Keesokan paginya Yara bangun dengan perasaan hampa. Ia enggan keluar kamar, enggan bertemu Zara dan Oliver. Namun, Yara tidak mau mereka menganggap dirinya lemah. Yara pun keluar kamar, turun ke dapur dan mendapati pemandangan yang menyesakkan dada. Di depan kompor itu terlihat Zara sedang sibuk berjibaku dengan peralatan masak. Tangannya tampak cekatan, seakan-akan Zara adalah koki yang handal. âSelamat pagi,â gumam Yara sambil menuangkan air ke gelas kosong dan meneguknya. âOh? Yara!â seru Zara dengan senyuman hangat. âSelamat pagi. Tidurmu nyenyak?â âLumayan.â Yara mengedikkan bahu. âNgomong-ngomong, kamu masak?â âIya. Aku sedang masak makanan kesukaan Oliver dan kamu.â Wajah Zara berseri-seri. âSudah lama sekali aku nggak masak di dapur ini. Rasanya aku benar-benar seperti hidup kembali.â Yara terdiam. Melihat wajah Zara yang tampak cerah hari ini membuat pikirannya berkelana ke arah hal yang negatif. Apa yang telah Oliver dan Zara lakukan tadi malam di belakangnya? Tidak m
âTuan, Anda baik-baik saja?â Wanda berbisik pada Oliver yang tampak melamun dan tidak memperhatikan seorang direktur yang tengah melakukan presentasi di ruang rapat itu.Oliver tidak menjawab pertanyaan Wanda. Pria itu hanya menatap kosong pada ponsel yang tergeletak di atas meja, dengan tangan terlipat di dada. Wanda berpikir, Oliver mungkin sedang menunggu pesan dari seseorang, tapi Wanda tidak tahu pesan dari siapa yang Oliver tunggu. Tidak biasanya bosnya itu memainkan ponsel di kala rapat sedang berlangsung.âTuan...,â bisik Wanda lagi, kali ini seraya menepuk lengan Oliver pelan, yang berhasil mengeluarkan Oliver dari lamunannya.âYa, ada apa?â Oliver mengerjap, menatap Wanda bingung.âPresentasi Pak Gibran sudah selesai, apakah ada tanggapan dari Anda?â Wanda mengulas senyum profesional.Oliver mengalihkan tatapannya ke arah audiens. Dan baru ia sadari bahwa semua mata kini tertuju ke arahnya.Oliver mengembuskan napas berat. Sial. Tidak biasanya ia melamun di kala sedang rapat
Oliver menunduk, tangannya terkepal di atas lututnya. âAku nggak ingin menyakiti siapa pun. Tapi semuanya jadi begitu rumit.âDavin dengan nada tegas kembali berkata, âKamu nggak bisa lari dari tanggung jawab. Jika Zara ingin mempertahankan statusnya sebagai istri sahmu, kamu harus membuat keputusan. Jika tidak, itu hanya akan menghancurkan semua orang yang terlibat, termasuk dirimu sendiri.âHaris kemudian menambahkan, âSaya sarankan untuk segera berkonsultasi dengan Zara dan Yara secara terpisah. Jika Zara berniat untuk tetap bersama Anda, maka kita perlu mempertimbangkan langkah-langkah hukum yang diperlukan untuk menangani masalah ini.âOliver berdiri tiba-tiba, membuat semua orang di ruangan itu terdiam. âBerikan aku waktu. Aku perlu berpikir,â ucapnya tegas. âSemua ini terlalu berat bagiku.âJingga bangkit dari sofa, menyentuh lengan Oliver dengan lembut. âWaktu nggak akan mengubah apa pun, Nak. Pada akhirnya, kamu harus membuat pilihan. Jangan sampai pilihan itu dibuat oleh ora
[âYara, beri aku waktu untuk bicara berdua denganmu. Aku mohon jangan mendiamkan aku.â][âBisakah kita bicara setelah aku pulang nanti?â]Yara menatap dua pesan terakhir dari Oliver dengan ekspresi datar. Pesan itu dikirimkan kemarin siang, tapi sampai saat ini Yara tak ingin membalasnya.Menghela napas panjang, Yara memutuskan untuk menonaktifkan mode pesawat yang menyala sejak kemarin sore.Dan tak disangka-sangka, banyak panggilan masuk yang tak terjawab dan beberapa pesan dari Oliver yang baru saja masuk saat ponselnya terhubung ke data seluler. Namun, Yara tak berani membuka pesan-pesan tersebut. Ia memilih mengabaikannya.Ibu jari Yara bergerak mencari nama Zara dalam daftar kontaknya. Setelah menimbang beberapa saat, ia lantas mengetik pesan pada adik kembarnya tersebut.[âZara, aku ingin ketemu kamu hari ini. Ada yang ingin aku bicarakan. Bisa?â]Beberapa menit kemudian Zara membalas pesannya.[âBoleh. Kalau sekarang gimana? Kebetulan aku lagi di luar. Mau ketemu di mana?â] ba
Suasana di antara mereka seketika menjadi tegang. Yara menatap Zara dengan mata yang berkaca-kaca, tak percaya dengan pengakuan itu. Kata-kata Zara menusuk hatinya lebih dalam daripada yang ia bayangkan. "Zara, aku nggak pernah merasa aku lebih baik dari kamu," kata Yara dengan suara lirih. "Kamu adalah adikku, dan aku selalu menganggap kita sama istimewanya." "Tapi kenyataannya nggak begitu," jawab Zara dengan nada penuh emosi. "Kamu selalu menjadi yang pertama. Orang-orang selalu membicarakan Yara yang ceria, Yara yang pintar, Yara yang hebat. Sedangkan aku? Aku cuma bayangan kamu. Bahkan Oliverâorang yang kamu sukaiâmungkin nggak akan pernah melihatku jika aku nggak berpura-pura jadi kamu." Yara tersentak mendengar pengakuan Zara tersebut. "Jadi, kamu benar-benar mengaku sebagai aku demi mendekati Oliver?" Zara mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku nggak tahu apa yang merasukiku saat itu. Aku hanya ingin tahu rasanya menjadi kamu, Yara. Dan aku tahu itu salah, tapi
Sudah satu minggu Yara keluar dari rumah Oliver. dan selama itu pula Yara menolak bertemu dengan pria itu. Meskipun begitu, Oliver seakan tidak bosan datang setiap hari ke rumah Rianti dan terus menerus menghubungi Yara. Namun tidak sekalipun Yara membalas pesan ataupun mengangkat panggilannya. âSampai kapan kamu akan mendiamkan Oliver terus, Nak? Masalah yang dibiarkan berlarut-larut juga nggak baik. Mama mohon, temui Oliver sekali saja dan beri dia kejelasan. Apakah kamu ingin melanjutkan hubungan dengan Oliver atau melepaskannya?â Kata-kata Rianti tadi malam kembali terngiang di kepala Yara, membuat Yara akhirnya bangkit dari tidurnya dan meraih ponselnya yang menelungkup di bawah bantal. Setelah melamun cukup lama, Yara akhirnya membuka chat room-nya dengan Oliver. Melihat foto profil pria itu, rasa rindu yang beberapa hari terakhir memenuhi relung hati Yara kembali mencuat.Ia rindu mendengar suara pria
[âAku akan menunggumu.â] Yara mengirim pesan tersebut kepada Oliver.Lima menit kemudian, centang dua pada pesannya itu berubah menjadi centang biru.Yara datang ke Kana Restaurant 10 menit lebih awal. Ia tampil sederhana dengan gaun berwarna merah muda. Matanya menatap kosong pada segelas air putih di hadapannya.Bagaimana jika ia mendapatkan kemungkinan terburuk? Apa yang akan ia lakukan jika Oliver tidak datang? Bagaimana jika yang Oliver pilih adalah Zara?Menghela napas panjang, Yara meraih gelas tersebut dan meneguk air putihnya untuk melegakan tenggorokan yang terasa kering.Bunyi lonceng terdengar saat pintu terbuka. Cepat-cepat Yara menoleh ke arah pintu. Lalu menghela napas kecewa ketika yang datang ternyata pengunjung lain.Pukul 17:00, Yara merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Seorang waiter datang membawa makanan pembuka dan menghidangkannya di meja.Pada saat yang sama, pintu restoran kembali terbuka dan muncul sosok pria berbadan tegap yang mengenakan jas
Beberapa jam sebelumnya.Oliver berguling ke kiri dan kanan, seakan-akan tidak menemukan kenyamanan dalam tidurnya. Sudah pukul dua dini hari, tapi kantuk tak kunjung menyerang.Merasa tak tahan lagi, Oliver akhirnya bangkit dan menyalakan lampu utama. Ia meraih ponsel dari nakas, lalu mengecek kembali pesan dari Yara siang tadi.[âJika kamu memilihku, temui aku di Kana Restaurant, besok jam lima sore. Jangan datang jika kamu sudah memutuskan untuk memilih Zara.â]Sampai saat ini Oliver tidak membalas pesan tersebut. Bukan tanpa alasan. Hanya saja Oliver butuh waktu untuk berpikir. Oliver tidak ingin menyakiti siapapun, maka dari itu ia perlu berhati-hati.Oliver merasa ia membutuhkan Zara yang telah menyelamatkannya di masa lalu. Namun di sisi lain, perginya Yara ke rumah Rianti telah menimbulkan rasa kehilangan yang begitu dalam. Membuat Oliver semakin bimbang.Kini, Oliver masuk ke kamar Yara, harum aroma manis dari parfum wanita itu mengingatkan Oliver akan senyuman Yara yang ceri
âSiapa yang kirim bunga untuk Airell?!â seru Oliver dengan galak saat ia mendengar Lisa berbicara dengan kurir yang mengantarkan seikat bunga mawar merah dan menyebut-nyebut nama Airell.Oliver kemudian merebut seikat bunga itu dari tangan Lisa dan membaca pesan yang tertulis dalam secarik kertas.âBunga ini memang cantik, tapi kalah cantik sama kamu, Airell. âBenâââBen? Siapa Ben?â geram Oliver. Berani-beraninya bocah ingusan bernama Ben itu menggombali Airell!âKenapa, Sayang?â tanya Yara yang baru saja menghampiri suaminya dengan kening berkerut.Oliver menunjukkan bunga itu. âLihat, Sayang. Ada yang kirim bunga buat Airell. Namanya Ben. Astaga, anak jaman sekarang, pipis aja belum lurus tapi sudah berani menggombali anak orang!ââHush!â Yara memukul pelan lengan Oliver. âAirell sudah remaja, lho. Kamu lupa?âJustru karena sudah remaja, Oliver jadi semakin protektif pada Airell, begitu pula pada Avery yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.Oliver hendak membuang bunga itu ke te
âSayang, kita mau nambah anak lagi nggak?ââNggak!â jawab Yara galak. âTiga aja cukup.âOliver terkekeh di seberang sana. âKali aja mau. Aku siap, kok. Kalau aku pulang nanti aku siap nambah anak lagi.ââIdih! Itu sih maunya kamu.â Yara memutar bola matanya malas, lalu ikut tertawa saat Oliver tertawa di ujung telepon.âKamu nggak tanya kapan aku pulang, gitu? Atau maksa aku pulang?â Suara Oliver terdengar menggoda.âMemangnya kenapa? Kan sudah jelas kamu akan pulang tiga hari lagi.âYara bangkit dari kursi kerja suaminya. Walaupun sebenarnya ia rindu pada Oliver setelah LDR hampir satu minggu. Namun Yara terlalu gengsi untuk mengakui dan memaksa Oliver pulang. Ia bahkan sering duduk di kursi kerja Oliver demi mengobati rasa rindunya pada pria itu.âPaksa aku pulang, kek. Aku kangen kamu dan anak-anak. Tapi pekerjaan di sini belum selesai.â Oliver terdengar menghela napas panjang. Saat ini ia sedang berada di luar kota untuk perjalanan kantor.Belum sempat Yara menanggapi ucapan suami
Oliver duduk dengan punggung tegak di atas sunbed, netra hitam di balik kacamata hitamnya memperhatikan Yara yang sedang mengajari Avery berjalan tanpa alas kaki di atas pasir pantai. Deburan ombak sesekali terdengar dari kejauhan, diiringi bunyi sekawanan burung camar yang sesekali melintas di udara. âSial! Apa yang laki-laki itu lakukan?â desis Oliver pada dirinya sendiri saat melihat seorang lelaki tak dikenal menghampiri Yara dan mengajaknya mengobrol. Tidak bisa dibiarkan. Detik itu juga Oliver berdiri, dan sempat bicara pada si kembar Arthur dan Airell yang tengah bermain pasir di sebelahnya, âArthur, Airell, tunggu di sini sebentar.â Oliver bergegas menghampiri Yara setelah mendapat anggukkan dari kedua anaknya. âMaaf, ada kepentingan apa Anda dengan istri saya?â tanya Oliver pada lelaki itu tanpa basa-basi sambil menekankan kata âistri sayaâ. Lelaki yang hanya mengenakan celana selutut itu tersenyum canggung dan tampak terintimidasi oleh tatapan tajam Oliver. âOh, t
âKak Zio!ââYeay! Kak Zio datang! Aku kangen Kak Zio!âArthur dan Airell berlari menghampiri Zio. Zio berjongkok, merentangkan kedua tangan dan memeluk si kembar secara bersamaan.âAku juga kangen kalian,â ucap Zio sambil tertawa bahagia.Arthur yang pertama kali melepaskan diri dari pelukan itu. âKak Zio, ayo lihat adik aku. Avery cantik, lho!âMendengar ucapan Arthur, Airell pun cemberut. âMemangnya aku tidak cantik?ââCantik, sih. Tapi sedikit.â Arthur tertawa jahil.âArthur...!â rengek Airell dengan bibir yang semakin memberengut.Zio tersenyum dan menggenggam tangan Airell. âKamu cantik, Airell. Nggak ada yang ngalahin cantiknya kamu.âMata Airell seketika berbinar-binar. âSungguh?ââHm! Aku serius.â Zio mengangguk. âKalau begitu ayo kita lihat Avery. Di mana dia sekarang?âAirell tersenyum ceria, ia menarik tangan Zio sambil berkata, âAvery lagi sama Daddy. Ayo!âMelihat interaksi mereka bertiga, Yara pun tersenyum penuh haru. Tak bisa dipungkiri bahwa ia pun merindukan Zio.âZi
âOliver, kamu baik-baik saja?â Marshall menelengkan kepala, menatap wajah sepupunya yang terdapat lingkaran hitam di bawah matanya. âKamu sepertinya kurang tidur.âOliver mengembuskan napas panjang. Ia duduk dengan tegap di sofa, tepat di hadapan Marshall. âMenurutmu aku bisa tidur nyenyak? Setiap malam Avery selalu bangun dan saat siang dia tidur nyenyak.âAvery William adalah nama untuk anak ke tiga Yara dan Oliver. Nama itu Oliver sendiri yang memberikannya.Mendengar keluhan Oliver, Marshall tertawa puas. âGimana dengan Yara?ââAku membiarkan dia tidur kalau malam. Lagian Avery selalu ingin bersamaku. Seolah-olah dia tahu kalau dulu ayahnya nggak menemani kakak-kakak dia waktu masih bayi.â Oliver tersenyum kecil, hatinya berdenyut nyeri kala membayangkan Yara melewati masa-masa mengurus bayi kembar sendirian.âMengurus satu bayi saja sudah repot, apalagi dua,â timpal Marshall, âkamu tahu maksudku?âOliver mengembuskan napas. âAku tahu. Kamu nggak perlu menambah rasa bersalahku kar
Oliver terduduk lemas di kursi yang ada di koridor rumah sakit. Wajahnya pucat pasi. Rambutnya acak-acakan. Dan kedua lengannya tampak merah, dipenuhi bekas gigitan dan cakaran. Oliver melamun. Seakan-akan sibuk dengan dunianya sendiri, hingga Oliver mengabaikan keadaan di sekitarnya.Jingga keluar dari ruangan bersalin. Ia prihatin melihat kondisi Oliver yang tampak terguncang. Lalu menghampirinya.âOliver, kenapa kamu diam di sini? Yara dan bayi kalian menunggu di dalam,â ucap Jingga dengan lembut.Ya, Yara sudah melahirkan beberapa saat yang lalu ditemani Oliver. Setelah bayinya berhasil dilahirkan dengan selamat dan sempurna, Oliver pun keluar dari ruangan itu dan duduk termenung sendirian.âOliver...,â panggil Jingga saat Oliver tidak merespons ucapannya.Oliver tetap bergeming. Melamun dengan tangan gemetar.Jingga menghela napas panjang. Ia duduk di samping putranya, lalu menggenggam tangannya yang terasa dingin.Saat itulah Oliver keluar dari lamunannya dan menatap Jingga deng
âOliver, perutku sakit banget.âBisikan Yara tersebut berhasil menghentikan Oliver yang sedang berbincang-bincang dengan kliennya. Oliver langsung menoleh pada Yara dan melihat wanita itu tengah mengerutkan kening seperti menahan rasa sakit.âSayang, perut kamu sakit?âYara mengangguk. âSakit banget,â katanya sembari mencengkeram lengan Oliver kuat-kuat.Raut muka Oliver seketika berubah menegang. Tangannya menangkup pipi Yara dan berkata dengan tegas, âKita ke rumah sakit sekarang!âTanpa basa-basi, Oliver segera mengangkat Yara ke pangkuan. Sikapnya itu mengundang perhatian dari orang-orang di sekitar mereka. Namun Oliver tampak tidak peduli. Saat itu juga ia membawa Yara keluar dari ballroom dengan ekspresi panik yang gagal ia sembunyikan.âOliver, jangan terlalu khawatir. Sekarang sakitnya sudah hilang lagi, kok,â kata Yara, berusaha menenangkan Oliver yang kini tengah mengemudi dengan tatapan kalut.âSayang, mana bisa aku nggak khawatir,â sergah Oliver sembari mengusap wajah deng
âOliver, sudah kubilang, aku bisa melakukannya sendiri. Astaga....ââTidak! Selama aku bisa melakukannya untukmu, akan kulakukan!â tegas Oliver, sebelum akhirnya pria itu memangku Yara ke kamar mandi.Yara memutar bola matanya malas, tapi ia tidak menolak lagi. Karena sekali lagi Yara menegaskan, Oliver adalah pria yang tidak menerima penolakan.Sejak awal kehamilan, Oliver selalu memberi perhatian lebih dan memanjakan Yara. Apalagi saat kehamilan Yara sudah membesar seperti sekarang, Oliver bahkan tidak mengizinkan Yara melakukan aktifitas yang sedikit berat. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. memenuhi segala kebutuhan Yara dan melayaninya dengan sepenuh hati.Oliver sering berkata pada Yara bahwa ia ingin menebus kesalahannya di masa lalu yang tidak menemani Yara sewaktu kehamilan si kembar.âJangan lihat aku. Aku malu,â protes Yara saat Oliver sudah melepaskan seluruh kain yang membungkus tubuhnya.Oliver tersenyum kecil. âApa yang membuat kamu malu, Sayang?â tanya
âDaddy! Mommy! Ada tamu!ââShit!â Oliver mengumpat sambil memejamkan matanya sejenak kala mendengar seruan Airell di luar sana.Namun, hal itu tidak menyurutkan gairah Oliver. Ia berusaha menggerakkan dirinya dengan selembut mungkin agar tidak menyakiti istrinya yang kini berada di hadapannya. Posisi wanita itu memunggunginya.âOliver...,â desah Yara sambil mencengkeram sprai erat-erat. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan desah agar tidak keluar lebih keras lagi. âAirel bilang... ada tamu.â Yara berkata dengan napas terengah-engah. âItu pasti Zara, dia sudah... datang.ââSsstt!â Oliver menarik dagu Yara agar menoleh ke arahnya. Lantas dilumatnya bibir sang istri dengan rakus tanpa menghentikan gerakannya. âJangan hiraukan, Sayang. Fokus saja padaku,â bisik Oliver sesaat setelah ia menjauhkan bibir mereka berdua.âDaddy! Mommy! Ada Aunty Zara!â seru Airell lagi, kali ini diiringi ketukan pintu.