“Kak Chacha,” panggil Keyna yang datang ke kamar Sacha dengan menggendong Princess.“Princess!” pekik Sacha yang langsung mengambil alih Princess dari gendongan Keyna.“Ya Tuhan, kamu tambah cantik, makin lucu dan menggemaskan,” puji Sacha sambil menciumi wajah adiknya."Kak Chacha lebay. Padahal setiap hari bertemu Princess," kekeh Keyna.Keyna mengamati Sacha. Wanita cantik itu sudah siap akan pergi. Berpenampilan kekinian dengan dress di bawah lutut yang feminim.“Kak Chacha mau ke mana? Cantik dan wangi sekali.”“Double date.”“Sama siapa?”“Bianca dan pasangannya.”“Oh. Jadi, sekarang, Bianca tau kamu adalah tunangan Cedric?”“Tidak. Belum. Itu sebabnya Cedric mengajakku kencan bersama dengan Bianca dan Alex. Cedric bilang sekalian membuat kejutan untuk Bianca.”“Pasti kejutannya sukses.”“By the way, Key. Bianca dan Alex mau menikah. Mereka mengundang Cedric. Dan Cedric berjanji akan mengajakku sekalian mempertemukan aku dengan keluarga besarnya.”Spontan, Keyna mengembuskan nap
“Hadiah untukmu, Baby,” ucap William sambil mengenakan kalung pada leher Keyna yang terbuka.Bukan hanya kalung, William membeli satu set perhiasan mahal dan mewah untuk istrinya. Cincin, anting dan gelang kini menyempurnakan penampilan Keyna. Sang bilioner tampak puas melihat Keyna menerima hadiahnya dengan raut bahagia.“Ini …. “Keyna menatap cermin dan menyentuh kalung berlian di lehernya. “Cantik sekali.”“Karena yang mengenakannya cantik. Perhiasan itu hanya mengimbangi pemiliknya.”Keyna terkekeh. Mengucapkan terima kasih dengan kecupan ringan di kedua pipi dan bibir William. Mereka berpelukan dan saling menatap mesra.“Dalam rangka apa kamu memberiku hadiah ini?”“Aku belum memberimu hadiah karena telah melahirkan seorang putri yang sangat cantik dan cerdas. Maafkan atas keterlambatan itu.”Keyna mendongak menatap wajah tampan William. Mengelus rahangnya yang berbulu tipis dan memberikan senyum manis.“Aku tidak mengharapkan hadiah karena melahirkan seorang putri untukmu.”“Aku
Akhir minggu ini adalah hari pernikahan Bianca dan Alex. Sebenarnya keluarga Dalton juga mendapat undangan. Dengan berbagai pertimbangan, William akhirnya setuju mereka menghadiri pesta tersebut. Selain karena William memang berhubungan baik dengan Alex dan keluarganya. William juga memiliki niat untuk memperlihatkan Keyna pada keluarga Cedric.Namun begitu, William mengatakan pada putra-putrinya bahwa ia dan Keyna tidak akan menginap. Setelah acara pesta, mereka akan langsung kembali ke mansion mengingat mereka meninggalkan Princess sendirian. Louis tentu saja langsung protes.“Kalau begitu, aku tidak perlu ikut. Aku temani saja Princess. Masa Princess sendirian di mansion?” sungut Louis.“Memang kenapa kalau kita membawa Princess, Dad?” tanya Frederix. “Usia Princess kan sudah hampir dua bulan. Aku rasa ia sudah bisa naik pesawat."“Iya, Dad. Princess ikut saja, ya,” pinta Sacha.Setelah berdiskusi dengan Keyna dan dokter anak, akhirnya Princess diperbolehkan ikut. Semua bernapas le
Bukan hanya masalah profesi, Sacha juga mendapat banyak pertanyaan tentang Keyna. Mereka masih sangsi apa benar Keyna yang barusan mereka lihat adalah wanita yang dulu hampir dinikahi Cedric.“Iya, betul. Itu Keyna yang sama.” Sacha hanya dapat mengulum senyumnya seraya menjawab pertanyaan tersebut.Justru Cedric yang merasa tidak nyaman. Sebenarnya, ia hanya takut, Sacha merasa tersinggung. Walaupun tunangannya tersebut terlihat santai saja.“Tenang. Aku sudah mempersiapkan diri untuk ini,” bisik Sacha saat Cedric mengungkapkan kekhawatirannya.Hingga akhirnya pesta usai, dan mereka kembali ke hotel masing-masing. Keyna dan William benar-benar tidak membuang waktu, mereka langsung kembali ke mansion. Meskipun Louis mendapat kabar bahwa Princess tidak rewel sama sekali mengikuti perjalanan pertamanya keluar kota.Malam harinya, Cedric merencanakan makan malam dengan Sacha dan keluarganya. Sacha mengangguk setuju.“Kalian mau ke mana?” tanya Louis.“Makan malam bersama keluargaku,” jaw
William dan Frederix tergelak. Mereka baru saja mendengar laporan Louis tentang makan malamnya bersama keluarga Cedric. Hanya Keyna saja yang memberikan senyum tipis sambil mengembuskan napas panjang.“Aku mintaa maaf karena tidak bisa menemani Sacha dan Louis, Dad. Padahal aku juga ingin sekali bertemu dan berbincang dengan ayah dan adik Cedric,” ucap Frederix.“Tenang saja, aku mengerti, Fred.” William menepuk bahu sang putra sulung. “Lagipula Louis sudah dapat mewakili kita semua.”“Iya, Lou. Kamu hebat.”“Sindiran yang akan membuat mereka berpikir beribu kali lipat untuk menemuiku.”Frederix dan William memuji Louis. Pemuda itu lalu melanjutkan bagaimana ia menceritakan bahwa Keyna adalah salah satu dokter jantung favorit di kota mereka. Bahkan mengungkapkan jika William telah membangun sebuah rumah sakit jantung.William yangakhirnya sadar lebih dulu istrinya hanya diam tanpa berkomentar apa pun. Lelaki itu menoleh ke samping dan memperhatikan Keyna yang sedang menyesap tehnya p
Hubungan Cedric dan Sacha belum bisa dibilang mulus. Cedric sempat berpikir William akan membaik sikapnya setelah memperbolehkannya berfoto bersama pada pernikahaan Bianca dan Alex. Namun, ternyata ia salah.Beberapa kali William menggagalkan kencannya bersama Sacha. Bilioner itu berkata Sacha kelelahan jika hampir setiap hari berkencan padahal ia kuliah dan bekerja. Cedric mengangguk santun lalu mundur teratur.“Maaf ya, Cha. Aku tadi sudah sampai di mansion, tetapi William tidak mengizinkanku bertemu denganmu,” ucap Cedric yang langsung menelepon tunangannya.“Iya. Keyna sudah memberitahuku,” balas Sacha.“Keyna bilang apa?”“Katanya aku harus sabar. William sedang menguji kita.”Hembusan napas panjang terdengar dari hidung Cedric. Sebenarnya ia sangat ingin menikahi Sacha secepatnya. Namun, mengingat William dengan keras kepala mengajukan syarat, ia mau tak mau menurut.Satu tahun. Waktu yang cukup lama bagi Cedric menunggu Sacha menyelesaikan kuliahnya. Namun begitu, ia sadar Sach
Cedric merawat Louis secara intensif. Apalagi setelah beberapa jam pemuda itu lalu muntah-muntah. Hingga Lluis merasa kehabisan tenaga."Apa tidak ada obat anti muntah?" keluh Louis pada Cedric."Sebaiknya memang kamu muntah, Lou. Agar racun dalam tubuhmu ikut keluar. Hanya hari ini saja kok. Besok sudah tidak muntah lagi," ucap Cedric."Jadi besok aku belum boleh pulang?" sungut Louis."Masih harus diinfus. Kamu kehilangan banyak cairan karena muntah.""Tapi aku kasihan pada Princess. Apalagi ia belum diperbolehkan menjenguk ke rumah sakit, aku jadi rindu padanya." Mata Louis kini berkaca-kaca."Kalau begitu, kita lihat besok, ya. Yang penting kamu harus tetap makan dan minum yang disediakan rumah sakit."Louis hanya mengangguk. Sacha yang sejak tadi mendengar langsung menelepon Keyna. Ibu sambung mereka itu mengatakan bahwa Princess sedang tidur.Namun begitu, Louis ingin tetap melihat adiknya. Akhirnya Keyna meletakkan layar kamera di sebelah putrinya sehingga pemuda itu bisa melih
Sacha menggeleng keras. "Tidak, Dad. Cedric tidak pernah memperlakukanku secara berlebihan. Bahkan saat kami pergi bersama, ia memasang alarm pulang jam sepuluh malam."Sekali lagi, William mengangguk. Sebenarnya ia pun mendapat informasi yang sama dari pengawal Sacha. Sang bilioner hanya ingin mendengar langsung dari sang putri."Bagus. Walaupun kalian sudah bertunangan, Daddy harap kalian tetap bisa menjaga diri terutama kamu. Jaga kehormatan seorang wanita," ucap William."Iya, Dad," janji Sacha.Saat mereka kembali ke ruang perawaran Louis, Frederix sedang bekerja di sofa. William menggeleng samar. Putra sulungnya itu benar-benar persis dirinya. Pekerja keras."Daddy, aku harus kembali ke mansion. Mau bersiap untuk makan malam dengan klien," ujar Frederix saat melihat William masuk."Ok, Daddy ikut kamu.""Cha yang menunggui Louis, ya.""Bilang saja Kak Cha mau pacaran sama Cedric di sini," sindir Louis.Sontak saja Sacha membulatkan matanya kepada Louis. Pemuda itu malah terkekeh
Malam harinya, tanpa membuang waktu, William dan keluarganya bertolak ke bandara untuk pulang. Tidak ada alasan lagi bagi William untuk menetap di Pulau Chantal setelah mengetahui sang putra baik-baik saja. Mereka pun pergi tanpa berpamitan pada sang pemilik pulau. William sudah bertekad menutup semua akses komunikasi dengan Chantal maupun semua wanita. Mengingat pernyataan keras Keyna, William merinding. Sejak itu, matanya tak pernah lepas dari sang istri. Hatinya sangat tidak tenang jika mereka berjauhan. "Cha, Keyna kenapa akhir-akhir pendiam, ya?" tanya William. "Apa Keyna masih marah, ya sama Daddy?" Sacha sedang duduk di depan meja kerja sang Daddy. Menatap berkas perusahaannya yang akan bergabung dengan perusahaan Will Universe. Kini matanya mengamati wajah William yang termenung. "Daddy masih berurusan dengan ibu-ibu komite sekolah Princess? Atau masih berhubungan dengan Chantal?" "Tidak sama sekali, Cha." Akhirnya mereka berkesimpulan, Keyna memang sedang lelah saja. M
Untuk mengalihkan rasa kesal, Keyna berjalan-jalan sendirian di tepi laut. Pulau ini memang cantik dan eksotik. Gabungan antara penduduk pribumi dan modern masih sangat kentara. Namun begitu, pelayan di sekitar resort terlihat telah lebih mengenal peradaban. “Cantik, ya?” Kepala Keyna menoleh ke samping. Chantal berdiri dengan wajah menatap laut. Wanita itu menarik napas dalam-dalam menghirup udara laut dan mengembuskannya perlahan. “Mau menemaniku berkeliling?” Itu bukan sebuah ajakan, nada suara Chantal jelas menuntut Keyna untuk ikut. Tangan kanan wanita pulau itu terentang ke sisi kanan untuk memberi kode agar berjalan. Keduanya berjalan menyisiri pinggir laut. Angin hampir saja menerbangkan topi lebar yang dikenakan Keyna jika ia tidak memeganginya. Sementara Chantal dengan santai berjalan tanpa alas kaki menembus angin yang mengibarkan pakaian tipis hingga lekuk tubuhnya tampak jelas terlihat. “Aku sudah berhasil membawa peradaban modern ke pulau ini. Namun begitu, sebagai
“Baby, jangan cemberut terus. Tolong, maafkan aku,” mohon William saat mereka telah dalam pesawat.Keyna tidak menjawab. Ia sibuk menatap laptopnya dan memberikan layanan kesehatan melalui online. Bahkan saat William kembali berkata, Keyna langsung mengenakan headset hingga suara suaminya sama sekali tidak terdengar lagi.William mengembuskan napas berat. Ia tau dirinya salah. Tetapi, bukankah alasannya cukup masuk akal? Apa ini karena Keyna cemburu?Pusing memikirkan sikap istrinya, William bangkit dari duduknya. Lelaki itu mengecup puncak kepala Keyna sebelum berjalan menjauh. Ia mendatangi Princess yang sedang bermain dengan Sacha.“Kenapa Daddy meninggalkan Keyna?” tanya Sacha.“Keyna sedang konsultasi online.”“Pasti Keyna marah pada Daddy.”“Iya, sepertinya begitu.”“Kenapa Mommy marah pada Daddy?” tanya Princess.Keduanya lalu tersadar bahwa P
“Akh … kalian sudah saling kenal?” Chantal menatap Louis dan Lily bergantian.“Mmm … kami teman masa kecil, Nyonya Chantal,” balas Lily menyeringai.“Oh ya? Menarik, sangat menarik.” Mata Chantal berbinar mendengar jawaban Lily.Sementara itu, Louis masih terpana dengan pemandangan di depannya. Chantal sampai menggeleng kemudian terkekeh. Wanita itu kemudian pamit.“Baiklah. Aku tinggalkan kalian berdua untuk bernostalgia.”“Terima kasih, Nyonya Chantal," balas Lily dengan santun.Sebelum Chantal berlalu, ia menyempatkan diri mengedipkan sebelah matanya pada Louis. Wanita itu juga mengusap dada Louis dan berbisik pelan di telinga lelaki muda itu.“Mungkin ini jawaban dari rasa penasaranmu.”Louis tersentak sedikit. Kepalanya menoleh menatap kepergian Chantal. Lalu, tersadar saat Lily kembali menyapanya.“Kamu baik-baik saja?”“Entahlah. Bertemu lagi denganmu … cukup mengejutkan,” aku Louis.Kepala wanita cantik bergaun putih itu meneleng ke kanan. Bibirnya rapat namun menyunggingkan s
Pertemuan dengan Chantal, sama sekali tidak mencerahkan Louis. Wanita itu malah melenggang santai meninggalkan Louis yang masih tidak mengerti. Chantal hanya berpesan untuk menghubunginya kapan saja ia butuh.Louis menatap bayangan Chantal. Ia bisa bebas memandangi tubuh Chantal dari tampak belakang. Setelah wanita pulau itu menghilang, Louis segera keluar dari restoran.“Permisi, hari ini aku ada jadwal menyelam. Apa perlengkapan untukku sudah siap?” tanya Louis pada pegawai resort.Lelaki pribumi yang diajak bicara itu bertelanjang dada, mengenakan sarung yang panjangnya hanya sampai lutut serta pengikat kepala khas pulau. Ia tersenyum ramah dan mengangguk pada Louis.“Silahkan, Tuan Louis,” jawab si lelaki sambil mengarahkan jalan.“Apa perjalanan kita jauh?”“Tidak, Tuan. Kita akan naik kapal ke tengah laut, setelah itu Anda baru bisa turun dan menyelam.”“Ada pengawas atau pelatih yang akan menemaniku?”“Saya sendiri yang akan menemani Tuan.”Louis mengangguk. Mereka berkenalan.
“Tersesat?”Louis berhenti berjalan. Tidak ada siapa-siapa di dekatnya. Suara seksi dari arah belakang itu pasti memang menyapanya.Pemuda tampan itu membalik tubuh. Menahan napas sejenak begitu melihat sosok yang berdiri dengan senyum menggoda. Mata hitamnya mengerjap pelan.“Ehm.” Louis menjernihkan tenggorokannya. “Tersesat? Tidak. Aku memang mau berkeliling.”“Oh. Ini saatnya makan siang. Kamu tidak ke restoran?”“Setelah ini aku ke restoran.”“Dari arah sini kamu tidak akan menemukan apa pun selain lorong yang ujungnya buntu. Bagaimana kalau kita ke restoran saja. Aku tau jalan tercepat ke sana.”Louis terpana. Bukan karena suara seksi itu. Wanita ini terlihat manis dengan kulit kecoklatan yang mengkilat. Sekilas ia mengamati. tubuhnya berisi dengan tonjolan dan lekukan yang proporsional.Masalahnya, wanita di depannya ini memakai gaun panjang tembus pandang. Ia hanya mengenakan celana dalam. Bagian dada wanita itu tercetak jelas melalui bahan tipis bermotif bunga dan tertutup s
“William,” panggil Keyna.Cepat, William menoleh. Tersenyum manis pada Keyna dan merengkuh bahunya.“Ya, Baby? Sudah selesai melihat-lihat kelas Princess-nya?”“Sudah. Princess sudah mau masuk sekolah,” ucap Keyna.Seorang wanita tersenyum dan menyapa Keyna. “Oh, ini Mommynya Princess, ya?”“Akh, ya. Kenalkan, ladies. Ini istriku, Keyna.” William kemudian menatap istrinya. “Baby, kenalkan ini ibu-ibu komite yang luar biasa kontribusinya pada sekolah.”Sambil memaksakan senyum, Keyna menyalami para ibu yang sejak tadi mengerubungi sang suami. Lalu ia memberi kode pada suaminya untuk pergi dan mengantar Princess kembali ke kelas.“Kami permisi dulu ke kelas Princess,” ucap Keyna dengan nada yang dibuat seramah mungkin, padahal hatinya sangat kesal.“Oke. Setelah mengantar Princess, ke sini lagi, ya. Kita ngobrol-ngobrol dulu. Jarang-jarang kan Mommy Keyna muncul di sekolah.”Ucapan salah satu wanita itu seolah menyindir Keyna. Dengan menggenggam tangan William, Keyna menatap satu per-sa
Setengah jam William berbincang dengan Chantal. Lelaki itu menutup teleponnya sambil tersenyum dan menggeleng samar. Ia kembali ke kamar, naik ke ranjang dan tidur.Pagi harinya, Keyna bangun lebih dulu. Ia mencium suaminya dan bergegas ke kamar Princess. Putri cantik itu sudah bangun, namun masih mengobrol di ranjang bersama Ferina.“Selamat pagi,” sapa Keyna.“Mommyy …. “Princess merentangkan tangannya meminta Keyna memeluknya.Ferina tersenyum menatap keduanya. “Aku ke kamar tamu dulu, ya. Mau mandi dan bersiap-siap ke rumah sakit.”“Oke, Auntie Ferina.”Ferina mencium pipi Princess sebelum keluar. Keyna menggenggam sekilas tangan sahabatnya. Pintu menutup dan langkah Ferina yang menjauh tak terdengar lagi.“Apa Princess Mommy tidur nyenyak hari ini?”“Iya. Tapi Princess bangun sebentar karena Auntie menangis.”“Auntie Ferina menangis?”“Iya, karena aku pakai selimut dari Uncle Hanson.”Keyna mengamati sekitar ranjang. Selimut dari Hanson tidak ada di sana. Ia lalu kembali menatap
“Bagaimana Ferina hari ini, Baby?” tanya William pada istrinya.Mereka sedang berbaring di ranjang. Berbincang tentang aktifitas padat yang William dan Keyna lakukan hari ini. Keyna meletakkan kepalanya pada dada William.“Matanya tidak bisa berbohong. Aku tau, ia masih sangat berduka. Walaupun ia bisa tersenyum pada semua orang yang memeluknya dan mengucapkan bela sungkawa,” jawab Keyna.“Aku lihat Ferina sangat berusaha untuk tegar. Ia melakukannya demi janin di rahimnya.”“Betul. Ferina bilang padaku, yang menguatkannya saat ini adalah adanya benih Hanson pada tubuhnya.”William mengembuskan napas berat. Tangannya mengelus rambut panjang sang istri. Sesekali ia mengecup rambut halus itu.“Apa Ferina sekarang masih tidur di kamar Princess?”“Masih.”“Apa putri kita terganggu?”Kepala Keyna mendongak menatap sang suami. “Kenapa terganggu?”“Siapa tau, Princess terbangun karena mendengar isak tangis Ferina di malam hari.”“Princess tidak pernah bercerita tentang hal itu. Aku asumsikan