Angga menegang. “Apa?”
“Atau setidaknya, bersikap biasa saja padanya.” Pak Yuda menatap putranya dalam-dalam. “Jangan biarkan Devan berpikir kau terlalu mencintai istrimu. Jika dia menangkap itu, dia akan memanfaatkannya sebagai senjata untuk menjatuhkanmu.”
Angga mengepalkan tangannya erat. “Aku tidak akan menceraikan Ziandra.”
Pak Yuda menghela napas. “Aku tahu kau akan bilang begitu.”
Hening sejenak.
Pak Yuda bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. “Aku hanya ingin kau selalu waspada dan jangan lengah. Jangan biarkan Devan mengendalikanmu karena perasaan cinta butamu pada Ziandra.”
Angga tetap diam, tapi di dalam kepalanya, ia sudah bertekad.
Ziandra adalah miliknya, seutuhnya. Dan tidak akan ada seorang pun—terutama Devan—yang bisa mengambilnya.
*****
Ziandra melangkah keluar dari aula rapat dengan ha
Ziandra sedang di pantry dapur kantor untuk membuat minuman untuknya sendiri dan juga kopi untuk Angga yang sedang berkutat sibuk di ruangannya. Hampir 2 jam lebih Angga belum keluar dari ruangannya, dan itu cukup membuatnya agak khawatir. Untuk itu ia sengaja membuatkan kopi sebagai alasan masuk ke ruangannya, sekedar mengecek keadaan Angga di dalam.Tapi saat sedang santai mengaduk kopi, beberapa karyawan wanita berdatangan untuk istirahat di dapur. Mereka tidak menyadari keberadaan Ziandra dan menganggapnya sebagai karyawan divisi lain. Mereka dengan santai duduk di kursi yang memang disediakan untuk para karyawan yang ingin menikmati kopinya di sana.“Kau sudah dengar gosipnya juga, kan?”Salah satu dari mereka mulai bicara. Suaranya terdengar sinis.“Iya, aku tak sangka bahwa Ziandra akan melakukan hal itu. Pantas saja dia diangkat jadi sekretaris dalam waktu sangat cepat, dan malah dinikahi oleh Pak Angga, atasannya sendiri.”
Ziandra masih berdiri dengan napas memburu, emosinya belum juga reda setelah kejadian barusan. Liona pergi dengan wajah merah padam, tapi Ziandra tahu bahwa wanita itu tidak akan diam begitu saja. Tak hanya Liona, tapi hampir semua orang yang ada di sana juga sudah menyingkir, tak ingin kena amuk oleh Ziandra sama seperti Liona.Di sisi lain, Elden masih berdiri di tempatnya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Bukan senyum mengejek, bukan juga tatapan yang bermaksud menenangkan—hanya sekedar menatap, seolah sedang menilai sesuatu.“Sudah puas melabraknya?” suara Elden akhirnya terdengar, datar tapi sarat makna.Ziandra mendengus, merapikan lengan bajunya yang tadi terangkat saat bertengkar. “Seharusnya aku menamparnya sekalian.”Elden mengangkat alis, lalu tanpa peringatan meraih pergelangan tangan Ziandra. “Ikut aku.”Ziandra sontak menepis tangannya. “Apa-apaan kau? Aku tidak ada urusan
Ziandra duduk di sudut kafe favoritnya, menatap secangkir kopi yang hampir dingin. Suasana ramai di sekelilingnya seolah tak ada artinya. Ia awalnya sangat bersemangat ketika Elden mengajaknya untuk bertemu sehabis pulang kerja, tapi setelah menunggu satu jam lamanya Elden mengabari bahwa dirinya akan lembur malam ini, sehingga terpaksa untuk membatalkan janji temunya dengan Ziandra.Ziandra tidak marah dan memutuskan tetap di kafe itu untuk beberapa saat kemudian. Tepat 15 menit, barulah Ziandra pergi dari kafe dengan lesu. Ia sangat menantikan pertemuannya dengan sang pacar yang akhir-akhir ini sulit sekali dihubungi.Elden selalu beralasan sedang sibuk sehingga tak ada waktu untuk mengabari apalagi sampai menyempatkan waktu untuk bertemu. Ziandra berusaha untuk mengerti kondisi Elden dan tak mengeluhkan hal itu. Padahal, mereka satu perusahaan dan hanya beda divisi saja, namun rasanya begitu sulit untuk berkomunikasi layaknya pasangan pada umumnya.“Sebaiknya aku bawakan Elden maka
Ziandra berangkat ke kantor jauh lebih awal dari biasanya. Bukannya langsung masuk ke dalam, ia malah duduk di bagian lobi kantor untuk menunggu seseorang. Dan tepat 20 menit kemudian, sosok Elden langsung mencuri perhatiannya.Ziandra berlari mendekati Elden dan memanggilnya terburu-buru. Tentu saja Elden merasa aneh dengan sikap Ziandra. Dirinya pikir kemarin Ziandra itu marah besar padanya dan tentu saja hubungan mereka bisa dikatakan berakhir, bukan?Senyuman Elden terbit ketika Ziandra yang sudah berdiri di depannya langsung memegang lengannya. “Ada apa, Sayang? Tumben pagi-pagi sudah menungguiku,” ungkapnya membuat Ziandra langsung melepaskan pegangannya.“Ada yang mau aku bicarakan denganmu. Dan biar kuperingatkan padamu satu hal, bahwa kita sudah putus jadi jangan memanggilku dengan sebutan sayang! Kau tidak amnesia soal semalam, ‘kan?” sinis Ziandra lalu menyuruh Elden agar mengikutinya.Keduanya tiba di rooftop kantor yang sama sekali tidak ada orang selain mereka. Ziandra l
Selesai acara pengenalan CEO baru, Ziandra buru-buru keluar dari aula dan duduk ke kursinya dengan resah. Sambil terus membisiki dirinya sendiri, “Itu tidak mungkin. Pria semalam tidak mungkin bosku.”Ia menolak keras kebenaran bahwa pria yang tidur dengannya adalah orang yang sama. Sedang mengkhawatirkan hal itu, ia dikejutkan sapaan beberapa teman kantornya yang tiba-tiba saja mengerubungi mejanya.“Ada apa?” tanya Ziandra mengangkat sebelah alisnya.Salah satu dari mereka malah menertawakannya. Ia menyentil bahu Ziandra dengan gaya angkuhnya.“Kudengar bahwa kau dan Elden sudah putus, ya? Astaga, akhirnya Elden sadar juga bahwa kau itu tidak layak bersanding dengannya. Selamat atas kandasnya hubungan kalian, ya,” ejeknya dengan suara sengaja dilantangkan agar semua yang ada di sana mendengar berita itu.Banyak karyawan yang berasal dari divisi lain ikut menengok ke arah Ziandra ketika tak sengaja berjalan di mejanya, membuat Ziandra tentu saja merasa malu yang teramat sangat karena
Ziandra merutuki dirinya sendiri sepanjang perjalanan pulang. Ia masih tidak percaya bahwa dirinya kabur begitu saja setelah ditegur atasannya tadi. pikirannya kalut, bahkan ia hampir melupakan rencananya untuk pergi ke bank setelah pulang kerja guna mengajukan pinjaman.Dengan berat hati, Ziandra memutar langkah, berjalan kaki menuju bank meski kosnya sudah hampir terlihat di ujung jalan. Langkahnya terasa lambat, seolah-olah seluruh tenaganya terkuras habis oleh rasa malu dan putus asa.Sesampainya di bank, semuanya berjalan lebih cepat dari dugaannya. Tak butuh waktu lama, ia sudah keluar dengan wajah tertunduk lesu. Hatinya seperti dihantam batu besar. Pengajuan pinjamannya ditolah mentah-mentah oleh pihak bank.“Kenapa sulit sekali untuk meminjam uang, sih? Padahal aku sudah janji akan membayar tepat waktu. Aku juga nggak mungkin kabur,” keluhnya sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.Alasan penolakan bank masih terngiang di telinganya. Ziandra yang tidak memiliki jaminan
Angga menatapnya dengan senyum misterius. “Bisa dibilang, aku menawarkan pekerjaan tambahan padamu. Secara pribadi.”Ziandra menelan ludah dengan susah payah, merasa ada yang tidak beres dari kalimat itu. “Memangnya pekerjaan apa yang Anda maksudkan?”“Jadilah kekasih sewaanku selama 3 bulan. Sebagai gantinya, aku akan memberikan berapa pun yang kau butuhkan,” ungkap Angga seraya menyodorkan cek kosong ke tangan Ziandra.Ziandra menatap Angga dengan campuran rasa takut dan bingung. Cek kosong yang sudah berpindah ke tangannya terasa berat seperti batu.“Kutunggu jawabanmu besok,” kata Angga sebelum berbalik pergi, meninggalkan Ziandra yang terpaku di tempat.Saat langkah Angga menjauh, Ziandra segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Tubuhnya langsung merosot di lantai. Ia menatap cek kosong di tangannya dengan napas yang terasa sesak.Namun, pikirannya segera teralihkan saat ponselnya yang ada di saku celana berbunyi. Pesan dari sepupunya di desa masuk.[Kondisi nenek semakin lem
“Apa kamu serius dengan nominal segitu?” lanjutnya membuat Ziandra menundukkan kepala dengan gugup.Sambil memilin ujung kemejanya, Ziandra mencoba untuk membalas ucapan Angga dengan suara lirih. “Ya. Itu cukup untuk semua biaya yang kubutuhkan. Kalau terlalu besar, saya bisa menguranginya...,”“Mengurangi? Astaga, Ziandra. Tiga puluh juta itu bahkan tak cukup untuk biaya makan malam keluargaku sekali duduk.”Angga memotong ucapan Ziandra dengan menyindir halus. Ia meraih pena di meja, menambahkan angka nol di akhir nominal itu, lalu mengembalikan cek itu ke tangan Ziandra.Ziandra menatap cek itu dengan mata melebar, tak menyangka bahwa uang sebesar 300 juta ada di genggamannya. Seumur-umur ia belum pernah memegang uang sebanyak itu, apalagi itu akan jadi miliknya.Ziandra mengenyahkan pikiran buruknya dengan menggelengkan kepalanya pelan. “Pak Angga, ini terlalu banyak! Saya tidak bisa menerimanya.”Ziandra bermaksud mengembalikan cek itu dan akan menulis nominal yang wajar untuknya
Ziandra masih berdiri dengan napas memburu, emosinya belum juga reda setelah kejadian barusan. Liona pergi dengan wajah merah padam, tapi Ziandra tahu bahwa wanita itu tidak akan diam begitu saja. Tak hanya Liona, tapi hampir semua orang yang ada di sana juga sudah menyingkir, tak ingin kena amuk oleh Ziandra sama seperti Liona.Di sisi lain, Elden masih berdiri di tempatnya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Bukan senyum mengejek, bukan juga tatapan yang bermaksud menenangkan—hanya sekedar menatap, seolah sedang menilai sesuatu.“Sudah puas melabraknya?” suara Elden akhirnya terdengar, datar tapi sarat makna.Ziandra mendengus, merapikan lengan bajunya yang tadi terangkat saat bertengkar. “Seharusnya aku menamparnya sekalian.”Elden mengangkat alis, lalu tanpa peringatan meraih pergelangan tangan Ziandra. “Ikut aku.”Ziandra sontak menepis tangannya. “Apa-apaan kau? Aku tidak ada urusan
Ziandra sedang di pantry dapur kantor untuk membuat minuman untuknya sendiri dan juga kopi untuk Angga yang sedang berkutat sibuk di ruangannya. Hampir 2 jam lebih Angga belum keluar dari ruangannya, dan itu cukup membuatnya agak khawatir. Untuk itu ia sengaja membuatkan kopi sebagai alasan masuk ke ruangannya, sekedar mengecek keadaan Angga di dalam.Tapi saat sedang santai mengaduk kopi, beberapa karyawan wanita berdatangan untuk istirahat di dapur. Mereka tidak menyadari keberadaan Ziandra dan menganggapnya sebagai karyawan divisi lain. Mereka dengan santai duduk di kursi yang memang disediakan untuk para karyawan yang ingin menikmati kopinya di sana.“Kau sudah dengar gosipnya juga, kan?”Salah satu dari mereka mulai bicara. Suaranya terdengar sinis.“Iya, aku tak sangka bahwa Ziandra akan melakukan hal itu. Pantas saja dia diangkat jadi sekretaris dalam waktu sangat cepat, dan malah dinikahi oleh Pak Angga, atasannya sendiri.”
Angga menegang. “Apa?”“Atau setidaknya, bersikap biasa saja padanya.” Pak Yuda menatap putranya dalam-dalam. “Jangan biarkan Devan berpikir kau terlalu mencintai istrimu. Jika dia menangkap itu, dia akan memanfaatkannya sebagai senjata untuk menjatuhkanmu.”Angga mengepalkan tangannya erat. “Aku tidak akan menceraikan Ziandra.”Pak Yuda menghela napas. “Aku tahu kau akan bilang begitu.”Hening sejenak.Pak Yuda bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. “Aku hanya ingin kau selalu waspada dan jangan lengah. Jangan biarkan Devan mengendalikanmu karena perasaan cinta butamu pada Ziandra.”Angga tetap diam, tapi di dalam kepalanya, ia sudah bertekad.Ziandra adalah miliknya, seutuhnya. Dan tidak akan ada seorang pun—terutama Devan—yang bisa mengambilnya.*****Ziandra melangkah keluar dari aula rapat dengan ha
Devan menyilangkan tangan di depan dada. “Aku memang sengaja mengajakmu makan malam waktu itu.”Ziandra menegang.Devan melanjutkan dengan nada puas, “Saat itu, aku melihat Angga membeli bunga.”Ziandra terkejut mendengarnya. Kenapa Devan melakukan hal itu? Apa motifnya? Ziandra tak mengerti.“Bunga itu sudah jelas pasti untukmu. Jadi kupikir, kenapa tidak sedikit mengganggunya? Aku ingin melihat bagaimana reaksinya jika ia tiba-tiba melihat istrinya sendiri bersama musuhnya.” Devan menambahkan, matanya berbinar meremehkan seolah menikmati keterkejutan Ziandra.Ziandra mengepalkan tangannya. Devan sudah tahu akan ada efeknya bagi hubungan Angga dan dirinya, tetapi tetap melakukannya demi kepuasan pribadi.Devan mendekat, suaranya mengecil, “Kau tahu apa yang paling menarik dari semua ini, Ziandra?”Ziandra tetap diam, menunggu kelanjutan kata-katanya.“Dia terlihat sangat ce
Suasana di dalam mobil terasa lebih ringan dibanding kemarin. Angga menyetir dengan fokus, sesekali melirik Ziandra yang duduk di sampingnya. Perempuan itu tampak tenang, berbeda dengan semalam yang penuh kebisuan dan ketegangan.Angga akhirnya membuka suara. “Kenapa?”Ziandra menoleh. “Kenapa apanya?”Angga menghela napas, lalu sekilas meliriknya sebelum kembali menatap jalanan. “Kenapa pagi ini kau bersikap hangat padaku? Padahal semalam kita ....” Ia menggantungkan kalimatnya, seolah enggan mengingat kembali ketegangan yang terjadi.Ziandra tersenyum kecil, lalu menatap keluar jendela. “Aku belum tidur semalam,” katanya pelan.Angga mengernyit. “Apa?”Ziandra menarik napas dalam sebelum melanjutkan. “Aku mendengar semua yang kau katakan semalam, Angga.”Pria itu terdiam. Tangannya yang menggenggam setir sedikit mengencang.“Aku tahu kau lelah, tahu
Ziandra berbaring miring membelakangi sisi kasur Angga. Matanya terbuka, menatap kosong ke arah jendela kamar yang sedikit terbuka, membiarkan angin malam masuk dengan lembut. Ia tak bisa tidur. Pikirannya masih dipenuhi bayangan percakapan mereka di ruang tamu tadi.Beberapa menit berlalu dalam keheningan sebelum ia merasakan kasur di belakangnya sedikit turun, pertanda seseorang baru saja duduk di sana. Ziandra tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu, pasti Angga.Ia mendengar tarikan napas berat dari pria itu, sebelum merasakan pergerakan di belakangnya. Angga mendekat, dan Ziandra buru-buru menutup matanya rapat-rapat, berpura-pura sudah tertidur.Angga diam sejenak, seakan memastikan apakah istrinya benar-benar sudah terlelap. Perlahan, ia berselonjor di atas kasur, menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang. Keheningan menyelimuti kamar, hanya suara napas mereka yang terdengar samar.Lalu, dengan gerakan hati-hati, jemari Angga bergerak mengusap ramb
Ziandra menyandarkan kepalanya di jendela mobil, matanya menatap lampu-lampu jalan yang berpendar di tengah kota. Devan menyetir dengan satu tangan di kemudi, sementara tangan satunya menopang dagu.“Turunkan aku di tikungan sebelum apartemen,” ujar Ziandra tiba-tiba.Devan meliriknya sekilas, tapi tak langsung menjawab. “Kenapa? Apartemen Angga ‘kan tidak jauh lagi?”Ziandra menghela napas. “Aku tidak ingin Angga salah paham kalau melihatku turun dari mobilmu.”Devan terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia tahu ini bukan tentang malu atau takut. Ziandra hanya ingin menjaga hubungan rumah tangganya tetap baik. Sementara itu, ia sendiri sadar bahwa setelah ini, kebersamaan mereka mungkin akan berakhir. Ziandra takkan lagi duduk di sebelahnya, tertawa kecil mendengar leluconnya, atau menatapnya tanpa rasa curiga seperti tadi.Dan entah kenapa, itu terasa menyebalkan.Namun, Devan bukan seseorang yang
Satu jam berlalu tanpa terasa. Ziandra mengira makan malam ini akan terasa canggung, tapi nyatanya, ia malah menikmati waktu bersama Devan. Pria itu jauh lebih menyenangkan dari yang ia bayangkan—humoris, santai, dan bahkan bisa membuatnya tertawa di sela-sela makan.Devan menyuapkan potongan steak ke mulutnya, lalu menatap Ziandra dengan seringai menggoda. “Jadi, bagaimana sebenarnya kau dan Angga bisa bertemu?”Ziandra yang sedang mengunyah, nyaris tersedak mendengar pertanyaan itu. Ia buru-buru meneguk air putihnya, berusaha menjaga ekspresi agar tetap tenang.“Oh, itu ...,” Ziandra menunduk sedikit, menyusun kebohongan yang terdengar masuk akal. “Kami bertemu secara kebetulan. Layaknya pasangan lain, kau tahu? Awalnya tidak menyangka, lalu saling tertarik dan jatuh cinta begitu saja.”Devan mengangkat alis, seolah tidak percaya begitu saja. “Kebetulan, ya?”Ziandra mengangguk gugup, tersenyu
Ziandra duduk sendirian di halte bus, pandangannya kosong menatap jalanan yang mulai gelap. Lampu-lampu kota berpendar, kendaraan berlalu-lalang, tapi ia hanya diam, larut dalam pikirannya sendiri.Sikap dingin Pak Yuda dan bentakan Angga tadi membuat hatinya terasa berat. Ia tahu suaminya sedang tertekan, tapi tetap saja, menerima perlakuan seperti itu dari orang yang ia cintai membuatnya terluka.Ziandra menarik napas panjang. Ia ingin pulang ke apartemen Angga, tapi di sana ia hanya akan sendirian. Itu akan terasa jauh lebih menyakitkan daripada duduk di halte ini. Setidaknya di sini, ia bisa menenangkan pikirannya meski hanya sementara.Tiba-tiba suara klakson mobil membuatnya tersentak. Ziandra menoleh dan melihat sebuah mobil mewah berhenti tak jauh darinya. Kaca jendela perlahan turun, memperlihatkan sosok yang duduk di balik kemudi.“Devan?” gumam Ziandra terkejut, tak menyangka bertemu adik iparnya.Pria itu menyunggingkan seny