Share

Bab 186

Author: Emilia Sebastian
Syakia dengan hati-hati mengumpulkan belasan macam obat herbal menurut kitab racun, lalu mencampurnya satu per satu. Tidak lama kemudian, dia menghasilkan sebutir pil berwarna hitam. Setelah itu, dia buru-buru mengeluarkan sebuah botol giok kecil dan menyimpan pil itu.

Pil ini memiliki karakteristik yang sepenuhnya berlawanan dengan obat patuh yang efeknya ditingkatkan itu. Obat patuh tidak berwarna maupun berbau, sedangkan pil ini memiliki aroma yang sangat menyengat. Selain itu, komponen racunnya bukan terletak pada pil, melainkan pada aroma yang menyengat itu.

Meskipun hanya menghirup sedikit aromanya, Syakia sudah merasa perasaannya menjadi agak aneh. Dia merasa langit seperti akan runtuh dan seketika menjadi putus asa.

Untungnya, Syakia masih berada di dalam ruang giok. Setelah menyadari keanehannya, dia segera berlari ke pinggir sungai dan menyelam ke dalam air.

“Byur!” Syakia langsung diselimuti oleh energi spiritual yang terkandung dalam air sungai. Setelah energi spiritual i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 187

    “Baik.” Shanti mengangguk dan menyetujuinya, lalu bertanya dengan ragu, “Kamu ... mau menjenguknya?”Saat ini, Kama masih berada di luar gerbang Kuil Bulani. Shanti tahu dia sedang demam, tetapi tidak langsung menyuruh orang untuk menggotongnya masuk. Anak-anak ini memang juga adalah anak Anggreni, tetapi Shanti masih lebih menyukai murid kesayangannya. Jika muridnya tidak setuju, dia juga tidak akan peduli pada Kama. Tak disangka, pikiran muridnya bisa terbuka secepat ini.Syakia menolak untuk menjenguk Kama. Jadi, Shanti tentu saja tidak memaksa. Dia mengutus orang untuk mengirim surat ke Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan, lalu menyuruh orang menggotong Kama masuk ke aula utama Kuil Bulani.Shanti mengira Kama akan segera dibawa pulang. Mengobatinya di aula utama akan lebih mudah. Oleh karena itu, dia pun mulai mengobati Kama. Namun, setelah dia menurunkan demam Kama, orang dari Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan masih belum tiba.Melihat langit yang berangsur gelap, Shanti tidak

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 188

    Ketika Kama dibawa keluar dari Kuil Bulani, Shanti juga menyelipkan sebungkus obat kepadanya. Isinya adalah obat untuk menurunkan demam dan salep untuk mengobati luka luar.Kama memeluk sebungkus obat itu dengan erat. Ketika hendak pergi, dia tiba-tiba mendengar suara Abista.“Kama!”Abista tidak menyangka adiknya itu akan terlihat begitu menyedihkan, padahal mereka baru tidak bertemu sehari. Dia merebut payung yang dipegang pelayannya, lalu berjalan menghampiri Kama.Setelah menarik adiknya ke bawah payung, Abista yang masih marah pun menegur, “Ada apa sebenarnya denganmu akhir-akhir ini? Kalau ada masalah, memangnya kamu nggak bisa diskusi sama Kakak dulu? Lihat tampangmu ini. Selain melawan Ayah, kamu juga kabur dari rumah, lalu hilang sehari semalam tanpa membawa apa pun dari rumah. Kamu kira kamu masih adalah seorang anak 3 tahun!”“Aku bukan kabur dari rumah,” koreksi Kama dengan ekspresi tenang.“Jangan asal bicara lagi.” Abista mulai membujuk, “Kamu benar-benar mau melepas stat

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 189

    Kama berjalan menuruni gunung, lalu pergi ke sebuah desa yang berjarak lebih dekat dengan kaki Gunung Selatan. Dia menukar pakaian mewah yang dikenakannya dengan dua setel pakaian sederhana yang terbuat dari kain linen dan uang.Desa di luar ibu kota tidak terlalu besar, tetapi juga tidak termasuk kecil. Beberapa orang yang dapat menilai barang tentu saja bersedia melakukan barter dengan Kama. Setelah itu, Kama menggunakan uang yang dimilikinya untuk membeli sepetak kecil tanah di kaki gunung. Dia akan mulai membangun rumah di tempat ini untuk menjalankan tujuannya, yaitu mengikuti dan melindungi Syakia....“Dia benar-benar mau bangun rumah di kaki gunung?”Setelah mendengar kabar itu, Syakia pun mengerutkan keningnya.“Iya. Aku juga cuma asal ngomong. Tak disangka, dia benar-benar mulai melakukan semuanya sesuai yang kukatakan,” jawab Shanti dengan tidak berdaya.Syakia pun menggigit bibirnya. Dia tidak suka mendengar kata-kata yang bersangkutan dengan “demi dia”, terutama tentang K

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 190

    Syakia tidak menyangka Hala akan keluar untuk menghiburnya. Kali ini, dia tersenyum tulus dan menjawab, “Makasih, Hala. Aku sangat membutuhkannya.”Hala menemani Syakia berjalan ke tepi sungai, lalu mereka berdua duduk di atas batu.Syakia menatap sungai itu dalam diam untuk sekian lama. Kemudian, dia baru berkata, “Hala, kamu itu pengawal rahasia yang dilatih keluarga kerajaan. Suatu hari nanti, kamu mungkin akan diutus untuk melindungi orang lain. Tapi, kalau di hari itu, aku menyuruhmu untuk jangan pergi dan lanjut melindungiku seorang, apa kamu akan merasa aku egois?”Syakia khawatir Hala berpikir kejauhan. Setelah menanyakan pertanyaan itu, dia buru-buru menjelaskan, “Aku bukan benar-benar akan melarangmu pergi. Hanya saja, hari ini ....”“Aku berharap itu benar.” Sebelum Syakia menyelesaikan kata-katanya, Hala tiba-tiba menunjukkan sisi kuatnya dan menatap Syakia dengan tegas.“Sahana, meski aku ini pengawal rahasia yang dilatih keluarga kerajaan, keyakinan kami adalah, setia han

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 191

    Setelah berputar sekali, Adika baru meletakkan Syakia kembali ke lantai. Dia juga sengaja memilih sebuah batu besar yang rata supaya Syakia bisa berdiri dengan seimbang.Syakia yang terkejut, tetapi tidak terluka pun menepuk-nepuk dadanya. Kemudian, dia berkata, “Untung ada Pangeran. Kalau nggak, aku benar-benar akan ketimpa sial.”Setelah hujan gerimis kemarin, cuaca hari ini mulai terasa agak dingin. Jika Syakia jatuh ke sungai di cuaca seperti ini, dia seharusnya akan sakit.Adika menyentil dahi Syakia dengan pelan dan berujar, “Siapa suruh kamu begitu nggak hati-hati. Kamu jelas-jelas tahu dirimu nggak sanggup angkat air sebanyak itu, tapi malah mengisi embermu sampai begitu penuh.”Kali ini, untuk saja ada Adika. Bagaimana jika tidak ada Adika lain kali?Syakia mengelus dahinya, tetapi tidak mengatakan bahwa dirinya begitu tidak hati-hati karena Adika.“Sudah, berikan embermu padaku. Kamu duduk saja di samping.”Adika menyingsing lengan baju dan celananya, lalu mengambil ember kay

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 192

    Jarang-jarang seorang Pangeran Pemangku Kaisar berbicara dengan terbata-bata. Jika sekelompok bawahan Adika itu melihat keadaannya sekarang, mereka pasti akan tercengang. Untungnya, dia hanya menunjukkan sisi seperti ini di depan Syakia.Kemudian, Adika berbaring di samping Syakia. Entah kenapa, hatinya terasa berbunga-bunga. Ketika mendengar orang yang disukainya membacakan sutra dengan serius untuk menenangkannya, dia merasa dirinya seperti sedang ditidurkan oleh istrinya. Adika yang merasa sangat bahagia pun mulai mengesampingkan semua beban pikirannya dan perlahan-lahan memasuki keadaan rileks. Seiring dengan napas Adika yang mulai teratur, Syakia juga mengecilkan suaranya. Perlahan-lahan, yang tersisa hanyalah suara air sungai yang mengalir dan angin yang bertiup sepoi-sepoi.Syakia yang entah kenapa tiba-tiba merasa agak mengantuk pun mengusap matanya. Kemudian, dia memutuskan untuk beristirahat sejenak. Setelah Hala kembali, Hala pasti akan membangunkannya.Setelah berpikir be

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 193

    Saat ini, Syakia jauh lebih khawatir daripada Adika. Bagaimanapun juga, sudut bibir Adika berdarah dan wajahnya juga bengkak. Jika wajah yang sempurna itu rusak akibat dirinya, Syakia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.“Aku akan pergi ambilkan obat untukmu. Lukamu harus segera diobati. Nggak boleh sampai tertinggal bekas di wajahmu.”Syakia pun berbalik dan hendak kembali ke tempat tinggalnya. Namun, Hala tiba-tiba muncul di hadapannya.“Hala? Akhirnya kamu kembali juga. Kenapa kamu pergi selama itu?”Hala berjalan cepat ke depan Syakia dan berkata, “Sahana, ayo ikut bersamaku! Ada orang dari istana yang datang ke Kuil Bulani.”“Orang dari istana?” Syakia mengangkat alisnya, lalu berbalik ke arah Adika.Melihat Adika yang juga mengernyit, Syakia tahu bahwa Adika juga tidak mengetahui hal ini. Dia juga sudah pasti tidak sempat pergi mengambil obat lagi.Syakia buru-buru kembali ke Kuil Bulani. Ketika tiba di luar kuil, dia melihat Shanti dan orang lainnya sudah menunggu di luar

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 194

    Pada saat yang sama, di Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan.Ayu yang telah dicambuk 50 kali tentu saja terluka parah. Punggungnya dipenuhi dengan luka yang mengerikan dan masih berdarah. Dalam dua hari terakhir, dia tidak berhenti menangis karena kesakitan.Setiap kali mengoles obat, Ayu akan merasa sangat kesakitan dan berharap bisa langsung pergi ke Kuil Bulani untuk mencabik-cabik Syakia. Dengan begitu, Syakia baru bisa merasakan penderitaannya.Setelah melewati dua hari ini dengan penuh penderitaan, Ayu yang hanya bisa berbaring di atas tempat tidur pun mendengar sebuah kabar buruk dari dayangnya.Dayang baru Ayu bernama Ratih. Mengenai Ainur, dia sudah menghilang dua hari yang lalu. Orang yang bertindak tentu saja adalah Damar.Di Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan yang luas, membuat seorang dayang menghilang tanpa diketahui siapa pun merupakan hal yang sangat mudah. Namun, cara ini sudah membuat Ayu takut. Sebab, dia tahu bahwa ini merupakan peringatan dari ayahnya. Jika tidak,

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 239

    Bahkan Damar sekali pun juga membuat Anggreni melahirkan 5 anaknya. Pada akhirnya, Damar bahkan memiliki seorang putri haram.Setelah mendengar ucapan Joko, Ike tiba-tiba merasa bahwa memang dirinya yang salah. Meskipun tidak tahu apakah Joko benar-benar tidak menaruh perasaan pada Anggreni, Joko memang tidak pernah mengkhianatinya setelah mereka menikah.Berhubung sudah tidak dapat berdebat, Ike pun berkata dengan cemberut, “Kalau begitu, kenapa dulu kamu selalu menolakku waktu aku menunjukkan perasaanku? Pada akhirnya, kamu baru terima aku setelah Anggreni mencarimu. Entah apa juga yang dikatakannya.”“Dia nggak ngomong panjang lebar, cuma beberapa patah kata,” jawab Joko sambil menghela napas.Ike segera bertanya, “Apa yang dikatakannya?”“Aku sudah lupa.”Joko tidak ingin mengungkitnya. Dia selalu merasa Ike pasti akan ribut dengannya apabila dia mengungkapkannya. Namun, semakin Joko tidak mengatakannya, semakin gigih pula Ike. “Coba diingat, lalu kasih tahu aku! Apa sebenarnya ya

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 238

    Setelah melontarkan kata-kata itu, Joko pun berbalik dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, sikapnya malah membuat Ike marah.“Joko Darsuki, berhenti!” seru Ike dengan marah. Dia menatap Joko dengan penuh amarah dan ketidakrelaan sambil berkata, “Kamu begitu membela Syakia karena kamu masih belum melupakan Anggreni, ‘kan?”Ekspresi Joko langsung menjadi muram. Dia menoleh ke arah Ike dengan dingin dan menjawab, “Aku sudah ngomong berulang kali, aku dan Anggreni cuma teman masa kecil.”“Kalau kalian cuma teman masa kecil, kenapa kamu begitu melindungi gadis jalang itu? Bukannya karena dia itu putrinya Anggreni?” Ike sama sekali tidak percaya pada ucapan Joko dan lanjut berkata sambil menangis, “Lihat sikapmu padaku dan putra kita sekarang! Kamu masih berani bilang kamu sudah melupakannya? Kamu jelas-jelas masih memikirkannya, makanya kamu baru bersikap begitu baik terhadap putrinya!”“Huhuhu. Joko, kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 237

    “Nggak ada kesalahpahaman. Pelakunya pasti dia!” ujar Damar dengan ekspresi dingin. Namun, dia juga tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Joko.Joko menggeleng. “Sudahlah, mau ada kesalahpahaman atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama keluargaku. Hari ini, Yang Mulia Kaisar sengaja menyuruhku datang untuk menjengukmu yang mendadak sakit.”“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, Damar hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Tapi, aku lagi punya banyak masalah belakangan ini. Jadi, aku nggak bisa menjamumu.”Joko tahu Damar sedang mengusirnya secara halus. Dia pun hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan Kaisar. Sekarang, apa pun yang terjadi pada keluarga Damar tidak ada hubungannya dengan keluarganya.Setelah berpikir begitu, Joko pun kembali ke rumahnya. Namun, baru saja tiba di rumah, dia mendengar tangisan histeris seseorang dari dalam."Ayu! Aku mau cari Ayu!" Panji merengek untuk keluar rumah. Sement

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 236

    “Aku nggak peduli kalian itu bawahan siapa, juga nggak peduli untuk apa kalian datang kemari. Sejak kalian menginjakkan kaki ke Kuil Bulani malam ini, kalian sudah ditakdirkan untuk mati.”Adika menancapkan pedangnya di lantai depannya, lalu melirik para pengawal rahasia yang ditahan di atas lantai. Seluruh tubuh mereka telah digeledah. Bahkan racun yang tersimpan di gigi mereka juga dicabut satu per satu. Saat ini, mereka bagaikan ikan yang berada di atas talenan.Adika menatap mereka dengan dingin. Setelah menunggu sesaat, pengawal rahasia yang terakhir akhirnya dibawa keluar.“Bruk!”Hala yang tubuhnya terluka oleh satu sayatan pedang berjalan keluar dengan pelan sambil menyeret seseorang yang berlumuran darah. Kemudian, dia melempar orang itu di hadapan semua pengawal rahasia.Para pengawal rahasia Keluarga Angkola tentu saja mengenal orang itu. Dia adalah Sando, pengawal rahasia kepercayaan Damar. Sekarang, dia sudah sepenuhnya lumpuh.“Bagus, semua orangnya sudah berkumpul.”Adik

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 235

    Saat ini, Adika sangat marah. Setelah mengawal Syakia pergi ke Kalika, dia baru tahu seberapa banyak bahaya yang ada di sisi gadis ini. Jadi, begitu mendengar Kaisar mengatakan ada orang yang ingin membunuh Syakia hari ini, dia langsung teringat pada orang-orang dari Kalika itu.Terutama orang bernama Kingston. Adika tahu bahwa orang itu pasti akan datang lagi. Oleh karena itu, dia baru begitu mengkhawatirkan keselamatan Syakia.“Aku nggak bohong!” Syakia buru-buru menjelaskan, “Aku cuma nggak mau repotin kamu ....”“Kamu rasa ini adalah kerepotan bagiku?”Kali ini, Adika merasa makin marah. Dia menunduk, lalu menatap Syakia lekat-lekat dengan matanya yang berapi-api. Wajahnya yang tampan itu menunjukkan ekspresi yang luar biasa serius.Adika menekankan kata-katanya. “Sahana, dengar baik-baik. Bagiku, urusanmu nggak pernah merepotkanku.”Hati Syakia seketika bergetar. Dia menatap Adika yang berjarak sangat dekat dengannya dengan terkejut. Pada momen ini, dia seperti sudah memahami sesu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 234

    “Pembunuh?” Kaisar bertanya dengan bingung, “Kenapa bisa ada pembunuh yang pergi ke Kuil Bulani untuk membunuhmu? Siapa yang mengutus mereka?”Syakia menunduk dan menjawab, “Aku nggak berani bilang.”“Nggak berani bilang?”Kaisar mengangkat alisnya. Dia sudah bisa menebak siapa orang yang mengutus para pembunuh itu dari jawaban Syakia. Di seluruh ibu kota, ada siapa saja yang tidak berani dituduh putri sucinya itu?Kaisar langsung tertawa. Setelah upacara permohonan hujan yang dilakukan di Kalika, baik itu kebetulan atau bukan, hujan deras telah turun di Kalika yang sudah mengalami kekeringan selama 3 bulan. Sekarang, Syakia telah menjadi Putri Suci Pembawa Berkah yang sebenarnya di hati rakyat jelata. Bukan hanya reputasi Syakia yang meningkat, bahkan Kaisar yang mengangkat Syakia menjadi putri suci juga dipuji oleh rakyat jelata. Hal ini telah mengokohkan posisi Kaisar yang masih muda ini sehingga tidak ada yang dapat melawannya. Oleh karena itu, kepercayaan para pejabat dan menter

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 233

    Orang yang diutus Damar berjumlah sekitar 5 orang. Tak disangka, mereka masih tidak mampu mengalahkan satu orang. Namun, dia makin yakin bahwa Ayu memang diculik oleh Syakia. Bagaimanapun juga, pertahanan Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan juga tidak sederhana. Dengan tempat yang terlindung begitu ketat, penculik itu dapat masuk ke kamar Ayu dan membawanya pergi tanpa diketahui siapa pun. Orang dengan kemampuan yang biasa-biasa saja tidak mungkin mampu melakukannya.“Utus lagi sekelompok orang untuk pergi ke Kuil Bulani. Pokoknya, Ayu harus ditemukan!” perintah Damar setelah terdiam sejenak.“Baik!”Pada malam kedua, ada lagi sekelompok pengawal rahasia yang datang ke Kuil Bulani. Kali ini, kelompok itu berjumlah 10 orang.Damar awalnya mengira misinya kali ini pasti berhasil. Tak disangka, 10 pengawal rahasia itu lagi-lagi gagal. Setelah mendapat kabar ini keesokan harinya, ekspresi Damar terlihat sangat menakutkan.“Bagaimana dia bisa melakukannya!”Meskipun pengawal rahasia Syakia

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 232

    Dalam sekejap, ekspresi Kahar dan Ranjana langsung menjadi sangat suram. “Coba saja kalau dia berani!”“Syakia nggak mungkin berbuat begitu!”Berbeda dengan Kahar yang langsung menyerukan amarahnya, Abista percaya pada Syakia. Dia sontak murka dan membela Syakia.“Syakia memang pernah bersikap keras kepala, juga berbuat salah. Tapi, dia nggak pernah berinisiatif cari masalah, apalagi melakukan hal yang begitu keterlaluan! Ayah, aku tahu kamu lebih sayang sama Ayu. Tapi, memangnya Syakia itu bukan putri kandungmu? Waktu kamu ucapkan kata-kata itu, kamu nggak merasa itu sangat nggak adil bagi Syakia?”“Aku cuma menilai masalah berdasarkan fakta, juga cuma bilang mungkin, nggak bilang pasti,” jawab Damar dengan nada acuh tak acuh sambil menyesap tehnya yang sudah dingin.Abista terlihat sangat tidak percaya. “Menilai masalah berdasarkan fakta? Apa curiga sama putri kandung sendiri termasuk menilai masalah berdasarkan fakta? Ayah, Syakia itu bukan penjahat!”Sampai saat ini, Abista baru p

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 231

    “Ayah berkata begitu karena sudah punya bukti?”Damar menjawab dengan santai, “Aku nggak punya bukti. Tapi, sebelum hilang, Ayu sempat melakukan sesuatu.”“Apa?” tanya Kahar dan Ranjana dengan bingung.Damar memejamkan matanya dan menjawab, “Dia suruh dayangnya bawa Laras Panjalu datang kemari.”Sebelumnya, Ayu mengira tidak akan ada yang tahu mengenai hal ini. Namun, dia tidak tahu bahwa Ratih adalah orang yang ditempatkan Damar di sisinya. Mana mungkin Damar tidak tahu Ayu menyuruh Ratih pergi membawa Laras datang ke kediaman ini?“Laras Panjalu?”Berhubung sudah lama tidak mendengar nama ini, Abista dan kedua adiknya pun tertegun sejenak. Selanjutnya, Kahar terlebih dahulu teringat siapa orang itu dan bertanya dengan kening berkerut, “Orang yang pernah dorong Syakia ke danau itu?”“Benar.”Ekspresi Abista sontak berubah. Dia berkata dengan mata penuh amarah, “Ayu mau apa? Kenapa dia suruh orang itu datang kemari?”Dulu, Laras hampir merenggut nyawa Syakia. Jika bukan karena ada oran

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status