Seluruh anggota keluarga Jordan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Lucas. Mereka sama sekali tidak menyangka jika Lucas berani protes kepada sang nenek.Jangankan orang lain, keluarga Jordan sendiri pun tidak ada yang berani membantah maupun protes apa yang dikatakan maupun diperintahkan oleh Lisa. Mungkin yang hanya berani sejauh ini hanyalah Angeline dan LucasKedua pasangan suami istri itu, pernah dan bahkan sering mendebat Lisa. Angeline bahkan lebih berani akhir-akhir ini. Tentu saja, yang ada di pikiran seluruh anggota keluarga besar Jordan, termasuk juga Jeremy, menduga jika Angeline telah dicuci otaknya oleh Lucas.“Ternyata dugaanku selama ini benar. Angeline menjadi berubah sikapnya, karena hasutan dari Lucas,” kata Jeremy dengan memasang wajah yang kesal. “Lihatlah apa yang dilakukan oleh Lucas tadi. Dia berpikir, jika dia sedang berbicara dengan temannya sendiri sehingga bisa protes begitu. Memangnya dia punya hak bicara di sini?” lanjut Jeremy.Karena namanya terse
Viviana merasa sangat panik sekali mendengar jika ada seorang yang jahat kepada Lucas. Dia tidak bisa terima jika Lucas terluka.Wanita itu memiliki sebuah ikatan yang kuat dengan Lucas. Selain karena Lucas telah membantunya untuk bisa sembuh dari kelumpuhan yang dideritanya, dia juga jatuh cinta kepada pria itu. Bukan karena dari wajahnya tetapi awal mula rasa cinta itu tumbuh adalah ketika Viviana menghirup aroma tubuh Lucas ketika sedang menyembuhkannya.Tentu saja jika sudah berurusan dengan hati ditambah dengan hutang nyawa, tidak ada yang bisa melepas ikatan itu. Albin menatap Gigio. Jelas jadi permasalahan ini, dia tidak bisa ikut campur.Gigio menghadap Viviana. Lalu dia berkata, “Kamu tenang dulu. Duduk dulu agar ayah bisa menjelaskannya dengan baik dan kamu bisa mengerti.”Viviana mengangguk. Dia kemudian duduk di kursi tepat di hadapan sang ayah.Gigio pun kemudian menceritakan tentang informasi yang dia dapat dari John kepada Viviana. “Jadi, Lucas menerima taruhan itu?”
Laki-laki yang terlihat masih cukup muda, mungkin umurnya antara 18 sampai 19 tahun itu, tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Lucas jika dirinya yang menjadi penyebab senggolan terjadi.“Bukankah memang seperti itu?” tanya Lucas masih dengan tenang.Lucas membiarkan saja laki-laki muda itu menarik kemejanya. Toh, dia tidak akan kuat untuk menarik tubuh Lucas.“Begini saja. Bagaimana kalau kita bertarung? Siapa yang kalah, dia harus bersujud di kaki pemenang. Dan juga, yang kalah harus membayar 10 Juta kepada si pemenang,” ajak si pemuda.Lucas menarik tangan bocah itu hingga melepaskan genggaman tangan pada kemejanya.“Dengar! Aku sama sekali tidak tertarik untuk melawan bocah ingusan sepertimu. Sebab, aku tidak pernah mengeluarkan keringat sedikit pun jika melawan orang-orang seumuranmu,” kata Lucas dengan tenang.“Cih! Sombong sekali! Memangnya seberapa besar kekuatanmu?” kata si pemuda.“Cukup untuk mengirimmu ke neraka,” kata Lucas.Mendengar itu, si pemuda naik pitam. Buka
Lucas dan Albin berjalan masuk ke dalam sasana Brotherhood.“Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku akan bertarung malam ini?” tanya Lucas.Albin tersenyum sambil berkata, “Aku adalah polisi, jadi aku tahu tentang gerak-gerik bawah tanah.”“Kamu yakin? Aku pikir kamu mendapatkan informasi dari John Travis. Dia pasti meminta dukungan kepada wakil ketua Gigio, ‘kan?” kata Lucas, menatap wajah Albin sambil berjalan. Albin hanya tersenyum saja merespon apa yang dikatakan oleh Lucas.“Apakah kamu yakin bisa mengalahkan mereka semua?” tanya Albin.Pria itu kemudian menghentikan langkah kakinya dan memutar badannya untuk menghadapi Lucas.“Jumlah mereka cukup banyak. Para petarung yang memiliki kualitas baik, sekitar 30 sampai 40 orang. Apa kamu yakin bisa mengalahkan mereka?” tanya Albin kembali.Lucas yang berhenti berjalan juga, tersenyum mendengar pertanyaan itu. Sikapnya sama dengan yang ditunjukkan oleh Albin ketika Lucas bertanya tadi.“Aku pikir itu terlalu banyak, Lucas. Lebih baik kam
Gigio sangat penasaran sekali dengan apa yang direncanakan oleh Lucas. Dia tidak percaya jika Lucas menerima taruhan itu karena terpancing emosi atau hanya untuk menunjukkan diri.Dari pertemuan pertama dengan Lucas, dia bisa menilai jika Lucas bukanlah orang yang haus akan pujian. Dia malah terlihat lebih tertutup.Lucas yang mendapat pertanyaan itu, bingung untuk menjelaskannya. Dia tidak bisa menceritakan tentang rencananya kepada Gigio karena dia masih belum percaya kepada pria itu.Terlebih, Gigio adalah orang di luar organisasi Veleno.“Hmmm … sebenarnya aku hanya kesal sana kepada orang itu yang selalu merendahakanku. Dan selain itu, aku juga tertarik memiliki sasana tinju bawa tanah. Jika memulainya dari nol, tentu prosesnya akan lama dan berat. Jadi aku memilih cara yang lebih instan saja,” jawab Lucas.Gigio terdiam sejenak dengan mata yang menatap dalam-dalam kedua mata Lucas. Dia tidak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Lucas.“Benarkah? Apakah tidak ada alasan yang l
Gigio dan Albin begitu terkejut dengan kemampuan analisa Lucas. Bahkan dia bisa menilai kekuatan seseorang dengan murni. Kondisi fisik seseorang bahkan tidak dilihat olehnya. Dia melihat dari cara yang lain yaitu dengan merasakan energi seseorang.“Wah, aku sangat beruntung sekali. Memang analisa Lucas tidak pernah salah. Dia memang yang terbaik sejak dulu!” puji Mike dengan sangat riang gembira. Bagaimana tindak gembira jika dirinya berhasil mendapatkan keuntungan 100 kali lipat!“Lucas, bagaimana kamu bisa menilainya? Jika dilihat dari mata normal, sudah sangat jelas jika petarung berbadan kecil itu akan kalah. Tapi kamu menilai berbeda dan ternyata hasilnya sesuai dengan perkiraanmu. Itu sungguh luar biasa!” ucap Gigio dengan ekspresi wajah yang bingung. “Yang pertama aku melihat dari caranya berjalan. Kakinya begitu kokoh dan juga salat matanya begitu percaya diri namun bukan yang arogan,”“Dan yang terakhir, aku bisa merasakan energi miliknya yang kuat. Lebih kuat dibandingkan
Lucas langsung saja menuju ke ring tinju tanpa menunggu dipanggil terlebih dahulu. Lucas langsung lompat melewati pembatas ring yang menggunakan kawat-kawat besar.Ring itu berbentuk lingkaran dengan tinggi pembatas 3 meter. Dan di bagian atasnya tergantung sebuah penutup yang terbuat dari kawat besar yang dianyam juga.Jika ditutup, ring itu lebih mirip dengan kurungan ayam.Pembawa acara yang baru saja akan berjalan menuju ring, terkejut dengan pemandangan itu.“Dia siapa? Kenapa dia tiba-tiba masuk ke dalam ring?” tanya sang pembawa acara.Namun tidak ada yang mengetahui siapa orang yang masuk ke dalam ring itu. Mereka tidak pernah bertemu dengannya. “Cepat usir orang gila itu! Sangat mengganggu!” seru si pembawa acara kepada seorang petugas keamanan.Namun ketika petugas keamanan itu akan bergerak, John Travis datang.“Biarkan saja dia di sana! Dia adalah orang gila yang akan bertarung melawan para petarung kita!” seru John.Sontak saja semua orang terkejut ketika mendengar jika
Dari postur tubuh dan juga penampilannya, sangat jelas jika orang yang diperintahkan oleh John masuk terlebih dahulu untuk melawan Lucas, memiliki kemampuan yang beladiri yang tinggi. Namun apakah memang kemampuan aslinya berbanding lurus dengan perawakannya?“Apakah kamu memiliki pesan terakhir yang ingin kamu sampaikan kepada keluargamu?” tanya pria berbadan besar.Dia begitu percaya diri sekali bisa menang melawan Lucas. Dia menganggap jika Lucas hanyalah seorang pria yang besar mulut saja. Namun dia tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ahli beladiri. “Jangan banyak bicara, tunjukkan saja kemampuanmu!” seru Lucas dengan sorot mata yang tajam. “Cih! Berisik sekali!” ucap pria itu.John berdiri di samping ring. Sambil mengoyak-oyak ring seperti orang kesurupan, dia berkata, ‘Pertarungan dimulai!”Para penonton lebih bersemangat. Mereka bersorak-sorai dengan semangat.“Maju!” seru pria berbadan besar itu.Lucas dengan tenang, berjalan mendekat. Dia seperti
Matias menelan ludah, menyadari sepenuhnya bahwa nyawa mereka kini dalam ancaman. Dalam situasi seperti ini, harga diri bukan lagi hal yang penting. Satu-satunya hal yang berarti adalah bertahan hidup.“Tuan Lucas, saya... saya minta maaf!” Matias berkata dengan suara bergetar, menundukkan kepala dalam-dalam. “saya telah melakukan kesalahan. Mohon maafkan saya.”Lucas memicingkan matanya, menatap pria yang kini berlutut di hadapannya. “Maksudmu, kau mengakui bahwa kau telah korupsi?”Matias terdiam. Ia tahu, jawaban ini adalah pertaruhan besar. Jika ia mengaku, ada kemungkinan dia akan langsung dieksekusi. Tapi jika tidak mengaku, ada kemungkinan Lucas tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan pengakuan.Saat Matias ragu-ragu untuk menjawab, Lucas menghela napas. Dalam sekejap, kakinya melayang dan menendang wajah Matias. Tendangan itu tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat tubuh Matias terpelanting beberapa meter ke belakang.“Arrggh!!” Matias menjerit kesakitan. Hidungnya patah, dar
Nero menatap kedua pria yang kini berlutut di hadapan Lucas, wajah mereka penuh ketakutan. Dia bisa melihat jelas bagaimana keringat mengalir di pelipis Matias, sementara Randy tampak mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan mengalihkan pandangan. Namun, tidak ada yang bisa lolos dari tatapan tajam Nero.Lucas. Duduk diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Namun pria itu sudah menebarkan tekanan yang membuat suasana di ruangan semakin mencekam."Aku tidak mengerti..." Randy akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, suaranya bergetar. "Kenapa kami dibawa ke sini? Apa yang terjadi?"Matias menelan ludah, mencoba mengendalikan emosinya. Dia menoleh ke arah Nero, suaranya sedikit lebih tenang meski tetap dipenuhi ketegangan."Nero, ada apa ini? Jangan karena kau tidak bisa menemukan bukti soal tuduhan korupsi itu, kau bertindak kriminal seperti ini!"Mata Nero menyipit. Dia mendekat, lalu meraih kerah Matias dengan kasar."Berkacalah, Matias! Berhenti bertingkah seolah kau ini orang s
Mobil hitam melaju dengan tenang di jalanan malam yang semakin sepi. Lampu-lampu kota perlahan tertinggal di belakang, digantikan oleh pemandangan lahan kosong dan gedung-gedung tua di pinggiran kota. Di dalam mobil, dua pria terikat dengan kasar, duduk di kursi belakang dengan wajah penuh luka dan mata dipenuhi ketakutan.Randy menggeliat, mencoba menggerakkan tangannya yang terikat. "Sial! Kalian pikir kalian ini siapa? Lepaskan aku sekarang juga!"Buuuk!Tinju keras mendarat di pipinya. Kepalanya terlempar ke samping, rasa besi memenuhi mulutnya."Diam," suara berat dari salah satu pria Veleno terdengar dingin. "atau aku buat kau lebih menderita dari ini."Matias menelan ludah, napasnya tersengal saat melihat darah menetes dari bibir Randy. "Ke-kenapa kalian membawa kami? Kalian tidak bisa melakukan ini! Kami orang penting! Kalian bisa dalam bahaya."Dari jok penumpang depan, Hugo tertawa kecil. Dia melirik ke belakang dengan ekspresi bosan. "Orang penting? Di mata siapa? Kalian ha
Pria itu menekan tombol panggilan dengan tangan gemetar. Suaranya tertahan di tenggorokan, tetapi dia tahu tidak bisa ragu. Jika dia gagal menyampaikan ini, konsekuensinya tidak akan terbayangkan."Tuan," suaranya rendah, berusaha tetap tenang meskipun napasnya tersengal. "Kita punya masalah besar. Verdansk jatuh. Bos Marchetti dikalahkan ... dalam satu serangan."Hening sejenak. Kemudian, suara berat di seberang sana menjawab dengan nada dingin, "Apa yang kau katakan?""Lucas ... dia menghancurkan Marchetti. Dia mengambil alih Verdansk untuk Veleno. Kita ... butuh instruksi."Sementara itu, Lucas dan kelompoknya meninggalkan markas Dominus Noctis. Mereka bergerak cepat, kembali ke sasana Brotherhood. Mobil melaju dalam keheningan. Tidak ada yang berbicara, tetapi ketegangan masih terasa di udara. Lucas menatap ke luar jendela, ekspresinya datar, tetapi pikirannya masih menganalisis segala sesuatu yang baru saja terjadi.Saat mereka sampai di sasana, Kai langsung berlari ke ruang teng
Marchetti melangkah maju dengan penuh percaya diri. Tatapan matanya tajam, penuh determinasi."Aku adalah pemimpin baru Dominus Noctis di Verdansk," ucapnya dengan nada yang menggema di seluruh ruangan.Julian menatapnya dengan mata menyipit, bibirnya membentuk seringai tipis. "Jadi kamu pemimpinnya? Bagus. Aku tidak perlu repot-repot mencari lagi."Marchetti menyilangkan tangan di dada. "Jika kau datang ke sini saat pemimpin lama masih berkuasa, mungkin kau akan menang. Tapi sekarang berbeda. Aku yang memimpin. Dan aku tidak terkalahkan."Julian tertawa kecil. "Oh? Benarkah?"Dari balik pintu, langkah kaki terdengar. Semua kepala menoleh.Lucas melangkah masuk, tatapan matanya tajam seperti elang yang mengintai mangsa. Dia berhenti di samping Julian, menatap Marchetti dengan santai namun penuh tekanan."Jadi, kau yang sekarang memimpin Dominus Noctis?" tanya Lucas.Marchetti menatapnya dengan bingung. "Siapa kau? Aku tidak mengenalmu. Dan jika kau hanya orang biasa, lebih baik tutup
Ketiga pria itu masih menunduk, tubuh mereka sedikit gemetar. Mereka tahu, begitu mereka membawa Lucas ke markas Dominus Noctis, nyawa mereka bisa terancam. Tapi di sisi lain, jika menolak, mereka akan mati di tangan Julian."Kalian sudah mengambil keputusan, bukan?" Lucas bertanya dengan nada datar.Salah satu dari mereka mengangguk cepat. "Ya … kami akan mengantar kalian ke markas."Lucas melangkah ke mobil dengan tenang. Julian menyusul di belakangnya, lalu sebelum masuk, dia menoleh."Lucas, kau sudah memikirkan ini matang-matang?"Lucas menatapnya. "Kenapa? Kamu takut?"Julian mendengus. "Takut? Tidak. Aku hanya ingin memastikan kamu sadar konsekuensinya. Jika kita pergi ke sana, itu berarti kita secara resmi berperang dengan Dominus Noctis."Lucas menyandarkan punggungnya ke kursi mobil dan tersenyum tipis. "Lalu kenapa? Aku adalah pemimpin Veleno. Aku tidak peduli berapa banyak musuh yang datang. Jika mereka mengancam wilayahku, maka aku akan menghancurkan mereka terlebih dahul
Pemimpin pasukan musuh berdiri tegak. Seolah dia Ingin menunjukkan diri jika dia tidak takut kepada siapapun."Kalian pikir siapa, hah? Aku bukan orang yang bisa kalian takuti begitu saja!" Pemimpin musuh mendengus, melangkah maju dengan mata penuh keyakinan. Tatapannya menyapu tubuh Lucas dan Julian dengan penuh rasa percaya diri."Aku telah melalui lebih banyak pertempuran daripada yang bisa kalian bayangkan," katanya lagi, suaranya tajam. "Jika kalian berani melawanku, bersiaplah untuk mati!"Julian tersenyum tipis, menatap pria itu dengan tatapan yang hampir mengejek. "Lebih baik kalian semua menyerahkan diri sekarang," katanya santai. "kau sudah kehilangan banyak orang. Tidak ada gunanya melawan."Pemimpin musuh itu menggeram, matanya menyala karena amarah. "Serahkan diri? Setelah kalian membunuh anak buahku?”“Ciih! Aku tidak akan pernah melakukannya!" ucapnya dengan angkuh.Julian mengangkat bahu. "Kalau itu keputusanmu, kau juga akan mati sebentar lagi."Pria itu terkekeh, men
"Aku tidak suka ini," gumam Hugo, tatapannya tajam menyapu sekeliling. Lima pria bersenjata berdiri dalam formasi setengah lingkaran, mengawasi mereka seperti pemangsa menunggu mangsanya jatuh ke perangkap.Nero tetap tenang, meskipun pikirannya berpacu cepat. “Kita ulur waktu," bisiknya nyaris tak terdengar. "The Obsidian Blade pasti sudah membaca pesanku. Dia akan datang untuk menolong.”Hugo mengangguk kecil. Dia langsung memutar otak bagaimana caranya agar dia bisa mengukur waktu.Setelah beberapa saat, Hugo mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi malas. "Hei, aku kesulitan membuka pintunya," katanya, suaranya terdengar santai, seolah situasi ini bukan ancaman serius.Pemimpin kelompok itu,seorang pria bertubuh kekar dengan janggut tebal dan bekas luka di pelipisnya, menyipitkan mata. "Jangan main-main dengan kami!” ucapnya."Aku serius," kata Hugo, memasang ekspresi kesal. "kuncinya macet. Bagiamana aku bisa keluar?”Salah satu pria bertato di leher melangkah maju, menatap H
“Kendalikan dirimu.”Nero menatap Hugo dengan tajam. Suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi ada ketegasan yang tak bisa diabaikan.Hugo tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya terus menatap Randy dan Matias yang kini duduk santai di sudut restoran, berbincang seolah dunia sedang berpihak pada mereka.“Kita tidak bisa menyerang mereka sekarang,” lanjut Nero. “itu bukan perintah.”Hugo mengembuskan napas kasar. “Kalau bukan karena perintah dari The Obsidian Blade, mereka sudah mati di tempat ini.”“Dan itulah sebabnya kau harus menahan diri.” Nero mengaduk kopinya perlahan. “kita tunggu.”Hugo mengepalkan tangannya di bawah meja. “Tunggu apa? Sampai mereka menghancurkan semuanya?”Nero tidak menjawab. Matanya masih memperhatikan Randy dan Matias yang kini tidak lagi sendirian. Dua pria bertubuh besar masuk ke restoran, tubuh mereka dipenuhi tato, dari tangan, leher, hingga wajah. Salah satunya bahkan memiliki luka panjang di pipi kanan, memberi kesan bahwa ia bukan orang ya