Mirko kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Lucas kepada Victor.“Ini dia orangnya. Mungkin Pak Victor mengenalnya,” ucap Mirko.Meskipun sudah berusaha untuk menutupi Lucas sebagai orang yang melakukan penganiayaan kepada Max, namun dia tidak tahan untuk tidak membongkarnya. Di dalam pikirannya saat ini, dia ingin menyerahkan Lucas kepada Victor untuk dihukum secara mandiri. Baginya, itu tidak masalah, yang penting para mafia bisa enyah dari tanah Verdansk.Mirko benar-benar membenci mafia.Victor melihat foto Lucas namun dia sama sekali tidak mengenalnya.“Aku tidak kenal dengan orang ini. Tapi, terima kasih banyak untuk fotonya. Dengan ini aku bisa mudah mencari orang itu. Dia harus merasakan apa yang dirasakan oleh anakku!” ucap Victor dengan suara yang bergetar, penuh emosi.Victor menoleh ke arah Daniel dan berkata, “Simpan foto orang itu lalu cari tahu siapa dia sebenarnya.”“Siap laksanakan!” ucap Daniel.***“Kenapa dia bisa begitu jahat kepadaku, Lucas?” tany
Lucas langsung menjalankan perintah yang diberikan oleh Lisa. Dia pun langsung menuju ke kamar Angeline.Kali ini Lucas mengetuk pintu terlebih dahulu karena khawatir kejadian semalam terulang kembali. “Masuk!”Lucas membuka pintu kamar dan langsung masuk ke dalam.“Bu Angeline, di bawah ada Presdir. Aku disuruh memanggilmu karena ada hal penting yang ingin dibicarakan olehnya,” ucap Lucas.“Nenek?” Angeline cukup terkejut mendengarnya.Wajar saja Angeline terkejut. Sebab selama dia memiliki rumah itu, sang nenek tidak pernah berkunjung. Ini adalah kali pertama dia datang.“Apa yang ingin dibicarakannya, ya?” tanya Angeline dengan ekspresi wajah yang bingung.Lucas mengangkat kedua bahunya seraya berkata, “Aku tidak tahu. Kalau aku bertanya, dia tidak akan menjawabnya.”Angeline paham. Oleh sebab itu, dia langsung buru-buru menyiapkan diri dan kemudian menemui sang nenek.“Nenek, ada apa sampai repot-repot datang kemari di pagi hari seperti ini?” tanya Angeline saat baru datang.Ange
Lisa dan Jeremy sangat ketakutan setelah mendengar ancaman yang diberikan oleh Victor. Maka dari itu dia langsung datang ke rumah Angeline untuk mengkonfirmasi siapa orang yang sudah melukai Max.Saat mereka berdua tahu jika orang itu adalah Lucas, ketakutan mereka semakin menjadi.Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menyelamatkan keluarga Jordan adalah dengan memisahkan Angeline dan Lucas. Jika mereka tidak ada ikatan lagi, tentu saja Victor Benedict tidak memiliki alasan untuk menyeret keluarganya ke dalam masalah.“Kalian tidak perlu takut. Masalah keluarganya Max, biar aku saja yang menyelesaikannya. Kalian tidak perlu ikut campur. Aku pastikan, kalian tidak akan terlihat,” ucap Lucas dengan penuh percaya diri. Lisa dan Jeremy sontak saja langsung menoleh dengan keras ke arah Lucas. Tatapan mereka berdua pun menajam.“Jangan bicara omong kosong, Lucas! Memangnya kamu siapa sampai berani menghadapi Keluarga Benedict?” geram Lisa.“Hanya karena kamu bisa menghajar Max, kamu be
Perasaan Dario semakin tidak enak melihat ekspresi wajah ayahnya yang begitu serius dan terlihat adanya amarah di matanya.Namun Dario berusaha untuk menjaga ketenangan dirinya agar tidak membuat orang tuanya itu menjadi curiga kepadanya.“Semalam kamu pergi ke mana dan dengan siapa?” tanya Gigio.Deg!Dugaan Dario tentang arah pembicaraan sang ayah, semakin menguat. Oleh sebab itu, dia langsung memutar otak agar tidak ketahuan jika semalam dirinya bersama dengan Max dan Si Tangan Besi.“Aku semalam pergi ke klub malam, Yah. Aku menemui seorang wanita. Tapi baru sebentar di sana, aku ditelepon oleh Ayah, ‘kan, terus aku pulang,” jawab Dario, mencoba dengan sekuat tenaga agar tetap tenang.Gigio memalingkan pandangannya kepada Mike.“Memangnya ada apa, Yah?” tanya Dario.Gigio menatap kedua mata Dario beberapa saat sebelum lahirnya berkata, “Apa kamu sudah mendengar kabar tentang Max?”Dario menarik tubuhnya dan duduk dengan tegak. “Iya, aku sudah mendapat kabar. Aku baru baca saat ba
Albin datang menghampiri Gigio saat melihat sang Wakil Ketua Serikat Dagang itu tampak bingung. “Wakil Ketua, boleh aku bicara?” tanya Albin dengan sopan. Gigio menoleh. “Ah, Albin. Ya, silakan. Duduk dulu, supaya ngobrolnya bisa santai.” Albin pun duduk di samping Gigio. “Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Gigio. “Sebenarnya aku ingin bicarakan tentang masalah Lucas,” jawab Albin. Gigio pun menganggukan kepalanya, mengizinkan Albin untuk berbicara lebih lanjut. “Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku melihat ada sesuatu yang berbeda dari diri Lucas. Selain itu energi yang dimilikinya pun berbeda. Cukup kuat meskipun dia dalam keadaan santai, tidak ada tekanan,” ucap Albin dengan sangat serius. Gigio pun menyimak apa yang diucapkan oleh Albin dengan serius pula. “Orang itu spesial. Dia sepertinya seorang ahli bela diri selain dia juga seorang tabib dewa. Tapi, untuk apa yang dikatakan oleh walikota, sebaiknya ditelusuri lebih jauh terlebih dahulu. Jangan terburu-buru
Mendengar penjelasan dari Bram, membuat Bella maradang. Wanita itu memang sejak awal tidak suka dengan Lucas, jadi ada permasalahan seperti ini, membuatnya memiliki kesempatan untuk memarahi Lucas.“Lucas! Kamu itu benar-benar keterlaluan! Ini adalah tempat bisnis, bulan arena tinju!” ucap Bella dengan mata yang melotot.Lucas tersenyum mendengarnya sambil menatap Bram.“Orang lemah menutupi kelemahannya dengan memfitnah orang lain. Kamu yang salah dengan menarik tanganku dan terjatuh sendiri karena itu, malah menyalahkan aku,” kata Lucas sambil tertawa tipis. “jika lemah setidaknya jangan menjadi pecundang.”Bram merah wajahnya. Dia ingin membela diri tetapi apa yang dikatakan Lucas adalah kenyataannya.Bella berkata, “Kalau kamu merasa kamu adalah orang yang kuat, kenapa tidak menjadi petinju saja? Kenapa harus bekerja di sini?”“Kamu sangat tidak pantas bekerja di perusahaan Liquid. Kamu lebih pantas menjadi preman!” lanjut Bella.Satpam yang baru saja selesai menghadiri apel pagi,
Angeline termenung beberapa saat. Melihat kondisi Bram, rasa-rasanya sulit untuk tidak percaya. Namun, yang bermasalah dengan Bram adalah Lucas. Dia juga tidak boleh untuk tidak percaya dengan pria itu.Angeline sangat bingung.“Sudahlah, Angeline. Masa kamu tidak percaya dengan kepala staf Bram? Lihat saja luka yang dialaminya. Tidak mungkin dia mengada-ngada,” kata Bella.Angeline melirik ke arah Lucas yang hanya diam namun terlihat tenang.‘Sebenarnya apakah dia yang melakukannya atau bukan? Kenapa dia diam saja? Apakah karena dia sandiwara yang menjadikan dia calon suamiku?’“Baiklah. Bram, kamu akan dibawa ke rumah sakit untuk mengobati lukamu. Semua biaya rumah sakit, aku yang menanggungnya,” ucap Angeline.Kemudian sang direktur pemasaran itu menoleh ke arah Lucas dan berkata, “Kamu akan diskors selama 3 hari karena ulahmu ini.”Sontak saja, semua orang terkejut dengan keputusan Angeline. Mereka semua menilai jika Lucas berhak mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi.“Angelin
Saat mendengar suara itu, Lucas membalikkan badannya ke sumber suara dan seketika peluru mengenai tumpukan dokumen yang sedang dipegang oleh Lucas.Beruntung, posisi tangan Lucas saat itu menutupi bagian dada Angeline yang diingat oleh si penembak. Peluru besi dari air gun tidak menembus tumpukan dokumen sehingga Angeline bisa selamat.“Bram!”Lucas langsung melindungi Angeline saat melihat yang menembak adalah Bram. Dia takut Bram akan kembali menembak Angeline.“Beruntung sekali. Aku tidak menyangka kalian bisa selamat karena tumpuan kertas. Hahaha …” kata Bram sambil tertawa.“Apa yang kamu lakukan, Bram? Kenapa kamu nekat ingin menembak Bu Angeline?” tanya Lucas.Bram menggelengkan kepalanya. Lalu dia menjawab, “Kamu salah! Aku tidak hanya mengincar Angeline tetapi juga mengincarmu, parasit!”Dari belakang tubuh Lucas, Angeline bertanya, “Kenapa Bram? Kenapa kamu mau menembak kami? Apa salah kami?”Bram tertawa. Bukan hanya karena mendengar pertanyaan dari Angeline tapi juga melih
Matias menelan ludah, menyadari sepenuhnya bahwa nyawa mereka kini dalam ancaman. Dalam situasi seperti ini, harga diri bukan lagi hal yang penting. Satu-satunya hal yang berarti adalah bertahan hidup.“Tuan Lucas, saya... saya minta maaf!” Matias berkata dengan suara bergetar, menundukkan kepala dalam-dalam. “saya telah melakukan kesalahan. Mohon maafkan saya.”Lucas memicingkan matanya, menatap pria yang kini berlutut di hadapannya. “Maksudmu, kau mengakui bahwa kau telah korupsi?”Matias terdiam. Ia tahu, jawaban ini adalah pertaruhan besar. Jika ia mengaku, ada kemungkinan dia akan langsung dieksekusi. Tapi jika tidak mengaku, ada kemungkinan Lucas tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan pengakuan.Saat Matias ragu-ragu untuk menjawab, Lucas menghela napas. Dalam sekejap, kakinya melayang dan menendang wajah Matias. Tendangan itu tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat tubuh Matias terpelanting beberapa meter ke belakang.“Arrggh!!” Matias menjerit kesakitan. Hidungnya patah, dar
Nero menatap kedua pria yang kini berlutut di hadapan Lucas, wajah mereka penuh ketakutan. Dia bisa melihat jelas bagaimana keringat mengalir di pelipis Matias, sementara Randy tampak mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan mengalihkan pandangan. Namun, tidak ada yang bisa lolos dari tatapan tajam Nero.Lucas. Duduk diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Namun pria itu sudah menebarkan tekanan yang membuat suasana di ruangan semakin mencekam."Aku tidak mengerti..." Randy akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, suaranya bergetar. "Kenapa kami dibawa ke sini? Apa yang terjadi?"Matias menelan ludah, mencoba mengendalikan emosinya. Dia menoleh ke arah Nero, suaranya sedikit lebih tenang meski tetap dipenuhi ketegangan."Nero, ada apa ini? Jangan karena kau tidak bisa menemukan bukti soal tuduhan korupsi itu, kau bertindak kriminal seperti ini!"Mata Nero menyipit. Dia mendekat, lalu meraih kerah Matias dengan kasar."Berkacalah, Matias! Berhenti bertingkah seolah kau ini orang s
Mobil hitam melaju dengan tenang di jalanan malam yang semakin sepi. Lampu-lampu kota perlahan tertinggal di belakang, digantikan oleh pemandangan lahan kosong dan gedung-gedung tua di pinggiran kota. Di dalam mobil, dua pria terikat dengan kasar, duduk di kursi belakang dengan wajah penuh luka dan mata dipenuhi ketakutan.Randy menggeliat, mencoba menggerakkan tangannya yang terikat. "Sial! Kalian pikir kalian ini siapa? Lepaskan aku sekarang juga!"Buuuk!Tinju keras mendarat di pipinya. Kepalanya terlempar ke samping, rasa besi memenuhi mulutnya."Diam," suara berat dari salah satu pria Veleno terdengar dingin. "atau aku buat kau lebih menderita dari ini."Matias menelan ludah, napasnya tersengal saat melihat darah menetes dari bibir Randy. "Ke-kenapa kalian membawa kami? Kalian tidak bisa melakukan ini! Kami orang penting! Kalian bisa dalam bahaya."Dari jok penumpang depan, Hugo tertawa kecil. Dia melirik ke belakang dengan ekspresi bosan. "Orang penting? Di mata siapa? Kalian ha
Pria itu menekan tombol panggilan dengan tangan gemetar. Suaranya tertahan di tenggorokan, tetapi dia tahu tidak bisa ragu. Jika dia gagal menyampaikan ini, konsekuensinya tidak akan terbayangkan."Tuan," suaranya rendah, berusaha tetap tenang meskipun napasnya tersengal. "Kita punya masalah besar. Verdansk jatuh. Bos Marchetti dikalahkan ... dalam satu serangan."Hening sejenak. Kemudian, suara berat di seberang sana menjawab dengan nada dingin, "Apa yang kau katakan?""Lucas ... dia menghancurkan Marchetti. Dia mengambil alih Verdansk untuk Veleno. Kita ... butuh instruksi."Sementara itu, Lucas dan kelompoknya meninggalkan markas Dominus Noctis. Mereka bergerak cepat, kembali ke sasana Brotherhood. Mobil melaju dalam keheningan. Tidak ada yang berbicara, tetapi ketegangan masih terasa di udara. Lucas menatap ke luar jendela, ekspresinya datar, tetapi pikirannya masih menganalisis segala sesuatu yang baru saja terjadi.Saat mereka sampai di sasana, Kai langsung berlari ke ruang teng
Marchetti melangkah maju dengan penuh percaya diri. Tatapan matanya tajam, penuh determinasi."Aku adalah pemimpin baru Dominus Noctis di Verdansk," ucapnya dengan nada yang menggema di seluruh ruangan.Julian menatapnya dengan mata menyipit, bibirnya membentuk seringai tipis. "Jadi kamu pemimpinnya? Bagus. Aku tidak perlu repot-repot mencari lagi."Marchetti menyilangkan tangan di dada. "Jika kau datang ke sini saat pemimpin lama masih berkuasa, mungkin kau akan menang. Tapi sekarang berbeda. Aku yang memimpin. Dan aku tidak terkalahkan."Julian tertawa kecil. "Oh? Benarkah?"Dari balik pintu, langkah kaki terdengar. Semua kepala menoleh.Lucas melangkah masuk, tatapan matanya tajam seperti elang yang mengintai mangsa. Dia berhenti di samping Julian, menatap Marchetti dengan santai namun penuh tekanan."Jadi, kau yang sekarang memimpin Dominus Noctis?" tanya Lucas.Marchetti menatapnya dengan bingung. "Siapa kau? Aku tidak mengenalmu. Dan jika kau hanya orang biasa, lebih baik tutup
Ketiga pria itu masih menunduk, tubuh mereka sedikit gemetar. Mereka tahu, begitu mereka membawa Lucas ke markas Dominus Noctis, nyawa mereka bisa terancam. Tapi di sisi lain, jika menolak, mereka akan mati di tangan Julian."Kalian sudah mengambil keputusan, bukan?" Lucas bertanya dengan nada datar.Salah satu dari mereka mengangguk cepat. "Ya … kami akan mengantar kalian ke markas."Lucas melangkah ke mobil dengan tenang. Julian menyusul di belakangnya, lalu sebelum masuk, dia menoleh."Lucas, kau sudah memikirkan ini matang-matang?"Lucas menatapnya. "Kenapa? Kamu takut?"Julian mendengus. "Takut? Tidak. Aku hanya ingin memastikan kamu sadar konsekuensinya. Jika kita pergi ke sana, itu berarti kita secara resmi berperang dengan Dominus Noctis."Lucas menyandarkan punggungnya ke kursi mobil dan tersenyum tipis. "Lalu kenapa? Aku adalah pemimpin Veleno. Aku tidak peduli berapa banyak musuh yang datang. Jika mereka mengancam wilayahku, maka aku akan menghancurkan mereka terlebih dahul
Pemimpin pasukan musuh berdiri tegak. Seolah dia Ingin menunjukkan diri jika dia tidak takut kepada siapapun."Kalian pikir siapa, hah? Aku bukan orang yang bisa kalian takuti begitu saja!" Pemimpin musuh mendengus, melangkah maju dengan mata penuh keyakinan. Tatapannya menyapu tubuh Lucas dan Julian dengan penuh rasa percaya diri."Aku telah melalui lebih banyak pertempuran daripada yang bisa kalian bayangkan," katanya lagi, suaranya tajam. "Jika kalian berani melawanku, bersiaplah untuk mati!"Julian tersenyum tipis, menatap pria itu dengan tatapan yang hampir mengejek. "Lebih baik kalian semua menyerahkan diri sekarang," katanya santai. "kau sudah kehilangan banyak orang. Tidak ada gunanya melawan."Pemimpin musuh itu menggeram, matanya menyala karena amarah. "Serahkan diri? Setelah kalian membunuh anak buahku?”“Ciih! Aku tidak akan pernah melakukannya!" ucapnya dengan angkuh.Julian mengangkat bahu. "Kalau itu keputusanmu, kau juga akan mati sebentar lagi."Pria itu terkekeh, men
"Aku tidak suka ini," gumam Hugo, tatapannya tajam menyapu sekeliling. Lima pria bersenjata berdiri dalam formasi setengah lingkaran, mengawasi mereka seperti pemangsa menunggu mangsanya jatuh ke perangkap.Nero tetap tenang, meskipun pikirannya berpacu cepat. “Kita ulur waktu," bisiknya nyaris tak terdengar. "The Obsidian Blade pasti sudah membaca pesanku. Dia akan datang untuk menolong.”Hugo mengangguk kecil. Dia langsung memutar otak bagaimana caranya agar dia bisa mengukur waktu.Setelah beberapa saat, Hugo mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi malas. "Hei, aku kesulitan membuka pintunya," katanya, suaranya terdengar santai, seolah situasi ini bukan ancaman serius.Pemimpin kelompok itu,seorang pria bertubuh kekar dengan janggut tebal dan bekas luka di pelipisnya, menyipitkan mata. "Jangan main-main dengan kami!” ucapnya."Aku serius," kata Hugo, memasang ekspresi kesal. "kuncinya macet. Bagiamana aku bisa keluar?”Salah satu pria bertato di leher melangkah maju, menatap H
“Kendalikan dirimu.”Nero menatap Hugo dengan tajam. Suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi ada ketegasan yang tak bisa diabaikan.Hugo tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya terus menatap Randy dan Matias yang kini duduk santai di sudut restoran, berbincang seolah dunia sedang berpihak pada mereka.“Kita tidak bisa menyerang mereka sekarang,” lanjut Nero. “itu bukan perintah.”Hugo mengembuskan napas kasar. “Kalau bukan karena perintah dari The Obsidian Blade, mereka sudah mati di tempat ini.”“Dan itulah sebabnya kau harus menahan diri.” Nero mengaduk kopinya perlahan. “kita tunggu.”Hugo mengepalkan tangannya di bawah meja. “Tunggu apa? Sampai mereka menghancurkan semuanya?”Nero tidak menjawab. Matanya masih memperhatikan Randy dan Matias yang kini tidak lagi sendirian. Dua pria bertubuh besar masuk ke restoran, tubuh mereka dipenuhi tato, dari tangan, leher, hingga wajah. Salah satunya bahkan memiliki luka panjang di pipi kanan, memberi kesan bahwa ia bukan orang ya