Victor menarik napas dalam-dalam. Dia khawatir jika Lucas memang orang yang menakutkan.Meskipun Stefano mengatakan kalau dia masih memiliki kemampuan di atas Lucas, namun tetap saja dia merasa cemas. Biasanya orang-orang yang memiliki kemampuan ilmu bela diri tingkat tinggi, memiliki banyak cara untuk mengalahkan musuhnya.“Aku melihatnya bertarung dengan seseorang yang menggunakan senjata api dan dia bisa menang dengan mudah. Dia memiliki kecepatan dan kekuatan yang patut diapresiasi,” terang Stefano.Victor merinding seketika. Pikirannya saat ini menggambarkan Lucas sebagai sosok yang tidak begitu hebat.“Berarti dia memang sangat hebat? Bagaimana jika tiba-tiba dia menyerang dan menghabisi seluruh keluargaku? Apa yang harus aku lakukan sekarang untuk membalas dendam dan melindungi keluargaku?” tanya Victor.Stefano menunjuk ke arah korek elektrik yang tergeletak di atas meja. Dia memberikan isyarat kepada Daniel untuk mengambilkannya.Dengan sigap Daniel mengambilkan korek elektri
Victor mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jika Stefano tidak keberatan juga Rianti dibuat mabuk.Victor menoleh ke arah Daniel dan berkata, “Siapkan minuman-minuman dan suruh Rianti untuk bergabung di sini bersamaku dan Stefano.”“Siap melaksanakan, Tuan!” ucap Daniel.Setelah itu Daniel pun pergi untuk menjalankan perintah yang diberikan oleh Victor.Sekitar 10 menit kemudian, beberapa minuman sudah tersaji di atas meja.Ruang kerja Victor kini sudah seperti sebuah bar.“Sayang, Kamu memanggilku?” tanya Rianti ketika baru tiba. “Oh iya, sini, kita temani pak Stefano malam ini,” ucap Victor sambil memukul pelan sofa.Rianti yang juga sudah mengenal Stefano cukup lama, tidak memiliki kecurigaan apapun. Dia langsung duduk di samping suaminya dengan menunjukan wajah yang ceria.“Aku lagi pengen minum-minum dan sepertinya ditemani oleh kalian berdua itu sangat mengasyikkan,” kata Stefano sambil tersenyum dan menatap kedua mata Rianti dalam-dalam.“Oh, iya, tidak masalah. Kami pasti
Mendengar neneknya marah, membuat Angeline kembali bertanya-tanya tentang masalah apa yang baru saja dia lakukan.Panggilan suara langsung diakhiri oleh Lisa. Angeline pun meletakkan ponselnya di atas kabur.Angeline mencoba mengingat-ingat tentang apa yang terjadi kemarin namun dia tidak bisa menemukan kesalahan yang sudah dia buat. Satu-satunya kejadian yang bisa membuat sang nenek marah hanyalah pernikahannya dengan Lucas yang telah didaftarkan secara resmi. “Ah, mungkinkah tentang itu? Emangnya siapa yang memberitahu nenek aku dan Lucas yang sudah menikah secara resmi?” tanya Angeline pada dirinya sendiri.Setelah beberapa saat memikirkan tentang masalah yang telah dia perbuat yang membuat Losa marah, akhirnya Angeline memilih untuk mandi dan bersiap-siap ke kantor.Dia tidak banyak menghabiskan waktu di kamar mandi, pagi ini. Tidak seperti biasanya. Sebab, dia sudah sangat penasaran dengan apa yang akan dibahas oleh sang nenek.Jika memang nenek benar-benar marah kepadanya, seti
Sabrina memang seperti Bella. Dia selalu iri dengan Angeline karena selama ini Angeline selalu menjadi pusat perhatian, baik dari keluarga maupun dari luar, terutama dari pada pria.Di dalam keluarga, Angeline selalu diandalkan oleh sang nenek untuk menyelesaikan masalah-masalah perusahaan. Dan bahkan dia mendapatkan kedudukan yang tinggi sebagai seorang direktur, yang mana hanya Angeline saja seorang wanita di dalam keluarga yang diberikan jabatan sebagai Direktur. Namun kini dia merasa lebih berguna dibandingkan dengan Angeline, hanya karena dia diberi kepercayaan oleh sang nenek untuk bertemu dengan Ashton.Bukannya marah ataupun tersinggung, justru Angeline merasa senang. Sebab dia terhindar dari pria-pria yang menginginkannya untuk menjadi istri.“Wah, itu bagus sekali Sabrina. Mungkin saja kali ini kamu bisa benar-benar menyelamatkan keluarga. Jadi, kamu bisa membayar hutang budi kepada nenek karena bisa hidup enak selama ini,” ucap Angeline dengan ekspresi wajah yang bahagia.
Lucas sangat percaya diri karena memang perusahaan Golden Star adalah milik Organisasi Veleno yang dia bangun. Jadi, meskipun dia sudah tidak berada di ibukota dan menjadi pemimpin Organisasi Veleno, dia yakin pemimpin perusahaan pasti akan menerima dan mengabulkan keinginannya. Namun apa yang dikatakan oleh Lucas tersebut, dianggap omong kosong oleh Jeremy dan Lisa. Mereka menilai jika Lucas terlalu banyak berkhayal.Sebenarnya bukan hanya kedua orang itu saja yang tidak percaya dengan Lucas. Namun, Angeline juga merasa sangat ragu.“Apa? Kamu akan membawa investasi dari perusahaan Golden Star? Bagaimana caranya?” tanya Jeremy sambil tertawa.Jeremy menilai jika Lucas sedang melawak.“Aku sudah sangat lelah sekali dengan kalian. Sekarang, terserah kalian saja mau bagaimana. Tapi, jika kalian gagal membawa investasi dari perusahaan Golden Star atau jika keluarga Benedict datang dan menyeret keluarga Jordan, maka aku akan langsung mencoret Angeline dari daftar keluarga!” ucap Lisa de
Angeline merasa sangat bersyukur mendengar kabar jika dia berhasil mendapatkan kredit dari Bank Vittese. Dengan begitu, perusahaan dapat bernapas lebih panjang.“Jadi, benar kami mendapatkan kredit dari Bank Vittese?” tanya Angeline kembali untuk memastikan. Lucas menggenggam tangan Angeline dengan erat seraya berkata, “Bu Christy sudah menyatakannya tadi. Jadi tidak perlu dia mengatakannya lagi. Kamu sudah berhasil, Angeline.”Angeline mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian dia mengulurkan tangan untuk mengajak Christy berjabat tangan sebagai ungkapan terima kasih. “Terima kasih banyak karena sudah membantu kami dalam mendapatkan kredit,” ucap Angeline saat Christy menerima jabatan tangan Angeline.Sambil tersenyum, Christy menjawab, “Sama-sama, Bu. Saya hanya menjalankan tugas saja sebagaimana mestinya dan dengan profesional. Jadi jika memang Ibu layak, kenapa lami menolaknya?”Angeline langsung teringat kepada Arnold. Dia pernah berjanji kepada Arnold untuk memberikan komisi
Sabrina merapikan pakaian dan juga rambutnya sebelum masuk ke dalam ruangan Ashton. Dia ingin tampil secantik mungkin di hadapan pewaris Keluarga Carter.“Sudah siap belum? Jangan lama-lama, pak Ashton paling tidak suka orang yang bertele-tele!”Sabrina mengangguk sambil berkata, “Iya, aku sudah siap.”Sekpri Ashton itu pun membuka pintu ruangan. Dia masuk ke dalam dan berkata, “Pak Direktur, dia sudah di depan.”Ashton berkata dengan bersemangat, “Suruh dia masuk.”Tidak lama kemudian Sabrina masuk ke dalam ruangan dengan senyum lebar uang tersungging di wajahnya. Tatapan matanya kepada Ashton pun dibuat menggoda.Ketika melihat wanita yang masuk bukanlah Angeline, tentu saja Ashton sangat kecewa.Di dalam bayangannya, dia akan bertemu dengan Angeline sekarang. Melihat wajahnya, berbincang dengan suara lembut tapi terasa dingin, dan badannya yang menggoda. Namun yang hadir sekarang, tidak sesuai dengan ekspektasinya.“Selamat pagi, Pak Ashton. Terima kasih karena sudah menerimaku,” u
Di kantor perusahaan Liquid Angeline bergegas menuju ke ruangan Lisa. Dia ingin memberitahu kabar baik dari Bank Vittese kepada neneknya.Sedangkan Lucas, dia meminta izin kepada Angeline untuk pulang ke rumah. Karena sebentar lagi jam istirahat, dia pun diizinkan untuk pulang.Karena menggunakan mobil, Lucas bisa lebih cepat sampai di rumah mamanya karena lewat jalan tol. Jadi, dia hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai. Berbeda jika naik motor yang bisa mencapai 30-40 menit.Angeline mengetuk pintu dan Lisa mengizinkan Angeline untuk masuk.“Ada apa?”Lisa sedang sangat teliti membaca berkas-berkas laporan sehingga dia tidak melihat wajah Angeline.“Nek, aku punya kabar baik!” ucap Angeline, bersemangat.Lisa mengangkat kepalanya dan menatap sang cucu. “Kabar baik apa? Dari Sabrina?”Saat ini yang sedang menjalankan tugas untuk menyelamatkan perusahaan adalah Sabrina. Jadi sangat wajar jika Lisa langsung ingat dengan Sabrina ketika mendengar laporan kabar baik.“Bukan, Nek. Ini ka
Kesunyian yang melingkupi ruangan itu begitu mencekam. Aura kekuasaan Raja Verdansk terasa semakin menekan setiap detik yang berlalu.Dari singgasananya yang megah, sang raja menatap tajam ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. Tatapannya tidak menunjukkan emosi, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat John dan Matteo merasa seakan mereka sedang dihakimi.Bagi Raja Verdansk, pertemuan seperti ini adalah sesuatu yang membuang waktu. Dia tidak suka berbasa-basi, tidak tertarik mendengarkan keluhan orang lain. Tetapi, setelah mendengar laporan bahwa Matteo telah berusaha tujuh kali untuk menemuinya, rasa penasarannya sedikit terusik.Lagi pula, yang diketahui olehnya, Matteo bukan orang sembarangan. Dia adalah ketua Serikat Dagang, organisasi paling berpengaruh di Kota Verdansk dan menjadi salah satu lumbung pendapatannya.Namun, yang membuat Raja Verdansk akhirnya memutuskan untuk menerima pertemuan ini bukanlah karena kesetiaan Matteo, melainkan untuk memahami kenapa
Luki duduk dengan santai di ruang tamu, senyum tipis terukir di wajahnya. Dia baru saja mendapat kabar dari Matteo yang membuatnya senang dan penuh semangat.Di tangannya masih ada gelas berisi anggur merah. Dia menggoyangkannya perlahan, matanya menatap cairan itu dengan penuh antisipasi.Langkah kaki terdengar dari arah pintu masuk.Ashton baru saja pulang kerja, jasnya masih rapi, tetapi ekspresinya terlihat lelah. Begitu dia melihat Luki duduk dengan ekspresi mencurigakan, alisnya langsung terangkat.“Ada apa? Kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya Ashton sambil melepas jasnya dan menggantungnya di sandaran sofa.Luki meneguk sedikit anggurnya sebelum menjawab, “Kak, sesuatu yang hebat akan segera terjadi.”Ashton mengernyit. Dia tidak menyukai cara bicara Luki yang penuh misteri.“Apa maksudmu?” tanya Ashton.Luki tersenyum lebih lebar. “Balas dendam akan segera terlaksana.”Ashton langsung menegang. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama.“Balas dendam kepada Lucas?” tanya
Lucas tetap berjongkok di balik semak-semak, matanya tidak pernah lepas dari istana mewah itu. Lampu-lampu temaram di sekeliling gedung menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan mengikuti tiupan angin malam.Di sebelahnya, Sam mulai gelisah. “Jadi … kita cuma akan diam di sini?” bisiknya.Lucas tidak menjawab. Pertanyaan itu telah ditanyakan oleh Sam sebelumya, jadi Lucas tidak perlu lagi untuk menjawab karena membuang-buang energi saja.Lucas masih mengamati setiap detail pergerakan di depan vila. Dia terpikir untuk mengambil beberapa foto dan video sebagai bukti.Namun saat ponselnya dikeluarkan, ada panggilan suara masuk. Tidak ada suara dan tidak ada getaran karena memang Lucas mengatur ponselnya agar sunyi. Dia tidak ingin ada gangguan saat sedang mengawasi Matteo dan John.Di layar ponselnya nama Troy terpampang di sana. Lucas mendesah pelan. Troy sudah meneleponnya sepuluh kali. Tanpa ragu, Lucas akhirnya menerima panggilan itu.‘Apa yang terjadi, The Obsidian Blade? Ke
Di balik bayangan pepohonan, Lucas tetap berjongkok dengan tenang. Matanya fokus pada vila besar di depan mereka, sementara di sampingnya, seorang pemuda bernama Samuel tampak gelisah.Samuel, atau yang biasa dipanggil Sam, masih tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia hanya seorang pengendara motor biasa yang tiba-tiba diseret ke dalam situasi ini.Sam menelan ludah, lalu berbisik, “Hei, kita sudah sampai di sini. Sekarang bisa jelaskan, kenapa kita mengikuti orang itu?”Lucas tetap diam, matanya tidak berkedip sedikit pun.Sam melirik Lucas dengan ragu. “Dengar, aku memang butuh uang, tapi aku tidak mau terlibat dalam sesuatu yang berbahaya. Kamu bahkan belum memberitahuku siapa pria yang kita ikuti.”Lucas akhirnya menoleh ke arah Sam, sorot matanya tajam dan dingin. Aura berbahaya keluar dari tubuhnya begitu saja, membuat Sam langsung merasa tidak nyaman.Jantung pemuda itu berdetak lebih cepat. Seolah-olah dia baru saja menantang seekor harimau di tengah hutan.“Ad
Pada awalnya Lucas ingin membiarkan Matteo pergi. Namun dia juga mengingat lagi tentang keresahan hatinya tentang Lucas bebepaa hati yang lalu.Lucas menatap jalanan yang macet dengan rahang mengeras. Matteo sudah menghilang dari pandangan mereka, dan itu membuat nalurinya berteriak.“Baiklah Troy. Kejar dia!” perintah Lucas dengan suara tegas.Troy tersenyum. Inilah yang diinginkan olehnya. Yaitu menghukum Matteo dengan keras.Tanpa membuang waktu, Troy pun langsung menginjak pedal gas, mencoba menyalip kendaraan di depannya.Awalnya dia cukup mulus untuk melewati mobil-mobil di depannya meski sedang padat. Namun pada akhirnya, kondisi jalanan tidak berpihak kepada mereka. Lalu lintas menjadi semakin pada sehingga tidak ada ruang untuk menyalip lagi.Terdengar klakson kendaraan bersahutan, menciptakan kekacauan di jalan utama kota Verdansk.Troy mengumpat pelan. “Sial. Mobilnya tidak terlihat lagi.”Lucas menyipitkan matanya, berusaha mencari tanda-tanda keberadaan Matteo. Dia tahu b
Di dalam kantornya, Matias membaca pesan dari Randy dengan ekspresi serius. Dia langsung menghubungi rekannya itu via panggilan suara.‘Apa maksudmu dengan ‘orang ini berbahaya’?’ tanya Matias tanpa basa-basi begitu Randy menjawab panggilan suaranya.Di seberang telepon, Randy mendesah. ‘Dia bukan orang yang bisa kita kendalikan. Dia dingin, profesional, dan tidak tertarik dengan tawaran apa pun. Hal ini terlihat jelas saat dia berkunjung ke divisiku.’Matias mengernyit. ‘Jadi kita tidak bisa melobinya? Atau hanya belum tahu saja celahnya?‘Sepertinya akan sulit,’ jawab Randy. ‘aku sudah mencoba mengajaknya makan malam untuk mengenalnya lebih jauh, tapi dia langsung menolak dengan tegas seperti dia tahu apa rencanaku. Dia bukan tipe yang bisa dijebak dengan cara biasa.’Matias menyandarkan tubuhnya ke kursi, berpikir dengan keras.‘Hmmm … jalau begitu, kita harus tahu apa yang membuatnya bergerak,’ kata Matias akhirnya. ‘aku akan mencari tahu berapa gaji dan bonus yang dia dapat setia
Di dalam kantornya, Matias membaca pesan dari Randy dengan ekspresi serius. Dia langsung menghubungi rekannya itu via panggilan suara.‘Apa maksudmu dengan ‘orang ini berbahaya’?’ tanya Matias tanpa basa-basi begitu Randy menjawab panggilan suaranya.Di seberang telepon, Randy mendesah. ‘Dia bukan orang yang bisa kita kendalikan. Dia dingin, profesional, dan tidak tertarik dengan tawaran apa pun. Hal ini terlihat jelas saat dia berkunjung ke divisiku.’Matias mengernyit. ‘Jadi kita tidak bisa melobinya? Atau hanya belum tahu saja celahnya?‘Sepertinya akan sulit,’ jawab Randy. ‘aku sudah mencoba mengajaknya makan malam untuk mengenalnya lebih jauh, tapi dia langsung menolak dengan tegas seperti dia tahu apa rencanaku. Dia bukan tipe yang bisa dijebak dengan cara biasa.’Matias menyandarkan tubuhnya ke kursi, berpikir dengan keras.‘Hmmm … jalau begitu, kita harus tahu apa yang membuatnya bergerak,’ kata Matias akhirnya. ‘aku akan mencari tahu berapa gaji dan bonus yang dia dapat setia
Suasana di ruang rapat BQuality Group begitu tegang. Mata-mata penuh kecurigaan tertuju pada pria yang berdiri di depan ruangan, Nero. Dengan jas hitam rapi dan postur tegap, dia memancarkan aura otoritas yang sulit diabaikan.Jack Will melangkah maju, mengedarkan pandangan tajam ke setiap orang di ruangan. Dia tahu kehadiran Nero akan menimbulkan reaksi, terutama dari orang-orang yang selama ini merasa aman dalam permainan mereka sendiri."Posisi ini," kata Jack Will dengan suara tenang namun tegas, "dibentuk untuk menjamin transparansi dan integritas dalam perusahaan kita. Kita tidak bisa membiarkan ada celah bagi siapa pun untuk memperkaya diri dengan cara yang kotor."Ucapan itu seperti tamparan bagi beberapa orang di ruangan, terutama Randy dan Matias. Mereka tidak bereaksi secara langsung, tetapi rahang mereka mengeras.Jelas bagi mereka, keputusan ini adalah langkah untuk menjegal mereka. Sesuatu yang sangat tidak membuat mereka nyaman.Jack Will melanjutkan, "Sebagai Head of B
Angeline cemas jika Lucas melakukan sesuatu yang jauh. Semenjak Lucas memiliki sasana Brotherhood, Angeline cemas jika Lucas akan melakukan kekerasan fisik kepada orang yang tidak disukai.Lucas menatap Angeline, matanya berkilat tajam. “Aku ingin Randy dan Matias kapok dan tidak bermain-main lagi.”Angeline menghela napas panjang. Dia tahu Lucas tidak akan tinggal diam setelah mendengar ancaman itu. Tetapi dia juga tidak ingin segalanya menjadi semakin runyam.“Kumohon, Lucas.” Angeline menatapnya serius. “jangan main kekerasan. Aku tidak mau membuat masalah ini semakin besar. Aku juga tidak mau berurusan dengan polisi.”Lucas mendengus kecil, menatap Angeline dengan ekspresi tenang namun berbahaya. “Aku tahu bagaimana cara menangani mereka. Percayalah, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa menyeretmu ke dalam masalah.”Angeline tetap menatapnya, berusaha mencari kebenaran dalam kata-katanya. Lucas memang licin. Dia tidak akan bertindak tanpa perhitungan. Namun tetap saja, ini t