"Mona, kemarin kamu berantem ye sama suami kamu?"
"Wah kok tahu Mbak?" Aku yang lagi memilih ikan bandeng langsung terdiam. Radarku mengatakan kalau ada sesuatu yang akan mengganggu kestabilan rumah tangga.
"Ya, tahulah, orang suami kamu itu curhat sama Mbak. Masa kamu gak tahu? Nih ya Mon, jadi istri tuh harus nurut. Jangan selalu melawan!"
"Aku gak ngelawan Mbak. Aku hanya membela diri. Bang Ramdan itu udah menghina aku di depan teman-teman saat reuni Mbak padahal masalahnya gak besar. Hanya karena uang 10 ribu yang aku ambil dari sakunya saat mencuci dan aku udah ijin."
"Ya Allah Mon, kalau mau ambil uang itu ya ijin! Emang kamu gak punya uang apa? Dengar ya jangan manfaatin suami kamu terus!" semprot Mbak Yuli sambil ngeloyor masuk ke dalam rumahnya.
Astaga! Aku meringis malu menanggapi perkataan Mbak Yuli. Sesungguhnya ini sudah kesekian kalinya Mbak Yuli melabrakku di depan ibu-ibu komplek dan tukang sayur tapi aku tetap menahan diri. Sebagai menantu dari adik angkatnya aku mencoba untuk menjaga Marwah keluarga.
Tanpa banyak ngomong lagi, aku langsung pamit ke dalam rumah untuk kabur dari pandangan ibu-ibu komplek dan mamang sayur.
Di dalam rumah, aku bersegera mengecek ponsel yang kusimpan di atas tempat untuk memastikan omongan Teh Yuli tapi anehnya tak ada satu pun story suamiku yang lewat.
Apa aku diblokir? Atau wa story-nya sudah berlalu?
Tak mau kalah set, aku mengambil satu ponsel lagi, ini ponsel jualan yang diperuntukan buat toko online-ku. Aku tak sebodoh yang Bang Ramdan kira. Untunglah nomor hape yang ini belum diblokir sehingga aku bisa melihat status suamiku yang tukang curhat itu.
[Heran sama istri zaman sekarang, perkara 10 ribu saja dia embat dan nggak bilang-bilang. Pas dikasih tahu ngelawan. Tanda-tanda akhir zaman.]
Ya ampun! Bang Ramdan! Mulutnya lemes banget kayak baru dihamplas.
Mataku memanas melihat curhatan suamiku. Lagi-lagi dia membuka aib rumah-tanggaku ke semua kontak WA-nya yang kupastikan cepat atau lambat akan menyebar ke seluruh kota, lebay!
Padahal kejadiannya enggak begitu, jadi ceritanya aku menemukan uang sepuluh ribu di saku celananya ketika nyuci. Nah, kebetulan setelah itu aku beli kangkung di mang sayur seharga tiga ribu rupiah, karena uangku nggak ada receh aku teringat uang 10 ribu milik Bang Ramdan terpaksa aku menggunakan itu dulu.
Aku sudah minta maaf dengan alasan ketika aku mau ijin menggunakannya, dia lagi sibuk dan tak mengangkat teleponku eh tapi dia tetap menganggapku kurang sopan dan kurang ajar.
Astaghfirullah! Kenapa aku jadi dikira durhaka begini, sih?
Dan tahu apa yang lebih menyakitkan dari semuanya, masalah kecil ini sudah membuat Mbak Yuli kembali menghinaku.
Sumpah! Aku tidak mengerti sama Mbak Yuli.
Kenapa Mbak Yuli begitu membenciku? Kenapa yang aku lakukan selalu salah di matanya?
Dari mulai awal aku menikah, dia selalu ikut campur urusanku. Dari mulai acara akad sampai menempati rumah, dia juga yang menentukan.
Parahnya, Bang Ramdan selalu setuju apa pun kata Mbak Yuli yang sejujurnya hanya kakak angkat. Dulu kata mertuaku, Mbak Yuli diadopsi sebelum ada Bang Ramdan atas saran ayah mertua.
Ah ... menyadari hal itu entah mengapa aku jadi muak. Sebenarnya perkara Bang Ramdan yang suka curhat sama Mbak Yuli ini sudah berlangsung selama kami menikah dan selama itu juga aku suka bertengkar karena masalah kebiasaannya yang buruk itu hingga aku lelah.
Heran. Ada saja yang dia curhatkan, entah itu masalah baju kelunturan, sayur sop yang keasinan sampai masalah odol yang habis.
Semua dia ekspose di medsos atau curhatkan ke kakak-nya yang julid itu. Sialnya, semua kesalahan itu dia limpahkan padaku seolah Bang Ramdan sengaja ingin mempermalukan istrinya. Selain itu dia juga kerap kali membandingkan ku dengan Kakaknya yang punya suami pelayar itu.
Jujur, aku tak masalah jika dia curhat ke satu atau dua orang katakanlah setiap manusia butuh luapan keluh-kesah. Namun, ini di WA story atau F* di mana semua orang bisa melihat atau memberi respon.
Gimana nggak malu? Kadang gara-gara curhatan Bang Ramdan aku dicap sebagai istri yang kurang baik. Tragis banget ya Allah punya suami kayak begini. Boleh tukar tambah Bang Ramdan sama daster nggak sih? Ikhlas sumpah, ikhlas.
(***)
"BANG RAMDAN! INI APA?" teriakku murka. Kali ini kurasa curhatan Bang Ramdan sudah keterlaluan.
Bang Ramdan yang saat itu sedang mengganti tank ikan kokinya hanya melirik malas. Dia selalu seperti ini, meski aku marah sampai berbusa dia tidak akan peduli.
"Apa sih, Mon? Ganggu aja Abang lagi bersihin aquarium juga," katanya cuek sambil mengecek aquarium kaca kesayangannya tersebut.
"Kenapa Abang bikin status gini sih, Bang? Ini kan sama saja sama buka aib? Kenapa, Bang?" Aku menunjuk ponsel dengan gemas.
Tadi pagi kutemukan kenyataan yang menyebalkan gara-gara info dari adikku yang mengatakan kalau kakak iparnya curhat lagi. Biasanya aku akan bersikap sabar tapi untuk kali ini stock sabarku terbatas. Statusnya yang terakhir, cukup membuatku darah tinggi.
Masa dia curhat ke F* sambil screenshoot percakapanku dengannya di WA.
Dia bilang aku istri yang kurang bersyukur karena meminta tambahan uang belanja dan memberi saran pada teman F*-nya untuk tak memiliki istri sepertiku. Meski komennya pro-kontra tetap saja aku gondok.
Astaghfirullah! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Bang Ramdan. Dia tak ada habisnya menyulut pertengkaran kami dan memberi tahu orang-orang betapa buruknya pernikahan ini.
Sebegitu bencikah dia? Apa harus seperti ini menjelekanku?
Bahkan Mbak Yuli pun kembali ikut campur dan bilang aku wanita yang nggak tahu diuntung hanya karena meminta tambahan nafkah yang kurang. Padahal di chat tersebut aku juga tidak memaksa, aku bilang jika bisa nafkahnya ditambahkan soalnya satu juta tidak akan cukup untuk kehidupan sehari-hari kami.
"Lah, salah Abang di mana Mon? Emang bener, kan? Kamu kurang bersyukur! Masa dikasih sejuta belum cukup! Apalagi kita belum punya anak."
"Bang! Kebutuhan kita meningkat. Sejuta gak cukup Bang buat bayar semua apalagi Abang bayar internet, biasanya Mona ambil kekurangan dari hasil jualan Mona tapi sekarang orderan lagi sepi Bang. Salah nggak sih kalau Mona minta?"
"Ya salahlah! Kamu itu harusnya tahu diuntung masih mending saya mau nikahin kamu karena keluarga kamu miskin! Udahlah, sekarang bikinin aku kopi! Jangan sampai aku menceraikan kamu kayak ibu kamu diceraikan bapakmu!"
"ABANG!" bentakku marah.
Dia selalu seperti ini jika kami bertengkar pasti bawa-bawa ibuku. Namun, untuk saat ini aku tak bisa bersabar lagi.
Cukup kesabaranku selama tiga tahun menutupi aibnya. Sudah saatnya aku mengeluarkan kartu AS.
"Apa? Kamu mau ngancam aku, hah? Silahkan! Silahkan! Aku nggak takut!" ledeknya sambil kembali menguras aquariumnya.
"Oke, kalau itu yang Abang mau. Mona juga bisa curhat kok bukan Abang aja," kataku dengan dada yang bergemuruh dan mata yang memerah.
Aku marah. Aku tidak tahan lagi.
"Ya, silahkan! Kamu boleh kok curhat, mau nyurhatin saya? Bebas! Lagian kamu gak punya temen, di komplek ini kamu terkenal istri durhaka! Lebih baik Mbak Yuli, sekali pun dia ditinggal Mas Satria berlayar dia tetap tahu berterima kasih!"
"Mbak Yuli lagi! Mbak Yuli lagi! Sampai kapan Bang aku dibandingin sama Mbak Yuli? Dia sama aku beda Bang! Beda! Jujur Bang, semenjak pindah ke sini setahun lalu aku mulai curiga sama Abang dan Mbak Yuli. Sebenarnya ada apa Abang dengan Mbak Yuli? Kenapa aku menemukan chat mesum kalian?"
"Chat mesum? Chat mesum apa?"
Mata Bang Ramdan membeliak ketika aku mengatakan kalau aku punya bukti tentang chat gak wajar antara dia dan kakak angkatnya tersebut.
Tidak perlu berbasa-basi, aku mengeluarkan hape dari dalam saku celanaku dan kutunjukan hasil foto chat mesum antara Bang Ramdan dan Mbak Yuli.
Ramdan.
[Mbak, aku kangen deh berduaan sama kamu. Mona gak sehebat kamu di ranjang.]
Yuli
[Masa? Ya udah nanti malam kamu ke sini, ya? Aku bakalan muasin kamu.]
Ramdan
[Iya Mbak. Tapi, jaga-jaga jangan sampai Mas Satria pulang.]
Begitulah kira-kira isi chat menjijikan antara Bang Ramdan dan Mbak Yuli yang membuat aku yakin untuk memutuskan hubunganku. Sejujurnya aku menemukan ini di web what's app Bang Ramdan sudah dua hari yang lalu karena gak sengaja sedang membuka komputer tapi aku masih menahan diri untuk mempertanyakannya.
Muka Bang Ramdan memerah setelah membaca bukti yang kutunjukan, dia lalu melotot tajam ke arahku.
"Oh, jadi ini yang kamu katakan chat mesum? Bodoh! Kamu terlalu kolot Mona! Kamu salah paham! Sekarang apa yang kamu akan lakukan? Pasti kamu gak bisa apa-apa, kan?" tuding Bang Ramdan sama sekali gak bersalah telah menyelingkuhiku.
Aku merasa hancur tapi tidak mau terlihat lemah. Tak kusangka, hati Bang Ramdan sudah mati, dia bahkan gak perduli betapa sakitnya aku membaca pesan itu.
Aku meremas rokku kuat. "Kata siapa aku gak bisa apa-apa?! Aku bisa! Aku bisa!"
"Apa? Apa yang kamu bisa?"
"Aku bisa mengajukan cerai dan mengatakan pada suaminya Mbak Yuli kalau kalian telah berselingkuh! Dasar bajingan!"
PLAK.
Satu tamparan keras aku hadiahkan tepat ke pipi Bang Ramdan setelah mengumpatinya. Akhirnya aku bisa melakukan ini juga, dulu aku masih bertahan karena berharap dia berubah tapi kali ini tidak lagi.
"Arggh! Mona kamu menamparku? Kamu--"
"Apa? Apa? Aku hanya wanita miskin gitu? Ya, betul! Aku memang miskin tapi aku lebih baik dibanding kamu yang bertingkah laku kayak setan! Permisi, Bang! Sampai jumpa di pengadilan!"
Tanpa basa-basi, lekas kusambar tas dan berlari pergi meninggalkan rumah. Tak perduli meski Bang Ramdan memaki dan berteriak mencegah.
Dia pikir aku nggak tahu keburukannya, dia pikir aku tidak tahu kalau selama ini gaji yang dia berikan setengahnya buat membiayai belanja kalap Mbak Yuli?
Kurang asem! Berengsek!
Sekarang, cukup aku bersabar sudah saatnya aku memberi pelajaran pada Bang Ramdan.
Dia pikir hanya dia yang bisa curhat di medsos? Tidak layaw!
Karena aku juga baru saja curhat di medsosku dengan menunjukan bukti chat mesum dia dengan kakak angkatnya. Dan yang paling penting aku sudah mengirim chat mereka pada Mas Satria yang rencananya pulang malam ini dari Pangandaran.
Aku yakin sebentar lagi mereka akan hancur! Hancur!
==
Taksi online yang membawaku pergi dari rumah Bang Ramdan telah berhenti tepat di depan pagar kediaman Mamah. Selepas menyerahkan uang pada sopir aku bergegas masuk.Saking terburu-burunya aku bahkan gak memperdulikan penampilanku yang awut-awutan. Tadi setelah meminta cerai pada Bang Ramdan dan meninggalkan rumah yang sudah tiga tahun aku diami aku memutuskan untuk pulang dibanding berdiam di rumah Bang Ramdan yang telah menyakitiku.Aku sakit, terkoyak dan hancur. Tak kusangka perjuanganku bertahan karena ingin menjadi menantu yang baik untuk ibu mertuaku yang sakit-sakitan dibayar dengan perselingkuhan.Bodoh! Tolol! Seharusnya aku lebih cepat membongkarnya sebelum Mbak Yuli dan Ramdan memperolokku.BRAK.Pintu depan kubuka dengan kasar membuat Dina dan Mamah yang sedang duduk menekuri ponsel mereka sontak berdiri"Mon, kamu pulang? Syukurlah, sini masuk Mon! Loh, tapi kok sendirian? Mana Ramdan?" Mamah menatap penuh kebingungan ketika aku melangkah masuk. Mungkin dia tak melihat m
Apa yang kutakutkan akhirnya terjadi. Aku sudah menebak Bang Ramdan pasti akan memanfaatkan kemiskinanku suatu hari. Sejujurnya, baik aku mau pun Mamah kami sangat syok ketika mengetahui kalau almarhum bapak yang sudah setahun meninggalkan kami ternyata berhutang pada Bang Ramdan dan buruknya itu dilakukan selama kami menikah.Mendapati fakta itu, Mamah benar-benar kecewa. Dia terus menangis karena merasa terkejut ujian ini terjadi kepada keluarga kami sementara aku tidak tahu harus berekspresi apa. Otakku buntu, bagaimana pun aku tidak mau perceraianku terganggu karena hutang itu. Namun, patut diakui kalau uang 200 juta bagiku sangat besar.Ke mana kami harus mencari uang sebanyak itu? Bahkan dengan memberikan seluruh tabungan kamu pun tidak cukup?"Sekarang gimana, Mon? Apa yang harus kita lakukan? Maaf ya Mon, Mamah beneran gak tahu kalau bapak berhutang sebanyak itu, maaf ya Mon, andai Mamah tahu mungkin Mamah udah ngelarangnya, maafin Mamah Mon, maaf ...." ujar Mamah. Suaranya te
Mas Satria terlihat menajamkan matanya sambil memegang tangan Mbak Yuli dengan kuat. Lelaki itu terlihat sangat marah karena kelakuan Mbak Yuli yang di luar dugaan. Di saat membingungkan seperti sekarang. Jujur, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, ingin rasanya marah tapi ada Mas Satria yang lebih berhak untuk mengurus Mbak Yuli karena aku terlalu lelah. Dalam kemarahan, aku hanya bisa bertanya-tanya. Kenapa Mbak Yuli bisa ada di sini? Kenapa dia tiba-tiba mau menamparku?"Mas, Mas, lepasin! Kenapa Mas membela jal*ng ini? Kenapa Mas? Apa mungkin sebenarnya Mas it--""Diam kamu Yuli! Berhenti bermain playing victim! Jangan menghina hati wanita yang sudah kamu rebut suaminya! Ingat kamu sudah banyak berhutang sama dia, seharusnya kamu malu!" Mas Satria tiba-tiba memotong teriakan Mbak Yuli secara membabi-buta.Mbak Yuli sejenak membeku, mungkin dia tidak menyangka kalau Mas Satria malah membelaku.Mbak Yuli, terimalah karmamu!"Ja-jadi, Mas tahu kalau aku berhutang sama Mona?" ta
Aku pergi ke rumah sakit yang disebutkan Mela bersama Dina dengan menggunakan motor yang biasa dipakai Dina kuliah. Sepanjang perjalanan aku benar-benar cemas tapi tetap berusaha untuk bersikap waras sementara Dina terus saja menangis dan menambah kekalutan. Jujur, jauh di dalam hati aku pun merasa sangat kalut setelah mendengar Mamah kecelakaan tapi sebagai kakak sulung aku harus bisa lebih tenang dibanding adikku. Walau benak ini terus saja mempertanyakan.Bagaimana ini bisa terjadi pada Mamah? Kenapa Mamah bisa kecelakaan? Kenapa ujian ini gak berhenti melingkupi kami? Kenapa Mamah harus terluka di saat aku sedang berjuang untuk perceraianku?"Ya Allah! Tolonglah kami," desahku di antara suara bising kendaraan.Saat ini meski perasaanku campur aduk yang bisa kulakukan hanya terus berdoa agar mamah gak kenapa-kenapa walau kuakui aku terlalu takut kehilangan Mamah. Tidak perlu waktu lama, akhirnya kami sampai di rumah sakit, kulangkahkan kedua kakiku secara cepat menyusuri ruangan
Aku menghempaskan tubuh lelahku ke kursi panjang yang ada di salah satu lorong rumah sakit. Perasaanku kini cukup lega karena biaya rumah sakit Mamah tertangani tanpa harus menjadi simpanan dokter Aldo.Aku tidak terbayang kalau Mas Satria telat datang ke ruangan dokter Aldo, aku pasti akan terjebak dan terpaksa mengambil jalan yang salah. Menurut info dari Mas Satria, ternyata dokter Aldo yang menangani Mamah emang sudah dicurigai suka memeras pasiennya. Jadi, gak heran kalau dia memanfaatkan kondisiku yang miskin demi keuntungannya.Sekarang pertanyaannya, kenapa Mas Satria bilang aku keluarganya? Kalau pun kami pernah satu mertua tapi kan sekarang kami sama-sama mantan keluarga? Lalu kenapa dia mau membantuku?Atau ... agh! Sudahlah mengingat ucapan tegas Mas Satria yang seperti membelaku tadi di depan dokter Aldo membuat aku berharap lebih. "Aww!"Aku mengerang seraya memegang ujung kursi untuk menguatkan diri. Kupikir ini saatnya aku bersitirahat sejenak, lagipula ketika tadi kuc
"Mon, Mona?" Panggilan lirih seorang lelaki membuat aku terbangun dari lena.Aku mengerjapkan kedua mataku dengan hati-hati. Saat ini pusing di kepalaku mulai agak berkurang hanya mualnya saja yang masih terasa. Aku terkesiap ketika melihat Mas Satria ada di samping bed tempat aku dibaringkan.Di situlah aku menyadari kalau aku bukan lagi ada di lorong rumah sakit tapi di suatu ruangan mirip kamar periksa karena hidungku bisa mencium bau obat yang pekat."Mon, kamu sudah bangun?" Mas Satria menatapku cemas. Dia memegang tanganku untuk memastikan bahwa aku sadar sepenuhnya.Aku melirik ke arahnya. "Ehm ... iya Mas. Ini di mana Mas? Saya pingsan, ya?"Dia tersenyum simpul. "Iya kamu pingsan. Sepertinya kamu kekurangan nutrisi. Ayo, diminum dulu, " ujar Mas Yuga sambil membawa segelas air putih dari atas nakas. Dengan perlahan dan lembut, dia membantuku duduk bersandar ke ranjang.Aku meminum air itu hingga tandas di bawah pandangan Mas Satria yang masih terlihat khawatir."Gimana rasany
"Awas saja kalau kamu menggoda Mas Satria! Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskannya!" Lagi. Ancaman Yuli terngiang-ngiang bagaikan peluru yang terus memborbardir kepalaku dengan ucapannya. Beruntung, beberapa waktu lalu obrolan dengan Mbak Yuli tak berlangsung lama karena perawat langsung datang dan membolehkan aku untuk keluar dari IGD. "Hah ...." Aku menghela napas seraya duduk termangu di depan ruang rawat Mamah. Tak terasa sudah hampir sebulan lamanya Mamah dirawat, semenjak itu juga aku bertekad menjaga Mamah dan gak mau pingsan lagi di IGD seperti sebelumnya. Alhamdullilah, berkat usaha semuanya Mamah berangsur pulih.Gumpalan darah di otak Mamah syukurnya bisa disembuhkan dengan operasi yang dilakukan oleh Mas Satria. Aku bersyukur bisa bertemu dengan pria itu, dia mengawasi kesehatan Mamah hingga Mamah siuman dan berpindah dari ICU ke ruang rawat biasa. Sekarang tinggal penyakit kanker Mamah yang harus terus menjalani pengobatan.Ini keajaiban. Alhamdullilah. Namun, t
"Bang Ramdan!?" Suaraku tercekat, jantungku seolah tertumbuk. Melihat sosok Bang Ramdan hadir kembali di hadapanku setelah sekian lama hilang membuat jiwaku yang semula tenang mulai terbakar amarah kembali karena lelaki itu sudah menghancurkanku sepenuhnya.Dia adalah penyebab trauma yang tidak berkesudahan di hidupku."Apa kabar, Mon? Mamah? Katanya Mamah sakit?" tanya Bang Ramdan basa-basi. Dia melirikku dan Mamah secara bergantian.Aku menggeram. Takkan kubiarkan si bedebah itu mengganggu ketentraman kami lagi. "Buruk! Kabar kami yang semula baik jadi buruk karenamu!" tegasku sambil melangkah maju hingga tepat berada di antara Mamah dan Bang Ramdan.Aku tidak akan membiarkan Bang Ramdan mendekati dan menyakiti Mamah. Mamah sedang mengalami pengobatan, dia tidak boleh tertekan."Ya, kondisiku menjadi gak baik kalau kamu datang, lebih baik kamu pergi!" usir Mamah.Bang Ramdan menyeringai sinis seraya memasuki ruang kamar rawat. "Wow, sungguh ramah sekali sambutannya. Mona, Mamah, te
Sebulan berlalu pasca kami melakukan wikwik. Entah mengapa aku jadi sering pusing, rasanya badanku sangat lemas. Pagi ini saja aku keluar kamar dengan berat jika bukan karena ingin mengantar Mas Satria pergi kerja.Jujur, perutku saat ini seperti diaduk-aduk padahal maghku sudah lama gak kambuh. Aku ingin sekali menahan Mas Satria tapi aku tidak mau merepotkannya. Aku harus berpura-pura baik-baik saja, selama masih bisa aku tangani sendiri.“Kamu, tunggu di rumah, ya? Jangan ke mana-mana, ya?” ujar Mas Satria sambil mengelus puncak kepalaku.Aku mengangguk. “Iya Mas, tapi—“ Belum juga aku sempat menyelesaikan kalimatku tiba-tiba kepalaku rasanya berputar dan pandanganku menggelap.Reflek aku memegang kepalaku“Auw!”“Mon, kamu kenapa? Apa kamu pusing lagi?” tanya Mas Satria.“Iya, nih Mas saya ….”BRUK.Dan aku pun tak ingat apa-apa lagi.(***)Aku terbangun lagi ketika sentuhan lembut mengenai pipiku. Meski masih pusing, aku mencoba membuka mata dan berusaha bangkit karena perutku sep
Tiba di hotel, Mas Satria sudah semangat menebar senyuman khasnya pada siapa saja. Aneh banget sih, lelaki satu ini padahal kami juga baru melakukannya beberapa hari lalu tapi masih aja semangat buat ngejar setoran. Saking semangatnya, dia bahkan bersikap baik pada semua orang yang berpapasan bersama kami sampai si Mbak-Mbak resepsionis salah paham dan bisik-bisik tetangga.Sampai di kamar, aku lebih dulu masuk ke kamar mandi.Bukan. Bukan karena aku tidak bisa menahan diri untuk melakukan hal istimewa itu tapi rasanya sepanjang hari ini badanku lengket, sehingga aku tak sabar untuk mandi dan aku pun kebelet pipis.Dalam proses acara mandi, aku sengaja memakai sampo terbaik yang aku punya, semata-mata agar Mas Satria merasa bahagia apabila nanti kami bersentuhan dan tergoda mencium aroma sampo yang kupakai.Tak kupungkiri, aku juga sangat menantikan saat-saat ini. Di mana kami hanya berdua saja tanpa ada pengganggu.Senyuman tak henti merekah setiap aku memulaskan sampo dan conditione
POV Satria Aku tersenyum saat melihat Mona dengan gembira menapaki pasir yang terbentang di salah satu pantai yang ada di Garut. Setelah permintaannya yang membuatku bahagia aku berencana membuat honeymoon untuknya. Seperti pagi ini, aku sengaja membawa Mona melarikan diri sebentar saja dari aktivitas menyesakkan yang menimpa kami. Sebenarnya, ide ini kulakukan secara spontan akibat kasian kepada Mona yang akhir-akhir ini sering terlihat sakit dan depresi.Tanpa siapa pun tahu, sebenarnya aku seringkali memergoki Mona menangis diam-diam dan melamun terutama setelah kami menikah.Entah ini perasaanku saja atau bagaimana, yang jelas Mona tetaplah Mona. Seorang wanita yang akan berpura-pura kuat padahal hatinya sangat rapuh."Ya ampun Mas, lihat deh karangnya cantik banget," seru Mona seraya menunjuk karang yang berbaris teratur di bibir pantai.Jilbab panjang Mona yang bergoyang tertiup angin dan pipinya yang kemerahan ketika diterpa matahari membuat mataku tak ingin beralih dari sos
Air wudhu dan suasana masjid yang damai telah berhasil membuat kepala dan jiwaku kembali mendingin. Tadi setelah memberi Bang Ramdan pelajaran, aku memutuskan untuk tidak langsung ke klinik menjemput Gaza tapi belok dulu ke masjid yang ada di pinggir jaLan untuk berwudhu, dan mengaji karena waktu shalat masih lama. Beruntung Mbok Nah mau memahami meski aku telat menjemput tapi dia gak masalah.Sebagai sosok seorang ibu, aku tak mau datang menemui dengan Gaza dengan suasana hati yang kacau karena khawatir malah masih terbawa suasana. Apalagi jika Gaza tahu kalau ibu sambungnya senang mengumpat jika sedang emosi seperti tadi, bisa runtuh citra yang kubangun selama ini.Agh, aku memang bukan contoh yang baik! Kenapa aku bisa mempermalukan diri sendiri?Penat. Sejenak aku menyandarkan diri ke tembok masjid usai menyelesaikan membaca satu surat dalam alquran. Kuarahkan mataku memandang taman masjid yang sejuk sambil memikirkan tentang apa yang aku sampaikan pada Bang Ramdan ketika tadi b
Beberapa minggu jadi istri, aku sama sekali tidak bisa beristirahat karena tugas rumah tanggaku menumpuk. Semenjak aku menikah, Mbok Nah ditugaskan untuk mengurus semua perlengkapan sementara aku hanya focus pada Gaza dan pekerjaan baruku sebagai perawat di klinik Mas Satria, biat aku ada kegiatan.Sementara untuk di rumah sini, sesuai kesepakatan pernikahan kami, mulai saat ini akulah yang mengatur semua urusan rumah Mas Satria dari mulai isi kulkas sampai ke kartu ATM, Mas Satria benar-benar mempercayakannya padaku.Karena itulah, pagi-pagi ini aku harus bangun untuk membuat sarapan, bersih-bersih rumah dan menyiapkan keperluan Gaza selama dititip di Mbok Nah nanti, setelah itu barulah setelah itu mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolahLelah. Ya, sangat melelahkan.Namun, untunglah di antara hectic-nya peran baru ada Mamah dan Dina yang setia membantu, jika aku sedang kerepotan Mamah bisa datang buat mengurus Gaza. Sebenarnya ide bahwa Mamah dan aku bergantian mengurus Gaza datan
Acara sakral pernikahanku telah lama selesai, kini saatnya aku beristirahat. Mungkin dikarenakan pernikahan ini termasuk rahasia jadi tidak banyak tamu yang datang dan tak banyak juga yang dijamu kecuali sahabat-sahabat Mas Satria dan sahabatku. Aku yang sudah lelah dan letih pun ijin langsung masuk kamar setelah menyerahkan Gaca pada Dina dan Mamah karena sejak tadi mereka berdua memintaku untuk bisa beristirahat. "Haaah."Aku menarik napas dalam sambil merebahkan diri ke atas tempat tidur. Dalam keheningan kamar pengantin yang ada di rumah Mas Satria aku merenung.Baru kusadari ternyata kini aku memiliki dua anak dan dua-duanya bukan berasal dari rahimku. Yang satu adalah bawaan suami dan yang satu peninggalan adikku.Sedihkah aku? Jawabannya tidak!Jujur, aku merasa ikatan batinku dengan Gaza bukan tanpa sebab. Ternyata jika diingat lagi kami punya satu kesamaan yaitu pernah merasa kehilangan kasih sayang. Gaza kehilangan kasih sayang ibunya sementara aku kehilangan kasih sayang
Mas Satria melamarku, katanya dia meminta ini karena demi Gaza dan lagi pula masa iddahku sudah selesai. Tiga minggu pasca kesepakatan akhirnya aku dan Mas Satria sepakat untuk melaksanakan akad nikah di rumah Mas Satria dengan hanya mengundang sahabat dan perwakilan keluarga.Dari pihak Mas Satria ternyata pria itu menghadirkan keluarga lengkapnya. Nenek dari Gaza yang merupakan ibu dari pihak Mas Satria pun datang untuk merestui kami. Sebelum akad, kami pernah bertemu, ibunya bilang kalau dia setuju aku menikahi putraya karena selama ini bagi mereka Yuli bukanlah menantu dan istri yang baik. Dan yang paling mengagetkan si ibu tahu kalau Yuli sudah berselingkuh sejak lama. Sangat miris. Aku yang semula menikah hanya karena Gaza menjadi kasian sama Mas Satria. Aku bisa melihat keputusasaan di binar matanya."Mon, alasan saya ingin menikahimu karena Gaza. Semenjak kecil perhatian Yuli kurang sekali, dia selalu sibuk dengan dunianya. Bahkan dia punya trauma karena melihat perselingkuha
Aku hampir saja terjatuh tapi untungnya tanganku masih memegang sisian kursinya. Detik ini juga, entah mengapa aku merasa hatiku terasa sangat ngilu dan dadaku panas hingga darahku seakan berhenti mengalir.Sungguh! Aku masih gak menyangka kalau di hari pertamaku sebagai baby sitter berakhir dengan peristiwa yang amat mencengangkan. Sekuat apa pun aku berpikir tetap saja kebetulan ini terasa janggal. Benakku tak henti mempertanyakan.Mengapa Mas Satria bilang dia mau menikahiku dan menjadikanku ibu bagi Gaza? Kenapa? Dalam diam aku melirik Mas Satria dan Mbak Yuli yang kini berdiri bersamaku di depan rumah. Semenjak pernyataan Mas Satria, Mbak Yuli seolah tersengat listrik. Matanya tak henti melotot ke arahku dan Mas Satria. Honestly, aku juga ingin menanyakan yang sama pada Mas Satria tapi dia lebih dulu memberi kode padaku agar jangan dulu menyanggah. Sepertinya dia punya rencana. Alhasil, setelah Mbok Nah membawa Gaza ke dalam terjadilah pembicaraan tiga orang dewasa ini di tera
Kurang lebih empat jam perjalanan, akhirnya aku tiba juga di sebuah komplek perumahan yang lumayan asri tapi elit itu. Sepanjang mata memandang, aku hanya bisa melihat rumah-rumah besar yang berpagar. Rupanya rumah asli Mas Satria lebih besar dibanding yang kuduga, benar ternyata kata ibu-ibu Mas Satria itu diam-diam orang kaya. Namun, walau sekarang kehidupanku lebih baik tetap saja rasanya masih ada yang mengganjal. "Huuuuh!" Aku menghembuskan napas dalam ketika kakiku turun dari mobil dan menjejakkan kaki di halaman rumah Mas Satria. Tanganku terkepal untuk menguatkan diri, sebelum masuk aku mengambil jeda untuk menatap langit.Entah mengapa tiba-tiba sesak merambat ke dalam dada. Dulu, pas masih jadi istri Bang Ramdan aku tidak bisa memandang langit dengan begitu lega seperti ini. Masih teringat jelas di benakku bagaimana di masa lalu setiap harinya aku hanya bisa bekerja dan bekerja. Belum lagi, di rumah itu juga aku mendapat kabar kehamilan yang telah lama kutunggu tapi akhir