"Nia!"Nia menolehkan kepalanya pada panggilan lembut seorang wanita. Wajahnya seketika tegang mendapati wanita itu tengah menatapnya dengan tersenyum kemudian menipiskan jarak dan memeluknya. Untuk beberapa detik Nia masih terpaku belum membalas pelukan tersebut sampai suaranya kembali terdengar. "Mama kangen banget sama kamu. Maafin Mama ya sudah buat kamu sedih."Saat itu juga hati Nia berdesir, mendengar suara serak menahan sesuatu. Pada dasarnya ia tidak membenci wanita itu, tetapi karena dia membenci Bara jadi otomatis akan membenci siapa saja yang berkaitan dengan mantan suaminya itu."Mama tahu kamu pasti benci dengan Mama," ucap Riana lalu mengurai pelukan karena ia merasa Nia masih memberi jarak, terlihat dari sikapnya yang tidak membalas pelukan ataupun berkata-kata. "Tapi, Mama sayang sekali sama kamu." Pada ucapan terakhir Riana meneteskan buliran bening dari sudut matanya.Sontak Nia langsung teringat sosok sang Bunda, yang sama-sama menyayanginya."Ma ...!" panggil Nia,
TingBunyi pesan masuk di ponsel Bara, mengalihkan pandangannya dari layar laptop di meja kerjanya. Bara meraih ponselnya yang berada di sisi kanan duduknya. Dengan malas membuka layar yang sudah mengelap itu, lalu seketika maniknya melebar saat nama Nia Sayang adalah sang pengirim pesan. Jantungnya berdegup kencang, pasalnya ini adalah kali pertama wanita itu mengirimkan pesan pasca bercerai."Kalau mau ketemu Bima, datang ke rumah dan segera pergi ketika aku pulang." Itulah isi pesan Nia.Wajah Bara berubah sendu. Ia pikir Nia sudah bisa memaafkan dirinya meski ia sadar kesalahannya terlalu besar."Oke, aku pastikan kamu akan kembali padaku," gumam Bara mendadak kepercayaan dirinya muncul lalu seringai tipis dari bibirnya. "Tidak lama lagi."Tanpa menunda lagi, segera ia bereskan kerjaannya dan beranjak ke rumah Nia. Tak lupa Bara sengaja mampir di supermarket dulu untuk membelikan Bima makanan ringan.Beberapa jam kemudian, Bara menghentikan mobilnya di depan rumah bernuansa minim
"Yakin, mau melepaskan jabatan Rektor demi wanita, hmm?"Setelah kemarin mencoba berbaikan dengan Nia, nyatanya wanita itu masih menutup rapat pintu hatinya, mungkin juga maafnya karena Nia selalu diam saat Bara meminta maaf. Dan Bara sudah bertekad untuk mengejar kembali mantan istrinya itu. Dan yang terpikirkan olehnya saat ini adalah berada di dekatnya. Keputusan yang ia ambil adalah, melepaskan jabatannya sebagai Rektor dan meminta tempat di rumah sakit milik sang sepupu, Kalandra. Toh, sebelum menjadi Rektor, ia adalah seorang Dokter, jadi tidak ada masalah dengan perubahan itu."Bukan wanita, Ndra," jawab Bara lalu menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Tapi demi keluarga kecilku.""Bulshit!" Andra menjawab cepat dengan tatapan datar. "Jangan bodoh karena wanita. Ingat, dia pernah selingkuh. Ah, wanita dimana saja sama a-""Stop!" Bara melotot tajam mendengar hinaan dari sang sepupu. Kepala Bara mengeleng. "Dia tidak selingkuh, aku yang sudah salah paham deng
Ketukan pada jendela kaca mobil, menghentikan dua orang yang saling menempelkan bibirnya itu. Nia yang lebih dulu sadar, kemudian dia mendorong kasar dada Aldo untuk menjauh."Kalau seperti ini apa aku harus menikahimu besok?" tanya Aldo menatap lekat Nia, mengabaikan suara di luar yang sudah berisik.Ketukan itu kembali terdengar dan kali ini terdengar lebih kencang."Buruan turun, atau kamu mau kita dinikahkan sekarang juga di sini, hah?" suara Nia bukan seperti orang memerintah tetapi menggoda Aldo. Wanita itu memberikan kerlingan di matanya."Sudah berani ya, kamu!" gumam Aldo sambil menggelengkan kepalanya, melihat ulah Nia.Tok tok tok. Ketukan itu semakin kencang dan Aldo masih betah di dalam mobil."Buruan keluar!" sentak Nia pada akhirnya yang melihat Aldo tidak terpengaruh sama sekali.Aldo membuang napas panjang, masih memikirkan Nia. Kenapa wanita itu dengan mudahnya bisa menggodanya."Oke," balasnya sebelum membuka pintu dan turun. "Mas, kenapa berhenti mendadak? Kamu ga
“Mulai minggu depan, anda akan menjadi asisten Dokter baru di poli umum!” ucap Kalandra tegas. “Dan untuk urusan mendampingi suster baru, sudah saya limpahkan sama yang suster lain.”Siapapun pasti tahu siapa sosok pria bernama Kalandra atau biasanya yang orang tahu Dokter arogan. Kalandra atau yang biasa disapa Dokter Andra adalah Direktur Aditama Hospital sekaligus putra dari pemilik rumah sakit.Nia masih bertahan di tempat duduknya tanpa bertanya lebih dulu. Menghadapi Andra harus dengan tenang kalau salah melangkah akan berakhir dengan pemecatan. Sudah banyak kasus, Dokter, perawat ataupun pegawai rumah sakit yang tidak menurutinya akan dipecat saat itu juga. Dan Nia tidak bisa membayangkan kalau ia dipecat. Bagaimana dengan anak dan Bundanya kalau itu semua terjadi. Ah, Nia hanya bisa mengelus dada untuk bersabar menghadapi orang nomor satu di rumah sakit ini.“Saya tahu kinerja anda yang baik dan selalu bersikap professional terhadap pekerjaaan. Saya harapkan juga kalau anda ju
"Bun, mobil siapa di depan itu?" tanya Nia ketika sudah masuk ke dalam rumah dan tadi di halaman sempat melihat mobil yang sebelumnya tidak pernah ia kenali. Kalaupun mobil tamu, Nia tidak yakin itu tamunya karena melihat mobil yang harganya bisa ditaksir ratusan juta itu. "Bunda ada tamu, siapa?" Sang Bunda menatap Nia dengan binggung, apakah ia yang harus mengatakannya sendiri atau sang pemilik."Bun, itu mobil siapa di depan?" Nia mengulangi pertanyaannya. Melihat reaksi sang Bunda yang tampak bingung, Nia mulai curiga. Pasti ada yang tidak beres ini, batinnya.Kakinya hendak melangkah namun, sang Bunda memanggilnya. "Nia, janji sama Bunda kamu harus tenang!" ucap Maria sambil menarik lengan Nia agar mendengarkannya.Sementara dari dalam kamar, suara Bima tiba-tiba muncul dan mengalihkan ketegangan diantara Ibu dan anak itu."Mama!" teriaknya lalu menghampiri Nia. Bocah tampan itu bergelanyut manja pada kaki Nia. "Ma, Bima punya mobil baru dibelikan Papa! Ayo kita coba mobil barun
Nia melepas tangan besar yang membelit pinggangnya. Ia memang mengijinkan Bara untuk datang dan bertemu dengan Bima, tetapi untuk kembali bersama dengan mantan suaminya itu, belum ia pikirkan.Ada trauma yang belum sembuh darinya. Takut kalau Bara akan mengulangi kesalahannya dulu, ketika tidak percaya padanya lagi. Meski tidak menutup kemungkinan pria itu juga bisaa berubah menjadi lebih baik."Maaf, mungkin kamu masih merasa sakit hati denganku, tapi bisakah kita memulai dari awal lagi? Kita baangun keluarga kecil kita bersama dengan Bima," lanjut Bara meyakinkan Nia. Ia akan berusaha meruntuhkan hati Nia yang sudah membatu."Pergilah, Mas!" pinta Nia setelah berhasil melepas diri dari Bara dan mengabaikan ucapan pria itu. Untuk sementara ia akan bersikap acuh dari pria itu dan akan melihat seberapa besar tekadnya untuk bertahan ketika selalu mendapatkan penolakan-penolakan dari Nia. Nia sudah melangkah keluar kamar sambil berteriak, "Bima, Papa mau pulang nih!" Ya, Nia mengusir Bar
“Bun, aku baringkan di kamar atau di sofa?” tanya Bara, sedang Bima ada dalam gendongan pria itu. Kakinya melangkah memasuki rumah setelah beberapa saat yang lalu mengajak jalan-jalan Bima dengan mobil barunya.Selama beberapa jam yang lalu, Bara mengajak putranya itu untuk mencoba mobil barunya. Mereka jalan-jalan, berkeliling menyusuri jalanan yang sepi agar bisa merasakan nikmatnya duduk di mobil. Bara sendiri tidak tahu apakah putranya itu pernah merasakan nyaman berada di mobil saat tahu kalau Nia pasti kesulitan memberikan mobil untuk Bara. “Langsung di kamar saja, kasihan Nia kalau harus membopong Bima kalau pulang kerja nanti!” pinta Maria, lalu berjalan di depan untuk menuju kamar yang dimaksud, yaitu kamar Nia dan Bima.Setelah sampai di kamar yang kemarin sempat ditiduri oleh Bara, pria itu membaringkan sang putra dengan perlahan. Bara juga menyelimutinya sebatas dada lalu memberi kecupan hangat di kening bocah tampan yang mirip dengannya itu sambil berucap, “Good night,