Aji Sangkala tidak langsung menghilang sepenuhnya. Ia menemui Ki Janggan Nayantaka yang berada di luar kastil. Senyumannya membuka mata Ki Janggan Nayantaka mengenai pengorbanan yang begitu besar. Aji Sangkala adalah manusia yang ditakdirkan mati di perang seratus tahun yang lalu, namun ia juga ditakdirkan untuk kembali dan diberi kesempatan untuk menuntaskan apa yang belum selesai."Seandainya Asura dan Arya Santanu tahu siapa kau yang sebenarnya, mungkin mereka akan lebih menghormatimu." Aji Sangkala menatap lembut Petapa tua itu."Aku menjadi sosok ini karena sudah keharusan. Memang terlihat membuang-buang waktu, bila aku mau, aku bisa mengakhiri semuanya dengan cepat, namun aku tidak akan melakukannya. Karena aku masih percaya dengan dirimu dan Asura." Ki Janggan Nayantaka tersenyum."Tolong jaga mereka berdua hingga aku kembali. Ki Janggan Nayantaka, kau tahu cara untuk membangkitkanku lagi, bukan?" Aji Sangkala langsung menodong caranya."Kita harus urus masalah di sini dahulu.
Gelombang air yang menggulung sudah kembali tenang. Perlahan air itu turun dan menghilang setelah keluar melalui lubang-lubang pembuangan di sekitar sudut kanan dan kiri aula besar. Asura yang berubah menjadi seekor burung dan terbang ke arah pintu besi terlihat terkapar dengan perut terisi oleh air. Ia tergeletak tidak berdaya seperti seekor burung mati. "To–tolong… aku kembung…." Asura merasa perutnya penuh dengan air. Dewi Sari Kencana berhasil membuat kubah es pelindung untuk melindungi dirinya dan Arya Santanu. Bila ia terlibat sedikit saja, keduanya mungkin akan tenggelam dan tersapu gelombang besar itu. "Kau tidak apa-apa?" Dewi Sari Kencana terengah-engah. Tekanan gelombang besar itu membuat dirinya harus mengerahkan energi ekstra untuk memperkuat kubah pelindungnya."Em… aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana?" Arya Santanu menatap wanita yang tengah berlutut menopang tubuhnya yang terlihat lemas dengan pedangnya."Aku baik
"Hah?!" Larasati berteriak.Ia tidak bisa mendengar ucapan pria itu. Jarak di antara keduanya begitu jauh. "Aku bilang, selamat datang di altar pilar udara!" Jaka Bamantara berteriak."Maaf, aku belum bisa mendengarnya dengan baik! Bisa ucapkan lagi, tapi kali ini tolong lebih lantang!" Larasati kembali berteriak."Apa kau tuli?! Aku bilang, selamat datang! Ah, terserahlah!" Jaka Bamantara makan menjadi jengkel. Larasati yang merasa tidak enak, akhirnya menghampiri pria asing itu. Ia berjalan ke arahnya sambil melihat ukiran putih di setiap dinding dan pilar. "Maaf, tadi kau ngomong apa?" Larasati bertanya lagi."Lupakan! Aku sudah tidak ingin mengulang momen itu." Jaka Bamantara terlihat kesal."Oh, begitu. Hehehe… boleh tahu namanya?" Larasati sangat santai dalam bertanya, padahal yang ada di depannya adalah seorang musuh."Jaka Bamantara! Namamu siapa?!" Jaka Bamantara menjawabnya dengan ketus.
Dengan cepat tombak petir merah menusuk dada Jaka Bamantara hingga menembus ke bagian punggungnya. Dewi Sari Kencana langsung mengayunkan pedang teratai es dan menebas kepalanya. Larasati mundur dan mengerahkan seluruh kelopak bunga cempaka putih untuk menyayat dan memotong tubuh Jaka Bamantara menjadi beberapa bagian.Mereka bertiga berhasil menghentikan pendekar lima pilar. Sang Pilar udara akhirnya tewas dalam keadaan mengenaskan. Pusaran angin yang semula bertiup sangat kencang pun menghilang. "Akhirnya selesai juga." Arya Santanu tersenyum dan menoleh ke arah dia wanita di sampingnya."Tinggal tersisa dua lagi, kita harus bergegas." Dewi Sari Kencana ingin memasukkan pedangnya ke sarung.Tiba-tiba sebuah serangan udara menggores wajahnya. Arya Santanu dan Larasati terkejut, mereka menoleh ke arah altar dan melihat Jaka Bamantara sedang duduk bersila. "Apa?! Ba–bagaimana mungkin?!" Arya Santanu terbelalak. Ia merasa tidak percaya.
Tubuh Dewi Sari Kencana yang tertusuk dan terluka langsung tergeletak di depan Ki Janggan Nayantaka. Kakek tua itu menggunakan teknik berpindah tempat miliknya. Asura juga membawa tubuh Larasati yang tergolek lemas akibat serangan puluhan jarum udara. Keduanya segera ditangani oleh Ki Janggan Nayantaka."Asura, bantu aku dengan energi alam milikmu. Kita harus menutup lukanya." Ki Janggan Nayantaka memohon."Apa? Kukira kau bisa sendiri. Tapi kumohon cepat, aku harus kembali dan membantu Arya Santanu." Asura harus bersabar untuk kembali ke dalam kastil. Ia berharap bila temannya tidak kenapa-kenapa."Aku mengerti. Lebih baik kita lakukan sekarang, aku takut mereka berdua kehabisan darah." Tangan Ki Janggan Nayantaka menyentuh dia kepala wanita itu. Energi murni dari alam berwarna putih terang menyinari kedua tubuh wanita itu. Asura membantu Petapa tua dengan ikut mengalirkan energi miliknya yang berwarna merah tua. Dua teknik pemulihan diri dilaku
Suparnaka memungut kembali kepala miliknya yang terjatuh di lantai. Ia meletakkannya kembali ke lehernya dan merajut kepalanya sendiri dengan menggunakan benang yang yang dari tangan kirinya. Ia sempat meletakkan gada Bajapala miliknya dahulu. Benang tersebut terbuat dari serat otot miliknya sendiri. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menyatukan kembali kepalanya. Ketika semuanya selesai, giliran tenggorokan, darah dan daging yang menyatu kembali."Ia bisa menyatukan kembali anggota tubuhnya?" Asura tidak tahu bila Rakhsasa tersebut bisa melakukan hal itu."Apa kau terkejut? Mungkin, iya. Ada alasan kenapa aku tidak bisa mati meski seluruh tubuh dan dagingku tercabik-cabik. Ini adalah anugerah dari Dewa Yama, sang dewa kematian. Aku tidak akan bisa dibunuh oleh seluruh elemen dan oleh semua senjata. Aku akan bangkit berkali-kali lagi dan akan memburu yang ingin membunuhku." Suparnaka tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya. Seakan ia ingin sombong dengan an
"Apa maksudmu dengan ayah? Apa ia ayahmu?" Ki Janggan Nayantaka bertanya karena bingung dan begitu terkejut."Ia membuang aku dan ibuku. Ayahku membuang ibuku dan mengusirnya keluar dari Sundapura ketika aku berumur sepuluh tahun. Kami berdua hidup di gubuk tua dan berakhir dengan kematian ibuku karena penyakit aneh yang menyerangnya." Rangga Jaya menundukkan wajahnya. Ia teringat kembali dengan mendiang ibunya."Penyakit aneh? Penyakit seperti apa maksudmu?" Ki Janggan Nayantaka kembali bertanya."Seseorang yang memiliki kemampuan penyembuhan dan memiliki kesaktian mengatakan kepadaku tentang kebenaran dari penyakit itu. Ia bilang bahwa ada roh jahat yang merasuki tubuh ibuku dan menghisap semua saripati hidupnya. Dan orang yang melakukan semua itu adalah Raden Jaya Balangkara, ayahku sendiri." Rangga Jaya mengepalkan erat tangan kanannya. Amarah eindakam hatinya timbul."Sungguh biadab! Ia bukan ayahmu, ia adalah iblis! Menumbalkan istrinya send
"Sangat menyusahkan! Ingin sekali aku segera menebas kepala orang itu!" Dewi Sari Kencana menunjuk ke arah Raden Jaya Balangkara. "Sebaiknya kita masuk sekarang. Tidak ada Buto dan para roh jahat lagi. Kita bisa memasuki kediaman Raden Jaya Balangkara dengan mudah saat ini." Rangga Jaya coba memberi saran. "Aku setuju dengannya." Dewi Sari Kencana menoleh ke Ki Janggan Nayantaka dan Larasati. "Aku ikut saja, bagaimana menurutmu, Ki Janggan Nayantaka?" Larasati bertanya. "Heuh… baiklah! Cepat kita masuk!" Ki Janggan Nayantaka akhirnya setuju. Rangga Jaya memandu mereka bertiga untuk melewati gerbang utama kediaman rumah Raden Jaya Balangkara. Anehnya tabir pelindung hitam yang menyelimuti rumah tersebut begitu mudah dilewati oleh Rangga Jaya yang merupakan manusia biasa. Melihat hal itu, Ki Janggan Nayantaka yang segera ingin masuk langsung menghentikan langkah dua wanita di belakangnya. Ia merasa ada yang aneh dari gelagat Rangga Jaya. Bagaimana mungkin manusia biasa bisa melewa