Chapter 23William mengusap-usap kepala Grace, kedua orang itu sedang memerankan sandiwara mereka masing-masing kemudian menyusul langkah Alexander dan Prilly yang telah masuk ke dalam ruang makan di mana Leonel tampak duduk di dengan manis di kursinya. Grace segera mengambil posisi duduk tepat di samping Leonel tanpa mempedulikan William yang diam-diam menggertakkan giginya. William duduk tepat di depan Grace yang bersikap manja terhadap Leonel seolah-olah mereka benar-benar saudara kembar yang saling merindukan. Santap siang mereka dimulai dengan percakapan ringan seputar Grace. Ada begitu banyak pertanyaan yang di tanyakan oleh Alexander dan Prilly tetapi mereka menanyakannya dengan gaya santai, sama sekali tidak ada ketegangan."Oh iya, Willy. Mommy dengar kau baru saja mendapatkan gadis incaranmu?" ibunya tiba-tiba bertanya.William yang sedari tadi hanya diam sambil menikmati makanannya nyaris tersedak mendengar pertanyaan ibunya. "Dari mana Mommy mendengar gosip seperti itu?"
Chapter 24Grace tersenyum manis, kedua telapak tangannya ia letakkan di dada William dengan gaya sensual. "Bukankah ini juga rumahku?" "Tempat tinggalmu bersamaku," geram William."Ini juga rumahmu," ucap Grace dengan nada yang menggoda, mata birunya menatap mata Hazel William dengan tatapan liar. Bibir merahnya merekah menggoda William."Jangan mencoba menggodaku." William menyipitkan matanya, ia tahu Grace akhir-akhir ini selalu bermain trik kepadanya. Wanitanya selalu menggodanya dengan kecantikan dan tubuhnya yang sengaja sering ia pamerkan saat mereka hanya berdua di dalam tempat tinggal mereka.Grace mempermainkan salah satu kancing kemeja yang di kenakan William menggunakan jemari lentiknya. "Aku tidak menggodamu," ucapnya setengah mengerang. "Grace, kau sudah berjanji untuk patuh kepadaku," geram William, ia menggertakkan rahangnya karena Grace tampak sedang mengujinya dengan sedikit mengerang dan gerakan tangannya mempermainkan kancing kemeja yang begitu sensual membuat ha
Chapter 25 Grace menggeliat, rasanya tidurnya begitu nyenyak, nyaman dan hangat hingga ia enggan membuka matanya. Ia ingin memejamkan mata beberapa saat lagi tetapi kesadaran mulai merayapi akalnya karena di pinggangnya sebuah lengan melingkar dengan posesif. Siapa lagi yang memiliki aroma maskulin yang sangat dikenalinya selain William. Perlahan Grace memaksakan matanya untuk terbuka, ia menyadari telah berada di dalam kamar yang berbeda, bukan kamarnya tetapi ia berada di kamar William. Padahal seingatnya tadi malam setelah makan malam ia mengobrol bersama keluarganya kemudian melanjutkan obrolan bersama Sidney hingga waktu mendekati tengah malam di kamar Alexa. Ia yakin pasti William memindahkan tubuhnya yang tidur seperti mayat hingga tidak merasakan apa pun.Grace melirik ke arah jendela. Sepertinya hari sudah mulai pagi karena matahari telah memancarkan bias sinarnya, ia mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan lengan kekar William. "Sebentar lagi Alexa atau mungkin Sidney ak
Chapter 26"Sebenarnya kami kurang setuju dengan pilihan Grace memasuki dunia entertainment," ucap Alexander. "Apa karena Wilona?" William meletakkan cangkir di tangannya setelah menyeruput isinya. Wilona adalah seorang artis papan atas yang menculik bayi Sidney dan menukarnya dengan bayi Grace. Alexander mengamati wajah putranya. "Bukan masalah itu, tetapi kalian tahu bagaimana kejamnya dunia hiburan. Aku takut sesuatu akan menghancurkan Grace di masa depan, aku tidak akan sanggup melihat putriku disakiti oleh orang lain," jawabnya. "Tidak ada yang akan menyakitinya selama ia berada di Glamour Entertainment." William mengeraskan rahangnya. Orang lain tidak berhak menyakiti Grace walaupun hanya seujung kuku, hanya aku yang berhak menyakitinya. "Aku pikir seharusnya dia menggunakan nama Johanson lagi agar tidak ada orang yang berani menggertaknya," ucap Alexander mengemukakan apa yang ada di dalam benaknya. William menatap wajah ayahnya dengan tatapan mengejek. "Dad, Bukankah ka
Chapter 27Entah Grace harus tertawa atau menangis karena orang yang pertama datang mendekati mereka adalah William. Yang pasti ia bersyukur karena yang harus ia cium adalah William bukan salah satu petugas keamanan di rumah itu. "Grace, kau beruntung," seru Alexa. "T-tapi...." Demi Tuhan gede merasa salah tingkah. "Grace, kau harus mencium Willy." Alexa tidak sabar. "Grace, ayo cium Willy," seringai Sidney. "Willy, kau begitu beruntung atau kau ingin mewakilkan kepadaku?" tanya Gabriel sambil memajukan bibirnya. Sedangkan Leonel, wajahnya tampak gelap dan rahangnya mengeras. Ia menatap William yang mendekati mereka dan berdiri di belakang tubuh Sidney dengan tatapan dingin. "Apa yang kalian bicarakan?" William menaikkan sebelah alisnya. Tangannya merogoh saku celananya kemudian menarik sebuah kartu bank dari dalam dompetnya. "Alexa, kau kembali ke kamarmu karena ini sudah larut. Besok kau harus pergi ke kampus, kalian jika ingin minum lanjutkan di klub," ucapnya. Secepat kila
Chapter 28"Grace, apa kau demam?" William bertanya sambil mengemudikan mobilnya. "Aku tidak," jawab Grace. Alisnya berkerut dalam karena pertanyaan William. Saat itu mereka dalam perjalanan ke suatu tempat yang dirahasiakan oleh William. Grace beberapa kali bertanya tetapi William tidak menjawab. "Benarkah?" William mengurangi kecepatan mobilnya, memberikan tanda kemudian perlahan menepikan mobilnya lalu menghentikannya dan meraba kening Grace untuk memastikan suhu tubuh wanita itu. Ia khawatir Grece terserang demam lagi lalu menularinya, tetapi bukan tertular demam yang membuatnya khawatir melainkan hal lain, ia khawatir Grace melarikan diri lagi saat dirinya sedang tidak berdaya."Aku baik-baik saja, kenapa kau mengira aku demam?" Grace mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia meraba keningnya sendiri merasakan suhu tubuhnya yang terasa normal."Kulihat wajahmu begitu merah, aku pikir kau sakit," ucap William sambil memastikan sekali lagi.Grace meraba pipinya dengan Kedua telapa
Chapter 29"Kau seharusnya berterima kasih kepadaku," ucap William menggoda Grace yang sedang terkagum-kagum melihat desain ruangan itu. Desainnya sangat cocok dan sesuai seleranya seolah William bisa membaca apa yang ada di dalam angannya."Aku sudah melakukannya tadi." Grace memajukan bibirnya."Itu belum cukup." William berbicara pelan sangat dekat di telinga Grace membuat bulu kuduknya terasa meremang. Grace menjauhkan tubuhnya dari lengan William yang sejak tadi merangkul pundaknya. "Apa di otakmu hanya ada itu?" bola mata Grace membesar menatap William dengan tatapan galak.William menaikkan sebelah alisnya. "Benar," ucapnya di sertai seringai di Bibirnya.Andai bukan karena kau mewujudkan mimpiku, aku benar-benar ingin menendang bokongmu hingga kau terpental dari atas sini!"Kalau begitu, ayo lakukan," ucap Grace dengan nada kesal.William berjalan menuju sofa bed lalu dengan nyaman meletakkan bokongnya di sana, ia menyandarkan punggung dan kepalanya. "Aku ingin kau yang melak
Chapter 30"Grace? Kenapa berdiri di situ? Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu." William melangkah mendekati Grace yang terpaku melihat kedatangannya.Grace mendengus, ia menatap William dengan tatapan permusuhan tanpa membuka mulutnya."Kau pasti lapar, bukan? Ayo kita makan aku membeli banyak makanan kesukaanmu," kata William."Aku tidak lapar," jawab Grace dengan nada ketus."Kau pasti belum makan, 'kan?" "Aku tidak lapar," ucap Grace dengan nada semakin ketus. "Bagaimana mungkin kau tidak lapar? kau memesan makanan melalui....""Kubilang, aku tidak lapar!" potongnya dengan nada meninggi, dengan kasar ia melangkah dan naik ke atas ranjangnya kemudian mengubur tubuhnya ke dalam selimut.William mengerutkan keningnya, ia tidak tahu apa salahnya. "Grace, jangan seperti anak kecil." ucapnya sambil mendekati ranjang dan duduk di tepi ranjang."Pergi!" hardik Grace dari balik selimutnya. Ia benar-benar tidak ingin melihat wajah pria yang mungkin baru saja berkencan dengan gadis l
Chapter 9Low ProfileGrace memutuskan mengganti pakaian setelah Sidney meninggalkan kamarnya lalu mengambil ponsel untuk memberi tahu William jika ia berada di kediaman orang tua mereka. Ia juga memberi tahu Nina untuk membereskan ruang kerjanya sekaligus mengunci pintunya. Ia duduk di tepi tempat tidur, matanya tertuju ke arah foto yang dibingkai dengan pigura kecil yang ada di atas nakas. Foto dirinya bersama Leonel dan William, saat foto itu diambil Alexa belum lahir. Mungkin saat itu usianya empat tahun, di dalam foto itu ia menyeringai lebar ke arah kamera, sama seperti Leonel. Sedangkan William, senyumnya tidak terlalu lebar. Grace tidak menyangka jika ia bukanlah anak kandung di keluarga Johanson, bahkan seluruh keluarga Johanson pun tidak. Mata Grace berwarna biru, sama seperti Leonel, mungkin karena hal itu yang membuat tidak seorang pun menyadari jika putri asli di keluarga Johanson telah ditukar hingga saat Grace berusia lima tahun, kebenaran terkuak. Nathalia menjual ba
Chapter 8We are FamilyNatalia tersenyum. "Aku ingin melihatmu dari dekat." Jantung Grace terasa membengkak, ia sama sekali tidak ingin bertemu wanita yang tega menjual darah dagingnya sendiri. Ia merasakan amarah dan kekecewaan yang datang bersamaan, tetapi tidak dipungkiri jika ia merasakan sedikit rasa haru yang ia coba tepis jauh-jauh, ia tidak ingin mengakui jika ia bahagian bisa melihat wanita yang mengandung dan melahirkannya, sedikit pun tidak."Kau menjualku, di antara kita tidak ada hubungan apa pun. Jadi, kau tidak perlu ingin melihatku lagi." "Aku tahu kau pasti langsung mengenaliku," ucap Nathalia diiringi senyum di bibirnya. Bibir Grace mengulas senyum sinis. Ia bisa mengenali Nathalia sejak pertama kali melihat ibu kandungnya, tentu saja. Istri ayah kandungnya beberapa kali menunjukkan foto Natalia muda yang merupakan perwujudan dirinya, bukan karena itu saja, tetapi Natalia memiliki tanda tahi lalat di bawah kelopak matanya sebelah kiri. "Kuperingatkan kau, jangan
Chapter 7StalkerMeski Grace menyangkal pengakuan William dengan mengatakan jika William hanya bercanda, tetapi penyangkalannya hanya berujung sia-sia karena sebelum William meninggalkan ruangan, Grace ditarik ke dalam pelukannya dan William menciumi bibir Grace dengan paksa. Tetapi, Grace tidak menolak. Tidak mamou menolak William tepatnya."Kau menikahi kakakmu sendiri?" tanya Nina yang masih tampak kebingungan. Kulit wajah Grace masih memerah, ia menyeringai. Nina menggelengkan kepalanya. "Itu hal tergila yang pernah kusaksikan. Tapi, cinta memang buta. Mau bagaimana lagi?" "Kuharap kau tidak membocorkannya kepada siapa pun," ujar Grace. "Pernikahan kalian dan cinta kalian pasti luar biasa, itu bukanlah hal yang memalukan. Kenapa mesti disembunyikan?" Grace duduk di kursinya. "Kurasa, ada yang harus kuluruskan," ucapnya disertai dengusan pelan. "Duduklah." Nina menarik kursi yang tadinya diduduki William. "Apa ini cerita cinta kalian?" tanyanya sambil duduk. "Ya, katakan sa
Chapter 6My WifeMeghan dan Calvin menikmati kopi di restoran hotel tempat mereka mengadakan pesta pernikahan kemarin."Sean," seru Meghan saat Sean, sepupunya terlihat memegangi piring berisi makanan dan segelas jus jeruk di restoran. Ia melambaikan satu tangannya."Sepertinya kau ingin memamerkan kemesraan pengantin baru padaku," seloroh Sean seraya menarik salah satu kursi.Calvin menaikkan kedua alisnya. "Tidak, kami tidak sekejam itu." "Ya, kami tidak seperti itu." Meghan meletakkan dagunya di pundak Calvin. "Aku mencintaimu."Calvin meraih telapak tangan Meghan lalu mengecupnya. "Dan aku mencintaimu." Sean mengernyit. "Aku tidak mengerti, kalian seharusnya sarapan di kamar, untuk apa kalian sarapan di sini?"Seharusnya begitu, Meghan dan Calvin menggunakan layanan yang bisa dinikmati dari kamar seperti biasanya pengantin batu, bukan malah menikmati sarapan pagi di restoran hotel. Meghan memutar bola matanya. "Kami ingin menikmati kopi di sini. Lagi pula kami hari ini akan p
Holla, selamat sore.Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan rate bintang lima di pojok kiri bawah layar ponsel kalian dan Follow Authornya.Chapter 5 The Traitors"Aku tidak menyukai pria tadi," ucap William yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat tinggal mereka. Di sampingnya, Grace terkikik mendengar pernyataan William. "Kau tidak menyukai semua pria yang ada di sekitarku." "Aku tidak suka istriku ditatap pria lain." Grace memutar bola matanya. "Bagaimana mungkin kau berbicara seperti itu, sedangkan istrimu berprofesi sebagai model." Sudut bibir William terangkat mengingat bagaimana cara Sean menatap Grace, pria itu seolah menginginkan istrinya. "Batalkan saja kontrak konyolmu dengan desainer gaun pengantin itu." Grace menatap William dengan tatapan memperingatkan, ia menyipitkan sebelah mata sambil menghela napasnya. "Kau mulai bertingkah pencemburu dan tidak masuk akal lagi." "Kau akrab dengannya." Itu adalah sebuah tuduhan, s
Chapter 4My Cousin"Sekarang beri tahu aku," erang Grace sambil perlahan menggoyangkan pinggulnya dengan pelan.Mata keduanya bersobok, saling mengunci. Grace menatap William yang berada di bawahnya dengan sorot mata memohon, juga mendamba, sedangkan William menatap Grace dengan tatapan penuh cinta, juga gairah yang membara. Membakar seluruh jiwanya."Kau yakin ingin mendengarnya?" Grace mengangguk lemah seolah tidak berdaya, ia memang terlalu lemah setiap kali William memenuhi tubuhnya."Kau akan cemburu jika mendengarnya." William mencengkeram kedua pinggul Grace, mengangkatnya dengan rendah lalu menghunjamkan dirinya dalam-dalam ke dalam tubuh Grace yang sempit dan hangat. Grace terengah, Ia mencengkeram kedua bahu William, nyaris menjerit karena William terlalu dalam memenuhinya. Tubuhnya bergetar hebat oleh kenikmatan yang menerjangnya seperti badai, ia menempelkan bibirnya di bibir William, mencumbu bibir suaminya dengan serakah. Menghisap lidah William seolah hanya William y
Chapter 3 Who is She? "Willy," sapa Meghan yang hari ini akan menjadi pengantin. Ia mengenakan gaun pengantin berwarna putih tanpa lengan, bagian bawah gaun yang ia kenakan terbuat dari kain sepanjang delapan meter hingga membuatnya mekar dengan sempurna. Gaun pengantin yang sempurna itu dipadukan dengan veil dan crown, membuat penampilan Meghan tampak sempurna seperti seorang ratu. "Selamat, akhirnya kau menikahi Calvin." William menempelkan pipinya ke pipi sahabatnya, bergantian kanan dan kiri. Meghan menyeringai lebar. "Aku sangat bahagia, ya Tuhan." "Aku turut bahagia," ujar William. Meghan mengerutkan hidungnya, ia memiringkan kepalanya, matanya melirik ke arah Grace yang berdiri di samping William. "Grace? Lama tidak berjumpa." Grace tersenyum ramah. "Selamat atas pernikahanmu. "Terima kasih." Meghan menatap Grace dan William bergantian. "Kalian pasangan serasi," bisiknya pelan. William merengkuh pundak Grace. "Dia pernah cemburu padamu." Grace membeliak
Chapter 2 KindnessNathalia menatap layar ponselnya, menatap Grace yang mewarisi kecantikannya. "Kau bisa berada di posisi itu karena aku," ucapnya dengan nada getir, tetapi terselip amarah.Sepuluh tahu di dalam penjara, lalu saat ia keluar dari dalam penjara, semuanya berubah. Ia menjadi sebatang kara tanpa ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini. Namun, karena ia memiliki seorang putri, itu berarti ia masih memiliki keluarga.Nathalia Allen, wanita berambut merah kecoklatan dan memiliki paras yang sangat cantik itu tidak pernah menyangka jika ia akan berakhir di dalam penjara. Ia tidak pernah mengalahkan siapa pun kecuali, Jack Grantham. Pria bangsawan yang menggodanya hingga ia bertekuk lutut dan menyerahkan kesuciannya di usia enam belas tahun. Nathalia, ia hanyalah seorang gadis remaja biasa yang dibesarkan dengan hidup seadanya oleh ibunya yang bekerja sebagai salah satu pelayan di kediaman keluarga bangsawan di Sevenoaks, London Timur, Inggris. Ia sering
Chapter 1New BeginningGrace Elizabeth, pemilik mata berwarna biru seindah lautan di Grace bay itu, adalah putri tidak sah dari salah satu bangsawan di London yang dijual oleh ibu kandungnya sendiri, tetapi ia beruntung karena keluarga Johanson membesarkannya lalu pada usia dua puluh tiga tahun putra pertama keluarga Johanson yang bernama William Johanson menikahinya. Awalnya William dan Grace berulang kali terjebak dalam lingkaran yang membuat mereka saling membenci dan saling menyakiti dalam kata balas dendam. Grace sangat membenci William, begitu juga William, pria itu juga membenci Grace karena Grace menanggalkan nama Johanson di belakang namanya. Grace melarikan diri dari keluarga Johanson yang telah merawatnya sejak ia mengenal dunia. William menganggap perbuatan Grace adalah penghinaan terhadap keluarga Johanson. Keluarga Johanson adalah keluarga terpandang di London, meskipun bukan keluarga bangsawan nyatanya derajat mereka nyaris sama dengan keluarga bangsawan di London k