Share

Bab 5

Author: Lara Aksara
last update Last Updated: 2024-11-24 15:57:23

“A-aku ingin minta maaf atas apa yang sudah diperbuat oleh Brad.” Alice tergugu di depan Katon.

“It's okay, Alice. Jangan khawatirkan aku," jawab Katon menenangkan wanita yang sedang ada di hadapannya saat ini dan melanjutkan kalimatnya dalam hati, “Pacarmu yang babak belur.”

“Katon nyaris terluka, untunglah patroli polisi lewat sehingga Katon selamat. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya kalau tidak ada patroli polisi,” imbuh Morgan manipulatif, tidak jauh berbeda dengan Katon.

Dari balik sikap dinginnya, Morgan sengaja tunjukkan ekspresi kesedihan, untuk menambah keyakinan dari drama yang sudah Morgan dan Katon skenariokan. Mendengar semua ini, Alice spontan menumpahkan derai air mata lagi, di balik katupan kedua tangan ke wajah cantiknya.

 Alice terlihat sekali, menyesali apa yang terjadi pada pria yang disukainya ini. Perasaan empati Alice muncul, ketika cinta juga memberikan simpati.

Katon melemparkan tatapan tajam ke arah Morgan ketika Alice menutup wajah dan Morgan mengangkat bahu sambil menyeringai jelek. Bisa-bisanya Morgan bilang Katon bakal kalah. Hah!! Dua pria yang bersahabat itu saling memaki tanpa suara selama Alice menangis sambil menutup wajahnya. Katon mengacungkan jari tengah ke arah Morgan lalu memasang wajah sedih tapi tabah ke arah Alice.

“Apa yang ingin kau bicarakan, Choco Girl?” tanya Katon lembut. Alice menggeleng sedih sambil menundukkan kepala. Katon merengkuh kepala Alice dan memintanya mendongak hanya untuk menemukan mata wanita itu basah oleh air mata.

“Jangan khawatirkan Morgan. Apa yang ada di sini tidak akan pernah bocor keluar,” ujar Katon dengan nada datar. Namun, tatapannya melembut ke arah Alice. Morgan yang mendengar suara Katon tersenyum miring, ia bisa melihat punggung Alice lebih relaks saat Katon berkata seperti itu.

“Br-Brad mungkin akan memukulku jika ia datang ke apartemenku malam ini. Mu-mungkin ia akan menemuiku di coffeshop. A-aku takut, Katon,” isak Alice.

Katon menatap datar ke arah Alice. Tentu saja dia tahu tabiat Brad. Memangnya bagaimana bisa Alice sedemikian mudah jatuh ke pelukannya jika Brad adalah kekasih yang baik?

Karena Katon tahu Brad suka memukuli Alice makanya Katon memutuskan untuk mendekati wanita ini. Agar Alice tahu, dunia tidak hanya berputar di sekitar Brad. Ada lelaki lain yang lebih baik dari pria brengsek itu. 

“Alice, Dengar. Aku baik-baik saja. Dan, sejujurnya … aku tahu tabiat buruk Brad. Aku minta maaf karena membawamu ke situasi yang tidak menguntungkan begini.” Katon bicara dengan lembut ke arah Alice. Kedua tangannya masih merengkuh wajah Alice dan memaksa wanita itu untuk terus menatapnya.

“Aku akan melindungimu. Hm? Kami akan mengantarmu dan menjagamu selama kamu bekerja di coffeshop. Kami akan berada di tempat yang Brad tidak bisa melihat, bahkan kamupun tidak akan menyadari kehadiranku dan Morgan,” kata Katon cukup jelas dan tegas.

Di belakang wanita itu, Morgan berdiri tegap laksana tentara yang menjaga perbatasan dan wajahnya serius meski memutar mata lagi ke arah Katon. Walaupun pria berbadan kekar itu tampak keberatan dengan kalimat Katon tetapi ia tidak mendebatnya.

“Mak-maksudmu?” Alice bertanya bingung.

"Aku dan Morgan akan menjagamu dari jauh. Berlakulah biasa. Jangan takut, Brad tidak akan bisa mendekatimu. Kamu tidak perlu terlalu takut, manisku. Sekarang, ayo kita sarapan sebelum mengantarmu bekerja,” ujar Katon dengan nada manis.

“Katon … aku—aku ….” Dan Alice tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Katon meraih kepala Alice dan melekatkan bibirnya ke bibir Alice. Katon melumat bibir Alice dengan ganas, seolah akan menyedot habis seluruh pasokan udara di paru-paru wanita itu. Alice menyambar lengan atas Katon dan mengelus tendon kekarnya. Mereka berciuman makin intens. Morgan melotot membuat bola matanya seakan meloncat keluar. Dan dia mengacungkan tinju ketika Katon tidak kunjung menyudahi ciumannya. Morgan bersiap menendang vas bunga ketika Katon mendadak berdiri dan menarik Alice yang oleng karena mendadak diajak berciuman sedemikian panas. Katon memeluk tubuh langsing Alice dan memutarnya seolah berdansa, tapi langkahnya jelas. Ia menuju ke ruang makan.

“Bajingan!” Bisikan Morgan hanya untuk Katon setelah yakin Alice tidak bisa mendengarnya. Katon yang mendengar bisikan itu bersikap cuek dan meninggalkan Alice di ruang makan sementara dirinya memutari konter dapur dan mulai bekerja di balik konter sambil dipandangi Alice dengan mata terpesona.

“Sarapan, bro?”

“Menurutmu? Hanya kau yang butuh makan di sini?” geram Morgan dan sepenuhnya diabaikan Katon karena pria itu sudah mulai menyiapkan menu makan pagi. 

Seperti biasa, sarapan pagi Katon adalah makanan full protein. Karena Katon harus menjaga massa otot dan kekekaran tubuhnya. Ia perlu tubuh yang kuat. Berjaga dan siaga kalau keluarganya membutuhkan bantuan Katon untuk menyelesaikan masalah mereka. Maka ia menyiapkan sarapan full protein untuk dirinya dan Morgan. Sementara untuk Alice, dia menyiapkan menu yang berbeda. Omelet dan pancake.

Katon mengeluarkan telur dan dada ayam tanpa kulit dari dalam lemari es dan mulai memasak daging ayam dalam airfrye berteknologi tinggi miliknya. Sementara menunggu, ia mengocok telur untuk membuat omelet dan menyiapkan adonan pancake. Katon sedang membuat jus brokoli dan menyediakan air putih ketika melihat ke arah Morgan yang berpangku tangan di sebelah Alice. Mata Katon bersinar tidak suka. “Tidak mandi?” tanya Katon sambil menaikkan alisnya. Morgan menatap malas padanya. Katon yang tidak suka ia duduk di sebelah Alice berupaya mengusirnya.

“Kenapa? Tuan Collins terganggu dengan bauku? Alice bahkan tidak terganggu. Oh, apakah Tuan Collins akan bercinta denganku?” goda Morgan dengan berani. Alice mengikik di dekatnya.

Sebuah piring melayang dan Morgan dengan tangkas menangkapnya sebelum piring itu menyambar kepalanya atau jatuh ke lantai dan hancur berkeping. “Nice shot, Mister Collins!”

“Mau coba sekali lagi?” tanya Katon, nadanya seperti madu tapi mengancam. Bahkan, tangan kanan pria itu sudah meraih pisau panjang dan mengabaikan Alice yang terkesiap.

“Tidak, terima kasih, Tuan,” jawab Morgan tenang dan meletakkan piring itu di atas meja makan dengan kesopanan yang luar biasa lalu menggebah dirinya menuju kamar mandi tamu. Katon tersenyum menenangkan ke arah Alice.

“Jangan takut, manisku. Kami hanya bercanda,” hibur Katon seraya menghidangkan menu yang sudah siap ke meja makan.

Morgan menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat. Setelahnya pun ia mengarahkan langkah kaki ke kamar lemari pakaian Katon dan tanpa canggung mencari pakaian Katon untuk ia kenakan. Kaus polo biru navy dan celana kain warna khaki menjadi pilihannya. Morgan mematut di depan cermin, puas dengan penampilannya, ia memburu langkah kembali ke ruang makan. Alice dan Katon tampak mesra berdua, saling menyuapkan makanan.

“Kurasa, pakaian yang kau kenakan adalah milikku, Tuan Maxwell!” gerutu Katon ketika menoleh ke arah Morgan dan mendapati pria itu memakai pakaiannya. Morgan terkekeh.

“Dan tampak luar biasa padaku, Tuan Collins.”

“Aku berharap pakaian itu kembali ke lemariku dalam kondisi bersih, 24 jam dari sekarang!”

Morgan tidak menanggapi itu, ia terus memotong daging dada ayam dengan seringai konyol, dan mengunyah dengan kecapan dengan suara yang menjijikkan. Katon menggelengkan kepalanya, mengambil garpu yang sudah selesai ia gunakan dan melemparkannya ke arah Morgan. Namun, tidak disangkanya lemparan itu hanya mengenai ruang kosong saat pria menjengkelkan itu memiringkan kepalanya dan terkekeh dengan cibiran.

Morgan dan Katon memang sering bercanda tanpa bermaksud serius untuk melukai. Saking dekatnya mereka, dia juga sudah terbiasa memenuhi perintah Katon. Dan perintah pagi ini jelas. Ia harus mengikuti Katon, mengintai dan menjaga Alice di coffe shopnya. Dan Katon tidak suka jika perintahnya terlalu lama diluluskan.

Katon membawa Alice, bergandengan tangan menuju ke lantai basement-nya dan menuju ke satu mobil berwarna hitam. Morgan mengikuti dengan malas-malasan di belakang Katon. Sebuah Mercedess Benz The W223 S-Class berwarna hitam terparkir di sana dan kuncinya terbuka dengan suara ceklikan pelan dan kilap lampu kekuningan, bersamaan dengan Katon memencet remote di tangannya. 

Katon membuka pintu penumpang untuk Alice, membuat wanita itu tersipu senang dan Morgan mencibir di belakang. Sebal dengan perlakuan sok gentleman Katon yang ia tahu hanya dikeluarkan oleh sahabatnya saat pria tersebut berharap lebih dari seorang wanita incarannya.

“Manisku, aku akan mengantarmu dan menunggui selama kau bekerja, apakah tidak mengapa?” tanya Katon selama mereka berkendara menuju ke tempat kerja Alice, sebuah coffershop bernama Brooklyn Blend.

“Kamu akan menungguiku selama aku bekerja?” tanya Alice takjub.

“Tentu, Sweetheart. Apa yang tidak aku lakukan untuk wanita semanis dirimu?” ujar Katon bak perayu ulung. Morgan yang duduk di jok belakang, menatap keluar dengan pandangan bosan.

“Morgan bersamaku, Choco Girl. Jangan khawatir.”

“Yeah. Dan akan berakhir Morgan yang mengawasimu, Choco Girl. Paling banter dia molor,” desis Morgan ke arah kaca hingga tak seorangpun yang mendengar kalimatnya.  

Tentu saja, pada akhirnya Morgan berjaga di dalam Mercedes Benz yang diparkir di dekat Brooklyn Blend, tempat Alice bekerja. Sedangkan Katon, yang semula online melalui ponsel pintarnya, berakhir dengan tidur setelah menurunkan sandaran jok. Ia membiarkan Morgan berjaga sendiri, mengawasi bagian depan Brooklyn Blend dan memperhatikan setiap orang yang masuk.

Bahkan selama menunggu, jika Katon membutuhkan makanan atau minuman, Morgan pula yang keluar dari mobil untuk membelinya.

Menjelang jam kepulangan Alice, Morgan mendadak menegakkan punggung dan mengarahkan pandangan tajam ke pintu masuk Brooklyn Blend. “Oho! Kau tidak akan suka ini, Tuan Collins.”

Katon tidak bergerak, dan tetap rebah di sandaran jok yang rendah. Morgan menoleh ke arahnya dan berwajah ceria lalu berkata, ”Baiklah. Selesai sampai di sini kisah Alice dan Katon, rupanya. Great! Ayo pulang.”

“Apa maksudmu, Morg,” ucap Katon santai tanpa merubah posisinya. Matanya bahkan masih terpejam dengan nyaman.

“Aku barusan melihat sekelompok gangster masuk ke Brookyn Blend. Aku tidak tahu bagaimana rupa Brad. Tapi, tidak seorangpun di sana ada yang mirip Brad Pitt,” kata Morgan santai. Katon membuka mata dan bangkit dari posisinya. Ia memindai area depan Brooklyn Blend.

“Aku tidak suka ini, Morg,” ujarnya.

“Oya? Kukira kau hobi terperangkap di dalam mobil selama lebih dari enam jam hanya untuk memelototi kaca depan coffeshop. Oh, tunggu! Aku yang melakukan itu. Sebagian besar waktumu di sini kau pakai tidur, asshole!” omel Morgan. Katon mengabaikan omelan itu karena di dalam Brooklyn Blend telah terjadi kericuhan dan Katon membuka pintu mobil untuk memburu ke coffeshop. Morgan mengikuti di belakangnya.

Gerombolan gangster yang disebutkan oleh Morgan sedang mengamuk di dalam coffeshop. Salah satu pria paling besar di sana bahkan sedang berusaha menyeret Alice keluar dari konter. Katon merangsek masuk ke dalam coffe shop dan Morgan dengan setia mengikuti meskipun mulutnya mengomel tanpa suara.

“Cari lawan yang sepadan denganmu, Brad!” seru Katon mengejutkan separuh Brooklyn Blend. Pria besar yang sedang mencengkeram leher Alice menoleh dan matanya menatap galak ke arah Katon.

“Itu dia bajingan yang meniduri pacarku! Bunuh dia!” geramnya tanpa melepas leher Alice.

Gerombolan dengan jumlah dua kali lebih banyak daripada gangster yang mengeroyok Katon sekarang menoleh ke arah Katon dan Morgan dengan tatapan buas. Sebagian besar dari mereka membawa tongkat bisbol dan sebagian lain mengeluarkan pisau lipat.

“O … o … saatnya berpesta, Katon,” desis Morgan di samping Katon dengan senyum miring yang menjadi khas-nya.

Related chapters

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 6

    Lelaki dewasa yang paling dekat dengan Katon berteriak sambil mengayunkan tongkat bisbolnya dengan ganas dan terarah ke kepala. Katon sudah tidak bisa lagi memikirkan posisi Morgan, terpaksa membiarkan sahabatnya bertarung demi dirinya sendiri. Katon membanting tubuhnya kesamping untuk menghindari pukulan tongkat bisbol sekaligus menyabet kaki penyerangnya. Pria lawannya jatuh berdebam di lantai keras dan mengeluarkan sumpah serapah. Katon kembali berdiri dan melancarkan pukulan ke arah dua pria yang mengeroyoknya dari sisi yang berbeda. Sudah tidak ada waktu untuk menggunakan jurus karate, Katon spontan menggunakan gaya petarung jalanan seperti yang Morgan biasa lakukan. Jab dan hook Katon bergantian menghajar musuh-musuhnya hingga jatuh. Upper cut-nya menghajar dagu satu musuh dan melemparkan lawan itu menabrak konter dapur, menghamburkan gelas di atasnya menjadi kepingan. Ketika mendapat ruang lebih leluasa, barulah Katon secara reflek mengeluarkan jurus karatenya. Katon mula

    Last Updated : 2024-11-26
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 7

    “Lepaskan dia, Brad,” pinta Katon. Brad masih menyeringai kejam ke arah Katon, jelas dia tidak akan melepaskan Alice selama Katon masih menggenggam tongkat bisbol di tangannya. “Suruh pembantumu minggir atau aku tidak segan mengiris leher cantik ini supaya kamu tahu seberapa cerah warna darahnya?” ejek Brad kejam. Katon melambaikan tangannya kepada Morgan agar minggir yang langsung dituruti oleh pria besar itu. Brad kembali menyeret Alice yang ketakutan bersamanya, ia menuju ke pintu keluar sambil berjalan mundur, dengan sengaja mempertontonkan wajah putus asa dan ketakutan Alice ke arah Katon dan Morgan. Sesaat setelah ia berada di luar, Brad mendorong tubuh lemas Alice ke trotoar, membuat wanita itu jatuh tak berdaya. Katon membuang tongkat bisbolnya dan memburu keluar untuk menolong Alice. "Kamu baik-baik saja?" Katon meraih lengan gadis itu dan membawa ke pelukannya. Ia merasakan tubuh Alice menggigil ketakutan. Morgan yang ikut berlari keluar, menatap bergantian ke arah Katon

    Last Updated : 2024-11-28
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 8

    Katon meraih tangan Alice dan menggenggamnya erat. “Aku sedikit punya urusan di Indonesia. Adikku membutuhkan bantuan. Sepertinya aku harus meninggalkanmu untuk sementara waktu, Alice.” Hati Alice mencelos. Katon akan meninggalkannya. Alice tertegun, matanya memandang nanar kepada sosok pria di depannya. “K-kamu akan pergi?” tanyanya gugup. Mendadak Alice merasa kosong, ia berusaha mengalihkan pandangan ke tempat lain. Katon yang masih memegang tangan Alice, menangkap perubahan mood wanita di depannya. Katon meraih kepala Alice, ia menelisik rambut wanita itu dan menyelipkannya ke belakang telinga. “Jangan khawatir, honey. Aku tidak pergi untuk selamanya. Segera setelah urusanku selesai, aku akan kembali. Saat ini, kurasa lebih baik jika dirimu tidak tinggal sendiri di apartemen.” Selama Katon berusaha menenangkan Alice, Morgan membuang muka ke arah lain dan hanya sesekali menatap interaksi dua orang berbeda gender di depannya. Saat akhirnya ia memandangi Katon menghibur wanita i

    Last Updated : 2024-11-29
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 9

    Satu minggu jelang kepulangannya ke Indonesia, Katon sudah mulai mempersiapkan diri. Saat akan membeli tiket, Morgan mendesakkan sesuatu padanya. Sebuah ide cemerlang, menurut Morgan. Bahwa ia harus ikut Katon ke Indonesia untuk mengawal sahabatnya. Saat itu mereka berdua sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar di New York. Di sebuah toko khusus peralatan olahraga. Keduanya berdiri di depan layanan pembayaran untuk membeli drysuit, masker diving dan regulator diving yang baru pesanan Katon. Pria ini baru saja berbelanja keperluan scuba diving yang terbaru setelah drysuit lamanya terkoyak karena tertusuk terumbu karang ketika ia menyelam di Great Barrier Reef, di pesisir timur laut Australia beberapa bulan lalu. “Kau. Mengawalku?” tanya Katon dengan wajah heran dan menunjuk dada Morgan maupun dadanya secara bergantian. Morgan mengangguk dengan mantap. Kedua tangannya yang berkacak pinggang makin menguatkan aura marinir atau bodyguard. Mereka berbicara seolah hanya berdua di rua

    Last Updated : 2024-11-30
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   bab 10

    Satu persatu bayangan gelap bersenjata tongkat besi tiba di lantai unit apartemen Katon berada. Mereka bergerak secara sistematis melalui pintu darurat dan dengan ahli berusaha menghindari sorotan kamera CCTV yang letaknya sudah mereka ketahui berdasar informasi sekuriti apartemen yang bekerja sama dengan gangster. Satu orang berjongkok di depan pintu unit apartemen Katon dan mencongkel kunci pintu dari luar. Ia berhasil merusak nyaris tanpa suara dan pintu apartemen berhasil dibobol. Sekelompok orang ini, mengenakan pakaian hitam dari kepala hingga kaki, dengan gestur yang menunjukkan mereka sudah terbiasa melakukan kejahatan. Satu persatu mulai memasuki apartemen. Gerakan mereka lakukan dengan hati-hati dan sistematis. Langkah-langkah mereka hampir tidak bersuara, seolah-olah mereka telah berlatih berkali-kali untuk situasi ini. berpencar, mereka menyusuri koridor menuju berbagai ruangan dalam apartemen, dengan tujuan yang hanya mereka yang tahu. Di dalam apartemen tersebut, suasa

    Last Updated : 2024-12-01
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 11

    Mendadak sambungan diangkat dan Katon mendengar dari telinganya, suara Alice yang terdengar mengantuk. “Choco Girl, are you okay?” tanya Katon khawatir. “Yea. I’m fine. Kenapa …?” “Choco Girl, amankan rumahmu. Pastikan keluargamu mengunci dengan baik dan bawa handphone dekat denganmu, hm? Hubungi polisi jika ada hal yang mencurigakan,” kata Katon. “Ada apa sebenarnya, Katon?” “Kurasa Brad masih belum selesai marah padaku, dia mengirim anggota genk lain ke apartemen.” “Apa?! Katon, kamu oke?” “Please Choco Girl. Aku sekuat Superman. Teman Brad yang jadi bubur. Aku matikan teleponnya, sweet baby. Aku perlu menghubungi polisi.” Tanpa menunggu jawaban Alice, Katon langsung mematikan sambungan untuk menghubungi pihak berwajib. Setelah penyerangan di apartemen Katon, polisi dan petugas medis berdatangan sesuai laporan kepolisian. Mereka berkumpul di lantai unit Katon hingga menyebar masuk ke seluruh ruangan milik pria itu. Katon dan Morgan yang hanya mengalami luka tidak serius, men

    Last Updated : 2024-12-02
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 12

    Untungnya permasalahan tidak berlarut-larut sehingga membuat jadwal Katon untuk pulang ke Indonesia menjadi mundur. Brian Thomas Davis, pemilik Brooklyn Blend, bersedia menarik laporan setelah menerima ganti rugi dari Katon. Kelihatan jelas bahwa tindakannya melapor ke polisi hanya didasari ketidakpercayaan pada penampilan Katon dan Morgan kala itu. Sementara untuk kasus pengrusakan di apartemennya, Katon sudah menyerahkan segala urusan kepada Sersan Terence Monahan selama ia pulang kembali ke Indonesia. “Ponsel Anda harus bisa dihubungi selama 24 jam penuh ketika Anda berada di Indonesia, Sir,” kata Sersan Terence ketika Katon dan Morgan terakhir berkunjung ke NYPD untuk menyelesaikan laporan mereka. “Tentu saja, Sersan Monahan. Saya siap dihubungi 24 jam,” jawab Katon tegas seraya mengulurkan tangan kanan dan mengajak berjabatan. Pertanda dia tidak mau lebih lama lagi menghabiskan waktu di kantor NYPD. Katon dan Morgan meninggalkan NYPD untuk bergegas pergi ke Bandara Internasio

    Last Updated : 2024-12-03
  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 13

    Pria berwajah psikopat itu bernama Michael Warren, ia bergerak secepat kilat menyandera pramugari dan kelihatan sengaja melukainya. Cairan merah pekat mengalir dari luka di lengannya, membuat awak pesawat yang lain terkesiap ngeri dan sebagian penumpang menjerit ketakutan. “Diam kalian orang-orang tolol!” desis Warren dengan wajah mengerikan. Tiba-tiba, tiga orang misterius muncul dari sudut kabin pesawat. Mereka berbadan tegap dengan wajah datar dan dingin. Salah seorang di antaranya berjalan sambil melepas ikat pinggang. Semua mata menatap mereka dengan bingung. Satu di pikiran Katon, apakah tiga orang ini akan menjatuhkan si pria psikopat atau justru mereka adalah komplotannya. Pria yang melepas ikat pinggang dengan santai meraih botol minuman salah satu penumpang dan menumpahkan isinya membasahi ikat pinggang yang telah lepas dan terulur di tangannya. Mendadak, ikat pinggang silver itu mengencang dan berubah menjadi pedang. “Apa yang ...?” Katon menyentak dalam hati bersamaan d

    Last Updated : 2024-12-04

Latest chapter

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 235

    Hening sejenak. “Apa yang kau lakukan pada Lin Jianhong?” tanya Satria pada putera sulungnya. Nadanya dingin tak enak didengar. “Aku membunuhnya. Dia mengancam Ratih dan keluargaku. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi pada Papa. Tetapi aku tidak bisa menerima jika sesuatu yang buruk menimpa Mama, Rosie dan Lily. Aku akan mengirimkan laporanku melalui email. Selanjutnya Anda boleh kirimkan pekerjaanku kemari atau ganti saja aku dengan orang lain. Aku tidak peduli. Selamat siang, Pak Satria.” Katon mematikan ponselnya dengan dayanya sekalian lalu membuang barang itu ke atas tempat tidurnya. Wajahnya menyiratkan kemarahan. Ia tidak peduli sudah memantik api perpecahan dengan papanya sendiri. Untuk Katon, Arini jauh lebih penting dari Satria yang baru ia temui saat usia lima tahun. Rosie dan Lily bernilai sama dengan Arini. Satria benar-benar tidak masuk prioritas Katon sama sekali. Ia melakukan semua permintaan Satria hanya demi melihat senyum bangga Arini saja. Katon menarik napa

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 234

    Saat transit di Shanghai, Ratih sudah kehabisan tenaga untuk berdebat dengan Katon. Selama menunggu connecting flight schedule berikutnya, ia memilih untuk tiduran di paha Katon dan memasrahkan suaminya yang waspada terhadap panggilan ke penerbangan berikutnya “Neng, bangun. Sudah waktunya berangkat.” Entah berapa lama Ratih tertidur di pangkuan Katon. Suaminya membangunkan dengan lembut, menunggunya dengan sabar sampai semua nyawa terkumpul, masih juga membantu merapikan rambut panjangnya yang awut-awutan. Keunggulan memiliki pasangan jauh lebih tua darinya. Ratih merasa diemong dan dikasihi sepenuh hati. Kini, saat ia masih setengah mengantuk, berjalan dalam gandengan tangan Katon yang sibuk sendiri. Satu tangan menggenggam tangan Ratih, tangan yang lain menyeret bagasi mereka. Untung cuma satu, itu sebabnya Katon memilih membawanya ke kabin. Ratih benar-benar tidak paham dengan sekitarnya. Ia berjalan mengikuti langkah Katon tanpa melihat dengan jelas atau memastikan tujuan me

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 233

    Katon keluar dari kamar tidur sambil menggandeng tangan Ratih. Keduanya melangkah ke ruang tamu, di mana layar televisi menampilkan breaking news yang terus diulang-ulang di salah satu channel berita lokal. Semua tulisan di layar itu dalam huruf Mandarin, dan pembawa beritanya berbicara dalam bahasa yang sama. Meskipun tak mengerti bahasanya, Katon langsung mengenali rumah yang disorot di dalam berita tersebut. Lampu-lampu rotator dari mobil polisi berputar cepat, memancarkan warna merah, biru, dan kuning yang seolah berputar dalam irama tak teratur, membuat suasana semakin menegangkan. Sebuah ambulans tampak menunggu di depan rumah, sementara satu jenazah dibawa keluar dengan kantong mayat berwarna kuning. “Apa yang terjadi?” tanya Katon, sok polos, kepada Mei Lifen, yang berdiri di dekatnya. Ratih, yang menatap layar dengan dahi mengernyit, juga mengalihkan pandangannya ke arah Mei, tidak menyadari bahwa Liang Zhiyuen sedang mendengus sebal di dekat meja makan. “Perampokan yang g

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 232

    Katon mengabaikan omelan Liang Zhiyuen saat mengetahui dari Zhang Wei kalau Katon mengeksekusi mati Lin Jianhong. “Cari masalah kau, Ton. Anak buah Lin mengetahui pertikaian kalian sebelumnya dan kini bos mereka mati?! Sudah pasti semua prasangka akan tertuju padamu, Ton!” Liang Zhiyuen mengomel sepanjang perahu mereka menyusuri Sungai Yangtze menjauhi area perumahan Lin Jianhong. “Zhang, hubungi Meu Lifen dan tanyakan kondisi istriku,” perintah Katon, membuang begitu saja revolvernya di tengah Sungai Yangtzw saat perahu mereka melaju dalam kemudi Liang Zhiyuen yang cemberut parah. “Nyonya aman,” lapor Zhang Wei “Bawa aku pulang, Liang.” “Muter dulu, kek! Buat alibi, Ton!” seru Liang Zhiyuen sebal. Tetapi gestur Katon akan merebut kemudi. “Oke! Oke! Dasar gila!” Liang Zhiyuen memutar kemudi dan bergerak lurus menuju International Raffles City hotel melalui jalur sungai. Katon boleh saja perkasa di luar sana. Tetapi Katon tetap saja suami yang takut istri. Sudah tiga hari, kelew

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 231

    Chen Peng memastikan sekitar rumahnya aman saat ia pergi meninggalkan Katon dan Liang Zhiyuen di sana. Kurang dari satu jam kemudian, Zhang Wei yang datang menggantikan posisi Chen Peng. “Ratih bersama Mei Lifen dan Chen Peng. Di luar hotel, masih ada dua orang lagi anak buah Chen Peng yang ikut menjaga.” Zhang Wei menjelaskan pada Katon tanpa diminta. Katon mengangguk, setidaknya Ratih aman dan itu bisa membuatnya fokus. “Kita berangkat sekarang.” Katon yang enggan membuang waktu segera berdiri sambil memeriksa revolvernya. Di sisi lain, Liang Zhiyuen memenuhi saku mantelnya dengan amunisi simpanan Chen Peng. Zhang Wei yang sudah siap, segera mendahului langkah dan memimpin mereka. Pintu besi di belakang mereka mengeluarkan derit tajam saat Zhang Wei menutupnya perlahan, menutupi cahaya dari ruangan yang sekarang seakan menjadi satu-satunya perlindungan mereka tadi. Katon dan Liang Zhiyuen mengikuti langkah Zhang Wei yang mantap, masuk lebih dalam ke labirin bawah tanah yang penu

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 230

    Di ujung dermaga, terdapat gang sempit yang terhubung dengan area perumahan kumuh Chongqing. Gang tersebut dikelilingi oleh tembok tinggi dengan lukisan mural yang memudar, tampak jauh dari kilauan pusat kota. Di tempat yang tak terduga inilah Liang Zhiyuen memimpin Katon menuju ke seseorang yang sudah lama ia percayai. Setelah berlari melewati beberapa lorong sempit, mereka tiba di depan sebuah pintu besi berkarat yang tertutup rapat. Liang Zhiyuen melirik sekeliling, merasa diawasi, sementara Katon menjaga tangan di balik jaketnya, dekat dengan gagang pistol kecil yang ia bawa. Liang Zhiyuen mengetuknya tiga kali, cepat dan teratur, dan dalam beberapa detik, pintu itu terbuka sedikit, memperlihatkan seorang pria bertubuh kekar dengan rambut yang super cepak. " Gē? Apa yang kau lakukan di sini?" Sesosok pria sebaya dengan Liang Zhiyuen membuka pintu dan menampakkan wajah terkejut. Meskipun begitu ia segera menarik Liang Zhiyuen masuk, dengan demikian Katon leluasa mengikutinya. Pn

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 229

    Katon tidak menyadari bahaya yang mengintainya ketika ia meninggalkan restoran. Di dalam mobil hitam yang melaju melintasi jalan-jalan Chongqing yang padat, Katon dan Liang Zhiyuen yang mengemudikan mobil, berbicara tentang langkah selanjutnya. Katon mengendalikan tablet di tangannya, memnampakkan laporan-laporan yang dikirimkan Mei Lifen tentang proyek Lin. Tentu saja Satria tahu bahwa ada hal-hal ilegal di dalamnya, tetapi dia dan Growth Earth Company tidak menyangka bahwa Lin memiliki dampak seluas ini. Setiap bisnis memang memiliki area abu-abu seperti yang Lin katakan. Tak dipungkiri, Growth Earth Company pun sama. Bedanya, mereka masih memiliki sedikit moralitas dengan tidak terlibat pada penjualan manusia maupun wanita dan segala isinya. Senjata? Yea, Katon tidak memungkiri Grand-Mere mungkin melakukan itu. Tetap saja, menjalin bisnis terlalu dalam dengan Lin, bisa memantik resiko lebih besar. "Aku tidak yakin kita bisa keluar dari ini dengan mudah, Liang. Lin punya kekuata

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 228

    Katon duduk di ruang pertemuan gedung pencakar langit milik Lin, menatap layar yang menampilkan rencana proyek infrastruktur raksasa. Sekretaris Lin Jianhong, seorang wanita kurus dan tinggi, menyanggul seluruh rambutnya ke atas kepala dan memakai kacamata runcing seperti mata kucing, sedang melakukan presentasi dengan tingkat kepercayaan diri tinggi. Ia berbicara dengan tenang, menjelaskan betapa besar peluang yang ada. Selama itu Lin Jianghong, terus menatap ke arah Katon dan tim-nya dengan pandangan tertarik. Saat sekretaris wanita Lin Jianhong selesai bicara, ia mengembalikan topik kepada bos-nya. "Katon, proyek ini akan menghubungkan Chongqing dengan dunia. Kita berbicara tentang jalur pengiriman yang bisa mengalahkan pelabuhan Shanghai. Dengan investasi Anda, kita bisa memulai dalam waktu enam bulan," ujar pria tua bersahaja itu dengan penuh percaya diri. Katon mendengarkan, tetapi pikirannya terus bergerak ke arah detail yang Lin sepertinya hindari. Angka-angka terlihat fant

  • PLAYBOY KENA BATUNYA   Bab 227

    Katon kembali menyeberangi lobi InterContinental Raffles City. Posturnya yang gagah dibalut setelan mahal bisa saja menarik perhatian wanita manapun. Tetapi, sejurus kemudian sepasang pria dan anita mendekat lalu berjalan bersama Katon, mengiringi seperti penjaga. Liang Zhiyuan berjalan dengan tegap, posturnya kokoh dan penuh otoritas, seolah setiap langkahnya memiliki tujuan. Otot-ototnya yang tegas menunjukkan kekuatan yang tak perlu dijelaskan. Di sisi lain, Mei Lifen, dengan tubuh ramping dan anggun, bergerak dengan kepercayaan diri yang halus namun memancarkan kecerdasan tajam, auranya tenang tapi berbahaya. “Jelaskan lagi padaku tentang Lin Jianghong,” perintah Katon pada Mei Lifen selama mereka berjalan. Selama mereka berjalan menuju mobil hingga berkendara, Mei Lifen tak henti bicara menjelaskan pada Katon. Lin Jianhong adalah sosok pebisnis yang berwibawa, tetapi di balik citra publiknya yang terhormat sebagai pengusaha sukses, dia sebenarnya adalah seorang tokoh krimina

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status