Sial, tidak mempan. Hatinya terlalu tulus, aku tidak akan menang melawannya apalag
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   202. Kabur dari Leiz

    Jendela-jendela yang tadinya terbuka lebar kini tertutup rapat oleh tanaman rambat berduri, sulur-sulurnya yang hitam melilit kuat. Tanaman itu begitu lebat hingga cahaya matahari pun tak mampu menembus masuk, aula kerajaan menjadi remang-remang. Suasana mencekam menyelimuti ruangan itu, bagai sebuah jebakan maut yang telah disiapkan.Leiz berjalan dengan kesombongan dan keangkuhannya, langkahnya angkuh dan penuh percaya diri. Ia menyeringai puas, melihat dua sejoli yang ketakutan seperti tikus di hadapan seekor kucing. “Mau lari ke mana?” ucapnya meremehkan, merendahkan musuhnya yang kini tak berdaya. Harimau hitam besar di belakangnya, Byakko, menambahkan aura ancaman yang mengerikan, matanya yang merah menyala bagai bara api neraka, bulu kuduk siapapun yang melihatnya pasti merinding.“Yang Mulia, aku akan mengalihkan perhatiannya, cepatlah kabur lewat pintu utama,” bisik Rosaline sangat pelan, hanya Yuasa yang bisa mendengarnya.“Aku tidak akan meninggalkanmu,” balas Yuasa, enggan

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-06
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   203. Jiwa yang Tergadai

    Leiz tertawa puas, tawa yang menggema bagai lonceng kematian, saat serangan Yuichi berhasil dipatahkan. Serpihan tanaman rambat, yang sebelumnya begitu ganas, kini hanya menjadi onggokan sampah tak berguna, kekuatan regenerasinya telah padam.“Apa yang bisa kau lakukan, Raja Yuichi, ah tidak, kau sudah bukan lagi seorang raja,” ucap Leiz sinis, suaranya bagai pisau yang menusuk jantung.“Kau tahu kalau aku jauh lebih kuat darimu. Bukankah begitu, Nacht?” ucap Yuichi tanpa sedikit pun rasa takut, suaranya tenang dan penuh keyakinan. Ia memanggil pedangnya, sebuah pedang ramping berwarna hijau zamrud muncul di tangannya, memancarkan cahaya yang menenangkan. Lantai marmer aula kerajaan seakan telah menghilang, berganti dengan hamparan rumput hijau setinggi mata kaki, menyebar hingga tak terlihat lagi jejak marmer. Suasana berubah drastis, dari kegelapan menjadi kesegaran alam.“Bagaimana kau tahu aku bukan Leiz?” tanya Nacht, penasaran. Ia tak menyangka identitasnya terbongkar.“Auramu.

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-06
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   204. Pemurnian dimulai

    Langit mendung bergulung-gulung, gelap dan mengancam, bagai raksasa yang marah. Petir menyambar-nyambar, menerangi medan perang dengan kilatan cahaya yang menyilaukan, semakin membuat pertarungan hari ini mencekam, bagai sebuah simfoni kematian yang mengalun pelan. Yuan, dengan tekad yang membara, memulai pemurnian tanpa menunggu Yuasa kembali. Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi, ribuan nyawa tergantung pada tindakannya.Yui, dengan kekuatannya yang luar biasa, mengumpulkan para zombi dalam satu tempat yang sama, bagai gembala yang mengumpulkan kawanan domba yang liar. Ia menggunakan kekuatan Byakko untuk menerbangkan mereka, lalu menjeratnya dengan kekuatan Seiryu, membentuk sebuah lingkaran sihir yang mengikat mereka dengan kuat. Lima ratus zombi, dalam lingkaran sihir itu, telah siap untuk dimurnikan.“Terima kasih, Yui,” ucap Yuan lembut, suaranya bagai bisikan angin yang menenangkan. Ia mulai melakukan pemurnian pada lima ratus zombi dalam sekali waktu, sebuah proses yang membu

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-07
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   205. Pengendali Zombi

    Yui menyalurkan tenaga murninya kepada Yuan. Saat itulah, gelombang suara seruling Darren terdengar jelas, melengking di antara heningnya malam. Suara itu seperti aliran air yang mengalir lembut, namun di baliknya tersimpan ancaman yang mengintai. Mata Yui masih tertutup, berusaha mencari keberadaan pria itu; dialah kunci utama untuk mengendalikan para zombi. Selama dia belum dilumpuhkan, para zombi akan terus menjadi ancaman yang mengintai, seperti bayangan gelap yang tak pernah pergi.“Yuan,” bisik Yui, suaranya lembut namun penuh ketegangan. Mereka berdua seolah memiliki ikatan yang sangat kuat, saling memahami tanpa perlu kata-kata. Dalam keheningan, mereka merasakan detak jantung satu sama lain, seolah bergetar dalam harmoni yang sama.Yuan mengangguk, “Aku mengerti,” balasnya singkat, namun penuh keyakinan. Dalam hatinya, dia tahu bahwa waktu tidak berpihak pada mereka. Setiap detik yang berlalu adalah kesempatan bagi para zombi untuk menyerang.“Krisan!” teriak Yuan. Sosok mung

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-08
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   206. Bukan Yuichi

    “Yui, di mana Yui?” gumam Yuan, berusaha mencari kembarannya di atas langit. Tubuh Yuan yang sudah kelelahan membuat sayapnya timbul tenggelam, hingga dia sempat tergelincir dan jatuh, lalu terbang kembali. Dalam kepanikan mencari Yui, dia justru melihat sosok lain yang keluar dari gerbang dimensi.“Ayahanda?!” Yuan mengucek matanya, berusaha melihat lebih jelas sosok tersebut. Tubuh tinggi ramping dengan sebuah pedang hijau zamrud mengkilat di tangannya. Mata hijau yang indah dan rambut kehijauan panjangnya terlihat seperti tumbuhan hijau di tengah kegelapan tanah tandus yang gersang.Yuan kembali terbang, mempercepat terbangnya. Senyumnya merekah saat dia tahu sosok itu memang Yuichi, ayahnya. Rindu yang terpendam dalam hatinya seolah meledak, mengalir seperti sungai yang tak terhentikan.“Ayahanda!” teriak Yuan, memanggil sosok tersebut. Sayangnya, sosok itu seakan tidak mendengar panggilannya dan terus berjalan ke depan, menuju ke istana kegelapan. Di tengah-tengah kekacauan terse

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-08
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   207. Bertahan (1)

    Langkah kaki Yuichi terhenti, merasakan tekanan yang sangat berat, seolah dunia di sekelilingnya menekan tubuhnya ke tanah. Dia juga tidak sanggup mengayunkan lagi pedangnya ke arah Yuan. Matanya menatap ke bawah kakinya, di mana sebuah lingkaran segel telah terbentuk, berkilau dengan aura misterius.“Sejak kapan!” seru Yuichi dalam benaknya, kebingungan melanda. Dia menoleh ke belakang dan melihat putri cantiknya sedang mengendalikan segel. “Yui? Sejak kapan dia bisa membuat segel?”Di saat yang bersamaan, Yuasa yang menoleh ke belakang melihat Yuan terjatuh di tangan ayahnya sendiri. Kebingungan pun melanda dirinya, antara panik dan tidak mengerti mengapa ayahnya melukai adiknya. Dengan segenap tenaga, Yuasa berlari menuju tubuh Yuan yang tergeletak. Menggunakan kekuatannya, sehingga cahaya kemilau keemasan menyelubungi Yuan, seolah alam semesta berusaha menyelamatkannya.“Bertahanlah, Yuan!” teriak Yuasa, suaranya penuh kecemasan. Dia bisa merasakan jantung adiknya terluka oleh ped

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-09
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   208. Bertahan (2)

    Yui masih menahan Yuichi di tempatnya, memastikan agar ayahnya tidak mendekati Yuan. Rafael memperkuat segel yang dibuat Yui, sehingga Yuichi tidak bisa berpindah tempat. Keduanya seperti patung, berdiri di tempatnya masing-masing, terjebak dalam ketegangan yang mencekam, seolah waktu berhenti di antara mereka.Nacht yang menatap Yui kini beralih ke arah Rafael. Senyuman liciknya mulai terkembang, seolah merencanakan sesuatu yang jahat. “Putri Yui, bagaimana kalau aku membuat penawaran?” ucapnya, berusaha membujuk dengan nada menggoda, suaranya mengalir seperti racun yang merayap.“Tidak ada tawar-menawar,” balas Yui singkat dan cepat, suaranya tegas, penuh keberanian. Dia masih menggunakan kekuatan segelnya untuk menahan Nacht. Di saat yang sama, matanya menatap ke arah Yuan. Dia melihat kembarannya sudah mulai pulih secara perlahan, setidaknya dia harus bertahan hingga Yuan sadar.“Yui, lepaskan segelmu, biar kutahan!” teriak Rafael, yang tahu kelemahan Yui. Gadis itu tidak akan ber

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-09
  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   209. Permintaan Maaf

    Yuasa kebingungan saat melihat tanduk di kepala Yuan memudar dan tiba-tiba menghilang, seolah diserap oleh kegelapan. Dia segera memeriksa pergelangan tangan Yuan, mencari denyut nadinya. Helaan napas lega terlihat jelas saat dia merasakan kondisi Yuan tidak memburuk meskipun tanduknya menghilang. Perlahan, kedua mata Yuan mulai terbuka, seperti fajar yang menyingsing di ufuk timur.“Yuan!” panggil Yuasa kepada adiknya, berharap mendapatkan respons.“Kak Yuasa?” Yuan akhirnya terbangun setelah usaha keras Yuasa menyembuhkannya. Dia melihat Eirlys menatap dirinya dengan kedua mata yang indah, seakan menyelam dalam birunya mata itu. “Eirlys,” gumam Yuan, tersenyum ke arah gadis itu, senyumnya lembut seperti sinar matahari pagi.Yuan mengangkat tangannya, membuat tanah bergetar hebat bagaikan gempa dahsyat. Dari dalam tanah, muncul satu lagi gerbang dimensi, gerbang yang tertuju pada dunia manusia.“Yuan, untuk apa gerbang itu?” tanya Yui, tidak mengerti. Mereka tidak membuat perjanjian

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-10

Bab terbaru

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   263. Suara Harpa

    Yui dan Yuan berdiri di luar dinding istana, hembusan angin lembut membelai rambut mereka. Jemari mereka dengan hati-hati menaburkan benih-benih ajaib dari dunia atas ke tanah yang dahulu gersang. Di bawah sentuhan mereka, dunia bawah yang dulunya kelam kini dipenuhi berbagai warna—hijau rumput yang merayap, kuning keemasan bunga-bunga liar, segala macam tanaman mulai mengular dari dalam tanah. Yui menoleh, alisnya berkerut melihat saudaranya. "Yuan, kau tidak apa-apa?" tanyanya, memperhatikan kembarannya yang tengah memainkan harpa keemasan—benda legendaris yang diperebutkan banyak makhluk.Yuan menggeleng pelan, jemarinya masih menari di atas senar harpa. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat, matanya tetap terfokus pada alat musik di tangannya.Kebangkitan Yuan beberapa waktu lalu sungguh menggemparkan seluruh kerajaan. Bukan hanya wujudnya yang telah berubah sempurna sebagai raja kegelapan, tetapi juga reaksi tidak biasa dari harpa ajaib tersebut. Harpa keemasan itu bersinar terang,

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   262. Benih Kebangkitan

    Cahaya keemasan menyusup di antara dedaunan saat Raja Arlen membimbing Yui menyusuri jalan setapak menuju area tidak jauh dari Pohon Kehidupan. Angin lembut menerbangkan helaian rambut Yui, sementara matanya menangkap sosok Rafael yang tengah berbincang serius dengan Moura di kejauhan, wajah keduanya tampak khidmat di bawah naungan cabang-cabang raksasa."Sebelah sini," ujar Raja Arlen sambil menunjuk dengan jemarinya yang panjang dan ramping. Jubah kerajaannya berdesir lembut menyapu rumput saat ia memimpin Yui menuju sebuah pondok mungil yang hampir tersembunyi di balik rimbunnya aneka bunga warna-warni. Aroma manis nektar merebak di udara, menggelitik indra penciuman.Pintu pondok terbuka dengan derit pelan. Seorang pria melangkah keluar, mengenakan tunik berwarna lumut khas kaum elf yang melekat sempurna di tubuhnya. Namun, tidak seperti para elf lainnya, telinga pria itu tidak meruncing dan wajahnya tidak memancarkan keanggunan abadi yang biasa dimiliki kaum elf."Yoru!" pekik Y

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   261. Undangan

    Yui mendarat dengan lincah setelah melompat dari punggung Fury, naga hitam milik Rafael. Rambut panjangnya melambai tertiup angin saat kakinya menyentuh tanah. Matanya berbinar melihat sosok yang telah menunggunya."Kakak!"Yui menghambur ke pelukan Yuasa, jemarinya mencengkeram erat jubah sang kakak sementara aroma khas dedaunan segar menguar dari tubuh Yuasa. Mata keduanya berkaca-kaca, pertemuan yang menggetarkan jiwa setelah sekian lama terpisah."Kau baik-baik saja, Yui? Bagaimana tubuhmu setelah bangkit kembali?" tanya Yuasa sambil meneliti setiap inci wajah adiknya. Jemarinya yang ramping menyentuh pipi Yui, memancarkan energi keemasan yang menelusuri setiap sel dalam tubuh sang adik. "Setelah semua ini selesai, biarkan kakak menyembuhkanmu."Dahi Yuasa berkerut dalam. Sensasi dingin menjalar dari tubuh Yui—sesuatu yang sangat janggal. Api Suzaku yang seharusnya berkobar hangat kini terasa beku seperti es abadi."Tentu, untuk saat ini kakak fokus saja dengan pernikahan. Urusan

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   260. Malam Berbintang

    Malam di Kota Naga. Bintang-bintang bertaburan seperti permata di langit malam Kota Naga. Rafael berdiri sendirian di balkon gedung tertinggi, kedua tangannya mencengkeram pagar besi yang dingin sementara matanya menelusuri konstelasi-konstelasi yang berkilauan. Hembusan angin malam meniup rambut gelapnya, mengirimkan sensasi dingin yang menusuk tulang, namun Rafael tak bergeming.Suara langkah kaki lembut terdengar di belakangnya. Rafael menoleh, alisnya terangkat saat mengenali sosok yang mendekat."Yuichi?"Sosok itu tersenyum. Wajahnya merupakan versi maskulin dari Yui, garis rahang yang sama, mata yang sama, tetapi dengan ketegasan yang hanya dimiliki seorang ayah."Sendirian?" tanya Yuichi, suaranya merdu membelah keheningan malam.Rafael mengangguk pelan, lalu menggerakkan tangannya ke arah kursi kosong di sampingnya. Yuichi melangkah maju dan duduk, jubah hitamnya melambai pelan tertiup angin."Malam ini indah meskipun tanpa bulan," ucap Rafael, matanya kembali menatap cakraw

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   259. Kebangkitan

    Bunga putih mungil bertebaran di aula, mirip kepingan dandelion yang rapuh. Setiap tamu berjalan perlahan, meletakkan bunga kecil tanda penghormatan terakhir. Bunga-bunga itu mencerminkan ketangguhan luar biasa, seperti kehidupan yang bertahan di balik kerasnya dunia bawah, membisu namun tak terkalahkan. Mereka menyebutnya bunga bintang roh. Eirlys menatap Yuan yang terpejam, sosoknya tenang seakan tertidur lelap. Alunan harpa mengalir lembut memenuhi aula, melukiskan kesedihan yang mencekam setiap sudut ruang. Matanya menyipit saat menyadari bunga putih di dekat Yuan mulai membeku, embun es merangkak perlahan mengubah kelopak menjadi kristal dingin. Hawa sejuk mulai merambat, menusuk tulang."Mungkinkah?!"Dalam sekejap, Eirlys bangkit dari tempatnya. Langkahnya cepat mendekati peti kaca tempat Yuan dibaringkan. Jemarinya mendorong penutup tebal dengan tekad membara. Jantungnya berdebar dengan kencang, sebuah api harapan muncul. "Putri Eirlys, relakan Yang Mulia!" Xavier bergerak c

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   258. Kepergian sang Raja

    Senar harpa emas kaum elf bergetar lembut, berbeda dari instrumen biasa. Energi yang digunakan untuk menggerakkan senar ini sangat banyak. Eirlys membiarkan jemarinya terkulai di atas senar, tenaga terampas habis. Napasnya terengah-engah, seakan udara di sekitarnya menghisap oksigen dari paru-parunya."Eirlys!" Lixue melompat mendekati, gemetar mengambil harpa keemasan dari tangan sang adik. Dengan lembut, dia meletakkan instrumen berkilau itu di meja terdekat. "Istirahatlah sekarang." Lengannya melingkari pinggang Eirlys, memapah tubuh lemah itu menuju kursi panjang. Dengan hati-hati, dia mengangkat kaki adiknya dan membiarkan Eirlys setengah berbaring."Kak, bagaimana Yuan?" bisik Eirlys, kekhawatiran menembus kelelahan yang menyelimutinya.Lixue menggenggam tangan adiknya, mencoba menenangkan. "Dia akan baik-baik saja. Ingat, Tuan Xavier dan Tuan Ernest sedang menyiapkan ramuan untuknya." Dalam hati, dia berdoa agar takdir berkata lain. “Semoga Yuan bertahan, setidaknya biarkan Eir

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   257. Liontin Lenora

    Jalanan di depan Yuan terlihat asing. Jalan dengan bebatuan hitam, meskipun itu batu, tetapi tidak terasa seperti batu biasa. Dia mengamati orang-orang yang berjalan menuju ke satu arah yang sama, sebuah gerbang besar di ujung jalan, gerbang yang tidak terlihat jelas tulisan namanya. Yuan masih sangat jauh dari gerbang itu. “Akhirnya perjalanan terakhir,” gumam Yuan yang tahu di mana dia sekarang. Dunia orang mati. Kaki Yuan berhenti melangkah saat seorang wanita dengan jubah putih berdiri di hadapannya, muncul begitu saja hingga dia hampir jatuh tersungkur karena kaget. “Lenora!”“Pangeran Yuan, apa yang Anda lakukan di sini!” Suara Lenora terdengar penuh kekesalan dan amarah seakan dia sedang memarahi seorang anak nakal. “Hah?” Reaksi Yuan mendengar ucapan Lenora. Dia tidak tahu harus menjawab apa, tentu saja dia di sini karena nyawanya sudah terpisah dari tubuhnya. “Kuulangi, Pangeran, ah tidak, Yang Mulia Raja Yuan, kembalilah sekarang juga!” Lenora berkata dengan nada lebih

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   256. Gunjingan

    “Apa aliran air ini sudah dimantrai?” tanya pria yang menampilkan lengan hitamnya. Dia mengambil air dan menyiramkannya ke tangan hitamnya. “Mantra Genbu dari Putri Yui. Dengan adanya mantra ini tidak akan ada pencurian air untuk kepentingan pribadi yang ingin menjual air ini.” Penjaga itu kemudian terlihat menghela napas panjang sebelum kembali berbicara. “Sayangnya, kabar buruk terdengar di istana. Kabarnya Yang mulia saat ini dalam kondisi kritis.” Mendengar penuturan penjaga tersebut, pria yang sepanjang jalan selalu memberikan argumen tidak menyukai raja yang sekarang terlihat marah. “Apa katamu! Lalu kenapa mengundang kami jika dia sendiri dalam keadaan kritis, bukankah dia tidak akan bisa menyembuhkan kami!” suara pria itu terdengar begitu keras hingga mengundang perhatian orang-orang di sekitar. “Tuan tenang saja, di istana semua sudah dipersiapkan.” Penjaga gerbang berusaha menekan amarah pria itu, tetapi tidak berhasil. “Lebih baik kita pulang saja!” Pria dengan lengan

  • Raja Baru untuk Dunia Kegelapan   255. Air di Jalanan Ibukota

    Dunia bawah lebih berwarna. Langit yang biru membawa semangat baru. Kepala desa dan para pemimpin wilayah lainnya menjalankan perintah yang diberikan Yuan, raja mereka untuk mendata dan membawa penduduk dengan tingkat kontaminasi 80 %. Mereka yang telah mengalami kontaminasi bertahun-tahun dipilah dan dibawa ke ibukota untuk bertemu langsung dengan sang raja. “Apa benar kontaminasi ini bisa hilang? Rasanya aku sudah pasrah dengan kondisi ini seumur hidupku.” Pria dengan tangan dan kaki yang sudah menghitam karena kontaminasi terlihat pesimis. Meskipun begitu, setelah menatap langit biru ada secercah harapan di hatinya. “Kalau sang raja bisa menghilangkan kontaminasi di dunia bawah, kurasa bisa juga menghilangkan kontaminasi di tubuhku.” Semua penduduk dengan tingkat kontaminasi parah sudah mulai berangkat menuju ibukota. Mereka menaruh harapan yang sangat besar kepada sang raja, harapan kesembuhan dari kontaminasi yang selama ini menyiksa diri mereka.“Kudengar sang raja masih belia

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status