Angeline dan Lucas pun langsung menemui petugas pencatatan sipil di sebuah ruangan.Ternyata di dalam sana juga sudah ada petugas yang akan mengambil sumpah pernikahan.Angeline dan Lucas sama-sama gugup. Meskipun mereka yang merencanakan pernikahan sandiwara ini, namun rasanya seperti akan menikah sungguhan.“Aku deg-degan Bu Angeline. Rasanya ini seperti kita akan menikah beneran,” kata Lucas.Angeline yang sebenarnya juga merasa gugup, namun dia menunjukan ekspresi yang tenang karena ini adalah satu-satunya jalan.Orang suruhan Angeline benar-benar membantu dengan maksimal. Jadi, Angeline da Lucas pun hanya duduk saja dan semuanya beres.“Kalian hanya berdua saja? Apakah tidak ada orang tua, kerabat, maupun teman yang datang?” tanya petugas pencatat sipil.Angeline mengangguk sembari berkata, “Iya, kami datang berdua dan hanya dibantu oleh Todd.”“Baik kalau begitu. Sekarang kalian diwajibkan untuk mengambil sumpah pernikahan. Silakan!” ucap petugas pencatatan sipil yang seorang wa
Mendengar perintah Lucas, membuat Doni gemetaran tubuhnya. Dia sangat takut sekali akan dihajar oleh sang Raja Mafia.Namun Doni harus menuruti perintah Sang Raja Mafia. Jika tidak, maka sesuatu yang lebih buruk akan terjadi padanya.Dengan wajah yang menunduk, Doni berkata, “Mohon ampun, The Obsidian Blade.”“Ada dua kesalahan yang kamu perbuat; yang pertama adalah kamu meminta uang di muka. Seharusnya kamu memintanya saat dia pulang. Yang kedua, tarifnya terlalu mahal,” kata Lucas dengan serius.Doni langsung membungkukkan badannya sangat dalam. “Maafkan aku, Raja Mafia. Aku hanya mengikuti aturan yang telah dibuat sebelum aku bergabung.”“Jadi, hal ini sudah berlangsung lama?” tanya Lucas.“Iya, betul,” jawab Doni tanpa berani menatap wajah pria itu.Lucas menarik napas dalam-dalam. Lalu dia berkata, “Aku harus bicara dengan Julian.”Lucas kemudian membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menuju ke restoran.“Raja Mafia, tunggu!” ucap Doni.Lucas berhenti dan menoleh, “Ada apa
Viviana sangat senang sekali bisa bertemu dengan Lucas. Wajahnya begitu berseri ketika melihat pria yang sudah dianggap sebagai malaikat penyelamat.Namun, karena dia adalah wanita yang anggun dan santun, dia tidak bersikap berlebihan. Malah, dia malu-malu kepada Lucas.“Iya, Lucas. Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi,” ucap Viviana dengan mata yang menatap ke lantai.Wajah Viviana begitu merah seperti tomat saat ini.“Aku juga senang sekali bisa bertemu denganmu, Viviana. Apalagi saat aku melihat kondisimu sekarang. Aku senang sekali!” ucap Lucas, bersungguh-sungguh.Viviana mengangguk.“Duduk lagi, Viviana. Katanya kamu sedang sakit kaki karena maksa jalan terus?”Viviana kembali duduk saat melihat Lucas juga duduk.“Iya, tadi pagi otot pahaku tertarik. Kata fisioterapis, ini akibat aku terlalu banyak jalan,” ungkap Viviana yang kini mulai berani menatap kedua mata Lucas meskipun hanya dua detik saja.Lucas tersenyum mendengarnya. Dia pun berkata, “Tulang dan otot-otot tubuhmu
Dalam kondisi seperti ini, tentu saja Lucas masih harus menyembunyikan identitasnya. Selain agar tidak menjadi sosok yang mencolok sehingga bisa melumpuhkan musuh dengan mudah, dia juga memikirkan tentang Angeline Jelas, wanita itu pasti tidak akan bisa menerima status Lucas sebagai Raja Mafia. Entah menolaknya atau tidak percaya.Daripada membuat semuanya menjadi berantakan, Lucas memilih untuk menyembunyikan identitasnya dengan rapat.Angeline langsung menoleh ke arah Lucas. Dia yakin jika yang diajak bicara oleh tukang parkir ilegal itu adalah Lucas.“Apa? Raja Mafia?” tanya Angeline seraya memandang wajah Doni dan Lucas secara bergantian.Lucas menatap tajam Doni, memberikan kode kepada anak buahnya itu untuk meluruskan. Namun Doni sepertinya tidak terlalu peka. Dia tidak mengerti dengan maksud dari Lucas.Tidak ada jawaban, Angeline kembali bertanya. Dia ingin rasa penasarannya tuntas.“Siapa yang kamu panggil Raja Mafia? Apakah Raja Mafia itu adalah Lucas?” tanya Angeline denga
Angeline ternganga mendengar apa yang dikatakan oleh Lucas. Dia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Lucas.“Apa maksudmu dengan menggairahkan? Kamu sedang melecehkanku?” tanya Angeline dengan mata yang melotot karena marah.Angeline kini sangat menyeramkan. Dia seperti pembunuh berdarah dingin yang siap mengeksekusi musuhnya.Namun Lucas tidak takut sama sekali. Dia menganggap jika dirinya tidak bersalah.“Kenapa kamu marah? Aku sedang memujimu. Aku memuji tubuh indahmu. Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku, bukannya marah-marah,” kata Lucas dengan ekspresi wajah yang tidak bersalah. “Tapi kamu berbicara seperti itu kepada seorang wanita. Kata-kata yang kamu katakan tadi, bukanlah sebuah pujian tapi pelecehan,” geram Angeline.Lucas menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan.“Bukankah kita ini adalah pasangan suami istri yang sah? Kenapa masih bisa berbicara kalau aku melecehkanmu dengan memuji tubuhmu yang indah?” tanya Lucas. “bahk
Victor menarik napas dalam-dalam. Dia khawatir jika Lucas memang orang yang menakutkan.Meskipun Stefano mengatakan kalau dia masih memiliki kemampuan di atas Lucas, namun tetap saja dia merasa cemas. Biasanya orang-orang yang memiliki kemampuan ilmu bela diri tingkat tinggi, memiliki banyak cara untuk mengalahkan musuhnya.“Aku melihatnya bertarung dengan seseorang yang menggunakan senjata api dan dia bisa menang dengan mudah. Dia memiliki kecepatan dan kekuatan yang patut diapresiasi,” terang Stefano.Victor merinding seketika. Pikirannya saat ini menggambarkan Lucas sebagai sosok yang tidak begitu hebat.“Berarti dia memang sangat hebat? Bagaimana jika tiba-tiba dia menyerang dan menghabisi seluruh keluargaku? Apa yang harus aku lakukan sekarang untuk membalas dendam dan melindungi keluargaku?” tanya Victor.Stefano menunjuk ke arah korek elektrik yang tergeletak di atas meja. Dia memberikan isyarat kepada Daniel untuk mengambilkannya.Dengan sigap Daniel mengambilkan korek elektri
Victor mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jika Stefano tidak keberatan juga Rianti dibuat mabuk.Victor menoleh ke arah Daniel dan berkata, “Siapkan minuman-minuman dan suruh Rianti untuk bergabung di sini bersamaku dan Stefano.”“Siap melaksanakan, Tuan!” ucap Daniel.Setelah itu Daniel pun pergi untuk menjalankan perintah yang diberikan oleh Victor.Sekitar 10 menit kemudian, beberapa minuman sudah tersaji di atas meja.Ruang kerja Victor kini sudah seperti sebuah bar.“Sayang, Kamu memanggilku?” tanya Rianti ketika baru tiba. “Oh iya, sini, kita temani pak Stefano malam ini,” ucap Victor sambil memukul pelan sofa.Rianti yang juga sudah mengenal Stefano cukup lama, tidak memiliki kecurigaan apapun. Dia langsung duduk di samping suaminya dengan menunjukan wajah yang ceria.“Aku lagi pengen minum-minum dan sepertinya ditemani oleh kalian berdua itu sangat mengasyikkan,” kata Stefano sambil tersenyum dan menatap kedua mata Rianti dalam-dalam.“Oh, iya, tidak masalah. Kami pasti
Mendengar neneknya marah, membuat Angeline kembali bertanya-tanya tentang masalah apa yang baru saja dia lakukan.Panggilan suara langsung diakhiri oleh Lisa. Angeline pun meletakkan ponselnya di atas kabur.Angeline mencoba mengingat-ingat tentang apa yang terjadi kemarin namun dia tidak bisa menemukan kesalahan yang sudah dia buat. Satu-satunya kejadian yang bisa membuat sang nenek marah hanyalah pernikahannya dengan Lucas yang telah didaftarkan secara resmi. “Ah, mungkinkah tentang itu? Emangnya siapa yang memberitahu nenek aku dan Lucas yang sudah menikah secara resmi?” tanya Angeline pada dirinya sendiri.Setelah beberapa saat memikirkan tentang masalah yang telah dia perbuat yang membuat Losa marah, akhirnya Angeline memilih untuk mandi dan bersiap-siap ke kantor.Dia tidak banyak menghabiskan waktu di kamar mandi, pagi ini. Tidak seperti biasanya. Sebab, dia sudah sangat penasaran dengan apa yang akan dibahas oleh sang nenek.Jika memang nenek benar-benar marah kepadanya, seti
Kesunyian yang melingkupi ruangan itu begitu mencekam. Aura kekuasaan Raja Verdansk terasa semakin menekan setiap detik yang berlalu.Dari singgasananya yang megah, sang raja menatap tajam ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. Tatapannya tidak menunjukkan emosi, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat John dan Matteo merasa seakan mereka sedang dihakimi.Bagi Raja Verdansk, pertemuan seperti ini adalah sesuatu yang membuang waktu. Dia tidak suka berbasa-basi, tidak tertarik mendengarkan keluhan orang lain. Tetapi, setelah mendengar laporan bahwa Matteo telah berusaha tujuh kali untuk menemuinya, rasa penasarannya sedikit terusik.Lagi pula, yang diketahui olehnya, Matteo bukan orang sembarangan. Dia adalah ketua Serikat Dagang, organisasi paling berpengaruh di Kota Verdansk dan menjadi salah satu lumbung pendapatannya.Namun, yang membuat Raja Verdansk akhirnya memutuskan untuk menerima pertemuan ini bukanlah karena kesetiaan Matteo, melainkan untuk memahami kenapa
Luki duduk dengan santai di ruang tamu, senyum tipis terukir di wajahnya. Dia baru saja mendapat kabar dari Matteo yang membuatnya senang dan penuh semangat.Di tangannya masih ada gelas berisi anggur merah. Dia menggoyangkannya perlahan, matanya menatap cairan itu dengan penuh antisipasi.Langkah kaki terdengar dari arah pintu masuk.Ashton baru saja pulang kerja, jasnya masih rapi, tetapi ekspresinya terlihat lelah. Begitu dia melihat Luki duduk dengan ekspresi mencurigakan, alisnya langsung terangkat.“Ada apa? Kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya Ashton sambil melepas jasnya dan menggantungnya di sandaran sofa.Luki meneguk sedikit anggurnya sebelum menjawab, “Kak, sesuatu yang hebat akan segera terjadi.”Ashton mengernyit. Dia tidak menyukai cara bicara Luki yang penuh misteri.“Apa maksudmu?” tanya Ashton.Luki tersenyum lebih lebar. “Balas dendam akan segera terlaksana.”Ashton langsung menegang. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama.“Balas dendam kepada Lucas?” tanya
Lucas tetap berjongkok di balik semak-semak, matanya tidak pernah lepas dari istana mewah itu. Lampu-lampu temaram di sekeliling gedung menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan mengikuti tiupan angin malam.Di sebelahnya, Sam mulai gelisah. “Jadi … kita cuma akan diam di sini?” bisiknya.Lucas tidak menjawab. Pertanyaan itu telah ditanyakan oleh Sam sebelumya, jadi Lucas tidak perlu lagi untuk menjawab karena membuang-buang energi saja.Lucas masih mengamati setiap detail pergerakan di depan vila. Dia terpikir untuk mengambil beberapa foto dan video sebagai bukti.Namun saat ponselnya dikeluarkan, ada panggilan suara masuk. Tidak ada suara dan tidak ada getaran karena memang Lucas mengatur ponselnya agar sunyi. Dia tidak ingin ada gangguan saat sedang mengawasi Matteo dan John.Di layar ponselnya nama Troy terpampang di sana. Lucas mendesah pelan. Troy sudah meneleponnya sepuluh kali. Tanpa ragu, Lucas akhirnya menerima panggilan itu.‘Apa yang terjadi, The Obsidian Blade? Ke
Di balik bayangan pepohonan, Lucas tetap berjongkok dengan tenang. Matanya fokus pada vila besar di depan mereka, sementara di sampingnya, seorang pemuda bernama Samuel tampak gelisah.Samuel, atau yang biasa dipanggil Sam, masih tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia hanya seorang pengendara motor biasa yang tiba-tiba diseret ke dalam situasi ini.Sam menelan ludah, lalu berbisik, “Hei, kita sudah sampai di sini. Sekarang bisa jelaskan, kenapa kita mengikuti orang itu?”Lucas tetap diam, matanya tidak berkedip sedikit pun.Sam melirik Lucas dengan ragu. “Dengar, aku memang butuh uang, tapi aku tidak mau terlibat dalam sesuatu yang berbahaya. Kamu bahkan belum memberitahuku siapa pria yang kita ikuti.”Lucas akhirnya menoleh ke arah Sam, sorot matanya tajam dan dingin. Aura berbahaya keluar dari tubuhnya begitu saja, membuat Sam langsung merasa tidak nyaman.Jantung pemuda itu berdetak lebih cepat. Seolah-olah dia baru saja menantang seekor harimau di tengah hutan.“Ad
Pada awalnya Lucas ingin membiarkan Matteo pergi. Namun dia juga mengingat lagi tentang keresahan hatinya tentang Lucas bebepaa hati yang lalu.Lucas menatap jalanan yang macet dengan rahang mengeras. Matteo sudah menghilang dari pandangan mereka, dan itu membuat nalurinya berteriak.“Baiklah Troy. Kejar dia!” perintah Lucas dengan suara tegas.Troy tersenyum. Inilah yang diinginkan olehnya. Yaitu menghukum Matteo dengan keras.Tanpa membuang waktu, Troy pun langsung menginjak pedal gas, mencoba menyalip kendaraan di depannya.Awalnya dia cukup mulus untuk melewati mobil-mobil di depannya meski sedang padat. Namun pada akhirnya, kondisi jalanan tidak berpihak kepada mereka. Lalu lintas menjadi semakin pada sehingga tidak ada ruang untuk menyalip lagi.Terdengar klakson kendaraan bersahutan, menciptakan kekacauan di jalan utama kota Verdansk.Troy mengumpat pelan. “Sial. Mobilnya tidak terlihat lagi.”Lucas menyipitkan matanya, berusaha mencari tanda-tanda keberadaan Matteo. Dia tahu b
Di dalam kantornya, Matias membaca pesan dari Randy dengan ekspresi serius. Dia langsung menghubungi rekannya itu via panggilan suara.‘Apa maksudmu dengan ‘orang ini berbahaya’?’ tanya Matias tanpa basa-basi begitu Randy menjawab panggilan suaranya.Di seberang telepon, Randy mendesah. ‘Dia bukan orang yang bisa kita kendalikan. Dia dingin, profesional, dan tidak tertarik dengan tawaran apa pun. Hal ini terlihat jelas saat dia berkunjung ke divisiku.’Matias mengernyit. ‘Jadi kita tidak bisa melobinya? Atau hanya belum tahu saja celahnya?‘Sepertinya akan sulit,’ jawab Randy. ‘aku sudah mencoba mengajaknya makan malam untuk mengenalnya lebih jauh, tapi dia langsung menolak dengan tegas seperti dia tahu apa rencanaku. Dia bukan tipe yang bisa dijebak dengan cara biasa.’Matias menyandarkan tubuhnya ke kursi, berpikir dengan keras.‘Hmmm … jalau begitu, kita harus tahu apa yang membuatnya bergerak,’ kata Matias akhirnya. ‘aku akan mencari tahu berapa gaji dan bonus yang dia dapat setia
Di dalam kantornya, Matias membaca pesan dari Randy dengan ekspresi serius. Dia langsung menghubungi rekannya itu via panggilan suara.‘Apa maksudmu dengan ‘orang ini berbahaya’?’ tanya Matias tanpa basa-basi begitu Randy menjawab panggilan suaranya.Di seberang telepon, Randy mendesah. ‘Dia bukan orang yang bisa kita kendalikan. Dia dingin, profesional, dan tidak tertarik dengan tawaran apa pun. Hal ini terlihat jelas saat dia berkunjung ke divisiku.’Matias mengernyit. ‘Jadi kita tidak bisa melobinya? Atau hanya belum tahu saja celahnya?‘Sepertinya akan sulit,’ jawab Randy. ‘aku sudah mencoba mengajaknya makan malam untuk mengenalnya lebih jauh, tapi dia langsung menolak dengan tegas seperti dia tahu apa rencanaku. Dia bukan tipe yang bisa dijebak dengan cara biasa.’Matias menyandarkan tubuhnya ke kursi, berpikir dengan keras.‘Hmmm … jalau begitu, kita harus tahu apa yang membuatnya bergerak,’ kata Matias akhirnya. ‘aku akan mencari tahu berapa gaji dan bonus yang dia dapat setia
Suasana di ruang rapat BQuality Group begitu tegang. Mata-mata penuh kecurigaan tertuju pada pria yang berdiri di depan ruangan, Nero. Dengan jas hitam rapi dan postur tegap, dia memancarkan aura otoritas yang sulit diabaikan.Jack Will melangkah maju, mengedarkan pandangan tajam ke setiap orang di ruangan. Dia tahu kehadiran Nero akan menimbulkan reaksi, terutama dari orang-orang yang selama ini merasa aman dalam permainan mereka sendiri."Posisi ini," kata Jack Will dengan suara tenang namun tegas, "dibentuk untuk menjamin transparansi dan integritas dalam perusahaan kita. Kita tidak bisa membiarkan ada celah bagi siapa pun untuk memperkaya diri dengan cara yang kotor."Ucapan itu seperti tamparan bagi beberapa orang di ruangan, terutama Randy dan Matias. Mereka tidak bereaksi secara langsung, tetapi rahang mereka mengeras.Jelas bagi mereka, keputusan ini adalah langkah untuk menjegal mereka. Sesuatu yang sangat tidak membuat mereka nyaman.Jack Will melanjutkan, "Sebagai Head of B
Angeline cemas jika Lucas melakukan sesuatu yang jauh. Semenjak Lucas memiliki sasana Brotherhood, Angeline cemas jika Lucas akan melakukan kekerasan fisik kepada orang yang tidak disukai.Lucas menatap Angeline, matanya berkilat tajam. “Aku ingin Randy dan Matias kapok dan tidak bermain-main lagi.”Angeline menghela napas panjang. Dia tahu Lucas tidak akan tinggal diam setelah mendengar ancaman itu. Tetapi dia juga tidak ingin segalanya menjadi semakin runyam.“Kumohon, Lucas.” Angeline menatapnya serius. “jangan main kekerasan. Aku tidak mau membuat masalah ini semakin besar. Aku juga tidak mau berurusan dengan polisi.”Lucas mendengus kecil, menatap Angeline dengan ekspresi tenang namun berbahaya. “Aku tahu bagaimana cara menangani mereka. Percayalah, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa menyeretmu ke dalam masalah.”Angeline tetap menatapnya, berusaha mencari kebenaran dalam kata-katanya. Lucas memang licin. Dia tidak akan bertindak tanpa perhitungan. Namun tetap saja, ini t