Suara pistol terdengar bergema di udara. Namun, tidak ada adegan percikan darah seperti yang dibayangkannya. Bagian tubuh Yoga yang tertembak tidak ada bekas sama sekali. Pelurunya telah hilang begitu saja. Situasi seperti apa ini? Ke mana perginya peluru itu?Yoga membuka telapak tangannya perlahan-lahan. Peluru yang telah berubah bentuk itu tergeletak dalam telapak tangannya.Pria botak itu langsung terperangah. Orang ini benar-benar bisa menangkap peluru dengan tangan kosong! Pria botak itu merasa sial bertemu dengan orang gila seperti Yoga. Dia tidak berniat untuk bertarung lagi, melainkan ingin melarikan diri. Namun, Yoga malah mencengkeram tangannya dan menekannya dengan perlahan.Bagaikan ditekan oleh mesin seberat ribuan ton, tangan pria botak itu meledak bersamaan dengan peluru. Rasa sakit itu membuatnya berguling-guling di lantai dan berteriak histeris."Di mana Karina? Cepat bawa aku cari dia," perintah Yoga."Baik, baik!" Pria botak itu tentu tidak berani melawan. Dia langs
"Pak, tolong kami. Huhuhu .... Kami nggak mau dijual jadi budak di luar negeri."Yoga menghibur mereka, "Tenang saja, kalian akan baik-baik saja. Aku akan bawa kalian pergi sekarang juga.""Terima kasih!" Semua orang bersujud untuk berterima kasih kepada Yoga. Yoga langsung menggendong Karina yang telah pingsan ke geladak kapal. Namun, pemandangan di hadapan mereka malah membuat semua orang merasa putus asa.Entah sejak kapan, kapal nelayan itu telah dikepung oleh puluhan kapal perang. Kapal perang itu dilengkapi dengan senjata api yang diarahkan kepada mereka. Ratusan tentara angkatan laut bersenjata lengkap mengawasi mereka dengan waspada.Melihat penampilan para angkatan laut dan bendera di kapal perang, semua orang ini seharusnya adalah pasukan Negara Jepana. Tentu saja, Tiano telah berada di kapal musuh. Dengan wajah yang marah, dia berkata pada Yoga, "Yoga, kamu kira kamu sudah menang ya? Salah besar! Ingat, orang yang terakhir kali tertawa adalah pemenangnya!"Yoga membalas, "Sa
Tiano menelan ludah dengan gugup, tetapi tidak berbicara sama sekali. Dia benar-benar percaya sekarang. Sebagai Raja Hansa dan dewa bisnis di seluruh dunia, Yoga memiliki koneksi dengan pemimpin negara-negara besar. Dia bisa meminjam kapal induk dari kepala negara itu dengan mudahnya.Setelah itu, terdengar suara gemuruh dari bawah permukaan laut. Selanjutnya, diikuti dengan empat buah benda besar yang menyembul ke permukaan. Benda itu adalah empat buah kapal selam kelas atas berskala internasional. Di seluruh dunia, negara yang memiliki kapal selam seperti ini tidak lebih dari 10 negara.Setelah melihat tanda yang tertera di kapal selam tersebut, Tiano sontak tercengang. Ini adalah kapal selam dari "Penguasa Lautan". "Penguasa Lautan" tidak dimiliki oleh negara mana pun, benda itu adalah legenda militer laut yang diciptakan secara pribadi. Meskipun kekuatan ini bersifat pribadi, kekuatan militernya termasuk dalam lima besar di seluruh dunia. Dikatakan bahwa mereka juga memiliki kapal
"Yoga, ada apa dengan luka di wajahmu ini?" tanya Erna.Yoga mengelus bekas luka di wajahnya dan berkata, "Tadi ada serpihan torpedo yang melintasi wajahku. Nggak apa-apa, kok.""Sialan!" Erna melemparkan tatapan tajam ke arah Tiano. "Orang yang berani melukai adik juniorku harus masuk ke neraka!"Tiano buru-buru menjelaskan, "Jelas-jelas torpedomu yang melukainya, kami sama sekali nggak menembakkan torpedo."Terna membalas, "Kalau bukan gara-gara kalian, mana mungkin aku menembakkan torpedo? Pada akhirnya, semua ini salah kalian.""Kamu ...." Tiano benar-benar kehabisan kata-kata. Wanita ini tidak bisa diajak bicara dengan rasional. Erna kembali menyergahnya, "Kamu nggak bisa mengelak lagi, 'kan? Rasakan kekuatan dari nuklirku.""Tunggu!" teriak Yoga menghentikannya, "Kak Erna, nggak pantas kamu menghabiskan nuklir deminya. Sebaiknya biarkan aku yang habisi dia saja, sekalian bisa melampiaskan dendam di hatiku.""Boleh juga!" Erna melambaikan tangannya, lalu muncul seutas tali merah d
"Aku ...." Kaisar Jepana kehabisan kata-kata. Perkataan Erna ini tepat mengenai titik kelemahannya. Setelah diam beberapa saat, dia langsung mematikan panggilan tersebut. Hal ini berarti dia telah merelakan pasukannya sendiri.Erna berkata, "Baiklah, mereka semua sudah bisa mati."Setelah sebuah badai berdarah berlalu, permukaan laut itu akhirnya kembali tenang. Hanya saja, permukaan laut telah dinodai dengan warna merah saat ini. Yoga berkata kepada Erna, "Kak Erna, kamu jangan berlayar lagi di lautan. Ikut aku ke daratan saja. Dunia darat lebih seru dari yang kamu bayangkan."Sejak lahir, Erna selalu berlayar di atas lautan. Selain Pulau Neraka, dia tidak pernah lagi menginjak daratan mana pun. Alasan itu jugalah yang membuat temperamennya menjadi sangat penyendiri dan dingin. Yoga selalu membujuk Erna untuk kembali ke daratan dan menjalani kehidupan orang normal.Namun sesuai dugaan, Erna tetap menolaknya dengan tegas, "Aku nggak mau ke daratan. Kamu temani aku beberapa saat di laut
Setelah mendengar penjelasan Dirga, Yoga mulai merasa cemas. Namun, dia tetap tidak menyerah. "Nggak masalah! Mereka memang hebat, tapi kekuatanku juga nggak bisa diremehkan."Dirga menghela napas. "Haeh, kamu atur saja sendiri."Erna berkata dengan dingin, "Huh, Jahanam Bumi apanya? Aku akan habisi orang yang berani melukai adik juniorku ini."Yoga merasa sangat terharu. Meski sifat Erna sangat dingin, dia benar-benar tulus memperlakukan Yoga dengan baik dan rela mengorbankan nyawa untuk melindungi Yoga. Terkadang, Yoga merasa Erna seperti seorang ibu baginya.Yoga membawa Erna ke vila tempat tinggal Roselia dan ingin menempatkannya di sini untuk sementara. Saat baru saja memasuki vila, Erna langsung mengendus-endus dan mengernyit. "Kenapa sepertinya aku mencium bau si genit itu?""Si Genit" adalah julukan yang diberikan Erna kepada Roselia. Yoga langsung menjelaskan, "Kak, di sini adalah vila Kak Roselia.""Apa?!" Ekspresi Erna sontak berubah. Dia melihat penampilan Yoga seakan-akan
Namun, tak disangka Erna malah tidak naik pitam. Dengan nada tenang, dia bertanya, "Sudah berapa bulan?" Reaksi Erna membuat Roselia juga ikut terkejut.Tanpa pikir panjang, dia membalas, "Sudah delapan bulan, sebentar lagi mau melahirkan."Erna mencibir, "Kamu hamil telur bebek? Perutmu nggak kelihatan besar sama sekali."Roselia langsung menyergah, "Hush! Kamu yang hamil telur bebek. Badanku memang langsing, makanya nggak terlihat besar.""Haha! Dua bulan yang lalu kamu masih di Pulau Neraka dan nggak pernah keluar dari sana sama sekali. Kalaupun memang hamil, nggak ada hubungannya sama Yoga," balas Erna."Jangan bicara sembarangan. Delapan bulan yang lalu, aku melarikan diri dari pulau dan hamil pada saat itu," balas Roselia."Oh ya? Kamu diam-diam keluar dari pulau, itu melanggar aturan. Aku akan laporkan hal ini pada Guru dan menyuruhnya menghukummu!""Kamu berani?!" Roselia mulai marah.Melihat situasi yang tidak beres, Yoga langsung mengalihkan pembicaraan, "Kak Erna, Kak Roseli
Jeje mengejeknya, "Omongan pria memang nggak bisa dipercaya. Kak Yoga nggak sanggup menghadapi mereka, makanya menyuruhku datang untuk membantu, 'kan?"Yoga merasa agak bersalah, "Nggak kok, aku cuma menyuruhmu datang untuk reunian.""Nggak usah banyak omong kosong. Pokoknya aku nggak bisa bantu secara gratis.""Oke, katakan saja syaratmu," kata Yoga."Tahu goreng untuk seumur hidupku masih belum jelas sampai sekarang," timpal Jeje."Serahkan saja semua itu padaku," balas Yoga. Entah mengapa, gadis loli yang imut ini punya selera sebesar itu.Jeje baru tersenyum setelah mendengarnya, "Terima kasih Kak."Setelah itu, Jeje melompat dengan riang ke dalam vila. "Kak Erna, Kak Roselia, aku rindu sekali sama kalian. Akhirnya kalian mau mengajakku main."Roselia menenangkan dirinya, lalu berkata, "Jeje, Kakak juga sudah rindu padamu. Sini, coba Kakak lihat kamu ada perubahan nggak."Erna juga ikut perhatian, "Jeje, bukannya sudah kusuruh banyak minum susu? Kenapa kamu nggak dengar nasihat Kak
"Ternyata kamu seorang kultivator raja juga?" tanya keempat kultivator raja itu dengan ekspresi yang berubah dan tatapan yang aneh. Dengan kekuatan yang begitu luar biasa, Yoga sudah bisa berjalan dengan bebas di dunia kultivator kuno. Apalagi orang ini memiliki hubungan darah dengan mereka, ini adalah sebuah kesempatan yang langka bagi keluarga mereka."Bukankah kalian ingin membunuhku? Ayo maju," teriak Yoga dengan petir yang menyambar-nyambar dan aura yang kuat memenuhi ruangan itu."Yoga, kamu adalah keturunan dai Keluarga Kusuma. Kalau sekarang kamu berlutut untuk minta maaf dan menyerah, aku akan menerimamu kembali ke Keluarga Kusuma," kata salah satu kultivator raja Keluarga Kusuma dengan dingin."Ibumu adalah anggota Keluarga Husin. Asalkan kamu bersedia mengabdi pada Keluarga Husin, aku akan menerimamu dan ibumu kembali ke Keluarga Husin," teriak salah satu kultivator raja Keluarga Husin dengan lantang.Saat ini, kedua keluarga itu sudah bisa melihat kekuatan Yoga, mereka tent
Yoga memegang kepala Samsul dan Timothy dengan kedua tangannya, lalu menghantamkannya ke lantai dengan keras.Bang!Samsul dan Timothy tergeletak di lantai dengan tubuh yang berlumuran darah dan tulang patah. Mereka memang masih hidup, tetapi hanya bisa bernapas saja. Mereka menatap Yoga dengan tatapan yang terkejut dan tidak percaya karena mereka benar-benar tidak menyangka Yoga akan begitu kuat. Hanya dalam beberapa saat saja, Yoga sudah berhasil mengalahkan mereka."Kalian masih belum cukup layak melawanku," kata Yoga dengan nada dan tatapan yang dingin. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan-lahan berbalik dan pergi.Saat sudah berada di luar pintu, Yoga melihat ke sekeliling yang sudah dipenuhi dengan orang-orang. Sebagian orang itu berasal dari Keluarga Kusuma dan Keluarga Husin, sedangkan sisanya adalah orang yang datang ke sana untuk menyaksikan pertempuran itu."Karena kalian sudah datang, keluarlah," teriak Yoga dengan lantang.Kerumunan orang itu langsung tertegun seje
"Omong kosong. Sejak kapan kami bersekongkol dengan manusia hantu? Selain itu, kamu bilang dia ini Yoga?" tanya Samsul dengan ekspresi terkejut dan menatap Yoga dengan bengong.Suasana hati orang-orang dari Keluarga Kusuma menjadi rumit dan tatapan mereka menjadi makin tajam. Bagaimanapun juga, Yoga adalah sosok yang sudah membuat Keluarga Kusuma di dunia bela diri kuno rugi besar. Namun, sekarang orang ini ternyata berdiri di depan mereka dalam keadaan hidup."Huh! Nggak perlu banyak omong kosong. Serahkan Yoga atau kalian akan menjadi musuh Keluarga Husin," teriak Timothy dengan dingin."Kamu berani mengancamku? Keluarga Husin ternyata makin berani," kata Samsul dengan ekspresi dingin dan menggertakkan giginya. Sebagai sesama salah satu dari empat keluarga besar, dia tidak menerima Keluarga Husin berani mengancam Keluarga Kusuma.Saat ini, ekspresi semua orang yang berada di sana terlihat tegang dan suasana itu terasa makin panas.Tepat pada saat itu, Yoga kembali berulah dan berkata
"Apa?" Semua orang yang berada di tempat itu terkejut dan ekspresi mereka terlihat sangat muram."Siapa mereka?" tanya Samsul dengan nada dingin."Mereka ... adalah orang-orang dari Keluarga Husin," jawab bawahan itu.Dalam sekejap, ekspresi semua orang menjadi muram. Mereka saling memandang dengan mengernyitkan alis karena merasa gelisah."Ini .... Kamu orang dari Keluarga Husin ya?" tanya Samsul yang tiba-tiba menoleh dan menatap Yoga dengan mata yang bersinar.Pada saat itu, Yoga baru perlahan-lahan berdiri dengan ekspresi bangga, lalu tersenyum dingin dan berkata dengan tenang, "Aku rasa aku nggak perlu menyembunyikan identitasku lagi, aku adalah Olga Husin.""Dasar bajingan! Jadi kamu ini orang dari Keluarga Husin, ternyata semua ini adalah konspirasi dari Keluarga Husin," teriak Samsul dengan marah."Benar. Sekarang kalian sudah tahu pun nggak ada gunanya lagi, nggak ada yang bisa menyelamatkan kalian. Bersiaplah untuk mati," teriak Yoga dengan lantang dan aura yang menekan.Kata
Di bawah arahan pemimpin pengawal itu, Yoga dibawa ke sebuah tempat yang terbuka. Sudah ada tiga puluhan ahli yang berdiri tegak di sana dan menatap Yoga dengan ekspresi serius. Sementara itu, seorang paruh baya sedang duduk di kursi dan menunggu dengan tenang."Aku Samsul dari Keluarga Kusuma. Kamu orang dari Rumah Lelang Diseto yang menjual besi hitam?" tanya Samsul sambil mengamati Yoga dari atas ke bawah dengan tatapan yang tajam karena dia merasa ada yang tidak beres dengan pria yang seluruh tubuhnya tertutup ini. Aura di tubuh pria ini tidak terasa seperti orang tua, melainkan seorang pemuda.Sementara itu, tatapan Samsul yang tajam membuat Yoga merasa tidak nyaman.Yoga menjawab, "Benar, aku orangnya."Samsul berkata, "Barang yang kamu inginkan sudah siap. Kalau sudah setuju, kita bisa mulai bertransaksi sekarang."Yoga berkata, "Baiklah, tapi aku harus memeriksa barangnya dulu."Samsul pun menganggukkan kepala sebagai isyarat pada bawahannya.Tak lama kemudian, anggota Keluarga
Yoga berdiri tegak dengan aura penuh wibawa. Ekspresinya serius saat berbicara demikian. Kata-katanya langsung membuat Sutrisno tertegun.Ini ... ini pasti hanya bercanda, 'kan? Sutrisno bahkan merasa seperti sedang berkhayal. Seandainya orang lain yang mengatakan hal itu, dia pasti sudah marah. Namun sayangnya, orang yang mengatakannya adalah Yoga.Dalam suasana tegang ini, sebuah suara jernih tiba-tiba terdengar. "Kalau begitu, aku besok bisa melakukan apa?" Suara itu berasal dari seorang wanita yang melangkah masuk dari pintu. Sosoknya anggun dan menawan. Itu adalah Winola.Sutrisno langsung tersentak. Matanya membelalak tak percaya ketika bertanya, "Kamu ... sudah dengar semuanya?""Ya." Winola tidak berniat menyangkalnya. Dia pun mengangguk ringan. Dia telah mendengar cukup banyak, bahkan bisa menebak bahwa Yoga pasti sedang merencanakan sesuatu untuk besok.Terutama saat mendengar rencana Yoga untuk mengguncang dunia kultivator kuno. Di dalam hatinya, semangatnya menggebu-gebu. D
Seiring dengan tertidurnya Bimo, tidak ada jawaban sama sekali ketika Yoga memanggilnya dua kali. Dia benar-benar telah tertidur.Yoga bergumam dalam hati. Dia merasa sedikit tidak yakin. 'Satu bulan ... bisakah aku menemukannya?'Benda seperti itu, bahkan ketika Yoga sendiri masuk ke area terlarang, hanya bisa menemukan satu. Sementara dua benda yang tersisa ... dia sama sekali tidak memiliki petunjuk. Selain itu, kini dirinya juga telah menjadi target dari para penjaga gerbang.Setelah berpikir panjang, Yoga menyadari bahwa dia harus mempercepat langkahnya. Setelah melalui berbagai rintangan dalam perjalanan pulang, Yoga akhirnya kembali ke vila.Namun begitu masuk ke dalam, Yoga langsung melihat Sutrisno sudah duduk di ruang tamu. Dia sedang menunggunya dengan ekspresi penuh kegelisahan."Apa itu kamu? Sebenarnya kamu bukan? Apa kamu yang bunuh anggota Keluarga Husin?" tanya Sutrisno dengan nada cemas. Dia terus-menerus menekannya untuk memberikan jawaban.Yoga menghela napas. Dia m
"Benar! Kita harus rebut kembali obat-obatan. Besi hitam nggak boleh jatuh ke tangan mereka!""Tapi ... di mana manusia hantu lainnya? Bukannya yang ada di sini kebanyakan hanya orang-orang dari Keluarga Husin?" Di tengah kerumunan, seseorang tiba-tiba mengajukan pertanyaan itu.Sutrisno membalas dengan santai, "Apa pedulimu? Mereka memang nggak pernah akur satu sama lain. Mungkin mereka langsung kabur begitu keadaan menjadi genting!"Mendengar itu, orang-orang yang ada di sana pun mengangguk-angguk seakan menerima penjelasan tersebut tanpa banyak berpikir.Winola melirik Sutrisno sekilas. Pikirannya penuh dengan beban berat. Di tempat ini, hanya dia dan Sutrisno yang memiliki hubungan dekat dengan Yoga. Mereka berdua sangat memahami kepribadian Yoga. Kemungkinan besar, Keluarga Husin telah dijebak olehnya.Tak lama setelah itu, orang-orang mulai bergerak. Mereka berpencar untuk mencari keberadaan Keluarga Husin.Saat ini, Yoga duduk bersila dalam meditasi di kejauhan. Setelah beberapa
"Yang aku inginkan adalah membuat Keluarga Husin benar-benar tunduk sepenuhnya! Rasa takut? Itu nggak ada dalam kamusku!" Suara Yoga penuh dengan keangkuhan dan keyakinan mutlak.Di tempat itu, para manusia hantu hanya bisa terdiam. Mereka semua menatapnya dengan ekspresi kosong. Namun, di mata mereka kini muncul kilatan kekaguman yang makin mendalam.Bagaimanapun juga, orang yang berani bersikap begitu arogan, yang berani berhadapan langsung dengan Keluarga Husin, bukanlah orang biasa. Keberanian seperti ini ... tidak dimiliki oleh semua orang!"Gawat! Ada orang-orang dari tiga kekuatan lain yang datang! Mereka adalah anggota dari tiga keluarga besar lainnya!" Tiba-tiba, suara seseorang menggema.Semua orang di sana langsung tersentak kaget. Mereka segera menoleh ke arah Yoga. Tiga keluarga besar lainnya ... datang juga?Prajna mengusulkan dengan nada tegang, "Apa yang harus kita lakukan? Sebaiknya kita segera pergi!"Yoga tersenyum licik. Sepasang matanya berkilat penuh arti ketika b