Angeline termenung beberapa saat. Melihat kondisi Bram, rasa-rasanya sulit untuk tidak percaya. Namun, yang bermasalah dengan Bram adalah Lucas. Dia juga tidak boleh untuk tidak percaya dengan pria itu.Angeline sangat bingung.“Sudahlah, Angeline. Masa kamu tidak percaya dengan kepala staf Bram? Lihat saja luka yang dialaminya. Tidak mungkin dia mengada-ngada,” kata Bella.Angeline melirik ke arah Lucas yang hanya diam namun terlihat tenang.‘Sebenarnya apakah dia yang melakukannya atau bukan? Kenapa dia diam saja? Apakah karena dia sandiwara yang menjadikan dia calon suamiku?’“Baiklah. Bram, kamu akan dibawa ke rumah sakit untuk mengobati lukamu. Semua biaya rumah sakit, aku yang menanggungnya,” ucap Angeline.Kemudian sang direktur pemasaran itu menoleh ke arah Lucas dan berkata, “Kamu akan diskors selama 3 hari karena ulahmu ini.”Sontak saja, semua orang terkejut dengan keputusan Angeline. Mereka semua menilai jika Lucas berhak mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi.“Angelin
Saat mendengar suara itu, Lucas membalikkan badannya ke sumber suara dan seketika peluru mengenai tumpukan dokumen yang sedang dipegang oleh Lucas.Beruntung, posisi tangan Lucas saat itu menutupi bagian dada Angeline yang diingat oleh si penembak. Peluru besi dari air gun tidak menembus tumpukan dokumen sehingga Angeline bisa selamat.“Bram!”Lucas langsung melindungi Angeline saat melihat yang menembak adalah Bram. Dia takut Bram akan kembali menembak Angeline.“Beruntung sekali. Aku tidak menyangka kalian bisa selamat karena tumpuan kertas. Hahaha …” kata Bram sambil tertawa.“Apa yang kamu lakukan, Bram? Kenapa kamu nekat ingin menembak Bu Angeline?” tanya Lucas.Bram menggelengkan kepalanya. Lalu dia menjawab, “Kamu salah! Aku tidak hanya mengincar Angeline tetapi juga mengincarmu, parasit!”Dari belakang tubuh Lucas, Angeline bertanya, “Kenapa Bram? Kenapa kamu mau menembak kami? Apa salah kami?”Bram tertawa. Bukan hanya karena mendengar pertanyaan dari Angeline tapi juga melih
Angeline tidak bisa menolaknya lagi. Mau tidak mau dia harus melakukan sesuai yang diperintahkan oleh Lucas.“Iya, baiklah. Tapi kamu harus tanggung jawab atas apa yang terjadi nanti,” kata Angeline.“Tentu saja!” ucap Lucas dengan tegas.Lucas menatap Bram dengan sangat teliti. Setiap detail gerakan pria itu dilihatnya dengan baik.Saat menilai kesempatan untuk menyerang datang, Lucas pun langsung bergerak.Lucas berlari dengan sangat cepat menerjang Bram.Angeline pun langsung tengkurap di aspal, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Lucas. Untungnya aspal itu belum tersinari oleh matahari karena terhalang oleh tingginya gedung perusahaan Liquid.Bram menyadari pergerakan Lucas, namun semuanya sudah terlambat. Lucas telah berada di sampingnya dalam sekejap mata saja.“Sial!”Bram mengarahkan airgun miliknya itu ke arah Lucas. Dia berniat langsung menembak kepala Lucas saat itu juga.Lucas yang sudah berjarak sangat dekat tentu saja dengan mudah melumpuhkan Bram dengan menekan sa
Lucas sangat tidak suka dengan cara pandang Arnold. Namun saat ini dia berusaha untuk mengontrol emosinya karena tidak ingin mengganggu Angeline dan merusak apa yang sudah dipersiapkan oleh wanita itu.Dengan menatap dalam-dalam kedua mata Angeline, Arnold berkata, “Oh iya, aku sudah diberitahu oleh asistenku jika ada pertemuan dengan utusan dari perusahaan Liquid. Jika tahu yang datang menemuiku adalah wanita cantik sepertimu, seharusnya aku sejak pagi datang. Hehehe …”Arnold berusaha untuk menggoda Angeline dengan melemparkan sedikit pujian sebagai pembuka. Meskipun begitu, di otaknya sudah terbayang hal-hal kotor yang bisa dilakukan bersama dengan Angeline.“Ah, Pak Arnold, bisa saja. Pujianmu berlebihan,” ucap Angeline dengan memaksakan senyuman.Angeline sebenarnya merasa geli mendengar pujian dari Arnold. Sebab dia sadar sejak tadi, Arnold selalu menatap bagian-bagian sensitifnya terutama di bagian dua bukit kembar yang memang sedikit menonjol karena saat ini dia hanya mengena
Maya mengambil pulpen dari tangan Lucas sambil memegang tangan Lucas dan menggenggamnya.“Apakah kamu sudah melakukannya tadi malam?” tanya Maya langsung pada intinya.Maya sudah tidak bisa membendung hasratnya. Dan karena dia berpikir jika semua pria pasti mau jika diajak berhubungan badan, membuatnya percaya diri dalam menggoda Lucas.Terlebih lagi, belum ada satupun pria yang menolak berhubungan badan dengannya. Bahkan kebanyakan malah mereka yang menginginkannya terlebih dahulu.“Melakukan apa?” tanya Lucas, bingung.Ya, Lucas benar-benar tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan Maya. Dia tidak mengira jika arah pembicaraan Maya tertuju kepada adegan dewasa.Maya tersenyum. Dia semakin gemas dengan Lucas karena menurutnya Lucas terlalu polos untuk seorang pria tampan.“Melakukan itu, loh. Hmm … menuntaskan hasrat. Apakah sudah melakukannya?” kata Maya dengan tatapan mata yang menggoda.Lucas menelan saliva mendengarnya. Mendengarnya membuat pikiran-pikiran nakalnya kembali akt
Arnold berpikir jika semua wanita menyukai kejantanan yang besar. Meskipun dilecehkan, mereka pasti suka. Padahal semua itu salah. Angeline murka melihatnya. Dia langsung mendorong Arnold dan langsung berdiri. “Pak Arnold, ini sudah keterlaluan sekali! Aku sudah tidak bisa mentolerirnya!” kata Angeline dengan suara yang bergetar karena emosi. Arnold terkejut dengan reaksi Angeline. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Angeline berani menolaknya. “Kamu marah? Kenapa? Bukankah tadi kamu meminta bantuan dariku?” tanya Arnold dengan kedua alis yang diangkat. Dengan wajah yang merah padam, Angeline berkata, “Ya, tadi memang aku meminta bantuan padamu. Tapi bukan yang seperti ini. Aku lebih memilih untuk menjaga kehormatanku sebagai seorang wanita.” “Cih! Sombong sekali!” Arnold meludah ke samping kanan. Wajahnya terlihat sangat kesal. “Zaman sekarang tidak ada wanita seumurmu yang masih suci. Jadi kamu juga jangan sok suci karena kehormatanmu juga sudah tidak ada. Iya, ‘kan?
Kedatangan Axel di Bank Vittese tepat waktu. Jadi, Lucas bisa langsung meminta Axel untuk membawa Arnold.‘Kamu bawa general manager Bank Vittese ke salah satu markas Veleno yang sepi. Aku ingin membuat perhitungan kepada dia!’ ucap Lucas pada pesan singkat yang dikirimkan kepada Axel.‘Siap laksanakan!’ balas Axel.Angeline menatap Lucas. Sebenarnya dia masih ingin bersama dengan Lucas namun dia tidak bisa melarang Lucas untuk pergi. Dia terlalu naif untuk sekedar mengatakan “jangan pergi”.“Baiklah.”Angeline keluar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam gedung perusahaan Liquid.Saat Angeline masuk, pandangan dari para karyawan terlihat berbeda. Kejadian tadi pagi masih sangat membekas di kepala mereka.Banyak dari mereka yang merasa kagum dengan Angeline karena bisa melewati masalah dengan baik dan masih bisa terlihat tenang saat ini.Ketika dia tiba di ruangannya, Jeremy langsung datang menemuinya.“Bagaimana kondisimu, Angeline?” tanya Jeremy.Angeline mengangkat kedua bah
Arnold berpikir jika dia menjual nama para jenderal, Axel tidak akan berani untuk macam-macam dengannya. Namun, pikiran itu salah besar.Axel sama sekali tidak takut dengan ancaman Arnold itu.“Panggil saja mereka jika mereka bisa menyelamatkanmu!” tantang balik Axel.Arnold yang sudah merasa menang, terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka jika Axel masih berani dan malah menantangnya.“Apa kamu pikir aku bermain-main? Hah!” Arnold berbicara dengan nada suara yang tinggi.Arnold mengambil ponselnya. Lalu dia menunjukkan ponselnya, di mana pada layar tertera nama seorang jenderal.“Aku akan menghubunginya dan meminta dia datang untuk menangkapmu jika kamu tidak mau bersujud di kakiku!” seru Arnold, kembali mengancam.Ingin sekali Axel langsung membunuh Arnold saat ini juga. Tapi dia ingat dengan perintah yang diberikan oleh Raja Mafia, yang mana dirinya hanya diminta untuk membawa Arnold.Karena situasi semakin ramai, Axel pun memilih untuk langsung melumpuhkan Arnold dan membawanya
Matias menelan ludah, menyadari sepenuhnya bahwa nyawa mereka kini dalam ancaman. Dalam situasi seperti ini, harga diri bukan lagi hal yang penting. Satu-satunya hal yang berarti adalah bertahan hidup.“Tuan Lucas, saya... saya minta maaf!” Matias berkata dengan suara bergetar, menundukkan kepala dalam-dalam. “saya telah melakukan kesalahan. Mohon maafkan saya.”Lucas memicingkan matanya, menatap pria yang kini berlutut di hadapannya. “Maksudmu, kau mengakui bahwa kau telah korupsi?”Matias terdiam. Ia tahu, jawaban ini adalah pertaruhan besar. Jika ia mengaku, ada kemungkinan dia akan langsung dieksekusi. Tapi jika tidak mengaku, ada kemungkinan Lucas tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan pengakuan.Saat Matias ragu-ragu untuk menjawab, Lucas menghela napas. Dalam sekejap, kakinya melayang dan menendang wajah Matias. Tendangan itu tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat tubuh Matias terpelanting beberapa meter ke belakang.“Arrggh!!” Matias menjerit kesakitan. Hidungnya patah, dar
Nero menatap kedua pria yang kini berlutut di hadapan Lucas, wajah mereka penuh ketakutan. Dia bisa melihat jelas bagaimana keringat mengalir di pelipis Matias, sementara Randy tampak mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan mengalihkan pandangan. Namun, tidak ada yang bisa lolos dari tatapan tajam Nero.Lucas. Duduk diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Namun pria itu sudah menebarkan tekanan yang membuat suasana di ruangan semakin mencekam."Aku tidak mengerti..." Randy akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, suaranya bergetar. "Kenapa kami dibawa ke sini? Apa yang terjadi?"Matias menelan ludah, mencoba mengendalikan emosinya. Dia menoleh ke arah Nero, suaranya sedikit lebih tenang meski tetap dipenuhi ketegangan."Nero, ada apa ini? Jangan karena kau tidak bisa menemukan bukti soal tuduhan korupsi itu, kau bertindak kriminal seperti ini!"Mata Nero menyipit. Dia mendekat, lalu meraih kerah Matias dengan kasar."Berkacalah, Matias! Berhenti bertingkah seolah kau ini orang s
Mobil hitam melaju dengan tenang di jalanan malam yang semakin sepi. Lampu-lampu kota perlahan tertinggal di belakang, digantikan oleh pemandangan lahan kosong dan gedung-gedung tua di pinggiran kota. Di dalam mobil, dua pria terikat dengan kasar, duduk di kursi belakang dengan wajah penuh luka dan mata dipenuhi ketakutan.Randy menggeliat, mencoba menggerakkan tangannya yang terikat. "Sial! Kalian pikir kalian ini siapa? Lepaskan aku sekarang juga!"Buuuk!Tinju keras mendarat di pipinya. Kepalanya terlempar ke samping, rasa besi memenuhi mulutnya."Diam," suara berat dari salah satu pria Veleno terdengar dingin. "atau aku buat kau lebih menderita dari ini."Matias menelan ludah, napasnya tersengal saat melihat darah menetes dari bibir Randy. "Ke-kenapa kalian membawa kami? Kalian tidak bisa melakukan ini! Kami orang penting! Kalian bisa dalam bahaya."Dari jok penumpang depan, Hugo tertawa kecil. Dia melirik ke belakang dengan ekspresi bosan. "Orang penting? Di mata siapa? Kalian ha
Pria itu menekan tombol panggilan dengan tangan gemetar. Suaranya tertahan di tenggorokan, tetapi dia tahu tidak bisa ragu. Jika dia gagal menyampaikan ini, konsekuensinya tidak akan terbayangkan."Tuan," suaranya rendah, berusaha tetap tenang meskipun napasnya tersengal. "Kita punya masalah besar. Verdansk jatuh. Bos Marchetti dikalahkan ... dalam satu serangan."Hening sejenak. Kemudian, suara berat di seberang sana menjawab dengan nada dingin, "Apa yang kau katakan?""Lucas ... dia menghancurkan Marchetti. Dia mengambil alih Verdansk untuk Veleno. Kita ... butuh instruksi."Sementara itu, Lucas dan kelompoknya meninggalkan markas Dominus Noctis. Mereka bergerak cepat, kembali ke sasana Brotherhood. Mobil melaju dalam keheningan. Tidak ada yang berbicara, tetapi ketegangan masih terasa di udara. Lucas menatap ke luar jendela, ekspresinya datar, tetapi pikirannya masih menganalisis segala sesuatu yang baru saja terjadi.Saat mereka sampai di sasana, Kai langsung berlari ke ruang teng
Marchetti melangkah maju dengan penuh percaya diri. Tatapan matanya tajam, penuh determinasi."Aku adalah pemimpin baru Dominus Noctis di Verdansk," ucapnya dengan nada yang menggema di seluruh ruangan.Julian menatapnya dengan mata menyipit, bibirnya membentuk seringai tipis. "Jadi kamu pemimpinnya? Bagus. Aku tidak perlu repot-repot mencari lagi."Marchetti menyilangkan tangan di dada. "Jika kau datang ke sini saat pemimpin lama masih berkuasa, mungkin kau akan menang. Tapi sekarang berbeda. Aku yang memimpin. Dan aku tidak terkalahkan."Julian tertawa kecil. "Oh? Benarkah?"Dari balik pintu, langkah kaki terdengar. Semua kepala menoleh.Lucas melangkah masuk, tatapan matanya tajam seperti elang yang mengintai mangsa. Dia berhenti di samping Julian, menatap Marchetti dengan santai namun penuh tekanan."Jadi, kau yang sekarang memimpin Dominus Noctis?" tanya Lucas.Marchetti menatapnya dengan bingung. "Siapa kau? Aku tidak mengenalmu. Dan jika kau hanya orang biasa, lebih baik tutup
Ketiga pria itu masih menunduk, tubuh mereka sedikit gemetar. Mereka tahu, begitu mereka membawa Lucas ke markas Dominus Noctis, nyawa mereka bisa terancam. Tapi di sisi lain, jika menolak, mereka akan mati di tangan Julian."Kalian sudah mengambil keputusan, bukan?" Lucas bertanya dengan nada datar.Salah satu dari mereka mengangguk cepat. "Ya … kami akan mengantar kalian ke markas."Lucas melangkah ke mobil dengan tenang. Julian menyusul di belakangnya, lalu sebelum masuk, dia menoleh."Lucas, kau sudah memikirkan ini matang-matang?"Lucas menatapnya. "Kenapa? Kamu takut?"Julian mendengus. "Takut? Tidak. Aku hanya ingin memastikan kamu sadar konsekuensinya. Jika kita pergi ke sana, itu berarti kita secara resmi berperang dengan Dominus Noctis."Lucas menyandarkan punggungnya ke kursi mobil dan tersenyum tipis. "Lalu kenapa? Aku adalah pemimpin Veleno. Aku tidak peduli berapa banyak musuh yang datang. Jika mereka mengancam wilayahku, maka aku akan menghancurkan mereka terlebih dahul
Pemimpin pasukan musuh berdiri tegak. Seolah dia Ingin menunjukkan diri jika dia tidak takut kepada siapapun."Kalian pikir siapa, hah? Aku bukan orang yang bisa kalian takuti begitu saja!" Pemimpin musuh mendengus, melangkah maju dengan mata penuh keyakinan. Tatapannya menyapu tubuh Lucas dan Julian dengan penuh rasa percaya diri."Aku telah melalui lebih banyak pertempuran daripada yang bisa kalian bayangkan," katanya lagi, suaranya tajam. "Jika kalian berani melawanku, bersiaplah untuk mati!"Julian tersenyum tipis, menatap pria itu dengan tatapan yang hampir mengejek. "Lebih baik kalian semua menyerahkan diri sekarang," katanya santai. "kau sudah kehilangan banyak orang. Tidak ada gunanya melawan."Pemimpin musuh itu menggeram, matanya menyala karena amarah. "Serahkan diri? Setelah kalian membunuh anak buahku?”“Ciih! Aku tidak akan pernah melakukannya!" ucapnya dengan angkuh.Julian mengangkat bahu. "Kalau itu keputusanmu, kau juga akan mati sebentar lagi."Pria itu terkekeh, men
"Aku tidak suka ini," gumam Hugo, tatapannya tajam menyapu sekeliling. Lima pria bersenjata berdiri dalam formasi setengah lingkaran, mengawasi mereka seperti pemangsa menunggu mangsanya jatuh ke perangkap.Nero tetap tenang, meskipun pikirannya berpacu cepat. “Kita ulur waktu," bisiknya nyaris tak terdengar. "The Obsidian Blade pasti sudah membaca pesanku. Dia akan datang untuk menolong.”Hugo mengangguk kecil. Dia langsung memutar otak bagaimana caranya agar dia bisa mengukur waktu.Setelah beberapa saat, Hugo mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi malas. "Hei, aku kesulitan membuka pintunya," katanya, suaranya terdengar santai, seolah situasi ini bukan ancaman serius.Pemimpin kelompok itu,seorang pria bertubuh kekar dengan janggut tebal dan bekas luka di pelipisnya, menyipitkan mata. "Jangan main-main dengan kami!” ucapnya."Aku serius," kata Hugo, memasang ekspresi kesal. "kuncinya macet. Bagiamana aku bisa keluar?”Salah satu pria bertato di leher melangkah maju, menatap H
“Kendalikan dirimu.”Nero menatap Hugo dengan tajam. Suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi ada ketegasan yang tak bisa diabaikan.Hugo tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, matanya terus menatap Randy dan Matias yang kini duduk santai di sudut restoran, berbincang seolah dunia sedang berpihak pada mereka.“Kita tidak bisa menyerang mereka sekarang,” lanjut Nero. “itu bukan perintah.”Hugo mengembuskan napas kasar. “Kalau bukan karena perintah dari The Obsidian Blade, mereka sudah mati di tempat ini.”“Dan itulah sebabnya kau harus menahan diri.” Nero mengaduk kopinya perlahan. “kita tunggu.”Hugo mengepalkan tangannya di bawah meja. “Tunggu apa? Sampai mereka menghancurkan semuanya?”Nero tidak menjawab. Matanya masih memperhatikan Randy dan Matias yang kini tidak lagi sendirian. Dua pria bertubuh besar masuk ke restoran, tubuh mereka dipenuhi tato, dari tangan, leher, hingga wajah. Salah satunya bahkan memiliki luka panjang di pipi kanan, memberi kesan bahwa ia bukan orang ya