Home / Rumah Tangga / Pelakormu vs Aku / Bab 10: Kebenaran yang Terungkap

Share

Bab 10: Kebenaran yang Terungkap

Author: Vivits
last update Last Updated: 2025-01-03 09:53:29

Malam itu, suasana di ruang makan terasa sunyi. Kartini duduk di meja, menunggu suaminya pulang dari kerja. Ketika suara motor berhenti di depan rumah, Kartini menarik napas dalam, mempersiapkan dirinya untuk berbicara dengan hati-hati.

Bastian masuk ke rumah dengan wajah lelah. “Makan malamnya udah siap?” tanyanya datar tanpa melihat ke arah Kartini.

Kartini tersenyum kecil, meskipun hatinya berat. “Sudah, Mas. Aku juga ada yang mau dibicarakan. Boleh kita ngobrol sebentar?”

Bastian duduk dengan malas di kursi. “Apa lagi sekarang? Aku capek. Kalau mau ngomong, cepetan.”

Kartini menahan napas, berusaha menjaga suaranya tetap lembut. “Mas, aku cuma mau tanya... kemarin malam itu lembur di hotel, ya?”

Mata Bastian langsung menajam. “Ya, jelas di hotel. Kenapa tanya kayak gitu?”

Kartini menatapnya dengan lembut namun penuh ketegasan. “Aku cuma mau memastikan, soalnya... semalam ada yang bilang kalau Mas dilihat di Restaurant The Santo bersama seorang wanita.”

Wajah Bastian langsung memucat. Ia mengalihkan pandangannya, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. “Siapa yang bilang? Dari mana kamu dapat cerita itu?” tanyanya dengan nada menantang.

Kartini tetap tenang, meski hatinya berkecamuk. “Dita, Mas. Dia yang bilang. Dia kebetulan lihat Mas di sana.”

Bastian berdiri dari kursinya dengan kasar, memukul meja hingga piring bergetar. “Apa-apaan ini, Kartini?! Kamu percaya omongan orang begitu saja? Itu enggak benar!”

“Enggak benar?” Kartini ikut berdiri, menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Mas, aku cuma mau tahu yang sebenarnya. Kalau memang itu bukan Mas, kenapa wajah Mas berubah kayak gini? Kenapa Mas marah-marah?”

Bastian menggeleng dengan frustasi, lalu membalas dengan nada tinggi. “Kamu tuh keterlaluan! Kenapa kamu enggak bisa percaya sama suamimu sendiri?!"

Kartini tetap berdiri tegak, tak ingin menunjukkan kelemahannya. “Mas, aku ini istrimu. Aku berhak tahu kebenarannya. Kalau memang itu cuma salah paham, kenapa Mas harus marah seperti ini?”

Bastian tak menjawab. Matanya gelisah, tubuhnya tampak tegang. Kartini mengambil langkah maju, menekan lebih jauh.

“Jadi, siapa gadis berambut pirang itu, Mas?”

Bastian akhirnya kehilangan kendali. “Udah cukup, Kartini! Aku enggak mau ngomongin ini lagi. Kalau kamu terus-terusan nyalahin aku tanpa bukti, aku mending pergi!”

Kartini menatapnya penuh kekecewaan. “Pergi? Pergi ke mana, Mas? Ke rumah Kadita?”

Ucapan itu membuat Bastian terdiam sejenak. Wajahnya semakin memucat. Ia menatap Kartini dengan campuran rasa bersalah dan marah. “Kamu... kamu ngapain sebut-sebut nama dia?”

Kartini menahan isak, mencoba tegar. “Karena aku tahu, Mas. Aku tahu ada sesuatu di antara kalian. Aku tahu semua itu bukan cuma salah paham.”

Bastian bisa menjawab. Ia hanya meraih kunci motornya dengan cepat. “Udah cukup, Kartini. Aku enggak mau denger omonganmu lagi!”

“Mas Bastian!” Kartini mencoba mengejar, tetapi Bastian sudah melangkah keluar rumah, membanting pintu di belakangnya. "Mas, jangan pergi dulu. kamu mau kemana lagi? kamu baru pulang mas, aku hanya mau minta penjelasan atas apa yang dilihat Dita, apa itu salah?" Kartini masih mengejar.

"Itu bukan urusanmu, jangan ikut campur urusanku. Selagi aku masih memberikanmu nafkah saja itu sudah cukup, kau seharusnya bisa menjadi wanita mandiri seperti wanita-wanita lain di luar sana, paham?" ujar Bastian tajam. Begitu menusuk sampai ke ulu hati.

Mata Kartini berkaca-kaca menatap Bastian, "Jadi kamu mau ke rumah Kadita beneran?" tanya Kartini gemetaran.

Bastian medekatkan wajahnya kepada Kartini, tatapannya tajam dan dingin. "Kalau aku bilang iya, kau mau apa?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Pelakormu vs Aku   Bab 11: Teman Seperjuangan

    Kartini duduk di ruang tamu dengan wajah yang masih basah oleh air mata. Ia mencoba menenangkan dirinya, tetapi hatinya terus bergemuruh memikirkan perubahan sikap Bastian dan semua kebohongan yang mulai terbongkar. Ibu Sulastri yang kebetulan lewat memperhatikan keadaan menantunya yang tampak murung. Ibu Sulastri menghentikan langkahnya dan mendekati Kartini. “Kamu nangis, Kartini? Ada apa ini?” tanyanya dengan nada setengah ingin tahu, setengah bingung. Kartini buru-buru menghapus air matanya. “Enggak, Bu. Cuma kecapekan aja.” Namun, Ibu Sulastri tidak bodoh. Ia duduk di kursi di seberang Kartini, menatap tajam. “Jangan bohong sama saya. Kamu nangis pasti ada sebabnya. Jangan bilang kalau ini gara-gara Bastian.” Kartini mencoba tersenyum, tapi itu terlihat dipaksakan. “Enggak, Bu. Enggak ada apa-apa kok.” Ibu Sulastri mendesah, lalu bertanya dengan nada penasaran. “Kamu jangan ngelindur. Saya tan

    Last Updated : 2025-01-05
  • Pelakormu vs Aku   Bab 12: Kunjungan Norak yang Menghebohkan

    Pagi itu, Ibu Sulastri duduk di ruang tamu sambil memegangi ponselnya dengan wajah murung. Pikirannya tak lepas dari uang bulanan yang tiba-tiba berhenti diberikan oleh Bastian. Rasa kesalnya memuncak saat ia ingat pengakuan Kartini bahwa uang yang seharusnya untuk keluarga mungkin digunakan untuk selingkuhan. Tak tahan dengan kegelisahannya, Ibu Sulastri memutuskan menelepon menantunya, Dini. “Dini, kamu lagi sibuk?” tanya Ibu Sulastri begitu sambungan tersambung. Dini yang terdengar ceria di seberang menjawab, “Enggak, Bu. Ada apa? Tumben telepon pagi-pagi.” Ibu Sulastri mendengus. “Tumben apanya? Ibu ini lagi pusing, tahu! Si Bastian belakangan ini enggak pernah kasih uang ke Ibu lagi. Malah nyuruh minta sama Alex! Ini, kan, keterlaluan!” “Hah? Serius, Bu? Bastian? Kok bisa?” tanya Dini, terdengar terkejut. “Itu dia yang Ibu bingung. Katanya ada utang di kantin, tapi Ibu yakin ini

    Last Updated : 2025-01-09
  • Pelakormu vs Aku   Bab 13: Keributan Ibu Sulastri

    “KADITA! Jangan kabur, kamu!” teriak Ibu Sulastri dengan suara lantang saat melihat Kadita berjalan cepat meninggalkan lobi. Kadita langsung mempercepat langkahnya menuju lift, sementara staf hotel hanya bisa melongo melihat kejadian ini. Beberapa tamu yang sedang check-in bahkan berhenti untuk menonton. “Bu, tolong tenang. Ini area publik,” ujar supervisor dengan suara pelan, mencoba mencegah Ibu Sulastri melangkah lebih jauh. Tapi Ibu Sulastri menepis tangan supervisor. “Kamu jangan ikut campur! Ini urusan saya sama perempuan itu!” Seorang staf resepsionis berbisik kepada rekannya, “Buset, drama live, ya? Kayak sinetron.” Ibu Sulastri berlari kecil, tetapi sandal jepitnya tersangkut karpet. “Aduh! Sandal saya!” teriaknya sambil membetulkan sandal, membuat beberapa tamu menahan tawa. Supervisor kembali mencoba menenangkan. “Ibu, kalau terus begini, kami terpaksa memanggil keamanan.”

    Last Updated : 2025-01-10
  • Pelakormu vs Aku   Bab 14: Bajai, Drama, dan Pertengkaran Hebat

    Ibu Sulastri pulang dari hotel dengan perasaan campur aduk. Dengan santainya, ia naik bajai karena dia itu kuno tak tahu cara pakai ojek online. Sopir bajai yang tua dan agak pendiam itu tampak bingung saat Ibu Sulastri terus menggerutu sepanjang jalan. “Eh, Pak! Jangan ngebut-ngebut, saya bukan karung beras yang bisa dilempar sembarangan!” teriaknya sambil memegang erat kursi. Sopir bajai menoleh setengah bingung. “Ini udah pelan, Bu. Bajai saya juga bukan motor balap.” Ibu Sulastri menggerutu. “Ah, pokoknya hati-hati aja! Kalau saya jatuh, kamu enggak sanggup bayar biaya rumah sakit saya!” Bajai berbelok sedikit tajam, membuat Ibu Sulastri terpental sedikit. “Astaghfirullah! Ini bajai apa wahana Dufan!” serunya dengan wajah panik. --- Sesampainya di Rumah Saat sampai di rumah, Ibu Sulastri turun dari bajai sambil berusaha tetap anggun, meskipun rambutnya sedikit berantakan

    Last Updated : 2025-01-10
  • Pelakormu vs Aku   Bab 15: Kadita dan Gunjingan Staf Hotel

    Kadita berjalan dengan langkah cepat menuju ruangannya di area kantor hotel. Wajahnya masih memerah, bukan karena malu, tapi karena campuran emosi dan rasa kesal. Di sepanjang lorong, para staf hotel yang berpapasan dengannya menundukkan kepala, berusaha menahan senyum. Sesampainya di pantry, ia mendengar suara cekikikan dari dua resepsionis yang sedang mengobrol sambil menyeduh kopi. “Eh, beneran tadi ibu-ibu itu ngomong gitu?” tanya salah satu dari mereka, Rina, sambil terkikik. “Iya, dong! Dia bilang, ‘Anak saya tuh pimpinan di sini! Kalau bukan karena dia, kamu enggak bakal kerja di tempat sekeren ini!’” balas Novi, menirukan gaya Ibu Sulastri sambil melambai-lambaikan tangannya seperti diva. Mereka tertawa terbahak-bahak, tak sadar Kadita masuk ke ruangan itu. Kadita berdeham keras, membuat mereka tersentak dan menoleh. “Ada yang lucu, ya?” tanyanya dengan nada dingin. Rina

    Last Updated : 2025-01-10
  • Pelakormu vs Aku   Bab 16: Pengakuan Mengejutkan

    Kartini berdiri di ambang pintu, wajahnya bingung menatap pria tampan dengan pakaian rapi yang berdiri di depan rumah. Pria itu memperkenalkan diri dengan tegas. "Selamat sore, Bu. Nama saya Antonio. Saya ingin bertemu dengan Bastian," katanya singkat. Kartini mengerutkan kening. "Bastian tidak ada di rumah, Pak Antonio. Saya istrinya. Ada keperluan apa?" tanyanya hati-hati. Antonio memandang Kartini dengan sorot mata penuh pertimbangan sebelum menjawab. "Ini soal Kadita. Saya rasa Anda perlu tahu sesuatu." Mendengar nama Kadita, Kartini langsung waspada. "Kadita? Apa hubungannya dengan saya atau suami saya?" Antonio tersenyum tipis. "Mungkin lebih baik kita bicara di tempat lain. Bisakah Anda ikut dengan saya sebentar?" Kartini langsung mundur satu langkah. "Maaf, saya tidak bisa begitu saja ikut dengan orang asing, Pak Antonio." Antonio menarik napas panjang. "Saya mengerti, tapi ini penting. Saya tidak bisa menjelaskan semuanya di sini. Anda pasti ingin tahu apa yang s

    Last Updated : 2025-01-10
  • Pelakormu vs Aku   Bab 17: Chemistry yang Tak Terduga

    Mobil Antonio berhenti di depan sebuah restoran Jepang yang megah, dengan lampu-lampu hangat yang menyala di depan pintu. Kartini memandang restoran itu dengan sedikit ragu, merasa tempat ini terlalu mewah untuknya. "Kita makan di sini?" tanya Kartini, menoleh ke Antonio. Antonio tersenyum tipis. "Tenang saja, saya yang traktir. Lagi pula, makan sambil bicara akan membuat suasana lebih santai." Kartini hanya mengangguk kecil, meski dalam hatinya ia merasa canggung. --- Di Restoran Jepang Mereka masuk ke dalam restoran, disambut oleh pelayan dengan sopan dan diantar ke sebuah meja kecil yang nyaman. Suasana restoran sangat tenang, hanya terdengar suara alat musik Jepang yang dimainkan di latar belakang. Kartini duduk dengan posisi kaku, merasa dirinya tidak pantas berada di tempat seperti ini. Antonio, di sisi lain, tampak

    Last Updated : 2025-01-10
  • Pelakormu vs Aku   Bab 18: Sushi untuk Anak-anak

    Kartini mengintip ke kanan dan kiri sebelum diam-diam mengambil sepotong sushi dari piringnya. Dengan cepat, ia membungkusnya dalam tisu dan menyelipkannya ke dalam tas. Gerak-geriknya yang hati-hati membuat Antonio tersenyum kecil. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Antonio sambil menahan tawa. Kartini langsung gelagapan, mencoba mencari alasan. "Ah, nggak apa-apa. Saya cuma... ya, buat anak-anak di rumah. Mereka belum pernah coba makanan seperti ini." Antonio menatap Kartini dengan pandangan heran sekaligus kagum. "Kamu ini benar-benar ibu yang luar biasa. Tapi kamu nggak perlu repot seperti itu. Kalau mau, saya bisa memesankan untuk dibawa pulang." Kartini menggeleng cepat, wajahnya sedikit memerah. "Ah, nggak usah repot-repot. Ini saja sudah cukup. Saya nggak mau menyusahkan." "Menyusahkan apa?" balas Antonio sambil tertawa kecil. "Kamu sudah menemaniku makan malam. Sekarang giliran aku yang memast

    Last Updated : 2025-01-10

Latest chapter

  • Pelakormu vs Aku   Bab 96 – Langkah yang Berwarna

    Kartini masih duduk di tepi ranjang, jemarinya menyentuh lembut gelang kaki yang baru saja dipasangkan Antonio. Pikirannya melayang. Dari sekian banyak jenis perhiasan yang ada di dunia ini, kenapa gelang kaki yang dipilih Antonio? Pria itu memang selalu penuh kejutan. Tapi ia juga sadar, di balik setiap tindakan Antonio, pasti ada alasan yang tak tertebak. Dengan sedikit ragu, Kartini akhirnya bertanya, “Pak Antonio…” suaranya hampir seperti bisikan, membuat pria yang sedang berdiri memandangi jendela berbalik perlahan. “Kenapa… memilih gelang kaki?? Maksud saya, Anda bisa memilih cincin, kalung, atau bahkan anting. Tapi kenapa ini?” Antonio menatapnya, senyum tipis yang khas itu kembali muncul di wajahnya. Sorot matanya seperti menembus jiwa, membuat Kartini merasa seperti satu-satunya hal yang penting di dunia ini. Pria itu mendekat, langkahnya tenang namun penuh wibawa. Ia berhenti di depannya, menunduk sedikit hingg

  • Pelakormu vs Aku   Bab 95: Hadiah Tak Terduga

    Kartini menatap lukisan yang baru saja ia selesaikan dengan hati berdebar. Kuas-kuas telah disisihkan, cat yang sedikit belepotan di tangannya menjadi saksi bagaimana ia mengerahkan seluruh perasaannya ke dalam karya itu. Dengan sedikit ragu, ia mendorong kanvas ke depan Antonio, memperlihatkan hasilnya. “Sudah selesai…” suaranya pelan, hampir seperti bisikan. “Saya harap… Pak Antonio nanti menyukainya.” Antonio, yang masih berbaring santai di ranjang, memiringkan kepala untuk melihat lukisan itu. Tatapannya tajam dan serius, tak ada ekspresi yang bisa Kartini tebak. Ia hanya diam, membuat suasana semakin menegangkan. Kartini mulai gelisah, jemarinya tanpa sadar meremas gaunnya. “Pak Antonio? Apa… apa ada yang salah dengan lukisannya?” tanyanya gugup. Beberapa detik berlalu sebelum pria itu akhirnya berbicara, suaranya rendah tetapi menggema penuh wibawa. “Kamu benar-benar… luar bias

  • Pelakormu vs Aku   Bab 94: Kanvasku, Kamu

    Ruangan kamar Antonio yang luas, dengan jendela besar yang menampilkan langit malam, kini terasa semakin intim. Di sudut, Kartini berdiri gugup sambil melirik ke arah lemari besar yang ditunjuk Antonio. Suara bariton pria itu menggema lembut namun tegas. “Di situ ada kanvas dan cat. Ambil semuanya. Mulailah melukis,” katanya, matanya yang tajam mengunci Kartini dalam kebimbangan. Kartini mengangguk pelan, tubuhnya bergerak menuju lemari. Setiap langkah terasa berat, bukan karena beban yang ia bawa, melainkan karena kehadiran Antonio yang begitu dominan. Ketika ia membuka lemari, pandangannya jatuh pada set lengkap peralatan melukis yang tersusun rapi. “Semua ini… untuk saya gunakan?” tanyanya pelan, suaranya nyaris berbisik. Antonio, yang kini sudah duduk di sisi ranjangnya, hanya mengangguk kecil sambil melepas arloji dari pergelangan tangan. Ia meletakkannya di meja samping dengan

  • Pelakormu vs Aku   Bab 93 : Lukisan di Kamar

    Langit sore mulai meredup ketika Antonio melangkah masuk ke rumahnya setelah selesai dengan sesi latihan tembaknya. Kaus polo hitam yang ia kenakan melekat sempurna pada tubuh atletisnya, menyiratkan kelelahan sekaligus kesan menawan yang tak terbantahkan. Langkahnya tenang, tetapi tatapannya tajam menyusuri ruangan, mencari seseorang—Kartini. Namun, Kartini tidak terlihat di mana-mana. Antonio mengerutkan dahi. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung melangkah menuju kamarnya. Begitu membuka pintu, ia berhenti sejenak. Kartini ada di sana. Wanita itu berdiri diam di depan dinding besar yang dihiasi sebuah lukisan wanita mengenakan gaun marun. Kartini tampak terpaku, matanya menatap lekat pada detail lukisan itu. Antonio bersandar di ambang pintu, kedua lengannya menyilang di dada. Matanya mengamati Kartini yang tampak begitu terpesona, tetapi ekspresinya tetap dingin. “Kartini,” suara baritonnya memecah

  • Pelakormu vs Aku   Bab 92 – Tepat Sasaran

    Antonio berdiri di area latihan tembak dengan postur tegap, mengenakan pakaian olahraga hitam yang membuat auranya semakin mencolok. Sebuah pistol semi-otomatis berada di genggamannya, siap untuk digunakan. Ia menarik napas panjang, menatap target yang berada beberapa meter di depannya—sebuah lingkaran dengan titik merah di tengah. DOR! Tembakan pertama melesat, tepat mengenai tepi lingkaran tengah. Antonio sedikit menghela napas, tampak tak puas. Ia mengangkat pistolnya lagi, tetapi kali ini wajahnya tampak lebih serius. Dalam pikirannya, ia membayangkan wajah seseorang. “Bastian,” gumamnya sambil mengarahkan pistol. “Kalau saja kamu tahu betapa menyebalkannya dirimu…” DOR! Kali ini tembakannya tepat di tengah. Antonio menyeringai kecil, senang membayangkan dirinya sedang "mengalahkan" Bastian, meski hanya di pikirannya. “Pak Antonio, Anda tampaknya sangat f

  • Pelakormu vs Aku   Bab 91 – Pertemuan yang Tak Pernah Tenang

    Antonio berjalan dengan tenang di lorong hotel, memeriksa setiap detail dari pelayanan hingga suasana hotel. Mata tajamnya memperhatikan kerapian meja, keramahan staf, hingga suasana yang dihadirkan. Hari itu seharusnya menjadi hari biasa. Tapi, tentu saja, tidak bagi Bastian. “Antonio!” suara khas itu memecah keheningan. Antonio berhenti sejenak, menoleh, lalu kembali berjalan. Namun, seperti biasa, Bastian tak menyerah. Ia mengejar dengan langkah cepat, membawa senyum yang seolah penuh kemenangan. “Kenapa selalu buru-buru kalau ketemu aku? Takut kalah debat, ya?” goda Bastian sambil menyamakan langkah dengan Antonio. Antonio menghela napas pelan, menoleh tanpa banyak ekspresi. “Kalau tidak ada yang penting, lebih baik kembali ke pekerjaanmu.” “Tenang dulu, bos. Aku cuma mau ngobrol ringan. Kamu tahu Kartini pindah kerja ke mana?” tanyanya tiba-tiba, mencoba terdengar santai, tapi matanya penuh selidik.

  • Pelakormu vs Aku   Bab 90 – Misteri di Balik Nama Kontak

    Di sebuah sore yang sibuk, Bastian berjalan menuju ruang kerja Antonio dengan setumpuk dokumen di tangannya. Laporan ini adalah hasil kerja keras timnya, dan walau hubungan mereka sering penuh tensi, ia tahu bahwa tugas adalah tugas. Antonio, sebagai atasan langsungnya, tetap harus menerima laporan tersebut. Setibanya di ruangan Antonio, pria itu duduk dengan sikap serius seperti biasa, membaca laporan yang baru saja diberikan oleh Bastian. Ia mengernyit sedikit, menunjuk beberapa bagian. “Ini tidak sinkron dengan data sebelumnya. Revisi, dan perbaiki sebelum sore ini,” kata Antonio, nada suaranya dingin namun profesional. Bastian mengangguk kecil, lalu menjawab, “Baik, saya akan perbaiki. Tapi bagian mana yang lebih detil harus dirapikan?” Sebelum Antonio sempat menjawab, tiba-tiba ponsel di mejanya berdering. Antonio dengan refleks melirik layar ponselnya dan terlihat agak tegang. Di layar ponsel itu, hanya ada

  • Pelakormu vs Aku   Bab 89 – Kemenangan Sang Juara

    Malam sudah semakin larut, tetapi suasana di lapangan golf masih terasa hangat dan penuh semangat. Pertandingan final dimulai kembali setelah jeda istirahat 20 menit. Antonio kembali ke lapangan dengan ekspresi yang lebih serius dari sebelumnya. Keringat yang mengucur deras membasahi kemejanya, membuatnya semakin tidak nyaman. Tanpa banyak basa-basi, ia meraih kerah bajunya, menariknya ke atas, dan melepaskannya begitu saja. Kartini, yang berdiri tak jauh, menahan napas. Di bawah sinar lampu lapangan yang terang, tubuh Antonio terlihat begitu memukau. Dadanya yang bidang dengan lebar sekitar 80 cm terlihat jelas, kulitnya kecokelatan sempurna, dengan garis otot yang terpahat rapi. Lengan yang kokoh, punggung lebar, dan perutnya yang berotot menciptakan perpaduan sempurna antara kekuatan dan estetika. Keringat yang masih menetes di kulitnya seperti menambah kilauan, membuatnya terlihat seperti sosok dari lukisan dewa-dewa Yunani. Terlebih tinggi badannya

  • Pelakormu vs Aku   Bab 88: Saat Hobi Bertemu Perasaan

    Setelah hampir dua jam bertanding, Antonio terlihat sangat santai, bahkan senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya. Pukulan demi pukulan dilontarkan dengan presisi tinggi, sementara rekan-rekannya sudah tampak kelelahan. Tatiana dan Kartini berdiri di pinggir lapangan, menyaksikan dengan takjub. "Wow, Kak Antonio ini nggak ada capeknya, ya?" Tatiana tertawa, menonton kakaknya yang tampaknya begitu menikmati permainannya. Kartini, yang agak khawatir, menatap Antonio dengan tatapan bingung. "Apa selama ini Pak Antonio memang main golf terus tanpa henti seperti ini?" tanyanya, sedikit khawatir. Tatiana mengangguk, terlihat sudah terbiasa dengan kebiasaan kakaknya. "Kakakku itu bisa main sampai sore, bahkan malam. Golf itu hobinya. Makanya dia punya koleksi tongkat golf yang harganya nggak main-main," jawabnya sambil tersenyum lebar. Kartini mengangguk pelan, sedikit mengerti, meskipu

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status