Home / Romansa / Pesona Panas Sang CEO / BAB 4 : INGIN MELUPAKAN

Share

BAB 4 : INGIN MELUPAKAN

Author: NightEve
last update Last Updated: 2025-03-17 00:32:05

Malam itu Anessa tidak langsung pulang. Ia butuh sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya. Kakinya membawanya ke sebuah bar kecil di sudut kota.

Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang tenggelam dalam minuman dan percakapan masing-masing. Ia duduk di bangku tinggi dekat bar, lalu memesan segelas wine.

Satu tegukan. Dua tegukan.

Hangatnya alkohol mulai mengalir dalam tubuhnya. Ia menatap pantaulan dirinya di cermin yang tergantung di belakang bartender.

Matanya tampak lelah. Tapi setidaknya, kali ini dia tidak menangis. Di tatapnya lekat-lekat pantulan dirinya sambil tersenyum sendiri.

"Apa kurangnya aku hah ... aku cantik dan pekerja keras juga gak beban, masih juga diselingkuhi," gumannya yang terdengar berbisik.

"Apa aku bodoh?" gumamnya lagi.

"Kalau kamu nanya pertanyaan itu setelah minum, kemungkinan jawabannya iya."

Suara berat itu membuatnya menoleh.

Edward.

Pria itu berdiri di sampingnya, mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung. Tidak ada jas mahal atau aura CEO yang biasanya menyelimuti dirinya. Ia tampak lebih santai, tapi tetap sama berwibawa.

"Pak Edward?" Anessa mengerjapkan mata, memastikan ia tidak sedang berhalusinasi.

Edward tersenyum tipis. "Kebetulan aku juga butuh minum malam ini," katanya, lalu duduk di kursi kosong di sampingnya.

"Aku nggak tahu Anda tipe yang suka minum," ujar Anessa berusaha bersikap biasa saja.

"Aku nggak tahu kamu tipe yang suka minum sendirian," balas Edward.

Anessa mendengus kecil. "Aku cuma butuh ... melupakan sesuatu."

Edward menatapnya lama. "Kalau itu soal mantanmu, melupakan dia bukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam satu malam. Apalagi kamu sudah menjalani hubungan yang cukup lama dengannya," kata Edward meneguk minuman di gelasnya.

Anessa menoleh tajam. "Kenapa semua orang selalu tahu tentang hidupku?"

Edward mengangkat bahu. "Aku punya banyak sumber, ingat?"

Anessa mendesah, lalu meneguk wine-nya lagi. "Jadi, kenapa Pak Edward ada di sini?"

Edward memutar gelas di tangannya sebelum menjawab, "Aku hanya ingin memastikan anak buahku tidak melakukan sesuatu yang bodoh."

Anessa mendengus. "Aku baik-baik saja."

"Ya?" Edward menatapnya skeptis. "Karena dari sudut pandangku, kamu kelihatan seperti orang yang mencoba menyangkal perasaanmu sendiri."

Anessa terdiam, mungkin Edward benar. Ia masih menyangkal perasaannya. Masih pura-pura kuat. Masih pura-pura tidak peduli, padahal hatinya remuk.

"Kalau kamu mau melupakan seseorang. Cobalah mulai dengan membuka hati untuk sesuatu yang baru."

Anessa menoleh, menatap pria itu. "Dan menurut anda, sesuatu yang baru itu apa?"

Edward tersenyum samar. "Kita lihat nanti."

Anessa menatap Edward, mencoba membaca maksud di balik kata-katanya. Tapi pria itu tetap tenang, hanya menyesap minumannya dengan tatapan yang sulit ditebak.

"Kalau Anda sedang mencoba merayuku, saya harus bilang, itu cara yang cukup ... " ujar Anessa, memainkan ujung gelasnya dengan ujung jari

Edward tertawa kecil, suara beratnya terdengar samar di tengah musik jazz yang mengalun pelan. "Aku hanya mengatakan fakta. Kamu yang memutuskan apa yang akan kamu lakukan dengan itu."

Anessa mendesah, merasa ada sesuatu yang aneh dalam percakapan mereka. Rasanya berbeda. Berbahaya. Tapi justru itulah yang membuatnya tertarik.

Ia meneguk wine-nya lagi, menikmati sensasi hangat yang menjalar di tenggorokannya. Matanya masih menatap pria di sampingnya. "Dan Anda sendiri? Apa Anda juga sedang mencoba melupakan sesuatu?"

Edward menoleh, menatapnya dengan mata tajam namun lembut di saat bersamaan. "Mungkin." Jawaban itu menggantung di udara.

Anessa mendekat sedikit, menyandarkan sikunya di meja bar, membiarkan bahunya hampir menyentuh Edward. Ia bisa mencium aroma cologne pria itu yang mahal, maskulin, tapi tetap lembut.

"Kalau begitu, mungkin kita bisa melupakan bersama."

Edward tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Anessa, seolah sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya. Lalu, perlahan, ia tersenyum.

"Melupakan bersama, ya? Kedengarannya menarik," gumamnya.

Anessa tidak tahu apa yang membuatnya mengatakan itu. Mungkin efek alkohol. Mungkin juga luka di hatinya yang masih berdarah. Atau mungkin, ada sesuatu dari Edward yang membuatnya ingin jatuh lebih dalam ke dalam jurang ini.

Tanpa mereka sadari, jarak di antara mereka semakin tipis.

Edward mencondongkan tubuhnya, matanya menelusuri wajah Anessa dengan tatapan yang lebih intens dari sebelumnya. "Kamu yakin ingin melakukan ini?" tanya Edward sambil merasakan napas gadis itu di dekatnya, aroma wine yang masih melekat di bibirnya.

Tapi ini bukan tempat yang tepat.

Dengan enggan, Edward menarik diri sedikit, lalu mengulurkan tangannya. "Ayo pergi dari sini."

Anessa menatapnya ragu. "Kemana?"

Edward hanya tersenyum kecil, matanya penuh arti. "Ke tempat yang lebih nyaman."

===

Malam itu dingin ketika mereka keluar dari bar. Anessa membiarkan Edward membimbingnya menuju mobil yang diparkir di seberang jalan. Ia tahu ini bukan ide yang baik. Tapi juga tidak ingin menghentikannya.

Selama perjalanan, tidak banyak kata yang terucap. Hanya suara musik lembut dari radio yang mengisi keheningan di antara mereka. Anessa mencuri pandang ke arah Edward, memperhatikan cara pria itu menggenggam kemudi, tatapannya yang fokus ke jalan, rahangnya yang sedikit mengeras.

Ia tidak terlihat seperti pria yang sedang mabuk. Tapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang berbeda.

Ketika akhirnya mereka sampai di sebuah apartemen mewah di pusat kota, Edward membukakan pintu mobil untuknya. Anessa keluar, mendongak menatap bangunan tinggi di depannya.

"Ini tempat Anda?" tanyanya kagum.

Edward mengangguk, lalu menuntun Anessa masuk. "Aku jarang ke sini. Biasanya tinggal di rumah utama."

Setelah mereka masuk ke dalam lobi, Edward menekan tombol lift. Lift bergerak naik, membawa mereka ke lantai atas. Jantung Anessa berdebar lebih kencang.

Begitu pintu apartemen terbuka, Anessa melangkah masuk, matanya langsung menelusuri ruangan luas dengan desain modern yang elegan.

"Masih ingin melupakan?" tanyanya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.

Anessa hanya menatap Edward, matanya mencari sesuatu dalam tatapan pria itu. "Kita seharusnya tidak melakukan ini," ucapnya pelan.

Edward menatapnya dalam-dalam. "Katakan kalau kamu ingin aku menghentikan ini, dan aku akan berhenti."

Anessa tahu ini kesempatan untuk mundur. Tapi saat Edward melangkah mendekat, saat jemarinya menyentuh dagunya dengan lembut, ia tidak bisa mengucapkan kata itu.

Sebaliknya, setelah Edward nenyentuh dagunya, ia lalu menatap Edward penuh keyakinan.

"Aku tidak ingin berhenti."

Edward pun tersenyum. Dalam sekejap, ia menutup jarak diantara mereka, yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Ciuman itu pelan di awal, seolah keduanya masih ragu. Tapi hanya dalam hitungan detik, segalanya berubah menjadi lebih dalam, lebih panas.

Tangan kekar Edward mulai melingkar di pinggang ramping milik Anessa, menariknya lebih dekat. Anessa perlahan tenggelam dalam sensasi aroma, sentuhan, dan cara Edward menciumnya dengan begitu penuh kendali.

Mereka tidak berpikir pada konsekuensi apa yang akan terjadi. Mereka hanya membiarkan malam panas itu membawa mereka tenggelam dalam nafsu kesenangan dunia untuk melupakan masalah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 5 : TIDAK DIPEDULIKAN

    Sinar matahari perlahan merayap masuk melalui celah tirai, menghangatkan pipi Anessa yang masih terlelap. Matanya bergerak di balik kelopak, seolah tubuhnya enggan terbangun sepenuhnya dari mimpi.Namun, kesadaran perlahan merayap masuk, membawa serta rasa pusing yang berdenyut di kepalanya.Perlahan ia membuka kedua matanya lalu mengerjapkan beberapa kali sebelum terbuka sempurna. Kepalanya terasa sedikit pusing, efek dari wine yang ia minum semalam.Nafasnya tercekat saat melihat sosok pria yang tertidur di sampingnya.Edward.Jantungnya berdebar kencang, ia langsung terduduk dan menepuk kedua pipinya lalu melihat kearah Edward yang tertidur. "Tidak! Ini bukan mimpi!" gumamnya panik.Anessa kemudian mengintip ke dalam selimut dan terkejut melihat dirinya tanpa sehelai benang pun. "Astaga! Apa yang sudah kulakukan!" gumamnya lagi semakin panik.Kepalanya mulai memutar ulang ingatan yang terjadi semalam. Anessa ingat dirinya mabuk, ingat menarik kerah kemeja Edward, ingat ciuman itu .

    Last Updated : 2025-03-17
  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 6 : GUGUP

    Di perusahaan, Anessa sedang duduk di mejanya dengan pandangan kosong. Otaknya masih berusaha mencerna kejadian semalam. Tidak mungkin atasannya dengan begitu mudah mau melakukan hal seperti itu pada karyawannya sendiri. Tapi, apa boleh buat jika sudah sama-sama nafsu? Ditambah lagi dengan wajah Anessa yang begitu pucat dan sangat kelelahan. Anessa akui untuk pengalaman pertama melakukan hal seperti itu, Edward cukup perkasa sampai membuatnya kewalahan. Sampai ia sendiri tidak ingat, mereka selesai jam berapa. Ciuman itu, sentuhan itu, tatapan Edward pagi tadi. Membuat napasnya tercekat setiap kali pikirannya berputar kembali ke momen yang seharusnya tidak pernah terjadi. Kepalanya berdenyut pelan, entah karena kelelahan atau karena emosinya yang masih berantakan. "Anessa!" Suara kepala divisi menyadarkannya. Anessa tersentak dan buru-buru menoleh. "Eh? Iya Pak?" "Kalau sakit, jangan masuk kerja!" bentak sang kepala divisi sambil membanting dokumen ke meja Anessa. "Bai

    Last Updated : 2025-03-18
  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 7 : KETAKUTAN DAN RASA PENASARAN

    Siang itu, kantin perusahaan tampak ramai karena banyak karyawan menikmati waktu istirahat mereka. Anessa dan Rena duduk di sudut ruangan, tempat favorit mereka.Tetapi, entah mengapa pikirannya melayang entah kemana. Sampai nasi yang ada di piringnya dibiarkan dingin dan tangannya sibuk menganduk minuman tanpa berniat meminumnya.Rena meliriknya sekilas penuh keheranan melihat sikap Anessa yang terlihat murung dari pagi. "Kamu gak apa-apa kan, Nes? Dari tadi diam aja. Kayak orang lagi nelen masalah besar aja."Anessa menghela napas, lalu tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Ren. Cuma kurang tidur aja.""Apa ini ada hubungannya dengan Pak Edward?" tebak Rena tajam."Enggak, ini gak ada hubungannya dengan Pak Edward, Ren," jawab Anessa. "Masa sih?" tanya Rena penuh kecurigaan. "Aku tadi lihat kamu keluar dari ruangannya lho."Mata Anessa membelalak kaget, ternyata ada orang yang melihatnya. Tapi, bukankah wajar jika seorang karyawan masuk ke ruangan atasannya. Mungkin saja masalah pekerjaan

    Last Updated : 2025-03-19
  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 8 : PEMBOHONG DAN PENIPU

    Suasana di dalam toko perhiasan begitu tenang. Cahaya lampu kristal memantulkan kilau emas dan berlian yang tertata rapi di balik kaca bening. Seorang pegawai toko, pria paruh baya dengan kacamata tipis, meneliti cincin yang baru saja Shera berikan kepadanya.Shera menyilangkan tangan, menunggu dengan penuh percaya diri. Matanya berbinar membayangkan berapa banyak uang yang akan ia dapatkan. Cincin berlian pasti bernilai tinggi.Namun, ekspresi pegawai itu berubah. Dahinya berkerut, lalu menatap Shera dengan ragu."Maaf Nona, … anda yakin cincin ini asli?"Shera mengerutkan kening. "Apa maksud Anda?"Pria itu menimbang cincin itu sekali lagi di antara jari-jarinya sebelum menyerahkannya kembali pada Shera. "Saya sudah memeriksanya. Ini hanya lapisan emas biasa. Berlian ini pun bukan asli, melainkan zirkon berkualitas tinggi."Jantung Shera seakan berhenti berdetak sejenak. "Apa? Anda bercanda, kan?"Pegawai itu tersenyum

    Last Updated : 2025-03-20
  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 9 : MENGENAL LEBIH JAUH

    Tidak terasa hari sudah gelap ketika Anessa baru saja keluar dari ruang kantor sehabis lembur. Tubuhnya terasa lelah, tapi otak penuh dengan berbagai laporan yang baru saja ia selesaikan.Dengan lelah ia melangkah menuju halte bus dan ponselnya tiba-tiba bergetar.[Halo Nessa, kamu sudah selesai kerjanya?"]Anessa mengernyitkan dahinya. Kenapa Edward tiba-tiba menghubunginya? Hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan saja, dan sebelumnya Edward tidak pernah menghubunginya.Tapi ... memang iya kalau menyangkut kejadian malam itu, mereka jadi punya hubungan spesial. Tapi kan tetap saja itu terjadi di luar kendali Anessa."Tidak, itu tidak bisa dijadikan patokan aku punya hubungan lebih dari sekedar itu," kata Anessa dalam hati.[Iya, halo Pak. Ini saya baru selesai lembur. Ada apa ya?"][Tidak usah terlalu formal. Ini sudah di luar jam kerja."]["Baiklah ... ada apa?"["Aku ingin pergi ke supermarket, kebetulan aku butuh seseorang untuk nemenin belanja. Kamu di mana sekarang?"]A

    Last Updated : 2025-03-20
  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 10 : KEPUTUSAN TERBAIK

    Anessa berdiri di depan lemari pakaian, tangannya gemetar saat menarik koper hitam dari bawah tumpukan baju. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena ragu, tapi karena amarah yang masih tersisa.Ia sudah tidak tahan lagi berada di tempat yang selama ini disebutnya rumah. Seumur hidupnya ia selalu mendengarkan orangtuanya dan menjadi anak yang penurut.Sampai semuanya semakin kacau ketika ayahnya terjerat hutang besar. Sehingga membuatnya harus lebih keras mencari uang demi membayar hutang, menjadi tulang punggung keluarga, dan membayar kuliahnya sendiri waktu itu.Namun apa yang ia dapatkan sekarang?Tidak ada yang bisa ia terima, semuanya harus berjalan sesuai kata orangtuanya."Aku harus pergi," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri untuk segera berkemas.Tangannya bergerak cepat, mengambil beberapa pasang pakaian dan memasukkannya ke dalam koper. Dia tidak peduli apakah bajunya sudah terlipat rapi atau tidak. Dia hanya ingin pergi sebelum semuanya bertambah buruk.Diambilny

    Last Updated : 2025-03-21
  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 11 : AWAL YANG BARU

    Malam semakin larut, ketika mobil hitam yang dikendarai Edward membelah jalanan kota. Di kursi penumpang, Anessa hanya terduduk diam, menatap jendela dengan tatapan kosong.Pikirannya masih sedikit kacau dan masih bergelut dengan kejadian yang baru ia alami. Pipinya yang lebam masih terasa perih dan sudut bibir yang sobek mulai terasa sedikit kaku.Edward meliriknya sekilas sebelum akhirnya mengarahkan mobil ke bahu jalan di depan apotik kecil yang masih buka. Tanpa mengatakan apa-apa, ia melepas sabuk pengaman dan membuka pintu."Tunggu di sini," katanya singkat sebelum keluar dari mobil.Anessa menatap punggung pria itu yang perlahan menjauh. Ia tahu pasti Edward akan membelikannya sesuatu untuk mengobati lukanya.Hatinya kembali bergetar, mengingat hanya sedikit orang yang memperlakukannya seperti ini. Perhatian yang diberikan Edward terasa berbeda, hangat, tulus, dan membuatnya merasa dihargai.Beberapa menit kemudian, Edward kembali dengan sebuah kantong plastik kecil di tanganny

    Last Updated : 2025-03-21
  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 12 : LANGKAH MENJAUH

    Matahari bahkan belum menampakkan sinarnya, Anessa sudah melangkah keluar dari apartemennya. Jalanan masih sepi, hanya sesekali terdengar suara deru mobil yang melintas. Udara pagi memang dingin, tetapi pikirannya lebih tenang dibanding semalam. Dengan langkah cepat, ia menuju supermarket 24 jam di sudut jalan. Hanya beberapa langkah dari apartemen. Suasana di supermarket masih sepi. Hanya ada beberapa pegawai yang sibuk menata barang di rak. Anessa mengambil troli lalu menyusuri lorong-lorong rak. Ia mengambil beberapa bahan makan seperti, keju, roti, sayur-sayuran, daging, dan barang-barang kebutuhan lainnya. Setelah itu, Anessa berjalan ke kasir dan membayar barang belanjaannya lalu segera kembali ke apartemen, berniat membuatkan Edward sarapan juga bekal makan siang sebagai tanda terima. Sampainya di apartemen, ia segera berjalan ke dapur meletakkan barang belanjaannya dan mulai memasak. Tangannya bergerak cekatan, meski pikirannya masih berkecamuk teringat kejadian semalam.

    Last Updated : 2025-03-24

Latest chapter

  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 23 : PERASAAN BERSALAH

    Anessa tidak pernah menyangka bahwa kabar mengenai promosi jabatannya akan tersebar begitu cepat. Rena, teman kantornya yang terlalu bersemangat, tanpa sengaja mengunggah momen perayaan kecil mereka ke Instagram. Siapa sangka, unggahan itu justru sampai ke tangan orang-orang yang tidak diinginkan, keluarganya.Di rumah, adik Anessa sedang sibuk bermain ponsel saat tanpa sengaja menemukan unggahan tersebut melalui akun Instagram Rena.Matanya membelalak ketika melihat nama Anessa terpampang jelas dalam caption. ["Selamat untuk sekretaris baru CEO kita, Anessa!" ]Ia segera berlari ke ruang tamu dan menunjukkan layar ponselnya kepada ibunya."Bu, lihat ini! Anessa jadi sekretaris CEO!"Sang ibu, yang sedang duduk dengan wajah letih, langsung menegakkan punggungnya. Ia meraih ponsel dari tangan putranya dan menatap layar dengan tidak percaya. "Apa?! Gajinya pasti naik berkali-kali lipat!"Ayah Anessa, yang duduk di samping istrinya, merebut ponsel dan ikut membaca unggahan itu. Ia men

  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 22 : PANTASKAH

    Suasana di ruang rapat utama terasa tegang. Karyawan-karyawan yang berada di dalamnya bertanya ada apa dan tiba-tiba sekali. Semua karyawan sudah duduk dengan rapi di kursi, tetapi suara bisikan semakin menjadi ketika Edward dan Anessa ke dalamnya.Mereka semakin penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Edward dan mengapa ada Anessa yang berdiri di sampingnya?Ada di mana Pak Harto?Pria itu berdiri tegap dengan tatapan mata serius, matanya terus menyapu seluruh ruangan ampai semuanya sunyi tidak bersuara."Selamat pagi menjelang siang, hari ini saya akan mengumumkan sesuatu yang penting bagi perusahaan ini," kata Edward suara menggema ke seluruh penjuru ruangan."Mulai hari ini Pak Harto sudah tidak bekerja di sini dan beliau meminta agar tidak melakukan salam perpisahan dikarenakan ia hari ini berangkat menemui anaknya dan yang akan menggantikan Pak Harto adalah Anessa. Mulai sekarang, dia adalah sekretaris pribadi saya," lanjut Edward yang membuat beberapa orang melongo kage

  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 21 : JARAK YANG TERLALU DEKAT

    Fajar baru menyingsing ketika Anessa terbangun dari tidurnya. Perlahan ia mengusap kedua matanya yang masih berat, sisa kantuk masih menggantung di pelupuk matanya.Dengan semangat, ia berjalan ke dapur dan mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkasnya. Anessa mengambil ayam yang sudah dimarinasi semalam, aroma bumbu rempah langsung menyeruak saat ia mengeluarkannya dari kulkas.Hari ini, ia menyiapkan ayam panggang, lengkap dengan nasi hangat, sayuran, dan buah-buah segar.Hampir saja ia lupa mempersiapkan kotak bekal khusus untuk Edward. Mungkin ini adalah bentuk kebiasaan baru, sebagai bentuk tanda terima kasih atas semua yang Edward lakukan untuknya. Dengan cekatan, ia menyelesaikan semuanya tepat waktu. Tidak lupa memasukkan bekal dalam tas, lalu Anessa bergegas mandi dan mengenakan pakaian yang sudah ia siapkan semalam.Anessa menatap pantulan dirinya di cermin, yang mengenakan rok hitam dengan atasan merah muda. Rambutnya dibiarkan terurai dengan sentuhan gelomba

  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 20 : HAMPIR FRUSTASI

    Malam itu di dalam kontrakan yang terasa semakin sempit oleh tekanan yang menghimpit pikirannya, Shera terduduk di pojokan kamar. Menatap kosong layar ponselnya yang tergeletak di lantai, kembali menampilkan pesan Andrean kali ini dengan nomor lain.["Aku nggak main-main, Sher. Kalau kamu nggak mau gantikan lima puluh juta itu. Aku tidak akan segan membuat hidupmu seperti di neraka. Jangan coba-coba ngilang dariku."]Kepalanya terasa berat, air matanya sudah habis, yang tersisa hanya jejak air mata di wajah yang lelah. Shera meraih ponselnya dan tangannya kembali gemetar menekan tombol blokir kontak tersebut. Ia benar-benar merasa sendirian. Kedua orangtuanya sudah tiada dan satu-satunya orang yang membantunya dulu, kini berubah menjadi seorang yang asing tidak saling mengenal.Tapi, mengingat sikap kasar dan dingin Anessa tadi sore. Membuatnya sangat kesal dan merutuki Anessa sebagai orang yang membuatnya menderita."Kenapa dia berubah?" gumamnya lirih.Shera mengusap kasar wajahnya

  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 19 : SEKRETARIS PRIBADI

    Saat Edward sudah lebih dulu pergi ke parkiran, Anessa sedikit ragu untuk menyusulnya. Ia memantapkan langkah kakinya, mencoba agar tidak kelihatan terburu-buru. Begitu sampai di mobil Edward, ia membuka pintunya, tapi belum sempat berkata apa-apa, Edward sudah lebih dulu menyambutnya dengan senyuman tipis."Hari ini aku mau ajak kamu makan lagi. Mau kan?" tanya Edward santai.Anessa sempat terdiam, karena sudah sering Edward mengajaknya makan. Tempat yang mereka kunjungi juga bukan sembarang tempat makan, tapi restoran mahal.Anessa kemudian mengangguk pelan, "Eh? Makan lagi?"Edward terkekeh, "Anggap saja ini ucapan terima kasih karena kamu sudah menemukan flashdiskku, membuatkanku bekal nasi goreng, dan mengobati lukaku."Anessa mengernyitkan keningnya, "Jadi, kemarin itu ... bukan kode ya? Aku pikir kamu benar-benar ingin aku buatkan."Edward hanya tersenyum, lalu tanpa menunggu lagi, ia menyalakan mobil dan melaju. Selama perjalanan, Anessa mencoba merilekskan pikirannya dan meng

  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 18 : ITU MASALAHMU

    Sudah setengah hari Shera menundukkan kepala terus, demi menghindari tatapan-tatapan penuh selidik dari rekan kerjanya. Sejak insiden Andrean mengamuk tadi, namanya seketika langsung menjadi bahan perbincangan banyak orang. Beberapa orang bahkan berbisik ketika ia berjalan dan sementara beberapa temannya yang biasanya akrab kini tampak menjauh. Ia menghela napas perlahan, berusaha bersikap biasa saja. Namun, semua itu berubah saat seorang staf atasannya mendekatinya. "Shera, tolong ikut saya sebentar ke ruang atasan," pintanya staf itu bernada datar. Shera sedikit terkejut, tetapi ia tidak punya pilihan selain mengikuti langkah kaki staf itu menuju ruang atasan. Langkahnya semakin lama semakin berat, rasa ketakutan itu kian menjalar, membuatnya terasa mual. Ketika ia sampai di depan pintu atasannya, ia menarik napas dalam-dalam dan menyakinkan dirinya bahwa semua akan berjalan baik-baik saja. Ia mengetuk pintu itu dengan pelan dan dipersilahkan masuk oleh atasannya. Keti

  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 17 : MASALAH KECIL

    Setelah Andrean pergi, ruangan terasa hening. Anessa berdiri menatap Edward dengan tatapan penuh pertanyaan. Sudut bibir pria itu masih mengeluarkan darah dan ia tampak tenang, seperti tidak merasakan sakit. Anessa menghela napas, lalu berkata, "Ayo ke ruanganmu, aku tidak mau ada orang-orang berpikir yang aneh-aneh." Edward menatap Anessa sejenak sebelum mengangguk dan melangkah lebih dulu. Anessa mengikuti dari belakang, sesekali melirik pria itu yang berjalan dengan wibawa khasnya, meskipun baru saja berkelahi. Begitu saja di ruangan Edward, Anessa segera mencari kotak P3K. Ia membukanya dan mengambil kapas serta antiseptik untuk membersihkan luka di bibir Edward. Edward sendiri merasa tidak enak dengan Anessa karena sudah membuatnya khawatir. "Duduk," perintah Anessa lembut. Edward menurut, membiarkan Anessa mendekat dan mulai merawat lukanya. Saat kapas menyentuh lukanya, Edward sedikit meringis. Refleks, tangan Anessa menyentuh dagunya, menahannya agar tidak bergerak

  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 16 : MELAPORKAN FAKTA

    Anessa yang baru tiba langsung berjalan menuju ruang Edward lalu mengetuk pintu besar itu. Terdengarlah suara sahutan Edward dari dalam ruangan itu. Ia pun masuk dan meletakkan tas bekal yang ia bawa di atas meja kerja Edward. "Kamu sedang cari apa?" tanya Anessa heran. "Aku sedang mencari flashdiskku. Perasaan tadi pagi sudah aku masukan ke dalam saku jasku," jawab Edward masih sibuk mengobrak-abrik. Anessa pun mengeluarkan flashdisk yang ia temukan dari dalam tasnya. "Edward, apa ini flashdisknya?" Edward langsung berbalik badan, pria itu menatap benda kecil itu sejenak sebelum mengambilnya dengan ekspresi penuh kelegaan. "Di mana kamu menemukannya?" "Di depan pintu apartemenmu," jawab Anessa jujur. Edward menghela napas lega. "Aku baru sadar flashdisk ini saat sampai di perusahaan. Di dalam flashdisk ini berisikan file penting untuk rapat hari ini." Anessa tersenyum kecil. "Untung ketemu kan?" Edward mengangguk, lalu berbalik untuk kembali ke meja kerjanya. Namun, sa

  • Pesona Panas Sang CEO   BAB 15 : EDWARD

    Di malam harinya, ponsel Anessa kembali bergetar di atas meja samping tempat tidur. Layar ponselnya menampilkan nomor yang tidak dikenal terus berusaha menghubunginya. Ia sudah tahu siapa pemilik nomor itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Andrean. Namun, ia tetap membiarkannya sampai ponselnya berhenti berdering dengan sendirinya. Beberapa pesan singkat masuk setelah panggilan itu berakhir. Anessa menatapnya sebentar, lalu membalikkan ponsel dan menarik selimut hingga setinggi dadanya. Ia lelah dengan semua masalah yang terjadi belakangan ini, sudah cukup membuat hari-harinya berjalan tidak maksimal. Sementara itu, di kamarnya, Andrean termenung di dalam kamar kontrakannya. Ia menatap layar ponselnya dengan gelisah. Ia masih mengingat jelas bagaimana satpam apartemen elite itu menyebutkan satu nama yang membuatnya curiga. "Edward." Nama itu bukan nama yang asing baginya. Dulu, saat ia masih kuliah, Edward adalah mahasiswa paling populer dan terkenal sebagai orang terpintar dalam

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status