Mendengar teriakan Ayara, Thalita terkejut dan menangis. Ayara mencoba untuk menenangkan buah dari pernikahannya dengan Adam. Lalu, mengambil ancang-ancang untuk segera pergi meninggalkan sang suami. Namun, secepat kilat laki-laki itu mengunci pergerakan Ayara.
“Kamu mau ke mana, Ayara?"
“Terserah aku!” Ayara mencoba melepaskan cekalan tangannya, tetapi usahanya sia-sia.
“Kamu harus dengar penjelasanku, Ay ....” Wajah Adam terlihat memelas.
“Penejelasan?” Penjelasan apa?!” Air mata wanita itu lagi-lagi tumpah. Bagaimana tidak, kebahagiaan yang selama ini ia bangun dengan susah payah bersama sang Suami, kini hancur berantakan.
Selama ini, Ayara merasa menjadi wanita yang paling beruntung karena dinikahi oleh laki-laki yang menutup mata pada masa lalunya yang kelam, masa lalu yang hampir semua orang akan merasa jijik padanya jika mengetahuinya. Namun, tidak dengan Adam, laki-laki yang berpengetahuan luas itu merengkuh Ayara dalam kehidupan yang sarat dengan kebahagiaan dan nilai-nilai positif kehidupan.
Jika ada orang yang mengenalnya bertanya kenapa Ayara berhijab? Maka Adamlah jawabannya. Jika mereka bertanya sejak kapan ia mulai rutin mengerjakan salat lima waktu? Jawabannya sejak menikah dengan Adam. Jika mereka bertanya sejak kapan ia bisa membaca Al-Quran? Lagi-lagi semuanya karena Adam. Ayara berubah karena Adam.
Namun, apa yang Adam lakukan saat ini telah membuat Ayara ingin menghapus segala kebaikan-kebaikan yang pernah Adam perbuat untuknya. Betapa sakitnya saat suami yang teramat Ayara cintai ternyata diam-diam ingin berbagi kasih dengan wanita lain.
Bagaimana Adam bisa melakukan ini padanya? Apa salahnya? Selama ini ia selalu berusaha menjadi istri yang berbakti, melakukan segala perintah suami, menjaga anak dan kehormatannya, tapi apa balasannya?
“Dengar, Ayara ... aku tidak bermaksud untuk ....”
“Apa?!” Adam terlalu bertele-tele, membuat emosi Ayara semakin mendidih.
“Kita bicarakan baik-baik di dalam, malu kalau didengar orang,” ajak Adam dengan sorot mata memohon.
“Malu?” Ayara menumbuk tatapan pada mata sang suami dengan lekat. Senyum sinis terukir di bibirnya.
“Iya, Sayang. Kita bicarakan baik-baik di dalam saja.” Adam mencoba untuk menarik Ayara masuk, tetapi ia tahan. Hati wanita tersebut sudah terlanjur teriris oleh sikap Adam yang diam-diam menyalahi ucapannya dahulu akan menjadikan Ayara satu-satunya wanita di sampingnya hingga akhir hayat. Kini, bahkan ia tidak meminta pendapat Ayara terlebih dahulu untuk menikahi wanita lain! Apa karena ia sudah tahu jika Ayara akan menolaknya mentah-mentah?
“Aku benci kamu, Mas!” Tangan Ayara terlepas, ia memukul-mukulkan kepalan tangan pada dada Adam yang terbalut jasko. Pria itu hanya melihat sang istri melampiaskan emosi.
Ayara tertunduk sambil terisak setelah pukulan tangannya ternyata tak mampu meredam emosi yang mendidih. Justru, air matanya semakin deras membanjiri pipi.
“Aku akan berlaku adil, Ay....” Adam berucap lirih, membuat Ayara mendongak, menatapnya dengan mata menjegil.
“Adil? Sekiranya kamu adil, kamu akan terlebih dahulu membicarakan keputusanmu ini padaku, Mas. Bukan diam-diam seperti ini!” Suara Ayara bergetar, menahan gejolak di dada yang berdentam keras.
“Aku takut kamu tidak setuju.”
“Kamu benar, Mas. Wanita mana yang setuju suaminya menikah lagi?” Ayara menatap mata sayu Adam. Pria itu menelan ludah, kebingungan hendak berkata apa.
“Aku tahu, Ay. Tapi ....”
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu melakukannya, Mas? Kamu tahu jika kamu melakukannya akan membuat keluarga kita berantakan.”
“Dengar, Ayara. Poligami tidak dilarang.”
Ayara tersenyum sinis mendengar ucapan suaminya. Memang tidak pernah dilarang dalam agama, tapi Adam pernah berkata kalau Islam sangat menjunjung monogami, karena dengan monogami sebuah rumah tangga akan tetap beridiri kokoh. Lalu jika sebuah bangunan keluarga bisa berantakan dengan adanya poligami, bukankah sebisa mungkin poligami dihindari?
Lupakah dia akan ucapannya itu?
“Kamu benar. Tapi Islam tidak membenarkan menuruti hawa nafsu!”
Adam terlonjak kaget mendapati ucapan wanita di depannya.
“Jadi kamu menganggap aku melakukannya karena nafsu? Jangan asal bicara kamu!” Emosinya mulai menguap. Tidak terima dengan ucapan Ayara yang seolah menjustifikasi bahwa dirinya ingin berpoligami atas dasar nafsu belaka, seperti kebanyakan laki-laki di dunia.
Senyum sinis Ayara kembali menyungging.
“Lalu apa kalau bukan karena nafsu? Dalam agama kita sudah ada aturannya semua, bagaimana seharusnya suami jika ingin menikah lagi. Bukan dengan cara diam-diam seperti ini! Ternyata kamu sama saja dengan laki-laki di luar sana yang menjadikan agama sebagai tameng untuk berpoligami!”
Plak!
“Jaga ucapanmu, Ayara!” Adam mendelik. Detik berikutnya wajahnya berubah, menyiratkan penyesalan telah menampar wanita yang telah membersamainya dua tahun terakhir. Bibirnya bergetar, tangannya terjulur untuk menyentuh pundak Ayara.
Thalita kembali menangis melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Seharusnya mereka tidak melakukan ini di depan anak kecil itu, tetapi emosi yang mengungkug dada masing-masing telah menumpulkan akal.
Lihat, laki-laki yang tidak pernah berkata kasar pada Ayara, kini menamparnya. Pipi Ayara terasa panas, tetapi itu bukan apa-apa dibandingkan dengan semua perih yang menjalar di dalam rongga dada.
“Seharusnya kamu tidak tersinggung jika kamu merasa ingin berpoligami bukan karena nafsu," ucap Ayara sembari menatap sinis pria di hadapannya.
Tangis Thalita semakin mengeras. Ayara segera melangkah menuju mobil di dekat pagar, meninggalkan Adam.
Adam masih mematung ketika Ayara sudah berada beberapa langkah menuju mobil Nadia. Sejurus kemudian, pria itu berlari menyusul dengan wajah bergurat penyesalan. Ayara membuka pintu mobil dan mendapati Nadia menatapnya prihatin.
Adam menggedor-gedor kaca mobil di dekat Ayara. “Buka, Ay!”
Nadia masih menatap Ayara, menunggu konfirmasi untuk menjalankan mobil. Ayara sudah terlihat tenang. Ayara membuka kaca jendela mobil.
“Ayara ... aku minta maaf.” Adam memelas.
“Aku harus pergi, Mas.” Ayara melihatnya sekejap, kemudian beralih pada Thalita yang hendak terlelap.
“Ayara ... aku mohon jangan pergi. Aku sayang kamu, Ayara.” Adam tetap bersikukuh agar Ayara tetap tinggal. Apa harus Ayara katakan kalau ingin tetap bersamanya maka harus membatalkan pernikahan itu? Ah, baiklah!
“Aku akan memaafkanmu jika kamu sudah membatalkan pernikahan itu.”
Kaca jendela mobil tertutup. Adam kembali menggedor, tapi tidak Ayara hiraukan. Ia memberi kode pada Nadia agar menjalankan mobil. Tanpa berkata-kata, Nadia mulai menginjak pedal gas.
Adam masih berusaha untuk mengikuti mobil, sampai akhirnya menyerah. Ayara melihat dari kaca spion pantulan sang suami yang semakin mengecil, bersamaan dengan semakin derasnya bulir bening dari netra Ayara.
BERSAMBUNGAyara berkali-kali mencoba memejam, tetapi tak kunjung terlelap. Ingatan tentang betapa teganya sang suami berkecamuk, berbenturan dengan kepingan-kepingan kisah bahagia yang selama ini terjalin. Berkali-kali perempuan itu merasa ini hanyalah mimpi buruk belaka, bukan nyata. Namun, di detik berikutnya, kesadarannya kembali bahwa semuanya memang benar-benar terjadi.Hatinya sakit tak terperi. Ingin menangis agar kemelut di dadanya sedikit mengurai, tetapi air mata itu sepertinya sudah habis terkuras.Ayara bangkit dari pembaringan setelah membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh mungil sang bayi. Pandangannya beralih pada ponsel di dekat bantal. Pada layar benda yang diaktifkan mode pesawat itu, Ayara melihat jam. Pukul sepuluh malam.Ia bosan dan ingin sedikit mengobrol dengan Nadia. Kamar wanita yang memberikan tumpangan itu tepat berada persis di sebelah kamar yang ditempati Ayara dan Thalita. Samar-samar terdengar Nadia berbicara, sepertinya sedang menel
Rasa perih sebab tatapan datar sang mertua ternyata tak sesakit jawaban yang diterima Ayara. Tangan Ayara yang tadi memegang lengan Bu Halima, terurai. Jawaban singkat itu serupa belati yang menghunjam ulu hati.Ayara meneguk ludah dengan air mata luruh tak terbendung."Ja-jadi, Ibu sudah tahu?" Ayara melontar tanya dengan suara nyaris tak terdengar sebab parau."Kami yang mengatur semuanya, Ayara."Ayara memindah pandangan pada wanita yang baru saja bersuara. Mega menumbuk tatapan kepada Ayara dengan mata memerah. Sementara Ayara yang tidak paham mengapa semua jadi serumit ini, hanya membeku dengan benak dijejali tanya. Pandangannya memindai wajah Mega dan Bu Halima bergantian."Ka-kalian tega ...." Isak tangis Ayara membuat suaranya mengecil."Tega?" Mega tertawa sumbang. "Kamu yang tega! Sejak awal aku memang sudah curiga sama kamu, Ayara. Kami semua tidak percaya keluarga kami dimasuki oleh seorang pelacur sepertimu!" Lengkingan suara Me
Ayara menatap pria yang kini berdiri di dekatnya. Meski pandangannya terkaburkan oleh guyuran hujan, ia dapat menangkap jejak kesal dari wajah pria yang mengenakan kemeja biru tersebut. Ayara mengusap wajah, lalu mencoba duduk.“Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah,” ucap pria itu lagi, setengah berteriak walau tidak selantang ucapan sebelumnya.Ayara tidak begitu mendengarkan ucapan pria tersebut. Ia hanya terduduk sambil memeluk lutut. Tangisnya kembali pecah ketika pikirannya kembali mengulang betapa menyedihkannya takdir yang Tuhan suguhkan untuknya.Pria itu tersentuh melihat wanita di hadapannya. Ia mendekat dengan tangan terulur untuk menyentuh pundak Ayara. Namun, Ayara menepis tangan itu dengan kasar tanpa melihat. Perempuan itu merutuk, seharusnya rencananya berjalan mulus. Mengapa Tuhan mengirimkan lelaki tersebut? Masih kurangkah derita yang harus ditanggung olehnya?“Maafkan aku. Kamu tidak bisa terus-terusan di sini,
Dahi Adam berkerut setelah mendengar ucapan mamanya. Pria itu memindai wajah sang mama untuk mencari jejak dusta yang mungkin tersirat di sana."Mama jangan bohong!" seru Adam dengan menatap lurus wajah Halima."Dam, kamu tidak percaya sama Mama?" Halima mengadu tatapan dengan Adam. Hatinya kesal karena merasa dicurigai atas hal yang sama sekali tidak dilakukannya.Rasa ragu yang semula bersarang di hati Adam, perlahan meredam. Puluhan tanda tanya berkelindan di benak. Siapa yang telah menyebar undangan itu? Untuk apa? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang berdesakan memenuhi kepala."Ayara tahu Adam akan menikahi Fitriya gara-gara surat undangan. Kalau bukan Mama yang menyebarkan, siapa lagi? Mama yang mengurus semua persiapan." Pandangan lekat Adam pada sang mama mengendur tersebab rasa ragu. Otaknya terus saja berputar, hingga satu nama muncul."Dengerkan Mama. Mama bersumpah tidak memesan surat undangan, Adam. Kapan Mama bohong sama kamu?" Hali
Pandangan lekat wanita paruh baya itu terpotong oleh suara seorang pria. Derap langkah setengah berlari menyusul bariton tersebut, semakin dekat. Tiga pasang mata tertuju pada pria tampan dengan raut cemas yang menghampiri."Mama tidak apa-apa?" Pria itu bertanya setelah berada di dekat sang mama. Pandangannya sekilas beralih pada sosok dua wanita di dekat mamanya."Mama tidak apa-apa, Van. Tapi Mama hampir saja kehilangan dompet Mama kalau saja tidak ada mereka," papar wanita berhijab panjang tersebut. Dengan senyum merekah, wajahnya tertoleh kepada dua perempuan yang dimaksud di dekatnya.Pria itu mengarahkan pandangan kepada dua wanita di samping sang mama. Dengan wajah datar, dia memandang keduanya."Terima kasih," ucapnya cuek, lalu beralih kepada sanga mama dan berkata, "Ayo kita pulang, Ma.""Sebentar," ucap sang Mama, lalu membuka reseleting dompetnya dan mengeluarkan beberapa helai uang berwarna merah tanpa menghitungnya."Ini sebag
“Kamu ini aneh, Ay,” celetuk Nadia. Gurat heran jelas terpahat di wajahnya saat mengetahui ternyata Ayara membeli kitab tebal berjilid-jilid untuk hadiah ulang tahun Adam, suaminya. Ayara hanya tersenyum menanggapi Nadia yang masih menatap sahabatnya tersebut dengan lekat.“Mas Adam dari dulu pengen kitab itu, Nad, tapi gak pernah kesampaian,” ucap Ayara kemudian setelah memasang sabuk pengaman. Nadia hanya menoleh sekilas tanpa mengeluarkan suara, kemudian menyalakan mobil.“Emang itu kitab apa, sih, sampe berjilid-jilid gitu?” Nadia kembali bertanya setelah mobil melaju, menoleh ke arah wanita berhijab di sampingnya selintas lalu, kemudian pandangannya fokus kembali memandang ke depan.Ayara tidak segera menjawab pertanyaan sahabatnya itu, masih sibuk mengetik pesan guna memastikan Adam pulang malam ini. Akan ada surprise untuknya.[Nanti malam pulang kan, Mas?]Adam belakangan ini jarang sekali di rumah,