Home / Romansa / One Night Stand With A Billionaire / Bab 1. Malam Panas dengan Pria Asing

Share

One Night Stand With A Billionaire
One Night Stand With A Billionaire
Author: Abigail Kusuma

Bab 1. Malam Panas dengan Pria Asing

last update Last Updated: 2025-02-10 13:23:58

“Astaga, kepalaku pusing sekali,” gerutu wanita cantik bernama Amber, berdiri di lorong hotel yang remang-remang. Gaunnya yang indah sudah kusut dan berlumuran noda, mencerminkan keadaan hatinya yang hancur berantakan. Tidak … bukan hanya penampilannya yang kacau, tapi rambut pirangnya sekarang sudah berantakan tak menentu. 

“Aku seperti terkena kutuk! Hidupku menderita sekali!” Amber berseru dengan nada penuh putus asa. Dia baru saja kehilangan seorang ayah, dan diusir oleh ibu tirinya yang licik, kata-kata kasar dan penghinaan wanita licik itu masih terngiang di telinganya. Amber tak tahu harus ke mana, hanya rasa sakit dan frustrasi yang menemaninya saat ini. 

Tanpa arah tujuan, Amber berjalan sempoyongan, kakinya hampir tak mampu menopang tubuhnya yang lemah karena alkohol. Dia tersandung beberapa kali, hampir jatuh, tetapi berhasil bangkit kembali. Akhirnya, dia sampai di depan sebuah pintu kamar hotel. Dia mengeluarkan kartu pass dari tasnya yang berantakan, berusaha keras untuk menempelkannya ke sensor.

Namun, sayangnya pintu tak kunjung terbuka. Amber mencoba lagi, dan lagi, tapi sia-sia. Rasa frustrasi mulai menggerogoti dalam dirinya. Rasa putus asa telah merayap dalam diri wanita cantik itu—hingga membuatnya rasanya seperti orang paling sial di muka bumi ini. 

“Kenapa tidak mau terbuka?!” teriak Amber dengan suara parau, air mata yang hampir mengalir membasahi pipinya. “Kau juga ingin menyiksaku, huh?” tanyanya ke pintu di hadapannya.

Amber mulai meracau, menendang pintu dengan kakinya yang lemah. Dia menggedor-gedor gagang pintu dengan panik, tak peduli dengan suara gaduh yang ditimbulkannya. Namun, tiba-tiba, pintu terbuka. Di balik pintu berdiri seorang pria tampan dan gagah tampak terkejut melihat Amber yang mabuk dan berantakan.

“Ughhh, akhirnya terbuka,” Amber terhuyung masuk tanpa memedulikan pria tampan itu. “Aku pikir pintu ini juga akan bersikap jahat padaku.”

Amber masuk ke dalam kamar hotel itu, dan langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Pria berperawakan tampan, melangkah mendekat ke arah Amber yang terbaring di ranjang. 

“Kau mendatangi tamumu dengan keadaan kacau seperti ini?” seru pria tampan itu, dengan sorot mata dingin. 

Amber bergerak-gerak di ranjang, tak memedulikan ucapan pria tampan itu padanya. Rambut pirang berantakan di atas ranjang megah dan mewah. Dia meracau tak jelas—membuat pria tampan itu semakin tampak kesal.  

Pria tampan itu bermaksud mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Amber. Keseimbangan yang tak terjaga, membuat tubuh pria tampan itu terjatuh menindih tubuh Amber. 

Mata sayu Amber menatap pria tampan yang ada di atas tubuhnya. “Kau tampan sekali, kau siapa?” tanyanya seraya membelai rahang pria itu. 

Alkohol telah menguasai Amber, membuat kewarasan di otaknya tak terkendali. Meskipun mabuk, tapi penglihatan Amber sangat baik di kala dia melihat wajah pria yang menindih tubuhnya itu sangat tampan. Rahang tegas, hidung mancung menjulang bibir, sorot mata tajam, alis tebal, jambang tipis, dan aroma parfume yang menggoda—membuat Amber memuja sosok pria yang ada di hadapannya itu. Tanpa ragu, dia berani memberikan kecupan di rahang pria itu, menciumi aroma pria yang menindih tubuhnya. 

Pria tampan itu menggeram, mengumpat di kala lehernya mulai dicumbu oleh Amber. Meski datang dalam keadaan kacau, tapi pria tampan itu tak menampik Amber memiliki paras yang luar biasa cantik. Rambut pirang wanita itu membuatnya semakin seksi dan menawan.  

“Tampan, kenapa kau hanya diam saja, huh? Katakan padaku siapa kau?” bisik Amber di telinga pria itu, sambil menciuminya. 

Pria tampan itu mengumpat tak bisa menahan diri di kala mendapatkan sentuhan dari Amber. Dia langsung menyambar bibir Amber, hingga membuatnya kewalahan. Amber memukuli lengan kekar pria itu, tapi dengan sigap pria tampan itu menarik kedua tangan Amber—ke atas kepala wanita itu. 

“Kau benar-benar tahu cara menggoda tamumu,” bisik pria tampan itu serak seraya mengisap leher Amber, meninggalkan jejak kemerahan di sana. 

Amber mengerang di kala lehernya diisap oleh pria tampan itu. Rasa sakit, geli, bercampur dengan kenikmatan. Kata-kata yang terlontar dari pria tampan itu tak dia pedulikan. Alkohol rupanya benar-benar membuat kewarasan Amber hilang. 

“Ah!” desahan lolos di bibir Amber, membuat pria tampan itu semakin melancarkan aksinya. 

Tangan pria tampan itu mulai menjamah setiap inci tubuh Amber. Ciumannya turun mengecupi dada bulat dan padat milik Amber. Erangan merdu tak henti lolos di bibir Amber, membuat rangsangan pria tampan itu semakin dahsyat.    

Pria tampan itu merobek gaun Amber, melucuti setiap helai benang yang melekat di tubuh wanita itu. Suara lenguhan panjang lolos di bibir Amber, di kala bibir hangat pria tampan itu mencumbu kedua payudaranya. 

Amber hilang kendali. Dia tak sadar akan apa yang dia lakukan telah membuatnya dalam malapetaka. Sekarang yang Amber tahu adalah rasa nikmat tiada tara yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. 

Pria tampan itu bangkit berdiri, melucuti sendiri pakaiannya. Dia mencari pengaman di laci, tapi sialnya dia tak menemukan pengaman. Dia mengumpat pelan. Pria tampan itu sudah tak lagi bisa mengatasi gairah. Tubuh telanjang wanita yang ada di hadapannya terlalu indah untuk diabaikan. 

Tanpa memedulikan apa pun, pria tampan itu memulai penyatuan dengan satu kali hentakkan keras. Sontak tubuh Amber tercodong ke depan, bersamaan dengan jeritan keras yang lolos di bibir wanita itu. 

Pria tampan itu mengumpat pelan di kala merasakan sulitnya memasuki Amber. Dia terus mencoba menerobos liang sempit Amber, sayangnya sangat sulit. Raut wajah pria itu berubah, tampak berpikir sejenak, tapi dia memilih mengabaikan sesuatu hal di pikirannya. Dia kembali mencoba menekan semakin dalam, memasuki Amber dengan sangat keras. 

“Ah!” Amber menjerit seraya mencapkan kukunya ke punggung kekar pria itu. 

Pria tampan itu sedikit merintih di kala kuku Amber menancap punggung kekarnya. Namun, dia mengabaikan rasa sakit itu. Sebab rasa nikmat yang diciptakan akibat permainan panas itu membuat rasa sakitnya seakan hilang.  

Amber mengerang dahsyat dan langsung dibungkam oleh pria itu dengan bibirnya. Perlahan pria tampan itu menghunjamnya dengan tempo yang pelan, sedang dan keras. 

Lenguhan panjang lolos di bibir keduanya. Suara ranjang berdencit, serta AC kamar tak lagi terasa akibat permainan panas yang dahsyat itu. Berkali-kali Amber menjerit, tapi pria tampan itu sama sekali tak memberikan jeda padanya. 

“Pelan! S-sakit!” rintih Amber, memohon pria di atasnya untuk melakukan dengan pelan. 

Pria tampan itu tak memedulikan rintihan Amber, dan permohonannya. Yang dia kembali lakukan adalah menyambar bibir Amber dengan bibirnya. Ciuman itu sangat panas dan liar, membangkitkan hasrat keduanya. 

Malam panjang itu, membuat Amber telah terjebak di dalam lingkaran api. Kenikmatan yang muncul akibat kewarasan yang hilang, membuatnya melewati batas berbahaya yang selama ini selalu dia jaga dengan baik. 

 

Related chapters

  • One Night Stand With A Billionaire   Bab 2. Menghilang Dalam Satu Malam 

    Terbangun oleh kilau keemasan matahari California yang menelusup melalui jendela kaca kamar hotel, pria tampan Julian mengerjap sejenak. Ada tumpukan rasa sesal karena dia ikut tertidur semalam, dan baru bangun pagi ini. Padahal ada tubuh menggiurkan di sampingnya yang menanti untuk ditunggangi.Tunggu! Ke mana perginya wanita itu?Julian terkejut ketika meraba ke samping dan tidak menemukan siapa pun. Matanya langsung terbeliak, mencari keberadaan wanita yang tadi malam dia pesan. “Ke mana perginya wanita itu?” Masih dengan tubuhnya telanjang, Julian menelusuri kamar presiden suit yang disewanya. Memeriksa kembali setiap sudut dengan seksama, termasuk kamar mandi, balkon, dan lemari. Julian mencari petunjuk apa pun yang mungkin ditinggalkan wanita itu—seperti catatan, jejak kaki, atau tanda lain. Namun, yang Julian dapat hanya gaun robek yang tergeletak di lantai, dan seuntai kalung batu ruby yang cantik.Julian memijat pangkal alisnya untuk meredakan pening yang tiba-tiba menyeran

    Last Updated : 2025-02-10
  • One Night Stand With A Billionaire   Bab 3. Kehamilan Amber

    “Mark, apa kau sudah ada perkembangan mengenai wanita itu?” tanya Julian dingin dengan aura wajah tegasnya, bicara pada sang asisten. Rasa penasaran dalam dirinya, membuatnya memerintahkan sang asisten untuk mencari keberadaan wanita asing yang telah mengantarkan diri padanya. “Maaf, Tuan. Saya tidak dapat menemukan wanita yang Anda maksud.” Mark menghela napas, dengan raut wajah cemas. “Saya sudah meminta orang menelusuri ke seluruh hotel sejak waktu itu, dan belum ada titik terang. Tapi, Tuan, saya sudah membawakan data rekaman CCTV seluruh hotel ini untuk diperiksa.”Julian memicingkan mata tajam. “Sudah tiga minggu, kau pikir masih berguna?”“Jadi, Anda tidak ingin saya memeriksanya?” ulang Mark memastikan. “Periksa, Mark,” kesal Julian dingin.Mark mengangguk singkat menanggapi perintah bosnya itu. Dia merasa aneh. Tidak biasanya Julian mencari wanita malam yang dia tiduri sampai seperti itu. Terlebih lagi bosnya sama sekali tidak menemui wanita penghibur lain—sejak malam yang

    Last Updated : 2025-02-10
  • One Night Stand With A Billionaire   Bab 4. Keputusan Besar yang Diambil Amber

    “A-apa?” Lidah Amber tiba-tiba saja kelu mendengar apa saran dari Jessie. Saran yang hampir sama dia dengar tadi dari Merry. Tangan Amber sampai bergetar di kala menerima pil penggugur kandungan yang diberikan Jessie. “Amber, jika kau hamil seperti Merry, kau akan dipecat. Kau tahu betapa sulitnya mencari pekerjaan saat ini, kan?” Jessie menatap Amber dengan tegas. “Telan pil ini dan besok pagi kau akan jadi Amber yang baru.” “J-jesie, k-kenapa kau memiliki pil ini?” tanya Amber bingung, di kala sahabatnya itu memiliki pil penggugur kandungan. Jessie mengehela napas dalam. “Ada temanku yang memberikan padaku untuk berjaga-jaga. Padahal aku tidak memiliki pasangan. Tapi aku tetap menyimpan, karena aku pikir mungkin sewaktu-waktu aku membutuhkan pil itu. See? Ternyata kau yang membutuhkan pil itu. Amber memandang pil yang dipegangnya dengan mata penuh kemarahan. Pikirannya berkecamuk antara amarah yang membara dan rasa putus asa yang menghimpit dadanya. Jessie,yang seharusnya member

    Last Updated : 2025-02-10
  • One Night Stand With A Billionaire   Bab 5. Awal Mula yang Baru

    Empat tahun berlalu … Amber memandang ke luar jendela, melihat awan-awan yang bergulung-gulung di bawah. Cahaya matahari pagi menembus kaca pesawat, menerangi wajahnya yang lelah. Di sebelahnya, Violet, putri cantiknya, tertidur lelap, kepalanya bersandar di bahu Amber. Rambut pirang panjangnya terurai di atas kursi, wajahnya damai dan tanpa ekspresi.Di kursi seberang, Victor, saudara kembar Violet, duduk dengan fokus, jari-jarinya yang kecil sibuk merakit mainan lego. Potongan-potongan berwarna cerah berserakan di atas meja lipat kecil di depannya. Sesekali, dia melirik ke arah Violet, memastikan adiknya masih tertidur.Amber tersenyum melihat Victor. Dia selalu kagum dengan imajinasi dan ketekunan putranya. Putranya itu bisa menghabiskan waktu berjam-jam membangun berbagai macam struktur dari lego, mulai dari kastil megah hingga pesawat luar angkasa futuristik.Suara mesin pesawat mendengung pelan, mengantarkan Amber ke dalam lamunan. Dia sebenarnya sedikit gugup memikirkan akan k

    Last Updated : 2025-02-10

Latest chapter

  • One Night Stand With A Billionaire   Bab 5. Awal Mula yang Baru

    Empat tahun berlalu … Amber memandang ke luar jendela, melihat awan-awan yang bergulung-gulung di bawah. Cahaya matahari pagi menembus kaca pesawat, menerangi wajahnya yang lelah. Di sebelahnya, Violet, putri cantiknya, tertidur lelap, kepalanya bersandar di bahu Amber. Rambut pirang panjangnya terurai di atas kursi, wajahnya damai dan tanpa ekspresi.Di kursi seberang, Victor, saudara kembar Violet, duduk dengan fokus, jari-jarinya yang kecil sibuk merakit mainan lego. Potongan-potongan berwarna cerah berserakan di atas meja lipat kecil di depannya. Sesekali, dia melirik ke arah Violet, memastikan adiknya masih tertidur.Amber tersenyum melihat Victor. Dia selalu kagum dengan imajinasi dan ketekunan putranya. Putranya itu bisa menghabiskan waktu berjam-jam membangun berbagai macam struktur dari lego, mulai dari kastil megah hingga pesawat luar angkasa futuristik.Suara mesin pesawat mendengung pelan, mengantarkan Amber ke dalam lamunan. Dia sebenarnya sedikit gugup memikirkan akan k

  • One Night Stand With A Billionaire   Bab 4. Keputusan Besar yang Diambil Amber

    “A-apa?” Lidah Amber tiba-tiba saja kelu mendengar apa saran dari Jessie. Saran yang hampir sama dia dengar tadi dari Merry. Tangan Amber sampai bergetar di kala menerima pil penggugur kandungan yang diberikan Jessie. “Amber, jika kau hamil seperti Merry, kau akan dipecat. Kau tahu betapa sulitnya mencari pekerjaan saat ini, kan?” Jessie menatap Amber dengan tegas. “Telan pil ini dan besok pagi kau akan jadi Amber yang baru.” “J-jesie, k-kenapa kau memiliki pil ini?” tanya Amber bingung, di kala sahabatnya itu memiliki pil penggugur kandungan. Jessie mengehela napas dalam. “Ada temanku yang memberikan padaku untuk berjaga-jaga. Padahal aku tidak memiliki pasangan. Tapi aku tetap menyimpan, karena aku pikir mungkin sewaktu-waktu aku membutuhkan pil itu. See? Ternyata kau yang membutuhkan pil itu. Amber memandang pil yang dipegangnya dengan mata penuh kemarahan. Pikirannya berkecamuk antara amarah yang membara dan rasa putus asa yang menghimpit dadanya. Jessie,yang seharusnya member

  • One Night Stand With A Billionaire   Bab 3. Kehamilan Amber

    “Mark, apa kau sudah ada perkembangan mengenai wanita itu?” tanya Julian dingin dengan aura wajah tegasnya, bicara pada sang asisten. Rasa penasaran dalam dirinya, membuatnya memerintahkan sang asisten untuk mencari keberadaan wanita asing yang telah mengantarkan diri padanya. “Maaf, Tuan. Saya tidak dapat menemukan wanita yang Anda maksud.” Mark menghela napas, dengan raut wajah cemas. “Saya sudah meminta orang menelusuri ke seluruh hotel sejak waktu itu, dan belum ada titik terang. Tapi, Tuan, saya sudah membawakan data rekaman CCTV seluruh hotel ini untuk diperiksa.”Julian memicingkan mata tajam. “Sudah tiga minggu, kau pikir masih berguna?”“Jadi, Anda tidak ingin saya memeriksanya?” ulang Mark memastikan. “Periksa, Mark,” kesal Julian dingin.Mark mengangguk singkat menanggapi perintah bosnya itu. Dia merasa aneh. Tidak biasanya Julian mencari wanita malam yang dia tiduri sampai seperti itu. Terlebih lagi bosnya sama sekali tidak menemui wanita penghibur lain—sejak malam yang

  • One Night Stand With A Billionaire   Bab 2. Menghilang Dalam Satu Malam 

    Terbangun oleh kilau keemasan matahari California yang menelusup melalui jendela kaca kamar hotel, pria tampan Julian mengerjap sejenak. Ada tumpukan rasa sesal karena dia ikut tertidur semalam, dan baru bangun pagi ini. Padahal ada tubuh menggiurkan di sampingnya yang menanti untuk ditunggangi.Tunggu! Ke mana perginya wanita itu?Julian terkejut ketika meraba ke samping dan tidak menemukan siapa pun. Matanya langsung terbeliak, mencari keberadaan wanita yang tadi malam dia pesan. “Ke mana perginya wanita itu?” Masih dengan tubuhnya telanjang, Julian menelusuri kamar presiden suit yang disewanya. Memeriksa kembali setiap sudut dengan seksama, termasuk kamar mandi, balkon, dan lemari. Julian mencari petunjuk apa pun yang mungkin ditinggalkan wanita itu—seperti catatan, jejak kaki, atau tanda lain. Namun, yang Julian dapat hanya gaun robek yang tergeletak di lantai, dan seuntai kalung batu ruby yang cantik.Julian memijat pangkal alisnya untuk meredakan pening yang tiba-tiba menyeran

  • One Night Stand With A Billionaire   Bab 1. Malam Panas dengan Pria Asing

    “Astaga, kepalaku pusing sekali,” gerutu wanita cantik bernama Amber, berdiri di lorong hotel yang remang-remang. Gaunnya yang indah sudah kusut dan berlumuran noda, mencerminkan keadaan hatinya yang hancur berantakan. Tidak … bukan hanya penampilannya yang kacau, tapi rambut pirangnya sekarang sudah berantakan tak menentu. “Aku seperti terkena kutuk! Hidupku menderita sekali!” Amber berseru dengan nada penuh putus asa. Dia baru saja kehilangan seorang ayah, dan diusir oleh ibu tirinya yang licik, kata-kata kasar dan penghinaan wanita licik itu masih terngiang di telinganya. Amber tak tahu harus ke mana, hanya rasa sakit dan frustrasi yang menemaninya saat ini. Tanpa arah tujuan, Amber berjalan sempoyongan, kakinya hampir tak mampu menopang tubuhnya yang lemah karena alkohol. Dia tersandung beberapa kali, hampir jatuh, tetapi berhasil bangkit kembali. Akhirnya, dia sampai di depan sebuah pintu kamar hotel. Dia mengeluarkan kartu pass dari tasnya yang berantakan, berusaha keras untuk

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status