Angeline membuang wajahnya, tidak ingin menatap wajah Lucas yang sedang marah itu.“Lebih baik kamu masuk ke dalam rumah. Jangan keluar sampai aku menyuruhmu keluar!” seru Lucas.Meskipun dia sedang marah kepada Angeline, tetapi dia tidak mau wanita itu terluka.“Lantas, kamu bagaimana?” tanya Angeline yang juga mengkhawatirkan Lucas.“Aku akan melawan mereka. Ini adalah masalahku, jadi aku yang harus menyelesaikannya,” kata Lucas bersungguh-sungguh. Angeline menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak bisa. Ini adalah daerah rumahku, jadi aku juga bertanggung jawab atas keamanannya.”“Mungkin saja jika sudah melihatku, orang yang ingin membunuhmu itu mengurungkan niatnya. Sebab, aku tidak akan segan-segan untuk melaporkannya ke polisi jika memaksa untuk menghajarmu. Aku punya kenalan pengacara hebat,” lanjutnya.Lucas menarik napas dalam-dalam. Dia merasa sedikit lelah dengan sifat Angeline yang susah diatur. “Aku tahu kamu memiliki banyak relasi. Latar belakangmu, membuat kamu
Lucas merasakan kekuatan yang dimiliki oleh Si Tangan Besi cukup kuat. Pria itu tidak seperti tiga orang sebelumnya yang bukan seorang ahli beladiri.Si Tangan Besi menang memiliki kemampuan mengesankan. Kekuatan tangannya sungguh luar biasa.Dia bisa menghancurkan beton hanya dengan tangan kosong saja.“Kau sudah membunuh dua orang anak buahku sebelumnya dan sekarang, kamu membuat Leo seperti ini. Sungguh berani sekali kamu melakukannya. Itu berarti secara tidak langsung, kamu menantangku! Si Tangan Besi!” Si Tangan Besi berbicara dengan suara bergetar penuh amarah.Lucas terkejut mendengarnya. Dia teringat dengan informasi yang diberikan oleh pemilik kedai kopi jika dia orang perusuh itu adalah anak buah Si Tangan Besi yang merupakan pemimpin organisasi mafia Dominus Noctis.“Jadi kamu adalah Si Tangan Besi? Pemimpin organisasi mafia Dominus Noctis?” tanya Lucas.Si Tangan Besi menganggukan kepalanya dengan yakin sambil berkata, “Ya, itu benar. Bagaimana? Apakah kamu ingin menyerah
Lucas hanya tertawa kecil saja melihat Si Tangan Besi, emosi kepadanya. Baginya itu adalah pemandangan yang lucu.Emosi Si Tangan Besi sudah memenuhi seluruh aliran darah di tubuhnya. Dia tidak bisa menahannya lagi selain dilampiaskan kepada Lucas.Kepalan tangannya semakin kuat hingga membuat badannya bergetar.Sedetik kemudian, Si Tangan Besi mengayunkan tangannya ke arah aspal dan memukul aspal itu dengan keras. Boom!Pukulan Si Tangan Besi sangat keras sekali,hingga membuat aspalnya rusak dan potongan-potongan kecil aspal berterbangan.Lucas cukup terkejut melihatnya. Meskipun dia sudah merasakan energi tubuh Si Tangan Besi tetapi dia tidak menyangka jika kekuatannya sebesar ini.Satu potongan aspal sebesar buah ceri terbang ke arah wajah Lucas. Dengan cepat dan tenang, Lucas menangkap potongan aspal itu.“Aku akan menghancurkan wajahmu seperti aspal ini. Aku akan membuat wajah tampanmu itu menjadi hancur tak berbentuk,” kata Si Tangan Besi dengan mata yang menatap tajam Lucas.D
Angeline melirik ke arah jendela balkon. Dia ingin berlari ke sana dan lompat ke bawah untuk menyelamatkan diri. Namun ternyata apa yang ada di pikirannya bisa dibaca oleh Nets.“Jangan coba-coba lari ke luar jika kamu tidak ingin mati!” ancam Nets.Angeline langsung mengurungkan niatnya, setidaknya sampai ada kesempatan untuk kabur.“Kamu hanya perlu memuaskan kami berdua saja. Setelah itu kami akan membiarkanmu pergi,” kata Tito.“Kurang ajar! Siapa yang langsung di memuaskan kalian? Orang-orang dengan kelainan jiwa!” geram Angeline.Wajah Tito yang semula ramah dan berseri-seri, langsung berubah suram. Dia tersinggung dengan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Angeline.“Apa yang kamu katakan? Kelainan jiwa? Bajingan!” geram Tito.Pria itu pun langsung berjalan cepat mendekati Angeline dengan penuh amarah.Angeline menjadi panik saat ini.“Mau apa kamu? Diam di situ atau aku akan berteriak!” ancam Angeline.Namun Tito tidak menghiraukannya. Ini sebenarnya menjadi bagian dari mi
Lucas ingin mengetahui di mana markas Stefano yang sesungguhnya karena bisa saja markas besar organisasi dengan markas atau tempat tinggal Stefano berbeda.Namun ketika Si Tangan Besi akan menjawab, tetapi tiba-tiba dia kejang-kejang dan tidak lama kemudian, dia pun mengembuskan napas terakhirnya. “Sialan!” geram Lucas.Tidak ada pilihan lain sekarang selain dia harus bertanya langsung kepada para anak buah Si Tangan Besi. Informasi mengenai Stefano, harus dia dapatkan. Dengan gerakannya yang super cepat, Lucas kini telah berada di hadapan 5 orang anak buahnya Si Tangan Besi. Gerakannya yang sangat cepat itu, membuat semua orang terkejut.Kini mereka semua sadar dengan kekuatan Lucas yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, mereka memilih untuk diam di tempatnya masing-masing daripada harus kabur.“Kalian juga berasal dari organisasi Dominus Noctis, ‘kan? Jadi, ayo ceritakan kepadaku tentang Stefano dan organisasinya itu!” seru Lucas.Mereka semua malah saling pandang alih-alih menjawab p
Meskipun kedekatan antara dirinya dengan Angeline tidak didasari oleh rasa cinta namun Lucas tidak bisa menerima ada orang yang berani mengganggu Angeline. Apalagi sampai berani merasakan tubuh Angeline.‘Hanya aku yang boleh merasakannya!’Max langsung turun dari kasur. Wajahnya pucat dan dia sangat panik.“Ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku hanya sedang menolongnya saja karena dia pingsan,” kata Max, mencoba untuk membela diri. Lucas mengangkat sebelah bibirnya. Lalu dia bertanya, “Apa kamu pikir, aku percaya dengan apa yang kamu katakan?”“Ya, tentu saja kamu harus percaya karena memang aku … hahaha …” tiba-tiba saja Max tertawa dengan keras. Lucas cukup terkejut melihat perubahan sikap dari Max. Dia pun bertanya-tanya, kenapa dia bisa seperti ini. “Memang tidak ada gunanya untuk mengelak,” kata Max sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.Lucas memicingkan matanya.Kini ekspresi wajah Max kembali berubah. Dia terlihat sangat serius dan cenderung kaku.“Memangnya ada masalah j
Harapan untuk tetap hidup, kembali muncul bagi Max. Ada juga kemungkinan untuk membalas dendam dan dia tidak sabar untuk melakukannya.“Polisi datang, Lucas. Hahaha … seorang yang terlahir menjadi pemenang akan selalu menjadi pemenang. Kamu tidak akan pernah bisa melawan aku,” kata Max yang kemudian diikuti oleh gelak tawanya.Namun Lucas tidak pernah takut dengan polisi. Di saat dia sedang salah pun dia tidak takut, apalagi saat ini di saat posisinya sedang berada di pihak yang benar.Lucas sama sekali tidak takut!“Banyak bicara! Aku akan memotongmu beda yang sedang menyentuh kulit Angeline!” ucap Lucas.Kemudian dengan cepat dan kuat, dia membuka mulut Max dan menarik lidah itu keluar.Boom!Lucas meninju lantai hingga marmernya hancur. Dan dengan potongan marmer yang tajam, Lucas memotong lidah Max.Max berteriak dengan keras karena saking sakitnya.Saat sedang tengkurap, Lucas menarik tulang belakang Max dengan keras. Sontak saja, Max yang lumpuh. Dia tidak bisa menggerakkan selu
Meskipun Lucas adalah seorang raja mafia yang mana selalu dikonotasikan negatif oleh orang pada umumnya, namun dia juga adalah seorang yang patriotisme. Dia tidak mau negaranya hancur dan malah sebaliknya, dia ingin negaranya semakin maju dan makmur.“Aku pernah bertemu dengan seseorang dari organisasi Dominus Noctis sekitar setahun yang lalu. Orang itu mengatakan jika dia adalah kaki tangan salah satu pemimpin Dominus Noctis yang ingin masuk ke kota ini,” ucap Mike.Lucas mengerutkan keningnya. Lalu dia bertanya, “Apa yang orang itu sampaikan padamu?”“Ya, seperti biasa. Mereka menawarkanku uang yang sangat banyak. Dia juga memberikan jaminan kepadaku jika pemilihan umum berikutnya, aku pasti menang dan tetap menjadi walikota untuk periode berikutnya,” terang Mike.“Apa kamu menerima tawarannya?” tanya Lucas, tenang namun tajam.Jika dia sampai mendengar Mike menerima ataupun bahkan hanya mempertimbangkan, dia tidak akan segan-segan untuk menghukum sang walikota.Bagi Lucas, tidak ad
Matias menelan ludah, menyadari sepenuhnya bahwa nyawa mereka kini dalam ancaman. Dalam situasi seperti ini, harga diri bukan lagi hal yang penting. Satu-satunya hal yang berarti adalah bertahan hidup.“Tuan Lucas, saya... saya minta maaf!” Matias berkata dengan suara bergetar, menundukkan kepala dalam-dalam. “saya telah melakukan kesalahan. Mohon maafkan saya.”Lucas memicingkan matanya, menatap pria yang kini berlutut di hadapannya. “Maksudmu, kau mengakui bahwa kau telah korupsi?”Matias terdiam. Ia tahu, jawaban ini adalah pertaruhan besar. Jika ia mengaku, ada kemungkinan dia akan langsung dieksekusi. Tapi jika tidak mengaku, ada kemungkinan Lucas tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan pengakuan.Saat Matias ragu-ragu untuk menjawab, Lucas menghela napas. Dalam sekejap, kakinya melayang dan menendang wajah Matias. Tendangan itu tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat tubuh Matias terpelanting beberapa meter ke belakang.“Arrggh!!” Matias menjerit kesakitan. Hidungnya patah, dar
Nero menatap kedua pria yang kini berlutut di hadapan Lucas, wajah mereka penuh ketakutan. Dia bisa melihat jelas bagaimana keringat mengalir di pelipis Matias, sementara Randy tampak mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan mengalihkan pandangan. Namun, tidak ada yang bisa lolos dari tatapan tajam Nero.Lucas. Duduk diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Namun pria itu sudah menebarkan tekanan yang membuat suasana di ruangan semakin mencekam."Aku tidak mengerti..." Randy akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, suaranya bergetar. "Kenapa kami dibawa ke sini? Apa yang terjadi?"Matias menelan ludah, mencoba mengendalikan emosinya. Dia menoleh ke arah Nero, suaranya sedikit lebih tenang meski tetap dipenuhi ketegangan."Nero, ada apa ini? Jangan karena kau tidak bisa menemukan bukti soal tuduhan korupsi itu, kau bertindak kriminal seperti ini!"Mata Nero menyipit. Dia mendekat, lalu meraih kerah Matias dengan kasar."Berkacalah, Matias! Berhenti bertingkah seolah kau ini orang s
Mobil hitam melaju dengan tenang di jalanan malam yang semakin sepi. Lampu-lampu kota perlahan tertinggal di belakang, digantikan oleh pemandangan lahan kosong dan gedung-gedung tua di pinggiran kota. Di dalam mobil, dua pria terikat dengan kasar, duduk di kursi belakang dengan wajah penuh luka dan mata dipenuhi ketakutan.Randy menggeliat, mencoba menggerakkan tangannya yang terikat. "Sial! Kalian pikir kalian ini siapa? Lepaskan aku sekarang juga!"Buuuk!Tinju keras mendarat di pipinya. Kepalanya terlempar ke samping, rasa besi memenuhi mulutnya."Diam," suara berat dari salah satu pria Veleno terdengar dingin. "atau aku buat kau lebih menderita dari ini."Matias menelan ludah, napasnya tersengal saat melihat darah menetes dari bibir Randy. "Ke-kenapa kalian membawa kami? Kalian tidak bisa melakukan ini! Kami orang penting! Kalian bisa dalam bahaya."Dari jok penumpang depan, Hugo tertawa kecil. Dia melirik ke belakang dengan ekspresi bosan. "Orang penting? Di mata siapa? Kalian ha
Pria itu menekan tombol panggilan dengan tangan gemetar. Suaranya tertahan di tenggorokan, tetapi dia tahu tidak bisa ragu. Jika dia gagal menyampaikan ini, konsekuensinya tidak akan terbayangkan."Tuan," suaranya rendah, berusaha tetap tenang meskipun napasnya tersengal. "Kita punya masalah besar. Verdansk jatuh. Bos Marchetti dikalahkan ... dalam satu serangan."Hening sejenak. Kemudian, suara berat di seberang sana menjawab dengan nada dingin, "Apa yang kau katakan?""Lucas ... dia menghancurkan Marchetti. Dia mengambil alih Verdansk untuk Veleno. Kita ... butuh instruksi."Sementara itu, Lucas dan kelompoknya meninggalkan markas Dominus Noctis. Mereka bergerak cepat, kembali ke sasana Brotherhood. Mobil melaju dalam keheningan. Tidak ada yang berbicara, tetapi ketegangan masih terasa di udara. Lucas menatap ke luar jendela, ekspresinya datar, tetapi pikirannya masih menganalisis segala sesuatu yang baru saja terjadi.Saat mereka sampai di sasana, Kai langsung berlari ke ruang teng
Marchetti melangkah maju dengan penuh percaya diri. Tatapan matanya tajam, penuh determinasi."Aku adalah pemimpin baru Dominus Noctis di Verdansk," ucapnya dengan nada yang menggema di seluruh ruangan.Julian menatapnya dengan mata menyipit, bibirnya membentuk seringai tipis. "Jadi kamu pemimpinnya? Bagus. Aku tidak perlu repot-repot mencari lagi."Marchetti menyilangkan tangan di dada. "Jika kau datang ke sini saat pemimpin lama masih berkuasa, mungkin kau akan menang. Tapi sekarang berbeda. Aku yang memimpin. Dan aku tidak terkalahkan."Julian tertawa kecil. "Oh? Benarkah?"Dari balik pintu, langkah kaki terdengar. Semua kepala menoleh.Lucas melangkah masuk, tatapan matanya tajam seperti elang yang mengintai mangsa. Dia berhenti di samping Julian, menatap Marchetti dengan santai namun penuh tekanan."Jadi, kau yang sekarang memimpin Dominus Noctis?" tanya Lucas.Marchetti menatapnya dengan bingung. "Siapa kau? Aku tidak mengenalmu. Dan jika kau hanya orang biasa, lebih baik tutup
Ketiga pria itu masih menunduk, tubuh mereka sedikit gemetar. Mereka tahu, begitu mereka membawa Lucas ke markas Dominus Noctis, nyawa mereka bisa terancam. Tapi di sisi lain, jika menolak, mereka akan mati di tangan Julian."Kalian sudah mengambil keputusan, bukan?" Lucas bertanya dengan nada datar.Salah satu dari mereka mengangguk cepat. "Ya … kami akan mengantar kalian ke markas."Lucas melangkah ke mobil dengan tenang. Julian menyusul di belakangnya, lalu sebelum masuk, dia menoleh."Lucas, kau sudah memikirkan ini matang-matang?"Lucas menatapnya. "Kenapa? Kamu takut?"Julian mendengus. "Takut? Tidak. Aku hanya ingin memastikan kamu sadar konsekuensinya. Jika kita pergi ke sana, itu berarti kita secara resmi berperang dengan Dominus Noctis."Lucas menyandarkan punggungnya ke kursi mobil dan tersenyum tipis. "Lalu kenapa? Aku adalah pemimpin Veleno. Aku tidak peduli berapa banyak musuh yang datang. Jika mereka mengancam wilayahku, maka aku akan menghancurkan mereka terlebih dahul
Pemimpin pasukan musuh berdiri tegak. Seolah dia Ingin menunjukkan diri jika dia tidak takut kepada siapapun."Kalian pikir siapa, hah? Aku bukan orang yang bisa kalian takuti begitu saja!" Pemimpin musuh mendengus, melangkah maju dengan mata penuh keyakinan. Tatapannya menyapu tubuh Lucas dan Julian dengan penuh rasa percaya diri."Aku telah melalui lebih banyak pertempuran daripada yang bisa kalian bayangkan," katanya lagi, suaranya tajam. "Jika kalian berani melawanku, bersiaplah untuk mati!"Julian tersenyum tipis, menatap pria itu dengan tatapan yang hampir mengejek. "Lebih baik kalian semua menyerahkan diri sekarang," katanya santai. "kau sudah kehilangan banyak orang. Tidak ada gunanya melawan."Pemimpin musuh itu menggeram, matanya menyala karena amarah. "Serahkan diri? Setelah kalian membunuh anak buahku?”“Ciih! Aku tidak akan pernah melakukannya!" ucapnya dengan angkuh.Julian mengangkat bahu. "Kalau itu keputusanmu, kau juga akan mati sebentar lagi."Pria itu terkekeh, men
"Aku tidak suka ini," gumam Hugo, tatapannya tajam menyapu sekeliling. Lima pria bersenjata berdiri dalam formasi setengah lingkaran, mengawasi mereka seperti pemangsa menunggu mangsanya jatuh ke perangkap.Nero tetap tenang, meskipun pikirannya berpacu cepat. “Kita ulur waktu," bisiknya nyaris tak terdengar. "The Obsidian Blade pasti sudah membaca pesanku. Dia akan datang untuk menolong.”Hugo mengangguk kecil. Dia langsung memutar otak bagaimana caranya agar dia bisa mengukur waktu.Setelah beberapa saat, Hugo mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi malas. "Hei, aku kesulitan membuka pintunya," katanya, suaranya terdengar santai, seolah situasi ini bukan ancaman serius.Pemimpin kelompok itu,seorang pria bertubuh kekar dengan janggut tebal dan bekas luka di pelipisnya, menyipitkan mata. "Jangan main-main dengan kami!” ucapnya."Aku serius," kata Hugo, memasang ekspresi kesal. "kuncinya macet. Bagiamana aku bisa keluar?”Salah satu pria bertato di leher melangkah maju, menatap H
“Kendalikan dirimu.”Nero menatap Hugo dengan tajam. Suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi ada ketegasan yang tak bisa diabaikan.Hugo tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya terus menatap Randy dan Matias yang kini duduk santai di sudut restoran, berbincang seolah dunia sedang berpihak pada mereka.“Kita tidak bisa menyerang mereka sekarang,” lanjut Nero. “itu bukan perintah.”Hugo mengembuskan napas kasar. “Kalau bukan karena perintah dari The Obsidian Blade, mereka sudah mati di tempat ini.”“Dan itulah sebabnya kau harus menahan diri.” Nero mengaduk kopinya perlahan. “kita tunggu.”Hugo mengepalkan tangannya di bawah meja. “Tunggu apa? Sampai mereka menghancurkan semuanya?”Nero tidak menjawab. Matanya masih memperhatikan Randy dan Matias yang kini tidak lagi sendirian. Dua pria bertubuh besar masuk ke restoran, tubuh mereka dipenuhi tato, dari tangan, leher, hingga wajah. Salah satunya bahkan memiliki luka panjang di pipi kanan, memberi kesan bahwa ia bukan orang ya