Adrian melangkah ke dalam taman yang telah disulap menjadi negeri dongeng, tempat pesta ulang tahun cucu seorang pengusaha sukses tengah berlangsung. Lampu-lampu kristal tergantung di antara pepohonan, sementara bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut. Musik lembut mengalun, berpadu dengan tawa anak-anak yang bermain riang di playground khusus yang disediakan.Laurent menggandeng Dante, bocah kecil itu tampak terpesona oleh keindahan pesta di sekelilingnya. Matanya yang polos berbinar kagum saat melihat dekorasi megah di taman luas itu."Mama, Dante juga mau pesta seperti ini!" serunya dengan penuh antusias.Laurent menatap anak itu, bibirnya melengkung dalam senyum kecil, tapi tak ada kehangatan di dalamnya. Senyum itu lebih seperti sebuah kewajiban daripada ungkapan kasih sayang yang tulus. Adrian memperhatikannya dari samping. Ia tahu bahwa di balik ketenangan Laurent, masih ada luka yang menganga, terutama karena bocah yang kini berada di sisinya adalah anak kandung Alicia—per
Laurent membawa Dante pergi tanpa perlawanan, langkahnya ringan seolah tak ada beban. Alicia terdiam, matanya membuntuti punggung Laurent yang menjauh, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Mengapa Laurent tidak membalasnya? Mengapa ia memilih mundur tanpa sedikit pun melanjutkan pertengkaran?Suara Damian menyusup di telinganya. "Kenapa membuat keributan di pesta orang?" bisiknya pelan, nyaris seperti teguran.Alicia mengabaikan peringatan itu, masih terpaku pada bayangan Laurent dan Dante yang semakin jauh. "Anak kecil itu…" gumamnya tanpa sadar. "Dia anak yang diadopsi oleh Laurent, kan?""Ya," Damian mengangguk. "Anak yang diadopsi setelah orang tuanya tewas dalam bencana." Ia melirik Alicia dengan alis sedikit berkerut. "Kenapa? Apa dia membuat masalah dengan Darley?"Alicia tak langsung menjawab. Pikirannya masih sibuk mencerna bagaimana Laurent, yang selalu terlihat dominan dan penuh kendali, justru memilih diam kali ini. "Aneh sekali dia hanya diam saja," kata
Dante berjalan melintasi halaman pesta yang mulai lengang, matanya sibuk mencari sosok Laurent di antara para tamu yang berpamitan. Pesta hampir usai, dan ia sudah lelah. Setelah menemukan Mr. Chang dan menyampaikan salam perpisahan dengan sopan, ia akhirnya memutuskan untuk pulang.Di dalam mobil, Dante duduk di kursinya dengan kaki menggantung. Wajahnya masih menyiratkan kemarahan yang tersisa dari kejadian tadi. Ia mengusap lengannya yang memerah, lalu menoleh ke arah Laurent dengan ekspresi serius."Mama, tadi aku dicubit oleh bibi kotoran," katanya dengan penuh emosi.Laurent menoleh, alisnya sedikit terangkat. Senyumnya muncul samar, tapi bukan karena kekhawatiran. Ada kilatan kepuasan di matanya."Benar kata Mama," Dante melanjutkan, tangannya mengepal kecil. "Bibi itu jahat!"Laurent mengangguk pelan, menyembunyikan kegembiraannya yang dingin. Ia melihat bagaimana kebencian mulai berakar dalam hati bocah itu, menyebar seperti racun yang ditanamkan dengan sempurna. Tidak ad
Malam itu, Elara masih terjaga di kamarnya.Setelah kejadian di meja makan dan di dapur, pikirannya dipenuhi dengan berbagai emosi. Lelah, marah, sedih, dan perasaan tidak berdaya bercampur menjadi satu.Lalu, ketukan terdengar di pintu.“Nyonya Elara.”Elara menoleh. Seorang pelayan berdiri di ambang pintu dengan sikap ragu.“Tuan Damian meminta Anda ke kamarnya sekarang.”Jantung Elara berdegup lebih cepat.Damian… memanggilnya?Untuk apa?Hingga saat ini, pria itu hampir tidak pernah mengundangnya ke kamar. Mereka tidur terpisah, dan Damian selalu bersikap dingin padanya.Tapi sekarang?Ada harapan kecil yang tumbuh dalam hatinya.Mungkin… mungkin malam ini akan berbeda.Mungkin akhirnya Damian akan melihatnya sebagai istrinya.Dengan tangan gemetar, Elara memilih gaun malam yang lembut dan elegan. Ia menyisir rambutnya dengan rapi, mengenakan sedikit lipstik tipis agar wajahnya tidak terlihat pucat.Ia ingin terlihat pantas di mata suaminya.Ia ingin Damian melihatnya, bukan sebag
Satu tahun yang lalu…“Aku tidak sudi menikah dengan gadis itu! Dengan keluarga bangkrut itu!” suara Damian bergema di dalam ruang kerja keluarga Everstone. Rahangnya mengeras, sorot matanya penuh kemarahan.Duduk di seberangnya, wanita paruh baya dengan gaun elegan tetap tenang. Ibu Damian, sosok yang selalu berpikir logis dalam segala situasi, hanya menyesap tehnya tanpa terganggu oleh amarah putranya.“Lalu kau ingin bagaimana?” katanya dengan nada tenang namun tegas. “Keluarganya memiliki utang yang menumpuk, dan satu-satunya cara untuk menyelesaikan ini tanpa skandal adalah pernikahan. Lagi pula…” Dia menatap Damian dengan penuh perhitungan. “Gadis itu katanya memiliki peruntungan bagus setelah menikah. Jadi sebaiknya kita menerima perjodohan ini.”Damian menghela napas kasar. Peruntungan bagus? Omong kosong apa itu?Ia membuang pandangannya ke luar jendela sebelum akhirnya menoleh ke arah pintu ruangannya. Dulu, dia pernah menyukainya. Seorang gadis muda yang dulu hidup dengan
Saat ini...Elara membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa berat seolah dunia baru saja kembali padanya setelah lama tenggelam dalam kegelapan. Cahaya putih dari lampu rumah sakit menusuk pandangannya, membuatnya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara alat medis yang berdenting pelan di sekitarnya.Seorang perawat berdiri di sisi ranjangnya, tampak terkejut begitu melihatnya sadar. Tanpa banyak bicara, perawat itu segera berbalik dan keluar dari ruangan, kemungkinan untuk memberi tahu dokter.Tak lama kemudian, seorang dokter masuk, wajahnya tenang tapi profesional, dengan clipboard di tangannya. Ia memeriksa Elara, memastikan kondisinya stabil sebelum akhirnya berbicara.“Kondisi Anda sudah cukup stabil sekarang,” katanya lembut, menatapnya dengan tatapan menenangkan.Elara menelan ludah, suaranya terasa serak ketika ia akhirnya bertanya, “Maaf… apa yang sebenarnya terjadi pada saya?”Dokter itu meletakkan clipboard-nya dan
Adrian tetap berdiri tegap di depan ranjang Elara, ekspresinya tenang, seolah tak terganggu oleh keterkejutan wanita itu.Tentu saja Elara tidak mengenalinya. Bertahun-tahun yang lalu, ketika dia berusia tujuh belas tahun, pada sebuah pesta megah yang diadakan kakeknya, perhatian Elara hanya tertuju pada satu orang—Damian. Saat itu, dia jatuh cinta pada pandangan pertama, begitu terpesona hingga tak menyadari kehadiran siapa pun di sekitarnya, termasuk Adrian.Adrian mengingat semuanya. Betapa gadis itu tampak bersinar dalam gaun putihnya, betapa matanya berbinar saat menatap Damian. Tidak ada celah bagi Adrian untuk masuk ke dalam dunianya.Namun kini, keadaan berbalik. Setelah mengetahui bahwa Elara mengalami kecelakaan, koma selama tiga minggu, dan dikhianati oleh suaminya, Adrianlah yang datang menunggunya, menjenguknya, merawatnya dari kejauhan.Karena dia telah jatuh cinta pada Elara sejak lama.Elara menatap pria di hadapannya, kebingungan masih menguasai benaknya. "Maaf, saya
Elara menatap bayangannya di cermin besar yang berdiri di sudut ruangan. Wajah itu… bukan lagi wajah yang pernah dia banggakan. Luka bakar yang menggores pipinya tampak kasar di bawah pencahayaan lampu kristal vila Adrian. Seumur hidup, dia tak pernah merasa seburuk ini.Di belakangnya, Adrian bersandar pada meja marmer dengan tangan terlipat di dada, matanya menatapnya lekat. "Kau ingin wajah lamamu kembali atau lebih dari waktu itu?" tanyanya, suaranya tenang, nyaris tanpa emosi.Elara menggigit bibirnya, menahan gejolak yang meluap-luap di dadanya. "Ya, aku ingin wajahku kembali lebih dari yang dulu," jawabnya lirih, nyaris berbisik.Adrian tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban itu. "Kalau begitu, aku akan membawamu ke seseorang yang bisa membantu."~~~Keesokan harinya, Elara duduk di ruang konsultasi sebuah klinik eksklusif di pusat kota. Ruangan itu beraroma antiseptik, dengan dinding putih bersih yang terasa terlalu steril. Di seberangnya, seorang dokter bedah terkenal
Dante berjalan melintasi halaman pesta yang mulai lengang, matanya sibuk mencari sosok Laurent di antara para tamu yang berpamitan. Pesta hampir usai, dan ia sudah lelah. Setelah menemukan Mr. Chang dan menyampaikan salam perpisahan dengan sopan, ia akhirnya memutuskan untuk pulang.Di dalam mobil, Dante duduk di kursinya dengan kaki menggantung. Wajahnya masih menyiratkan kemarahan yang tersisa dari kejadian tadi. Ia mengusap lengannya yang memerah, lalu menoleh ke arah Laurent dengan ekspresi serius."Mama, tadi aku dicubit oleh bibi kotoran," katanya dengan penuh emosi.Laurent menoleh, alisnya sedikit terangkat. Senyumnya muncul samar, tapi bukan karena kekhawatiran. Ada kilatan kepuasan di matanya."Benar kata Mama," Dante melanjutkan, tangannya mengepal kecil. "Bibi itu jahat!"Laurent mengangguk pelan, menyembunyikan kegembiraannya yang dingin. Ia melihat bagaimana kebencian mulai berakar dalam hati bocah itu, menyebar seperti racun yang ditanamkan dengan sempurna. Tidak ad
Laurent membawa Dante pergi tanpa perlawanan, langkahnya ringan seolah tak ada beban. Alicia terdiam, matanya membuntuti punggung Laurent yang menjauh, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Mengapa Laurent tidak membalasnya? Mengapa ia memilih mundur tanpa sedikit pun melanjutkan pertengkaran?Suara Damian menyusup di telinganya. "Kenapa membuat keributan di pesta orang?" bisiknya pelan, nyaris seperti teguran.Alicia mengabaikan peringatan itu, masih terpaku pada bayangan Laurent dan Dante yang semakin jauh. "Anak kecil itu…" gumamnya tanpa sadar. "Dia anak yang diadopsi oleh Laurent, kan?""Ya," Damian mengangguk. "Anak yang diadopsi setelah orang tuanya tewas dalam bencana." Ia melirik Alicia dengan alis sedikit berkerut. "Kenapa? Apa dia membuat masalah dengan Darley?"Alicia tak langsung menjawab. Pikirannya masih sibuk mencerna bagaimana Laurent, yang selalu terlihat dominan dan penuh kendali, justru memilih diam kali ini. "Aneh sekali dia hanya diam saja," kata
Adrian melangkah ke dalam taman yang telah disulap menjadi negeri dongeng, tempat pesta ulang tahun cucu seorang pengusaha sukses tengah berlangsung. Lampu-lampu kristal tergantung di antara pepohonan, sementara bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut. Musik lembut mengalun, berpadu dengan tawa anak-anak yang bermain riang di playground khusus yang disediakan.Laurent menggandeng Dante, bocah kecil itu tampak terpesona oleh keindahan pesta di sekelilingnya. Matanya yang polos berbinar kagum saat melihat dekorasi megah di taman luas itu."Mama, Dante juga mau pesta seperti ini!" serunya dengan penuh antusias.Laurent menatap anak itu, bibirnya melengkung dalam senyum kecil, tapi tak ada kehangatan di dalamnya. Senyum itu lebih seperti sebuah kewajiban daripada ungkapan kasih sayang yang tulus. Adrian memperhatikannya dari samping. Ia tahu bahwa di balik ketenangan Laurent, masih ada luka yang menganga, terutama karena bocah yang kini berada di sisinya adalah anak kandung Alicia—per
Alicia menekan nomor di ponselnya, jari-jarinya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang tertahan. Ketika suara pria di ujung sana menjawab, suaranya terdengar datar dan penuh perhitungan."Sebaiknya, kau bereskan seseorang nanti malam," kata Alicia dengan dingin."Siapa lagi kali ini?" tanya pria itu, suaranya penuh rasa ingin tahu namun tanpa emosi.Alicia menarik napas dalam, menguatkan dirinya. "Pembantu di rumah ini. Dia sudah tahu kalau ada yang menerorku dengan surat hasil tes DNA. Aku tidak mau hancur sekarang, apalagi kalau Damian sampai tahu."Sejenak, ada keheningan di seberang. Lalu pria itu tertawa pelan. "Kau tahu, kadang aku heran bagaimana kau bisa tidur nyenyak dengan semua ini."Alicia mengeratkan genggamannya pada ponselnya. "Kau tahu, kadang aku bersyukur karena Darley mati," katanya, suaranya begitu dingin hingga udara di sekitarnya terasa membeku. "Karena jika tidak, mungkin Damian lambat laun akan tahu bahwa Darley bukan anaknya, tapi anak or
Tiga tahun kemudian…“Mama!” panggil suara kecil dari seorang anak laki-laki yang baru saja turun dari kursi balitanya dengan langkah tertatih. Matanya berbinar, penuh semangat, sementara sisa makanan masih menempel di sudut bibirnya. Babysitter yang sedang menyuapinya tersenyum sabar, lalu menyeka mulut anak itu dengan lembut.Laurent, yang berdiri tak jauh dari sana, tersenyum kecil. “Kau makan dengan lahap?” tanyanya seraya mendekati anak itu.Anak laki-laki itu mengangguk penuh semangat, membuat rambutnya yang lembut bergoyang sedikit. “Enak, Ma!”Laurent berjongkok di hadapannya. “Dante, nanti malam ikut Mama dan Papa pergi ke pesta, ya.”“Pesta, Ma?” tanya Dante dengan mata polos yang membesar karena antusiasme.Laurent mengangguk. “Iya, Mama mau kenalin kamu ke teman-teman Mama dan Papa.”Dante langsung melompat kecil kegirangan. “Dante suka pesta!” serunya penuh keceriaan.Laurent tersenyum tipis, lalu berbalik dan menaiki tangga menuju lantai atas. Dia membuka pintu sebuah k
Malam itu, hujan turun deras di luar rumah keluarga Everstone.Petir menyambar di kejauhan, menerangi halaman yang basah oleh air hujan. Angin menderu di sela-sela pepohonan, membuat ranting-rantingnya bergesekan seperti bisikan-bisikan samar di kegelapan.Di balik gerbang besi Everstone, sebuah bayangan kecil tergolek di bawah lampu temaram. Sebuah selimut kusam membungkus tubuh mungilnya. Hanya suara tangisan lirih yang nyaris tersapu oleh derasnya hujan menjadi satu-satunya tanda keberadaannya.Ketukan keras di pintu utama membuyarkan keheningan di dalam rumah.Seorang pelayan bergegas membukanya dan mendapati seorang pria—petugas keamanan rumah—berdiri dengan wajah tegang."Nyonya... ada sesuatu yang harus Anda lihat," ucapnya, suaranya terdengar ragu.Alicia yang sedang duduk di ruang tamu, masih mengenakan gaun tidurnya, menoleh dengan malas. Hatinya masih berat oleh duka. "Apa lagi sekarang?" gumamnya dingin.Damian meletakkan gelas yang sedari tadi dipegangnya dan berjalan me
"Bukan apa-apa!" kata Alicia buru-buru, suaranya gemetar. Wajahnya pucat pasi, nyaris tanpa darah.Matanya melirik Damian sekilas, takut kalau suaminya bisa membaca kebohongan di balik ekspresinya. Namun, sebelum Damian sempat bertanya lebih jauh, teriakan nyaring menggema dari lantai bawah.Suara itu melengking, panik, penuh kepedihan.Alicia menegang. Itu suara ibu mertuanya.Damian langsung berbalik, langkahnya cepat menuruni tangga menuju sumber suara.Alicia berdiri terpaku sejenak, lalu buru-buru merobek surat di tangannya. Potongan kertas itu ia remas dengan tangan gemetar, lalu dilemparkan ke dalam kloset. Ia menekan tombol flush, menyaksikan kepingan bukti itu lenyap bersama air.Damian tidak boleh tahu.**Di lantai bawah, kekacauan telah pecah.Ibu Damian terduduk di lantai marmer, tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya basah oleh air mata, napasnya tersengal-sengal di antara isakan. Polisi berdiri di dekatnya, ekspresi mereka penuh kehati-hatian saat menyerahkan sesuatu padanya
Satu Hari KemudianLaurent duduk di dalam kamar bayi, menatap Darley yang tertidur pulas di dalam boksnya. Cahaya redup dari lampu meja menerangi wajah polos anak itu, napasnya naik turun dengan tenang, tidak menyadari badai yang sedang berkecamuk di luar sana.Bayi ini tidak bersalah. Laurent tahu itu.Tetapi setiap kali dia menatapnya, dia mengingat Alicia. Mengingat Damian. Mengingat bagaimana keluarganya dihancurkan oleh mereka. Kebencian membakar dadanya, tetapi dia menelannya bulat-bulat. Bukan saatnya bertindak gegabah.Pintu kamar terbuka sedikit. Salah satu anak buah Adrian masuk dengan sebuah amplop di tangannya."Nyonya, hasil tes DNA-nya," katanya dengan nada hormat.Laurent mengambil amplop itu, membukanya perlahan, meskipun dia sudah tahu apa yang akan ia temukan di dalamnya. Dan benar saja.Tidak cocok.Darley bukan anak Damian.Laurent mengembuskan napas panjang. Dia tidak terkejut, tidak juga lega. Yang ada hanya kepastian bahwa rencananya baru saja menemukan fondasi
Tengah Malam…Damian berdiri mematung, tubuhnya seolah membeku di tempat."Apa? Mati?" suaranya terdengar serak, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Asistennya mengangguk dengan wajah serius."Tapi... bagaimana bisa?" Damian bertanya lagi, suaranya sedikit bergetar, bukan karena kesedihan, melainkan karena keterkejutan yang bercampur dengan ketidakpastian.Asistennya menjelaskan situasinya dengan rinci, tetapi Damian hanya mendengar sebagian. Pikirannya melayang, matanya beralih ke Alicia yang duduk tak jauh dari sana.Wanita itu tampak murung, wajahnya dipenuhi kesedihan yang mendalam. Pikirannya jelas masih tertuju pada Darley, anak mereka yang menghilang.Damian menarik napas panjang sebelum akhirnya mengeluarkan perintah."Kalau begitu, siapkan pemakaman yang layak untuknya."Ucapan itu membuat Alicia sontak mengangkat wajahnya."Ada apa?" tanyanya bingung, matanya menyipit curiga.Damian menghela napas, lalu menatap Alicia dengan sorot mata dingin."Ibu Elar