Tebakan Kahar benar. Setelah menemukan kuda baru, mereka segera melaju ke Kuil Bulani. Ketika tiba di sana, mereka melihat Kama sedang dikelilingi para biksuni yang menodongkan tongkat ke arahnya. Para biksuni itu juga memelototi Kama dengan marah.“Syakia! Syakia, keluar! Ini Kak Kama! Aku datang untuk minta maaf padamu! Syakia! Aku mohon, keluar dan temuilah aku!” seru Kama dengan histeris di luar Kuil Bulani.Shanti yang berdiri di depan gerbang kuil berkata dengan dingin, “Kalau kamu mau minta maaf, minta maaflah di sini. Aku akan sampaikan permintaan maafmu kepada Sahana.”“Nggak bisa!” Kama menggeleng dan menjawab, “Aku mau Syakia keluar untuk temui aku. Sudah seharusnya aku minta maaf secara langsung padanya.”“Nggak usah,” tolak Shanti tanpa ragu. Kemudian, dia melanjutkan, “Temperamenmu sangat nggak bisa ditebak. Untuk mencegah kejadian yang sama terulang, kamu nggak perlu ketemu sama Sahana lagi.”Begitu mendengar ucapan Shanti, Kama pun melongo di tempat. “Apa maksudmu aku n
“Maaf Syakia. Kakak benar-benar minta maaf. Kakak benar-benar pantas mati! Huhuhu ....”Kama tidak berhenti minta maaf. Pada akhirnya, dia tidak dapat mengendalikan emosinya dan langsung menangis tersedu-sedu.Para biksuni yang mengelilingi Kama pun saling memandang. Mereka tidak menyangka Kama akan tiba-tiba menangis seperti ini. Apa yang harus dilakukan mereka sekarang? Mereka pun menoleh ke arah Shanti yang berdiri di depan gerbang.Shanti memberi isyarat mata kepada para biksuni. Mereka pun menyimpan tongkat mereka, lalu berjalan kembali ke belakang Shanti.“Aku sudah dengar permintaan maafmu dan akan menyampaikannya pada Sahana.” Meskipun tampang Kama sekarang sangat menyedihkan dan dia juga menangis dengan sedih, hati Shanti sama sekali tidak tergerak. Seusai berbicara dengan dingin, dia pun memerintahkan orang untuk menutup gerbang kuil dan membiarkan Kama lanjut menangis di luar.Kahar merasa kakaknya itu sangat memalukan. Dia langsung melangkah maju dan menendang Kama. “Kak
“Ya sudah. Kalau kamu nggak suka, Guru nggak akan ungkit lagi soal mereka.” Shanti mengelus kepala Syakia, lalu memeriksa tugas Syakia sambil berkata, “Oh iya, nanti, kamu ikut Guru turun gunung ya.”“Hmm? Aku boleh ikut Guru turun gunung?” Syakia awalnya kurang bersemangat. Begitu mendengar ucapan Shanti, matanya langsung berbinar.“Tentu saja boleh.” Shanti tertawa, lalu melanjutkan, “Aku punya seorang pasien dan harus turun gunung untuk mengobatinya.”Setelah berhenti sejenak, Shanti berkata dengan agak ragu, “Tapi, kamu mungkin akan agak canggung kalau ketemu sama dia.”“Siapa dia?” tanya Syakia dengan penasaran.“Nyonya Juwita dari Kediaman Pangeran Darsuki.”Begitu mendengar jawaban Shanti, Syakia langsung mengerti apa yang dikhawatirkannya. Nyonya Juwita dari Kediaman Pangeran Darsuki merupakan nenek Panji, mantan tunangannya itu.Syakia tersenyum dan menjawab, “Ternyata Nyonya Juwita. Nggak apa-apa, Guru. Pertunanganku dengan keluarga mereka sudah dibatalkan. Berhubung kita buk
Syakia sama sekali tidak menanggapi Ike. Baginya, bibinya itu tidak pernah menyukainya.Awalnya, Syakia mengira itu memang sifat bibinya. Sampai Ayu tiba di Kediaman Keluarga Angkola dan Ike memperlakukan Ayu dengan penuh kasih sayang, dia baru tahu bahwa bibinya itu memang murni tidak menyukainya.Jadi, meskipun Ike memanggil Syakia, Syakia juga hanya duduk diam di tempat, seolah-olah tidak mendengar ucapannya. Melihat Syakia yang hanya duduk diam, Ike langsung berjalan masuk dengan tidak senang.“Ngapain kamu? Kamu nggak lihat bibimu ini, juga nggak tahu kamu harus menyapa seniormu? Dasar anak nggak tahu sopan santun!” Ike juga mengulurkan tangannya untuk menarik pakaian Syakia dan melanjutkan, “Cepat berdiri! Kamu nggak tahu kamu harus mengalah dan kasih tempat dudukmu pada seniormu!”“Nyonya.” Shanti menahan tangan Ike, lalu berkata dengan dingin, “Harap jangan sentuh muridku atau berbicara nggak sopan.”Ike melirik Shanti dan merasa dia hanyalah seorang biksuni tua.“Wah, Syakia,
Terakhir kali mereka bertemu adalah pada saat perayaan tahun baru. Kini, setelah beberapa bulan berlalu, Juwita tidak menyangka anak yang seharusnya menjadi cucu menantunya itu sudah mengalami perubahan sedrastis ini.Syakia yang ditatap begitu lama oleh Juwita merasa kurang nyaman. Dia akhirnya meminta izin pada Shanti untuk mencari udara segar di luar.Shanti tahu apa yang dihindari Syakia. Dia pun mengangguk dan berpesan, “Kalau ada apa-apa, segera cari aku.”Ucapan Shanti terdengar seolah-olah Syakia akan ditindas di Kediaman Pangeran Darsuki.Syakia melirik Juwita yang terlihat agak canggung, lalu mengangguk dan mengiakannya sebelum berjalan keluar. Dia tahu statusnya sekarang sudah berbeda. Jadi, dia juga tidak asal keluyuran.Syakia mengatakan dia ingin mencari udara segar di luar kamar. Dia pun benar-benar hanya berdiri di luar pintu kamar dan menatap pemandangan indah di halaman sambil termenung. Ketika dia merasa bosan, dia tidak tahu bahwa ada orang yang sedang mencarikan ma
Ekspresi Panji sontak menjadi muram. “Syakia, apa maksudmu?”“Kamu masih nggak mengerti apa maksudku?” Syakia menjawab dengan kesal, “Aku suruh kamu jauhi aku sejauh mungkin. Jangan menggangguku lagi. Ngerti?”Panji pun merasa marah dan menggertakkan gigi. “Kamu mau mengusirku? Syakia, kamu mau main tarik-ulur denganku?”Syakia benar-benar kebingungan dan tidak bisa berkata-kata. “Siapa yang main tarik-ulur denganmu?”Panji menjawab dengan yakin, “Memangnya bukan? Dulu, kamu nggak berhenti menggangguku dan begitu tergila-gila padaku. Sekarang, kamu malah mengusirku. Apa namanya ini kalau bukan tarik-ulur?”Panji tersenyum sinis dan menunjukkan ekspresi sok pintar. Dia lanjut berkata dengan sombong, “Syakia, cara ini mungkin berguna untuk menghadapi pria lain. Sayangnya, cara itu nggak mempan untukku. Hanya Ayu yang layak jadi istri sahku. Sebaiknya kamu jangan pakai trik menjijikkan lain untuk merebutnya. Kalau nggak, aku bahkan nggak akan membiarkanmu jadi selirku.”“Aku rasa yang pal
“Bruk!” Kali ini, Syakia tidak lagi menampar Panji, melainkan langsung meninjunya. Kemudian, dia mencengkeram kerah pakaian Panji dan mengancam, “Kalau kamu masih berani lontarkan kata ‘istri sah’ atau ‘selir’ lagi, aku akan suruh orang di belakangmu untuk kebiri kamu!”Panji langsung merasa bagian selangkangannya terasa dingin. Dia menatap Syakia dengan ekspresi tidak percaya.Setelah mengancam Panji, Syakia memberi perintah tanpa ragu, “Hala, hajar dia sampai otaknya kembali sadar!”Syakia ingin tahu seberapa banyak hantaman yang dapat diterima Panji sampai otaknya yang narsis kembali normal. Kenyataan membuktikan bahwa Panji benar-benar adalah orang yang keras kepala.Hala sudah menyumpal mulut Panji, lalu menyeretnya ke sudut yang tak berorang dan menghajarnya. Namun, Panji masih tidak berubah.“Syakia! Jangan keterlaluan kamu!” Hala yang sudah menghajar Panji beberapa kali pun melepas sumbatan dari mulut Panji. Namun, Panji malah langsung berseru marah, “Jangan mentang-mentang ak
Syakia segera menarik Shanti dan berbalik arah. Dia berencana untuk keluar dari pintu belakang. Alhasil, setelah melihat Syakia yang hendak pergi, Kama langsung melompat turun dari kereta kuda sebelum keretanya sempat berhenti.“Tuan Kama, hati-hati! Kamu masih terluka!”Namun, Kama tidak peduli. Dia buru-buru mengejar Syakia dan menariknya. “Syakia, jangan pergi!”“Lepaskan aku!” Syakia menoleh dan memelototi Kama.“Oke, oke! Aku akan lepaskan kamu. Selama kamu nggak pergi, aku nggak akan menyentuhmu.”Melihat tatapan marah Syakia, Kama pun merasa panik dan buru-buru menarik kembali tangannya.“Jangan panggil aku ... Syakia.” Syakia berkata dengan dingin, “Aku cuma seorang biksuni dari Kuil Bulani. Bukan Syakia seperti yang dipanggil Tuan Kama.”Ucapan Syakia membuat dada Kama terasa sesak. “Syakia, aku mohon jangan berkata seperti itu ....”“Kak Kama!” Sebelum Kama menyelesaikan ucapannya, terlihat 2 sosok yang muncul di belakangnya. Mereka tidak lain adalah Ayu dan Kahar.“Kak Kama
Ayu memiliki resep obat, tetapi tidak memiliki bahannya. Meskipun ingin meracik obat penawar itu, dia juga tidak akan berhasil.Namun, Syakia berbeda. Setelah menemukan resep obat penawar itu, dia mungkin bisa meracik obat penawarnya. Sebab, dia memiliki safron yang merupakan bahan terpenting. Jika kelompok Kingston lanjut menunggu Ayu menghasilkan obat penawar ini, mereka mungkin tidak akan pernah mendapatkannya sampai mati. Hanya saja, meskipun Syakia dapat meraciknya, dia juga tidak akan memberikannya kepada kelompok Kingston dengan semudah itu. Bagaimanapun juga, orang yang membutuhkan obat herbal ini bukan hanya mereka.Syakia pun menghela napas. Sepertinya, dia harus memindahkan obat herbal dalam ruang giok ini ke luar secepat mungkin. Terutama safron. Setelah mempelajari resep obat penawar secara garis besar, dia pun menyimpan kertas itu.Keesokan harinya, Syakia berencana untuk turun gunung. Setelah membereskan barang-barangnya dan menutup pintu kamar, Syakia menyadari bahwa
Setelah mendengar Syakia menginginkan serangga takdirnya, Kingston pun memaksakan seulas senyum dan berujar, “Ka ... kamu kan nggak butuh Pojun. Buat apa kamu menyimpannya?”“Siapa bilang aku nggak butuh?” Syakia tersenyum tipis dan menjawab, “Aku mau pelajari racun di tubuhnya.”“Baiklah,” jawab Kingston dengan tidak berdaya. Pada saat ini, dia mau tak mau harus menunduk. Dia lanjut bertanya, “Sekarang, kamu sudah bisa lepaskan aku, ‘kan?”Syakia mengangkat alisnya, lalu berbalik membelakangi Kingston dan menaruh kelabang beracun kembali ke ruang gioknya. Setelah itu, dia baru mengangguk pada Hala.Hala pun melangkah maju dan menghunuskan pedangnya untuk menebas tali yang mengikat Kingston. Kingston yang akhirnya mendapatkan kembali kebebasannya meregangkan tangan dan kakinya sambil bertanya pada Syakia, “Kamu mau serangga beracun apa? Aku memang punya beberapa jenis. Ada laba-laba, kalajengking, semut api, dan sebagainya. Kalau ada yang kamu mau, aku akan bawakan saat aku datang kem
Jawaban itu membuat Syakia tertegun sejenak. Kemudian, dia tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya dengan mata membelalak, “Jangan-jangan, kalian sudah lama nggak minum obat penawarnya?”Kingston sontak menggertakkan gigi. “Benar, sudah sangat lama.”Kelompok Kingston sudah tidak minum obat penawar selama 3 tahun. Jadi, mereka harus merasakan penderitaan yang ditimbulkan racun itu tanpa obat penawar sebanyak 3 kali. Dalam 3 tahun terakhir, mereka yang awalnya berjumlah lebih dari 300 orang hanya tersisa tidak sampai 200 orang.Setelahnya, demi membunuh Syakia dalam perjalanan ke Kalika, sejumlah besar anggota mereka gugur lagi. Sekarang, jumlah kelompok Kingston yang tersisa hanya puluhan orang. Jika situasinya berlanjut seperti ini, mereka semua mungkin akan tewas tidak lama lagi.“Jadi, kenapa kalian nggak langsung bunuh dia?” tanya Syakia dengan penasaran.Kingston melirik Syakia dan menjawab, “Kamu itu putri suci, juga seorang biksuni. Kenapa kata-kata yang keluar dari mulutmu itu
Alhasil, sebelum Syakia menyelesaikan kata-katanya, Kingston sudah terlebih dahulu tertawa dan menyela, “Ayu? Baik hati dan polos? Hahaha! Itu benar-benar lelucon terlucu di dunia!”Kingston tertawa terbahak-bahak sambil memaki, “Dia itu cuma seorang penipu yang menipu semua orang. Dia dan ibunya yang terkutuk itu sudah mempermainkan kita semua habis-habisan!”Syakia hanya menatap Kingston. Setelah Kingston selesai mengumpat, dia baru berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau kamu berani menyela ucapanku lagi, jangan salahkan aku lanjut menyiksa seranggamu.”Syakia tidak lupa menunjuk ke arah ember kayu.Kingston langsung diam dan berkata, “Baik, baik. Kamu lanjutkan saja apa yang mau kamu katakan.”Saat ini, minat Syakia sudah agak berkurang. Dia berujar dengan nada datar, “Kamu yang suruh serangga kecil itu untuk meracuniku. Gara-gara dia, aku harus membuang banyak darahku.”Selain itu, serangga kecil ini juga meminum air spiritual dalam ruang giok Syakia. Sekarang, Syakia hanya ingin men
“Ugh! Ugh ... ugh ....”Seiring dengan makin lama kelabang beracun itu berada dalam dasar ember, Kingston yang diikat ke tiang mulai meronta. Wajahnya terlihat sangat merah dan dia terlihat seperti tidak dapat bernapas. Sepasang matanya membelalak dan ekspresinya mulai terdistorsi. Ini bagaikan yang hampir mati tenggelam bukan hanya Pojun, tetapi juga Kingston. “Jadi, kalau kelabang beracun ini dibunuh, ada kemungkinan bahwa Kingston juga akan mati atau terluka parah?”Syakia merasa kemungkinan Kingston akan terluka parah lebih besar. Bagaimanapun juga, apabila kelabang beracun ini benar-benar terhubung dengan nyawa Kingston, Kingston tidak mungkin membiarkannya keluar secara asal. Namun, dinilai dari keterikatan Kingston dengan serangga takdirnya, apabila Pojun tewas, pengaruhnya terhadap Kingston juga pasti tidaklah kecil.Setelah mengetahui jelas hal ini, Syakia mengulurkan tangannya untuk menuang air dalam ember supaya kelabang beracun itu bisa bernapas kembali. Begitu Pojun dise
Jika tidak, Kingston tidak mungkin mengejar sampai kemari hanya demi meminta serangga takdirnya. Kingston bahkan tidak bertanya tentang Ayu.Syakia tiba-tiba merasa agak penasaran. Apakah kelabang beracun ini akan mematuhi kata-katanya ketika berada di depan Kingston?Setelah memikirkannya, Syakia memutuskan untuk mengujinya.“Nak, ayo jalan! Kita temui majikanmu itu.”Tidak lama kemudian, Syakia membawa kelabang beracun itu pergi ke dapur. Begitu masuk, dia menyadari bahwa Hala sudah mengikat Kingston ke sebuah tiang.Setelah Syakia membawa kelabang beracun itu masuk ke dapur, Kingston yang kesadarannya sudah hampir pulih itu tiba-tiba merasakan sesuatu dan berseru, “Pojun? Pojun! Cepat kemari, Pojun!”“Ternyata namamu Pojun?” Syakia menaruh kelabang beracun berwarna hitam mengkilap itu ke lantai dengan saputangan. Setelah itu, Kingston yang kepalanya masih terasa pusing segera memanggil serangga takdirnya, “Pojun ... cepat kemari. Aku ada di sini .... Cepat tolong aku.”Saat ini, Ki
“Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak
Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu
“Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “