Share

Bab 8. Rasa cemas Pelangi

Author: Miarosa
last update Last Updated: 2023-06-17 07:24:02

Kepala Diana berdenyut hebat. Ia merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya. Rasanya seperti remuk, Diana sontak meringis saat menggerakkan kedua kakinya. 

Hawa dingin seketika menyapa kulit tubuhnya. Diana tanpa sadar menyentuh lengannya, kemudian kebingungan sendiri, karena saat ia tidak mengenakan apa-apa. 

Tubuh Diana dibungkus selimut tebal. Di sampingnya ada Renjana sedang tertidur pulas. Diana panik, ia memegangi kepalanya mencoba mengingat apa yang telah terjadi semalam. 

Diana menggigit ujung jarinya. Ia memukul kepalanya sendiri dengan gemas karena tidak kunjung mengingat apa pun. 

"Apa yang terjadi? Aku dan Renjana ....," gumam Diana menggigit bibir bawahnya. 

Renjana sama sekali tidak bergerak di atas tempat tidur. Diana hanya mendengar dengkuran halus dari lelaki tampan itu. Diana memungut bajunya di lantai, lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sembari menunggu Renjana bangun, Diana akan mandi lebih dulu. Baru setelah itu meminta pertanggungjawaban lelaki itu karena sudah menidurinya. 

"Akh! Aku kenapa, sih! Seharusnya aku mengingat kejadian semalam walau cuma sedikit. Apa yang terjadi semalam? Apa yang telah aku dan Renjana lakukan?" pekik Diana menarik rambutnya gemas. 

Hampir saja Diana membenturkan kepalanya ke dinding, karena tidak mengingat apapun walau ia telah mencobanya. 

Diana hanya ingat Renjana menggodanya saat ia menunggu angkutan umum. Renjana mengajak Diana ke sebuah tempat untuk bersenang-senang, karena Diana pikir Renjana bisa mengeluarkannya dari kemiskinan, Diana tidak menolak ajakan Renjana itu, lalu mereka mengobrol dan berkenalan di mobil. Kemudian ...., 

"Hmm ...." desis Diana memiringkan kepalanya. Ia menepuk kepalanya lebih dari dua kali. "Dasar bodoh!" Diana memaki dirinya sendiri. 

Selesai mandi dan memakai bajunya yang semalam, Diana merangkak naik ke atas ranjang hendak membangunkan Renjana yang belum bangun juga. Diana menepuk lengan lelaki itu, beralih ke pipinya. Sontak Renjana pun bangun dan menatap wajah Diana yang telah segar sehabis mandi. 

"Bangun, Renjana! Jelaskan padaku apa yang terjadi semalam di antara kita?!" Diana menggoyangkan lengan Renjana agak kasar. 

Lelaki itu menepis tangan Diana. "Kamu sudah melihatnya saat bangun, kan? Mau meminta penjelasan apa lagi?!" balas Renjana sengit. 

"Jadi ..., kita berdua semalam?" Diana menunjuk hidungnya. 

"Iya! Kamu bukan anak kecil yang harus dijelaskan dulu, kan? Jangan ganggu aku. Aku mau tidur lagi," peringat Renjana. 

Diana merasa tidak terima. Renjana bersikap sangat berbeda dari yang semalam. Diana menyambar bantal lantas memukulkannya ke arah Renjana. 

"Kamu harus tanggungjawab! Kamu sudah meniduriku!" seru Diana memukuli Renjana dengan penuh amarah. 

"Tanggung jawab? Kita melakukannya tanpa paksaan. Untuk apa aku bertanggungjawab?" Secara mengejutkan, lelaki itu menolak untuk bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya kepada Diana. 

*** 

Pelangi menunggu kepulangan Diana sejak semalam. Ia sudah berusaha menghubungi nomor Diana, tapi tidak diangkat. Pelangi bahkan menghujani nomor Diana dengan banyak pesan, namun tetap saja tidak juga dibalas. 

Saking khawatirnya Pelangi kepada adik perempuannya, ia sampai menunggu di ruang tamu hingga ketiduran. Saat  bangun pun, Diana belum pulang juga. 

Lamunan Pelangi buyar ketika mendengar suara pintu rumah dibuka. Detik itu Pelangi mendekat ke arah pintu dan menegur Diana. 

"Kamu dari mana?! Kenapa semalam tidak pulang?" Pelangi tidak kuasa menahan amarahnya. 

"Kakak menunggu kamu sampai ketiduran, tapi kamu tidak kunjung pulang. Semalam kamu ada di mana? Kamu tidak disakiti orang, kan?" Pelangi mendekap kedua bahu adik perempuannya. 

Diana menepis tangan Pelangi dengan kasar. Suasana hati Diana sedang tidak baik mendengar Pelangi mengomelinya, padahal dia baru saja sampai rumah membuatnya semakin kesal. 

"Tidak ada yang menyuruh Kakak menungguku. Itu salah Kakak sendiri," ujar Diana sinis. 

"Aku khawatir sama kamu," gumam Pelangi.

Dalam hati Diana mengumpat. "Telat!" 

"Sudahlah! Tolong jangan terlalu banyak bicara. Kepalaku pusing sekarang!" bentak Diana sambil berlalu pergi meninggalkan kakaknya begitu saja. 

*** 

Ginny masih penasaran dengan perempuan muda penjual bunga yang dilihatnya di lampu merah beberapa waktu yang lalu. 

Wajah perempuan muda itu sangat mirip dengan wajah sahabatnya. Walau Ginny hanya melihatnya sekilas, namun kata hatinya mengatakan perempuan itu sama persis seperti sang Sahabat yang telah meninggal dunia. 

Ginny mengamati lampu merah. Orang-orang yang lalu-lalang, pengamen kecil di jalanan tidak lepas dari pandangan mata Ginny. Wanita itu berharap bisa bertemu dengan perempuan penjual bunga itu lagi. Ia ingin memastikan apakah penglihatannya benar atau hanya sekadar halusinasinya saja karena sedang merindukan sahabatnya? 

Ginny menurunkan kaca mobilnya hingga terbuka sepenuhnya. Ginny melempar pandangan ke sana kemari mengamati sekitar. Setiap kali menemukan perempuan dengan proporsi badan yang persis dengan perempuan itu, Ginny sampai keluar mobil lalu mengejarnya, namun saat perempuan yang dikejarnya menoleh, Ginny menjadi sangat kecewa. Bukan. Yang barusan bukan perempuan yang ia lihat beberapa waktu lalu. 

"Aku yakin perempuan itu mirip Josefina." Ginny meremas ujung bajunya. Sepasang mata Ginny seakan tidak lelah memerhatikan sekitar lampu merah. "Tapi, kenapa dia tidak ada di sini? Aku tidak mungkin salah lihat. Mereka mirip sekali!" seru Ginny penuh keyakinan. 

Sementara itu Pelangi, perempuan yang dicari Ginny di lampu merah memutuskan untuk libur berjualan bunga. Dokter mengatakan Pelangi harus menjaga kesehatan tubuhnya. Tidak disarankan untuk bekerja secara berlebihan dan mengonsumsi makanan sehat agar prosesnya berjalan dengan lancar. 

Tentu saja Pelangi menuruti kata-kata dokter. Keinginan Pelangi hanya untuk melihat Akarsana sembuh. 

Pelangi sedang mengobrol dengan Ardian di telepon. "Kamu libur menjual bunga?" tanya Ardian heran. 

Dia tidak mengira Pelangi akan segigih itu. Mendengar Pelangi bersedia mendonorkan hatinya tanpa meminta imbalan yang ada malah meminta pihak rumah sakit termasuk Ardian agar menjaga rahasianya. Tidak boleh ada satu orang pun yang mengetahuinya, bahkan Ayah dan kedua saudara Pelangi pun tidak tahu menahu mengenai hal ini. 

"Aku harus menjaga kesehatanku sebelum operasi dilaksanakan," ujar Pelangi di dalam telepon. 

"Dan kamu menurutinya." Ardian mendengus. "Baiklah, kalau begitu pergunakan waktu liburmu dengan banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi." 

Pelangi mengangguk ringan. "Tentu." 

*** 

Danurdara tidak kuasa menahan rahasia yang telah ia simpan lebih lama. Lelaki itu merasa sedih, karena Pelangi harus hidup serba kekurangan. Pelangi harus giat mencari nafkah. Belum lagi harus mengurusnya dan adik lelakinya yang masih berusia sepuluh tahun. 

Pelangi selalu tersenyum di depan Danurdara, namun ia tahu Pelangi menahan segala perasaan di dadanya. Sebagai seorang Ayah, ia sangat memahami perasaan putrinya. Hanya saja Danurdara tidak bisa melakukan banyak hal. 

Maka dari itu untuk menghentikan segala situasi kurang mengenakan yang Pelangi alami selama ini, Danurdara berniat memberitahu Pelangi tentang asal usulnya. Siapa sebenarnya keluarga Pelangi. 

"Yah?" tegur Pelangi hati-hati. 

Sadari tadi ayahnya banyak melamun. Pelangi memanggil ayahnya sambil memegangi sebelah lengan ayahnya. 

Detik itu lamunan Danurdara pun buyar. Ia menatap wajah Pelangi dengan tatapan yang sedih. "Iya, Pelangi. Kamu panggil Ayah?" 

"Dari tadi," jawab Pelangi pura-pura cemberut. "Ayah sedang memikirkan apa? Jangan dipendam sendiri." 

"Harusnya Ayah yang mengatakan itu." Lelaki itu menatap Pelangi dengan serius. 

"Maksud, Ayah?" tanya Pelangi  bingung. 

"Pelangi, ada yang ingin Ayah katakan sama kamu." 

"Tentang apa?" Pelangi mengerjapkan matanya. 

Danurdara tidak langsung menjawab melainkan menatap wajah Pelangi dengan sorot mata yang sedih dan merasa bersalah, karena ia tidak jujur mengenai siapa Pelangi sebenarnya, karena hidup menjadi putri Danurdara, Pelangi harus hidup susah. 

"Sebenarnya, kamu itu ...." 

Pelangi melihat jam tangannya dan ia terkejut. "Ayah, aku pergi dulu. Aku sudah telat mau menemui seseorang. Bicaranya nanti saja."

"Tapi Pelangi, Ayah ingin...."

"Maaf, Ayah. Bisakah nanti saja? Ini sangat penting."

Melihat anggukan sang ayah, Pelangi pun tergesa-gesa keluar dari kamar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 9. Perempuan beda generasi

    Pelangi menekan bel sekali. Ia menunggu dengan tenang di pintu sembari menunggu pemilik rumah membukakannya. Tidak menunggu terlalu lama, Pelangi mendengar suara kunci yang dibuka dari dalam. Pelangi menggerakkan kedua kakinya berjalan mundur ke belakang bersamaan dengan pintu dibuka. Pelangi dan si pemilik rumah sama-sama tersenyum ketika keduanya saling menatap. Pelangi mengangguk kecil menyapa Kayla. Wanita itu mengajak Pelangi masuk ke dalam rumahnya untuk mengobrol. "Kita ngobrol di taman belakang yuk, Pelangi," ajak Kayla berjalan di depan. "Oh, ya. Kamu mau minum apa? Bagaimana perjalanannya tadi? Kamu naik apa?" tanya Kayla panjang lebar. "Lumayan macet, Bu. Tadi saya kemari naik angkutan umum." Pelangi menjawab sambil tersenyum. "Saya minum air putih saja sudah cukup, kok." Kayla melangkah ke arah dapur. "Lho, jangan air putih saja dong! Di sini ada banyak minuman yang lebih enak. Saya buatkan jus buah saja, ya?" "Apa tidak merepotkan, Bu?" tanya Pelangi. "Sama

    Last Updated : 2023-06-18
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 10. Perasaan yang berbunga-bunga

    "Iya, Om Ardi. Wanita itu mirip Josefina, tapi aku belum bertemu langsung dengannya." "Jika kamu sudah kembali bertemu dengannya segera hubungiku." "Baik." Ginny memutuskan sambungan teleponnya. Ardiyanto sangat penasaran seberapa mirip perempuan itu dengan Josefina, karena Ginny menceritakannya dengan penuh keyakinan. Marien melihat suaminya keluar dari kamar dengan ekspresi wajah yang bingung. Marien menyapa Ardiyanto mengajak lelaki itu untuk minum teh bersama di ruang keluarga. Ardiyanto mengiyakan, mengikuti langkah Marien yang ada di depan. Pasangan suami dan istri tersebut telah duduk di sofa panjang, bersebelahan. Marien menyodorkan secangkir teh kepada suaminya, tapi Ardiyanto kelihatan seperti orang linglung. "Pa?" Marien menegur Ardiyanto. Lamunan Ardiyanto pun buyar. Ia menerima cangkir yang diberikan Marien kepadanya. "Terima kasih." Ardiyanto menyesap tehnya dengan hati-hati. "Tidak mungkin. Ini aneh," gumamnya. "Apanya yang aneh? Tehnya?" tanya Marien. Ard

    Last Updated : 2023-06-20
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 11. Surat wasiat

    Prita baru saja tiba di rumah sakit keesokan harinya dan menemui dokter terlebih dahulu sebelum menemui Akarsana di ruang perawatannya. Di ruang dokter, Prita mendapat kabar bagus yang disampaikan oleh dokter yang akan menangani Akarsana selama di meja operasi. Dokter telah menentukan jadwal operasi Akarsana. "Dua minggu lagi." Sepasang mata Prita seketika berbinar. Bibir wanita itu yang dipoles merah menyala tampak tertarik, membentuk sebuah senyuman lebar. Ia begitu bahagia, karena sebentar lagi Akarsana akan sembuh setelah melakukan operasi. "Terima kasih." Prita mengucapkan dua kata itu lagi sebelum menghilang di balik pintu ruangan dokter. Prita mempercepat langkah. Wanita itu berjalan riang, perasaannya lebih ringan, kini Prita tidak menahan beban, karena memikirkan kesehatan Akarsana lagi. Tangan kanan Prita menggapai gagang pintu ruang perawatan Akarsana. Ia membukanya dengan cepat, berjalan menghampiri ranjang Akarsana. Putranya sedang berbaring sembari menatap ke

    Last Updated : 2023-06-21
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 12. Adik penjual bunga

    Diana bisa menghela napas lega sekarang. Lelaki yang dia cari selama ini kini tengah duduk di sebelahnya sembari menyetir mobil. "Kalau kamu memang sedang sibuk harusnya bilang sejak awal. Supaya aku tidak berburuk sangka sama kamu." Diana mengatakannya dengan nada merajuk. "Kamu tiba-tiba menghilang tidak ada kabar. Teleponku sama sekali tidak kamu respons. Siapa yang tidak curiga?" desak Diana. Renjana menahan geram dengan tingkah laku Diana. Siapa juga yang mau bertanggung jawab kepada gadis itu. Dia cuma pura-pura saja agar Diana tidak terus mengganggunya. Siapa yang tidak terkejut melihat Diana ada di depan gerbang kampusnya. Diana bahkan memarahinya di depan umum dan membuatnya seketika menjadi panik. Akhirnya Renjana membuat siasat dengan mengiyakan permintaan Diana dan bersedia bertanggung jawab. Daripada nantinya dibuat malu lebih baik Renjana pura-pura saja. "Maaf, Diana. Aku terlalu sibuk sampai tidak pegang ponsel," jawab Renjana. "Biasanya aku akan menyimpan pon

    Last Updated : 2023-06-23
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 13. Jejak

    Marien memberi Winarto sebuah tugas melalui telepon. Lelaki berusia lima puluh tahun itu baru saja tiba di Bandung, tempat temannya tinggal dulu, Danurdara. Iya, Danurdara adalah teman Winarto yang dia titipkan putri dari mendiang Josefina di masa lalu. Kedatangan Winarto ke Bandung jelas bukan tanpa sebab. Dia mencari bayi Josefina. Winarto tiba di sebuah pemukiman dan sudah lama sekali tidak datang kemari. Ada banyak sekali perubahan di sana. Winarto harus mengingat lagi keberadaan rumah Danurdara. Winarto memasuki sebuah gang kecil. Dia mulai ingat dimana letak rumah Danurdara berada. Namun, saat Winarto sampai di tempat yang dia tuju, dia terkejut karena Danurdara ternyata sudah pindah cukup lama. "Pindah?" pekik Winarto terkejut. Seorang tetangga menghampiri Winarto yang kelihatan kebingungan sejak tadi. "Iya, Pak. Sejak rumahnya kebakaran, Pak Danurdara pindah dari sini." Winarto mendesah dan merasa putus asa. "Bapak tahu di mana Pak Danurdara beserta anak-anaknya pin

    Last Updated : 2023-06-26
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 14. Doa dan harapan

    Hari ini Pelangi datang ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya. Perempuan itu mengajak ayahnya mengobrol berdua. Berbicara tentang apa saja asal ayahnya tidak merasa kesepian. Danurdara menjawab setiap pertanyaan Pelangi dengan linglung. Lelaki setengah baya itu sedang menimbang. Apakah ia perlu memberitahu Pelangi sekarang? Danurdara telah lama menyimpan rahasia ini dari Pelangi beserta kedua saudaranya. Mulanya Danurdara ingin menyimpan rahasia itu saja sendiri. Namun, melihat Pelangi kesusahan karena dirinya, Danurdara menjadi tidak tega. Tidak seharusnya Pelangi hidup susah seperti ini. Mungkin sudah saatnya perempuan itu tahu asal-usulnya. Danurdara tidak tahan menyembunyikan rahasia ini. "Pelangi, Ayah mau—" Pelangi menatap ayahnya. Namun, belum sempat pria itu berkata pada sang putri, seorang dokter baru saja masuk ke dalam ruang perawatan Danurdara. "Yah, aku tunggu di luar, ya." Pelangi pamit kepada Ayah dan dokter. Dia tidak mau mengganggu dokter yang memeriksa kea

    Last Updated : 2023-06-27
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 15. Kesempatan hidup

    Naomi sedang membongkar isi lemarinya. Tanpa sadar perempuan itu menjatuhkan sesuatu dari dalam lemari. Sebuah ponsel lama miliknya yang sudah tidak pernah ia aktifkan setelah tinggal di New York. Naomi, mantan calon istri Akarsana kini tinggal di New York dan memilih menikahi lelaki asing, jadi Naomi tidak berniat kembali kepada Akarsana sekalipun lelaki itu berlutut dan mencium kakinya. Ia menggenggam ponsel lamanya sembari berjalan ke arah tepi ranjang. Tiba-tiba ia penasaran siapa saja yang menghubunginya setelah pindah kemari. Baterai ponselnya telah habis. Naomi mengisi daya baterainya lebih dulu sembari menunggu baterai terisi sedikit demi sedikit. Ia mendengar suara denting ponselnya mulai berisik. Satu persatu pesan masuk setelah Naomi menyalakan ponselnya. Ia membuka kotak pesan. Sebagian cuma teman-teman yang berbasa-basi menanyakan kabar, ada juga yang berniat ingin pinjam uang, dan ada satu nama yang memenuhi kotak pesan di ponselnya. Akarsana. Naomi mendesah panjang

    Last Updated : 2023-07-02
  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 16. Operasi

    Prita berjalan mondar-mandir. Kepalanya menatap ke pintu ruang operasi. Perasaannya sekarang campur aduk tidak karuan memikirkan kondisi Akarsana di atas meja operasi. Sofia menghampiri ibunya dan mengajaknya duduk di kursi tunggu. Prita masih saja cemas. Di dalam kepala wanita itu sekarang hanya memikirkan Akarsana. Bagaimana situasi di dalam ruang operasi? Apa tidak ada masalah selama operasi berlangsung? Dan berbagai macam pertanyaan lainnya. Sofia menggenggam tangan ibunya. Sebelah tangannya lagi mengusap punggung wanita itu yang naik turun. "Mama tenang saja. Harus tetap tenang," ujar Sofia. "Kita tahu Kak Akarsana adalah orang yang kuat. Semuanya pasti berjalan dengan lancar," tambahnya. Prita menghela napas panjang. "Tetap saja, Sofia. Sebagai seorang Ibu, Mama tidak akan bisa tenang sampai dokter keluar dan memberi selamat kepada kita kalau operasinya berjalan dengan lancar!" Sofia mengangguk memahami maksud ibunya. "Iya, aku tahu, Ma. Kita berdoa saja, ya. Kita harus p

    Last Updated : 2023-07-08

Latest chapter

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 121. Janji di bawah cahaya bintang. TAMAT.

    Malam itu, suasana rumah masih dipenuhi ketegangan setelah pengakuan Sofia. Pelangi duduk di sofa dengan ekspresi kosong, sementara Akarsana mondar-mandir, pikirannya kacau."Aku masih tidak percaya " gumam Akarsana, suaranya nyaris berbisik.Sofia menunduk, matanya memerah menahan air mata. "Aku juga tidak ingin mempercayainya. Aku menyesal karena tidak melakukan sesuatu sejak dulu, jika aku berani melawan, mungkin Tante Kayla masih hidup."Pelangi menarik napas dalam-dalam. "Kebenaran akhirnya terungkap. Tapi, lalu apa? Apa kita akan membiarkan ini berlalu begitu saja?"Akarsana menatap adiknya dengan mata berkilat. "Tidak, kita tidak bisa membiarkannya. Apa pun yang terjadi, Ibu harus bertanggung jawab."Sofia menggigit bibirnya, lalu menggeleng. "Tapi Akarsana, Ibu kita... dia bahkan sudah tidak waras sekarang. Dia sudah hidup dalam ketakutan selama enam bulan terakhir. Apa yang bisa kita lakukan selain menyerahkannya pada perawatan?"Akarsana mengepalkan tangannya. Ia marah, kece

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 120. Kepingan kenyataan

    Ruangan itu menjadi sunyi. Hanya suara detak jam yang terdengar, seakan menegaskan bahwa ketakutan Prita masih ada, masih mengintai, dan belum benar-benar pergi.Prita masih tersungkur di lantai dengan tubuh gemetar. Air matanya mengalir deras, napasnya tersengal, sementara kedua tangannya mencengkeram kepalanya seolah berusaha menepis suara-suara yang hanya bisa ia dengar."Maafkan aku,Kayla! Maafkan aku!" gumamnya berulang kali, suaranya penuh ketakutan.Akarsana, Sofia, dan Pelangi masih berusaha menenangkannya, tetapi tiba-tiba, suara Prita berubah menjadi jeritan histeris."Aku tidak bermaksud membunuhmu!"Hening.Ketiga orang di ruangan itu membeku, tatapan mereka terpaku pada Prita yang masih terisak. Kata-kata itu menggema di kepala mereka, memenuhi ruangan dengan ketegangan yang mencekam.Akarsana menelan ludah, dadanya berdegup kencang. "Ibu,apa maksudmu?" tanyanya pelan, tetapi suaranya tegas.Prita tidak menjawab. Ia terus meracau, tubuhnya masih bergetar hebat. Seolah kat

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 119. Langkah pertama menuju kedamaian

    Pelangi berdiri di sana, berdampingan dengan seorang pria yang Sofia kenal baik—Akarsana. Namun, perhatiannya langsung terfokus pada Pelangi. Sofia nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pelangi, yang dulu selalu tampak sederhana dan jauh dari kesan feminin, kini berubah. Gaun lembut membalut tubuhnya dengan anggun, rambut panjangnya tergerai dengan rapi, dan ada kehangatan baru dalam sorot matanya. Ia tampak begitu cantik, begitu berbeda. Namun, bukan hanya perubahan penampilan Pelangi yang mengejutkan Sofia. Tangannya yang digenggam erat oleh Akarsana seolah menegaskan sesuatu. Sofia mengangkat pandangannya, melihat ekspresi kakaknya—wajah itu, yang selama ini redup dan penuh beban, kini berseri. Akarsana terlihat seperti dirinya yang dulu, sebelum semua kekacauan terjadi. Sofia menelan ludah, masih belum bisa mencerna semuanya. "K-Kak Pelangi?" suaranya bergetar. Pelangi tersenyum lembut. "Hai, Sofia!"" Sofia mengalihkan tatapannya ke Akarsana, mencari jawaban.

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 118. Tatapan yang saling bertaut

    Diana masih berdiri di tempatnya, dadanya naik-turun seiring napasnya yang tidak beraturan. Tatapan Damar yang begitu dalam tadi masih terbayang di benaknya, mengusik perasaannya yang bahkan belum ia sadari sepenuhnya. Ia menggeleng pelan, mencoba mengabaikan semuanya, lalu menghembuskan napas panjang. Saat itu juga, suara musik dan tawa dari para tamu pesta kembali menyadarkannya akan kenyataan. Malam ini adalah malam pertunangan Pelangi dan Akarsana. Diana melangkah masuk ke dalam ruangan, tepat saat Ardiyanto menaiki podium kecil di tengah aula, mengambil mikrofon dan mengetuknya pelan. Semua tamu segera menghentikan obrolan mereka dan mengalihkan perhatian ke pria tua itu. "Ladies and gentlemen," Ardiyanto memulai dengan suara penuh wibawa. "Terima kasih telah menghadiri acara malam ini. Malam ini adalah malam yang istimewa bagi keluarga kami, karena cucu saya, Pelangi, akan bertunangan dengan pria yang telah mendapatkan hatinya kembali, Akarsana." Tepuk tangan menggema di

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 117. Kebimbangan di hati Diana

    Pelangi mencoba kembali menenangkan pikirannya setelah pertemuannya dengan Akarsana. Hatinya masih berdebar tidak menentu, tapi kali ini bukan karena keraguan, melainkan karena keputusan besar yang sudah ia buat.Suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat, disusul suara yang penuh amarah."Pelangi!" suara Diana menggema di ruangan, membuat Pelangi dan Ardiyanto menoleh.Diana berdiri di ambang pintu dengan ekspresi penuh kemarahan dan di belakangnya, Danurdara—ayahnya—menyusul dengan tatapan yang lebih tenang tapi tak kalah tegas."Kau serius, Pelangi?!" Diana mendekat dengan cepat. "Kau lebih memilih pria yang sudah menghancurkanmu, yang sudah membuatmu menangis selama ini, daripada Damar yang jelas-jelas pria baik?"Pelangi menghela napas. Ia sudah menduga ini akan terjadi."Diana, dengarkan aku—""Tidak!" Diana memotong dengan suara penuh emosi. "Aku tidak bisa diam saja melihatmu kembali ke dalam lingkaran yang sama! Apa kau tidak takut akan terluka lagi? Apa kau tidak ingat bagaima

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 116. Hati yang terikat

    "Kalian berdua," suara Damar terdengar datar, tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Pelangi merasa bersalah. Akarsana tidak mundur. Ia justru menatap Damar dengan pandangan penuh keyakinan. "Aku tidak akan menyerah," kata Akarsana tegas. "Aku mencintai Pelangi, dan aku yakin dia masih mencintaiku." Pelangi mengerjapkan mata, dadanya berdebar kencang. Damar menatap Pelangi. "Apa yang dikatakannya benar?" Pelangi tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pelangi menatapnya, perasaan bersalah semakin menyesakkan dadanya. "Damar, aku...." Damar mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Pelangi. "Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin kau jujur pada dirimu sendiri." Pelangi menatap Damar dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu, pria ini benar-benar baik. Damar tersenyum lembut. "Jangan memaksakan diri, Pelangi. Aku ingin kau bahagia, dengan atau tanpa aku." Pelangi terisak pelan. Damar menghela napas panjang lalu menatap Akarsana. "Aku harap kau tidak

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 115. Pergulatan hati

    "Dan kau gagal." Akarsana menatapnya dalam, suaranya tenang tapi penuh keyakinan. "Aku tahu kau masih mencintaiku, Pelangi. Aku bisa melihatnya di matamu." Pelangi menggeleng dengan cepat, air matanya mulai jatuh tanpa bisa ia tahan. "Tidak," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Akarsana. Akarsana mengulurkan tangannya, ingin menghapus air mata itu, tapi Pelangi mundur selangkah, membuat jarak di antara mereka. "Aku akan bertunangan dengan Damar," katanya dengan suara yang lebih tegas, seakan ia mengatakannya bukan hanya untuk Akarsana, tapi juga untuk dirinya sendiri. Akarsana terdiam, dadanya terasa sesak. "Lalu kenapa kau menangis?" tanyanya dengan suara lirih. Pelangi menggigit bibirnya. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak ingin bertunangan dengan Damar, bahwa hatinya masih terikat pada Akarsana, tapi ia tidak bisa. Ia tidak boleh. Tanpa menjawab, ia berbalik dan membuka pintu, meninggalkan Akarsana yang masih berdiri di sana dengan ekspresi hancur.

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 114. Keraguan dalam bayangan

    Dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. Pelangi membeku di tempat. Hatinya berdebar begitu kencang saat matanya bertemu dengan mata Akarsana. Pria itu berdiri di antara kerumunan, mengenakan jas hitam yang tampak sedikit longgar di tubuhnya seperti seseorang yang kehilangan berat badan. Wajahnya lebih tirus dari yang terakhir kali Pelangi lihat. Namun, sorot matanya tetap sama. Penuh luka. Akarsana tidak bergerak, hanya menatapnya dalam diam. Pelangi mengeraskan hatinya dan segera mengalihkan pandangan. Ini tidak seharusnya terjadi. Akarsana tidak seharusnya ada di sini. Tapi pertanyaannya adalah siapa yang mengundangnya? Di tengah kebingungan, Diana tiba-tiba muncul di sampingnya dan berbisik pelan, "Aku tidak mengundangnya, Pelangi. Aku juga terkejut dia datang." Pelangi menelan ludah. Ia tidak ingin menunjukkan kegugupannya. "Aku akan pura-pura tidak melihatnya," katanya lirih. Diana menatapnya ragu, tetapi tidak berkata apa-apa lagi. Namun, masalahnya adalah

  • Penjual Bunga itu Ternyata Istri CEO   Bab 113. Sosok yang tidak diharapkan

    Malam itu, Akarsana tidak bisa tidur. Kata-kata Sofia terus terngiang di kepalanya."Jika kau masih mencintainya, pergilah cari dia!"Akarsana tidak bisa menahan keinginan untuk mencari tahu. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil ponselnya, dan membuka kontak lama yang tak pernah ia hapus.Pelangi.Jari-jarinya gemetar saat hendak menekan tombol panggil.Namun, ia ragu."Bagaimana jika dia tidak mau bicara denganku?""Bagaimana jika dia sudah bersama pria lain?"Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak.Akhirnya, ia hanya menatap nama itu di layar ponselnya, sebelum akhirnya menghela napas dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.Mungkin, Sofia benar. Ia harus menemui Pelangi. Bukan hanya untuk memohon kesempatan kedua, tetapi untuk mengatakan hal yang selama ini tidak sempat ia katakan, bahwa ia mencintainya.Bahwa ia menyesali semuanya. Dan bahwa ia ingin memperbaikinya.Keesokan paginya, Akarsana mendatangi rumah sakit dimana Ardian bekerja. Ardian adalah satu-satunya o

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status