BAB 14“Kita akan ke Paris bersama Emilia dan Mahesa besok pagi, jadi persiapkan barang-barang bawaanmu.”“Ayah, kenapa tiba-tiba?”“Kita tak menetap, kita ke sana hanya seminggu.”Nora terduduk lemas, ia sungguh tak ingin pergi walaupun untuk seminggu. Ia mungkin tak ingin pergi, karena jika ia pergi ia tak bisa bertemu dengan Zaheen untuk beberapa saat. Gadis itu mulai mempelajari apa artinya kebahagiaan dan juga kebersamaan.“Ayah saja yang pergi, aku akan tetap di sini,” tolak Nora.Emilia tersenyum dan memegang pundak sepupunya tersebut, ayolah Nora. “Kau tak ingin melihat menara eiffel sekali saja?” ia menaik turunkan alisnya pada Nora.“Ada yang lebih indah dari menara Eiffel. Tahu,” ketus Nora.“Ayah tak ingin mendengar alasanmu, Nora. Besok kita berangkat.” Isaac segera berlalu meninggalkan Nora dan Emilia di dalam kamar.Nora menghela napas, habisnya gadis itu juga bingung untuk apa ia ke Paris jika hanya untuk menemani ayahnya, Nora tahu ayahnya sering ke luar negeri tanp
Beberapa hari kemudian, Zaheen benar saja mulai bekerja di pembangunan hotel sebagai pekerja bawahan, ia kini sudah lengkap dengan helm proyek berwarna kuning yang ia gunakan. Matanya melirik Kian yang sedang bekerja serius di lokasi lain yang tak jauh darinya.“Hei, anak muda siapa namamu?” tanya seorang pria besar yang memakai helm berwarna putih.“Kian, pak,” ujar Zaheen dengan nama bohongan itu lagi.Ia memberikan Zaheen berkas dan sebuah dena bangunan yang akan mereka kerjakan. “Bawa berkas ini ke ruang istirahat pegawai, ingat ada pintu masuk kecil di sana dan itu ruang pribadiku, kau paham. Simpan di atas meja saja,” jelasnya sembari menunjuk salah satu gedung kecil yang ada diseberang sana.Zaheen mengangguk paham. “Baik, pak. Kalau begitu saya permisi.” Zaheen pun berlalu meninggalkan kerjaannya sejenak. Ia dan Kian sempat saling melirik dan Kian memperhatikan Zaheen yang jalan sendirian di sana dengan kertas di tangannya.“Apa yang dia bawa?” gumamnya.“Hei, anak muda. Fokus
“Saran saya, nona dapat memilih gaun yang tampak berkilau ini.” Seorang tata busana dari Kota Paris itu menunjuk gaun yang sedang diperlihatkan oleh dua orang perempuan yang juga bertugas di toko tersebut.Nora memperhatikan gaun tersebut, ada dua pilihan di sana yaitu warna gold yang berkilau selutut atau kuning yang cerah dengan tampak dada yang agak terbuka, semuanya cukup indah namun itu bukan selera Nora.Ia melangkahkan kakinya melewati para pelayan tersebut lalu berhenti pada tempat beberapa gaun yang tergantung bebas. Akhirnya, matanya tertuju pada sebuah gaun berwarna putih tulang yang sederhana namun berkelas. Gaun ini memiliki potongan A-line yang menjuntai lembut hingga mata kaki, dengan sentuhan kilau halus yang memberikan kesan mewah tanpa berlebihan. Ia mencoba gaun tersebut dan merasakan bahwa inilah gaun yang tepat. Warna putih tulang memberikan kesan hangat dan elegan, serta menonjolkan kecantikannya dengan cara yang lembut.“Aku mau memakai ini,” katanya.Emilia yan
Nora melangkah keluar dari bandara masih dengan gaun putih tulang yang ia pilih malam kemarin, itu artinya sudah seharian ia berpenampilan seperti itu selama di pesawat.Kota Paris ke Jakarta memerlukan waktu dua puluh empat jam dan Nora akhirnya sampai di malam hari pula, beberapa pasang mata melihatnya keluar dari bandara. Bagaimana tidak, gaun yang jatuh menyapu lantai, rambut panjang yang tersanggul bagian belakang, namun agak berantakan, hiasan wajah yang mulai pudar melengkapi betapa berantakannya hati Nora saat itu.“Bukankah dia Eleonora?” ucap beberapa orang yang melihatnya.Dengan punggung yang tegak, ia terus berjalan lurus ke depan. Matanya begitu fokus melihat jalanan dan tak menghiraukan ucapan dan tindakan orang yang memotretnya secara sengaja.Nora bahkan tidak memberitahu Daniel soal kedatangannya yang mendadak, ia akhirnya berhenti dan menuju sebuah taksi yang kosong.“Pak, bisa bawa aku ke suatu tempat?”Sopir itu kaget ketika tiba-tiba saja Nora masuk ke dalam mobi
BAB 18“Syuttt... sudah, jangan bicara dulu, nanti kalau kau pulih baru bercerita padaku ya.”Zaheen perlahan melihat bibir Nora melengkung ke atas, ia terus memperhatikan, bibirnya, hidungnya, lalu matanya yang berbinar-binar. Zaheen tak sanggup berlama-lama saling menatap dengan Nora, pria itu kemudian perlahan menunduk sembari melihat tangan mereka yang bertautan.“Emm... Kian.”“I...” Bibir lembut itu mendarat tepat di bibir Zaheen, menutup mulut pria itu setelah baru saja ingin menjawab panggilannya.Selama mereka resmi berkencan, mereka berdua tak pernah melakukan itu lagi. Ini adalah kali pertama setelah berkencan. Namun bukankah ini waktu yang tidak tepat, mengingat Kian masih satu ruangan dengan mereka.Zaheen merasakan perlahan tangan Nora mulai membelai lehernya, sedangkan ia hanya mematung merasakan setiap inci dari bibir wanita itu yang terus memainkan bibirnya.Zaheen mengecupnya sebentar lalu menjauhkan kepalanya, ia berbalik segera setelah adegan itu selesai. Ya, ia me
BAB 19“Ayo kita tidur,” ajak Zaheen pada Kian yang sepertinya masih betah untuk duduk di teras tersebut.“Tidur duluan saja,” katanya singkat.Zaheen tak ingin memaksa Kian, biarlah jika ia ingin bersantai dan menjernihkan pikirannya, biasanya jika Kian stress ia akan pergi di club malam, menghabiskan uangnya untuk menyenangkan para wanita, hal itu membuat Zaheen kesal dengan tindakan Kian yang suka menghamburkan uang yang sudah ia cari dari pagi.“Oh ya, kata Nora dia meminta maaf padamu karena tindakannya tadi,” kata Zaheen sebelum ia masuk ke dalam rumah kembali.Pria itu melihat Nora yang sudah tertidur pulas, ia memperhatikan gaun Nora yang berwarna putih itu. Pasti gaun itu sangat mahal mengingat ia tahu merek ternama gaun tersebut. Ia hanya pernah mendengarnya dari Angelica.Zaheen membuka lemarinya dan mengambil kemeja hitam yang tergantung di dalam sana. “Kian.” Zaheen langsung berbalik dan mendapati Nora yang terbangun.“Nora, kenapa kau bangun, ada apa?” tanyanya, pria itu
BAB 20Nora kembali beristirahat setelah beberapa menit latihan balet, ia mengambil botol air minum yang tadinya ia letakkan di atas kursi bersama dengan tasnya.Gadis itu kembali menutup botol setelah selesai memasukkan air minum itu ke dalam mulutnya, ia menunduk melihat kaki jenjangnya yang seperti tak kuat lagi untuk latihan malam ini, besok ayahnya akan pulang dari Paris, sejujurnya ia belum siap untuk meladeni semua pertanyaan-pertanyaan ayahnya.Ayahnya yang begitu memperhatikan setiap apapun yang ia lakukan, ayahnya yang selalu mengabulkan dan mengatur hidupnya, ia tak pernah membenci ayahnya tapi ia ingin hidup bebas, tanpa ditekan.Suara pintu yang terbuka menyadarkan Nora, ia begitu semangat untuk berbalik karena ia tahu siapa yang akan datang. “Ki...”“Hai, Nora lama tak jumpa!”“Angelica?”“Ya, aku datang karena sangat merindukanmu,” seru wanita itu dengan girang, seperti biasa ia akan sangat heboh jika bertemu dengan Nora.Nora masih terdiam saat Angelica memeluknya. “Ku
BAB 21“Kakak, jika suatu hari nanti kakak menikah, aku pasti sangat kesepian.” Suara gadis kecil masih terdengar di kamar hotel itu. Gadis kecil yang mempunyai rambut tipis yang panjang namun sangat berantakan, ia terlalu banyak main hingga lupa mandi.“Aku tidak akan punya teman main lagi,” ujarnya dengan wajah yang memelas.“Kan, Adel akan tumbuh besar dan punya teman juga, jadi Adel tak usah khawatir jika kakak Zaheen menikah,” jelas ibunya yang terlihat gemas pada anak perempuan satu-satunya itu.Ibunya mengelus kepala Adel dengan lembut. “Lagian itu masih sangat lama, kenapa harus dipikirkan,” sahut Zaheen yang sedang membereskan beberapa pakaian yang harus dimasukkan ke dalam koper setelah beberapa hari berlibur.“Kata ibu semua akan menikah,” ujar Adel.“Tidak juga, itu tergantung jodoh. Ada yang berjodoh dengan kematian,” kata Zaheen masih sibuk membereskan pakaiannya.“Sayang kita harus sampai sebelum sore jadi cepat-cepat bergegaslah agar kita cepat pulang.” Grayson tiba-ti
Akhirnya, proyek hotel yang telah menjadi pusat perhatian Nora selama hampir setahun terakhir kini berdiri megah di depan matanya. Selesai dibangun dengan segala kerumitan dan dedikasi, hotel ini tampak seperti sebuah mahakarya yang memadukan kemewahan dan kenyamanan. Dengan langkah yang perlahan tapi pasti, Nora berjalan menyusuri koridor, menikmati setiap detail dari interior yang telah dirancang dengan penuh cinta dan ketelitian.Ketika memasuki lobi utama, Nora terpesona oleh luasnya ruangan yang dipenuhi dengan cahaya alami. Langit-langit tinggi dihiasi dengan lampu gantung kristal besar yang berkilau, memancarkan cahaya lembut ke seluruh penjuru ruangan. Lantai marmer yang berwarna krem bersih berkilauan di bawah kaki Nora, menciptakan kesan elegan dan megah. Di tengah lobi, sebuah meja resepsionis yang terbuat dari kayu mahoni mengkilap berdiri kokoh, dengan ukiran-ukiran halus yang menunjukkan sentuhan seni tradisional.Di sepanjang dinding, karya seni kontemporer tergantung d
Bus itu berhenti dengan suara rem yang berdecit, membangunkan Zaheen dari lamunannya sejenak. Dengan langkah pelan, ia naik ke dalam bus, memilih kursi paling pinggir di dekat jendela. Zaheen duduk, menempelkan kepala pada kaca yang dingin, dan memandangi kota malam yang berselimut kabut tipis. Lampu-lampu jalan bersinar redup, menciptakan bayangan panjang di trotoar basah.Di luar sana, kehidupan terus berjalan, kendaraan berlalu-lalang, dan orang-orang yang terburu-buru pulang. Namun, di dalam bus yang hampir kosong ini, waktu seolah melambat. Zaheen terdiam, pikirannya melayang-layang antara kenyataan dan ingatan yang menyakitkan. Masa depan tampak begitu jauh, seperti bayangan samar di ujung jalan yang gelap.Ia memikirkan mimpi-mimpinya, harapannya, dan semua ketakutan yang mengiringi setiap langkah. Ada trauma yang masih melekat di dalam hatinya, seperti bekas luka yang belum sepenuhnya sembuh. Kenangan-kenangan lama itu muncul tanpa diundang, menyesakkan dadanya. Zaheen menarik
Zaheen berdiri di depan gerbang pemakaman dengan hati yang berdebar-debar. Selama bertahun-tahun, ia menghindari tempat ini, tempat yang penuh dengan kenangan pahit dan rasa sakit yang tak terucapkan. Angin sore menghembus lembut, membawa aroma bunga kamboja yang gugur dari pepohonan tua di sekitar makam.Langkahnya terasa berat saat ia mulai berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju area pemakaman keluarga. Hatinya berkecamuk dengan berbagai perasaan; rasa bersalah, kehilangan, dan kerinduan yang mendalam. Sejak kecelakaan tragis itu terjadi, Zaheen selalu merasa terjebak dalam lingkaran penyesalan, bertanya-tanya apakah ia bisa melakukan sesuatu untuk mengubah nasib keluarganya.Zaheen berhenti di depan dua nisan yang berdiri berdampingan dan satu batu nisan kecil yang menandakan batu nisan adik perempuan tersayangnya, tertutup rumput liar yang sudah mulai tumbuh lebat. Ia berlutut, tangannya gemetar saat meraih rumput-rumput itu dan mencabutnya perlahan. Di hadapannya, terpah
“Jadi kau tahu, aku telah mengundurkan diri?”Nora menunduk lalu bertanya. “Apa yang mengganggumu?”Zaheen terdiam dengan pertanyaan itu. “Tak ada Nora, hanya… aku tak ingin di ketahui oleh orang-orang jika aku kekasihmu. Aku juga takut, ayahmu tahu tentang kita.”Deg.“Belum lagi, reputasimu sebagai anak dari seorang CEO terkenal, penari balet dan pewaris akan hancur berantakan hanya karena mencintai seorang pekerja proyek. Aku tentunya memikirkan itu semua, Nora.”Gadis itu mendongakkan kepalanya, ia menatap Zaheen dengan mata yang berkaca-kaca.“Maafkan aku karena tak memberitahumu terlebih dahulu.” Tangan Zaheen perlahan menyentuh tangan Nora, ia menyentuhnya dengan lembut seakan mencoba meminta maaf dan semoga Nora bisa mengerti dengan alasannya, semua itu demi kebaikan bersama. Tak perlu ada yang mengetahui mereka punya hubungan karena semua akan rusak.Ya. Hubungan itu tidak akan bertahan selamanya, seiring berjalannya waktu mereka tetap akan berpisah karena memang suatu saat b
“Jadi kau tak bisa mengelak lagi padaku, kau adalah Zaheen Magani. Ya, kan. Zaheen?”Emilia berjalan selangkah mendekat, ia berdiri tepat di depan tubuh Zaheen lalu mendekatkan wajahnya perlahan namun pasti, ia menatap dalam pria itu seolah tipu dayanya dan godaannya pada lelaki itu akan berhasil.“Iya, aku memang Zaheen.” Suara itu terdengar jelas di telinganya membuat Emilia makin mendekatkan wajahnya seolah akan mencium pria itu namun Zaheen berdiri dan malah melangkah mendekati jendela guna menghirup udara segar pagi ini. Bersama Emilia begitu panas dan sesak menurutnya.Gadis itu berkacak pinggang, ia mencoba memendam rasa kesalnya karena sudah berkali-kali di tolak. “Jadi Nora termasuk dalam rencanamu menghancurkan paman Isaac, itu artinya kau tak sungguh-sungguh menyukainya, bukan?”Zaheen terdiam mendengar pertanyaan Emilia yang terus-terus saja berulang, seperti sulit sekali menjawab kebohongan yang Zaheen ciptakan sendiri, bahkan dirinya sendiri pun tidak tahu akan jawaban s
“Aku Aiden, pria yang kau lihat bersama Eleonora. Aku sudah lama menguntitmu, ternyata kau ini kekasihnya.”“Aiden? Pria yang mengemis cinta pada kekasihku beberapa bulan lalu yaa?”Zaheen dan Aiden saling bertatapan dengan tajam. Mata mereka beradu, seolah ada ketegangan yang menggantung di antara mereka. Orang-orang di sekitar mereka berlalu lalang, tak menyadari pertemuan yang penuh emosi ini. Hiruk pikuk ramainya kota pun tak mampu meredakan emosi kedua pria itu.“Sebenarnya apa sih maumu?” tanya Zaheen menyelidik. “Pasti, kau tidak serius dengannya kan? Apa yang sedang kau rencanakan?” lanjutnya.“Siapa yang tidak mau dengan gadis seperti dia. Eleonora begitu cantik, anggun, cerdas dan yang paling penting pewaris Magani Company,”jelas Aiden dengan percaya diri.Zaheen mengerutkan alisnya lalu ia tersenyum miring. “Cih... kau sungguh tak tahu apapun ya,” gumamnya.“Kau yang tak tahu apapun, brengsek. Pria miskin sepertimu yang tak punya pendidikan memangnya tahu apa, hah!” suara A
“Kau harus menerima semuanya, agar hatimu tak terlalu sakit jika tuhan berkehendak untuk memisahkan kita.”Kata-kata itu terus saja terngiang-ngiang di telinga Nora, ia masih bisa membayangkan pria pemilik tatapan teduh itu menatapnya dengan dalam, seperti mengisyaratkan hal itu akan segera terjadi. Nora sampai sekarang tidak mengerti atau mungkin hatinya masih menolak takdir mereka yang begitu berbeda.Matanya tak sengaja melihat bunga gerbera di sebuah pot di ujung meja salah satu karyawan di perusahaan ayahnya. Itu benar, ia baru saja keluar dari ruangan ayahnya untuk memberitahu sudah sampai mana perkembangan hotel yang ia pantau sejauh ini.Nora mendekati pot tersebut dan memegang bunga gerbera yang begitu cantik. Hanya ada satu warna di sana yaitu putih. Ia tersenyum karena mengingat suatu film yang pernah ia tonton dulu, film menyedihkan yang tak akan pernah Nora nonton lagi, pikirnya.“Selamat siang nona, saya sangat tersanjung karena anda datang ke mari,” ujar karyawan cantik
Apakah ini takdir yang tertukar?Tidak, ini memang takdir yang telah tertulis.Zaheen sudah terbiasa dengan hidupnya yang sekarang namun hidupnya masih belum tenang jika ia masih melihat pembunuh ayahnya menikmati harta ayahnya. Lalu apakah Nora juga punya kesalahan? Tentu, karena ia lahir menjadi anak Isaac Williston.Hari itu, Tuhan membawa langkah Eleonora masuk ke dalam club yang tidak pernah ia masuki sebelumnya, lalu Zaheen juga datang karena mengikuti sahabatnya, Kian. Itu bukanlah kebetulan, melainkan sebuah cerita dan skenario baru untuk mereka berdua, di mana kisah cinta terlarang akan di mulai.Hingga sejauh ini, perjalanan mereka mulai memasuki babak baru.Seorang pria membuang puntung rokoknya sembarangan di tengah ruangan berlantai di konstruksi proyek yang sudah berjalan lebih dari tujuh bulan. Ya, waktu sangat cepat berlalu, meninggalkan banyak cerita baru yang terlewatkan.“Kau tak ingin membuat boss marah lagi dengan kelakuan gilamu itu, Kian.” Zaheen menginjak bekas
“Bagaimana jika gadis itu memberitahu Eleonora soal dirimu yang asli, apakah semua rencanamu akan berakhir?”Kedua pemuda itu terduduk di sebuah taman kecil di tengah kota, sudah tak ada kendaraan yang melaju mengingat ini sudah hampir menunjukkan jam dua belas malam, mereka memang sudah terbiasa hidup di jalanan jadi mereka tak takut apapun di malam hari seperti ini.“Tidak, aku sejujurnya tidak butuh Nora untuk rencana ini. Ada ataupun tidak ada dia, semua akan tetap berjalan bagaimana semestinya,” jawab Zaheen.Kian mengangguk paham. “Beda cerita jika Emilia memberitahu Isaac soal hubungan anaknya denganku, aku tak bisa membayangkan Nora akan dihukum seperti apa lalu pria tua itu pasti akan berusaha mengejar kita lagi,” jelas Zaheen kembali.Kian menyandarkan punggungnya dan menatap langit yang terang karena rembulan yang hadir menyinari malam dingin ini. “Yang harus kau lakukan adalah meyakinkan orang-orang jika kau masih hidup, tapi pertanyaannya siapa yang akan percaya kecuali.