Share

Next

Author: Resya
last update Last Updated: 2024-12-10 00:02:28

Di sisi lain, Farhan tengah duduk di ruang tamunya. Ponselnya tergeletak di meja, dengan pesan dari Adrian yang belum sempat ia balas. Masalah bisnis yang sedang ia hadapi memang berat, namun pikirannya tetap tertuju pada Aisyah. Ia tahu, untuk mendekati wanita seistimewa itu, ia harus melakukannya dengan kesabaran dan ketulusan yang luar biasa.

“Farhan, fokus,” gumamnya pada diri sendiri. Ia membuka laptop, mencoba membaca laporan keuangan yang dikirimkan timnya. Namun, pikirannya terus berkelana. Ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi Adrian.

“Bro, kita ketemu besok pagi aja di kantor. Aku perlu waktu malam ini untuk berpikir jernih.”

Adrian setuju tanpa banyak bertanya. Farhan menutup panggilan itu dan kembali merenung. Baginya, keberhasilan di bisnis tidak akan berarti jika ia tidak bisa menjalani hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang ia yakini.

---

Keesokan harinya, Ais
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 8: Farhan Menghadapi Tekanan Keluarga Aisyah

    Malam itu, rumah Aisyah terasa lebih sunyi dari biasanya. Aisyah duduk di ruang tamu, ditemani secangkir teh hangat yang perlahan mendingin. Di hadapannya, Pak Ahmad duduk dengan raut wajah serius. Sejak sore tadi, Aisyah sudah merasa ada sesuatu yang ingin dibicarakan ayahnya. Dan benar saja, setelah beberapa basa-basi, Pak Ahmad mulai membuka topik yang membuat hati Aisyah berdebar. “Aisyah,” suara Pak Ahmad terdengar dalam, “Ayah sudah lama memikirkan ini. Kamu sudah cukup dewasa, dan Ayah ingin kamu mempertimbangkan masa depanmu.” Aisyah menunduk, memutar-mutar cangkir di tangannya. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Maksud Ayah, tentang pernikahan?” tanyanya pelan. Pak Ahmad mengangguk. “Iya. Ayah tahu kamu ingin menikah dengan cara yang sesuai syariat, dan Ayah sangat menghargai itu. Tapi, Ayah juga ingin kamu mempertimbangkan calon yang benar-benar bisa menjamin masa depanmu. Bukan hanya soal agama, tapi juga soal kestabilan hi

    Last Updated : 2024-12-10
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 9: Farhan Mulai Merencanakan Langkah Serius

    Malam semakin larut, tetapi pikiran Farhan masih enggan diajak istirahat. Ia duduk di balkon rumahnya, ditemani secangkir teh yang sejak tadi tak disentuh. Angin malam berembus pelan, membawa dingin yang menusuk hingga ke hati. Pesan yang diterimanya beberapa jam lalu dari nomor tak dikenal itu kembali terngiang. Isi pesan itu begitu sederhana, namun penuh tekanan: “Jangan coba-coba mendekati Aisyah jika kamu tidak serius.” Farhan menghela napas panjang. Pesan itu terasa seperti peringatan, entah dari siapa. Ia tahu bahwa keputusan untuk mendekati Aisyah tidaklah mudah. Tapi, di balik kerumitan itu, ada keyakinan yang terus mendorongnya: Aisyah adalah orang yang ia cari selama ini. Seseorang yang akan melengkapi hidupnya, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Farhan mengambil ponselnya dan menatap layar, ada nama Adrian di daftar panggilan terakhir. Temannya itu selalu menjadi tempatnya berbagi cerita, terutama ketika ia berada di persimpangan seperti sekarang. Dengan satu

    Last Updated : 2025-03-03
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 10: Percakapan yang Menentukan

    Senja mulai turun, memberikan semburat jingga di ufuk barat. Farhan berdiri di depan sebuah rumah sederhana dengan halaman yang rapi. Rumah itu milik keluarga Aisyah. Ia menggenggam kotak kecil berisi beberapa buah tangan, menenangkan detak jantungnya yang tak karuan."Bismillah," gumamnya pelan sambil mengetuk pintu.Beberapa saat kemudian, pintu terbuka, memperlihatkan wajah Ibu Aisyah yang penuh kehangatan. "Oh, Farhan. Silakan masuk.""Terima kasih, Bu," ucap Farhan, berusaha terdengar tenang meski hatinya sedikit gugup.Ia dipersilakan duduk di ruang tamu. Ruangan itu terasa hangat, dengan hiasan sederhana namun mencerminkan kepribadian pemiliknya. Tak lama kemudian, Pak Ahmad datang. Pria itu tampak serius seperti biasanya, tetapi tetap menunjukkan sikap hormat."Farhan, saya tidak menyangka kamu akan datang lagi secepat ini," ucap Pak Ahmad, mengambil tempat duduk di sofa seberang Farhan."Saya ingin berbicara langsung dengan Bapak dan Ibu," jawab Farhan, mencoba memulai percak

    Last Updated : 2025-03-04
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 11: Identitas Farhan Terancam Terbongkar

    Farhan berjalan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu kecil di pekarangan rumah Aisyah, berusaha menenangkan pikiran yang penuh pertanyaan. Setiap langkahnya seolah membawa beban baru, beban yang semakin berat seiring waktu. Meskipun pertemuan terakhir dengan Pak Ahmad telah berjalan cukup lancar, hati Farhan tak bisa benar-benar tenang. Ia tahu, semakin lama ia menyembunyikan identitasnya, semakin besar risiko yang harus ia hadapi.Hari itu, seperti biasa, Farhan datang lebih awal untuk menunggu Aisyah selesai dengan kegiatan dakwahnya. Ia duduk di salah satu bangku taman yang ada di depan rumah keluarga Aisyah, menatap langit senja yang perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan. Sejak pertama kali melihat Aisyah, ia merasa ada sesuatu yang menenangkan setiap kali melihat langit seperti itu. Seperti ada ketenangan yang luar biasa setiap kali Aisyah berada di dekatnya.Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Pikiran Farhan kembali berputar pada percakapan dengan Pak

    Last Updated : 2025-03-05
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 12: Kecurigaan yang Memuncak

    Langit malam masih memancarkan semburat jingga ketika Farhan tiba di rumahnya. Cahaya rembulan yang temaram menyapa wajahnya yang penuh kegundahan. Ia memandangi layar ponsel yang masih menampilkan pesan singkat tadi, pesan dari seseorang yang tak ia kenal. "Pak Ahmad mulai curiga. Kamu harus segera menjelaskan semuanya sebelum terlambat."Farhan menarik napas panjang, kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Ada pertarungan di dalam dirinya. Ia tahu menyembunyikan identitas sebagai miliarder bukanlah perkara yang mudah, namun itu adalah pilihannya. Pilihan untuk mencintai Aisyah dengan cara yang benar-tanpa bayang-bayang kekayaannya. Tetapi, semakin hari, ia sadar perjuangannya semakin berat. Kecurigaan Pak Ahmad adalah sinyal bahwa ia tidak punya banyak waktu lagi. Farhan berdiri, menatap jendela dengan pandangan kosong. Malam terasa begitu panjang. "Ya Allah," gumamnya perlahan, "Jika ini jalan yang Kau ridhai, maka berikanlah aku kekuata

    Last Updated : 2025-03-06
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 13: Ketegangan dalam Hati Aisyah

    Langit senja merona jingga, seolah memahami kegundahan yang mengisi hati Aisyah. Di kamarnya, ia duduk di tepi ranjang, memandangi mushaf yang terbuka di pangkuannya. Namun, pikirannya melayang, tak lagi tertambat pada ayat-ayat yang biasanya menenangkan. Hatinya terasa berat, penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab. Tatapan tajam ayahnya kepada Farhan siang tadi terus membayang di benaknya."Farhan menyembunyikan sesuatu ...," gumam Aisyah pelan, hampir seperti berbisik kepada dirinya sendiri.Ia mencoba menepis pikiran itu. Farhan adalah pria yang tulus, pikirnya. Namun, bayangan percakapan mereka terus berputar. Sikap ayahnya, pertanyaan yang menggantung di udara, dan kegelisahan yang terpancar dari wajah Farhan semuanya menyisakan rasa tidak nyaman.Aisyah menghela napas panjang, merasakan hawa malam yang perlahan menelisik ke dalam kamarnya. Ia bangkit, berjalan ke jendela, dan menatap bulan yang menggantung redup di langit. Ia ingin mempercayai Far

    Last Updated : 2025-03-07
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 14: Pergulatan Batin Farhan

    Malam yang hening menyelimuti rumah Farhan. Di balik jendela kamarnya, cahaya bulan menerobos masuk, menciptakan bayangan samar di dinding. Namun, keindahan malam itu tak mampu mengusir kekacauan di hatinya. Ia duduk di kursi kerja, membisu. Di depannya, laptop masih menyala, namun layar itu kosong. Tangan Farhan mengusap wajahnya yang letih, seolah berharap sentuhan itu mampu meringankan beban pikirannya. Hati Farhan terasa seperti medan perang. Ada suara kecil yang terus berbisik, mendesaknya untuk mengakui segalanya kepada Aisyah. Namun, ada pula ketakutan besar yang menghentikannya. "Kalau aku bilang sekarang, apakah dia masih bisa percaya?" pikirnya berulang-ulang. Ia berdiri, melangkah pelan menuju jendela. Tangannya menyentuh kaca yang dingin, matanya menerawang jauh ke arah kota yang sudah sunyi. Ia mengingat kembali pertemuan dengan Aisyah siang tadi. Wajahnya yang tenang, tapi penuh luka. Tatapan matanya yang seolah bertanya, "Kenapa kamu tida

    Last Updated : 2025-03-08
  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 15: Menyampaikan Kebenaran

    Pagi itu, matahari memancarkan sinarnya yang lembut, namun hati Farhan terasa lebih berat daripada malam yang baru berlalu. Ia duduk di ruang tamu, meresapi keheningan. Pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam dirinya seolah tak memberinya kesempatan untuk bernapas lega. Surat yang ia coba tulis semalam sudah menjadi gumpalan kertas di sudut kamarnya. Kali ini, ia tahu, kata-kata di atas kertas tidak akan cukup. Ia harus bicara langsung kepada Aisyah.Farhan memandangi ponselnya yang tergeletak di atas meja. Berulang kali ia ingin mengetik pesan untuk Aisyah, memintanya bertemu. Namun, setiap kali jari-jarinya menyentuh layar, hatinya bimbang. Ia memejamkan mata, menghela napas panjang, lalu membuka mata kembali. "Tidak ada jalan lain," gumamnya pelan. Ia harus mengakhiri semua kebohongan ini.---Di rumah Aisyah, suasana tak kalah berat. Setelah percakapan mereka kemarin, Aisyah merasa hidupnya seperti terhenti. Ia mencoba melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, namun bayangan Farhan te

    Last Updated : 2025-03-10

Latest chapter

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 40: Harmoni yang Kembali

    Suara adzan Subuh menggema lembut, menggugah hati siapa pun yang mendengarnya. Di dalam rumah sederhana mereka, Farhan membuka matanya perlahan, menghela napas panjang, seolah mengumpulkan energi untuk hari yang baru. Di sampingnya, Aisyah sudah bangkit lebih dulu, menyiapkan air wudhu di kamar mandi kecil mereka."Farhan, ayo bangun," panggil Aisyah lembut.Farhan mengangguk sambil tersenyum kecil. Ia bergegas mengambil wudhu, bergabung dengan Aisyah untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Saat sujud terakhir, hati Farhan bergetar. Ia memohon pada Allah agar hubungan mereka yang sempat retak kini dikuatkan dengan kasih sayang dan kepercayaan yang baru.Usai salat, mereka duduk berdampingan di sajadah. Aisyah membuka Al-Quran dan mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara yang penuh kekhusyukan. Farhan hanya bisa memandangnya dengan rasa syukur yang dalam. Ia tahu, apa yang mereka miliki saat ini bukanlah sesuatu yang mudah didapatkan kembali.

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 39: Penjelasan Hana

    Langit pagi itu dipenuhi cahaya lembut matahari, seolah memberikan kehangatan yang baru kepada Aisyah. Di sebuah taman kecil, ia dan Farhan duduk di bangku panjang, menikmati udara segar. Suasana di antara mereka terasa canggung namun penuh harapan. Setelah pertemuan terakhir yang penuh emosi, Farhan berusaha membangun kembali kepercayaan Aisyah dengan cara yang berbeda."Aku ingin memperbaiki semuanya, Aisyah," kata Farhan pelan, memecah kesunyian. "Aku sadar, kejujuran itu hal yang nggak bisa ditawar dalam hubungan kita."Aisyah menatap Farhan, matanya memancarkan kelelahan yang bercampur dengan sisa keraguan. "Aku butuh waktu, Farhan. Semua yang terjadi ... terlalu banyak yang harus aku pikirkan."Farhan mengangguk, menghormati perasaan Aisyah. Ia menyadari bahwa cinta saja tidak cukup. Perlu tindakan nyata untuk menunjukkan kesungguhannya."Makanya, aku ingin kita nggak cuma bicara soal cinta. Aku mau kita sama-sama bergerak. Kamu tahu, selama

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 38: Kebenaran yang Terungkap

    Pagi itu, langit tampak cerah meski angin sejuk menyelimuti kota. Farhan duduk di ruang kerjanya, menatap ponsel dengan pandangan kosong. Beberapa jam sebelumnya, ia baru saja mendapatkan kabar bahwa rumor yang disebarkan Hana mulai tersebar luas. Namun, ia tidak tinggal diam. Farhan segera melakukan klarifikasi, mengumpulkan bukti-bukti yang bisa membuktikan bahwa segala yang dituduhkan kepada dirinya adalah kebohongan belaka.Dengan hati yang penuh tekad, Farhan mengetik pesan panjang, menjelaskan segala hal yang terjadi dan mengirimkannya kepada Aisyah. Ia tahu bahwa ini adalah saat yang sangat penting. Jika ia ingin mendapatkan kepercayaan Aisyah kembali, ia harus menunjukkan bukti konkret bahwa ia tidak pernah mengkhianatinya. Namun, meskipun pesan itu sudah terkirim, hatinya tetap terasa berat."Aisyah, aku tahu kamu sedang terluka, dan aku hanya bisa meminta maaf. Semua yang terjadi bukan salahmu, dan aku akan berusaha membuktikan bahwa aku benar-benar menci

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 37: Penyesalan Farhan

    Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Farhan duduk di ruang kerjanya, pandangannya kosong menatap ke luar jendela. Di balik jendela kaca yang bersih, pemandangan kota yang sibuk tampak biasa saja, tidak ada yang spesial. Namun hatinya, sebaliknya, begitu kacau. Pagi itu, hidupnya terasa lebih kosong daripada sebelumnya.Ia menghela napas panjang, menatap layar ponsel yang tergeletak di meja kerjanya. Sudah berjam-jam, namun tak ada satu pesan pun dari Aisyah. Ia tahu, ini adalah konsekuensi dari perbuatannya. Ia telah melukai hati wanita yang selama ini ia cintai. Dan sekarang, ia harus bertanggung jawab."Aisyah ...," Farhan berbisik pelan, seakan berharap bahwa suaranya bisa menjangkau wanita itu di tempat yang jauh, di rumah orang tuanya.Ia menatap layar ponsel lagi. Tiba-tiba, pesan dari Hana muncul, menambah rasa cemas yang sudah mendera hatinya sejak semalam. "Farhan, aku ingin bicara tentang kita," tulis Hana, dengan kata-kata yang seo

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 36: Puncak Konflik

    Malam itu, angin berhembus pelan, membawa udara yang lebih dingin dari biasanya. Aisyah berjalan tergesa-gesa keluar dari acara sosial itu, perasaannya bercampur aduk. Hatinya seperti dihantam badai, bergejolak tanpa arah. Sesekali, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, namun rasanya semakin berat.Farhan berlari mengejarnya, langkahnya terdengar berat di telinga Aisyah. Setiap detik yang berlalu membuat perasaan mereka semakin jauh. Aisyah tahu bahwa perasaan yang ditimbulkan oleh kehadiran Hana di acara itu bukan hanya cemburu, tetapi lebih dari itu-ia merasa seperti ada yang telah dihancurkan di antara mereka, sesuatu yang sulit untuk dibangun kembali."Aisyah, tunggu!" Farhan memanggilnya, suaranya tegang dan penuh penyesalan.Aisyah berhenti sejenak, namun tidak menoleh. "Kenapa, Farhan? Kenapa harus begini?" suaranya serak, hampir seperti tersumbat oleh air mata yang berusaha ia tahan.Farhan menghentikan langkahnya beberapa la

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 35: Tekanan dalam Pernikahan

    Farhan berjalan perlahan di lorong rumah, langkahnya terdengar berat, seakan-akan setiap langkah membawa beban yang semakin berat. Pikirannya berkelana ke mana-mana, membayangkan perbincangan yang akan segera dimulai. Ia sudah tahu apa yang akan datang: sebuah pembicaraan yang akan menguji integritasnya, dan yang lebih penting, menguji cintanya kepada Aisyah.Pagi itu, setelah percakapan yang tegang dengan Aisyah semalam, Farhan merasa terjepit di antara dua dunia. Di satu sisi, ada Aisyah, istri yang telah ia cintai dengan sepenuh hati, yang menuntut komitmen dan kesetiaan. Di sisi lain, ada Hana, sahabat lama yang secara halus berusaha menariknya jauh dari Aisyah. Meskipun Farhan berusaha menjaga jarak. Namun, hubungan mereka semakin sulit untuk dipertahankan hanya dengan kata-kata.Hari ini, ia harus berbicara dengan Pak Ahmad, ayah Aisyah, yang jelas-jelas mengetahui situasi tersebut. Tidak hanya sebagai seorang ayah yang sangat melindungi anaknya, Pak Ahmad ju

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 34: Retaknya Kepercayaan

    Hari itu, langit terlihat lebih kelabu dari biasanya, seolah-olah turut merasakan ketegangan yang semakin mencekam di dalam rumah Farhan dan Aisyah. Suasana yang dulu penuh dengan tawa dan kebahagiaan, kini terasa dingin dan jauh. Sejak pertemuan malam itu, hubungan mereka tampaknya retak di bagian yang paling dalam, di tempat yang selama ini mereka anggap sebagai pondasi kepercayaan.Aisyah duduk di ruang tamu, tangannya memegang cangkir teh yang sudah lama dingin. Matanya menatap kosong ke luar jendela, sementara pikirannya berputar-putar, mencoba mengurai perasaan yang terpendam. Di depannya, Farhan duduk diam, matanya menunduk. Suasana itu begitu sunyi, seakan-akan kata-kata yang mereka tunggu tak mampu keluar dari mulut masing-masing.Farhan akhirnya mengangkat wajahnya, memecah keheningan dengan suara yang rendah dan berat. "Aisyah ... aku harus jujur padamu. Hana ... dia mencoba mendekatiku. Aku sudah berusaha menahan diri, tapi aku tahu aku harus mengatakan

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 33: Manipulasi Hana

    Suasana malam itu terasa berbeda. Angin yang biasanya membawa kesejukan kini datang dengan hembusan yang berat, seperti sebuah pertanda. Farhan duduk di ruang tamu, matanya menatap layar ponsel, namun pikirannya melayang jauh. Pikiran-pikiran tentang Aisyah, Hana, dan perasaan yang kini begitu kabur, membuatnya merasa seperti terjebak dalam kebimbangan yang tak kunjung reda.Aisyah, di sisi lain, duduk di teras rumah, mencoba menenangkan dirinya. Sejak kejadian tadi malam, perasaannya begitu kacau. Ia merasa kehilangan kendali atas hatinya yang selama ini yakin dan mantap. Cemburu bukanlah perasaan yang ia harapkan hadir dalam kehidupan pernikahannya, tetapi Hana, sahabatnya yang selama ini begitu dekat, telah berhasil mengusik ketenangan hatinya.Ketegangan antara mereka bertambah besar setelah Aisyah menemukan pesan-pesan manis yang dikirimkan Hana kepada Farhan. Meski Farhan berusaha meyakinkannya bahwa itu hanya salah paham, Aisyah merasa perasaan cemasnya buka

  • Proposal Cinta Sang Miliarder    Bab 32: Bibit Konflik

    Kehidupan yang dulunya penuh dengan keheningan dan ketenangan kini mulai terasa berbeda. Setelah beberapa minggu menjalani hidup bersama sebagai pasangan suami istri, Farhan dan Aisyah merasa semakin dekat, meskipun di sisi lain ada ketegangan yang perlahan tumbuh. Ada sesuatu yang tidak terucap, namun terasa, seperti udara berat yang menunggu untuk pecah. Hana, sahabat Aisyah, hadir begitu sering dalam kehidupan mereka, dan meskipun Aisyah tidak menyadarinya, Farhan mulai merasakan ada ketidaknyamanan yang semakin mengganggu hatinya.Hana yang dulu datang dengan niat baik, hanya untuk membantu proyek dakwah dan mendukung Aisyah, kini semakin sering datang tanpa alasan yang jelas. Mungkin, awalnya Farhan berpikir itu adalah hal yang wajar-sebuah bentuk persahabatan, mungkin juga keinginan Hana untuk lebih dekat dengan suaminya demi mendukung kegiatan sosial mereka. Tapi lambat laun, ada yang mulai berubah. Farhan bisa merasakannya: sikap Hana yang mulai lebih genit, lebih menggebu-geb

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status