Stefan dan Olivia cekcok dan saling marahan. Olivia bahkan pergi dan menginap di rumah Junia selama satu malam. Keesokan harinya, dia kembali ke kampung bersama Junia untuk melihat kemajuan proyek investasinya. Itu sebabnya, dia tidak bersama Odelina dan Russel.Setelah Olivia menerima telepon dan mengetahui hal yang menimpa Odelina, dia bergegas kembali ke kota.Hal kecil yang terjadi di antara Stefan dan Odelina tertangkap kamera paparazzi, lalu terekspos dan masuk ke pencarian trending.Jika Olivia melihat ini, siapa yang bisa menjamin Olivia tidak akan menyalahkan dirinya sendiri, merasa konflik yang terjadi di antara mereka berdua menyebabkan dia gagal melindungi kakaknya?Stefan meminta Reiki untuk menangani masalah ini dan berusaha menyembunyikan hal ini dari Olivia. Jangan sampai Olivia tahu, setidaknya tidak untuk saat ini.“Kamu harus sadar dengan statusmu. Semua hal yang berhubungan denganmu mudah untuk jadi pencarian trending. Apalagi setelah kamu menikah, semua orang ingin
Aksa justru terus mengungkapkan semua pemikirannya yang salah. Dia juga menyalahkan Stefan dan menganggap kalau sepupunya seakan adalah korban dari Stefan. Stefan berharap dirinya bisa berada di tempat Aksa saat ini agar dia bisa mencekik leher Aksa sampai mati. “Aksa, aku bilang sekali lagi kalau aku nggak ada masalah sama sekali. Aku benar-benar baik-baik saja. Makasih buat perhatianmu,” pungkas Stefan lalu menutup teleponnya. Namun, tiba-tiba saja ponselnya kembali berdering. Stefan sempat menduga kalau Aksalah yang kembali meneleponnya.Jadi, dia langsung berkata dengan nada kesal tanpa menengok lagi ke layar ponselnya, “Aksa, aku kan sudah bilang kalau aku nggak ada masalah apa pun!”“Pak Stefan, ini saya ... Jonas,” ujar seseorang dari balik telepon.Wajah Stefan langsung berubah tenang lalu dia pun berkata, “Oh, Pak Jonas.”“Iya, saya cuma mau tanya tentang keadaan Bu Olivia,” ujar Jonas kembali. “Dia baik-baik saja, kok. Terima kasih atas perhatiannya, Pak Jonas,” balas Stef
Daniel langsung mengerutkan keningnya ketika melihat kemunculan ibunya di rumah sakit. Dia tahu pasti ada hal yang tidak beres jika ibunya datang menghampirinya ke rumah sakit hari ini. Yanti langsung menghampiri kedua laki-laki yang sedang berdiri di depan ruang rawat rumah sakit itu. “Tante,” sapa Stefan sopan. Yanti tersenyum lembut sambil mengangguk untuk membalas sapaan Stefan. Stefan merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Yanti kepadanya saat ini karena dia tahu apa maksud dari tatapan itu. Stefan sudah menyuruh Reiki untuk menghapus berita trending yang beredar di internet. Namun, sepertinya sudah banyak orang yang melihatnya. Bahkan mungkin ada banyak juga yang sudah mengambil foto berita itu sebelum berita itu sempat diturunkan. Dahulu, para wartawan akan meminta izinnya terlebih dahulu sebelum mereka menaikkan berita tentang Stefan. Namun, sekarang mereka sudah mengetahui kelemahan Stefan karena dia sudah menikah. Mereka merasa bisa meminta ampunan dari Olivia setelah m
Daniel tidak lagi bisa mengelak dan tetap tinggal di rumah sakit setelah apa yang dikatakan oleh ibunya kepada Olivia. Tidak lama kemudian, Olivia mengantar Yanti dan Daniel sampai keluar ruang rawat. Olivia menghela napasnya setelah melihat kepergian Yanti dan Daniel. Lalu dia masuk kembali ke dalam ruang rawat bersama Stefan. Dia melihat kakaknya yang masih tertidur dengan wajah penuh rasa khawatir. “Olivia, semua pasti ada jalannya. Kamu nggak perlu sekhawatir itu,” ujar Stefan sambil merangkul Olivia dan berusaha menenangkannya. Stefan yakin kalau Daniel pasti bisa meyakinkan kedua orang tuanya untuk bisa menerima Odelina selama Daniel benar-benar yakin dengan perasaannya. “Kayaknya Kak Odelina juga nggak ada perasaan khusus sama Daniel. Perasaan Daniel yang suka sama kakak itu kan urusannya sendiri. Kak Odelina mungkin juga akan nolak dia. Kita lihat nanti saja apa yang akan terjadi selanjutnya,” tambah Stefan.Kemudian Olivia menyandarkan kepalanya di bahu Stefan lalu berkata
Yanti benar-benar naik pitam dengan ulah putranya. Daniel belum pernah menikah, tapi dia sudah berpikir untuk meminta Russel memanggilnya ayah. Apa dia pikir Roni sudah mati?“Daniel, Mama bilang sekali lagi sama kamu, ya. Pokoknya Mama nggak setuju kamu sama Odelina. Dia janda anak satu. Selain itu, dia juga bukan berasal dari dunia kita. Dia berbeda dari kita, Daniel. Perempuan yang tepat buatmu itu cuma Cherly. Dia itu perempuan kuat yang berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya.”“Sekarang coba kamu pikirkan sekali lagi. Bahkan tanpa embel-embel keluarga Lumanto saja Odelina sudah nggak cocok buat kamu. Apa kamu nggak bisa merasakannya?” “Kamu itu CEO Lumanto Group, sedangkan dia cuma pemilik sebuah restoran kecil. Bahkan tempat dia membuka usahanya saja nyewa sama kamu. Perbedaan di antara kalian itu besar banget. Mama ngomong begini bukan karena Mama negeremehin Odelina, tapi memang itu kenyataannya. Daniel, kamu seharusnya memikirkan juga kecocokan di antara kedua keluarg
Daniel tidak peduli dengan sikap tegas ibunya. Dia tetap saja menanggapinya dengan tenang dan sambil tersenyum. “Ma, hal yang harusnya Mama khawatirkan sekarang adalah apa mungkin putramu ini bisa mendapatkan hati Odelina atau tidak,” ujar Daniel tenang. Daniel beranggapan kalau dirinya akan sulit untuk mendapatkan Odelina. Karena Odelina sudah pernah mengalami kegagalan dalam pernikahannya. Jadi, kemungkinan besar dia tidak lagi haus akan kasih sayang seorang laki-laki.“Kamu benar-benar mau ngejar Odelina?” tanya Yanti marah. “Ma, sebelumnya aku nggak tahu tentang perasaanku ini, tapi aku takut dan hatiku sakit ketika Odelina terluka. Walaupun aku nggak kayak Reiki yang selalu hati-hati, aku tahu kalau yang aku rasakan ini adalah cinta.”“Aku selalu peduli sama dia. Aku benar-benar menyukainya, makanya aku mau ngejar dia. Lagi pula nggak mungkin juga kalau aku cuma duduk dan nunggu dia datang buat nikah sama aku, kan? Tapi kalau memang bisa begitu, ya bagus juga ,sih,” jawab Danie
Yanti sebenarnya tidak mau membangunkan putranya ketika mereka telah sampai di rumah. Namun, dia juga tidak bisa menggendong Daniel lagi seperti ketika Daniel masih kecil. Jadi, dia terpaksa membangunkan putranya yang masih tertidur lelap. “Daniel, kita sudah sampai. Ayo bangun,” ujar Yanti sambil mengguncang tubuh Daniel agar dia segera bangun. Daniel terlihat sedikit bingung ketika membuka matanya dan menatap ibunya selama beberapa saat. Tidak lama kemudian, dia akhirnya tersadar dan langsung bergegas keluar dari mobil. Cherly juga terlihat baru saja kembali dari luar. Dia mengendarai mobil yang dipinjamkan oleh Yanti kepadanya. “Tante, Daniel,” sapa Cherly terlebih dahulu setelah dia keluar dari mobil. Sekarang dia mengganti panggilannya kepada Daniel. Biasanya dia memanggil Daniel dengan sebutan Kak Daniel, tapi sekarang dia memanggil Daniel hanya dengan nama depannya saja. Dia berpikir kalau hubungan mereka berdua akan berkembang dengan baik setelah mereka tampak cocok di aca
Cherly menatap bingung ke arah Yanti. Kemudian Yanti menyuruh pelayan untuk membawa semua belanjaan Cherly ke dalam rumah. Dia ingin berbicara sambil mengajak Cherly berkeliling di halaman bersama dengannya. Yanti terus menghela napasnya sambil terus berjalan.“Tante, ada masalah apa? Tante bisa cerita sama aku semua masalah yang mengganjal di hati Tante. Mungkin saja aku bisa membantu Tante. Tante tenang saja, langit nggak akan runtuh, kok,” ujar Cherly dengan raut wajah cemas.Yanti buru-buru mengambil tangan Cherly lalu berkata, “Cherly, kamu adalah gadis yang sangat baik dan perhatian. Kamu bisa menjadi apa pun yang kamu inginkan. Kamu benar-benar seorang gadis hebat. Di mata Tante, kamu adalah menantu paling ideal.” “Entah apa yang dipikirkan anak itu. Kenapa dia bisa suka sama Odelina, sih? Apa yang paling kita khawatirkan akhirnya terjadi juga. Bahkan dia sampai menginap semalaman di rumah sakit setelah mendengar kalau Odelina terluka. Makanya Tante ke sana dan menyeretnya pul
Nana bertanya, “Kenapa kamu nggak ke toko bunga?” Rosalina menjawab, “Aku mau istirahat sebentar. Dokter Panca menyuruhku untuk nggak terlalu lelah, katanya tubuhku masih lebih lemah dibanding orang lain dan harus dirawat dengan baik. Aku nggak boleh terlalu capek atau begadang." "Sebenarnya, bekerja di toko bunga nggak melelahkan, tapi adikku sering datang ke sana dan membuat keributan. Sangat menjengkelkan." "Calvin menyuruhku beristirahat saja di rumah. Lagi pula, ada orang yang menjaga toko. Kalau aku nggak ada di sana, adikku hanya akan berkeliling sebentar lalu pergi.” Nana berkata, “Kamu masih terlalu lembut. Kalau itu aku, setiap kali dia datang, aku akan menghajarnya sampai dia kapok dan nggak berani datang lagi." "Dengan semua yang sudah dia lakukan untuk menindasmu, kamu seharusnya nggak menganggapnya lagi sebagai saudara." Rosalina tersenyum dingin, “Aku juga nggak menganggapnya saudara. Dia hanya bisa menang lewat omongan, dan aku malas meladeni dia. Aku nggak perlu
Begitu Nana tiba di depan gerbang halaman rumah Rosalina, dia melihat perempuan baru keluar dan berseru, "Nana!" Rosalina tersenyum, "Aku dengar kamu sudah datang sejak tadi. Aku penasaran kenapa belum melihatmu, lalu aku menebak pasti kamu pergi ke rumah Tante Dewi. Aku baru saja mau mencarimu." Nana menjawab, "Nenek ada di rumah. Aku datang, tentu harus menyapanya dulu. Aku mengobrol sebentar dengan Nenek sebelum ke sini." Dia maju beberapa langkah, dengan akrab menggandeng lengan Rosalina, lalu melirik ke dalam dan bertanya, "Samuel nggak ada di rumah, 'kan?" "Kenapa? Kamu mencarinya?" Rosalina menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Nggak, hanya saja dia selalu menunjukkan wajah cemberut di belakang Nenek setiap kali melihatku. Aku nggak mau bertemu dengannya, supaya dia nggak berpikir bahwa aku akan mengikuti keinginan Nenek." "Siapa yang mau sama dia? Aku punya banyak kakak senior, pilih salah satu saja, mereka pasti nggak akan berani menolak aku." Rosalina langsung kesa
Di perusahaan sedang sangat sibuk dan belakangan ini dia sering berada di luar. Teman-temannya mulai mengeluh karena ketidakhadirannya. Namun, neneknya tahu alasan sebenarnya dia keluar, jadi tidak mendesaknya untuk segera pulang. Meskipun begitu, dia tidak bisa berlama-lama di sini. Terlalu banyak pekerjaan yang menunggu. Nenek tertawa dan berkata, "Kalau makanannya enak, makanlah lebih banyak. Tinggal di sini beberapa hari lagi." "Nenek, aku sibuk bekerja. Aku datang ke sini hanya karena guruku datang. Sekarang guruku sudah pulang, aku juga harus kembali bekerja." Nenek menggenggam tangannya dan berkata, "Bagaimana kalau Nenek menelepon keluargamu dan bilang supaya kamu tinggal lebih lama di Mambera?" "Nenek, nanti saat libur Tahun Baru aku akan datang lagi. Sekarang aku benar-benar nggak bisa tinggal lebih lama. Hari ini pun aku datang hanya karena Rosalina terus-menerus memaksaku untuk menemaninya." Nana merasa Sarah seperti tahu siapa dirinya sebenarnya. Dia mencoba menging
Dia bisa memakai perhiasan kapan saja dia mau, dan tidak memakainya jika tidak ingin. Dia memiliki koleksi perhiasan pribadi yang sangat banyak, apalagi dengan tambahan perhiasan yang diberikan oleh ibu mertuanya. Perempuan itu tidak kekurangan perhiasan. Bahkan, dia sangat menyukai perhiasan, terutama batu giok. Di dalam koleksinya, terdapat banyak sekali perhiasan giok berharga. Setelah tiga menantu perempuan masuk ke keluarga, dia membagikan sebagian koleksi perhiasannya kepada mereka. Selain itu, untuk sembilan cucu menantu, dia juga telah menyiapkan hadiah perhiasan. Namun, dia tetap menyimpan beberapa untuk dirinya sendiri—sebagai warisan terakhir. Dia berharap akan memiliki seorang cicit perempuan suatu hari nanti. Jika dia benar-benar mendapatkan cicit perempuan, maka semua perhiasan simpanannya itu akan diberikan kepada cicitnya sebagai mas kawin. "Ma, lihat siapa yang datang!" Menantu sulungnya tiba-tiba berkata dengan penuh semangat. Sarah sengaja menunjukkan ekspresi
Baik memesan makanan dari menu maupun menikmati prasmanan, semuanya sangat lezat, membuat para tamu sangat puas. Tidak heran jika hotel-hotel di bawah naungan Adhitama Group selalu ramai. Banyak orang datang hanya untuk makan, bukan menginap. Para tamu yang menginap di hotel bisa mendapatkan diskon 30 persen saat makan di restoran hotel. Di lantai satu, selain restoran, ada juga kafe, toko oleh-oleh khas Mambera, taman bermain anak-anak, serta area membaca. Di area membaca, terdapat beberapa rak buku besar yang penuh dengan berbagai jenis buku. Saat hujan, tamu bisa menghabiskan waktu seharian di hotel tanpa merasa bosan. Pelayan itu tersenyum. "Baiklah, aku akan mencari Bu Fenny. Silakan lanjutkan urusanmu." Nana tersenyum dan pergi. Pelayan itu pun kembali ke pekerjaannya. Nana berjalan sambil menikmati pemandangan. Dengan santai, dia menghabiskan 40 menit sebelum akhirnya sampai di rumah utama.Meskipun Rosalina yang mengundangnya, tetapi karena Nenek Sarah ada di rumah, sebag
Sejujurnya, dia juga diperlakukan seperti harta berharga yang disayangi oleh keluarganya ketika di rumahnya. Di tempat gurunya, para senior dan saudara-saudari seperguruannya juga sangat baik padanya. Belum pernah ada yang menunjukkan wajah dingin padanya. Hanya Samuel yang selalu memasang wajah dingin setiap kali melihatnya, seolah-olah dia berhutang miliaran kepadanya dan belum melunasinya. Nana juga tahu alasan di balik sikap Samuel yang tampak sopan dan ramah di depan para tetua tetapi bersikap dingin padanya di belakang mereka. Semua itu hanya karena dia mengira Nenek Sarah ingin menjodohkan mereka. Namun, Nana tidak akan repot-repot mendekati lelaki itu. Memangnya dia pikir dirinya uang yang akan disukai semua orang?Meskipun dia pernah menyukai Samuel, setelah mendengar kata-katanya, dia memaksa dirinya sendiri untuk belajar melepaskan perasaan itu. Namun, bagaimanapun juga, mereka tetap saja sulit untuk benar-benar menghindari satu sama lain. Pelayan itu berpikir Nana takut
Russel memanggil Olivia. Liam juga menyapa Olivia, lalu duduk bersama Russel di sebelah Mulan sambal menyaksikan Archie minum susu formula. Russel bermain dengan jari-jari kakinya, lalu Archie menendang ke arahnya. Russel tertawa cekikikan. Adiknya masih kecil dan tidak terlalu kuat, jadi tendangannya tidak terasa sakit. Setelah kedua anak kecil itu kenyang, mereka diserahkan kepada pengasuh. Pengasuh menggendong mereka dan meletakkannya di kereta bayi, lalu mendorong mereka keluar untuk berjalan-jalan.Hal ini dilakukan agar nanti ketika majikannya itu pergi, kedua bayi itu tidak akan menangis. Mulan dan Olivia berencana membawa anak-anak bermain ke taman bermain anak-anak, tetapi mereka tidak membawa si kembar karena masih terlalu kecil. Taman bermain terlalu ramai, sehingga dikhawatirkan mereka tidak bisa merawatnya dengan baik. Di Vila Ferda suasananya sangat ramai, sementara di Vila Permai, suasananya masih tenang. Keluarga Adhitama untuk saat ini belum ada anak kecil. Anak pa
“Yang namanya anak kecil memang begitu. Di umur segini dia pasti penasaran banget sama setiap barang yang dia pegang. Begitu kamu ganti baju yang lebih meriah dikit juga mereka pasti bakal terus menatap kamu,” kata Olivia tersenyum. “Merawat anak kecil memang merepotkan, tapi waktu mereka bermanja sewaktu di gendong dan manggil kamu ‘Mama’ dengan nada yang menggemaskan, kamu merasa bahagia.”Sambil memeluk Archie yang lagi-lagi memanjat meja, Mulan menyahut, “Benar juga. Setelah aku sibuk kerja seharian dan pulang ke rumah, rasa capekku langsung hilang begitu aku memeluk mereka. Rasanya capek yang aku rasakan selama seharian terbayar.”Mulan menunduk untuk mencium wajah anaknya. Saat dicium, Archie juga balas tersenyum ke Mulan, lalu memeluk lehernya dan menggesekkan wajahnya. Olivia sangat iri melihat kedekatan mereka berdua.“Olivia, kamu jangan iri, ya. Beberapa bulan lagi anak kamu sudah lahir. Kamu juga bakal merasa bahagia. Semoga anak kamu nggak bandel saja,” ucap Mulan tertawa.
“Aku nggak bisa kasih makan dia. Dikasih susu bubuk juga maunya kamu yang kasih. Kalau aku yang kasih, dia malah menolak seolah-olah aku mau kasih dia makan racun saja. Dasar pilih kasih,” ujar Yose mengeluhkan anaknya yang memiliki standar ganda.Padahal susu bubuk juga dia yang seduh, tetapi Archie tidak mau minum dan hanya mau minum ketika Mulan yang memberikannya. Kalau Mulan sedang tidak ada di rumah akan lebih mudah bagi Yose, karena begitu Archie lapar, dia akan minum terlepas dari siapa saja yang memberikannya. Meski cengeng, Archie ini cukup pintar.“Nanti biar aku yang kasih dia minum, kamu bawa Audrey balik ke kamar saja dulu. Di luar dingin,” kata Mulan.Mulan lihat-lihat Archie sudah mengenakan jaket tebal, jadi seharusnya dia tidak akan kedinginan meski berada di luar. Lantas Yose pun membawa Audrey masuk ke dalam, sembari sesekali menunduk untuk mencium pipi putri kesayangannya.Ketika menyaksikan Yose menggendong pergi Audrey, Olivia berkata kepada Mulan seraya terkekeh