Setelah pembicaraan itu, Lila pergi tidur, tetapi Arif tetap duduk di ruang tengah. Ia memikirkan kata-kata Wina tentang Gibran dan danyang desa.
Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa bahwa Wina memiliki agenda tersembunyi. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Gibran mungkin memang ditakdirkan untuk menikahi Wina dan melahirkan keturunan yang akan menjadi bagian dari tradisi danyang.
“Kalau benar ini tentang keturunan...” gumam Arif, “apa artinya Gibran harus menyerahkan hidupnya?”
Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak. Ia merasa bersalah karena telah menyeret Gibran ke dalam kekacauan ini. Namun, di sisi lain, ia juga tahu bahwa ia tidak bisa mundur sekarang. Jika ia ingin melindungi dirinya dan keluarganya, ia harus menyelesaikan tugas ini.
“Belum selesai masalah satu, datang masalah ini lagi. Aku pikir ritual pertama itu sudah selesai, ternyata m
Ketika mereka mulai mendekati batas desa menuju hutan Misahan, Arif menghentikan langkahnya. Ia menatap Rendi dengan serius, lalu mengeluarkan sebuah lilin dari tas kecilnya.“Rendi, dengarkan aku baik-baik,” kata Arif sambil menyerahkan lilin itu. “Ini bukan perjalanan biasa. Apa pun yang terjadi, kau harus menjaga lilin ini tetap menyala. Jangan sampai padam, apa pun yang kau lihat atau dengar.”Rendi mengerutkan kening, bingung dengan permintaan itu. “Kenapa, Pak? Apa yang sebenarnya kita cari di sini?”Arif menghela napas panjang. Ia tahu bahwa menjelaskan semuanya hanya akan menambah ketakutan Rendi, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan pria muda itu tidak tahu apa-apa. “Kita akan mencari barang-barang yang penting untuk desa ini, tetapi perjalanan ini tidak hanya tentang fisik. Kau mungkin akan melihat hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Jangan coba-coba untuk mengikutiku l
Arif melangkah semakin jauh ke dalam hutan Misahan. Udara semakin berat, dan keheningan yang melingkupi seolah menelan setiap suara langkahnya.Pepohonan menjulang tinggi, dedaunannya menutupi langit, membuat siang hari tampak seperti senja. Setiap langkah membawa rasa dingin yang menusuk tulang, tetapi Arif tidak berhenti.“Semua ini hanya rintangan,” gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.Namun, rintangan pertama segera muncul. Ketika ia melangkah lebih dalam, suara desisan pelan terdengar dari sekelilingnya. Arif berhenti, matanya berusaha menembus kegelapan.Tiba-tiba, seekor ular besar meluncur dari salah satu cabang pohon dan mendarat di depannya. Tubuhnya hitam berkilau dengan sisik yang memantulkan cahaya samar, dan matanya merah menyala, menatap Arif dengan penuh kebencian.“Manusia,” desis ular itu dengan suara yang tidak wajar. “Kau tidak seharus
Arif melangkah lebih jauh setelah melewati gerbang yang dijaga oleh Duras. Udara terasa semakin berat, dan aroma busuk menyengat menyeruak, membuatnya harus menutup hidung dengan kain. Jalan setapak yang ia lalui tampak seperti lingkaran tak berujung, dan pohon-pohon di sekelilingnya terlihat seperti sosok yang bergerak. Ia mulai merasa dirinya tidak benar-benar maju.“Aku sudah melewati pohon ini sebelumnya,” gumamnya, menatap sebuah pohon besar dengan cabang yang berbentuk aneh.Arif merobek sepotong kain dari bajunya dan mengikatnya di salah satu cabang pohon itu sebagai tanda. Lalu ia melanjutkan langkahnya dengan hati-hati, tetapi setelah berjalan beberapa menit, ia kembali melihat pohon yang sama dengan tanda kainnya.“Sialan!” teriak Arif frustrasi. Ia merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya meskipun udara di sekitarnya begitu dingin. “Kalian mencoba menyesatkanku, ya?”
Setelah melewati cahaya samar di kejauhan, Arif merasa dirinya melangkah ke dunia yang sepenuhnya berbeda. Udara yang sebelumnya dingin dan berat kini berubah menjadi hangat, tetapi kehangatan itu tidak memberikan rasa nyaman, lebih mirip seperti panas yang mengendap, menekan, dan membuatnya sulit bernapas.Di hadapannya terbentang sebuah kota yang tampak seperti versi lain dari dunia nyata, tetapi aneh dan menyesatkan. Bangunan-bangunan tinggi menjulang, dipenuhi lampu neon yang berkedip-kedip dengan warna mencolok.Jalan-jalannya dipenuhi dengan papan reklame elektronik yang menampilkan gambar-gambar bergerak, tetapi tidak ada tulisan yang bisa dimengerti. Semua terlihat seperti kota besar modern, tetapi atmosfernya tidak benar.Tidak ada suara kendaraan atau keramaian. Tidak ada tawa atau obrolan orang-orang. Suasananya sunyi, begitu sunyi sehingga suara napasnya sendiri terdengar bergema.Arif berjalan perlaha
Akhirnya, Arif melihat cahaya terang di ujung jalan, seperti pintu keluar dari dunia aneh ini. Dengan napas tersengal-sengal, ia melompat ke arah cahaya tersebut. Begitu ia melewati batasnya, semua suara hilang dan dunia di sekitarnya berubah menjadi gelap total. Ia jatuh tersungkur di tanah yang dingin, tubuhnya gemetar hebat.Ketika ia membuka matanya, Arif sudah kembali di tepi hutan desa. Udara malam terasa segar, tetapi ia tahu, pengalaman yang baru saja ia alami bukan sekadar mimpi. "Apa pun itu," pikirnya, "tempat itu bukan untuk manusia."Arif melangkah pelan, mencoba memahami apa yang ia lihat. Orang-orang berjalan dengan langkah teratur, tanpa suara, dan wajah mereka tidak menunjukkan emosi. Semuanya tampak seperti bayangan yang bergerak di bawah cahaya lampu neon yang terlalu terang. Namun, yang paling mengerikan adalah wajah mereka.Arif memperhatikan salah satu dari mereka dengan saksama dan nyaris tidak bis
Abdul memukul lantai dengan tongkatnya, dan ruangan itu tiba-tiba dipenuhi dengan cahaya terang. Suara-suara di luar terdengar seperti mundur, tetapi bayangan hitam itu masih bertahan, melongok melalui jendela dengan mata merah menyala."Mereka adalah perwujudan ketakutanmu," kata Abdul. "Hanya kau yang bisa menghancurkannya. Tapi pertama-tama, kau harus percaya pada dirimu sendiri."Arif merasa tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap Abdul, berharap ada jawaban yang lebih jelas. Tetapi Abdul hanya menatapnya kembali dengan tenang, seolah-olah ia tahu bahwa Arif harus menemukan kekuatannya sendiri untuk keluar dari tempat ini.“Kamu sudah berapa lama di sini?” tanya Abdul tiba-tiba.Arif mengerutkan kening, mencoba mengingat. “Sepertinya baru sekitar satu jam,” jawabnya ragu.Mata Abdul membesar, dan ekspresinya berubah drastis. “Satu jam?” tanyanya
“Jika waktumu telah tiba, kau pasti akan kembali.”Arif melanjutkan perjalanannya, mencoba menenangkan pikirannya. Tetapi ia tahu bahwa bahaya masih mengintai di setiap langkahnya. Dan ia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa keris yang ia tinggalkan tadi mungkin akan menjadi bagian dari takdirnya suatu hari nanti.Abdul berdiri lagi di hadapannya, membuat Arif terkejut. Pria itu mengambil tongkatnya dan mengetuk tanah tiga kali. Sebuah pintu kecil di dinding terbuka, memperlihatkan jalan setapak yang suram."Ikuti jalan ini," katanya. "Tapi dengarkan baik-baik. Apa pun yang kau lihat atau dengar, jangan berhenti. Jangan menoleh. Jangan tergoda oleh apa pun yang ada di sepanjang jalan."Arif menelan ludah. "Apa yang ada di sepanjang jalan itu?""Hal-hal yang akan membuatmu ragu," jawab Abdul. "Hal-hal yang akan memanfaatkan ketakutan dan kerinduanmu. Tetapi kau harus tetap fokus
Bayangan itu kini mendekati pintu, dan suara ketukannya berubah menjadi hentakan keras. Bam! Bam! Bam! Arif mundur, merapat ke dinding. Suara desisan ular bercampur dengan erangan yang dalam, seolah makhluk itu sedang memanggil sesuatu dari dunia lain. Abdul, dengan tatapan tegas, menghampiri pintu dan mengangkat tongkatnya.’Bagaimana Abdul berada di sini lagi?’ tanya Arif dalam hati kebingungan."Ini saatmu," katanya sambil menatap Arif. "Hadapi mereka atau terjebak selamanya di sini."Arif menggeleng. "Aku tidak bisa! Mereka akan membunuhku!"Abdul mendekat, meletakkan tangannya di bahu Arif. "Kau tidak akan mati, kecuali kau membiarkan dirimu kalah."Pintu itu akhirnya hancur, dan bayangan hitam itu masuk dengan gerakan melingkar seperti asap. Di dalamnya, Arif bisa melihat wajah-wajah yang dikenalnya: sosok ayahnya yang dulu sering dia kecewakan, seorang teman lama
Malam itu, Lila tidak bisa tidur.Jatinegara sudah terlelap di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya terlihat damai.Tapi Lila tidak bisa menghilangkan suara bisikan tadi dari pikirannya."Ibu… kita belum selesai…"Lila menggenggam tangannya erat.Apakah dia hanya berhalusinasi?Atau ada sesuatu yang masih terikat pada anaknya?***Pagi harinya, saat Lila turun ke dapur, Dimas sudah duduk di meja makan, wajahnya tampak tegang."Aku tidak bisa berhenti memikirkan apa yang dikatakan Jatinegara semalam," katanya pelan.Lila duduk di depannya. "Aku juga…"Ustadz Harman datang dengan membawa secangkir teh hangat. "Aku sudah meneliti sesuatu sejak semalam."Dimas mengernyit. "Meneliti apa?"Ustadz Harman meletakkan secangkir teh di depan mereka, lalu berkata dengan suara serius."Kutukan ini mungkin belum benar-benar hilang."Lila langsung menegang. "Tapi kita sudah menghancu
Udara malam terasa lebih berat.Lila masih memeluk Jatinegara erat, menangis dalam diam.Anaknya selamat.Dimas berdiri di sampingnya, menatap tanah kosong tempat rumah pria tua itu berdiri beberapa menit yang lalu.Tidak ada apa-apa di sana.Hanya tanah kosong.Seolah-olah rumah itu tidak pernah ada sebelumnya.Ustadz Harman menghela napas panjang, lalu menatap mereka dengan mata yang masih dipenuhi kewaspadaan. "Kita harus pergi sekarang."Dimas mengangguk cepat. "Ya, aku juga tidak ingin berada di tempat ini lebih lama."Mereka semua berjalan cepat menuju mobil yang mereka parkir di luar desa.Namun, saat mereka melewati gerbang Desa Pagerwesi, sesuatu terasa aneh.Lila berhenti.Dimas menoleh. "Kenapa?"Lila menggigit bibirnya.Dia tidak yakin, tapi…Saat mereka pertama kali datang ke desa ini, suasananya terasa berat, penuh bisikan, dan seperti dihuni oleh sesuatu yan
Angin kencang berputar di dalam ruangan.Tangan-tangan hitam yang keluar dari lantai semakin liar, semakin banyak.Dari sudut ruangan, makhluk-makhluk tanpa wajah mulai merangkak keluar, tubuh mereka berwarna abu-abu, mata kosong, dan mulut mereka bergerak seolah-olah menggumamkan sesuatu yang tidak bisa dipahami.Lila memeluk Jatinegara erat.Ustadz Harman berusaha membaca doa, tetapi suara bisikan di ruangan ini lebih keras daripada doanya.Dimas mencabut keris kecil yang masih tertancap di lantai, matanya penuh kewaspadaan. "Kita harus keluar dari sini!"Tapi pria tua itu tersenyum, tubuhnya semakin berubah, kulitnya semakin gelap, seolah-olah bayangan sedang menyatu dengan dirinya."Kalian tidak bisa pergi," bisiknya.Kemudian, dengan satu gerakan tangan, dia mengangkat Lila dan Dimas tanpa menyentuh mereka.Lila menjerit saat tubuhnya terlempar ke belakang dan menghantam dinding.Dimas juga terdorong keras, t
Pria tua itu duduk diam di tengah ruangan. Matanya hitam pekat senyumnya lebar.Dan ketika ia berbicara, suaranya nyaris seperti suara Arif."Pesugihan ini dimulai dariku… dan kalian tidak akan bisa mengakhirinya."Lila menelan ludah.Jatinegara menggenggam tangannya erat, tubuhnya gemetar.Dimas melangkah maju, ekspresinya waspada. "Siapa kau?"Pria tua itu tersenyum lebih lebar. "Kalian sudah tahu jawabannya."Ustadz Harman mengerutkan kening. "Kau bagian dari keluarga Arif?"Pria itu tertawa kecil. "Bukan bagian."Dia menatap Jatinegara dengan tatapan yang sulit dijelaskan."Aku adalah awal dari semuanya."Lila merasakan bulu kuduknya meremang.Pria itu bukan sekadar anggota keluarga Arif.Dia adalah orang yang pertama kali membuka jalan bagi pesugihan ini.Lila mencoba mengatur napasnya. "Jika kau yang memulainya, kau pasti tahu bagaimana cara mengakhirinya."
Pagi itu, Lila duduk diam di kursi kayu di teras rumah Ustadz Harman.Kopi di tangannya sudah dingin. Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali menyesapnya.Pikirannya masih dipenuhi dengan kata-kata Jatinegara semalam."Ayah bilang… aku akan bertemu mereka semua… sebentar lagi."Siapa yang dia maksud?Lila mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan kegelisahan. Dia tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut.Jika pesugihan ini belum sepenuhnya hilang, maka mereka harus menghancurkannya sampai ke akar.Tak lama kemudian, Dimas dan Ustadz Harman keluar dari dalam rumah, wajah mereka sama seriusnya."Kita harus mulai menelusuri asal mula perjanjian ini," kata Ustadz Harman. "Tapi ini bukan sesuatu yang mudah."Dimas menyandarkan tubuhnya di dinding. "Apa kita sudah punya petunjuk?"Ustadz Harman mengangguk. "Aku ingat sesuatu. Dulu, Arif pernah bercerita bahwa keluarganya berasal dari sebuah des
Sudah tiga hari sejak mereka meninggalkan Kandang Bubrah.Lila mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya sudah berakhir. Bahwa Arif telah pergi dan pesugihan itu sudah hancur.Tapi setiap kali malam tiba, perasaan aneh menyusup ke dalam dirinya.Seolah ada sesuatu yang masih mengawasi.Seolah ada mata yang terus menatap dari dalam kegelapan.***Malam itu, Lila berdiri di depan cermin di kamar tamunya di rumah Ustadz Harman.Matanya menatap pantulan dirinya sendiri, mencari sesuatu yang tidak beres.Entah sejak kapan, ia merasa… berbeda.Ada sesuatu di dalam dirinya yang mengatakan bahwa ini belum benar-benar selesai.Di atas ranjang, Jatinegara sudah tertidur pulas, wajahnya terlihat damai.Tetapi Lila tahu.Anaknya telah berubah. Bukan perubahan yang bisa dilihat orang biasa.
Lila masih berlutut di tanah, tangannya erat menggenggam Jatinegara. Air matanya mengalir deras, tetapi tidak ada suara tangisan yang keluar dari bibirnya.Di depannya, tempat yang dulunya adalah Kandang Bubrah kini hanya tanah kosong, seolah-olah tidak pernah ada apa pun di sana sebelumnya.Tidak ada rumah.Tidak ada gerbang.Tidak ada jejak keberadaan makhluk-makhluk yang pernah menguasai tempat itu.Dan tidak ada Arif.Dimas berdiri di sampingnya, napasnya masih tersengal akibat berlari. Ia menoleh ke Ustadz Harman yang berdiri diam, matanya tertuju pada tempat yang baru saja mereka tinggalkan."Sudah berakhir, kan?" tanya Dimas pelan.Ustadz Harman tidak langsung menjawab. Ia menatap tanah kosong itu lama, lalu mengangguk perlahan."Ya… tapi ada harga yang harus dibayar."
Tanah di bawah kaki mereka terus bergetar, semakin keras, seolah-olah ada sesuatu yang akan muncul dari dalam kegelapan.Sosok-sosok tak bernyawa yang mengelilingi mereka mulai bergerak lebih cepat, langkah-langkah mereka tidak menimbulkan suara, tetapi udara di sekitarnya bergetar oleh keberadaan mereka.Dimas mencengkeram bahu Lila. "Kita harus keluar dari sini, sekarang!"Tapi ke mana?Di mana jalan keluar?Arif masih berdiri di tengah kegelapan, tersenyum, seolah menikmati penderitaan mereka."Kalian tidak bisa lari," katanya, suaranya terdengar tenang, tetapi menusuk seperti pisau tajam. "Tempat ini akan tetap ada… selama dia masih hidup."Mata Arif beralih ke Jatinegara.Jatinegara menggigil dalam pelukan Lila. "Ibu… aku takut…"Lila merasakan jantungnya seperti diremas.
Gerbang kayu besar itu menutup dengan suara menggelegar, seolah ada sesuatu yang mengunci mereka di dalam.Lila menahan napas. Udara di dalam Kandang Bubrah lebih berat dibandingkan dengan di luar. Ada bau tanah basah bercampur anyir yang menusuk hidung, membuatnya hampir muntah.Jatinegara menggenggam tangan Lila lebih erat. Anak itu berbisik pelan, "Ibu… kita tidak sendiri di sini."Lila menoleh ke arah Jatinegara. Matanya.Mata Jatinegara berubah lagi, hitam pekat. Lila hampir menjerit. Tapi sebelum ia bisa bergerak, suara Arif kembali terdengar."Lila…" Mereka semua menoleh.Arif masih berdiri di depan mereka. Tapi kini, senyumnya lebih lebar, terlalu lebar untuk ukuran manusia."Akhirnya kau datang," bisiknya. "Aku sudah menunggumu begitu lama."Lila merasakan kakinya melemas.