Home / Romansa / Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO / Bab 5. Sepasang suami istri

Share

Bab 5. Sepasang suami istri

Author: Miarosa
last update Last Updated: 2023-06-05 23:04:28

Lelah tetapi juga bahagia. Itulah yang dirasakan Pelangi saat ini. Setelah mengunjungi sang Ayah dan memastikan keadaan laki-laki itu baik-baik saja, Pelangi melangkahkan kaki keluar rumah sakit.

Setelah keluar dari halaman rumah sakit, Pelangi memberhentikan angkutan umum. Pelangi langsung bergerak menuju rumah seseorang. Orang itu selalu meminta dirinya untuk menemani berbicara dan tentu saja Pelangi tidak menolak. Dia juga merasa nyaman saat berbicara dengan orang itu.

Setelah sampai dan membayar ongkos angkutan umum, Pelangi langsung disambut baik oleh wanita yang tengah berkutat dengan tanaman hias. Senyuman itu yang Pelangi rindukan setelah kepergiaan sang Ibu. Orang itu seakan memberikan sosok ibu yang masih diperlukan oleh Pelangi.

"Pelangi,” sambutnya dengan senyum gembira. Padahal, dia tadi mengira Pelangi tidak akan datang karena ini sudah telat dua puluh menit dari kebiasaan mereka.

Pelangi dengan sedikit canggung membalas pelukan Kayla. Keduanya lantas duduk di kursi yang memang disediakan untuk menjamu tamu jika tidak ingin di dalam.

“Maaf, Nyonya. Saya sedikit terlambat karena menjenguk ayah,” jelas Pelangi merasa tidak enak karena membuat Nyonya Kayla menunggu lama.

Tujuannya hari ini tidak lain untuk memenuhi permintaan Nyonya Kayla. Pelangi tidak sampai hati menolak permintaan Nyonya Kayla yang ingin ditemani bicara, meski dirinya ingin sekali istirahat.

"Bagaimana keadaan Ayah kamu, Sayang?" tanya Kayla memulai pembicaraan.

Senyum Pelangi mengembang saat merasakan usapan lembut dari Nyonya Kayla. Dia selalu menyukai momen sederhana seperti saat ini. Andai saja sang Ibu masih ada mungkin ia akan sangat senang.

"Jauh lebih baik."

Nyonya Kayla menghela napas pelan. Kayla bersyukur Ayah wanita di depannya ini sudah jauh lebih baik. Setidaknya, dia tidak akan melihat wajah khawatir dan sedih dari Pelangi. 

"Syukurlah kalau begitu. Saya turut senang mendengar kabar ini. Semoga Ayah kamu semakin membaik."

“Amin. Terima kasih, Nyonya."

Pembicaraan itu berlangsung cukup lama. Kayla benar-benar terlihat memanfaatkan waktu untuk berbincang dengan Pelangi. Berbincang dengan Pelangi seperti berbincang dengan anak sendiri. Tutur kata Pelangi begitu halus, itulah yang membuat Kayla merasa begitu nyaman. 

Setelah menghabiskan waktu cukup lama menemani Kayla, Pelangi pamit. Dia tidak bisa terlalu lama tinggal di sini karena masih ada satu pekerjaan yang harus ia selesaikan.

Sesampainya di rumah, Pelangi langsung membuat bunga, kemudian dia akan merangkainya dengan berbagai jenis dan warna. Merangkai bunga menjadi indah adalah pekerjaan yang sangat Pelangi sukai. Satu tangkai demi satu tangkai, Pelangi rangkai dengan telaten. Setelah rangkaian bunga ini selesai, Pelangi akan menjualnya di pinggir jalan. Walau hanya bunga kertas, tetapi bisa dijadikan alternatif menghias rumah dengan harga terjangkau.

“Semangat, Pelangi!” 

Pelangi kembali menyemangati diri. Dia boleh patah semangat meski rasa lelah mendera. Masih ada sang Ayah dan adik yang membutuhkan biaya. Apalagi pengobatan sang Ayah tidak bisa dikatakan murah.

Mata Pelangi menatap rangkaian bunga hias yang sudah selesai. Hari ini dia berhasil membuat sepuluh rangkaian bunga kertas yang begitu bagus, terhitung lebih sedikit. Biasanya, Pelangi bisa membuat dua puluh rangkaian bunga yang berbeda. Waktunya sedikit terpotong untuk melihat Akarsana.

*** 

Sepasang suami istri terlihat sudah siap dengan pakaian rapi. Rencananya mereka akan malam di luar, hitung-hitung meluangkan waktu setelah sibuk bekerja. Meski sudah lanjut usia tidak ada salahnya untuk kencan.

“Kita mau kemana, Mas?” tanya Ginny yang tidak tahu pasti kemana Ihsan akan membawanya pergi.

“Rahasia. Kamu cukup duduk saja. Kalau aku kasih tahu, namanya bukan kejutan,” jawab Ihsan yang mendapat cibiran dari Ginny.

“Sudah tua juga, tetapi masih main rahasia-rahasiaan,” cibir Ginny yang membuat Ihsan tertawa. “Ingat umur ya, Mas.”

“Anggap saja, kita masih muda, Sayang.”

“Muda itu di bawah tiga puluh, Mas. Kita itu sudah kepala empat. Jadi, mana bisa dikatakan muda.”

Kuda suami istri itu saling melempar candaan. Inilah quality time yang sangat sulit didapatkan. Seandainya Pelangi masih hidup mungkin mereka akan menghabiskan waktu bermain bersama anak dari Josefina.

“Andai anak Josefina masih hidup, mungkin akan sebesar anak itu,” celetuk Ginny saat melihat perempuan yang sedang berkeliling dari mobil satu ke mobil lain.

“Mungkin saja,” jawab Ihsan acuh.

Mata Ginny seolah terkunci pada perempuan dengan topi itu. Entah mengapa seperti ada magnet yang menarik dirinya agar terus fokus pada pergerakan perempuan itu. 

Keceriaan perempuan itu mengingatkan dirinya akan sosok Josefina. Sahabatnya itu begitu aktif nan cerita. Namun terkadang ada kesan malu-malu saat bertemu dengan orang-orang baru. Ginny sangat merindukan Josefina, begitu pula Ardiyanto, ayahnya.

Baru saja berandai-andai jika anak Josefina yang meninggal masih hidup, Ginny dibuat terkejut saat perempuan itu melepas topi dan berdiri di tepi jalan. Wajah itu, wajah itu mengingatkan dirinya akan Josefina yang sudah meninggal setelah melahirkan putri kecilnya

Ginny menolehkan kepala ke belakang, mencoba mencari keberadaan perempuan tadi. Sayang sekali Ginny tidak begitu jelas saat melihat wajah perempuan tadi. Namun, Ginny jelas tidak akan pernah melupakan wajah Josefina.

Semakin melaju mobil yang dikendari Ihsan, semakin Ginnya menoleh ke belakang. Tidak, dia tidak salah lihat. Wajah itu jelas sekali milik Josefina, namun tidak mungkin. Sudah jelas jika putri mendiang sahabatnya itu sudah tidak ada.

Lalu, siapakah perempuan tadi? Mengapa wajahnya begitu mirip dengan Josefina?

“Sayang, kenapa?” tanya Ihsan saat melihat Ginny terus fokus ke belakang.

Ginny menunjuk arah belakang dengan mata menatap Ihsan. “Itu Josefina,” jawab Ginny tidak jelas.

“Jangan mengada-ada, Ginny. Kamu tidak lupa bukan jika Josefina sudah meninggal?” Ihsan kembali fokus pada jalanan. “Tidak ada seseorang yang kembali hidup setelah dinyatakan meninggal. Apalagi kita juga mengikuti rangkaian pemakamannya.”

Ginny kembali menoleh ke belakang, sayang siluet perempuan itu sudah tidak terlihat lagi. “Aku tidak bohong, Mas, tapi beneran Josefina.”

Ihsan menggelengkan kepala seraya tertawa pelan. Jelas saja apa yang dikatakan Ginny tidak masuk akal. Josefina? Tidak mungkin. Wanita itu sudah meninggal dan mereka mengikuti serangkaian pemakaman.

“Sungguhan, Mas. Wajah perempuan tadi sangat mirip dengan Josefina. Aku tidak bohong.”

“Nah, itu. Mirip.” Ihsan menyetujui perkataan Ginny. “Kamu pernah dengar orang di bumi ini memiliki tujuh kembaran? Aku pikir yang kamu lihat hanya sebatas mirip. Banyak contohnya, misalnya Raffi Ahmad dan dan Dimas, mereka mirip, Tapi bukan berarti mereka lahir dari satu rahim.

Penjelasan Ihsan memang sangat masuk akal. Memang Ginny pernah mendengar di dunia ini kita memiliki tujuh kembaran. Bukan, bukan kembaran yang lahir dari satu rahim, melainkan seseorang yang memiliki struktur wajah yang sama, Namun Ginny masih sangat yakin jika perempuan tadi dan Josefina tidak hanya mirip.

“Tapi, Pa–”

“Sudahlah, Sayang. Aku yakin kalau mereka hanya sekadar mirip tidak lebih.”

Ginny memilih menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata. Mungkin benar akta Ihsan. Hanya saja semuanya masih belum bisa diterima secara langsung oleh Ginny. Perdebatan akan siapa perempuan itu tengah Ginny rasakan. Semoga, kata-kata Ihsan lebih benar dari perasaannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 6. Siapakah pendonor itu?

    Pelangi menurunkan tas dari bahunya. Ia dan adik laki-lakinya baru saja tiba di rumah bertepatan dengan adik perempuannya. Adik perempuan Pelangi baru saja kembali dari kampus. Baru saja tiba di rumah, gadis itu membanting tas dan ponselnya ke atas kursi yang ada di ruang tamu. Pelang menjadi sangat heran. Apa yang membuat adiknya menjadi sangat marah dan uring-uringan begini? Sebagai Kakak yang baik, Pelangi menghampiri adik perempuannya. Berusaha mengajak gadis itu bicara dan meminta adiknya agar lebih tenang. Gerakkan kasar Diana membuat perempuan itu mengembuskan napas. Jujur saja Pelangi lelah dan ingin istirahat, tapi melihat Diana uring-uringan seperti itu membuat Pelangi urung untuk istirahat. Ia tidak akan tenang sebelum mengetahui masalah sang Adik. "Kamu kenapa? Ada masalah? Kakak lihat, kamu pulang-pulang malah marah kayak gini. Coba sini cerita sama Kakak," bujuk Pelangi penuh kelembutan. Gadis itu menatap sang Kakak dengan tatapan seolah ingin menerkam. Dientak

    Last Updated : 2023-06-05
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 7. Mabuk

    Kabar tentang Akarsana yang akhirnya mendapatkan donor hati pun disambut gembira oleh Prita yang baru saja datang menjenguk putranya. Wanita itu merasa tidak percaya dengan kata-kata yang disampaikan oleh dokter kepadanya. Dia sampai mengulang pertanyaannya lebih dari dua kali untuk memastikan. Prita seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tentu saja wanita itu sangat senang. Dia mengucapkan syukur karena akhirnya Akarsana mendapatkan donor yang tepat seperti yang dikatakan dokter. Prita memeluk Akarsana, membelai rambut anak lelakinya sambil menangis terharu. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain mengucapkan terima kasih juga kepada dokter yang telah menangani Akarsana. "Sama-sama, Bu." Dokter membalas dengan sopan. Setelah dokter pergi, Prita duduk di samping tempat tidur. "Pasti kamu sangat senang, bukan?" Akarsana mengangguk. "Iya. Akhirnya aku memiliki harapan hidup lagi dan aku sangat bersyukur ada orang baik yang mau menolongku, meskipun aku tidak ta

    Last Updated : 2023-06-16
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 8. Rasa cemas Pelangi

    Kepala Diana berdenyut hebat. Ia merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya. Rasanya seperti remuk, Diana sontak meringis saat menggerakkan kedua kakinya. Hawa dingin seketika menyapa kulit tubuhnya. Diana tanpa sadar menyentuh lengannya, kemudian kebingungan sendiri, karena saat ia tidak mengenakan apa-apa. Tubuh Diana dibungkus selimut tebal. Di sampingnya ada Renjana sedang tertidur pulas. Diana panik, ia memegangi kepalanya mencoba mengingat apa yang telah terjadi semalam. Diana menggigit ujung jarinya. Ia memukul kepalanya sendiri dengan gemas karena tidak kunjung mengingat apa pun. "Apa yang terjadi? Aku dan Renjana ....," gumam Diana menggigit bibir bawahnya. Renjana sama sekali tidak bergerak di atas tempat tidur. Diana hanya mendengar dengkuran halus dari lelaki tampan itu. Diana memungut bajunya di lantai, lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sembari menunggu Renjana bangun, Diana akan mandi lebih dulu. Baru setelah itu meminta pertanggungjawaban lelak

    Last Updated : 2023-06-17
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 9. Perempuan beda generasi

    Pelangi menekan bel sekali. Ia menunggu dengan tenang di pintu sembari menunggu pemilik rumah membukakannya. Tidak menunggu terlalu lama, Pelangi mendengar suara kunci yang dibuka dari dalam. Pelangi menggerakkan kedua kakinya berjalan mundur ke belakang bersamaan dengan pintu dibuka. Pelangi dan si pemilik rumah sama-sama tersenyum ketika keduanya saling menatap. Pelangi mengangguk kecil menyapa Kayla. Wanita itu mengajak Pelangi masuk ke dalam rumahnya untuk mengobrol. "Kita ngobrol di taman belakang yuk, Pelangi," ajak Kayla berjalan di depan. "Oh, ya. Kamu mau minum apa? Bagaimana perjalanannya tadi? Kamu naik apa?" tanya Kayla panjang lebar. "Lumayan macet, Bu. Tadi saya kemari naik angkutan umum." Pelangi menjawab sambil tersenyum. "Saya minum air putih saja sudah cukup, kok." Kayla melangkah ke arah dapur. "Lho, jangan air putih saja dong! Di sini ada banyak minuman yang lebih enak. Saya buatkan jus buah saja, ya?" "Apa tidak merepotkan, Bu?" tanya Pelangi. "Sama

    Last Updated : 2023-06-18
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 10. Perasaan yang berbunga-bunga

    "Iya, Om Ardi. Wanita itu mirip Josefina, tapi aku belum bertemu langsung dengannya." "Jika kamu sudah kembali bertemu dengannya segera hubungiku." "Baik." Ginny memutuskan sambungan teleponnya. Ardiyanto sangat penasaran seberapa mirip perempuan itu dengan Josefina, karena Ginny menceritakannya dengan penuh keyakinan. Marien melihat suaminya keluar dari kamar dengan ekspresi wajah yang bingung. Marien menyapa Ardiyanto mengajak lelaki itu untuk minum teh bersama di ruang keluarga. Ardiyanto mengiyakan, mengikuti langkah Marien yang ada di depan. Pasangan suami dan istri tersebut telah duduk di sofa panjang, bersebelahan. Marien menyodorkan secangkir teh kepada suaminya, tapi Ardiyanto kelihatan seperti orang linglung. "Pa?" Marien menegur Ardiyanto. Lamunan Ardiyanto pun buyar. Ia menerima cangkir yang diberikan Marien kepadanya. "Terima kasih." Ardiyanto menyesap tehnya dengan hati-hati. "Tidak mungkin. Ini aneh," gumamnya. "Apanya yang aneh? Tehnya?" tanya Marien. Ard

    Last Updated : 2023-06-20
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 11. Surat wasiat

    Prita baru saja tiba di rumah sakit keesokan harinya dan menemui dokter terlebih dahulu sebelum menemui Akarsana di ruang perawatannya. Di ruang dokter, Prita mendapat kabar bagus yang disampaikan oleh dokter yang akan menangani Akarsana selama di meja operasi. Dokter telah menentukan jadwal operasi Akarsana. "Dua minggu lagi." Sepasang mata Prita seketika berbinar. Bibir wanita itu yang dipoles merah menyala tampak tertarik, membentuk sebuah senyuman lebar. Ia begitu bahagia, karena sebentar lagi Akarsana akan sembuh setelah melakukan operasi. "Terima kasih." Prita mengucapkan dua kata itu lagi sebelum menghilang di balik pintu ruangan dokter. Prita mempercepat langkah. Wanita itu berjalan riang, perasaannya lebih ringan, kini Prita tidak menahan beban, karena memikirkan kesehatan Akarsana lagi. Tangan kanan Prita menggapai gagang pintu ruang perawatan Akarsana. Ia membukanya dengan cepat, berjalan menghampiri ranjang Akarsana. Putranya sedang berbaring sembari menatap ke

    Last Updated : 2023-06-21
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 12. Adik penjual bunga

    Diana bisa menghela napas lega sekarang. Lelaki yang dia cari selama ini kini tengah duduk di sebelahnya sembari menyetir mobil. "Kalau kamu memang sedang sibuk harusnya bilang sejak awal. Supaya aku tidak berburuk sangka sama kamu." Diana mengatakannya dengan nada merajuk. "Kamu tiba-tiba menghilang tidak ada kabar. Teleponku sama sekali tidak kamu respons. Siapa yang tidak curiga?" desak Diana. Renjana menahan geram dengan tingkah laku Diana. Siapa juga yang mau bertanggung jawab kepada gadis itu. Dia cuma pura-pura saja agar Diana tidak terus mengganggunya. Siapa yang tidak terkejut melihat Diana ada di depan gerbang kampusnya. Diana bahkan memarahinya di depan umum dan membuatnya seketika menjadi panik. Akhirnya Renjana membuat siasat dengan mengiyakan permintaan Diana dan bersedia bertanggung jawab. Daripada nantinya dibuat malu lebih baik Renjana pura-pura saja. "Maaf, Diana. Aku terlalu sibuk sampai tidak pegang ponsel," jawab Renjana. "Biasanya aku akan menyimpan pon

    Last Updated : 2023-06-23
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 13. Jejak

    Marien memberi Winarto sebuah tugas melalui telepon. Lelaki berusia lima puluh tahun itu baru saja tiba di Bandung, tempat temannya tinggal dulu, Danurdara. Iya, Danurdara adalah teman Winarto yang dia titipkan putri dari mendiang Josefina di masa lalu. Kedatangan Winarto ke Bandung jelas bukan tanpa sebab. Dia mencari bayi Josefina. Winarto tiba di sebuah pemukiman dan sudah lama sekali tidak datang kemari. Ada banyak sekali perubahan di sana. Winarto harus mengingat lagi keberadaan rumah Danurdara. Winarto memasuki sebuah gang kecil. Dia mulai ingat dimana letak rumah Danurdara berada. Namun, saat Winarto sampai di tempat yang dia tuju, dia terkejut karena Danurdara ternyata sudah pindah cukup lama. "Pindah?" pekik Winarto terkejut. Seorang tetangga menghampiri Winarto yang kelihatan kebingungan sejak tadi. "Iya, Pak. Sejak rumahnya kebakaran, Pak Danurdara pindah dari sini." Winarto mendesah dan merasa putus asa. "Bapak tahu di mana Pak Danurdara beserta anak-anaknya pin

    Last Updated : 2023-06-26

Latest chapter

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 121. Janji di bawah cahaya bintang. TAMAT.

    Malam itu, suasana rumah masih dipenuhi ketegangan setelah pengakuan Sofia. Pelangi duduk di sofa dengan ekspresi kosong, sementara Akarsana mondar-mandir, pikirannya kacau."Aku masih tidak percaya " gumam Akarsana, suaranya nyaris berbisik.Sofia menunduk, matanya memerah menahan air mata. "Aku juga tidak ingin mempercayainya. Aku menyesal karena tidak melakukan sesuatu sejak dulu, jika aku berani melawan, mungkin Tante Kayla masih hidup."Pelangi menarik napas dalam-dalam. "Kebenaran akhirnya terungkap. Tapi, lalu apa? Apa kita akan membiarkan ini berlalu begitu saja?"Akarsana menatap adiknya dengan mata berkilat. "Tidak, kita tidak bisa membiarkannya. Apa pun yang terjadi, Ibu harus bertanggung jawab."Sofia menggigit bibirnya, lalu menggeleng. "Tapi Akarsana, Ibu kita... dia bahkan sudah tidak waras sekarang. Dia sudah hidup dalam ketakutan selama enam bulan terakhir. Apa yang bisa kita lakukan selain menyerahkannya pada perawatan?"Akarsana mengepalkan tangannya. Ia marah, kece

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 120. Kepingan kenyataan

    Ruangan itu menjadi sunyi. Hanya suara detak jam yang terdengar, seakan menegaskan bahwa ketakutan Prita masih ada, masih mengintai, dan belum benar-benar pergi.Prita masih tersungkur di lantai dengan tubuh gemetar. Air matanya mengalir deras, napasnya tersengal, sementara kedua tangannya mencengkeram kepalanya seolah berusaha menepis suara-suara yang hanya bisa ia dengar."Maafkan aku,Kayla! Maafkan aku!" gumamnya berulang kali, suaranya penuh ketakutan.Akarsana, Sofia, dan Pelangi masih berusaha menenangkannya, tetapi tiba-tiba, suara Prita berubah menjadi jeritan histeris."Aku tidak bermaksud membunuhmu!"Hening.Ketiga orang di ruangan itu membeku, tatapan mereka terpaku pada Prita yang masih terisak. Kata-kata itu menggema di kepala mereka, memenuhi ruangan dengan ketegangan yang mencekam.Akarsana menelan ludah, dadanya berdegup kencang. "Ibu,apa maksudmu?" tanyanya pelan, tetapi suaranya tegas.Prita tidak menjawab. Ia terus meracau, tubuhnya masih bergetar hebat. Seolah kat

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 119. Langkah pertama menuju kedamaian

    Pelangi berdiri di sana, berdampingan dengan seorang pria yang Sofia kenal baik—Akarsana. Namun, perhatiannya langsung terfokus pada Pelangi. Sofia nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pelangi, yang dulu selalu tampak sederhana dan jauh dari kesan feminin, kini berubah. Gaun lembut membalut tubuhnya dengan anggun, rambut panjangnya tergerai dengan rapi, dan ada kehangatan baru dalam sorot matanya. Ia tampak begitu cantik, begitu berbeda. Namun, bukan hanya perubahan penampilan Pelangi yang mengejutkan Sofia. Tangannya yang digenggam erat oleh Akarsana seolah menegaskan sesuatu. Sofia mengangkat pandangannya, melihat ekspresi kakaknya—wajah itu, yang selama ini redup dan penuh beban, kini berseri. Akarsana terlihat seperti dirinya yang dulu, sebelum semua kekacauan terjadi. Sofia menelan ludah, masih belum bisa mencerna semuanya. "K-Kak Pelangi?" suaranya bergetar. Pelangi tersenyum lembut. "Hai, Sofia!"" Sofia mengalihkan tatapannya ke Akarsana, mencari jawaban.

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 118. Tatapan yang saling bertaut

    Diana masih berdiri di tempatnya, dadanya naik-turun seiring napasnya yang tidak beraturan. Tatapan Damar yang begitu dalam tadi masih terbayang di benaknya, mengusik perasaannya yang bahkan belum ia sadari sepenuhnya. Ia menggeleng pelan, mencoba mengabaikan semuanya, lalu menghembuskan napas panjang. Saat itu juga, suara musik dan tawa dari para tamu pesta kembali menyadarkannya akan kenyataan. Malam ini adalah malam pertunangan Pelangi dan Akarsana. Diana melangkah masuk ke dalam ruangan, tepat saat Ardiyanto menaiki podium kecil di tengah aula, mengambil mikrofon dan mengetuknya pelan. Semua tamu segera menghentikan obrolan mereka dan mengalihkan perhatian ke pria tua itu. "Ladies and gentlemen," Ardiyanto memulai dengan suara penuh wibawa. "Terima kasih telah menghadiri acara malam ini. Malam ini adalah malam yang istimewa bagi keluarga kami, karena cucu saya, Pelangi, akan bertunangan dengan pria yang telah mendapatkan hatinya kembali, Akarsana." Tepuk tangan menggema di

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 117. Kebimbangan di hati Diana

    Pelangi mencoba kembali menenangkan pikirannya setelah pertemuannya dengan Akarsana. Hatinya masih berdebar tidak menentu, tapi kali ini bukan karena keraguan, melainkan karena keputusan besar yang sudah ia buat.Suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat, disusul suara yang penuh amarah."Pelangi!" suara Diana menggema di ruangan, membuat Pelangi dan Ardiyanto menoleh.Diana berdiri di ambang pintu dengan ekspresi penuh kemarahan dan di belakangnya, Danurdara—ayahnya—menyusul dengan tatapan yang lebih tenang tapi tak kalah tegas."Kau serius, Pelangi?!" Diana mendekat dengan cepat. "Kau lebih memilih pria yang sudah menghancurkanmu, yang sudah membuatmu menangis selama ini, daripada Damar yang jelas-jelas pria baik?"Pelangi menghela napas. Ia sudah menduga ini akan terjadi."Diana, dengarkan aku—""Tidak!" Diana memotong dengan suara penuh emosi. "Aku tidak bisa diam saja melihatmu kembali ke dalam lingkaran yang sama! Apa kau tidak takut akan terluka lagi? Apa kau tidak ingat bagaima

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 116. Hati yang terikat

    "Kalian berdua," suara Damar terdengar datar, tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Pelangi merasa bersalah. Akarsana tidak mundur. Ia justru menatap Damar dengan pandangan penuh keyakinan. "Aku tidak akan menyerah," kata Akarsana tegas. "Aku mencintai Pelangi, dan aku yakin dia masih mencintaiku." Pelangi mengerjapkan mata, dadanya berdebar kencang. Damar menatap Pelangi. "Apa yang dikatakannya benar?" Pelangi tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pelangi menatapnya, perasaan bersalah semakin menyesakkan dadanya. "Damar, aku...." Damar mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Pelangi. "Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin kau jujur pada dirimu sendiri." Pelangi menatap Damar dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu, pria ini benar-benar baik. Damar tersenyum lembut. "Jangan memaksakan diri, Pelangi. Aku ingin kau bahagia, dengan atau tanpa aku." Pelangi terisak pelan. Damar menghela napas panjang lalu menatap Akarsana. "Aku harap kau tidak

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 115. Pergulatan hati

    "Dan kau gagal." Akarsana menatapnya dalam, suaranya tenang tapi penuh keyakinan. "Aku tahu kau masih mencintaiku, Pelangi. Aku bisa melihatnya di matamu." Pelangi menggeleng dengan cepat, air matanya mulai jatuh tanpa bisa ia tahan. "Tidak," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Akarsana. Akarsana mengulurkan tangannya, ingin menghapus air mata itu, tapi Pelangi mundur selangkah, membuat jarak di antara mereka. "Aku akan bertunangan dengan Damar," katanya dengan suara yang lebih tegas, seakan ia mengatakannya bukan hanya untuk Akarsana, tapi juga untuk dirinya sendiri. Akarsana terdiam, dadanya terasa sesak. "Lalu kenapa kau menangis?" tanyanya dengan suara lirih. Pelangi menggigit bibirnya. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak ingin bertunangan dengan Damar, bahwa hatinya masih terikat pada Akarsana, tapi ia tidak bisa. Ia tidak boleh. Tanpa menjawab, ia berbalik dan membuka pintu, meninggalkan Akarsana yang masih berdiri di sana dengan ekspresi hancur.

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 114. Keraguan dalam bayangan

    Dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. Pelangi membeku di tempat. Hatinya berdebar begitu kencang saat matanya bertemu dengan mata Akarsana. Pria itu berdiri di antara kerumunan, mengenakan jas hitam yang tampak sedikit longgar di tubuhnya seperti seseorang yang kehilangan berat badan. Wajahnya lebih tirus dari yang terakhir kali Pelangi lihat. Namun, sorot matanya tetap sama. Penuh luka. Akarsana tidak bergerak, hanya menatapnya dalam diam. Pelangi mengeraskan hatinya dan segera mengalihkan pandangan. Ini tidak seharusnya terjadi. Akarsana tidak seharusnya ada di sini. Tapi pertanyaannya adalah siapa yang mengundangnya? Di tengah kebingungan, Diana tiba-tiba muncul di sampingnya dan berbisik pelan, "Aku tidak mengundangnya, Pelangi. Aku juga terkejut dia datang." Pelangi menelan ludah. Ia tidak ingin menunjukkan kegugupannya. "Aku akan pura-pura tidak melihatnya," katanya lirih. Diana menatapnya ragu, tetapi tidak berkata apa-apa lagi. Namun, masalahnya adalah

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 113. Sosok yang tidak diharapkan

    Malam itu, Akarsana tidak bisa tidur. Kata-kata Sofia terus terngiang di kepalanya."Jika kau masih mencintainya, pergilah cari dia!"Akarsana tidak bisa menahan keinginan untuk mencari tahu. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil ponselnya, dan membuka kontak lama yang tak pernah ia hapus.Pelangi.Jari-jarinya gemetar saat hendak menekan tombol panggil.Namun, ia ragu."Bagaimana jika dia tidak mau bicara denganku?""Bagaimana jika dia sudah bersama pria lain?"Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak.Akhirnya, ia hanya menatap nama itu di layar ponselnya, sebelum akhirnya menghela napas dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.Mungkin, Sofia benar. Ia harus menemui Pelangi. Bukan hanya untuk memohon kesempatan kedua, tetapi untuk mengatakan hal yang selama ini tidak sempat ia katakan, bahwa ia mencintainya.Bahwa ia menyesali semuanya. Dan bahwa ia ingin memperbaikinya.Keesokan paginya, Akarsana mendatangi rumah sakit dimana Ardian bekerja. Ardian adalah satu-satunya o

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status